Analisa dan Komentar Terbaru

"Mengapa Mereka Pikir Islam itu Agama Damai?"
Umat Muslim Menganiaya Umat Kristen: Oktober 2017

oleh Raymond Ibrahim  •  21 Mei 2018

  • Tiga lelaki Muslim menculik seorang gadis Kristen berusia 12 tahun, memperkosanya beramai-ramai dan secara sadistik menyiksanya, kemudian menyundutnya dengan rokok. Ketika pada hari yang sama ibu gadis malang itu melaporkan kepada polisi, mereka menolak untuk memulai penyidikan kriminal bahkan untuk mendaftarkan keluhannya.---Pakistan.

  • "Serangan-serangan ini dilakukan setiap hari..." Seorang penduduk desa di Nigeria.

  • Saya melarikan diri dari Pakistan guna menyelamatkan diri dari kekejaman seperti ini, tetapi semakin banyak aksi kejam yang sama justru berdatangan ke Inggris. Kebebasan beragama harus menjadi hak setiap warga Inggris. Tetapi hari ini saya merasa tidak aman..." — Tajamal Amar, Darby, Inggris.

  • "Mengapa mereka [masyarakat Barat] berpikir Islam adalah agama damai? Orang-orang ini telah membunuh kami selama beberapa dekade dan media kalian mengabaikannya begitu saja. Kini mereka membunuh kalian. Dan, masih saja Presiden Obama kalian [pernah] katakan itu agama damai. Kami saksikan para pemimpin Barat mengatakan itu berulang-ulang kali. Mengapa?"---Seorang warga Kristen Nigeria.

Satu orang Kristen yang melarikan diri ke Barat dari dunia Islam untuk mencari kebebasan beragama diserang dan dipukul tanpa belas kasihan oleh para laki-laki Muslim di Derby, Inggris, Oktober silam. Para penyerangnya marah karena dari spion kiri mobil korban, mereka melihat ada salib bergantung. Foto: Pusat Kota Derby. (Sumber foto: Ray Bradbury/Flickr)

Dalam sebuah serangan paling kurang ajar terhadap umat Kristen Mesir, seorang lelaki Muslim membantai seorang Uskup Kristen, di siang bolong. Video kamera keamanan merekam, seorang laki-laki bersenjatakan parang penjagal besar mengejar lalu menikam Uskup Samaan Shehata. Serangan bertubi-tubi itu dilancarkan atas kepala, leher dan badan korban di jalanan Kota Kairo, 12 Oktober tahun silam. Menurut para saksimata, "penyerangnya melihat Shehata berada dalam mobilnya, lalu menghentikannya dengan paksa kemudian memaksanya keluar dari mobil dan mulai menikam leher dan badannya. Shehata melarikan diri. Penyerang mengejarkan sampai memasuki gudang kemudian menghentikan serangannya di sana, dengan beberapa kali memukul kepala korban." Kemudian, ketika berdiri di atas korbannya, "penyerang menggunakan darah uskup malang itu untuk menggambar tanda salib di kening korban." Sebuah ambulans perlu waktu 90 menit untuk sampai ke tempat kejadian. "Uskupnya masih hidup selama satu setengah jam pascapenyerangan sehingga masih bisa diselamatkan jika ambulans tiba pada waktunya."

Lanjutkan Baca Artikel

Sebulan Islam dan Multikulturalisme di Inggris: Februari 2018
"Tempat terbaik untuk sembunyikan sebatang pohon itu di hutan belantara."

oleh Soeren Kern  •  15 Mei 2018

  • "Saya ingin tahu pemikiran cemerlang siapa ini. Ini menggelikan dan bukan urusan departemen pemerintah. Saya tidak melihat Kantor Urusan Luar Negeri mempromosikan agama Kristen atau membagi-bagikan salib."--- Pernyataan anggota Parlemen Partai Tory Andrew Bridgen menanggapi keputusan para pejabat Kantor Urusan Luar Negeri untuk membagi-bagikan kerudung Islami yang didanai dengan uang pajak dan mengklaimnya menyimbolkan "kebebesan, penghormatan dan keamanan."

  • Sebuah pengkajian yang diketuai oleh Prof. Mona Siddiqui, seorang professor Islam mengusulkan perubahan legislatif yang mempersyaratkan pasangan Muslim menjalani perkawinan sipil sebelum atau pada waktu yang bersamaan dengan upacara perkawinan Islami. Persyaratan itu memberikan perlindungan hukum kepada wanita berdasarkan Hukum Inggris. Sampir semua yang menggunakan dewan shariah adalah para wanita yang berusaha supaya bisa cerai secara Islam.

  • "Kita, Kerajaan Inggris memproduksi pejihad John. Kita, Sesuatu dalam kota-kota kita...telah memproduksi sebagian besar teroris jahat keji. Kita perlu untuk mulai bertanya: apakah yang ada dalam budaya kita, dalam kota besar kita, dalam kota kecil kita yang memproduksi para monster semacam ini?"---Maajid Nawas, aktivis kontra-ekstremisme Inggris.

  • Lembaga amal Islam yang rawan terhadap pengaruh para ekstremis mendapatkan £6 million (sekitar Rp 117 miliar) setahun dari pembayar pajak dalam bentuk bantuan, demikian dikatkan sebuah lapotan yang baru. Laporan itu menuduh lembaga-lembaga amal tersebut mendukung "penyebarluasan pandangan-pandangan ekstrim yang tidak suka kekerasan namun merugikan sekaligus melawan hukum. Caranya, dengan memberikan panggung, kepercayaan beserta dukungan terhadap para ekstremis yang beroperasi di Kerajaan Inggris."

Uskup Agung Canterbury Justin Welby mengatakan dalam sebuah buku barunya Reimagining Britain bahwa Hukum Shariah seharusnya tidak boleh pernah menjadi bagian sistem hukum resmi Inggris. Dikatakannya, hukum Islam itu tidak cocok dengan hukum Inggris yang sudah berkembang selama 500 tahun berdasarkan prinsip budaya yang berbeda. (Foto oleh Leon Neal/Getty Images).

1 Februari 2018. Para pejabat Kantor Urusan Luar Negeri mengajak 1800 anggota staf wanita mengenakan kerudung kepala ala Islam untuk menandai Hari Hijab Dunia (World Hijab Day). Departemen tersebut menghadiahkan jilbab yang dibeli dari uang pajak, namun mengklaimnya menyimbolkan "kebebasan, penghormatan dan keamanan." Dengan mengutip kewajiban wanita berkerudung di negara-negara Islam seperti Iran dan Arab Saudi, para pengkritik mengatakan pakaian itu justru merupakan simbol penindasan atas wanita. Anggota parlemen dari Partai Tory, Andrew Bridgen mengatakan, "Saya ingin tahu, pemikiran cemerlang siapa ini. Menggelikan. Benar-benar menyia-nyiakan uang pembayar pajak. Itu bukanlah urusan departemen pemerintah. Saya tidak melihat Kantor Urusan Luar Negeri mempromosikan agama Kristen atau membagi-bagikan salib."

Lanjutkan Baca Artikel

Dunia Rahasia Otoritas Palestina

oleh Bassam Tawil  •  3 Mei 2018

  • Karena negara-negara donor---terutama Amerika Serikat dan Uni Eropa---tidak meminta akuntabilitas dan transparansi dari Otoritas Palestina, rakyat Palestina justru sangat kesulitan dana.

  • Ia juga mendorong para pemimpin Palestina untuk terus mengantongi jutaan dolar uang, memperbesar rekening-rekening pribadi dan bank mereka yang tersembunyi.

  • Rakyat Palestina, tentu saja, menjadi korban pertama dalam kisah ini.

Gambar: "Istana Presiden" Mahmud Abbas yang bernilai $17,5 juta (sekitar Rp 239 miliar) dekat Ramallah. Setelah menghadapi kecaman seputar proyek tersebut Abbas lantas memutuskan mengubah istana itu menjadi perpustakaan nasional raksasa. (Sumber foto: Dewan Ekonomi Palestina untuk Pembangunan dan Rekonstruksi).

Ada laporan terbit pekan ini; ia memperlihatkan pandangan yang jarang ada dalam dunia rahasia Otoritas Palestina (PA), sebuah lembaga yang dibangun pada tahun 1994 sesuai dengan Perjanjian Oslo yang ditandatangani antara Israel dan PLO.

Di bawah pimpinan Mahmud Abbas, sejak berdirinya PA mendapat bermiliar-miliar dolar dana dalam bentuk bantuan dari AS, Uni Eropa dan berbagai negara donor lainnya.

Bagaimanapun, karena negara-negara donor tidak meminta akuntabilitas dan transparansi dari Otoritas Palestina, rakyat Palestina justru sangat kesulitan dana. Berbagai sumbangan donor, pada pihak lain justru mendorong para pemimpin Palestina untuk terus mengantongi jutaan dolar uang, memperbesar rekening-rekening uang pribadi dan bank mereka yang tersembunyi.

Lanjutkan Baca Artikel

Apakah Inggris itu Koloni Kaum Islam Radikal?

oleh Tom Quiggin  •  1 Mei 2018

  • Jika anggota geng itu "orang Asia" maka catatan kejahatan mereka tidak ditindaklanjuti. Demikianlah, rasa takut dan sikap lalai kriminal dari para polisi yang terlibat.

  • Pengadilan-pengadilan Shariah itu bermaksud bahwa sistem hukum sebuah ideologi politik asing, dalam hal ini Islam, telah menciptakan sebuah system hukum yang sama dan di dalamnya Hukum Shariah ditempatkan di atas hukum umum Inggris. Diperhitungkan bahwa sekitar 30 sampai 85 pengadilan Shariah tengah beroperasi di Inggris dan Wales saja.

  • "Teks-teks dasar Persaudaraan Muslim menyerukan pembersihan moral individu dan masyarakat Muslim secara progresif dan akhirnya persatuan politis mereka di tangan seorang Kalifah berdasarkan Hukum Shariah. Sampai sekarang Persaudaraan Muslim mengkategorikan masyarakat Barat serta kaum Muslim liberal sebagai kaum yang dekaden sekaligus tidak bermoral. Hal ini pertama-tama dapat dilihat sebagai suatu proyek politik (penekanan diberikan oleh pengarangnya).

Di kota Ingris, Rotherham (populasi kira-kira 258,000 jiwa), sedikitnya ada 1400 anak dilecehkan secara seksual oleh sebuah geng para laki-laki Muslim keturunan Pakistan. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Kerajaan Inggris pernah menjadi kekaisaran yang berkuasa. Namun, kini pernyataan itu lebih bernada mirip budak kolonial. Tindakan para pejabat Pemerintah Inggris memperlihatkan niat pemerintah telah hancur lebur di depan serangan teroris dan ideologis berbagai kekuatan Islam politik. Ideologi itu tersebar luas, di antaranya, oleh Persaudaraan Muslim, demikian menurut sebuah laporan penting yang berasal justru dari Pemerintah Inggris sendiri. Sejumlah kelompok garis depan Persaudaraan Muslim telah teridentifikasi sedemikian rupa oleh berbagai laporan pemerintah seperti yang terjadi di Uni Emirat Arab. Termasuk di dalamnya, Cordoba Foundation (Yayasan Cordoba) yang berbasis di Kerajaan Inggris, Asosiasi Muslim Inggris serta Lembaga Pemulihan Islam Inggris. Ketiga organisasi itu semuanya terdaftar sebagai organisasi terroris di Uni Emirat Arab.

Lanjutkan Baca Artikel

Tirani Rasa Malu
Perang Ras Amerika Seperti Dilihat seorang Imigran

oleh Nonie Darwish  •  10 April 2018

  • Sikap bias banyak warga Amerika terhadap nilai-nilai Amerika membutakan mata mereka untuk melihat alasan kami para imigran berjuang melewati neraka supaya bisa sampai ke negeri ini. Banyak warga Amerika percaya bahwa orang-orang yang mengkritik budaya yang mereka tinggalkan dengan penuh ancaman bahaya harus "Islamophobic", fobia terhadap Islam. Tampaknya mereka tidak paham mengapa kami tidak pernah ingin melihat lagi apa yang begitu banyak hal yang kami alami sehingga mau melarikan diri dari sana.

  • Serangan terhadap mayoritas kulit putih di Amerika itu terang-terangan dan rasis. Memalukan bahwa banyak warga Amerika tidak mampu atau menolak melihat apa yang dilihat oleh banyak imigran: Bahwa di bawah mayoritas kulit putih inilah, jutaan orang tertindas dari seluruh dunia, dari semua warna kulit dan keyakinan, diselamatkan dari tirani, Hukum Shariah, perbudakan, diskriminasi, Islamisme serta negara-negara mengerikan yang dilanda korupsi, dirobek perang dan kelaparan. Justru sebaliknya, banyak yang tampak ingin membawa banyak hal mengerikan itu di sini.

  • Kita menyaksikan kebebasan Amerika sebagai mimpi: supaya bisa membalas senyum pria yang membukakan pintu bagimu tanpa dituduh sebagai wanita murahan karena tersenyum. Supaya bisa mengenakan pakaian yang anda inginkan, keluar rumah tatkala anda inginkan, bekerja atau memperoleh pendidikan atau serta berjuang untuk berharap pada satu hari bisa hidup dalam sebuah sistem yang menghormati monogami dan kesamaan derajat bagi wanita dan kaum minoritas. Ya, itulah budaya Amerika di mana kaum kulit putih menjadi mayoritas. Dan, tak ada masalah dengannya, dia membuat impian-impian kita menjadi nyata. Terlepas dari berbagai kekurangannya, tidak ada satu negara lain di dunia ini yang menawarkan peluang kepada warganya untuk menjadi apapun yang mereka sukai. Kita mungkin saja tidak pernah bisa lagi mendapatkan apa yang sudah kita dapatkan.

(Sumber foto: Lisa Norwood/Flickr)

Tiap hari kita dengar di televisi, "Kita butuh diskusi yang jujur tentang ras di negeri ini.

Banyak warga Amerika yang sangat paham arti kata itu, bagaimanapun, mungkin sudah bosan dengan diskusi tentang ras yang tak berujung, kosong dan tidak berfungsi apa-apa ini. Bagi orang luar, masyarakat Amerikat tampaknya terobsesi dengan persoalan ras sehingga diskusi senantiasa memburuk menjadi teriakan, makian dan kecaman, tudingan, distorsi realitas kemudian menghapuskan harapan untuk mengambil tanggung jawab atas seseorang sendiri. Diskusi tampaknya senantiasa hendak berupaya mengklaim bahwa "saya lebih suci dibanding anda."

Kami para imigran, pada satu pihak, tepat pada saat mendarat di A.S. merasakan perjuangan politik untuk mendapatkan suara kami (waktu Pemilu).

Lanjutkan Baca Artikel

Palestina: Bangsa Arab Tidak Pedulikan Kami

oleh Khaled Abu Toameh  •  8 April 2018

  • Palestina tampaknya menjadi satu-satunya di dunia Arab yang muncul tiap hari melawan sebuah rencana yang tidak seorang pernah melihatnya.

  • Sikap apatis Arab terhadap Palestina merupakan akibat dari keyakinan panjang di kalangan dunia Arab bahwa Palestina adalah sebuah bangsa yang tidak tahu berterimakasih yang tidak ragu-ragu menggigit tangan yang memberikan mereka makan.

  • Palestina menemukan bahwa mereka sendiri sajalah yang mengancam hendak menggagalkan rencana perdamaian Timur Tengah tatkala Trump akhirnya mengumumkan rencananya itu.

Sikap apatis Arab terhadap Palestina merupakan akibat dari keyakinan panjang di kalangan dunia Arab bahwa Palestina adalah sebuah bangsa yang tidak tahu berterimakasih yang tidak ragu-ragu menggigit tangan yang memberikan mereka makan. Dukungan Palestina terhadap invasi Saddam Hussein atas Kuwait tahun 1990 menjadi titik balik dalam hubungan negara-negara Arab dengan Palestina. Foto: Yasser Arafat bersama Presiden Irak saat itu, Saddam Hussein, pada tahun 1988. (Foto via Getty Images).

Otoritas Palestina (PA) berusaha keras membujuk negara-negara Arab supaya mendukung posisinya yang buntu dengan Pemerintah AS.

Kepemimpinan PA di Ramallah takut bahwa tanpa dukungan negara-negara Arab, Pemerintah AS akan "memaksakan" kesepakatan abad ini" dari Presiden Donald Trump --- sebuah rencana demi perdamaian di Timur Tengah yang belum diumumkan.

Negara-negara Arab bagaimanapun tampaknya sibuk dengan persoalan-persoalan lain. Untuk sekarang, Palestina mendapat lebih banyak "pemanis mulut" dari saudara-saudara Arab mereka, termasuk berbagai janji untuk menekan Pemerintahan Trump, mungkin untuk "memodifikasi" rencananya supaya tidak terlampau "merugikan" tuntutan dan aspirasi Palestina.

Lanjutkan Baca Artikel

Jerman: Merkel Bayar Mahal untuk Masa Keempat Kekuasaannya
"Ini tidak lama."

oleh Soeren Kern  •  19 Maret 2018

  • "Merkel memang akan memerintah...tetapi pemerintahannya akan berada di bawah judul, 'tidak akan bertahan lama'. Pernyataan ini merujuk kepada Merkel. Juga pada kenyataan bahwa di banyak bagian negeri ini, ada perasaan " bahwa (keadaan) 'ini' tidak boleh berlanjut."--- Kurt Kister, Pemimpin Redaksi, Süddeutsche Zeitung.

  • "CDU tetap berkuasa atas Kementerian Ekonomi yang terdengar bagus, Kementerian Kesehatan yang kurang populer, Kementerian Pertahanan yang rawan krisis serta pos-pos kementerian bayangan di kantor Kanselir, yaitu kementerian pendidikan dan pertanian. Itu tentu saja kecil untuk ukuran sebuah faksi terkuat di Bundestag."---Tajuk Rencana Münchner Merkur.

  • "CDU diubah menjadi partai politik pribadi Merkel sendiri. Meskin demikian, di tengah jalan, persaingan ide politik hilang lenyap---padahal, konflik kebijakan merupakan darah hidup demokrasi sekaligus memberikan arah kepada para pemilih.— René Pfister, Kepala Biro Berlin Harian Der Spiegel.

Kanselir Jerman Angela Merkel (tengah) berdiri bersama Martin Schulz (kanan), pemimpin Partai Sosial Demokrat (SDP) serta Horst Seehofer (kiri) Gubernur Bavaria sekaligus Pemimpin Partai Uni Sosial Kristen (CSU) setelah negosiasi koalisi pemerintah, 7 Februari 2018 di Berlin, Jerman. (Foto oleh Carsten Koall/Getty Images).

Para jururunding dari Partai Uni Demokratik Kristen (CDU) pimpinan Angela Merkel yang berhaluan tengah kanan dan para mitra mereka dari Partai Uni Sosial Kristen (CSU) dari Negara Bagian Bavaria serta Partai Sosial Demokrat yang berhaluan tengah kiri (SPD) pada prinsipnya sudah sepakati koalisi besar baru pemerintah. Dan kenyataannya, koalisi itu sama dengan yang memerintah sebelum Pemilu terakhir September 2017.

Kesepakatan akan resmi disahkan oleh segelintir pejabat SPD serta anggotanya pada kongres khusus partai 4 Maret nanti. Jika sudah disahkan maka dia menjamin bahwa Jerman bakal punya pemerintahan baru setelah Paskah nanti. Juga akan mengesahkan bahwa Merkel sudah berkuasa selama 12 tahun, dan masih tetap menjabat selama empat tahun yang panjang sebagai kanselor, meskipun dalam posisi yang sangat lemah.

Lanjutkan Baca Artikel

Eropa: Jadikan Kembali Kembali Besar

oleh Judith Bergman  •  12 Maret 2018

  • Di Jerman, 47% Muslim meyakini Hukum Shariah jauh lebih penting daripada Hukum Jerman. Di Swedia, 52% Muslim meyakini bahwa Hukum Shariah jauh lebih penting dibanding Hukum Swedia.

  • Kajian-kajian tersebut didukung oleh berbagai laporan intelijen Eropa. Di Jerman, badan-badan intelijen memperingatkan pada awal musim gugur tahun 2015 lalu bahwa, "Kita tengah mengimpor ekstremisme Islam, anti-Semitisme Arab, konflik nasional dan etnis dari bangsa lain, termasuk mengimpor pemahaman yang berbeda tentang masyarakat dan hukum."

  • Sebuah kajian di Belgia baru-baru ini, di mana 4.734 warga Belgia mengikuti jajak memperlihatkan bahwa dua pertiga warga Belgia merasa bahwa negara mereka tengah "makin banyak diserbu."

Departemen Integrasi Kota Graz, Austria pernah mewawancarai sampel terdiri dari 288 orang dari kira-kira 4.000 mayoritas pencari suaka Aghanistan di kota itu demi kepentingan kotanya. Kajian itu memperlihatkan bahwa para migran mengungkapkan sikap tidak tidak toleran mereka yang dalam terhadap umat Kristen, Yahudi dan homoseksual. Gambar: Gedung Balaikota Graz, Austria. (Sumber foto: Tamirhassan/Wikimedia Commons).

"Kita tidak bisa dan tidak bakal pernah bisa menghentikan migrasi," tulis Komisioner Uni Eropa (EU) untuk Migrasi, Urusan Dalam Negeri dan Kewarganegaraan, Dimitis Avramopoulos baru-baru ini. "Pada penghujung hari, kita semua perlu bersiap diri untuk menerima migrasi, mobilitas dan keberragaman sebagai norma baru lalu merancang kebijakan-kebijakankita sesuai dengan kondisi itu."

Terlihat bahwa orang-orang seperti itu meminta kita untuk meyakini bahwa migrasi adalah kebijakan kategorial Uni Eropa yang tampaknya tidak perlu dipersoalkan. Karena itu Avramapolos juga menulis, "Migrasi itu sangat bertumpang-tindih dengan kebijakan kita seputar ekonomi, perdagangan, pendidikan dan pekerjaan." . Dengan demikian, sangatlah penting untuk menganalisa "keberragaman" macam apa yang Uni Eropa undang masuk untuk menjadikan rumahnya di Benua Eropa.

Lanjutkan Baca Artikel

Pelecehan Seksual Timur dan Barat

oleh Denis MacEoin  •  12 Februari 2018

  • "Saya katakan bahwa ketika seorang gadis berjalan sekitar seperti itu, maka adalah tugas yang patriotik untuk melakukan perundungan seksual atasnya sekaligus adalah tugas nasional untuk memperkosa dia."--- Nabih Wahsh, pengacara Islam radikal dalam TV al-Assema, Mesir, 19 Oktober 2017.

  • Revolusi Iran tahun 1979 memantik semakin banyak gerakan revolusioner di seluruh penjuru dunia Islam dan dalam prosesnya menyaksikan wanita di banyak negara, di seluruh penjuru dunia Islam menolak kebebasan yang mulai mereka peroleh di bawah rejim-rejim sebelumnya. Jilbab pun kembali luas dipakai, khususnya di Turki. Menyusul bertumbuhnya kekuasaan otoriter dan fundamentalis Presiden Recep Tayyip Erdogan, hak-hak wanita Turki pun semakin banyak ditolak.

  • Mendesak sekali kita perlu membuang jauh-jauh sikap enggan untuk mempertentangkan nilai Barat dan Islam --- entah berkaitan dengan kekerasan, perlakuan terhadap minoritas agama, anti-Semitisme atau perlakuan terhadap wanita. Jumlah kaum Muslim pun sudah semakin meningkat, seperti kini kita saksikan di Iran, yang menemukan perilaku Islamiah yang lebih luas itu menjijikan dan kerja keras, dan yang sebagian besar sangat sulit tercapai, sehingga bisa membawa iman mereka lebih mendekati nilai-nilai modern.

Pengacara Mesir Nabih Wahsh baru-baru ini menganjurkan di televisi untuk melakukan pelecehan seksual dan pemerkosaan sebagai pembalasan atas godaan yang ditimbulkan oleh wanita yang berpakaian terbuka. (Sumber foto: MEMRI).

Untuk sejenak, orang tidak bisa lagi membuka koran atau situs berita daring tanpa menemukan skandal baru seputar pelecehan seksual. Para pengacara agaknya bakal punya hari kerja ala militer (field day) pada tahun-tahun mendatang. Di Kerajaan Inggris, gelombang tuduhan pelecehan seksual semakin jauh mengguncang parlemen dan pemerintah yang memang sudah goyah, yang kabinetnya semakin kacau balau. Di Kongres AS, Hollywood dan tempat lainnya, berbagai klaim yang sama masih mengemuka, dengan #Kisah-kisah Saya juga dikisahkan oleh para wanita ketika ada sejumlah tuduhan yang tidak diketahui terjadi di gedung pemerintah AS.

Skandal seks bukanlah persoalan baru lagi di Barat. [1] Ironisnya, persoalan ini membawa kita berhadap-hadapan dengan perilaku yang sama di dunia Islam.

Lanjutkan Baca Artikel

"Oh Kalian Penyembah Salib, Akan Kami Bunuh Kalian Semua"
Penyiksaan Muslim Terhadap Umat Kristen, Agustus 2017

oleh Raymond Ibrahim  •  8 Februari 2018

  • Sebuah suratkabar populer berbahasa Arab menyerang para aktivis Kristen Maroko karena iman mereka kemudian mengakhiri serangannya dengan pesan: Al-Qur'an menuntut supaya orang-orang murtad dibunuh." ---Maroko.

  • Muhamad dan sang iman kemudian mengejar remaja laki-laki itu dan menyerangnya lagi. Orang yang melewati tempat kejadian melihat aksi kejam itu lalu menghubungi polisi. "Bukannya melindungi sang remaja dari para penyerangnya, [polisi] malah menangkap dan memasukkannya ke dalam penjara dengan tuduhan menghujat agama." Beberapa jam kemudian, sang imam dan "segerombolan massa lebih dari 300 kaum Muslim fundamentalis mengepung penjara serta menuntut supaya "membunuh Stephen di depan umum."---Pakistan.

  • Swedia memutuskan mendeportasi seorang wanita Iran yang bertobat masuk Kristen. Ketika orang yang baru bertobat itu, Aideen Strandson, mengaku bahwa di Iran dia bisa saja menghadapi hukuman mati sebagai orang yang murtad, pejabat Swedia malah mengatakan, "itu bukan maslah kami jika kau putuskan menjadi Kristen. Itu masalahmu." Sementara itu, Swedia, terus menerima pengungsi Muslim.

  • Atas nama "memerangi terorisme" Bangladesh melakukan perubahan terhadap sebuah undang-undang yang memaksa sekitar 200 organisasi Kristen supaya ditutup.

Swedia baru saja memutuskan untuk mendeportasi Aideen Strandson, seorang wanita Iran yang bertobat masuk Kristen. Ketika dia mengaku bahwa di Iran dia bisa saja menghadapi hukuman mati sebagai orang yang murtad, para pejabat Swedia mengatakan kepadanya, "bukan persoalan kami jika kau putuskan jadi Kristen. Itu persoalanmu." (Sumber foto: Facebook/Aideen Strandsson).

Sebuah documen yang disusun oleh para anggota komunitas global Kristen yang berkumpul di Forum Kristen Internasional Ketiga yang diselenggarakan di Moskow merinci betapa selama 10 tahun silam populasi umat Kristen Timur Tengah menyusut sampai 80%. Menghadapi kenyataan itu, mereka pun memperingatkan bahwa jika kecenderungan akhir-akhir ini tidak diperbaiki, maka Agama Kristen "bakal lenyap" dari tanah kelahiran kunonya dalam beberapa tahun. Sekitar tahun 2000, ada 1,5 juta umat Kristen di Irak; sekarang ini jumlah mereka hanya sekitar 100.000 orang --- kasarnya mengalami penurunan 93 persen, tulis dokumen tersebut. Di Suriah, kota terbesar negeri itu "nyaris kehilangan semua populasi Kristen mereka."

Lanjutkan Baca Artikel

Jejak Teror Industri LSM

oleh Ruthie Blum  •  7 Februari 2018

  • Semua yang kelompok itu harus katakan adalah mau mengumpulkan dukungan banyak politisi Eropa, yaitu bahwa misinya adalah untuk mempromosikan, hak asasi manusia. Kata-kata itu punya "halo effect"—nya. Dalam psikologi, istilah ini menjabarkan kecenderungan untuk menilai orang, perusahaan, kelompok, produk dan semacamnya dengan baik, berdasarkan citra moralitas atau sejumlah factor positif lainnya. Dalam konteks LSM-LSM, berbagai kelompok yang mengklaim hendak menyebarluaskan nilai-nilai terlihat secara universal baik --- seperti nilai perdamaian, hak asasi manusia, keadilan dan hidup bersama dengan orang lain--- otomatis terlihat dapat diandalkan dan berada di atas kritik atau investigasi pihak lain.

  • Pasca-Perang Dunia II dan masa Komunis, konsep "masyarakat madani" ----yang belakangan disebut sebagai "LSM" oleh PBB --- menjadi barang suci di Eropa. Masyarakat madani diandaikan bakal menjadi penawar terhadap demokrasi yang manipulatif, seperti yang terjadi di Republik Weimar. Tetapi mereka lupa mengajukan pertanyaan apa yang terjadi ketika masyarakat madani itu sendiri menjadi kekuataan yang manipulatif (manipulative force). Jawabannya adalah, karena tidak ada check and balances yang diterapkan atasnya.

  • Lobi LSM di PBB berperan penting karena ia merupakan bisnis miliaran dolar dalam satu tahun. Itu industri. Dia butuh disebut tepat seperti itu.

Professor Gerald Steinberg, pendiri sekaligus presiden organisasi penelitian berbasis Yerusalem, NGO Monitor.. (Sumber foto: Begin-Sadat Center for Strategic Studies).

Pekan silam, Professor Gerald Steinberg, pendiri sekaligus presiden dari sebuah organisasi penelitian berbasis Yerusalem, NGO Monitor, punya "berita kejutan." Yaitu bahwa Pemerintah Denmark resmi memutuskan untuk menghentikan pendanaan bagi Sekretariat Hak Asasi Hukum Kemanusiaan Internasional (Human Rights International Humanitarian Law Secretariat). Lembaga itu adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang didirikan pada tahun 2013 lalu di Birzeit University di Ramallah. Anggaran tahunannya yang mencapai jutaan euro selama ini dibayarkan oleh Pemerintah Swedia, Belanda, Denmark dan Swiss.

Lanjutkan Baca Artikel

Iran Kirim Lebih Banyak Orang ke Tiang Gantungan

oleh Denis MacEoin  •  24 Januari 2018

  • Pihak berwenang pengadilan "terus menjatuhkan dan menjalankan hukuman kejam yang tidak manusiawi atau yang menjatuhkan martabat manusia yang mengarah kepada penyiksaan, termasuk pencambukan, pencungkilan mata sampai buta dan amputasi. Semua hukuman itu kerapkali dijalankan di depan umum." Sedikitnya ada seorang wanita, Fariba Khaleghi namanya, tetap terancam hukuman rajam dengan batu. ---Amnesty International.

  • Yang lebih parah lagi, mayoritas orang yang dijatuhi hukuman mati tidak pernah melakukan kejahatan yang bisa dihukum secara kejam (atau dihukum juga) seperti itu nyaris di mana pun di dunia ini, sedikitnya di seluruh Eropa, Israel atau 23 negara (dan Distrik Columbia) di Amerika Serikat.

  • Bahkan sebelum pengadilan berlangsung pun, orang-orang yang dituduh anti-terhadap prinsip negara diperlakukan secara tidak adil, disiksa dan ditahan dalam tahanan terpisah selama berbulan-bulan tanpa akhir. Akses mereka terhadap keluarga dan pengacara pun ditolak.'Pengakuan' tersangka diperoleh dengan cara penyiksaan tahanan dipergunakan sebagai bukti di pengadilan. Para hakim kerapkali tidak memberikan keputusan yang masuk akal. Pengadilan pun tidak membuat keputusan pengadilan sehingga didapatkan oleh publik." ---Amnesty International.

  • Sedangkan para mullahs tidak membolehkan ada kritik dari kalangan manapun dan berniat mempertahankan Iran serta masyarakatnya dalam genggaman besi mereka selamanya, bahkan jika itu berarti mematikan setiap suara pembangkangan.

Penjara Evin yang terkenal karena namanya yang buruk di Teheran, Iran. (Sumber gambar: Ehsan Iran/Wikimedia Commons)

Penghujung Desember 2017. Nyaris tidak pernah terjadi sebelumnya, ada sesuatu melanda berbagai kota di seluruh penjuru Iran. Berawal dari kota suci terbesar Mashad, aksi bergerak ke Kermansah, yang belum lama ini menderita serangan gempa bumi besar tempat sekitar 600 orang tewas dan para penyintasnya diabaikan oleh negara. Setelah itu, demonstrasi berskala besar bergerak ke Sari dan Rash di utara kota ulama Qom, kemudian Hamadan dan setelah 29 Desember, protes pun melanda Teheran sendiri. Pada hari-hari selanjutnya, orang pun turun ke jalan di seluruh penjuru negeri. Sejak hari ketiga aksi, para pemrotes pun ditentang oleh munculnya banyak pendemo pro-pemerintah. Protes anti-pemerintah, tidak pernah terlihat dalam jumlah sebesar ini semenjak berbagai kerusuhan ditanggulangi secara keras menyusul Pemilu presiden 2009. Setelah 2 Januari 2018, sedikitnya 20 pengunjukrasa sudah dibunuh dan lebih dari 450 orang lainnya ditangkap. Pada hari yang sama dilaporkan bahwa Ketua Mahkamah Agung Iran, Mousa Ghazanfarabadi mengklaim bahwa para pengunjukrasa mungkin dianggap "musuh Allah" sehingga perlu dihukum mati.

Lanjutkan Baca Artikel

Poros Sikap Wajar vs Poros Perlawanan di Timur Tengah

oleh Najat AlSaied  •  4 Januari 2018

  • "Kita berusaha kembali kepada Islam yang biasa kita jalankan...Islam moderat." Pangeran Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman pada Inisiatif Penanaman Modal Masa Depan (Future Investment Initiative) di Riyadh, 26 Oktober 2017.

  • Keluhannya soal campur tangan Iran serta penyebaran ekstremisme yang dilakukannya tidak bisa terdengar dapat dipercaya jika ekstremisme itu sendiri dipraktekkan di dalam negerinya sendiri.

  • Karena itu, mendesak perlunya sikap Amerika yang bersatu menghadapi Poros Perlawanan. Iran terus saja menjadi penyandang dana terorisme kenamaan dunia sambil memberdayakan milisi-milisi bersenjata serta kelompok-kelompok ekstremis ini --- basis terorisme di kawasan dan di seluruh penjuru dunia. Negara itu membuat ancaman mati dan bekerja sama dengan Korea Utara yang sudah punya senjata nuklir dan pada saat yang sama berlomba-lomba supaya bisa memiliki kemampuan senjata nuklir.

(Sumber foto: White House)

Percecokan antara negara-negara Arab, yang kerapkali dikenal sebagai Poros Wajar dan rejim teroris yang resmi ditetapkan di Iran kerap dikenal sebagai Poros Perlawanan, tidak lagi sekedar perbedaan pendapat dalam bidang politik tetapi juga ancaman terhadap keamanan nasional negara-negara Arab.

Lanjutkan Baca Artikel

Yerusalem, Ibukota Israel: Saksikan Topeng Berjatuhan

oleh Najat AlSaied  •  2 Januari 2018

  • Ketika pengumuman sebenarnya dilakukan---aksi tersebut tidak terjadi. Berbagai kalangan yang mengeksploitasi berbagai hal peka berkaitan dengan Yerusalem--- khususnya kaum radikal Islam yang terjun dalam dunia politik (political Islamists) seperti Hamas dan Hizbullah—muncul terutama dari poros perlawanan pimpinan Iran.

  • Ketika media arus utama masih memperlihatkan penindasnya adalah Israel dan yang tertindas adalah warga Palestina, berbagai polling justru mengisahkan kisah yang berbeda.

  • Departemen Luar Negeri AS tidak kurang salahnya dibanding media arus utama karena gagal memainkan peran vital yang lebih jauh untuk mengungkapkan berbagai kenyataan inisehingga mampu meredakan kemarahan dan kebencian yang dirasakan terhadap AS. Departemen ini perlu direformasi dari atas hingga bawah sehingga bisa menjamin bahwa semua diplomatnya benar-benar bekerja demi kepentingan AS. Saya yakin departemen itu sendirilah yang bakal paling enggan untuk memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem. Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa memindahkan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem adalah keputusan terbaik yang dibuat oleh Presiden Amerika karena ia jelas memperlihatkan busuknya kenyataan. ­­­

Gedung Harry S Truman Building di Washington, DC, Kantor Pusat Departemen Luar Negeri AS (Sumber foto: Loren/Wikimedia Commons)

Banyak analis politik mengatakan bahwa pengakuan Presiden AS Donald Trump atas Ibukota Israel merupakan janji kampanyenya kepada pemilih Kristen evanggelis serta kaum sayap kanan Yahudi. Meski demikian, ada cara lain untuk menilai persoalan ini. Pengakuan Trump mungkin saja menjadi peluang emas bagi para oportunis bermuka dua supaya melepaskan topeng mereka --- sepenggal kenyataan yang mungkin akhirnya membantu proses perdamaian sekaligus menyelesaikan konflik jangka panjang ini.

Lanjutkan Baca Artikel

Tanggapan Nyata Palestina Terhadap Pidato Trump tentang Yerusalem

oleh Bassam Tawil  •  31 Desember 2017

  • Dengan menyampaikan "upacara" pembakaran poster yang tidak benar sebagai refleksi dari luas tersebarnya kemarahan warga Palestina terhadap kebijakan Trump atas Yerusalem, media internasional sekali lagi tunduk pada upaya untuk mempromosikan propaganda para juru kampanye hitam Palestina. Wartawan, termasuk fotografer dan jurukamera pun sudah diberi jadwal rinci kejadian yang bakal terjadi di berbagai tempat di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

  • Tatkala kita duduk di ruang keluarga sambil menonton berita yang keluar dari Tepi Barat dan Jalur Gaza, mari kita bertanya diri: Berapa banyak "peristiwa" ini, sebetulnya adalah, olok-olok sandiwara media? Mengapa para wartawan membiarkan diri ditipu oleh mesin propaganda Palestina yang meludahkan kebencian dan kekerasan dari pagi hingga malam?

  • Sudah saatnya media melakukan sejumlah refleksi: Apakah mereka benar-benar mendambakan diri untuk terus melayani sebagai jurubicara atau corong bagi orang-orang Arab dan Muslim yang mengintimidasi sekaligus menteror Barat?

  • "Sungai darah" yang dijanjikan kepada kami mengalir ketika kami berbicara. Namun, justru pisau yang Bangsa Arab dan kaum Muslim tikamkan ke kerongkongan satu sama yang menjadi sumber aliran merah tua itu, bukan sejumlah pernyataan yang dibuat oleh Presiden AS. Barangkali itulah akhirnya peristiwa yang pantas diliput oleh para wartawan yang menjelajahi kawasan?

Segelintir warga Palestina di Betlehem yang difilmkan tengah membakar foto-foto Presiden AS Donald Trump, 6 Desember dibuat oleh media supaya terlihat seolah-olah mereka merupakan bagian dari protes massa yang tengah melanda komunitas-komunitas Palestina. (Sumber foto: CBS News video screenshot)

Sebelum mengumumkan, Presiden AS Donald Trump menelepon Presiden Otoritas Palestina (PA) Mahmoud Abbas. Ia memberi tahu pemimpin Palestina itu niatnya memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv menuju Yerusalem. Ternyata, tiga jam segera setelah pembicaraan telepon terjadi, sejumlah wartawan foto Palestina mendapatkan telepon dari Betlehem.

Penelepon adalah "para aktivis" Palestina. Mereka menelepon mengundang para fotografer untuk datang ke kota supaya bisa mendokumentasikan "peristiwa penting." Tatkala para fotografer itu tiba, mereka menemukan bahwa "peristiwa penting" itu adalah segelintir "aktivis" Palestina yang ingin membakar berbagai poster Trump di depan kamera.

Lanjutkan Baca Artikel