Analisa dan Komentar Terbaru

Impian Eropa vs Migrasi Massal

oleh Giulio Meotti  •  16 Oktober 2019

  • Sayangnya, cara berpikir Eropa menolak menghadapi kenyataan. Seolah-olah tantangannya terlalu parah untuk diselesaikan.

  • "Konferensi berlangsung dengan tema ' Penser l'Europe ' ['Berpikir tentang Eropa ']. Namun diberi tajuk ' Islam dan Eropa '. Di sana, saya terganggu mendengar Tariq Ramadan berbicara tentang Eropa sebagai dar Al-shahada, yaitu rumah bagi iman Islam. Para penonton yang hadir khawatir, tetapi tidak mendapatkan pesan tentang persepsi Eropa dalam pola pikir seorang anggota Islam radikal sebagai bagian dari rumah Islam. Jika Eropa tidak lagi dianggap sebagai dar Al-Harb atau rumah perang, tetapi sebagai bagian rumah damai Islam, maka ini bukan lagi isyarat moderasi. Karena memang ada beberapa asumsi salah di sana: itu adalah pola pikir dari sebuah Islamisasi Eropa... "

  • Ini gagasan Marxis yang salah yang berkembang di kalangan anak muda di Eropa. Bahwa jika Anda sukses atau nyaman, maka hal itu hanya terjadi karena anda mengorbankan kemanusiaan. Atau "jika saya menang, orang lain harus kalah. " Tampaknya tidak ada konsep "Win-Win", sama-sama menang sama sekali. Artinya, "jika saya menang, kalian semua bisa menang juga: semua orang bisa menang!" Gagasan itu yang mendasari ekonomi pasar bebas dan telah berhasil mengangkat begitu banyak dunia secara mengagumkan keluar dari kemiskinan.

  • Karena itu penting untuk ... menolak cara untuk merendahkan diri yang kini terjadi. Eropa tampaknya menderita skeptisismenya sendiri tentang masa depan. Seolah-olah kemerosotan Barat sebenarnya sebuah hukuman yang bisa dibenarkan sekaligus menjadi pembebasan dari kesalahan masa lalu.

  • "Bagi saya, sekarang ini," tulis Finkielkraut, "hal paling mendasar adalah peradaban Eropa ".

Harga relativisme budaya menjadi menyakitkan dilihat di Eropa. Disintegrasi negara-negara bangsa Barat kini menjadi kemungkinan yang nyata. Multikulturalisme--- yang dibangun berdasarkan kemerosotan demografis yang menolak sendiri de-Kristenisasi dan budaya --- tidak lebih dari fase sementara yang berisiko mengarah kepada terpecah belahnya dunia Barat. (Sumber gambar: iStock).

Eropa menampilkan diri sebagai pelopor penyatuan umat manusia. Akibatnya, akar budayanya sendiri malah berisiko. Menurut Pierre Manent, seorang ilmuwan politik Prancis kenamaan sekaligus seorang profesor pada School for Advanced Studies di Ilmu Sosial di Paris:

"Kebanggaan atau kesadaran diri Eropa bergantung pada penolakan sejarah dan peradaban Eropa! Kita ingin tidak sejarah dan peradaban kita itu punya hubungan dengan akar Kristennya. Dan kita benar-benar ingin secara sempurna menyambut kedatangan Islam".

Pernyataan itu Manent sampaikan kepada Majalah Bulanan Prancis, Causeur. Dia mengutip, sebagai contoh, Turki:

Lanjutkan Baca Artikel

Prancis: Macron Memihak Para Mullah Iran

oleh Guy Millière  •  15 Oktober 2019

  • Pada 14 September, beberapa hari setelah Mantan Penasehat Keamanan Nasional, Duta Besar John R. Bolton secara nyaman menghilang dari pemerintahan, Iran membuat kerusakan yang massif atas fasilitas pemrosesan minyak di Arab Saudi.

  • Macron, ringkasnya, telah melakukan banyak hal atau lebih dari negara Eropa lainnya untuk menyenangkan hati Rezim Iran. Lebih daripada Jerman. Bahkan lebih dari Uni Eropa sendiri. Dia bisa saja bertindak sebagai sekutu Amerika Serikat yang dapat diandalkan. Tetapi, pilihan yang dibuatnya berbeda.

  • Para pejabat Prancis bertindak dan berbicara seolah-olah rezim Iran benar-benar terhormat. Juga seolah-olah mereka tidak bisa melihat yang jelas. Bahwa rezim Iran memiliki tujuan-tujuan yang merusak. Kesepakatan nuklir tidak mengalihkan rezim dari tujuannya untuk membangun senjata nuklir. Kesepakatan itu, kenyataannya, mengapungkan rezim tersebut ke tujuan yang tepat. Strategi Amerika untuk menerapkan tekanan maksimum melalui sanksi ekonomi tampaknya menjadi satu-satunya cara non-militer untuk menekan rezim ini untuk mengubah arah.

Selama berkunjung ke Washington April 2018 lalu, tujuan utama Presiden Prancis Emmanuel Macron, tampaknya hendak membujuk Presiden AS Donald Trump supaya tidak menarik diri mundur dari Perjanjian Nuklir Iran. Dia berupaya membujuk, dengan terus-menerus merangkul Trump, sebelum berubah sombong. Dalam pidatonya di depan Kongres, dia lantas mengatakan, "Prancis tidak akan meninggalkan Perjanjian Nuklir Iran. Karena kami sudah tanda tanganinya. Presiden dan negara kalian bakal terpaksa menghadapi tanggung jawab mereka." (Foto oleh Alex Wong/ Getty Images).

Tanggal 25 Agustus 2019. Di Biarritz, Prancis. Para pemimpin Kelompok Tujuh Negara Maju (G7) kembali bertemu. Untuk membahas masalah-masalah dunia. Situasi di Timur Tengah tidak ada dalam agenda. Tetapi, Presiden Prancis Emmanuel Macron, penyelenggara Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) tahun ini berniat hendak memaksa persoalan itu masuk agenda.

Dia memutuskan mengundang Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif untuk turut hadir. Para tamunya tidak dia peringatkan soal kehadiran Zarif sampai menit terakhir sebelum kedatangannya. Tujuannya, tampaknya, adalah untuk mengadakan pertemuan antara Menteri Iran itu dan Presiden AS Donald J. Trump. Namun Presiden Trump menolak. Zarif mengadakan pembicaraan tidak resmi dengan Macron dan beberapa menteri Prancis, sebelum terbang kembali ke Teheran. Tapi Macron tidak menyerah. Pada konferensi pers keesokan harinya, dia secara terbuka meminta Presiden Trump untuk bertemu dengan pemimpin Iran sesegera mungkin.

Lanjutkan Baca Artikel

Rouhani Ungkapkan Sia-Sianya Diplomasi Eropa

oleh Con Coughlin  •  14 Oktober 2019

Presiden Iran Hassan Rouhani baru saja memberikan pidato di depan Majelis Umum PBB (MU-PBB), Rabu, 25 September 2019 lalu. Secara gamblang, ia pun memperlihatkan betapa sia-sianya upaya Eropa yang tetap percaya dengan perjanjian nuklir Iran yang cacat. (Sumber foto: Spencer Platt/Getty Images)

Presiden Iran Hassan Rouhani baru saja memberikan pidato di depan Majelis Umum PBB (MU-PBB), Rabu, 25 September 2019 lalu. Secara gamblang, ia pun memperlihatkan betapa sia-sianya upaya Eropa yang tetap percaya dengan perjanjian nuklir Iran yang cacat.

Padahal, ada banyak spekulasi berkembang di tengah jamboree tahunan jaringan global PBB itu. Forum tersebut tampaknya mungkin saja memberikan kesempatan untuk membangun kembali dialog dengan para ayatollah Iran. Situasi itu tentu saja berbeda dengan banyaknya ketegangan di Teluk akibat perilaku agresif Iran.

Untuk tujuan ini Presiden Prancis Emmanuel Macron, khususnya, aktif berusaha menengahi pemulihan hubungan diplomatik antara Teheran dan Washington. Sampai-sampai ia bahkan menyarankan bahwa pertemuan bilateral mungkin dilakukan antara Presiden AS Donald Trump dan Rouhani.

Lanjutkan Baca Artikel

"Akan Kami Usir Kalian"
Penyiksaan Umat Kristen oleh Ekstremis, Juli 2018

oleh Raymond Ibrahim  •  15 September 2019

  • Ada 128 insiden vandalism terhadap gereja serta serangan anti-Kristen lainnya di Prancis dalam lima bulan pertama tahun 2018, demikian menurut sebuah LSM milik Gereja Katolik Roma yang berbasis di Paris yang berusaha melacak serangan terhadap umat Kristen.

  • Zanzibar "telah menyembunyikan berita penyiksaan umat Kristen selama beberapa dekade. Isu-isu ini sangat sedikit diketahui atau bahkan sama sekali tidak tahu oleh masyarakat internasional. Lembaga Kristen sudah dianiaya begitu lama." ---Pastor, pastor sebuah gereja, seperti dikutip oleh LSM International Christian Concern.

Tanggal 25 Juli 2018. Para penjahat tidak dikenal membakar Gereja Saint-Pierre du Matroi, di Orleans, Prancis. Mereka juga menuliskan "Allah ou Akbar" dengan cat semprotan pada gereja itu. (Sumber foto: Peter Potrowl/Wikimedia Commons).

Ekstremis Muslim Menyerang Gereja Kristen

Mesir: Polisi yang hanya duduk berpangku tangan mendorong massa Muslim menyerang gereja. Setelah Muslim lokal di Desa Ezbet Sultan Pasha tahu bahwa umat Kristen yang membentuk sekitar 20% populasi desa itu, berupaya melegalisasi pembangunan gerejanya, massa Muslim mengepungnya. Aksi itu dilancarkan 6 Juli, setelah Sholat Jumat. "Pemrotes meneriakkan slogan menentang kami [umat Kristen] seperti 'Kami tidak ingin ada gereja di desa kami," urai seorang pemukim. "Kami mengunci diri dalam rumah-rumah selama demonstrasi berlangsung. Kami takut mereka menyerang kami. Polisi tidak bertindak apa-apa untuk membubarkan demonstran. Juga tidak menangkap satu pun dari mereka." Demonstrasi berlanjut keesokan harinya tanpa ada campur tangan polisi.

Lanjutkan Baca Artikel

Empat Puluh Tahun Intoleransi Iran

oleh Denis MacEoin  •  14 September 2019

  • Yang harus orang pertanyakan, adalah apakah Rezim Islam harus takut terhadap umat Kristen Baha'i, Zoroaster, Sufi dan Muslim Sunni atau Yahudi negeri itu? Lalu mengapa perlakuan terhadap kaum minoritas ini sangat represif. Karena itu, tampaknya tidak masuk akal untuk bertanya apakah para ulama mungkin takut dengan apa yang mereka anggap sebagai tantangan terhadap fantasi mereka tentang identitas Islam yang murni.

  • Jadi mengapa ada penganiayaan ini? Karena mereka merepresentasikan tantangan terhadap doktrin hukum Shariah ulama radikal yang menerapkan system politik-relijius. Namanya sistem Velayat-e Faqih dari Ayatollah Khomeini yang berarti diperintahi oleh Pemerintahan Teokratis Islam.

  • "Jika mereka [kaum Muslim] bebas dari hukuman karena beralih agama/murtad, maka Islam tidak bakal ada sekarang ini." --- Pemimpin Islam Sheikh Yusuf al-Qaradawi.

  • Masyarakat Iran yang telah memperjuangkan kebebasan mereka selama tahun-tahun ini pantas segera mendapatkan bantuan kita.

Apakah yang Rezim Islam Iran harus takuti dari umat Kristen, Bahai, Zoroaster, Muslim Sufi dan Muslim Sunni atau Yahudi negeri itu? Namun, perlakukannya terhadap kaum minoritas ini begitu menindas sehingga tampaknya tidak masuk akal untuk bertanya jika para ulama itu mungkin takut terhadap apa yang anggap tantangan terhadap fantasi mereka tentang identitas Islam murni. Foto: Perusakan sebuah Pemakaman Bahai yang bersejarah di Shiraz, Iran, oleh Korps Garda Revolusioner Islam. (Sumber foto: Baha'i World News Service).

Rezim yang kini memerintah Iran didirikan pasca-revolusi pada awal 1979. Dan setelah empat puluh tahun, ia tetap berkuasa. Tidak ada yang luput dari perhatiannya sehingga hubungan antara Iran dan Barat, terutama dengan Amerika Serikat, tidak pernah sehat. Dan dalam beberapa bulan terakhir ini, hubungan ini semakin memburuk.

Amerika Serikat pun karena itu, semakin keras menjatuhkan sanksi atas ulama musuhnya. Termasuk beberapa sanksi atas Pemimpin Tertinggi Iran garis keras (Rahbar-e A'zam), Ayatollah Ali Khamenei yang tua namun masih kuat. Sanksi-sanksi ini dibenarkan karena beberapa alasan.

Lanjutkan Baca Artikel

Bagi Para Pemimpin Eropa, Daging Orang Yahudi itu Murah

oleh Guy Millière  •  12 September 2019

  • Kesepakatan Oslo didasarkan pada illusi bahwa PLO dapat benar-benar berubah dan tiba-tiba menjadi "mitra perdamaian"....Segera menjadi jelas bahwa Otoritas Palestina masih tetap PLO. Serangan teroris pun cepat berlipat ganda. Uang yang diterima oleh Otoritas Palestina digunakan untuk melanjutkan hasutan untuk membunuh dan membayar untuk memberi insentif.

  • Pada tahun 1967, terjadi perubahan strategi. Tidak seorang pun, PLO putuskan, berbicara tentang "perang penghancuran Israel". Sebaliknya, mereka menyebutnya "perang pembebasan nasional" (war of national liberation). Sejak saat itu, PLO ditampilkan sebagai "gerakan pembebasan".

  • Masyarakat Arab yang telah meninggalkan Israel pada tahun 1948-1949 dan tetap bertahan kamp-kamp pengungsi ditetapkan sebagai "warga Palestina." Demikian, Bangsa Palestina diciptakan. Anggota Dewan Eksekutif PLO Zuheir Mohsen pada tahun 1977 lantas mengatakan: "Bangsa Palestina tidak ada... Hanya karena alasan politis dan taktis kita berbicara hari ini tentang keberadaan Bangsa Palestina..."

  • Para pemimpin Otoritas Palestina, nyatanya tidak pernah berhenti memanfaatkan "perjuangan bersenjata", sebuah nama yang mereka berikan kepada terorisme serta pembunuhan terhadap warga Yahudi. "Agar semua skema Zionisme bisa menderita frustrasi" mereka membentuk bangsa Palestina; bahwa perjuangan mereka demi kemerdekaan negara" memberikan kepada mereka pengakuan internasional. Dengan menjuluki kembali terorisme dan pembunuhan warga Yahudi sebagai "perjuangan bersenjata" mereka membuat penggunaan terorisme dan pembunuhan bisa diterima. Dengan menandatangani Perjanjian Oslo, mereka bisa tampak tertarik untuk berdamai tanpa perlu mengecam terorisme. Mereka bahkan menjelek-jelekkan Israel dan memberinya gambaran sebagai negara biadab nan kejam sambil mereka terus saja membunuh warga Yahudi.

  • "Jika Anda melihat sejarah...yang mengakhiri konflik adalah satu pihak menyerah.... dan saat itu, perang berakhir. Selama Perang Dunia I [Jerman} dipaksa untuk menyerah...dan perhatikan berapa banyak mereka mendapatkan keuntungan dari penyerahan diri." --- Daniel Pipes, November 19, 2017.

  • Tidak ada presiden A.S. yang pernah mengatakan kepada para pemimpin Palestina bahwa mereka bohong. Atau menuntut mereka untuk berhenti menghasut pembunuhan dan membiayai terorisme. Tidak pernah ada Presiden A.S. yang pernah memutuskan untuk memotong dana untuk Otoritas Palestina asalkan terus memberi insentif pada terorisme. Presiden Trump melakukannya.

Perjanjian Oslo didasarkan pada ilusi bahwa PLO bisa sepenuhnya berubah mendadak menjadi "mitra damai."...Segera menjadi jelas bahwa Otoritas Palestina masih saja Organisasi Palestina Merdeka (PLO). Serangan teroris pun segera meningkat pesat. Uang diterima oleh Otoritas Palestina digunakan untuk melanjutkan aksi hasutan untuk membuntuh dan membayar guna memotivasi aksi itu. Gambar: Dari kiri ke kanan, Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin, Presiden AS Bill Clinton dan Pimpinan PLO Yasser Arafat saat menandatangani Perjanjian Oslo di Gedung Putih, Washington, DC, 13 September 1993. (Vince Musi/The White House/Wikimedia Commons).

Tanggal 7 Agustus 2019. Dvir Sorek, seorang siswa berusia 18 tahun ditikam sampai mati oleh dua teroris Arab. Ia baru saja pulang dari Yerusalem. Setelah membelikan beberapa buku untuk para rabbinya sebagai hadiah akhir tahun bagi para pengajarnya itu.

Pada saat upacara pemakamannya berlangsung, ketika ayahnya tengah menyampaikan pidato pujian atas putranya, penduduk Desa Arab Silwad, sekitar tiga km dari sana menyalakan kembang api. Mereka merayakan, mengelu-elukan pembunuhan itu.

Sorek jelas seorang remaja yang suka damai. Tak pernah dia melukai siapapun. Di antara buku-buku yang belikan bagi para rabbinya ada satu buku karya penulis sayap kiri Israel David Grossman. Buku itu mendukung perlunya untuk membangun sebuah Negara Palestina.

"Kesalahan" Sorek itu karena dia orang Yahudi

Lanjutkan Baca Artikel

Eropa: "Taksi Laut Mediterania" bagi Penyelundup Manusia

oleh Soeren Kern  •  9 September 2019

  • Penolakan kapten untuk menerima tawaran Spanyol memicu kecurigaan tentang motivasi finansial dan politik di balik penyelamatan migran. Termasuk upaya Open Arms dan LSM lain untuk mempromosikan pembukaan kawasan perbatasan negara dengan cara mendiskreditkan kebijakan imigrasi garis keras Salvini.

  • "Kami menghadapi ejekan yang kesekian dari LSM Open Arm Spanyol. Selama berhari-hari kapal LSM itu berkeliaran di Laut Mediterania untuk satu tujuan tunggal. Mengumpulkan sebanyak mungkin orang untuk selalu dan hanya membawa mereka menuju Italia. Selama ini mereka sudah bisa bolak-balik ke pelabuhan Spanyol tiga kali. LSM-LSM ini hanya politis. Mereka menggunakan imigran untuk melawan negara kami. Saya tidak akan menyerah."---Menteri Dalam Negeri Matteo Salvini.

  • "Open Arms tidak menyelamatkan penumpang kapal karam. Jika dia lakukan itu, maka ia bawa mereka menuju pelabuhan terdekat. Yang dilakukannya adalah memanfaatkan para migran itu sebagai alat pemerasan melawan negara-negara yang memilih mempertahankan kedaulatan mereka.

Menteri Dalam Negeri Italia Matteo Salvini menuduh berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Eropa bekerja sama dengan mafia penyelundup manusia menjemput para migran di lepas pantai Libya kemudian mengirimkan mereka ke berbagai pelabuhan Italia. Para pejabat Italia menyebutkan kapal-pakal amal penyelamat itu sebagai "taksi Mediteriania" bagi para penyelundup manusia. (Foto oleh Andreas Gebert/Getty Images).

Otoritas Italia menyita sebuah kapal penyelamat migran Spanyol setelah tiga pekan terlibat konflik yang berujung buntu dengan lembaga amal Spanyol yang mengoperasikan kapal.

Menteri Dalam Negeri Italia Matteo Salvini menolak mengijinkan kapal penyelamat Open Arms untuk mengangkut lebih dari 80 migran yang sebagian besar orang Afrika untuk naik dock di Italia. Penolakan itu searah dengan upayanya untuk menanggulangi penyelundupan migran yang efektif menutup pelabuhan Italia bagi kapal-kapal penyelamat migran sejak Juni 2018.

Salvini menuduh berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bekerja sama dengan mafia penyelundup manusia untuk menjemput para migran di laut lepas Libya. Para migran kemudian diangkut menuju pelabuhan-pelabuhan Italia. Para pejabat Italia lantas menamakan kapal-kapal penyelamat itu sebagai "taksi-taksi Laut Mediterania" bagi para penyelundup manusia.

Lanjutkan Baca Artikel

"Pembantaian Massal Murni": Penyiksaan Umat Kristen oleh Kaum Estremis, Juni 2018

oleh Raymond Ibrahim  •  25 Agustus 2019

  • Mayoritas 6.000 umat Kristen yang dibunuh tahun ini sebagian "besar adalah anak-anak, wanita dan lansia ...Yang sedang terjadi... di Nigeria murni genosida / pembantaian etnis yang harus dihentikan segera."---Asosiasi Kristen Nigeria.

  • "Tidak diragukan lagi bahwa berbagai serangan itu dimaksudkan untuk melancarkan pembasmian etnis, merampok tanah sekaligus menolak pribumi Kristen dari tanah dan warisan nenek moyang mereka." ---Asosiasi Kristen Nigeria.

  • "Secara realistis bisa dikatakan, Agama Kristen sudah berada di ambang musnah di Nigeria. Berkuasanya ideologi Shariah di negeri itu memberikan alarm angka kematian bagi Gereja Nigeria."---Asosiasi Kristen Nigeria.

  • "Hanya satu dalam 100 pengungsi Suriah yang diberi suaka di Inggris tahun silam adalah umat Kristen, padahal mereka mengalami "penyiksaan yang menyedihkan." --- Harian Express, Inggris.

Seorang pastor Katolik di Milk Groto di Betlehem (gambar) menderita luka-luka ringan, 1 Juni lalu ketika seorang laki-laki menghajarnya dengan apa yang tampaknya sebuah pisau. (Sumber gambar: Bashar Nayfeh/Wikimedia Commons).

Jihad terhadap umat Kristen Nigeria

Dalam apa yang disebut oleh Asosiasi Kristen Nigeria sebagai "pembantaian murni," sebanyak lebih dari 238 umat Kristen terbunuh dan berbagai gereja dinajiskan oleh kaum Muslim sepanjang Juni tahun ini. Ini mengakibatkan angka kematian umat Kristen mencapai lebih dari 6.000 orang antara Januari hingga Juni 2018 saja. Menurut sebuah pernyataan bersama oleh Asosiasi Kristen, sebuah kelompok yang melindungi berbagai denominasi Kristen, "Tidak diragukan lagi bahwa berbagai serangan itu bertujuan melakukan pembasmian etnis, merampok tanah sekaligus menolak pribumi Kristen dari tanah dan warisan nenek moyang mereka." Dalam salah satu serangan, "lebih 200 orang terbunuh secara brutal dan gereja-gereja kami dihancurkan. Badan-badan keamanan sama sekali tidak mau campur tangan meski ada permintaan penuh kesedihan disampaikan kepada mereka."

Lanjutkan Baca Artikel

Prancis Pelahan Tenggelam dalam Kekacauan

oleh Guy Millière  •  24 Agustus 2019

  • Presiden Macron tidak pernah mengatakan minta maaf kepada para korban demonstrasi yang menjadi buta atau kehilangan tangannya... akibat aksi polisi yang sangat brutal. Sebaliknya, ia meminta parlemen Prancis supaya mengesahkan sebuah undang-undang (UU) yang hampir sepenuhnya menghapus hak masyarakat untuk memprotes dan praduga tak bersalah yang memungkinkan penangkapan atas siapa saja, di mana saja. Bahkan tanpa alasan sekalipun. Dan undang-undang itu pun disahkan.

  • Juni lalu, Parlemen Prancis pun mengesahkan undang-undang lainnya yang menghukum siapa saja yang mengatakan atau menulis sesuatu yang mungkin mengandung "ujaran kebencian". Undang-undang itu sangat samar sehingga seorang sarjana hukum Amerika, Jonathan Turley pun merasa terpaksa harus bereaksi. "Perancis" tulisnya, "kini telah menjadi salah satu ancaman internasional terbesar terhadap kebebasan berbicara".

  • Yang menjadi perhatian utama Macron dan pemerintah Prancis tampaknya bukan risiko terjadinya kerusuhan, ketidakpuasan publik, hilangnya agama Kristen, situasi ekonomi yang menghancurkan, atau Islamisasi dan konsekuensinya. Sebaliknya, perhatian utamanya adalah perubahan iklim.

Presiden Macron tidak pernah mengatakan minta maaf kepada para korban demonstrasi yang menjadi buta atau kehilangan tangannya... akibat aksi polisi yang sangat brutal. Sebaliknya, ia meminta parlemen Prancis supaya mengesahkan sebuah undang-undang yang hampir sepenuhnya menghapus hak masyarakat untuk memprotes dan praduga tak bersalah yang memungkinkan penangkapan atas siapa saja, di mana saja. Bahkan tanpa alasan sekalipun. (Foto oleh Pool/Getty Images)

Paris, Champs-Élysées. Tanggal 14 July 2019. Hari Raya Penjara Bastille diserang (Basttile Day). Tepat sebelum parade militer dimulai, Presiden Emmanuel Macron datang ke jalan itu, ke Champs-Élysées. Dalam mobil resmi hendak menyambut massa masyarakat. Ribuan orang berkumpul sekitar jalan itu berteriak, "Macron mundur," berikut cemooh, dan caci maki.

Pada akhir parade, beberapa puluh orang melepaskan balon kuning ke langit sambil membagi-bagikan selebaran berisikan tulisan "Pemakai jaket kuning tidak mati." Polisi pun lantas membubarkan mereka. Dengan cepat dan tegas. Beberapa saat kemudian, ratusan "Antifa" yang anarkis tiba. Mereka memasang penghalang keamanan di jalan membangun barikade. Kemudian mereka mulai membakar dan menghancurkan etalase beberapa toko. Polisi sulit menguasai situasi. Tetapi menjelang malam, setelah beberapa jam berlangsung, mereka menjaga situasi menjadi tenang.

Lanjutkan Baca Artikel

Geng Grooming Inggris: Bagian 1

oleh Denis MacEoin  •  11 Agustus 2019

  • Sejak tahun 2013, Jaksa Agung Inggris, Lord Morris dari Aberavon, pernah mengatakan di Majelis Tinggi bahwa 27 pasukan polisi kala itu tengah menyelidiki tidak kurang dari 54 terduga geng yang terlibat dalam grooming seksual terhadap anak-anak.

  • Tahun lalu, Shahid Javed Burki, mantan Menteri Keuangan Pakistan serta Wakil Presiden Bank Dunia berbicara lantang tentang perlakuan terhadap wanita di negaranya. Dikatakannya bahwa rendahnya status yang diberikan kepada wanita benar-benar sangat berdampak pada kehidupan sosial, demografis, pendidikan dan keuangan.

  • Persoalan ini, dalam sejumlah langkah, yang terefleksi di Inggris, para wanita Muslim (terutama keturunan Pakistan) dibatasi untuk berpartisipasi di lapangan kerja, dalam dunia pendidikan tinggi, bahkan untuk tahu Bahasa Inggris. ---persoalan yang diamati oleh Dame Louise Casey dalam tulisannya, "tinjauan pemerintah seputar peluang integrasi" yang diluncurkannya pada tahun 2016.

  • Membawa masuk perilaku ala Pakistan di Inggris, yang kerapkali ada dalam komunitas yang terpisah-pisah, hanya mengekalkan keyakinan bahwa wanita secara instrinsik lebih rendah daripada laki-laki dalam seluruh aspeknya.

Rotherham, Inggris, adalah kota pertama dengan geng-geng grooming seks berskala besar. Ia juga menjadi tempat terjadinya skandal kejahatan seksual terbesar terhadap anak di Inngris yang pernah terjadi. (Foto oleh Anthony Devlin/Getty Images)

Tanggal 24 Juli 2018. Menteri Dalam Negeri Inggris yang juga anggota parlemen yang konservatif, Sajid Javid menggemparkan Inggris umumnya dan masyarakat Pakistan di Inggris khususnya. Ia mengeluarkan perintah untuk melakukan penelitian tentang asal-usul etnis banyak gang grooming seks negeri itu yang melibatkan banyak "Orang Asia." Ditengarai, bertahun-tahun, sudah orang-orang itu menyandera gadis Inggris kulit putih untuk dimanfaatkan atau digilir demi tujuan seksual. Sebagian besar laki-laki itu, urai Javid, keturunan Pakistan. Karena itu, campur tangan sang menteri dalam negeri jadi signifikan.

Lanjutkan Baca Artikel

Sebulan Multikulturalisme di Inggris: Januari 2019

oleh Soeren Kern  •  10 Agustus 2019

  • Lebih dari 5.000 orang menandatangani petisi memboikot tisu toilet Marks and Spencer. Mereka menuduh tisu itu bertuliskan kata-kata berhuruf timbul dalam Bahasa Arab untuk Allah. Marks and Spencer, dalam sebuah pernyataan di Twitter pun membantah klaim itu: "Motif tisu toilet lidah buaya, yang sudah kami jual selama lebih dari lima tahun, dikategorikan sebagai daun lidah buaya. Dan kami juga sudah selidiki dan konfirmasi hal ini dengan kami pemasok."

  • Majelis Parlemen Dewan Eropa mendesak Inggris supaya mengesahkan persyaratan hukum bagi pasangan Muslim untuk mendaftarkan perkawinan sipil mereka sebelum atau pada saat yang sama dengan upacara keagamaan mereka, karena pernikahan Syariah saja "jelas mendiskriminasi perempuan dalam perceraian dan kasus warisan."

  • Harian The Guardian melaporkan bahwa ada ratusan, mungkin ribuan gadis muda di Inggris dipaksa menjalani apa yang disebut sebagai menyeterika payudara (breast ironing), sebuah praktek di Afrika ketika ibu dan nenek sang gadis menggunakan besi panas untuk berulang-ulang memijat seluruh payudara sang gadis. Tujuannya, untuk "merusak lapisan payudara" sehingga memperlambat pertumbuhan payudara itu sendiri. Sasarannya untuk menghentikan perhatian yang tidak diinginkan dari laki-laki.

Atas permintaan Menteri Dalam Negeri Inggris Sajid Javid, Angkatan Laut Kerajaan mengerahkan kapal patroli, Januari lalu menuju Terowongan Inggris (English Channel) untuk menghambat migran menyeberang. Foto: Javid (tengah) bertemu dengan staf Pasukan Perbatasan Inggris di atas kapal HMC Searcher, 2 Januari 2018 lalu di Dover, Inggris. (Foto oleh Gareth Fuller – WPA Pool/Getty Images).

1 Januari. Seorang laki-laki Somalia berusia 25 tahun menikam tiga orang --- termasuk seorang polisi–di Stasiun Kereta Api (KA) Manchester. Produser berita BBC Sam Clark yang tengah menunggu trem ketika serangan itu terjadi melaporkan: "Kata-kata persis dari laki-laki itu mengatakan, 'Selama kalian masih terus membom negara-negara lain, maka "taik" semacam ini akan terus terjadi.' Tersangka juga meneriakkan "Allahu Akbar!" ketika dia diborgol masuk ke dalam mobil polisi. Wakil Kepala Polisi Russ Jackson bagaimanapun mengatakan polisi "tetap memperlihatkan pikiran terbuka terkait dengan motivasi serangan ini." Tersangka akhirnya ditahan berdasarkan Undang-Undang Kesehatan Mental.

Lanjutkan Baca Artikel

"Saya Tidak Tahu Mengapa Mereka Serang Desa Kami": Penganiayaan atas Umat Kristen, Februari 2019

oleh Raymond Ibrahim  •  6 Agustus 2019

  • Hanya dalam dua pekan pertama Februari, "sedikitnya 10 insiden vandalisme serta upaya menajiskan Gereja-gereja Katolik dilaporkan terjadi di Prancis,"---Catholicherald.co.uk, 15 Februari 2019; Prancis.

  • "Serangannya begitu mengerikan sehingga ginjal Haroon terobek menjadi dua bagian" akibat tikaman tambah seorang aktivis setempat.... Setelah tergesa-gesa dilarikan ke rumah sakit, "para dokter dipaksa untuk membuang ginjalnya." Seperti biasa terjadi dalam kasus-kasus seperti itu, polisi beserta otoritas setempat malah berupaya menekan keluarga itu agar tidak menggugat para pemuda Muslim itu.... – Persecution.org; Internasional Christian Concern; 21 Februari 2019, Pakistan.

  • "Sekelompok penculik bertemu di masjid guna mendikusikan para korban potensial. Dari dekat mereka mengamati rumah-rumah Kristen, mengawasi apa saja yang sedang terjadi sana. Berdasarkan pengamatan itu, mereka menebarkan jaringan laba-laba sekitar [para gadis]...Saya ingat seorang gadis Kristen Koptik dari keluarga kaya kenamaan di Minya. Dia disandera oleh lima lelaki Muslim....Mereka menahannya di sebuah rumah, menelanjanginya kemudian memfilmkannya dalam keadaan telanjang. Dalam video, salah seorang penyandera juga telanjang. Mereka mengancam hendak mengedarkan video itu kepada masyarakat jika sang gadis tidak mau menikahnya....Para penyandera menerima banyak uang. Polisi bisa membantu mereka dalam berbagai cara yang berbeda. Ketika dilakukan, mereka mungkin juga menerima sebagian upah finansial yang dibayarkan kepada para penyandera oleh organisasi-organisasi yang melakukan Islamisasi."---Kesaksian "G", Persecution.org, 19 Februari 2019, Mesir.

Bulan Februari menyaksikan peningkatan yang sangat signifikan terhadap penganiayaan umat Kristen yang disetujui negara di Iran. Di Kota Rasht (lihat gambar),Sembilan umat Kristen ditangkap. Salah seorang dari mereka adalah seorang pastor yang menggantikan pendahulunya yang ditangkap, namun ternyata dia sendiri juga tertangkap 10 Feruari lalu ketika sedang memimpin ibadat di gereja. (Sumber foto:Ahmadrizo/Wikimedia Common).

Pembantaian Umat Kristen

Nigeria: Sejumlah serangan teror Islam yang fatal menyasar umat Kristen terjadi sepanjang Februari:

Lanjutkan Baca Artikel

UU Penodaan Agama Belakang Layar Inggris

oleh Soeren Kern  •  4 Agustus 2019

  • Perdebatan panjang berporoskan pada ---yang paling akhir--- seputar upaya Kelompok Parlemen Semua Partai (APPG) soal Muslim Inggris. Kelompok itu adalah sebuah badan lintas partai. Terdiri dari sekitar dua puluhan anggota parlemen dalam Parlemen Inggris, mereka ingin melembagakan defenisi Islamofobia secara rasial dibandingkan dengan istilah-istilah keagamaan.

  • Defenisi yang diusulkan tentu saja ditentang oleh banyak warga Inggris. Termasuk oleh kalangan Muslim Inggris. Mereka memperingatkan bahwa defenisi akan efektif membuat Islam tidak boleh diteliti dengan cermat dan dikritik secara sahih.

  • "Di sini kita melihat ada pertentangan antara dua cara melihat masyarakat yang sangat berbeda: antara individualisme dan kolektivisme yang sangat luas. Masyarakat kolektivis bertujuan agar penguasa menetapkan bagaimana individu harus berperilaku... Jadi orang-orang yang berkuasa memberikan aturan perilaku yang terperinci (detailed code) sehingga mengancam menjatuhkan hukuman kepada orang yang tidak patuh. Jadi, mereka tidak menerima kritik sebagai alat untuk saling belajar apalagi untuk meminta kekuasaan untuk bertanggung jawab."--- David Green, The Spectator.

Dalam satu perdebatan parlementer, 16 Mei 2019, Menteri Urusan Komunitas Inggris James Brokenshire (gambar) menolak defenisi resmi Islamofobia dari Kelompok Semua Partai Parlemen. Defenisi itu dilukiskan sebagai "Undang-Undang Penodaan Agama Pintu Belakang." Alasannya, defenisi itu terlalu kabut dan "berpotensi berdampak terhadap kebebasan berbicara." Dikatakannya bahwa defenisi itu tidak sesuatu dengan UU Kesamaan Derajat pada 2010 lalu. (Foto oleh Chris J. Ratchlife/Getty Images).

Beberapa hari pasca-Pemerintah Inggris menolak defenisi resmi tentang fobia terhadap Islam (Islamofobia) yang lebih disukai olehnya, Dewan Muslim Inggris (BMC), sebuah organisasi Islam terbesar di Inggris meminta Partai Konservatif yang berkuasa untuk secara resmi menyelidiki persoalan fobia terhadap Islam (Islamofobia).

Perdebatan pannjang berporoskan pada upaya Kelompok Parlemen dari Semua Partai (APPG) soal Muslim Inggris. Kelompok itu adalah sebuah badan (formation) lintas partai. Mereka terdiri dari sekitar dua puluhan anggota parlemen dalam Parlemen Inggris yang ingin melembagakan defenisi Islamofobia secara istilah rasial dibandingkan dengan istilah-istilah keagamaan.

Nopember 2018 silam, APPG mengeluarkan laporan. Judulnya "Islamophobia Defined," (Fobia Terhadap Islam Dirumuskan). Laporan itu mengusulkan defenisi satu kalimat Islamofobia sebagai berikut;

Lanjutkan Baca Artikel

Jerman: Sarang Mata-Mata Timur Tengah

oleh Soeren Kern  •  3 Agustus 2019

  • Dengan mempertimbangkan indikator penting keamanan dalam negeri di Jerman, laporan itu memberikan suatu gambaran yang suram. Sekaligus memunculkan pertanyaan tentang sikap pasif pemerintah yang jelas ketika berhadapan dengan meningkatnya ancaman... Sementara itu masih ada Millî Görüş, sebuah gerakan kaum Islam radikal yang terkait dengan Erdoğan. Dalam Bahasa Turki, organisasi itu berarti "Visi Nasional." Punya sekitar 10.000 anggota di Jerman. Ia menjadi kelompok Islam radikal terbesar kedua negeri itu. Gerakan Salafi menjadi kelompok Islam radikal terbesar Jerman. Millî Görüş sangat menentang integrasi umat Muslim dalam masyarakat Eropa:

  • "BfV menemukan bahwa semua organisasi Islam yang aktif di Jerman mempunyai ide anti-Semit dan menyebarluaskannya dengan berbagai cara. Gagasan-gagasan ini menjadi tantangan besar bagi koeksistensi damai yang toleran di Jerman."--- Laporan Tahunan Kantor Federal untuk Perlindungan Konstitusi (Bundesamt für Verfassungsschutz, BfV), 2019.

  • "Tujuan HAMAS adalah mendirikan sebuah negara Islam radikal di seluruh kawasan Palestina---juga melalui perjuangan senjata. Sebuah makalah tentang strategi yang ditulis pada 2017 mengatakan: 'Perlawanan terhadap pendudukan dengan segala cara merupakan hak sah yang dijamin oleh hukum ilahi. Pada intinya terletak perlawanan bersenjata.' Hamas memahami 'Palestina' sebagai kawasan antara Laut Mediterania dan Yordania, juga mencakup kawasan Negara Israel. Negara-negara Barat seperti Jerman dilihat oleh Hamas sebagai tempat pelarian yang aman tempat organisasi itu memusatkan perhatian untuk mengumpulkan sumbangan, merekrut para pendukung baru serta menyebarluaskan propagandanya."---Laporan Tahunan Kantor Federal untuk Perlindungan Konstitusi (Bundesamt für Verfassungsschutz, BfV), 2019.

Dinas-dinas intelijen luar negeri, khususnya dari Turki, Suriah dan Iran telah meningkatkan aktivitas mereka di Jerman selama 12 bulan silam, demikian dikatakan sebuah laporan yang disampaikan 27 Juni lalu oleh Menteri Dalam Negeri Jerman Horst Seehofer dan Thomas Haldenwang, Kepala Badan Intelijen domestic Jerman BfV. Gambar: Seehofer (kiri) dan Haldenwang (kanan) dalam sebuah konperensi pers, 18 Juni 2019 dengan Kepala Kantor Kejahatan Federal Holger Muench. (Foto oleh Michele Tantussi/Getty Images).

Dinas-dinas intelijen luar negeri, khususnya dari Turki, Suriah dan Iran meningkatkan aktivitas mereka di Jerman selama 12 bulan silam, demikian dikatakan badan intelijen domestik Jerman, Kantor Federal untuk Perlindungan Konstitusi (Bundesamt für Verfassungsschutz---BfV). Tidak saja berusaha mengejar para penentang negeri mereka di antara berbagai masyarakat diaspora mereka yang besar di Jerman, berbagai dinas intelijen luar negeri itu menyasar kepentingan Yahudi dan Israel di negeri itu.

Pada saat yang sama, Hizbullah, Hamas dan Ikhwanul Muslim tampaknya beroperasi bebas tanpa takut dihukum di Jerman. Sementara itu, menurut BfV, jumlah kaum Salafi di negeri itu sudah berkembang tiga kali lipat selama beberapa tahun terakhir dan kini mempunyai lebih dari 11.000 anggota. Secara keseluruhan BfV memperkirakan bahwa Jerman menjadi rumah bagi lebih dari 26.000 kaum Islam radikal, suatu angka yang tidak diketahui soal siapa yang menjadi ancaman serangan langsung.

Lanjutkan Baca Artikel

"Jarang Dilaporkan Media Lagi"
Penganiayaan Umat Kristen, Maret 2019

oleh Raymond Ibrahim  •  31 Juli 2019

  • Pada pada 2018 saja, terjadi 1.063 serangan atas gereja atau simbol Kristen (seperti salib, ikon dan patung) yang terdaftar di Prancis.

  • "Saya pergi melapor kepada polisi dengan 8 halaman kertas penuh ancaman...Polisi menasehati saya untuk menghapus foto-foto saya dari website saya...Aneh kan? Saya tidak salah. Mengapa saya perlu menyembunyikannya. Saya hidup di negara yang bebas." — cruxnow.com. 14 Maret, 2019; Belanda.

  • Seorang perempuan Iran pencari suaka secara sarkastik diberitahu dalam surat penolakannya. Katanya, "anda tegaskan dalam Catatan Wawancara Pengajuan Suaka (AIR) Anda bahwa Yesus itu penyelamatmu. Tetapi, kemudian anda katakan bahwa Dia tidak dapat menyelamatkan anda dari Rezim Iran. Oleh karena itu dianggap bahwa anda tidak yakin dengan iman anda dan keyakinan anda pada Yesus itu setengah hati. " --- Harian Daily Mail, 24 Maret 2019; Kerajaan Inggris

Minggu, 17 Maret 2019. Beberapa orang membakar Gereja St. Sulpice di Paris, segera setelah misa Minggu siang usai. Insiden-insiden seperti ini sudah luas terjadi di Prancis. Rata-rata dua gereja dinajiskan setiap hari. Gambar: Gereja St. Sulpice. (Foto oleh Pascal Le Segretain/Getty Images).

Tatkala persoalan sampai pada aksi kekerasan antarkaum Muslim dan non-Muslim, berita-berita Bulan Maret didominasi oleh pembantaian di Christchurch di Selandia Baru. Di sana, pada Jumad, 15 Maret 2019, seorang lelaki Australia membunuh 51 umat Muslim di dua masjid.

Lanjutkan Baca Artikel