Analisa dan Komentar Terbaru

Alasan Rahasia Warga Arab Tolak UU Negara-Bangsa Yahudi

oleh Bassam Tawil  •  22 September 2018

  • Beberapa pemimpin Arab Israel berbicara meremehkan Israel demi publisitas. Mereka tahu tidak ada suratkabar bakal pernah menyebutkan nama mereka jika mereka berurusan dengan isu-isu seperti soal saluran pembuangan air atau tentang kurangnya ruang kelas di berbagai sekolah Arab. Bagaimanapun, jika mereka katakan sesuatu yang jelek tentang Israel atau memprovokasi orang-orang Yahudi, mereka pasti akan dijadikan headline, berita utama di pers.

  • Para pemimpin Arab Israel bisa saja menghasut menentang Israel sebanyak-banyaknya yang mereka dambakan. Umpatan mereka tidak bakal mengubah kenyataan bahwa Israel adalah satu-satu negara demokrasi yang sedang bertumbuh subur di Timur Tengah yang memperlakukan kaum minoritasnya secara terhormat. Ketika kaum minoritas dianiaya dan dibunuh di Suriah, Libanon, Mesir, Irak, Libya dan negara-negara Arab Islam lain, warga Arab Israel berintegrasi dalam negara. Mereka menikmati posisi tinggi dalam Mahkamah Agung, Menteri Luar Negeri, sektor kesehatan bahkan Kepolisian Israel.

  • Mayoritas warga Arab di Irael terus saja terjadi pagi hari dan melanjutkan hidup mereka. Mereka bisa saja bekerja di mana saja yang mereka inginkan, bisa bepergian ke manapun di negeri itu dan akan terus menikmati semua privilese, keuntungan serta kebebasan yang diperoleh warga Yahudi.

  • Beberapa pemimpin warga Arab Israel Israel melepaskan dambaannya untuk menjadi tanah tumpah darah Yahudi. Mereka berharap bahwa satu hari orang-orang Yahudi bakal menjadi minoritas di negeri mereka sendiri. Karena sudah begitu lama, para pemimpin itu menghasut konstituen mereka menentang Israel serta warga Israel. Jika para pemimpin ini begitu tidak bahagia di Israel, barangkali mereka seharusnya mempertimbangkan untuk berpindah ke Ramallah atau Jalur Gaza atau negara Arab manapun. Barangkali, mereka bakal senang mengundurkan diri dari Knesset. Mengapa mereka menahan diri untuk melakukan demikian? Karena di tanah tumpah darah Yahudilah yang diandaikan begitu merugikan mereka, mereka dan anak-anak mereka bisa hidup dan berkembang maju.

Zouheir Bahloul, seorang warga Arab anggota Knesset, adalah warga Arab Israel yang berhak mengeluh soal diskriminasi. Selama beberapa dekade, dia adalah satu dari wartawan olahraga Israel paling populer yang dipuja-puji oleh warga Arab dan Yahudi. Dia senantiasa menikmati kehidupan nyaman menyenangkan di Israel, sebuah kehidupan yang tidak diimpikan untuk dialami di negara Arab manapun. (Foto: Knesset Spokesperson)

Sikap munafik para pemimpin warga Arab Israel mencapai puncak baru. Itu terlihat ketika mereka memprotes keras UU Negara-Bangsa Yahudi (Jewish Nation-State Law), selama beberapa hari lewat.

Inilah para pemimpin yang sama yang kata dan tindakan selama dua dekade silam telah menyebabkan hubungan antarwarga Yahudi dan Arab di Israel rusak serius. Juga merusak serius kepentingan konstituen mereka sendiri, yaitu warga Arab Israel.

Para pemimpin Arab Israel, khususnya para anggota Knesset mengaku marah bukan karena undang-undang tersebut menetapkan Israel sebagai tanah tumpah darah Bangsa Yahudi tetapi juga karena legislasi baru tidak memasukan kata-kata tentang persamaan hak yang sama bagi seluruh warga negara.

Lanjutkan Baca Artikel

Martabat Luhur Palestina

oleh Denis MacEoin  •  16 Agustus 2018

  • Mengingat bahwa semua pemimpin Palestina menyerukan adanya Negara Palestina yang bakal mencakup sekaligus melenyapkan Negara Israel, maka tidaklah mengherankan bahwa mereka tidak bisa menerima usulan yang hanya memberi mereka, satu negara kecil (atau dua negara kecil) di wilayah itu yang dialokasikan kepada mereka oleh PBBtahun 1947.

  • Penerapan kembali hukum wakaf Islami tidak bakal memulihkan kembali Spanyol, Portugal, Sisila, India, Yunani dan semua negara-negara lain dari kekaisaran kekalifahan yang ditinggalkan supaya bisa dikuasai Muslim. Sia-sia juga memikirkan apapun yang lebih sebagai sebuah khayalan.

  • Laporan AS baru-baru ini mengungkapkan, tampaknya ada hanya sekitar 20,000 pengungsi Palestina di seluruh dunia.

  • Akhirnya, aktivis- aktivis yang disebut pro-Palestina seperti Robert Fisk atau para penulis harian seperti The Independent, The Guardian, atau New York Times yang mati-matian membujuk dunia untuk mendukung sikap keras kepala Palestina untuk menolak tawaran untuk meningkatkan hidup mereka sekaligus hukum internasional

Foto: Presiden Mesir Anwar Sadar (kiri) bersama PM Israel Me Menachem Begin (kanan) menyambut gembira tepuk tangan dan sorakan selama Sesi Bersama Kongres ketika Presiden A.S Jimmy Carter mengumumkan hasil Perjanjian Camp David, 18 September 1978. (Sumber foro: Warren K. Leffler/Library of Congress)

Siapapun yang peduli terhadap Israel, yang mendambakan perdamaian, yang punya pemahaman bagus seputar fakta historis, etis, politik dan hukum yang melatarbelakangi hak Bangsa Yahudi atas sebuah negara, tempat mereka berasal, bakal kenal baik dengan nama Robert Fisk. Tetapi bukan dalam bentuk yang baik.

Selama beberapa dekade, Fisk menjadi salah satu dari banyak pembenci Israel yang sama sekali tidak berbelas kasihan. Ia juga salah satu pendukung yang paling tidak kritis terhadap hak warga Palestina dengan seruan dan aksi mereka yang tak berakhir yang benar-benar mau hancurkan Israel juga hendak mengusir atau membantai Bangsa Yahudi yang tengah berdiam di sana.[1]

Lanjutkan Baca Artikel

Krisis Perkosaan Oleh Migran di Jerman: "Gagalnya Negara"

oleh Soeren Kern  •  24 Juli 2018

  • "Susanna sudah mati. Maria berasal dari Freiburg; Mia dari Kandel; Mireille dari Flensburg; dan sekarang, Susanna dari Mainz..."----Alice Weidel, mitra pemimpin Partai AfD.

  • ""Kematian Susanna bukanlah pukulan buta atas nasib. Kematiannya adalah akibat sikap tidak bertanggung jawab yang terorganisir serta kebijakan suaka dan imigrasi kita yang gagal dan penuh skandal yang berlangsung bertahun-tahun lamanya. Dialah korban ideologi multikultural kaum sayap kiri yang tidak terkendali yang berjuang mati-matian supaya bisa menerapkan keunggulan kesadaran moralnya."---Alice Weidel, mitra pemimpin Partai AfD.

  • "Pada hari Susanna dibunuh, anda [Merkel] memberikan kesaksian di parlemen bahwa anda sudah menangani krisis migran secara bertanggung jawab. Beranikah anda mengulangi klaim tersebut kepada orangtua Susanna?"--- Alice Weidel, mitra pemimpin Partai AfD.

Susanna Maria Feldman 14 tahun (inset) diperkosa kemudian dibunuh oleh Ali Bashar, seorang pencari suaka yang gagal di Jerman. Dia belakangan membuang jenazah korban di hutan di pinggiran Kota Weisbaden. (Sumber foto: Feldman - Facebook; Wiesbaden - Maxpixel).

Seorang gadis Yahudi, Susanna Feldman, 14 tahun, diperkosa lalu dibunuh, 14 Mei 2018 lalu di Jerman. Pelakunya adalah seorang pencari suaka yang gagal mendapatkan status suaka. Kasus tragis itu menjadi sorotan terbaru atas krisis perkosaan oleh para migran yang terus saja tidak mereda selama bertahun-tahun di tengah sikap publik yang patuh secara resmi dan apatis.

Ribuan wanita dan anak-anak diperkosa dan diserang secara seksual di Jerman semenjak Kanselir Angela Merkel menyambut lebih dari satu juta migran ke negeri itu. Sebagian besar migran adalah laki-laki dari Afrika, Asia dan Timur Tengah.

Lanjutkan Baca Artikel

Jerman: 'Memberangus' Kebebasan Pers

oleh Stefan Frank  •  21 Juli 2018

  • Sensor kini jadi boomerang, jika memang pihak berwenang berencana menyensor berita dan menyembunyikan informasi seputar pemenggalan kepala bayi itu dalam bungkusan mereka. Berkat laporan seputar razia, ribuan orang menonton videonya. Juga ada ratusan ribu orang yang sudah mendengar soal sensor yang justru merusak.

  • Pemerintah Hamburg juga masih berupaya menyembunyikan kasus pemenggalan kepala bayi. Di antara hal-hal lainnya, mereka [Partai AfD] ingin tahu apakah bayi itu memang sudah dipenggal kepalanya. Pemerintah---yang mau melanggar tugas konstitusional--- menolak menjawabnya. Pemerintah juga menyensor pertanyaan, dengan tidak menyiarkan seluruh kalimatnya.

  • Mengapa pemenggalan kepala bayi harus dirahasiakan memang masih menjadi teka-teki orang. Yang sudah jelas adalah betapa mudahnya pihak berwenang Jerman menyensor berita dan menghukum para blogger yang menyebarluaskan informasi yang tidak mereka inginkan. Mereka punya perangkat hukum yang sangat luas yang bisa mereka manfaatkan. Tampaknya ini tidak membuat mereka terganggu bahwa hukum yang dilibatkan dalam kasus ini secara eksplisit menetapkan bahwa ia tidak bisa diterapkan pada "peliputan atau pelaporan peristiwa-pertiwa masa kini."

Polisi menanyakan para saksimata pembunuhan ganda di Stasiun Kereta Api Bawah Tanah, Jungfernstieg di Hamburg, Jerman. (Sumber foto: suntingan video karya Daniel J./Heinrich Kordewiner)

Pihak berwenang Jerman mulai menyensor berita guna menyembunyikan kisah pembunuhan ganda di Hamburg, Jerman baru-baru ini. Mereka juga merazia apartemen seorang saksimata yang memfilmkan video yang menjelaskan aksi pembunuhan tersebut serta seorang blogger yang mempostingkan videonya di YouTube.

Pembunuhan naas itu terjadi 12 April 2018 pagi dan kemudian menjadi berita utama media di seluruh penjuru dunia. Penyerangnya adalah Mourtala Madou, seorang imigran ilegal dari Nigeria. Dengan pisau, ia menikam bekas kekasihnya seorang wanita Jerman, yang teridentifikasi sebagai bernama Sandra P ., beserta puteri mereka yang berusia satu tahun, Miriam, di sebuah stasiun bawah tanah Hamburg. Bocah malang itu langsung meninggal di tempat kejadian. Ibunya meninggal belakangan, di rumah sakit. Putra wanita malang itu yang berusia tahun menyaksikan aksi permbunuhan tersebut.

Lanjutkan Baca Artikel

"Doktrin Trump" untuk Timur Tengah

oleh Guy Millière  •  10 Juli 2018

  • Trump memperlihatkan kekuatan Amerika Serikat sekaligus memulihkan kredibilitasnya di sebuah kawasan di mana kekuatan dan pasukann menentukan kredibilitas.

  • Trump lebih luas lagi meletakan dasar bagi aliansi baru Amerika Serikat dengan dunia Sunni Arab, namun menetapkan dua persyaratan atasnya. Menghentikan semua dukungan Arab Sunni terhadap terorisme Islam dan pada saat yang bersamaan terbuka terhadap prospek perdamaian regional yang mencakup Israel.

  • Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo berbicara tentang "masyarakat Palestina" bukan tentang Otoritas Palestina. Pembicaraan senada pun pernah dibicarakannya tentang situasi di Iran, mungkin hendak menekankan perbedaan antara masyarakat dan kepemimpinan mereka. Yaitu bahwa kepemimpinan dalam kedua situasi, mungkin saja tidak lagi menjadi bagian dari solusi. Hamas, bagi AS, jelas bukanlah bagian dari solusi apapun.

  • Netanyahu pernah dengan tepat mengatakan bahwa para pemimpin Palestina, siapapun mereka, tidak ingin berdamai dengan Israel, tetapi "menginginkan damai tanpa Israel" (peace with Israel). Apa yang sebaliknya terjadi bisa saja adalah perdamaian tanpa para pemimpin Palestina. Apa yang juga bisa saja terjadi adalah perdamaian tanpa para mullah Iran.

Foto: President Donald Trump menyambut Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di Gedung Putih, 20 Maret 2018, di Washington, D.C. (Foto oleh Kevin Dietsch-Pool/Getty Images).

Setelah tiga Presiden Amerika berturut-turut memanfaatkan masa 6 bulan penandatanganan surat pembatalan (waiver) untuk menunda pemindahan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem selama lebih dari dua dekade, Presiden Donald J. Trump memutuskan untuk tidak lagi menunggu lama. Pada tanggal 7 Desember 2017 lalu, dia pun lantas memaklumkan bahwa Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Yerusalem. Pemindahan resmi kedutaan besar tersebut terjadi pada 14 Mei 2017, pada hari ulang tahun Israel yang ke-70.

Lanjutkan Baca Artikel

Refleksi Pasca-Ramadan seputar Dunia Muslim

oleh Salim Mansur  •  6 Juli 2018

  • Akibatnya, kaum Muslim kebingungan berkaitan dengan soal bagaimana cara memperbaiki budaya mereka yang rusak, atau bagaimana membangun budaya baru– ketika mereka benar-benar ragu dengan apa yang baru, apa yang modern, dan apa yang dibangun oleh pihak lain yang menjadi milik agama dan budaya yang lain.

  • Secara umum, kaum Muslim adalah orang-orang "dunia ketiga". Pemahaman dan praktik Islam mereka tetap dalam budya pra-modern. Meski demikian, bagi banyak kaum Muslim, akibat pandangan pra-modern mereka, paradoks ini sebagian besar tidak dapat dimengerti. Kenyataan ini benar-benar sangat menghambat upaya untuk mempercepat transisi mereka menuju modernisasi.

  • Ada rasa marah terhadap pergolakan internal dalam dunia Muslim. Kemarahan itu akhirnya menguras habis tenaga kaum Muslim, ketika ada segmen populasi Muslim yang cukup besar bisa mendamaikan akal budi dengan wahyu sehingga bisa temukan bahwa Allah tidak pernah menakdirkan agama apapun, termasuk Islam, menjadi beban yang mencegah manusia merajut hubungan denganNya secara harmonis sesuai hakikat manusia.

Ada penyelidikan serta perdebatan seputar pewahyuan dan akal budi di Baghdad, Ibukota Arab dari para penguasa Abasiyah sebagai Kalifah Islam selama masa Abad Pertengahan awal. Foto: Sebuah lukisan dari manuskrip Dinasti Abasiyah, yang dikerjakan pada tahun 1237. (Sumber gambar: Académie de Reims/Wikimedia Commons)

Tahun ini ketika Ramadan hendak berakhir, tepatnya, pada Jumad terakhir bulan suci agama Islam, pertunjukan besar-besaran kaum Muslim yang marah disiarkan di seluruh dunia Muslim dan Barat. Hari itu disebut sebagai Hari "Al-Qud's (Hari Jerusalem)" oleh almarhum pemimpin Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Al-Qur'an, kitab suci Islam mengajak umat Islam untuk berpuasa selama Ramadan sebagai bagian dari doa dan refleksi "untuk mengusir setan." Kaum Muslim ekstrimis, justru sebaliknya. Pada saat yang sama mereka mengajak rekan seagama mereka untuk mengungkapkan amarah kepada musuh nyata dan musuh khayalan mereka, khususnya kepada kaum Yahudi. Bagaimanapun juga, kebanyakan Muslim menjauhkan diri dari demonstrasi penuh amarah ini, yang merendahkan makna dan tujuan kebaktian berpuasa dan penegakkan sholat selama bulan suci ketika Al-Qur'an pertama kali diturunkan kepada Muhammad.

Lanjutkan Baca Artikel

PBB Hanya Rekomendaskan Sedikit Umat Kristen Suriah untuk Dimukimkan di Inggris
Persekusi Muslim atas Kristen, Nopember 2017

oleh Raymond Ibrahim  •  26 Juni 2018

  • Pengkritik menuduh PBB umumnya dan Pemerintah Inggris khususnya terus melakukan diskriminasi terhadap para pengungsi Kristen karena lebih memilih pengungsi Muslim dari Suriah. Barnabas Fund (sebuah NGO Inggris yang bergerak dalam pemberian bantuan kepada orang atau kelompok Kristen yang teraniaya, pent. JL) mengatakan, "Pihaknya akhirnya memperoleh sejumlah angka yang membuktikan bahwa PBB hanya merekomendasikan sedikit sekali umat Kristen Suriah...untuk dimukimkan kembali di Inggris," sebaliknya, "sebagian besar pengungsi yang direkomendasikan PBB adalah umat Muslim Sunni yang menjadi mayoritas di Suriah. Tetapi umat Kristen dan kaum minoritas lain yang berkali-kali ditargetkan menjadi sasaran serangan oleh kelompok-kelompok Islam radikal seperti ISIS... Yang mengganggu lagi adalah para pejabat Inggris mencoba melarang informasi ini dikeluarkan." –PBB dan Inggris; Barnabas Fund

  • "Setelah beberapa laporan memperlihatkan bahwa umat Kristen disiksa secara sistematis di rumah-rumah suaka Jerman. Persoalannya kini beralih dari rumah ke jalanan..." – Jerman; Chris Tomlinson, Breitbart.

  • "Memperlihatkan diri sudah bertobat tidak lagi membatalkan hukuman mati yang ditetapkan atas para penghina agama dan yang murtad..." Mauritania; News24

Gambar: Sebuah bangunan di Marawi, Filipina terbakar, 15 Juni 2017 silam, ketika militer Filipina memerangi teroris Islam radikal supaya bisa menguasai kota. Sedikitnya 25 umat Kristen dibantai di kota tersebut selama kaum Islam radikal terus melancarkan serangan musim panas silam dan "laki-laki bersenjata yang terinspirasi oleh ISIS membakar Katedral St. Maria di kota itu" (Sumber foto: Mark Jhomel/Wikimedia Commons)

Muslim Menyerang Gereja Kristen

Jerman: Menurut sebuah laporan yang terbit 11 Nopember tahun silam dalam The European, kira-kira 200 gereja diserang sekaligus dinajiskan di kawasan Alpen dan Bavaria saja. Ujung salib-salib besar yang berada di puncak gunung dijungkirbalikan serta dirusak dengan kapak dan gergaji mesin. "Kaum Muslim radikal muda" diyakini berada di balik vandalisme yang tersebar meluas itu.

Lanjutkan Baca Artikel

Matinya Demokrasi? - Bagian II

oleh Denis MacEoin  •  20 Juni 2018

  • Ironisnya, tentu saja, adalah bahwa begitu banyak orang mengadopsi cara menafsirkan hak-hak asasi manusia dan nilai-nilai liberal sedemikian rupa sehingga kerapkali justru melemahkan artinya.

  • Inilah waktunya untuk menyingkapkan sejumlah fakta yang tidak menyenangkan. Islam sudah terlibat konflik dengan Barat sekitar 1,384 tahun, dengan sedikit masa jedanya. Pada 634, tentara Muslim Arab menyerang Suriah, kemudian melanjutkannya dengan menghancurkan semuanya kecuali sebagian kecil Kekaisaran Kristen Bizantium (yang akhirnya dikalahkan kala Kekaisaran Turki Ottoman menaklukan Konstantinopel pada tahun 1453). Dari sana mereka lalu menguasasi Spanyol, Portugal, Sisilia serta kawasan lain di pesisir pantau Mediterania utama. Sejak itulah perang jihad yang tak pernah habis-habisnya berawal.

  • Yang terpenting, kita terlihat tidak mampu memahami bahwa Islam, di atas semuanya, sebuah proyek totaliter yang mencakup semua aspek kehidupan manusia mulai dari yang spiritual hingga material, mulai dari hukum hingga pemerintahan hingga pakaian, makanan, seks, pajak dan masih banyak lagi. Totalitarianisme ini menolak demokrasi dalam bentuknya yang paling mendasar, karena berasal dari manusia belaka, bukannya dari sesuatu yang ilahi, dari Allah.

  • Sayangnya, kesimpulan bahwa terorisme modern "tidak ada hubungannya dengan Islam" atau bahwa "Islam adalah agama damai" jelas-jelas bertentangan dengan rekor historisnya.

Foto: Anjem Choudary (kanan), seorang Islam radikal Inggris yang baru-baru ini dijebloskan dalam penjara, berbicara dalam sebuah rptes di London, 21 Maret 2011 lalu. (Foto oleh Oli Scarff/Getty Images).

Banyak kelemahan yang kita identifikasi dalam begitu banyak negara Eropa modern, ironisnya, banyak muncul dari kekuatan kita sendiri. Kita punya banyak hal yang pantas dibanggakan. Meski kerap tidak sempurna, kita bagaimanapun, telah menggantikan tirani dengan demokrasi, menjamin kebebasan berbicara dan pers, menjamin hak asasi semua warga negara, memberikan dasar hukum dan politik bagi bertumbuhnya usaha pemberdayaan wanita, perjuangan melawan sikap rasis dan fanatisme relijius, membawa laki-laki dan perempuan homoseksual keluar dari masalah, memberikan perlindungan terhadap lingkungan hidup dan binatang liar, memperluas ketentuan perawatan kesehatan bagi sebagian besar orang, menghapus hukuman mati di semua negara Eropa (dan Israel) serta menetapkan berbagai peraturan yang membatasi sekaligus menghukum kejahatan seperti perdagangan manusia, perbudakan serta penyelundupan narkotika.

Lanjutkan Baca Artikel

Sebulan Islam dan Multikulturalisme di Jerman: Maret 2018

oleh Soeren Kern  •  17 Juni 2018

  • "Sikap anti-Semitisme merajalela di berbagai sekolah Jerman, demikian dikatakan oleh Heinz-Peter Meidinger, Presiden Asoasisi Guru Jerman (Deutschen Lehrerverbandes, DL). Dia juga mengatakan bahwa berbagai video pemenggalan kepala biasa diputar di sekolah-sekolah Jerman dan bahwa murid-murid wanita diancam dibunuh. "Dalam berbagai forum "chatting"atau obrolan seperti WhatsApp, film-film seperti video pemenggalan kepala manusia oleh ISIS tersebar seperti kobaran api."

  • "Tidak bisa diterima bahwa kaum non-Muslim dan di atas semuanya itu, anak-anak Yahudi harus takut pergi ke sekolah di negeri ini karena mereka dijuluki "orang tidak beragama" bahkan diancam mati... Sejak musim gugur lalu... perusahaan penerbangan Arab, Kuwait Airways dibiarkan untuk melakukan diskriminasi atas orang Yahudi justru di Bandara Frankfurt. Dan Pemerintah Federal tidak berkeberatan. Kita jangan membodohi diri. Adalah Pemerintah Federal, yang karena alasan-alasan yang tidak bisa dijelaskan, membiarkan orang-orang Yahudi di Jerman diperlakukan seperti ini."--- Julian Reichelt, Pemimpin tabloid harian Bild. Redaksi Bild.

  • "Pertemuan massal yang bisa menjurus menjadi aksi kekerasan tidak sesuai dengan pemahaman kita tentang demokrasi. Kemanusiaan, toleransi, penghormatan dan pergaulan satu sama lain secara demokratis merupakan nilai dasar tempat eksistensi bersama kita diarahkan. Kita semua ingin hidup dalam sebuah masyarakat yang damai, terbuka dan demokratis."--- Sören Link, Walikota Duisburg.

Sekolah Dasar Spreewald di Distrik Schöneberg Berlin (gambar atas) mempekerjakan Satuan Pengamanan (Satpam) supaya bisa melindung para guru dan siswa dari para siswa tidak patuh yang sulit dikendalikan. Sekitar 99% murid di sekolah itu berlatar belakang migrasi. (Sumber foto: Fridolin Freudenfett/Wikimedia Commons).

1 Maret. Sekolah Dasar Spreewald di Distrik Schöneberg Berlin mempekerjakan Satuan Pengamanan (Satpam) supaya bisa melindung para guru dan siswa dari para siswa tidak patuh yang sulit dikendalikan. Sekitar 99% murid sekolah itu berlatar belakang migrasi. "Selama tahun silam, aksi kekerasan meningkat begitu tajam sehingga kami harus menempuh langkah ini," urai Kepala Sekolah Doris Unzeit. "Kekerasan menyebar luas dan kami ingin mengambil langkah-langkah penanganannya (contrameasures) dengan jasa keamanan. Upaya ini harus memperbaiki reputasi sekolah sekaligus memastikan bahwa murid-murid bisa belajar di sini dengan damai."

Lanjutkan Baca Artikel

Kanada: Jenis "Lain" Antisemitisme?

oleh Philip Carl Salzman  •  9 Juni 2018

  • "Saya punya satu pengakuan yang hendak saya buat. Jika anda Yahudi...Saya biasa membenci kalian. Saya membenci kalian karena saya pikir kalian bertanggung jawab atas perang [saudara Somalia] yang sekian lama merenggut ayah dari saya ...Ketika kami tidak punya air minum, saya pikir kalian mematikan kran...Jika ibu tidak ramah kepada saya, saya tahu kalian pasti berada di balik itu. Jika dan ketika saya gagal dalam ujian, saya yakini, itu kesalahan kalian. Kalian, sudah dari sananya jahat. Kalian punya kekuatan jahat dan kalian memanfaatkannya demi tujuan-tujuan jahat. Belajar untuk membenci kalian itu mudah. Justru tidak belajar itu malah yang sulit." ---Ayaan Hirsi Ali, dikutip dalam The Legacy of Islamic Antisemitism: From Sacred Texts to Solemn History, oleh Andrew G. Bostom.

  • Di Kanada, Wael al-Ghitawi, imam Pusat Studi Islam Al-Andalous beserta Sayed al-Ghitawi "sama-sama menyerukan kematian kaum Yahudi. Kotbah mereka muncul menjadi perhatian publik, Februari 2017, ketika video-video Youtube tentang ceramah-ceramah itu diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris."

  • Mari kita jujur saja: seperti semuanya jelas dari pengalaman Eropa akhir-akhir ini, mengimpor sejumlah besar Muslim berarti mengimpor antisemitisme Islam. Kejahatan karena rasa benci terhadap orang Yahudi Kanada sudah ada dan semakin meningkat. Apakah itu memang kebijakan Pemerintah Kanaa untuk mendorong semakin meningkatnya kejahatan karena benci anti-semit?

Di Universitas McMaster, Kanada, sejumlah insiden penulisan anti-semit dalam postingan media sosial sudah didokumentasikan. (Sumber foto: Mathew Ingram/Wikimedia Commons)

Kota Berlin, 17 Mei 2018 petang. Dua pria mengenakan topi ala Yahudi diserang oleh tiga laki-laki berbahasa Arab yang berulang-ulang memaki mengutuk mereka. Juga menyebut mereka orang Yahudi dalam Bahasa Arab. Salah seorang laki-laki Arab itu memukul salah seorang pemakai topi dengan ikat pinggangnya. Korbannya adalah Adam Armoush. Serangan itu pun terekam. Dan video-nya luas disaksikan orang.

Ironisnya, Adam bukan orang Yahudi. Dia orang Arab Israel. Topi ala Yahudi dia kenakan untuk mengetes apakah memang tidak aman memperlihatkan diri sebagai seorang Yahudi di Berlin. Dia memang skeptis; ingin tahu. Dan kini dia perlu berpikir ulang soal itu.

Salah seorang penyerang, adalah seorang pengungsi berumur 19 tahun. Ia mengaku dia berasal dari Suriah. Belakangan, dia menyerahkan diri kepada polisi.

Lanjutkan Baca Artikel

Palestina: Jalan Terbaik Menuju Damai

oleh Bassam Tawil  •  8 Juni 2018

  • Jika benar, maka konsesi yang dilaporkan meminta Israel lakukan sebagai bagian "kesepakatan abad ini" hasil rancangan Pemerintah AS, tidak bakal dilihat Palestina sebagai isyarat bahwa Israel berusaha berdamai. Seperti terbukti dari masa lalu, semua itu bakal dilihat oleh masyarakat Palestina sebagai sebentuk pengunduran diri sekaligus penyerahan diri.

  • Sejauh berkaitan dengan PA, semakin banyak kawasan diserahkan Israel, semakin baik. Kawasan di Yerusalem itu benar-benar akan disambut gembira karena memberikan pijakan bagi Otoritas Palestina di kota tersebut. Satu kebijakan, kebijakan itu, lebih lebih banyak kebijakan dan lebih banyak lagi.

  • Jangan buat kesalahan: Masyarakat Palestina akan melihat kehadiran mereka di empat kawasan itu sebagai langkah pertama menuju pembagian kembali Yerusalem.

  • Masyarakat Palestina akan mengatakan bahwa konsesi Israel itu tidak cukup. Mereka akan menuntut supaya Israel memberikan kepada mereka lebih dari 28 kawasan Arab.

Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas menyebut David Friednman, Duta Besar AS untuk Israel,. "Anak Anjing" dalam suatu pidato yang disiarkan televise pada 19 Maret 2018. (Sumber foto: suntingan video MEMRI).

Selama beberapa dekade sekarang ini, masyarakat Palestina menterjemahkan konsensi serta langkah-langkah Israel sebagai isyarat kelemahan diri.

Kenyataan ini penting untuk dipikirkan dalam benak, ketika Pemerintah AS bersiap diri untuk meluncurkan rencananya bagi perdamaian di Timur Tengah, yang dirujuk oleh Presiden Donald Trump sebagai "perjanjian abad ini."

Laporan yang diterbitkan dalam harian Israel Ma'ariv, pada 4 Mei lalu mengklaim bahwa "perjanjian abad ini" menyerukan supaya menempatkan empat kawasan Arab di Yerusalem di bawah kendali Otoritas Palestina. Keempat kawasan itu, menurut laporan media tersebut adalah Jabal Mukaber, Essawiyeh, Shu'fat dan Abu Dis. Ma'ariv menulis bahwa rincian rencana damai AS sudah disajikan kepada Menteri Pertahanan Israel Avigdor Liberman selama kunjungan ke Washington, pekan silam:

Lanjutkan Baca Artikel

Sebulan Islam dan Multikulturalisme di Jerman: April 2018

oleh Soeren Kern  •  5 Juni 2018

  • Salah seorang ekonom Jerman kenamaan Hans-Werner Sinn, memperingatkan bahwa krisis migran bakal akhirnya merugikan para pembayar pajak Jerman lebih satu satu triliun euro. "Biaya para pembayar pajak bisa semakin besar. Sampai sebegitu jauh ada sekitar 1,5 juta migran datang ke Jerman sejak 2015. Dan bukan: Mereka bukan dokter gigi, pengacara dan ilmuwan nuklir, tetapi hampir semua imigran tidak bermutu, yang tiba di tanah terjanji --- negeri yang mengalirkan susu dan madu tempat standar hidup tanpa bekerja lebih tinggi dibandingkan dengan banyak negara asal (migran) yang bekerja."

  • Dalam wawancara media pertamanya sebagai ketua baru serikat polisi GdP yang berpengaruh di North Rhine-Westphalia (NRW), Michael Mertens ditanya jika ada kawasan larangan bepergian (no-go zones) di NRW, sebuah negara bagian Jerman paling padat. Kala itu dia menjawab: "Memang ada kawasan-kawasan di mana polisi tidak boleh pergi sendirian. Hanya dalam tim yang besar. Kawasan-kawasan itu kini hadir di hampir semua kota NRW."

  • "Kita kini menyaksikan fenomena baru ketika menerima pengungsi atau orang keturunan Arab. Mereka membawa kembali bentuk lain anti-Semitisme ke dalam negeri ini. Ini mencemaskan kami."---Kanselir Jerman Angela Merkel.

Penghargaan Musik Echo, hadiah music tertinggi Jerman dianugerahkan pada 12 April lalu kepada Kollegah dan Farid Bang, sepasang duo Muslim penyanyi rap yang dituduh menyanyikan lirik lagu anti-Semit. Hadiah diberikan pada Perayaan Holocaust Remembrance Day (Hari Mengenang Holocaust) sehingga memantik kemarahan publik. (Foto oleh Andreas Rentz/Getty Images).

1 April. Para pejabat senior Jerman, termasuk Kanselir Angela Merkel serta Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier, senantiasa cepat sekali berebut mengucapkan selamat untuk upacara-upacara Agama Islam, tetapi justru tidak mengucapkan selamat bagi masyarakat Jerman pada Hari Raya Paskah, sebuah perayaan Kristen yang terpenting. Sebaliknya, Aiman Mazyek, Ketua Dewan Muslim Pusat di Jerman menyampaikan Ucapan Selamat Paskah: "Saya harapkan kalian semua menjalani hari libur yang penuh damai dan santai. Selamat Paskah bagi umat Kristen, Selamat "Passover" bagi kaum Yahudi dan beberapa hari permenungan bagi orang-orang yang tidak beragama.#Keberagamanan membuat anda kuat."

Lanjutkan Baca Artikel

Turki Minta Eropa Anggap "Islomofobia" sebagai Kejahatan

oleh Uzay Bulut  •  4 Juni 2018

  • Perlu diingat bahwa selama berabad-abad Turki memperlakukan kaum non-Muslim secara tidak bersahabat. Dengan demikian, keluhan soal perilaku Eropa terhadap kaum Muslim menjadi puncak sikap hipokrit sang menteri luar negeri, yang benar-benar bertentangan dengan Islamofobia.

  • Guna menyegarkan kembali pemikiran Çavuşoğlu, kita sajikan ringkasan jejak rekam Turki secara berturut-turut.

  • Dengan mengusulkan upaya menghalangi semua kritik terhadap Islam dengan alasan karena itu "ekstrim, anti-imigran, anti-orang asing dan bernada Islamofobia," Çavuşoğlu justru mengungkapkan bahwa dia bakal menyambut gembira larangan terhadap kebebasan berbicara guna melindungi ideologi agama.

Wajah banyak korban yang dibunuh dalam Pembantaian Massal Sivas yang dilakukan terhadap masyarakat Alevis pada tahun 1993 diperlihatkan dalam poster ini. Poster itu dibuat dalam suatu perayaan untuk mengenangkan para korban malang itu pada tahun 2012 di Jerman. (Sumber foto: Bernd Shwabe, Wikimedia Commons)

Menteri Luar Negeri Mevlut Çavuşoğlu, meminta pemerintahan negara-negara Uni Eropa untuk mempertimbangkan Islamofobia sebagai suatu kejahatan. Seruan itu disampaikannya dalam acara yang diselenggarakan pada 11 April 2018 silam yang berusaha mengungkapkan "Laporan Islamofobia Eropa tahun 2017.

"Tidak ada ideologi atau terminologi bernama 'Islamisme.' Hanya ada satu Islam dan itu berarti 'damai'" ujarnya memaklumkan. Secara salah dikatakannya pula bahwa salaam berarti damai; Islam berarti tunduk patuh. Dia juga mengklaim bahwa para politisi populis "semakin banyak terlibat dalam retorika ekstremis, anti-imigran, anti-orang asing serta fobia terhadap Islam supaya bisa meraih beberapa suara lebih banyak lagi," dan bahwa "para politisi garis tengah (centrist) ...memanfaatkan retorika yang sama supaya bisa meraih kembali suara mereka yang sudah hilang."

Lanjutkan Baca Artikel

Matinya Demokrasi? - Bagian Pertama

oleh Denis MacEoin  •  30 Mei 2018

  • Hasil dari 25 tahun multikulturalisme bukanlah adanya komunitas-komunitas multikultur. Ia justru menjadi komunitas-komunitas monokultur...Komunitas Islam tersegregasi." – Ed Husain, mantan ekstremis Muslim.

  • Pendekatan ini, yaitu memberikan pelayanan social, berbasis pada keyakinan---yang kerapkali ditentang--- bahwa kaum ekstremis Muslim (baik Muslim sejak lahir maupun para mualafnya) itu sudah menderita kerugian dan kekurangan (deprivation). Juga sangat berbasiskan pada asumsi naïf bahwa mengganjari mereka dengan berbagai tunjangan---yang untuk mendapatkannya warga negara yang benar-benar kekurangan umumnya perlu berbaris antri---akan mengubah mereka menjadi patriot yang tahu berterimakasih, siap berjuang demi lagu kebangsaan nasional dan berpegangan tangan dengan umat Kristen dan Yahudi.

  • Pemerintah Inggris telah memperlihatkan dirinya tidak mampu menjalan hukumnya sendiri ketika sampai pada persoalan warga negara imigran baru Muslimnya. Bukannya menghadapi para musuh kita, di luar dan dalam negeri, kita kini begitu takut disebut "Islamofobia" sehingga kita bahkan mengorbakan kekuatan dan aspirasi budaya, politik dan agama kita sendiri?

Menurut Ed Husain (kanan), seorang mantan Muslim ekstremis, "Akibat dari 25 tahun kulturalisme bukanlah adanya komunitas multicultural. Adalah masyarakat-masyarakat monokultural...Komunitas Islam tersegregasi atau terpisahkan." (Sumber foto: suntingan video CNN).

Eropa berada dalam situasi yang benar-benar sangat merosot karena banyak alasan yang rumit. Selama tahun tahun terakhir, beberapa kajian penting seputar kondisi ini pun bermunculan, menampilkan beragam alasannya. Ada tulisan Douglas Murray bertajuk, The Strange Death of Europe: Immigration, Identity, Islam (Kematian Eropa yang Aneh: Imigrasi, Identitas, Islam) dan tulisan James Kirchik bertajuk, The End of Europe: Dictators, Demagogues, and the Coming Dark Age (Berakhirnya Eropa: Diktator, Demagog dan Datangnya Masa Gelap) termasuk juga kajian Christopher Caldwell tahun 2010 yang mencengangkan bertajuk, Reflections on the Revolution in Europe: Immigration, Islam and the West (Refleksi atas Revolusi di Eropa: Imigrasi, Islam dan Barat). Soeren Kern di lembaga kajian Gatestone Institute juga merinci dampak imigrasi yang berkelanjutan dari kawasan-kawasan Muslim ke negara-negara seperti Jerman, Swedia dan Kerajaan Inggris.

Lanjutkan Baca Artikel

"Mengapa Mereka Pikir Islam itu Agama Damai?"
Umat Muslim Menganiaya Umat Kristen: Oktober 2017

oleh Raymond Ibrahim  •  21 Mei 2018

  • Tiga lelaki Muslim menculik seorang gadis Kristen berusia 12 tahun, memperkosanya beramai-ramai dan secara sadistik menyiksanya, kemudian menyundutnya dengan rokok. Ketika pada hari yang sama ibu gadis malang itu melaporkan kepada polisi, mereka menolak untuk memulai penyidikan kriminal bahkan untuk mendaftarkan keluhannya.---Pakistan.

  • "Serangan-serangan ini dilakukan setiap hari..." Seorang penduduk desa di Nigeria.

  • Saya melarikan diri dari Pakistan guna menyelamatkan diri dari kekejaman seperti ini, tetapi semakin banyak aksi kejam yang sama justru berdatangan ke Inggris. Kebebasan beragama harus menjadi hak setiap warga Inggris. Tetapi hari ini saya merasa tidak aman..." — Tajamal Amar, Darby, Inggris.

  • "Mengapa mereka [masyarakat Barat] berpikir Islam adalah agama damai? Orang-orang ini telah membunuh kami selama beberapa dekade dan media kalian mengabaikannya begitu saja. Kini mereka membunuh kalian. Dan, masih saja Presiden Obama kalian [pernah] katakan itu agama damai. Kami saksikan para pemimpin Barat mengatakan itu berulang-ulang kali. Mengapa?"---Seorang warga Kristen Nigeria.

Satu orang Kristen yang melarikan diri ke Barat dari dunia Islam untuk mencari kebebasan beragama diserang dan dipukul tanpa belas kasihan oleh para laki-laki Muslim di Derby, Inggris, Oktober silam. Para penyerangnya marah karena dari spion kiri mobil korban, mereka melihat ada salib bergantung. Foto: Pusat Kota Derby. (Sumber foto: Ray Bradbury/Flickr)

Dalam sebuah serangan paling kurang ajar terhadap umat Kristen Mesir, seorang lelaki Muslim membantai seorang Uskup Kristen, di siang bolong. Video kamera keamanan merekam, seorang laki-laki bersenjatakan parang penjagal besar mengejar lalu menikam Uskup Samaan Shehata. Serangan bertubi-tubi itu dilancarkan atas kepala, leher dan badan korban di jalanan Kota Kairo, 12 Oktober tahun silam. Menurut para saksimata, "penyerangnya melihat Shehata berada dalam mobilnya, lalu menghentikannya dengan paksa kemudian memaksanya keluar dari mobil dan mulai menikam leher dan badannya. Shehata melarikan diri. Penyerang mengejarkan sampai memasuki gudang kemudian menghentikan serangannya di sana, dengan beberapa kali memukul kepala korban." Kemudian, ketika berdiri di atas korbannya, "penyerang menggunakan darah uskup malang itu untuk menggambar tanda salib di kening korban." Sebuah ambulans perlu waktu 90 menit untuk sampai ke tempat kejadian. "Uskupnya masih hidup selama satu setengah jam pascapenyerangan sehingga masih bisa diselamatkan jika ambulans tiba pada waktunya."

Lanjutkan Baca Artikel