Analisa dan Komentar Terbaru

"Doktrin Trump" untuk Timur Tengah

oleh Guy Millière  •  10 Juli 2018

  • Trump memperlihatkan kekuatan Amerika Serikat sekaligus memulihkan kredibilitasnya di sebuah kawasan di mana kekuatan dan pasukann menentukan kredibilitas.

  • Trump lebih luas lagi meletakan dasar bagi aliansi baru Amerika Serikat dengan dunia Sunni Arab, namun menetapkan dua persyaratan atasnya. Menghentikan semua dukungan Arab Sunni terhadap terorisme Islam dan pada saat yang bersamaan terbuka terhadap prospek perdamaian regional yang mencakup Israel.

  • Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo berbicara tentang "masyarakat Palestina" bukan tentang Otoritas Palestina. Pembicaraan senada pun pernah dibicarakannya tentang situasi di Iran, mungkin hendak menekankan perbedaan antara masyarakat dan kepemimpinan mereka. Yaitu bahwa kepemimpinan dalam kedua situasi, mungkin saja tidak lagi menjadi bagian dari solusi. Hamas, bagi AS, jelas bukanlah bagian dari solusi apapun.

  • Netanyahu pernah dengan tepat mengatakan bahwa para pemimpin Palestina, siapapun mereka, tidak ingin berdamai dengan Israel, tetapi "menginginkan damai tanpa Israel" (peace with Israel). Apa yang sebaliknya terjadi bisa saja adalah perdamaian tanpa para pemimpin Palestina. Apa yang juga bisa saja terjadi adalah perdamaian tanpa para mullah Iran.

Foto: President Donald Trump menyambut Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di Gedung Putih, 20 Maret 2018, di Washington, D.C. (Foto oleh Kevin Dietsch-Pool/Getty Images).

Setelah tiga Presiden Amerika berturut-turut memanfaatkan masa 6 bulan penandatanganan surat pembatalan (waiver) untuk menunda pemindahan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem selama lebih dari dua dekade, Presiden Donald J. Trump memutuskan untuk tidak lagi menunggu lama. Pada tanggal 7 Desember 2017 lalu, dia pun lantas memaklumkan bahwa Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Yerusalem. Pemindahan resmi kedutaan besar tersebut terjadi pada 14 Mei 2017, pada hari ulang tahun Israel yang ke-70.

Lanjutkan Baca Artikel

Refleksi Pasca-Ramadan seputar Dunia Muslim

oleh Salim Mansur  •  6 Juli 2018

  • Akibatnya, kaum Muslim kebingungan berkaitan dengan soal bagaimana cara memperbaiki budaya mereka yang rusak, atau bagaimana membangun budaya baru– ketika mereka benar-benar ragu dengan apa yang baru, apa yang modern, dan apa yang dibangun oleh pihak lain yang menjadi milik agama dan budaya yang lain.

  • Secara umum, kaum Muslim adalah orang-orang "dunia ketiga". Pemahaman dan praktik Islam mereka tetap dalam budya pra-modern. Meski demikian, bagi banyak kaum Muslim, akibat pandangan pra-modern mereka, paradoks ini sebagian besar tidak dapat dimengerti. Kenyataan ini benar-benar sangat menghambat upaya untuk mempercepat transisi mereka menuju modernisasi.

  • Ada rasa marah terhadap pergolakan internal dalam dunia Muslim. Kemarahan itu akhirnya menguras habis tenaga kaum Muslim, ketika ada segmen populasi Muslim yang cukup besar bisa mendamaikan akal budi dengan wahyu sehingga bisa temukan bahwa Allah tidak pernah menakdirkan agama apapun, termasuk Islam, menjadi beban yang mencegah manusia merajut hubungan denganNya secara harmonis sesuai hakikat manusia.

Ada penyelidikan serta perdebatan seputar pewahyuan dan akal budi di Baghdad, Ibukota Arab dari para penguasa Abasiyah sebagai Kalifah Islam selama masa Abad Pertengahan awal. Foto: Sebuah lukisan dari manuskrip Dinasti Abasiyah, yang dikerjakan pada tahun 1237. (Sumber gambar: Académie de Reims/Wikimedia Commons)

Tahun ini ketika Ramadan hendak berakhir, tepatnya, pada Jumad terakhir bulan suci agama Islam, pertunjukan besar-besaran kaum Muslim yang marah disiarkan di seluruh dunia Muslim dan Barat. Hari itu disebut sebagai Hari "Al-Qud's (Hari Jerusalem)" oleh almarhum pemimpin Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Al-Qur'an, kitab suci Islam mengajak umat Islam untuk berpuasa selama Ramadan sebagai bagian dari doa dan refleksi "untuk mengusir setan." Kaum Muslim ekstrimis, justru sebaliknya. Pada saat yang sama mereka mengajak rekan seagama mereka untuk mengungkapkan amarah kepada musuh nyata dan musuh khayalan mereka, khususnya kepada kaum Yahudi. Bagaimanapun juga, kebanyakan Muslim menjauhkan diri dari demonstrasi penuh amarah ini, yang merendahkan makna dan tujuan kebaktian berpuasa dan penegakkan sholat selama bulan suci ketika Al-Qur'an pertama kali diturunkan kepada Muhammad.

Lanjutkan Baca Artikel

PBB Hanya Rekomendaskan Sedikit Umat Kristen Suriah untuk Dimukimkan di Inggris
Persekusi Muslim atas Kristen, Nopember 2017

oleh Raymond Ibrahim  •  26 Juni 2018

  • Pengkritik menuduh PBB umumnya dan Pemerintah Inggris khususnya terus melakukan diskriminasi terhadap para pengungsi Kristen karena lebih memilih pengungsi Muslim dari Suriah. Barnabas Fund (sebuah NGO Inggris yang bergerak dalam pemberian bantuan kepada orang atau kelompok Kristen yang teraniaya, pent. JL) mengatakan, "Pihaknya akhirnya memperoleh sejumlah angka yang membuktikan bahwa PBB hanya merekomendasikan sedikit sekali umat Kristen Suriah...untuk dimukimkan kembali di Inggris," sebaliknya, "sebagian besar pengungsi yang direkomendasikan PBB adalah umat Muslim Sunni yang menjadi mayoritas di Suriah. Tetapi umat Kristen dan kaum minoritas lain yang berkali-kali ditargetkan menjadi sasaran serangan oleh kelompok-kelompok Islam radikal seperti ISIS... Yang mengganggu lagi adalah para pejabat Inggris mencoba melarang informasi ini dikeluarkan." –PBB dan Inggris; Barnabas Fund

  • "Setelah beberapa laporan memperlihatkan bahwa umat Kristen disiksa secara sistematis di rumah-rumah suaka Jerman. Persoalannya kini beralih dari rumah ke jalanan..." – Jerman; Chris Tomlinson, Breitbart.

  • "Memperlihatkan diri sudah bertobat tidak lagi membatalkan hukuman mati yang ditetapkan atas para penghina agama dan yang murtad..." Mauritania; News24

Gambar: Sebuah bangunan di Marawi, Filipina terbakar, 15 Juni 2017 silam, ketika militer Filipina memerangi teroris Islam radikal supaya bisa menguasai kota. Sedikitnya 25 umat Kristen dibantai di kota tersebut selama kaum Islam radikal terus melancarkan serangan musim panas silam dan "laki-laki bersenjata yang terinspirasi oleh ISIS membakar Katedral St. Maria di kota itu" (Sumber foto: Mark Jhomel/Wikimedia Commons)

Muslim Menyerang Gereja Kristen

Jerman: Menurut sebuah laporan yang terbit 11 Nopember tahun silam dalam The European, kira-kira 200 gereja diserang sekaligus dinajiskan di kawasan Alpen dan Bavaria saja. Ujung salib-salib besar yang berada di puncak gunung dijungkirbalikan serta dirusak dengan kapak dan gergaji mesin. "Kaum Muslim radikal muda" diyakini berada di balik vandalisme yang tersebar meluas itu.

Lanjutkan Baca Artikel

Matinya Demokrasi? - Bagian II

oleh Denis MacEoin  •  20 Juni 2018

  • Ironisnya, tentu saja, adalah bahwa begitu banyak orang mengadopsi cara menafsirkan hak-hak asasi manusia dan nilai-nilai liberal sedemikian rupa sehingga kerapkali justru melemahkan artinya.

  • Inilah waktunya untuk menyingkapkan sejumlah fakta yang tidak menyenangkan. Islam sudah terlibat konflik dengan Barat sekitar 1,384 tahun, dengan sedikit masa jedanya. Pada 634, tentara Muslim Arab menyerang Suriah, kemudian melanjutkannya dengan menghancurkan semuanya kecuali sebagian kecil Kekaisaran Kristen Bizantium (yang akhirnya dikalahkan kala Kekaisaran Turki Ottoman menaklukan Konstantinopel pada tahun 1453). Dari sana mereka lalu menguasasi Spanyol, Portugal, Sisilia serta kawasan lain di pesisir pantau Mediterania utama. Sejak itulah perang jihad yang tak pernah habis-habisnya berawal.

  • Yang terpenting, kita terlihat tidak mampu memahami bahwa Islam, di atas semuanya, sebuah proyek totaliter yang mencakup semua aspek kehidupan manusia mulai dari yang spiritual hingga material, mulai dari hukum hingga pemerintahan hingga pakaian, makanan, seks, pajak dan masih banyak lagi. Totalitarianisme ini menolak demokrasi dalam bentuknya yang paling mendasar, karena berasal dari manusia belaka, bukannya dari sesuatu yang ilahi, dari Allah.

  • Sayangnya, kesimpulan bahwa terorisme modern "tidak ada hubungannya dengan Islam" atau bahwa "Islam adalah agama damai" jelas-jelas bertentangan dengan rekor historisnya.

Foto: Anjem Choudary (kanan), seorang Islam radikal Inggris yang baru-baru ini dijebloskan dalam penjara, berbicara dalam sebuah rptes di London, 21 Maret 2011 lalu. (Foto oleh Oli Scarff/Getty Images).

Banyak kelemahan yang kita identifikasi dalam begitu banyak negara Eropa modern, ironisnya, banyak muncul dari kekuatan kita sendiri. Kita punya banyak hal yang pantas dibanggakan. Meski kerap tidak sempurna, kita bagaimanapun, telah menggantikan tirani dengan demokrasi, menjamin kebebasan berbicara dan pers, menjamin hak asasi semua warga negara, memberikan dasar hukum dan politik bagi bertumbuhnya usaha pemberdayaan wanita, perjuangan melawan sikap rasis dan fanatisme relijius, membawa laki-laki dan perempuan homoseksual keluar dari masalah, memberikan perlindungan terhadap lingkungan hidup dan binatang liar, memperluas ketentuan perawatan kesehatan bagi sebagian besar orang, menghapus hukuman mati di semua negara Eropa (dan Israel) serta menetapkan berbagai peraturan yang membatasi sekaligus menghukum kejahatan seperti perdagangan manusia, perbudakan serta penyelundupan narkotika.

Lanjutkan Baca Artikel

Sebulan Islam dan Multikulturalisme di Jerman: Maret 2018

oleh Soeren Kern  •  17 Juni 2018

  • "Sikap anti-Semitisme merajalela di berbagai sekolah Jerman, demikian dikatakan oleh Heinz-Peter Meidinger, Presiden Asoasisi Guru Jerman (Deutschen Lehrerverbandes, DL). Dia juga mengatakan bahwa berbagai video pemenggalan kepala biasa diputar di sekolah-sekolah Jerman dan bahwa murid-murid wanita diancam dibunuh. "Dalam berbagai forum "chatting"atau obrolan seperti WhatsApp, film-film seperti video pemenggalan kepala manusia oleh ISIS tersebar seperti kobaran api."

  • "Tidak bisa diterima bahwa kaum non-Muslim dan di atas semuanya itu, anak-anak Yahudi harus takut pergi ke sekolah di negeri ini karena mereka dijuluki "orang tidak beragama" bahkan diancam mati... Sejak musim gugur lalu... perusahaan penerbangan Arab, Kuwait Airways dibiarkan untuk melakukan diskriminasi atas orang Yahudi justru di Bandara Frankfurt. Dan Pemerintah Federal tidak berkeberatan. Kita jangan membodohi diri. Adalah Pemerintah Federal, yang karena alasan-alasan yang tidak bisa dijelaskan, membiarkan orang-orang Yahudi di Jerman diperlakukan seperti ini."--- Julian Reichelt, Pemimpin tabloid harian Bild. Redaksi Bild.

  • "Pertemuan massal yang bisa menjurus menjadi aksi kekerasan tidak sesuai dengan pemahaman kita tentang demokrasi. Kemanusiaan, toleransi, penghormatan dan pergaulan satu sama lain secara demokratis merupakan nilai dasar tempat eksistensi bersama kita diarahkan. Kita semua ingin hidup dalam sebuah masyarakat yang damai, terbuka dan demokratis."--- Sören Link, Walikota Duisburg.

Sekolah Dasar Spreewald di Distrik Schöneberg Berlin (gambar atas) mempekerjakan Satuan Pengamanan (Satpam) supaya bisa melindung para guru dan siswa dari para siswa tidak patuh yang sulit dikendalikan. Sekitar 99% murid di sekolah itu berlatar belakang migrasi. (Sumber foto: Fridolin Freudenfett/Wikimedia Commons).

1 Maret. Sekolah Dasar Spreewald di Distrik Schöneberg Berlin mempekerjakan Satuan Pengamanan (Satpam) supaya bisa melindung para guru dan siswa dari para siswa tidak patuh yang sulit dikendalikan. Sekitar 99% murid sekolah itu berlatar belakang migrasi. "Selama tahun silam, aksi kekerasan meningkat begitu tajam sehingga kami harus menempuh langkah ini," urai Kepala Sekolah Doris Unzeit. "Kekerasan menyebar luas dan kami ingin mengambil langkah-langkah penanganannya (contrameasures) dengan jasa keamanan. Upaya ini harus memperbaiki reputasi sekolah sekaligus memastikan bahwa murid-murid bisa belajar di sini dengan damai."

Lanjutkan Baca Artikel

Kanada: Jenis "Lain" Antisemitisme?

oleh Philip Carl Salzman  •  9 Juni 2018

  • "Saya punya satu pengakuan yang hendak saya buat. Jika anda Yahudi...Saya biasa membenci kalian. Saya membenci kalian karena saya pikir kalian bertanggung jawab atas perang [saudara Somalia] yang sekian lama merenggut ayah dari saya ...Ketika kami tidak punya air minum, saya pikir kalian mematikan kran...Jika ibu tidak ramah kepada saya, saya tahu kalian pasti berada di balik itu. Jika dan ketika saya gagal dalam ujian, saya yakini, itu kesalahan kalian. Kalian, sudah dari sananya jahat. Kalian punya kekuatan jahat dan kalian memanfaatkannya demi tujuan-tujuan jahat. Belajar untuk membenci kalian itu mudah. Justru tidak belajar itu malah yang sulit." ---Ayaan Hirsi Ali, dikutip dalam The Legacy of Islamic Antisemitism: From Sacred Texts to Solemn History, oleh Andrew G. Bostom.

  • Di Kanada, Wael al-Ghitawi, imam Pusat Studi Islam Al-Andalous beserta Sayed al-Ghitawi "sama-sama menyerukan kematian kaum Yahudi. Kotbah mereka muncul menjadi perhatian publik, Februari 2017, ketika video-video Youtube tentang ceramah-ceramah itu diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris."

  • Mari kita jujur saja: seperti semuanya jelas dari pengalaman Eropa akhir-akhir ini, mengimpor sejumlah besar Muslim berarti mengimpor antisemitisme Islam. Kejahatan karena rasa benci terhadap orang Yahudi Kanada sudah ada dan semakin meningkat. Apakah itu memang kebijakan Pemerintah Kanaa untuk mendorong semakin meningkatnya kejahatan karena benci anti-semit?

Di Universitas McMaster, Kanada, sejumlah insiden penulisan anti-semit dalam postingan media sosial sudah didokumentasikan. (Sumber foto: Mathew Ingram/Wikimedia Commons)

Kota Berlin, 17 Mei 2018 petang. Dua pria mengenakan topi ala Yahudi diserang oleh tiga laki-laki berbahasa Arab yang berulang-ulang memaki mengutuk mereka. Juga menyebut mereka orang Yahudi dalam Bahasa Arab. Salah seorang laki-laki Arab itu memukul salah seorang pemakai topi dengan ikat pinggangnya. Korbannya adalah Adam Armoush. Serangan itu pun terekam. Dan video-nya luas disaksikan orang.

Ironisnya, Adam bukan orang Yahudi. Dia orang Arab Israel. Topi ala Yahudi dia kenakan untuk mengetes apakah memang tidak aman memperlihatkan diri sebagai seorang Yahudi di Berlin. Dia memang skeptis; ingin tahu. Dan kini dia perlu berpikir ulang soal itu.

Salah seorang penyerang, adalah seorang pengungsi berumur 19 tahun. Ia mengaku dia berasal dari Suriah. Belakangan, dia menyerahkan diri kepada polisi.

Lanjutkan Baca Artikel

Palestina: Jalan Terbaik Menuju Damai

oleh Bassam Tawil  •  8 Juni 2018

  • Jika benar, maka konsesi yang dilaporkan meminta Israel lakukan sebagai bagian "kesepakatan abad ini" hasil rancangan Pemerintah AS, tidak bakal dilihat Palestina sebagai isyarat bahwa Israel berusaha berdamai. Seperti terbukti dari masa lalu, semua itu bakal dilihat oleh masyarakat Palestina sebagai sebentuk pengunduran diri sekaligus penyerahan diri.

  • Sejauh berkaitan dengan PA, semakin banyak kawasan diserahkan Israel, semakin baik. Kawasan di Yerusalem itu benar-benar akan disambut gembira karena memberikan pijakan bagi Otoritas Palestina di kota tersebut. Satu kebijakan, kebijakan itu, lebih lebih banyak kebijakan dan lebih banyak lagi.

  • Jangan buat kesalahan: Masyarakat Palestina akan melihat kehadiran mereka di empat kawasan itu sebagai langkah pertama menuju pembagian kembali Yerusalem.

  • Masyarakat Palestina akan mengatakan bahwa konsesi Israel itu tidak cukup. Mereka akan menuntut supaya Israel memberikan kepada mereka lebih dari 28 kawasan Arab.

Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas menyebut David Friednman, Duta Besar AS untuk Israel,. "Anak Anjing" dalam suatu pidato yang disiarkan televise pada 19 Maret 2018. (Sumber foto: suntingan video MEMRI).

Selama beberapa dekade sekarang ini, masyarakat Palestina menterjemahkan konsensi serta langkah-langkah Israel sebagai isyarat kelemahan diri.

Kenyataan ini penting untuk dipikirkan dalam benak, ketika Pemerintah AS bersiap diri untuk meluncurkan rencananya bagi perdamaian di Timur Tengah, yang dirujuk oleh Presiden Donald Trump sebagai "perjanjian abad ini."

Laporan yang diterbitkan dalam harian Israel Ma'ariv, pada 4 Mei lalu mengklaim bahwa "perjanjian abad ini" menyerukan supaya menempatkan empat kawasan Arab di Yerusalem di bawah kendali Otoritas Palestina. Keempat kawasan itu, menurut laporan media tersebut adalah Jabal Mukaber, Essawiyeh, Shu'fat dan Abu Dis. Ma'ariv menulis bahwa rincian rencana damai AS sudah disajikan kepada Menteri Pertahanan Israel Avigdor Liberman selama kunjungan ke Washington, pekan silam:

Lanjutkan Baca Artikel

Sebulan Islam dan Multikulturalisme di Jerman: April 2018

oleh Soeren Kern  •  5 Juni 2018

  • Salah seorang ekonom Jerman kenamaan Hans-Werner Sinn, memperingatkan bahwa krisis migran bakal akhirnya merugikan para pembayar pajak Jerman lebih satu satu triliun euro. "Biaya para pembayar pajak bisa semakin besar. Sampai sebegitu jauh ada sekitar 1,5 juta migran datang ke Jerman sejak 2015. Dan bukan: Mereka bukan dokter gigi, pengacara dan ilmuwan nuklir, tetapi hampir semua imigran tidak bermutu, yang tiba di tanah terjanji --- negeri yang mengalirkan susu dan madu tempat standar hidup tanpa bekerja lebih tinggi dibandingkan dengan banyak negara asal (migran) yang bekerja."

  • Dalam wawancara media pertamanya sebagai ketua baru serikat polisi GdP yang berpengaruh di North Rhine-Westphalia (NRW), Michael Mertens ditanya jika ada kawasan larangan bepergian (no-go zones) di NRW, sebuah negara bagian Jerman paling padat. Kala itu dia menjawab: "Memang ada kawasan-kawasan di mana polisi tidak boleh pergi sendirian. Hanya dalam tim yang besar. Kawasan-kawasan itu kini hadir di hampir semua kota NRW."

  • "Kita kini menyaksikan fenomena baru ketika menerima pengungsi atau orang keturunan Arab. Mereka membawa kembali bentuk lain anti-Semitisme ke dalam negeri ini. Ini mencemaskan kami."---Kanselir Jerman Angela Merkel.

Penghargaan Musik Echo, hadiah music tertinggi Jerman dianugerahkan pada 12 April lalu kepada Kollegah dan Farid Bang, sepasang duo Muslim penyanyi rap yang dituduh menyanyikan lirik lagu anti-Semit. Hadiah diberikan pada Perayaan Holocaust Remembrance Day (Hari Mengenang Holocaust) sehingga memantik kemarahan publik. (Foto oleh Andreas Rentz/Getty Images).

1 April. Para pejabat senior Jerman, termasuk Kanselir Angela Merkel serta Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier, senantiasa cepat sekali berebut mengucapkan selamat untuk upacara-upacara Agama Islam, tetapi justru tidak mengucapkan selamat bagi masyarakat Jerman pada Hari Raya Paskah, sebuah perayaan Kristen yang terpenting. Sebaliknya, Aiman Mazyek, Ketua Dewan Muslim Pusat di Jerman menyampaikan Ucapan Selamat Paskah: "Saya harapkan kalian semua menjalani hari libur yang penuh damai dan santai. Selamat Paskah bagi umat Kristen, Selamat "Passover" bagi kaum Yahudi dan beberapa hari permenungan bagi orang-orang yang tidak beragama.#Keberagamanan membuat anda kuat."

Lanjutkan Baca Artikel

Turki Minta Eropa Anggap "Islomofobia" sebagai Kejahatan

oleh Uzay Bulut  •  4 Juni 2018

  • Perlu diingat bahwa selama berabad-abad Turki memperlakukan kaum non-Muslim secara tidak bersahabat. Dengan demikian, keluhan soal perilaku Eropa terhadap kaum Muslim menjadi puncak sikap hipokrit sang menteri luar negeri, yang benar-benar bertentangan dengan Islamofobia.

  • Guna menyegarkan kembali pemikiran Çavuşoğlu, kita sajikan ringkasan jejak rekam Turki secara berturut-turut.

  • Dengan mengusulkan upaya menghalangi semua kritik terhadap Islam dengan alasan karena itu "ekstrim, anti-imigran, anti-orang asing dan bernada Islamofobia," Çavuşoğlu justru mengungkapkan bahwa dia bakal menyambut gembira larangan terhadap kebebasan berbicara guna melindungi ideologi agama.

Wajah banyak korban yang dibunuh dalam Pembantaian Massal Sivas yang dilakukan terhadap masyarakat Alevis pada tahun 1993 diperlihatkan dalam poster ini. Poster itu dibuat dalam suatu perayaan untuk mengenangkan para korban malang itu pada tahun 2012 di Jerman. (Sumber foto: Bernd Shwabe, Wikimedia Commons)

Menteri Luar Negeri Mevlut Çavuşoğlu, meminta pemerintahan negara-negara Uni Eropa untuk mempertimbangkan Islamofobia sebagai suatu kejahatan. Seruan itu disampaikannya dalam acara yang diselenggarakan pada 11 April 2018 silam yang berusaha mengungkapkan "Laporan Islamofobia Eropa tahun 2017.

"Tidak ada ideologi atau terminologi bernama 'Islamisme.' Hanya ada satu Islam dan itu berarti 'damai'" ujarnya memaklumkan. Secara salah dikatakannya pula bahwa salaam berarti damai; Islam berarti tunduk patuh. Dia juga mengklaim bahwa para politisi populis "semakin banyak terlibat dalam retorika ekstremis, anti-imigran, anti-orang asing serta fobia terhadap Islam supaya bisa meraih beberapa suara lebih banyak lagi," dan bahwa "para politisi garis tengah (centrist) ...memanfaatkan retorika yang sama supaya bisa meraih kembali suara mereka yang sudah hilang."

Lanjutkan Baca Artikel

Matinya Demokrasi? - Bagian Pertama

oleh Denis MacEoin  •  30 Mei 2018

  • Hasil dari 25 tahun multikulturalisme bukanlah adanya komunitas-komunitas multikultur. Ia justru menjadi komunitas-komunitas monokultur...Komunitas Islam tersegregasi." – Ed Husain, mantan ekstremis Muslim.

  • Pendekatan ini, yaitu memberikan pelayanan social, berbasis pada keyakinan---yang kerapkali ditentang--- bahwa kaum ekstremis Muslim (baik Muslim sejak lahir maupun para mualafnya) itu sudah menderita kerugian dan kekurangan (deprivation). Juga sangat berbasiskan pada asumsi naïf bahwa mengganjari mereka dengan berbagai tunjangan---yang untuk mendapatkannya warga negara yang benar-benar kekurangan umumnya perlu berbaris antri---akan mengubah mereka menjadi patriot yang tahu berterimakasih, siap berjuang demi lagu kebangsaan nasional dan berpegangan tangan dengan umat Kristen dan Yahudi.

  • Pemerintah Inggris telah memperlihatkan dirinya tidak mampu menjalan hukumnya sendiri ketika sampai pada persoalan warga negara imigran baru Muslimnya. Bukannya menghadapi para musuh kita, di luar dan dalam negeri, kita kini begitu takut disebut "Islamofobia" sehingga kita bahkan mengorbakan kekuatan dan aspirasi budaya, politik dan agama kita sendiri?

Menurut Ed Husain (kanan), seorang mantan Muslim ekstremis, "Akibat dari 25 tahun kulturalisme bukanlah adanya komunitas multicultural. Adalah masyarakat-masyarakat monokultural...Komunitas Islam tersegregasi atau terpisahkan." (Sumber foto: suntingan video CNN).

Eropa berada dalam situasi yang benar-benar sangat merosot karena banyak alasan yang rumit. Selama tahun tahun terakhir, beberapa kajian penting seputar kondisi ini pun bermunculan, menampilkan beragam alasannya. Ada tulisan Douglas Murray bertajuk, The Strange Death of Europe: Immigration, Identity, Islam (Kematian Eropa yang Aneh: Imigrasi, Identitas, Islam) dan tulisan James Kirchik bertajuk, The End of Europe: Dictators, Demagogues, and the Coming Dark Age (Berakhirnya Eropa: Diktator, Demagog dan Datangnya Masa Gelap) termasuk juga kajian Christopher Caldwell tahun 2010 yang mencengangkan bertajuk, Reflections on the Revolution in Europe: Immigration, Islam and the West (Refleksi atas Revolusi di Eropa: Imigrasi, Islam dan Barat). Soeren Kern di lembaga kajian Gatestone Institute juga merinci dampak imigrasi yang berkelanjutan dari kawasan-kawasan Muslim ke negara-negara seperti Jerman, Swedia dan Kerajaan Inggris.

Lanjutkan Baca Artikel

"Mengapa Mereka Pikir Islam itu Agama Damai?"
Umat Muslim Menganiaya Umat Kristen: Oktober 2017

oleh Raymond Ibrahim  •  21 Mei 2018

  • Tiga lelaki Muslim menculik seorang gadis Kristen berusia 12 tahun, memperkosanya beramai-ramai dan secara sadistik menyiksanya, kemudian menyundutnya dengan rokok. Ketika pada hari yang sama ibu gadis malang itu melaporkan kepada polisi, mereka menolak untuk memulai penyidikan kriminal bahkan untuk mendaftarkan keluhannya.---Pakistan.

  • "Serangan-serangan ini dilakukan setiap hari..." Seorang penduduk desa di Nigeria.

  • Saya melarikan diri dari Pakistan guna menyelamatkan diri dari kekejaman seperti ini, tetapi semakin banyak aksi kejam yang sama justru berdatangan ke Inggris. Kebebasan beragama harus menjadi hak setiap warga Inggris. Tetapi hari ini saya merasa tidak aman..." — Tajamal Amar, Darby, Inggris.

  • "Mengapa mereka [masyarakat Barat] berpikir Islam adalah agama damai? Orang-orang ini telah membunuh kami selama beberapa dekade dan media kalian mengabaikannya begitu saja. Kini mereka membunuh kalian. Dan, masih saja Presiden Obama kalian [pernah] katakan itu agama damai. Kami saksikan para pemimpin Barat mengatakan itu berulang-ulang kali. Mengapa?"---Seorang warga Kristen Nigeria.

Satu orang Kristen yang melarikan diri ke Barat dari dunia Islam untuk mencari kebebasan beragama diserang dan dipukul tanpa belas kasihan oleh para laki-laki Muslim di Derby, Inggris, Oktober silam. Para penyerangnya marah karena dari spion kiri mobil korban, mereka melihat ada salib bergantung. Foto: Pusat Kota Derby. (Sumber foto: Ray Bradbury/Flickr)

Dalam sebuah serangan paling kurang ajar terhadap umat Kristen Mesir, seorang lelaki Muslim membantai seorang Uskup Kristen, di siang bolong. Video kamera keamanan merekam, seorang laki-laki bersenjatakan parang penjagal besar mengejar lalu menikam Uskup Samaan Shehata. Serangan bertubi-tubi itu dilancarkan atas kepala, leher dan badan korban di jalanan Kota Kairo, 12 Oktober tahun silam. Menurut para saksimata, "penyerangnya melihat Shehata berada dalam mobilnya, lalu menghentikannya dengan paksa kemudian memaksanya keluar dari mobil dan mulai menikam leher dan badannya. Shehata melarikan diri. Penyerang mengejarkan sampai memasuki gudang kemudian menghentikan serangannya di sana, dengan beberapa kali memukul kepala korban." Kemudian, ketika berdiri di atas korbannya, "penyerang menggunakan darah uskup malang itu untuk menggambar tanda salib di kening korban." Sebuah ambulans perlu waktu 90 menit untuk sampai ke tempat kejadian. "Uskupnya masih hidup selama satu setengah jam pascapenyerangan sehingga masih bisa diselamatkan jika ambulans tiba pada waktunya."

Lanjutkan Baca Artikel

Sebulan Islam dan Multikulturalisme di Inggris: Februari 2018
"Tempat terbaik untuk sembunyikan sebatang pohon itu di hutan belantara."

oleh Soeren Kern  •  15 Mei 2018

  • "Saya ingin tahu pemikiran cemerlang siapa ini. Ini menggelikan dan bukan urusan departemen pemerintah. Saya tidak melihat Kantor Urusan Luar Negeri mempromosikan agama Kristen atau membagi-bagikan salib."--- Pernyataan anggota Parlemen Partai Tory Andrew Bridgen menanggapi keputusan para pejabat Kantor Urusan Luar Negeri untuk membagi-bagikan kerudung Islami yang didanai dengan uang pajak dan mengklaimnya menyimbolkan "kebebesan, penghormatan dan keamanan."

  • Sebuah pengkajian yang diketuai oleh Prof. Mona Siddiqui, seorang professor Islam mengusulkan perubahan legislatif yang mempersyaratkan pasangan Muslim menjalani perkawinan sipil sebelum atau pada waktu yang bersamaan dengan upacara perkawinan Islami. Persyaratan itu memberikan perlindungan hukum kepada wanita berdasarkan Hukum Inggris. Sampir semua yang menggunakan dewan shariah adalah para wanita yang berusaha supaya bisa cerai secara Islam.

  • "Kita, Kerajaan Inggris memproduksi pejihad John. Kita, Sesuatu dalam kota-kota kita...telah memproduksi sebagian besar teroris jahat keji. Kita perlu untuk mulai bertanya: apakah yang ada dalam budaya kita, dalam kota besar kita, dalam kota kecil kita yang memproduksi para monster semacam ini?"---Maajid Nawas, aktivis kontra-ekstremisme Inggris.

  • Lembaga amal Islam yang rawan terhadap pengaruh para ekstremis mendapatkan £6 million (sekitar Rp 117 miliar) setahun dari pembayar pajak dalam bentuk bantuan, demikian dikatkan sebuah lapotan yang baru. Laporan itu menuduh lembaga-lembaga amal tersebut mendukung "penyebarluasan pandangan-pandangan ekstrim yang tidak suka kekerasan namun merugikan sekaligus melawan hukum. Caranya, dengan memberikan panggung, kepercayaan beserta dukungan terhadap para ekstremis yang beroperasi di Kerajaan Inggris."

Uskup Agung Canterbury Justin Welby mengatakan dalam sebuah buku barunya Reimagining Britain bahwa Hukum Shariah seharusnya tidak boleh pernah menjadi bagian sistem hukum resmi Inggris. Dikatakannya, hukum Islam itu tidak cocok dengan hukum Inggris yang sudah berkembang selama 500 tahun berdasarkan prinsip budaya yang berbeda. (Foto oleh Leon Neal/Getty Images).

1 Februari 2018. Para pejabat Kantor Urusan Luar Negeri mengajak 1800 anggota staf wanita mengenakan kerudung kepala ala Islam untuk menandai Hari Hijab Dunia (World Hijab Day). Departemen tersebut menghadiahkan jilbab yang dibeli dari uang pajak, namun mengklaimnya menyimbolkan "kebebasan, penghormatan dan keamanan." Dengan mengutip kewajiban wanita berkerudung di negara-negara Islam seperti Iran dan Arab Saudi, para pengkritik mengatakan pakaian itu justru merupakan simbol penindasan atas wanita. Anggota parlemen dari Partai Tory, Andrew Bridgen mengatakan, "Saya ingin tahu, pemikiran cemerlang siapa ini. Menggelikan. Benar-benar menyia-nyiakan uang pembayar pajak. Itu bukanlah urusan departemen pemerintah. Saya tidak melihat Kantor Urusan Luar Negeri mempromosikan agama Kristen atau membagi-bagikan salib."

Lanjutkan Baca Artikel

Dunia Rahasia Otoritas Palestina

oleh Bassam Tawil  •  3 Mei 2018

  • Karena negara-negara donor---terutama Amerika Serikat dan Uni Eropa---tidak meminta akuntabilitas dan transparansi dari Otoritas Palestina, rakyat Palestina justru sangat kesulitan dana.

  • Ia juga mendorong para pemimpin Palestina untuk terus mengantongi jutaan dolar uang, memperbesar rekening-rekening pribadi dan bank mereka yang tersembunyi.

  • Rakyat Palestina, tentu saja, menjadi korban pertama dalam kisah ini.

Gambar: "Istana Presiden" Mahmud Abbas yang bernilai $17,5 juta (sekitar Rp 239 miliar) dekat Ramallah. Setelah menghadapi kecaman seputar proyek tersebut Abbas lantas memutuskan mengubah istana itu menjadi perpustakaan nasional raksasa. (Sumber foto: Dewan Ekonomi Palestina untuk Pembangunan dan Rekonstruksi).

Ada laporan terbit pekan ini; ia memperlihatkan pandangan yang jarang ada dalam dunia rahasia Otoritas Palestina (PA), sebuah lembaga yang dibangun pada tahun 1994 sesuai dengan Perjanjian Oslo yang ditandatangani antara Israel dan PLO.

Di bawah pimpinan Mahmud Abbas, sejak berdirinya PA mendapat bermiliar-miliar dolar dana dalam bentuk bantuan dari AS, Uni Eropa dan berbagai negara donor lainnya.

Bagaimanapun, karena negara-negara donor tidak meminta akuntabilitas dan transparansi dari Otoritas Palestina, rakyat Palestina justru sangat kesulitan dana. Berbagai sumbangan donor, pada pihak lain justru mendorong para pemimpin Palestina untuk terus mengantongi jutaan dolar uang, memperbesar rekening-rekening uang pribadi dan bank mereka yang tersembunyi.

Lanjutkan Baca Artikel

Apakah Inggris itu Koloni Kaum Islam Radikal?

oleh Tom Quiggin  •  1 Mei 2018

  • Jika anggota geng itu "orang Asia" maka catatan kejahatan mereka tidak ditindaklanjuti. Demikianlah, rasa takut dan sikap lalai kriminal dari para polisi yang terlibat.

  • Pengadilan-pengadilan Shariah itu bermaksud bahwa sistem hukum sebuah ideologi politik asing, dalam hal ini Islam, telah menciptakan sebuah system hukum yang sama dan di dalamnya Hukum Shariah ditempatkan di atas hukum umum Inggris. Diperhitungkan bahwa sekitar 30 sampai 85 pengadilan Shariah tengah beroperasi di Inggris dan Wales saja.

  • "Teks-teks dasar Persaudaraan Muslim menyerukan pembersihan moral individu dan masyarakat Muslim secara progresif dan akhirnya persatuan politis mereka di tangan seorang Kalifah berdasarkan Hukum Shariah. Sampai sekarang Persaudaraan Muslim mengkategorikan masyarakat Barat serta kaum Muslim liberal sebagai kaum yang dekaden sekaligus tidak bermoral. Hal ini pertama-tama dapat dilihat sebagai suatu proyek politik (penekanan diberikan oleh pengarangnya).

Di kota Ingris, Rotherham (populasi kira-kira 258,000 jiwa), sedikitnya ada 1400 anak dilecehkan secara seksual oleh sebuah geng para laki-laki Muslim keturunan Pakistan. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Kerajaan Inggris pernah menjadi kekaisaran yang berkuasa. Namun, kini pernyataan itu lebih bernada mirip budak kolonial. Tindakan para pejabat Pemerintah Inggris memperlihatkan niat pemerintah telah hancur lebur di depan serangan teroris dan ideologis berbagai kekuatan Islam politik. Ideologi itu tersebar luas, di antaranya, oleh Persaudaraan Muslim, demikian menurut sebuah laporan penting yang berasal justru dari Pemerintah Inggris sendiri. Sejumlah kelompok garis depan Persaudaraan Muslim telah teridentifikasi sedemikian rupa oleh berbagai laporan pemerintah seperti yang terjadi di Uni Emirat Arab. Termasuk di dalamnya, Cordoba Foundation (Yayasan Cordoba) yang berbasis di Kerajaan Inggris, Asosiasi Muslim Inggris serta Lembaga Pemulihan Islam Inggris. Ketiga organisasi itu semuanya terdaftar sebagai organisasi terroris di Uni Emirat Arab.

Lanjutkan Baca Artikel

Tirani Rasa Malu
Perang Ras Amerika Seperti Dilihat seorang Imigran

oleh Nonie Darwish  •  10 April 2018

  • Sikap bias banyak warga Amerika terhadap nilai-nilai Amerika membutakan mata mereka untuk melihat alasan kami para imigran berjuang melewati neraka supaya bisa sampai ke negeri ini. Banyak warga Amerika percaya bahwa orang-orang yang mengkritik budaya yang mereka tinggalkan dengan penuh ancaman bahaya harus "Islamophobic", fobia terhadap Islam. Tampaknya mereka tidak paham mengapa kami tidak pernah ingin melihat lagi apa yang begitu banyak hal yang kami alami sehingga mau melarikan diri dari sana.

  • Serangan terhadap mayoritas kulit putih di Amerika itu terang-terangan dan rasis. Memalukan bahwa banyak warga Amerika tidak mampu atau menolak melihat apa yang dilihat oleh banyak imigran: Bahwa di bawah mayoritas kulit putih inilah, jutaan orang tertindas dari seluruh dunia, dari semua warna kulit dan keyakinan, diselamatkan dari tirani, Hukum Shariah, perbudakan, diskriminasi, Islamisme serta negara-negara mengerikan yang dilanda korupsi, dirobek perang dan kelaparan. Justru sebaliknya, banyak yang tampak ingin membawa banyak hal mengerikan itu di sini.

  • Kita menyaksikan kebebasan Amerika sebagai mimpi: supaya bisa membalas senyum pria yang membukakan pintu bagimu tanpa dituduh sebagai wanita murahan karena tersenyum. Supaya bisa mengenakan pakaian yang anda inginkan, keluar rumah tatkala anda inginkan, bekerja atau memperoleh pendidikan atau serta berjuang untuk berharap pada satu hari bisa hidup dalam sebuah sistem yang menghormati monogami dan kesamaan derajat bagi wanita dan kaum minoritas. Ya, itulah budaya Amerika di mana kaum kulit putih menjadi mayoritas. Dan, tak ada masalah dengannya, dia membuat impian-impian kita menjadi nyata. Terlepas dari berbagai kekurangannya, tidak ada satu negara lain di dunia ini yang menawarkan peluang kepada warganya untuk menjadi apapun yang mereka sukai. Kita mungkin saja tidak pernah bisa lagi mendapatkan apa yang sudah kita dapatkan.

(Sumber foto: Lisa Norwood/Flickr)

Tiap hari kita dengar di televisi, "Kita butuh diskusi yang jujur tentang ras di negeri ini.

Banyak warga Amerika yang sangat paham arti kata itu, bagaimanapun, mungkin sudah bosan dengan diskusi tentang ras yang tak berujung, kosong dan tidak berfungsi apa-apa ini. Bagi orang luar, masyarakat Amerikat tampaknya terobsesi dengan persoalan ras sehingga diskusi senantiasa memburuk menjadi teriakan, makian dan kecaman, tudingan, distorsi realitas kemudian menghapuskan harapan untuk mengambil tanggung jawab atas seseorang sendiri. Diskusi tampaknya senantiasa hendak berupaya mengklaim bahwa "saya lebih suci dibanding anda."

Kami para imigran, pada satu pihak, tepat pada saat mendarat di A.S. merasakan perjuangan politik untuk mendapatkan suara kami (waktu Pemilu).

Lanjutkan Baca Artikel