Analisa dan Komentar Terbaru

"Erdogate" : Megabintang Jerman Keturunan Turki

oleh Stefan Frank  •  13 Januari 2019

  • Dua pemain sepakbola tim nasional Jerman keturunan Turki berfoto bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Keduanya juga memberikan kaos klub mereka yang sudah ditandatangani sebagai hadiah bagi sang presiden. Salah satu kaos bertuliskan pesan (berbahasa Turki): "Dengan hormat kepada presidenku. Sahabatmu yang setia."

  • Pasca-jajak pendapat (exit poll) pertama, ribuan orang Turki di kota-kota Jerman turun ke jalan-jalan. Mereka membunyikan klakson mobil sambil melambaikan bendera Turki dan AKP, merayakan kemenangan pemilihan Erdogan sampai tengah malam.

  • "Kapankah kalian akhirnya sadar bahwa persyaratan terpenting bagi integrasi bukanlah bahasa dan mobilitas ke atas tetapi ikatan emosional serta upaya untuk mengidentifikasi diri dengan negara tempat seseorang berdiam?"--- Hamed Abdel-Samad, cendekiawan politik Jerman keturunan Mesir.

Ilkay Gündoğan, yang bermain untuk tim sepakbola nasional Jerman selama Piala Dunia tahun ini berfoto bersama dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan beberapa saat menjelang turnamen. Ia pun menghadiahkan kaos yang ditandatanganinya kepada Erdogan, dengan pesan berbahasa Turki: "Dengan penuh hormat kepada presidenku. Sahabatmu yang setia." Padahal, Gündoğan hanya punya kewarganegaraan Jerman. (Foto oleh Dean Mouhtaropoulos/Getty Images).

Musim panas ini, publik Jerman mulai tersadar. Bahwa ada ratusan ribu warga Jerman keturunan Turki menghormati Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai pemimpin mereka, bukan Kanselir Jerman Angela Merkel.

Lanjutkan Baca Artikel

Sebulan Multikulturalisme di Inggris: Oktober 2018

oleh Soeren Kern  •  8 Januari 2019

  • Ada 140 kasus baru sunat perempuan (female genital mutilation---FGM) di Birmingham antara April - Juni 2018.

  • "Masih ada persoalan besar dengan para professional yang melihat perkawinan paksa sebagai isu budaya ketimbang sebagai suatu kejahatan. Banyak pihak bahkan tidak sadar bahwa ada undang-undang tentang masalah itu."--- Jasvinder Sanghera ketika menyerang kegagalan pemerintah menangani persoalan kawin paksa.

  • Menteri Kehakiman memblokir rencana untuk melakukan kajian akademis atas persoalan mengapa para narapidana beralih menganut Islam dan bagaimana ia bisa mengarah kepada radikalisasi. "Mereka memang peduli dengan soal apakah yang akan ditemukan oleh proyek usalan ini," urai sebuah sumber.

Sebuah surat yang bocor memperlihatkan bahwa Menteri Dalam Negeri Inggris, Sajid Javid sepakat menyerahkan bukti seputar dua pejihad Inggris kepada pihak berwenang Amerika untuk diadili di pengadilan federal, tetapi tidak ada jaminan bahwa hukuman mati tidak digunakan dalam kasus ini. (Foto oleh Jack Taylor/Getty Images)

1 Oktober. Orang-orang yang disebut sebagai dukun sunat (cutters) diterbangkan ke Inggris untuk menyunat para gadis muda (female-genital mutilation---FGM), demikian dikatakan Harian The Independent. Komunitas yang mempraktekkan sunat perempuan sudah membahas bersama persoalan itu. Dikatakan, "Anak gadisku perlu disunat' sehingga membayar dukun sunat untuk datang ke Inggris supaya bisa menyunat para gadis di sini," urai Hoda Ali, seorang aktivis FGM yang bekerja di West London. Ditambahkannya: "Kenyataannya, kita perlu buka mata. Tidak perlu kita berpikir hanya soal negara-negara yang jauh, karena sekarang, kita punya gadis-gadis yang berusia akhir atau bahkan awal 20-an tahun yang disunat di negeri ini. Mereka gadis Inggris, yang terlahir di sini dan disunat di sini."

Lanjutkan Baca Artikel

Prancis Hancur, Tidak Pantasnya Macron

oleh Guy Millière  •  23 Desember 2018

  • "Orang Prancis katakan, 'Tuan Presiden, kami tidak dapat memenuhi kebutuhan kami.' Dan, presiden lalu menjawab, 'kita akan membentuk Dewan Tinggi [untuk iklim ] 'Bisakah Anda bayangkan tidak nyambung jawabannya "---Laurence Saillet, jurubicara parai moderat kanan, Partai Republicans, 27 Nopember 2018.

  • "Kaum jaket kuning" [para pemrotes] kini meraih dukungan 77% populasi Perancis. Mereka menuntut Macron mengundurkan diri serta dilakukan perubahan pemerintahan segera.

  • Gerakan itu kini menjadi revolusi yang dilancarkan oleh jutaan orang yang merasa sesak napasnya karena pajak "jarahan" ("confiscatory" taxation) yang tidak ingin "terus membayar bagi sebuah pemerintahan yang tampaknya "tidak mampu membatasi pengeluarannya." Jean-Yves Camus, cendekiawan politik.

Mei lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengingatkan bahwa di banyak pinggiran kota, Prancis, "sudah kalah bertarung melawan perdagangan narkoba." (Getty Images)

Pemilu di berbagai negara Eropa direncanakan bakal diselenggarakan museim semi 2019 ini. Berbagai polling memperlihatkan bahwa Partai Rali Nasional pimpinan Le Pen bakal memimpin, jauh di depan partai La République En Marche! [Republik sedang Bergerak!] bentukan Macron.

Tanggal 11 Nopember 2018. Presiden Prancis Emmanuel Macron merayakan 100 tahun berakhirnya Perang Dunia I. Dia mengundang 70 kepala negara guna mempersiapkan ""Forum Perdamaian" yang mahal, tetapi tidak berguna serta bombastis tidak mengarah ke mana-mana. Presiden AS Donald Trump juga dia undang, kemudian memilih memaki-makinya. Dalam pidatonya yang bombastis, Macron, menyerukan soal "patriotisme", lalu anehnya mengartikannya, sebagai "lawan yang tepat bagi nasionalisme. Kemudian ia mengatakan komitmen Trump sebagai "pengkhianatan". Pernyataan itu rupanya karena, dia tahu bahwa beberapa hari sebelumnya Trump menyebut dirinya sebagai nationalis yang berkomitmen membela Amerika.

Lanjutkan Baca Artikel

"Kami Lebih Besar dari Yesusmu!"
Penyiksaan Umat Kristen oleh Ekstremis, Maret 2018

oleh Raymond Ibrahim  •  12 Nopember 2018

  • Supaya upaya perdamaian antara warga Muslim dan Kristen berhasil, maka tidak boleh ada gereja di desa itu, urai seorang warga Muslim setempat. "Satu-satunya rumah ibadat yang bisa senantiasa dibangun di desa ini adalah rumah ibadat Muslim untuk Allah."---Watan International, Mesir.

  • "Al-Shabaab kini memburu anak-anak di Mogadishu. Pusat perawatan pun sudah kami pindahkan ke tempat yang sedikit lebih aman...Anak-anak terlihat sangat menderita dan kurang gizi. Karena itu, sebagai gereja rahasia, kami memohon kepada saudara dan saudari kami di dunia bebas untuk mempertimbangkan mengulurkan tangan kepada anak-anak yang dianiaya ini."---Pastor gereja bawah tanah, Somalia.

  • "Tampaknya warga Muslim itu berniat mau berantam dengan kami."---Pastor Gereja Kristus Raja, Pakistan.

Tanggal 26 Maret 2018. Staf medis dan petugas keamanan Services Hospital, Lahore, Pakistan memukul sampai mati seorang ayah Kristen dengan empat anak dan melukai lima anggota keluarganya, termasuk seorang saudari mereka yang sedang hamil yang ditemaninya karena dia kesakitan. Gambar: Kondisi Bagian Operasi Services Hospital, pada tahun 2014 lalu.(Sumber foto: (Image Source: Baitaal/Wikimedia Commons)

Muslim Membantai Umat Kristen

Pakistan: Di sebuah rumah sakit di Lahore. Segerombolan dokter, petugas keamanan, staf medis yang kebetulan Muslim menghajar para anggota sebuah keluarga Kristen sehingga satu anggota keluarga itu tewas. Insiden maut itu terjadi karena para korban berusaha mencegah dokter lain memukul saudari mereka yang hamil. Menurut Anil Saleem, saudara laki-laki sang ibu hamil, suatu ketika, mereka membawanya ke bangsal sakit darurat Services Hospital:

"Kiran [wanita hamil itu] pergi mau memeriksakan diri pada dokter jaga, Dr. Saira, yang kala itu tengah bermain telepon genggamnya sambil minum teh. Dr. Saira meminta Kiran menunggu di luar bangsal sampai dia selesai minum teh. Kami menunggu beberapa saat. Tetapi karena sangat kesakitan, Kiran pun kembali masuk bangsa meminta supaya segera ditangani."

Lanjutkan Baca Artikel

Penyiksaan atas Umat Kristen Mesir

oleh Salim Mansur  •  5 Nopember 2018

  • Aksi kekerasan dan hasutan untuk melakukan kekerasan di bawah pimpinan umat Muslim Mesir atas umat Koptik ---khususnya berbagai kampanye sektarian yang diorganisasikan oleh Persaudaraan Muslim dan berbagai kelompok terkait --- merupakan kejahatan atas kemanusiaan dan seharusnya diperlakukan sedemikian rupa oleh komunitas internasional.

  • Kita sadari bahwa beberapa tetes jeruk lemon akan membekukan seluruh mangkuk susu. Umat Muslim Mesir, seperti banyak umat Muslim di manapun telah menumpahkan racun ke dalam seluruh Sungai Nil---karena sikap fanatik dan kekerasan mereka ---dalam tradisi iman mereka. Kita umat Muslim telah menjatuhkan martabat budaya kita dengan sikap otoriter dan kecenderungan yang keras kepala untuk mengecam pihak lain karena kegagalan kita sendiri. Kita dengan demikian, menyesatkan Islam yang sebenarnya yang kita yakini merupakan wahyu yang terakhir.

  • Berdasarkan pengalaman, umat Muslim Mesir dan di manapun di dunia ini sadari sejauh mana kekuasaan Barat praktis sudah mengkhianati apa yang mereka tegaskan dalam teori ketika sampai pada persoalan mau mendukung bangsa-bangsa yang menderita di bawah rejim-rejim otoriter.

  • Kebijakan tegas pasti yang diharapkan dari Barat untuk membela serta mengamankan hak asasi manusia bagi setiap orang, khususnya kaum minoritas, di negara-negara mayoritas Muslim, begitu terlambat...[seperti dalam] Perjanjian Helsinki tahun 1975.

Presiden Mesir, Abdel Fattah el-Sisi, menyampaikan pidato bersejarah kepada para cendekiawan dan ulama Islam kenamaan di Universitas Al-Azhar di Kairo, 28 Desember, 2014. (Sumber foto: MEMRI)

Sudah kita saksikan dengan penuh kesedihan berbagai film pemenggalan kepala umat Kristen Koptik oleh ISIS tahun 2015 di Libya mengerikan. Juga kita saksikan dengan sedih, pemboman berulang-ulang selama lebih dari dua dekade silam atas berbagai gereja Koptik di Mesir. Kita baca juga kisah Pembantaian Maspero tahun 2011. Kala itu, tank militer Mesir disebarluaskan guna melindungi demonstrasi damai yang dilancarkan umat Kristen, justru berbalik melindas mereka, meremukan banyak demonstran hingga tewas. Dan kita pun masih saja terus menerima berbagai laporan seputar penculikan para gadis Koptik, yang dipaksa beralih menganut Islam serta dipaksa menikah dengan orang Muslim.

Lanjutkan Baca Artikel

Cara Palestina Menipu Masyarakat Eropa

oleh Bassam Tawil  •  3 Nopember 2018

(Sumber foto: UN/Cia Pak)

Otoritas Palestina (PA) mengaku pihaknya menginginkan komunitas internasional menekan Israel supaya "menghentikan pelanggaran yang dilakukannya terhadap masyarakat Palestina serta hukum internasional." Tuntuan ini disampaikan kepada para anggota delegasi Parlemen Eropa yang bertemu 8 Oktober lalu di Ramallah bersama Perdana Menteri PA Rami Hamdallah. Pada pertemuan itu, Hamdallah juga menegaskan kembali permintaan PA untuk memberikan "perlindungan internasional" bagi masyarakat Palestina.

Permohonan Hamdallah kepada para wakil Parlemen Eropa harus dilihat dalam konteks kampanye penuh kebohongan beserta aksi penghasutan yang terus pemimpin PA lakukan atas Israel. Dengan demikian, seruan itu bernada munafik sekaligus menipu.

Lanjutkan Baca Artikel

Biaya Maut "Perang Oslo"

oleh Guy Millière  •  23 Oktober 2018

  • (Perjanjian) Oslo sudah 25 tahun lewat. Dan sekarang ini, seperti sejarahwan Efraim Karsh pernah katakan pada tahun 2003, neracanya lebih sebagai dimulainya "Perang Oslo." Dalam perang ini, dia menulis, Israel sejak awal sudah menyerahkan kemenangannya yang besar atas musuh-musuh terburuknya dengan memberi mereka kehormatan yang tidak pantas mereka terima. Dengan demikian, Israel menempatkan diri pada posisi kalah yang tidak pernah sepenuhnya pulih.

  • "Berbeda dari slogan Rabin (baca: almarhum mantan Perdana Menteri Israel), orang tidak membangun [perdamaian] dengan para musuh yang punya reputasi sangat buruk, tetapi lebih suka dengan bekas-bekas musuh yang punya reputasi yang sangat buruk. Yaitu, para musuh yang sudah dikalahkan...Catatan sejarah memperlihatkan, perang berakhir, bukan lewat niat baik tetapi lewat kekalahan. Dia yang tidak menang, kalah. Perang senantiasa berakhir ketika kegagalan menyebabkan satu pihak putus asa, ketika pihak itu meninggalkan perangnya kemudian menerima kekalahan. Juga ketika kekalahan mengurasi tuntas keinginannya untuk berperang. Sebaliknya, selama dua pihak yang bertempur masih berharap untuk mencapai sasaran perang mereka, maka perang bisa saja terus berlangsung atau berpotensi kembali mulai."---Daniel Pipes, Commentary, Januari 2017

  • "Bangsa Palestina itu tidak ada. Penciptaan negara Palestina hanya sebagai sarana untuk melanjutkan perjuangan kami melawan negara Israel demi persatuan Arab kami. Kenyataannya, saat ini tidak ada perbedaan antara rakyat Yordania, Palestina, Suriah dan Libanon. Hanya untuk alasan politik dan taktis kami sekarang berbicara tentang Bangsa Palestina. Soalnya, kepentingan nasional Bangsa Arab menuntut kami membuatnya sebagai fakta (posit) keberadaan Bangsa Palestina yang berbeda dan nyata supaya bisa menentang Zionisme."---Pemimpin PLO Zuheir Mohsen, dalam wawancara dengan Harian Trouw (Belanda), Maret 1977.

Tanggal 13 September 1993: P.M. Israel Yitzhak Rabin berjabatan tangan dengan Ketua PLO Yasser Arafat, disaksikan oleh President AS Bill Clinton, saat penandatanganan Perjanjian Oslo. (Sumber foto: Vince Musi / The White House)

Tanggal 13 September 1993. Yitzhak Rabin dan Yasser Arafat berjabat tangan di halaman berumput Gedung Putih. Mereka baru saja resmi menandatangani dokumen yang dianggap bakal memulai Perdamaian: Perjanjian Oslo. Dan, roda penggerak mesin ini pun mulai bekerja.

Hanya dalam semalam, Yasser Arafat tidak lagi pemimpin sebuah organisasi teroris yang kalah. Mendadak dia menjadi Presiden sebuah kwasi-negara; Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pimpinannya sudah berubah menjadi "Otoritas Palestina."

Serangan teror atas warga Israel selama "perdamaian" ini pun menjadi lebih berdarah-darah, besar-besaran serta segera menjadi gebrakan yang gila-gilaan. Beberapa aksi sengaja menyasar anak-anak beserta kaum muda, Seperti pembantaian di Diskotik Dolphinarium dan aksi bunuh diri di Restoran Sbarro misalnya. Menariknya, Arafat, tidak mengecam satu pun dari kedua tragedi itu.

Lanjutkan Baca Artikel

Pengungsi Palestina: Trump Periksa Kenyataannya

oleh Ruthie Blum  •  8 Oktober 2018

  • "Mereka tidak perlu lakukan hal-hal yang bakal menimbulkan damai...itu sangat politis..."--- Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley.

  • "Alih-alih menyelesaikan persoalan, UNRWA melakukan apa saja sesuai dengan kekuasaannya untuk membuatnya menjadi abadi. Alih-alih menciptakan perdamaian dan eksistensi bersama, ia mengajarkan kebencian dan penghasutan. Alih-alih memerangi organisasi-organisasi teroris, ia bekerja sama dengan mereka..." --- Ron Prosor, Mantan Duta Besar Israel untuk PBB.

  • "Tanggung jawab terhadap warga Palestina serta anggaran UNRWA bisa diserahkan kepada Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), lembaga yang mengurus para pengungsi dunia lainnya. Dan, tidak seperti UNRWA, UNDP bekerja menuju penyelesaian persoalan pengungsi, bukannya membuatnya menjadi abadi."---Ron Prosor.

Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley. (Foto oleh Kena Betancur/Getty Images)

Rencana Pemerintahan Trump yang dilaporkan berniat mengubah kebijakan AS seputar isu pengungsi Palestina, sudah sangat terlambat. Awalnya, menurut laporan berbagai media, kebijakan baru---yang direncanakan akan diungkap awal September ini berbasiskan informasi rahasia bermeterai dari Departemen Luar Negeri AS, --- akan mengurangi jumlah warga Palestina yang ditetapkan sebagai pengungsi oleh PBB. Dari lima juta pengungsi menjadi 500,000 pengungsi. Dengan demikian, Pemerintahan Trump menolak angka-angka yang diklaim oleh Badan Pemulihan dan Karya PBB di Timur Dekat (UNRWA). Angka-angka dari PBB memasukkan para keturunan (bukan hanya anak-anak tetapi cucu dan cicit) para pengungsi dari seluruh dunia yang sudah tidak pernah menginjakkan kaki di Israel, Jalur Gaza atau Otoritas Palestina. Rencana baru bakal juga mencakup penolakan terhadap apa yang disebut sebagai "hak untuk kembali (right of return) ke Israel dari para pengungsi beserta para keturunan mereka.

Lanjutkan Baca Artikel

Alasan Rahasia Warga Arab Tolak UU Negara-Bangsa Yahudi

oleh Bassam Tawil  •  22 September 2018

  • Beberapa pemimpin Arab Israel berbicara meremehkan Israel demi publisitas. Mereka tahu tidak ada suratkabar bakal pernah menyebutkan nama mereka jika mereka berurusan dengan isu-isu seperti soal saluran pembuangan air atau tentang kurangnya ruang kelas di berbagai sekolah Arab. Bagaimanapun, jika mereka katakan sesuatu yang jelek tentang Israel atau memprovokasi orang-orang Yahudi, mereka pasti akan dijadikan headline, berita utama di pers.

  • Para pemimpin Arab Israel bisa saja menghasut menentang Israel sebanyak-banyaknya yang mereka dambakan. Umpatan mereka tidak bakal mengubah kenyataan bahwa Israel adalah satu-satu negara demokrasi yang sedang bertumbuh subur di Timur Tengah yang memperlakukan kaum minoritasnya secara terhormat. Ketika kaum minoritas dianiaya dan dibunuh di Suriah, Libanon, Mesir, Irak, Libya dan negara-negara Arab Islam lain, warga Arab Israel berintegrasi dalam negara. Mereka menikmati posisi tinggi dalam Mahkamah Agung, Menteri Luar Negeri, sektor kesehatan bahkan Kepolisian Israel.

  • Mayoritas warga Arab di Irael terus saja terjadi pagi hari dan melanjutkan hidup mereka. Mereka bisa saja bekerja di mana saja yang mereka inginkan, bisa bepergian ke manapun di negeri itu dan akan terus menikmati semua privilese, keuntungan serta kebebasan yang diperoleh warga Yahudi.

  • Beberapa pemimpin warga Arab Israel Israel melepaskan dambaannya untuk menjadi tanah tumpah darah Yahudi. Mereka berharap bahwa satu hari orang-orang Yahudi bakal menjadi minoritas di negeri mereka sendiri. Karena sudah begitu lama, para pemimpin itu menghasut konstituen mereka menentang Israel serta warga Israel. Jika para pemimpin ini begitu tidak bahagia di Israel, barangkali mereka seharusnya mempertimbangkan untuk berpindah ke Ramallah atau Jalur Gaza atau negara Arab manapun. Barangkali, mereka bakal senang mengundurkan diri dari Knesset. Mengapa mereka menahan diri untuk melakukan demikian? Karena di tanah tumpah darah Yahudilah yang diandaikan begitu merugikan mereka, mereka dan anak-anak mereka bisa hidup dan berkembang maju.

Zouheir Bahloul, seorang warga Arab anggota Knesset, adalah warga Arab Israel yang berhak mengeluh soal diskriminasi. Selama beberapa dekade, dia adalah satu dari wartawan olahraga Israel paling populer yang dipuja-puji oleh warga Arab dan Yahudi. Dia senantiasa menikmati kehidupan nyaman menyenangkan di Israel, sebuah kehidupan yang tidak diimpikan untuk dialami di negara Arab manapun. (Foto: Knesset Spokesperson)

Sikap munafik para pemimpin warga Arab Israel mencapai puncak baru. Itu terlihat ketika mereka memprotes keras UU Negara-Bangsa Yahudi (Jewish Nation-State Law), selama beberapa hari lewat.

Inilah para pemimpin yang sama yang kata dan tindakan selama dua dekade silam telah menyebabkan hubungan antarwarga Yahudi dan Arab di Israel rusak serius. Juga merusak serius kepentingan konstituen mereka sendiri, yaitu warga Arab Israel.

Para pemimpin Arab Israel, khususnya para anggota Knesset mengaku marah bukan karena undang-undang tersebut menetapkan Israel sebagai tanah tumpah darah Bangsa Yahudi tetapi juga karena legislasi baru tidak memasukan kata-kata tentang persamaan hak yang sama bagi seluruh warga negara.

Lanjutkan Baca Artikel

Martabat Luhur Palestina

oleh Denis MacEoin  •  16 Agustus 2018

  • Mengingat bahwa semua pemimpin Palestina menyerukan adanya Negara Palestina yang bakal mencakup sekaligus melenyapkan Negara Israel, maka tidaklah mengherankan bahwa mereka tidak bisa menerima usulan yang hanya memberi mereka, satu negara kecil (atau dua negara kecil) di wilayah itu yang dialokasikan kepada mereka oleh PBBtahun 1947.

  • Penerapan kembali hukum wakaf Islami tidak bakal memulihkan kembali Spanyol, Portugal, Sisila, India, Yunani dan semua negara-negara lain dari kekaisaran kekalifahan yang ditinggalkan supaya bisa dikuasai Muslim. Sia-sia juga memikirkan apapun yang lebih sebagai sebuah khayalan.

  • Laporan AS baru-baru ini mengungkapkan, tampaknya ada hanya sekitar 20,000 pengungsi Palestina di seluruh dunia.

  • Akhirnya, aktivis- aktivis yang disebut pro-Palestina seperti Robert Fisk atau para penulis harian seperti The Independent, The Guardian, atau New York Times yang mati-matian membujuk dunia untuk mendukung sikap keras kepala Palestina untuk menolak tawaran untuk meningkatkan hidup mereka sekaligus hukum internasional

Foto: Presiden Mesir Anwar Sadar (kiri) bersama PM Israel Me Menachem Begin (kanan) menyambut gembira tepuk tangan dan sorakan selama Sesi Bersama Kongres ketika Presiden A.S Jimmy Carter mengumumkan hasil Perjanjian Camp David, 18 September 1978. (Sumber foro: Warren K. Leffler/Library of Congress)

Siapapun yang peduli terhadap Israel, yang mendambakan perdamaian, yang punya pemahaman bagus seputar fakta historis, etis, politik dan hukum yang melatarbelakangi hak Bangsa Yahudi atas sebuah negara, tempat mereka berasal, bakal kenal baik dengan nama Robert Fisk. Tetapi bukan dalam bentuk yang baik.

Selama beberapa dekade, Fisk menjadi salah satu dari banyak pembenci Israel yang sama sekali tidak berbelas kasihan. Ia juga salah satu pendukung yang paling tidak kritis terhadap hak warga Palestina dengan seruan dan aksi mereka yang tak berakhir yang benar-benar mau hancurkan Israel juga hendak mengusir atau membantai Bangsa Yahudi yang tengah berdiam di sana.[1]

Lanjutkan Baca Artikel

Krisis Perkosaan Oleh Migran di Jerman: "Gagalnya Negara"

oleh Soeren Kern  •  24 Juli 2018

  • "Susanna sudah mati. Maria berasal dari Freiburg; Mia dari Kandel; Mireille dari Flensburg; dan sekarang, Susanna dari Mainz..."----Alice Weidel, mitra pemimpin Partai AfD.

  • ""Kematian Susanna bukanlah pukulan buta atas nasib. Kematiannya adalah akibat sikap tidak bertanggung jawab yang terorganisir serta kebijakan suaka dan imigrasi kita yang gagal dan penuh skandal yang berlangsung bertahun-tahun lamanya. Dialah korban ideologi multikultural kaum sayap kiri yang tidak terkendali yang berjuang mati-matian supaya bisa menerapkan keunggulan kesadaran moralnya."---Alice Weidel, mitra pemimpin Partai AfD.

  • "Pada hari Susanna dibunuh, anda [Merkel] memberikan kesaksian di parlemen bahwa anda sudah menangani krisis migran secara bertanggung jawab. Beranikah anda mengulangi klaim tersebut kepada orangtua Susanna?"--- Alice Weidel, mitra pemimpin Partai AfD.

Susanna Maria Feldman 14 tahun (inset) diperkosa kemudian dibunuh oleh Ali Bashar, seorang pencari suaka yang gagal di Jerman. Dia belakangan membuang jenazah korban di hutan di pinggiran Kota Weisbaden. (Sumber foto: Feldman - Facebook; Wiesbaden - Maxpixel).

Seorang gadis Yahudi, Susanna Feldman, 14 tahun, diperkosa lalu dibunuh, 14 Mei 2018 lalu di Jerman. Pelakunya adalah seorang pencari suaka yang gagal mendapatkan status suaka. Kasus tragis itu menjadi sorotan terbaru atas krisis perkosaan oleh para migran yang terus saja tidak mereda selama bertahun-tahun di tengah sikap publik yang patuh secara resmi dan apatis.

Ribuan wanita dan anak-anak diperkosa dan diserang secara seksual di Jerman semenjak Kanselir Angela Merkel menyambut lebih dari satu juta migran ke negeri itu. Sebagian besar migran adalah laki-laki dari Afrika, Asia dan Timur Tengah.

Lanjutkan Baca Artikel

Jerman: 'Memberangus' Kebebasan Pers

oleh Stefan Frank  •  21 Juli 2018

  • Sensor kini jadi boomerang, jika memang pihak berwenang berencana menyensor berita dan menyembunyikan informasi seputar pemenggalan kepala bayi itu dalam bungkusan mereka. Berkat laporan seputar razia, ribuan orang menonton videonya. Juga ada ratusan ribu orang yang sudah mendengar soal sensor yang justru merusak.

  • Pemerintah Hamburg juga masih berupaya menyembunyikan kasus pemenggalan kepala bayi. Di antara hal-hal lainnya, mereka [Partai AfD] ingin tahu apakah bayi itu memang sudah dipenggal kepalanya. Pemerintah---yang mau melanggar tugas konstitusional--- menolak menjawabnya. Pemerintah juga menyensor pertanyaan, dengan tidak menyiarkan seluruh kalimatnya.

  • Mengapa pemenggalan kepala bayi harus dirahasiakan memang masih menjadi teka-teki orang. Yang sudah jelas adalah betapa mudahnya pihak berwenang Jerman menyensor berita dan menghukum para blogger yang menyebarluaskan informasi yang tidak mereka inginkan. Mereka punya perangkat hukum yang sangat luas yang bisa mereka manfaatkan. Tampaknya ini tidak membuat mereka terganggu bahwa hukum yang dilibatkan dalam kasus ini secara eksplisit menetapkan bahwa ia tidak bisa diterapkan pada "peliputan atau pelaporan peristiwa-pertiwa masa kini."

Polisi menanyakan para saksimata pembunuhan ganda di Stasiun Kereta Api Bawah Tanah, Jungfernstieg di Hamburg, Jerman. (Sumber foto: suntingan video karya Daniel J./Heinrich Kordewiner)

Pihak berwenang Jerman mulai menyensor berita guna menyembunyikan kisah pembunuhan ganda di Hamburg, Jerman baru-baru ini. Mereka juga merazia apartemen seorang saksimata yang memfilmkan video yang menjelaskan aksi pembunuhan tersebut serta seorang blogger yang mempostingkan videonya di YouTube.

Pembunuhan naas itu terjadi 12 April 2018 pagi dan kemudian menjadi berita utama media di seluruh penjuru dunia. Penyerangnya adalah Mourtala Madou, seorang imigran ilegal dari Nigeria. Dengan pisau, ia menikam bekas kekasihnya seorang wanita Jerman, yang teridentifikasi sebagai bernama Sandra P ., beserta puteri mereka yang berusia satu tahun, Miriam, di sebuah stasiun bawah tanah Hamburg. Bocah malang itu langsung meninggal di tempat kejadian. Ibunya meninggal belakangan, di rumah sakit. Putra wanita malang itu yang berusia tahun menyaksikan aksi permbunuhan tersebut.

Lanjutkan Baca Artikel

"Doktrin Trump" untuk Timur Tengah

oleh Guy Millière  •  10 Juli 2018

  • Trump memperlihatkan kekuatan Amerika Serikat sekaligus memulihkan kredibilitasnya di sebuah kawasan di mana kekuatan dan pasukann menentukan kredibilitas.

  • Trump lebih luas lagi meletakan dasar bagi aliansi baru Amerika Serikat dengan dunia Sunni Arab, namun menetapkan dua persyaratan atasnya. Menghentikan semua dukungan Arab Sunni terhadap terorisme Islam dan pada saat yang bersamaan terbuka terhadap prospek perdamaian regional yang mencakup Israel.

  • Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo berbicara tentang "masyarakat Palestina" bukan tentang Otoritas Palestina. Pembicaraan senada pun pernah dibicarakannya tentang situasi di Iran, mungkin hendak menekankan perbedaan antara masyarakat dan kepemimpinan mereka. Yaitu bahwa kepemimpinan dalam kedua situasi, mungkin saja tidak lagi menjadi bagian dari solusi. Hamas, bagi AS, jelas bukanlah bagian dari solusi apapun.

  • Netanyahu pernah dengan tepat mengatakan bahwa para pemimpin Palestina, siapapun mereka, tidak ingin berdamai dengan Israel, tetapi "menginginkan damai tanpa Israel" (peace with Israel). Apa yang sebaliknya terjadi bisa saja adalah perdamaian tanpa para pemimpin Palestina. Apa yang juga bisa saja terjadi adalah perdamaian tanpa para mullah Iran.

Foto: President Donald Trump menyambut Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di Gedung Putih, 20 Maret 2018, di Washington, D.C. (Foto oleh Kevin Dietsch-Pool/Getty Images).

Setelah tiga Presiden Amerika berturut-turut memanfaatkan masa 6 bulan penandatanganan surat pembatalan (waiver) untuk menunda pemindahan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem selama lebih dari dua dekade, Presiden Donald J. Trump memutuskan untuk tidak lagi menunggu lama. Pada tanggal 7 Desember 2017 lalu, dia pun lantas memaklumkan bahwa Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Yerusalem. Pemindahan resmi kedutaan besar tersebut terjadi pada 14 Mei 2017, pada hari ulang tahun Israel yang ke-70.

Lanjutkan Baca Artikel

Refleksi Pasca-Ramadan seputar Dunia Muslim

oleh Salim Mansur  •  6 Juli 2018

  • Akibatnya, kaum Muslim kebingungan berkaitan dengan soal bagaimana cara memperbaiki budaya mereka yang rusak, atau bagaimana membangun budaya baru– ketika mereka benar-benar ragu dengan apa yang baru, apa yang modern, dan apa yang dibangun oleh pihak lain yang menjadi milik agama dan budaya yang lain.

  • Secara umum, kaum Muslim adalah orang-orang "dunia ketiga". Pemahaman dan praktik Islam mereka tetap dalam budya pra-modern. Meski demikian, bagi banyak kaum Muslim, akibat pandangan pra-modern mereka, paradoks ini sebagian besar tidak dapat dimengerti. Kenyataan ini benar-benar sangat menghambat upaya untuk mempercepat transisi mereka menuju modernisasi.

  • Ada rasa marah terhadap pergolakan internal dalam dunia Muslim. Kemarahan itu akhirnya menguras habis tenaga kaum Muslim, ketika ada segmen populasi Muslim yang cukup besar bisa mendamaikan akal budi dengan wahyu sehingga bisa temukan bahwa Allah tidak pernah menakdirkan agama apapun, termasuk Islam, menjadi beban yang mencegah manusia merajut hubungan denganNya secara harmonis sesuai hakikat manusia.

Ada penyelidikan serta perdebatan seputar pewahyuan dan akal budi di Baghdad, Ibukota Arab dari para penguasa Abasiyah sebagai Kalifah Islam selama masa Abad Pertengahan awal. Foto: Sebuah lukisan dari manuskrip Dinasti Abasiyah, yang dikerjakan pada tahun 1237. (Sumber gambar: Académie de Reims/Wikimedia Commons)

Tahun ini ketika Ramadan hendak berakhir, tepatnya, pada Jumad terakhir bulan suci agama Islam, pertunjukan besar-besaran kaum Muslim yang marah disiarkan di seluruh dunia Muslim dan Barat. Hari itu disebut sebagai Hari "Al-Qud's (Hari Jerusalem)" oleh almarhum pemimpin Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Al-Qur'an, kitab suci Islam mengajak umat Islam untuk berpuasa selama Ramadan sebagai bagian dari doa dan refleksi "untuk mengusir setan." Kaum Muslim ekstrimis, justru sebaliknya. Pada saat yang sama mereka mengajak rekan seagama mereka untuk mengungkapkan amarah kepada musuh nyata dan musuh khayalan mereka, khususnya kepada kaum Yahudi. Bagaimanapun juga, kebanyakan Muslim menjauhkan diri dari demonstrasi penuh amarah ini, yang merendahkan makna dan tujuan kebaktian berpuasa dan penegakkan sholat selama bulan suci ketika Al-Qur'an pertama kali diturunkan kepada Muhammad.

Lanjutkan Baca Artikel

PBB Hanya Rekomendaskan Sedikit Umat Kristen Suriah untuk Dimukimkan di Inggris
Persekusi Muslim atas Kristen, Nopember 2017

oleh Raymond Ibrahim  •  26 Juni 2018

  • Pengkritik menuduh PBB umumnya dan Pemerintah Inggris khususnya terus melakukan diskriminasi terhadap para pengungsi Kristen karena lebih memilih pengungsi Muslim dari Suriah. Barnabas Fund (sebuah NGO Inggris yang bergerak dalam pemberian bantuan kepada orang atau kelompok Kristen yang teraniaya, pent. JL) mengatakan, "Pihaknya akhirnya memperoleh sejumlah angka yang membuktikan bahwa PBB hanya merekomendasikan sedikit sekali umat Kristen Suriah...untuk dimukimkan kembali di Inggris," sebaliknya, "sebagian besar pengungsi yang direkomendasikan PBB adalah umat Muslim Sunni yang menjadi mayoritas di Suriah. Tetapi umat Kristen dan kaum minoritas lain yang berkali-kali ditargetkan menjadi sasaran serangan oleh kelompok-kelompok Islam radikal seperti ISIS... Yang mengganggu lagi adalah para pejabat Inggris mencoba melarang informasi ini dikeluarkan." –PBB dan Inggris; Barnabas Fund

  • "Setelah beberapa laporan memperlihatkan bahwa umat Kristen disiksa secara sistematis di rumah-rumah suaka Jerman. Persoalannya kini beralih dari rumah ke jalanan..." – Jerman; Chris Tomlinson, Breitbart.

  • "Memperlihatkan diri sudah bertobat tidak lagi membatalkan hukuman mati yang ditetapkan atas para penghina agama dan yang murtad..." Mauritania; News24

Gambar: Sebuah bangunan di Marawi, Filipina terbakar, 15 Juni 2017 silam, ketika militer Filipina memerangi teroris Islam radikal supaya bisa menguasai kota. Sedikitnya 25 umat Kristen dibantai di kota tersebut selama kaum Islam radikal terus melancarkan serangan musim panas silam dan "laki-laki bersenjata yang terinspirasi oleh ISIS membakar Katedral St. Maria di kota itu" (Sumber foto: Mark Jhomel/Wikimedia Commons)

Muslim Menyerang Gereja Kristen

Jerman: Menurut sebuah laporan yang terbit 11 Nopember tahun silam dalam The European, kira-kira 200 gereja diserang sekaligus dinajiskan di kawasan Alpen dan Bavaria saja. Ujung salib-salib besar yang berada di puncak gunung dijungkirbalikan serta dirusak dengan kapak dan gergaji mesin. "Kaum Muslim radikal muda" diyakini berada di balik vandalisme yang tersebar meluas itu.

Lanjutkan Baca Artikel