Analisa dan Komentar Terbaru

Mengapa Tak Ada Damai di Timur Tengah

oleh Philip Carl Salzman  •  5 Desember 2017

  • Damai tidak mungkin terjadi di Timur Tengah. Penyebabnya, karena nilai dan tujuan lain selain perdamaian itu jauh lebih penting bagi masyarakat di sana. Yang terpenting bagi warga Timur Tengah adalah kesetiaan kepada sanak famili, klan serta kultus serta kehormatan yang dimenangkan dengan cara tetap setia seperti itu.

  • Kehormatan diperoleh berkat kemenangan. Kalah dianggap sangat memalukan. Hanya prospek atau kemungkinan adanya kemenangan pada masa datang untuk memperoleh kehormatan mendorong orang untuk maju. Contohnya adalah konflik Arab-Israel. Pada masa konflik, masyarakat Yahudi yang dianggap hina-dina berkali-kali mengalahkan angkatan bersenjata negara-negara Arab. Bagi bangsa Arab, kalah perang bukan soal malapetaka (kehilangan) materi. Itu persoalan budaya. Satu-satunya cara untuk mendapatkan kembali kehormatan itu adalah dengan mengalahkan serta menghancurkan Israel, yang jelas-jelas menjadi tujuan bangsa Palestina: "dari sungai [Yordan] hingga laut [Mediterania]." Ini menyebabkan tidak ada perjanjian seputar tanah atau batas negara mendatangkan perdamaian; karena bagaimanapun, perdamaian tidak memulihkan kehormatan.

Gambar: Para laki-laki Bedui di Abu Dhabi. (Foto oleh Dan Kitwood/Getty Images)

Hidup sebagai seorang antropolog di sebuah kawasan penggembalaan Suku Yarahmadzai, suku penggembala ternak nomaden di gurun-gurun kawasan Balukistan Iran, membantu menjelaskan sejumlah hambatan terhadap perdamaian di Timur Tengah. Terlepas dari persoalan besar atau kecilnya, yang orang lihat di sana adalah upaya untuk menjaga kesetiaan dan solidaritas kelompok berbasiskan ikatan darah yang kuat serta garis silsilah oposisi politik. [1] Kenyataan ini memunculkan persoalan bagaimana persatuan dan perdamaian bisa menjadi sebuah sistem yang berbasiskan perlawanan?

Lanjutkan Baca Artikel

Kebohongan Besar Timur Tenga

oleh Bassam Tawil  •  29 Nopember 2017

  • Jamal ingin membunuh orang Yahudi karena yakin itulah perbuatan mulia. Perbuatan yang membuatnya memperoleh status syahid, martir dan pahlawan di antara anggota keluarga, sahabat serta masyarakatnya. Dalam budaya Palestina khususnya dan budaya Arab umumnya, para pembunuh orang Yahudi dimuliakan setiap hari.

  • Pemerintahan Trump serta Jason Greenblatt tampaknya disuguhi dengan kebohongan bahwa "Ini soal uang, bodoh."

  • Bukan. Konflik itu soal sikap eksistensi Israel di Timur Tengah. Soal kepentingan dunia Arab dan Islam yang tak kunjung padam untuk menghancurkan Israel serta membunuh warga Yahudi.

Kiri: Nimer Mahmoud Jamal. Kanan: Har Adar. (Sumber foto: Social media, Josh Evnin/Wikimedia Commons)

Nimer Mahmoud Jamal, teroris Palestina berusia 37 tahun membunuh tiga warga Israel di jalan masuk menuju Har Adar dekat Yerusalem, 25 September 2017 lalu. Padahal, dia punya surat ijin dari pihak berwenang Israel untuk bekerja di Israel.

Pihak keluarga dan para sahabatnya mengatakan Jamal punya kehidupan yang baik. Dia malah dianggap beruntung karena warga Yahudi mempekerjakannya. Dia mendapat gaji besar serta dilindungi oleh hukum tenaga kerja Israel. Pada malam sebelum merancangkan misi kejamnya, dia menghabiskan waktu beberapa jam di pusat kebugaran desanya, yang terletak hanya beberapa mil jauhnya dari Har Adar.

Lanjutkan Baca Artikel

Bagaimana Wanita Diperlakukan oleh Islam

oleh Denis MacEoin  •  22 Nopember 2017

  • Memang, jika kita baca daftar 265 keputusan atas geng dan pelaku grooming di Kerajaan Inggris antara Nopember 1997 dan Januari 2017 (dan jika kita tambahkan 18 kasus lain dari geng yang beraksi Newcastle baru-baru ini), maka kita mencatat bahwa lebih dari 99% adalah laki-laki Muslim, terutama anak-anak muda berusia 20-an hingga 30-an tahun.

  • Bagaimanapun, itu tidak sekedar soal wanita kulit putih (itu kaum non-Mulim) yang pria muslim yakini begitu hina dina. Perlakuan kejam dimulai di rumah dalam negara-negara Islam, dalam perlakuan terhadap wanita Muslim. Akarnya terletak dalam aspek hukum dan doktrin Islam yang bertahan dalam abad ke-21, meski dirumuskan pada abad ketujuh dan abad-abad sesudahnya.

  • Pemikiran bahwa laki-laki tidak bertanggung jawab terhadap perkosaan atau serangan seksual lain dan bahwa wanita pantas dikecam atas kejahatan seperti ini bergerak jauh sehingga membantu menjelaskan mengapa laki-laki Muslim di Inggris dan tempat lain mungkin merasa dibenarkan ketika memanipulasi potensi seksual kemudian secara seksual menyalahgunakan para wanita muda dan gadis yang tidak terlalu tertutup rapat pakaiannya secara seksual.

Para wanita memakai burka di Pakistan (Foto oleh Paula Bronstein/Getty Images).

Newcastle upon Tyne adalah kota kecil di kawasan Timur Laut (North East) Inggris. Pada tahun 1917, kota itu dinyatakan sebagai kota terbaik di Kerajaan Inggris untuk membesarkan anak (London kota paling parah). Bayangkan, betapa terkejutnya orang ketika kota itu lagi-lagi menjadi berita nasional pada 9 Agustus lalu. Yaitu, ketika sebuah pengadilan di Crown berakhir dengan menjatuhkan hukuman terhadap 18 orang karena memanipulasi potensi seksual anak (sexual grooming of children). Para juri "menemukan para laki-laki itu bersalah dengan daftar hampir 100 kasus serangan seksual--- termasuk perkosaan, penjualan manusia, konspirasi untuk menghasut terjadinya pelacuran serta pasokan narkoba---antara tahun 2011 dan 2014"

Dari 18 orang, ada satu orang wanita Inggris. Sisanya, laki-laki berlatar belakang Pakistan, Bangladesh, India, Irak, Turki dan Iran. Semuanya dengan nama-nama Muslim.

Lanjutkan Baca Artikel

Islam dan Feminisme

oleh Maryam Assaf  •  13 Nopember 2017

Meski tidak dinyatakan secara tegas, laki-laki Muslim, dengan cara ini, mengecam wanita karena kebutuhan seksual mereka, ketika memaksa mereka memakai hijab dan niqab. Dengan memakai hijab dan niqab, mereka tidak bisa lagi menggoda laki-laki dengan tubuh mereka atau membangkitkan nafsu seksual laki-laki. (Photo oleh Peter Macdiarmid/Getty Images)

Akhir-akhir ini, kaum "feminis" Muslim Barat seperti Linda Sarsour atau Yasmin Abdel-Magied mengklaim bahwa Islam merupakan "agama kaum feminis" yang menghormati hak-hak wanita. "Islam bagi saya," kata Abdel-Magied, seorang pengarang Australia kelahiran Sudan, "adalah agama paling feminis."

Dengan mengklaim bahwa Islam itu "feminis," para penganjur yang menunjuk diri sendiri itu tampaknya berupaya meyakinkan orang lain bahwa Islam selaras dengan modernisasi, hak asasi manusia serta nilai-nilai demokratis. Sedihnya, klam itu bohong, yang sayangnya diberitahukan untuk memudahkan terjadi asimilasi Islam ke dalam negara-negara Barat sekaligus untuk memperbaiki citra diri.

Lanjutkan Baca Artikel

"Hidup Kami Berubah Jadi Neraka"
Penyiksaan umat Kristen oleh kaum Muslim, Mei 2017

oleh Raymond Ibrahim  •  5 Nopember 2017

Indonesia kini pun bergabung masuk dalam negara-negara Muslim lain yang menindas. Peristiwa itu terjadi Mei lalu ketika negeri itu menjatuhkan hukuman atas Gubernur Jakarta yang beragama Kristen, yang dikenal dengan nama "Ahok" dengan hukuman dua tahun penjara. Dia dituntut dengan tuduhan melakukan penghinaan terhadap Islam (blasphemy against Islam). Gambar: Ahok pada hari pemilihannya, 15 Februari, 2017. (Foto oleh Oscar Siagian/Getty Images)

Sebulan setelah kaum militan Islam melancarkan serangan bom terhadap dua gereja Mesir selama Minggu Palma, April 2017 yang menewaskan hampir 50 orang pada April 2017, sebuah tragedi lain pun meledak. Tepatnya, 26 Mei 2017. Tragedi berdarah itu terjadi ketika beberapa mobil pada 26 Mei 2017 menghentikan dua bus yang mengangkut puluhan umat Kristen yang bepergian menuju Biara Koptik kuno St. Samuel Sang Pembela di sebuah gurun di selatan Kairo, Menurut berbagai laporan awal, kira-kira 10 militan Islam bersenjata lengkap dan berpakaian militer, "menuntut supaya para penumpang melantunkan "syahadat iman Muslim" yang identik dengan beralih memeluk agama Islam. Tatkala mereka menolak, para pejihad itu menembak mereka. Aksi biadab itu menewaskan 29 umat Kristen, sedikitnya 10 dari mereka adalah anak-anak. Dua gadis kecil masih berusia 2 dan 4 tahun. Juga tewas terbunuh dalam insiden itu adalah Mohsen Morkous, seorang warga Amerika yang dilukiskan sebagai "seorang pria sederhana" yang "dicintai semua orang," dua anaknya berikut dua cucunya

Lanjutkan Baca Artikel

Makin Banyak Pejihad di Barat -- Mengapa

oleh Majid Rafizadeh  •  29 Oktober 2017

  • Negara-negara Barat terlampau ramah terhadap pejihad dan kaum Islam radikal. Di Timur Tengah, ada konsekwensi mengerikan mereka terima jika mengkotbahkan hal-hal yang bertentangan dengan sistem politik dalam negeri mereka. Mereka dibiarkan bertumbuhkembang hanya jika mereka mengajarkan sikap antagonisme, sikap yang bermusuhan terhadap Barat, Kekristenan, Yudaisme serta nilai-nilai Barat.

  • Di Iran, tatkala partai Islam radikal pimpinan Ayatollah Khomeini naik ke puncak kekuasaan, dia tidak merangkul semua kaum Islam radikal dan kelompok pejihad lainnya. Ia hanya mendukung dan mempromosikan kelompok-kelompok pejihad yang setuju memusatkan perhatian untuk mempromosikan dua isu penting: anti-Amerikanisme serta anti-Semitisme. Kelompok Islam radikal lain, yang berubah menentang rejim itu sendiri langsung diberantas dari masyarakat walau mereka menjalankan Islam radikal versi Khomeini.

  • Persoalannya menjadi, Di manakah anda menarik garisnya? Ketika seorang imam radikal di AS atau Eropa memancing sikap anti-Semit dan anti-Amerika serta kebencian anti-Barat di depan publik, haruskah mereka dibiarkan untuk terus melanjutkannya? Ketika banyak pusat Muslim radikal di Barat mendakwakan jihad dan terorisme, haruskah anda membiarkan mereka menikmati kebebasan berbicara dan berkumpul? Kotbah menjadi faktor penting di balik semakin meningkatnya terorisme yang kita hadapi akhir-akhir ini berkembang di seluruh Barat. Pidato kebencian penuh hasutan dengan aksi kejam inilah yang merenggut nyawa banyak orang lugu. Jika kita biarkan mereka terus saja melanjutkannya, kecenderungan keji mereka hanya bakal bergerak liar secara eksponensial.

Sayyid Qutb, seorang anggota Persaudaraan Muslim Mesir era 1950-an dan 60-an yang menjadi inspirasi bagi Al-Qaeda serta ISIS menuliskan sebuah buku penuh hasutan, The America that I Have Seen (Amerika yang Pernah Saya Lihat) setelah dia datang ke AS. Dia belajar di Perguruan Tinggi Negeri Colorado untuk Bidang Pendidikan di Greeley, di antara berbagai sekolah Amerika (Sumber foto Greeley: Bbean32/Wikimedia Commons).

Tumbuh besar dalam suasana yang menerapkan hukum Sharia dan sekolah yang dikelola oleh kaum Islam radikal, kami diajarkan bahwa tingkat tertinggi yang dapat seseorang capai adalah menjadi mujahid. Mujahid adalah orang yang benar-benar Allah kasihi. Suatu ketika, saya pun memberanikan diri bertanya, apa persisnya arti istilah mujahid. Sang imam mengatakan bahwa mujahid sejati adalah orang yang tidak sekedar mati secara defensif guna melindungi nilai-nilai Allah. Mujahid sejati, adalah orang yang paling dikasihi Allah, adalah orang bertindak ofensif, termasuk lewat aksi kekerasan, ketika dia melihat nilai-nilai agama kita dilanggar di bagian manapun di dunia. Orang itulah pejuang suci sejati, urainya.

Lanjutkan Baca Artikel

Eropa: Pejihad Eksploitasi Tunjangan Kesejahteraan

oleh Soeren Kern  •  16 Oktober 2017

  • Ketika berbicara tentang upaya untuk mengambil uang dari pembayar pajak Swiss, Ramadan, seorang anggota Salafi kenamaan, menyerukan supaya hukum Shariah diterapkan di Swiss. Ia mendesak kaum Muslim supaya menghindari diri untuk tidak berintegrasi dalam masyarakat Swiss. Juga dikatakannya bahwa umat Muslim yang melakukan kejahatan di negeri itu tidak boleh tunduk kepada hukum Swiss.

  • "Skandal ini begitu luar biasa sehingga sulit dipercaya. Para imam yang mengkotbahkan kebencian terhadap umat Kristen dan Yahudi, yang mengecam kemerosotan Barat, malah diberi suaka dan hidup nyaman sebagai pengungsi dengan uang tunjangan sosial. Semua ini akibat sikap pengecut sekaligus tidak kompeten otoritas yang memberikan carte blanche atau kekuasaan penuh kepada para asisten suaka serta sistem kesejahteraan sosial yang suka berpuas diri dan naïf."---- Adrian Amstutz, anggota parlemen Swiss.

  • Para pejabat kota Lund, meski demikian, masih tak terbendung: Mereka meluncurkan sebuah pilot project yang bermaksud memberikan perumahan, pekerjaan, pendidikan serta dukungan finansial lainnya kepada para pejihad yang kembali dari Suriah---dan semuanya itu berkat para pembayar pajak Swedia.

Anjem Choudary, seorang Islam radikal Inggris yang tengah menjalani hukuman karena mendorong masyarakat untuk mendukung ISIS yakin bahwa kaum Muslim berhak memperoleh tunjangan kesejahteraan. Karena tunjangan itu, menurut dia, merupakan sebentuk jizya atau pajak yang ditetapkan bagi kaum non-Muslim sebagai peringatan bahwa mereka tetap lebih rendah, inferior dan karena itu tunduk patuh kepada kaum Muslim. Dia, karena itu mendapatkan hampir £500,000 ($640,000 atau sekitar Rp 8,6 miliar) dalam bentuk tunjangan, yang diartikannya sebagai "uang saku bagi pencari pejihad." (Photo by Oli Scarff/Getty Images)

Seorang imam Libya yang memohon kepada Allah supaya "menghancurkan" semua kaum non-Muslim justru menerima tunjangan kesejahteraan bernilai lebih dari $600.000 dari Pemerintah Swiss, demikian laporan lembaga penyiar Swiss SRF.

Abu Ramadan tiba di Swiss pada 1998. Kepadanya diberikan suaka pada 2004 menyusul pengakuannya bahwa Pemerintah Libya menganiayanya karena afiliasinya dengan Ikhwanul Muslimin. Semenjak itulah, menurut SRF, Ramadan memperoleh tunjangan kesejahteraan sosial 600.000 Franc Swiss atau sekitar Rp. 8,3 miliar.

Walau berdiam di Swiss nyaris selama 20 tahun, Ramadan sedikitpun tidak bisa berbahasa Prancis atau Jerman. Tidak pernah pula dia mendapatkan satu pekerjaan tetap. Pria berusia 64 tahun itu, dengan demikian, akan segera berhak mendapatkan pensiun dari negara.

Lanjutkan Baca Artikel

Musuh Palestina yang Sebenarnya

oleh Bassam Tawil  •  12 Oktober 2017

  • Kesepakatan tidak merujuk kepada pengendalian keamanan yang Hamas lakukan atas Jalur Gaza. Ini berarti Hamas dan sayap bersenjatanya, Ezaddin Al-Qassam, tetap menjadi "penegak hukum" utama di Jalur Gaza. Ide bahwa Hamas bakal mengijinkan pasukan keamanan Abbas untuk kembali ke Jalur Gaza, dengan demikian, murni ilusi.

  • Kesepakatan tidak menyebutkan agenda politik dan ideologi Hamas. Kesepakatan juga tidak mempersyarakatkan Hamas meninggalkan piagam pendirian organisasinya yang menyerukan supaya Israel dibasmi. Juga tidak mempersyaratkan Hamas untuk meletakan senjatanya sekaligus menerima hak Israel untuk hidup.

  • Kesepakatan justru membebaskan Hamas dari tanggung jawab keuangannya terhadap konstituennya di Jalur Gaza. Dengan PA kembali memberikan dana kepada warga Palestina di Jalur Gaza, Hamas dimungkinkan untuk mengarahkan kembali sumberdaya dan energinya untuk membangun kemampuan militernya untuk mempersiapkan perang melawan Israel. Hamas tidak lagi harus mengkhawatirkan soal gaji dan pasokan listrik serta obat-obatan bagi warga Palestina di Jalur Gaza karena Abbas akan menanganinya.

  • Kesepakatan memudahkan upaya Hamas memperhitungkan diri sebagai pemain sah dalam arena Palestina sekaligus meraih pengakuan dan simpati internasional. Hamas kini sudah bisa memasarkan diri sebagai mitra sah dalam Pemerintahan PA pimpinan Abbas yang didanai oleh Barat.

Foto: Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas sedang berbincang-bincang dengan Pemimpin Hamas kala itu, Ismail Haniyeh, 5 April 2007 di Jalur Gaza. Sejak 2007, Hamas dan Otoritas Palestina mengumumkan sedikitnya empat perjanjian "rekonsiliasi" guna mengakhiri persaingan antarmereka. (Foto oleh Mohamad Alostaz/PPM via Getty Images).

Sejak 2007, Hamas dan Otoritas Palestina (PA) mengumumkan sedikitnya empat "kesepakatan rekonsiliasi" guna mengakhir persaingan antarmereka. Kesepakatan itu dimulai satu tahun lebih awal ketika Hamas memenangkan Pemilu legislatif Palestina. Pekan ini, di bawah perlindungan pihak berwenang Mesir, kedua partai Palestina yang saling bersaing itu kembali mengumumkan kesepakatan lain guna menyatukan perbedaan antarmereka guna mencapai "persatuan nasional."

Lanjutkan Baca Artikel

Kaum Islam Radikal Bertanggung Jawab dalam Krisis Pengungsi Rohingya

oleh Mohshin Habib  •  9 Oktober 2017

  • Krisis terakhir ini tengah digambarkan---secara salah---sebagai "pembersihan etnis" terhadap minoritas Muslim lugu yang tidak berdosa oleh pasukan keamanan Burma. Juga digambarkan sebagai "sikap apatis" terhadap penderitaan warga Rohingya oleh Aung San Suu Kyi, Menteri Luar Negeri Burma dan defakto kepala negaranya.

  • Taktik mereka [Bangsa Rohingya] adalah terorisme. Tidak ada soal tentang itu. [Kyi] tidak mengatakan seluruh populasi Rohingya teroris. Dia merujuk sebuah kelompok orang yang berkeliaran dengan senapan, pedang serta bom rakitan sederhana (IED) serta membunuh bangsa mereka sendiri di samping membunuh para penganut Budha, Hindu serta orang lain yang menghalangi jalan mereka. Sudah banyak pasukan keamanan mereka bunuh. Mereka pun menyebabkan kerusakan di kawasan tersebut. Orang-orang yang berlarian melarikan diri ke Bangladesh ...melarikan diri dari kelompok-kelompok radikal mereka sendiri. [Komunitas] internasional dengan demikian, harus memilah-milah masalah sebelum menuduh." — Patricia Clapp, Ketua Misi AS- to Myanmar dari 1999-2002.

  • Asal muasal jihad kaum Muslim Bengali di Barat Myanmar pada penghujung abad ke-19 selama masa Perang Dunia II, menggambarkan bahwa hal itu "berakar dalam institusi jihad orang-orang yang berambisi memperluas kawasan Islam yang sama dan abadi, yang menghancurkan peradaban Budha di India utara." — Dr. Andrew Bostom, pengarang dan cendekiawan Islam.

Para pengungsi Rohingya dari Burma tiba di Bangladesh, 17 September 2017. Krisis baru-baru ini digambarkan---secara salah---sebagai "pembersihan etnis" terhadap minoritas Muslim yang lugu, tetapi penjahatnya yang sebenarnya adalah kaum Islam radikal yang berada di antara warga Rohingya sendiri, yang dengan senapan, pedang dan bom rakitan sederhana membunuh orang-orang mereka sendiri, di samping membunuh umat Budha, Hindu dan lain-lain yang menghambat jalan mereka. (Foto oleh Allison Joyce/Getty Images).

Gelombang bentrokan antara para teroris radikal Islam melawan Pemerintah Burma (Myannmar) menjadi akar dari krisis pengungsi di Asia Tenggara. Akibat krisis ini PBB serta media internasional memberikan perhatian terhadap persoalan warga Rohingya di Rakhine utara, sebuah propinsi terbelakang di barat negeri mayoritas Budha itu.

Lanjutkan Baca Artikel

Apakah Mengecam Pejihad ISIS itu Menyampaikan "Ujaran Kebencian?"

oleh Denis MacEoin  •  5 Oktober 2017

  • Menjadi mahasiswa biasanya menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan. Selama ini, fantasi masa muda berhadapan dengan argumen rasional, yang terinformasi baik dan berbasis bukti. Tetapi kultus kebenaran politik, defenisi gender yang longgar (unbounded), obsesi kepada fobia terhadap Islam serta anti-Semitisme di antara gangguan-gangguan lainnya, telah merusak proses pendidikan di Amerika Serikat serta Eropa.

  • Jika Travers mengidentifikasi adanya sikap anti-Semitisme serta tanda-tanda radikalisasi di kampus, maka dia dapat, tidak sekedar berhak, tetapi juga wajib untuk mengungkapkannya ke hadapan publik.

  • Bukan Robbie Travers yang pantas didisiplinkan oleh pihak berwenang universitas; justru Allman, karena dia berjuang untuk menghancurkan reputasi Travers dengan tuduhan dan tidak bisa memperkuatnya dengan bukti. Jika saya diminta bertindak sebagai hakim, akan saya rekomendasikan dia tetap dikeluarkan dari lembaga pendidikan karena dia jelas-jelas tidak cocok. Fitnah dan pembunuhan kharakter tidak punya tempat di universitas manapun.

Kekejaman ISIS: Travers seharusnya dipuji, bukan didiskreditkan karena menuding mereka demikian. (Sumber foto: YouTube/Suntingan video)

Travers, mahasiswa fakultas hukum tahun ketiga berusia 21 tahun, melambungkan namanya sendiri di Skotlandia, di Universitas Edinburg yang kenamaan. Terlepas dari banyaknya aktivitas, Travers menerbitkan berbagai artikelnya di Gatestone Institute yang bisa dibaca di sini, di samping juga menulis untuk saluran media lain. Juga dituliskannya persoalan seperti anti-Semitisme di Eropa, industri sensor "berita-berita bohong," Partai Buruh Inggris sebagai tempat berlindung nan aman bagi orang-orang rasis, dewan Shariah, serangan terhadap kebebasan berbicara dan masih banyak lagi. Sebagai anak muda yang lantang, dia menjadi satu dari para tokoh terbaik di universitas. Meski jelas mengaku gay dan pendukung aliran tengah (centrist), yang menjadi posisi Tony Blair dalam politik, dia kerapkali terperangkap dalam konflik dengan sesama mahasiswa dari kalangan kiri radikal, dengan para mahasiswa Muslim dan dengan siapa saja yang bingung dengan apa saja yang melemparkan tantangan terhadap kepekaan politik yang benar dan suka berpuas diri (complacent politically correct sensitivities). Dia pun tidak takut berseru kepada kaum radikal serta mengkritik mereka dengan informasi faktual sehingga banyak mahasiswa modern (serta dosen) muak mendengarkannya.

Lanjutkan Baca Artikel

Apakah Deparlu AS Beli Propaganda Arab?

oleh Nonie Darwish  •  26 September 2017

  • Setelah berabad-abad disiksa, Kekristenan di Timur Tengah menjadi kecil kerdil, jika tidak bisa dikatakan efektif dihancurkan. Mereka memberikan nama Arab bagi anak-anak mereka, ketimbang nama-nama Alkitabiah supaya bisa menghindari diskriminasi di tempat kerja. Perayaan-perayaan keagamaan mereka diselenggarakan di dalam rumah, karena takut jangan sampai perayaan-perayaan Kristen mengganggu perasaan kaum Muslim. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai Sindrom Stockholm (Stockholm Syndrome). Yaitu suatu kondisi, dalam hal ini, ketika umat Kristen Timur Tengah kerapkali akhirnya membela bahkan memuji Islam, meskipun harus mengorbankan hak-hak agama mereka sendiri,

  • Menarik melihat betapa pada satu pihak Departemen Luar Negeri dan media AS mengecilkan pembasmian etnis yang kini sedang berlangsung atas umat Kristen di Timur Tengah, tetapi pada pihak lain langsung mempercayai kaum Muslim, ketika satu dari pemimpin mereka memberi tahu sebuah delegasi Amerika bahwa dia tidak takut kepada warga Arab tetapi kepada kaum Yahudi.

  • Dengan banyaknya cabang Pemerintah AS yang bertekad untuk mengubah-ubah kenyataan maka tampaknya bakal ada satu rangkaian keputusan yang hendak diabaikan --- juga untuk mencegah publik Amerika tahu---- apa yang sebenarnya tengah berlangsung.

  • Bahasa "politically incorrect" atau secara politik tidak benar disensor oleh Departemen Luar Negeri, Departmen Kehakiman, FBI, Departmen Keamanan Dalam Negeri, cabang eksekutif sebelumnya, dan yang paling akhir, Dewan Keamanan Nasional, yang baru-baru ini tampaknya sudah berhasil memberikan seluruh departmen.

Sangat disayangkan bahwa Lawrence Wilkerson, seorang mantan pejabat tinggi Departemen Luar Negeri memutuskan untuk mengecam Israel selama krisis baru-baru ini di mana kaum Yahudi menjadi korban. (Sumber foto: Suntingan video MSNBC).

Berbahaya bagi Barat untuk menerima propaganda anti-Semit Arab yang disuarakan sejumlah pemimpin Kristen di Timur Tengah. Mereka, bagaimanapun, adalah tawanan mayoritas Muslim di sekitar mereka. Sejak masa internet, banyak warga Arab pun sudah berhenti membeli propaganda Arab.

Lanjutkan Baca Artikel

Mengenali Musuh Nyata Masa Kini: Islam Radikal Bukan Rusia

oleh Alexandre del Valle  •  26 September 2017

  • Dalam arti kata militer dan strategis, musuh adalah sebuah entitas yang benar-benar mengancam kelangsungan hidup dan kepentingan-kepentingan vital jangka pendek dan jangka panjang kita --- bukan sekedar yang tidak memiliki konsep demokrasi dan hak-hak asasi yang sama dengan kita.

  • Kesalahan geopolitik berbahaya lainnya yang dilakukan oleh masyarakat Barat adalah hanya melihat kelompok-kelompok teroris Islam sebagai musuh kemudian menyasar mereka di tempat kosong. Demikian juga, jika tidak lebih, penting untuk menaklukan berbagai gerakan kaum Islam radikal yang mengecam terorisme tetapi justru menyebarluaskan ideologi "penuh damai" mereka di negara-negara kita.

  • Sebelum melancarkan kampanye militer atas nama hak asasi manusia, kita di Barat pertama-tama harus melakukan investasi dengan memperkuat nilai-nilai kita sendiri di dalam negeri kemudian mendorong kaum minoritas Muslim kita juga menggunakannya, bukan membiarkan mereka jatuh ke dalam tanagn berbagai organisasi kaum radikal Islam. Barat harus berhenti menganggap identitas Yudeo-Kristennya sebagi jahat lalu membersihkan diri lepas dari ekstremisme multikulturalis.

Menetapkan Rusia pasca-Uni Soviet sebagai musuh utama Barat, sambil menganggap monarki Islam Sunni Timur Tengah serta kaum radikal Islam (Islamist) neo-Ottoman Turki sebagai sekutu atau sahabat merupakan kesalahan geopolitik yang berbahaya. (Sumber foto: kremlin.ru)

Menetapkan Rusia pasca-Uni Soviet sebagai musuh utama Barat, sambil menganggap monarki Islam Sunni Timur Tengah serta kaum radikal Islam neo-Ottoman Turki sebagai sekutu atau sahabat merupakan kesalahan geopolitik yang berbahaya. Menganggap jahat rejim-rejim yang tidak disukainya seperti kleptokrasi otoriter Putin serta negara-negara tidak demokratis lain yang tidak memperlihatkan ancaman militer langsung rupanya menjadi kepentingan Barat sekaligus misi utama NATO. Agaknya, itu dilakukan untuk menjaga tanah, laut, udara serta penduduk kita.

Bagaimanapun, sudah kita tetapkan "musuh" kita supaya bisa menyelesaikan persoalan ini. Dalam arti kata militer dan strategis, musuh adalah sebuah entitas yang benar-benar mengancam kelangsungan hidup dan kepentingan-kepentingan vital jangka pendek dan jangka panjang kita --- bukan sekedar yang tidak memiliki konsep demokrasi dan hak-hak asasi yang sama dengan kita.

Lanjutkan Baca Artikel

Penyiksaan Massal oleh Turki atas Umat Kristen dan Kurdi

oleh Uzay Bulut  •  25 September 2017

  • Bangsa Yazidis, Alevi dan wanita di kawasan tersebut juga diperlakukan secara kejam oleh pihak berwenang Turki. Puluhan wartawan Kurdi yang mempublikasikan kisah-kisah ini pun dijebloskan dalam penjara.

  • Kebencian terhadap umat Kristen dan Kurdi di Turki ini tidak terbatas pada pejabat pemerintah. Kebencian pun tersebar luas di kalangan publik dan diungkapkan luas di media sosial.

  • Situasi kaum minoritas di Turki serta penganiyaan atas mereka oleh Turki --- sebuah negara anggota NATO dan calon abadi untuk menjadi anggota Uni Eropa --- harus kerapkali dikisahkan senyaring mungkin.

Gereja Armenia Surp Giragos di Diyarbakir, Turki pada 2008, sebelum pembangunan kembali gereja. (Sumber foto: Nevit Dilmen/Wikimedia Commons).

Sejak 2015, Pemerintah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melancarkan serangan terhadap kawasan mayoritas Kurdi di negeri itu.

Sebuah laporan dari World Heritage Watch yang dikeluarkan pada 2017 merinci kerusakan satu kota seperti Suriçi (Sur), sebagai berikut;

"[Jam] malam diumumkan enam kali masing-masing selama beberapa hari mulai September 2015. Jam malam merupakan blokade 24 jam sehari yang mengarah kepada bentrokan antara pasukan Turki melawan kelompok pemberontak Kurdi sehingga ratusan orang meninggal dunia dan kawasan yang terdampak mengalami kerusakan serius. Jam malam terakhir yang terus saja berlangsung sejak 11 Desember 2015, yang diikuti dengan penggunaan senjata-senjata militer berat seperti tank, mortat dan artileri oleh pasukan pemerintah benar-rbenar menghancurkan. Berbagai bangunan dan monumen bersejarah----termasuk keutuhan dan ciri Kota Suriçi yang asli ---mengalami kerusakan dan hancur."

Lanjutkan Baca Artikel

Warga Palestina itu "Persoalan bagi Yahudi"

oleh Bassam Tawil  •  19 September 2017

  • Bagi warga Palestina, kedua utusan khusus itu tampaknya benar-benar mendukung posisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, daripada mewakili kepentingan AS. Mengapa? Karena mereka orang Yahudi, dan dengan demikian, kesetiaan mereka adalah kepada Israel sebelum kepada AS.

  • Pandangan ini barangkali merupakan proyeksi dari apa yang banyak kaum Muslim bakal lakukan jika situasinya sebaliknya.

  • Apa yang tengah kita saksikan sebetulnya merupakan upaya mencari alasan pemaaf yang tanpa akhir dari pihak Otoritas Palestina serta Presidennya, Mahmoud Abbas, untuk tidak terlibat dalam perundingan damai dengan Israel.

Tatkala utusan khusus Presiden Trump berkunjung ke Ramallah bulan silam, warga Palestina melancarkan protes menentang "bias" AS yang mendukung Israel. Gambar: Sebuah poster yang diusung di tempat protes, menggambarkan Jared Kushner diikat dengan seutas tali oleh seorang wanita pirang (tampaknya, isterinya, Ivanka) yang mengenakan pakaian yang terbuat dari bendera Israel. (Sumber foto: Suntingan video Wattan).

Warga Palestina tidak suka dengan utusan khusus Presiden AS Donald Trump ke Timur Tengah. Mengapa? Jawabannya --- yang membuatnya jelas membabi buta---karena para utusan khusus itu orang-orang Yahudi.

Dalam perspektif warga Palestina, semua ketiga utusan khusus, Jared Kushner, Jason Greenblatt dan Duta Besar US untuk Israel, David Friedman, tidak bisa menjadi perantara atau mewakili kepentingan AS yang tulus. Karena, dalam pandangan mereka, sebagai orang Yahudi, loyalitas mereka kepada Israel jauh lebih besar, daripada loyalitas mereka kepada Amerika Serikat.

Bernada seperti anti-Semitisme? Ya, memang demikian. Dan asumsi seperti ini memberi bukti lebih jauh berkaitan dengan prasangka serta kesalahpahaman Palestina. Warga Palestina menerima begitu saja bahwa siapapun orang Yahudi yang bekerja di Pemerintahan AS atau pemerintah lain di seluruh dunia harus diperlakukannya dengan curiga dan tidak bisa dipercaya.

Lanjutkan Baca Artikel

Apakah Budaya Toleransi Tergantikan oleh Budaya yang tidak Toleran?

oleh Saher Fares  •  14 September 2017

  • Tidak perlu orang meninjau kembali berabad-abad penaklukan yang kaum Muslim lancarkan atas bekas dunia Kristen kuno supaya bisa memahami bahwa aksi kejam ini jelas menandai era awal kolonial Eropa dan terbentuknya negara modern Israel serta isu perubahan iklim. Pada abad pertengahan sudah ada razia bajak laut Barbary, penindasan oleh Kekaisaran Ottoman terhadap masyarakat jajahannya di Eropa Tengah dan Timur serta pasar perbudakan Kaffa di Tatar, Krimea yang dikuasai kaum Muslim.

  • Negara-negara seperti Cina, Nigeria atau Kenya yang bukan Barat, bukan "imperialis", tidak ada ada alasan maaf apapun yang bisa dibuat oleh kaum radikal Muslim, masih saja diserang secara mengerikan dengan aksi penikaman yang sama. Bulan demi bulan, tampaknya, nyaris tidak ada tempat di dunia yang tidak dilanda terror ala Islam.

  • Lebih dari itu, berjilid-jilid teks Islam yang dipuja-puji menjabarkan secara rinci landasan untuk melakukan aksi kejam keji serta penindasan terhadap orang-orang tak beriman serta orang-orang yang dianggap bidaah. Landasan agama yang diandaikan benar itu --- dihidupkan setiap hari di berbagai madrasah serta masjid di seluruh penjuru dunia menunggu para teroris terlatih yang taat sesuai ajaran agama melakukan aksinya --- dan secara kekanak-kanakan diabaikan oleh masyarakat Barat yang liberal sebagai sesuatu yang tidak penting.

Pada 4 Juni 2017 lalu, Perdana Menteri Inggris, Theresa May mengatakan, "Ini waktunya untuk mengatakan cukup itu cukup." Dia lalu berjanji melakukan tinjauan menyeluruh terhadap strategi kontraterorisme negerinya. Bagaimanapun, akibat tidak adanya tinjauan yang jujur terhadap akar penyebab terorisme ini serta pencarian jiwa yang menyakitkan oleh kaum Muslim terhadap landasan agama mereka yang memunculkan aksi kejam keji itu, maka tidak bakal bisa "cukup." (Foto oleh Leon Neal/Getty Images).

Seberapa tipiskah permintaan maaf dapat digunakan setiap kali aksi kejam keji dilakukan atas nama Islam?

Ada 13 orang tewas dan lebih banyak lagi orang terluka dalam sebuah serangan terhadap sebuah kendaraan di Barselona, Spanyol, pekan ini. Selain itu, Juni lalu, para pria pelaku penikaman meneriakan, "Ini demi Allah!" di London Brigde serta di Pasar Borough. Dalam dua tragedi berdarah ini, persoalan yang sedikit sekali para korban pikirkan adalah wejangan para elit Barat. Yaitu bahwa aksi kekejaman yang paling akhir itu, "tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam."

Perdana Menteri Inggris, Theresa May pernah mengatakan, "Inilah waktunya untuk mengatakan cukup itu cukup." Karena itu dia berjanji untuk mempelajari kembali strategi kontra-terorisme negeri yang dipimpinnya.

Lanjutkan Baca Artikel