Analisa dan Komentar Terbaru

"Terbakar Hingga Tak Bisa Dikenali:" Ekstremis Aniaya Umat Kristen, Agustus 2018

oleh Raymond Ibrahim  •  17 Februari 2019

  • "Undang-undang yang tidak dijalankan menyebabkan geng orang-orang yang berhaluan keras yang berada di atas hukum mendatangi kami."---Aktivis hak asasi manusia, World Watch Monitor, Mesir.

  • Sekelompak Muslim menghajar Vishal Masih, seorang pemuda Kristen berumur 18 tahun setelah korban berulangkali mengalahkan seorang remaja Muslim dalam pertandingan gulat." — Persecution, International Christian Concern, Pakistan.

  • "Kami tidak bisa saksikan anak-anak kami bergabung dengan 'gereja' kafir," urai seorang sheik lokal."— Morning Star News, Uganda.

  • Komoro: (Agama) Islam Sunni resmi diumumkan sebagai "agama negara." Sebuah kelompok cendekiawan radikal ultra-konservatif ...tengah mendorong negeri itu supaya menjalankan pandangan yang lebih ekstrim tentang hukum Islam (Shariah) di negeri itu dan terhadap umat Kristen."---World Watch Monitor, 3 Agustus 2018.

Pemerintah Turki membiarkan sekolah teologi Gereja Kristen Ortodoks (Halky Seminari) ditutup selama 47 tahun, ketika pihak Gereja Ortodoks menunggu supaya diijinkan untuk dibuka kembali. Namun, baru-baru ini, pihak berwenang Turki justru mengumumkan bahwa sebuah Pusat Pendidikan Islam akan didirikan tepat di sampaing bangunan Kristen yang ditutup itu. (Darwinek/Wikimedia Commons).

Umat Kristen Terbakar Hidup-Hidup dan Gereja Dibakar

Etiopia: Sekitar 15 imam Kristen tewas dibunuh dan 19 gereja dibakar selama aksi kerusuhan oleh umat Muslim meledak di kawasan timur Etiopia. Sedikitnya, empat dari lima belas imam itu dibakar hidup-hidup. Kawasan itu adalah pusat dari sebagian besar populasi Muslim negeri itu. Etiopia punya 33% populasi Muslim. "Ketegangan yang sama mendidih di bawah permukaan di berbagai bagian lain Oromnia," yang diperkirakan 50% populasinya Muslim, urai sebuah sumber lokal. "Kami bahkan pernah dengar tentang tempat-tempat di mana kaum Muslim meminta umat Kristen mengosongkan kawasan. Walau seruan itu diselubungkan sebagai persaingan etnis oleh beberapa media dan pengamat politik, pada dasarnya, aksi itu merupakan persoalan keagamaan."

Lanjutkan Baca Artikel

Perancis Terjun Bebas

oleh Guy Millière  •  16 Februari 2019

  • Jelaslah para pejabat itu memahami bahwa para teroris terlibat dalam perang panjang sehingga sulit menghentikannya. Mereka tampaknya menyerah. Tidak diragukan lagi, mereka sadar bahwa semakin banyak kaum muda Muslim Perancis tengah diradikalisasi. Bagaimanapun, tanggapannya, adalah dengan memperkuat institusi Muslim di Perancis.

  • Bagaimanapun, saat Macron bicara, salah satu utusan khususnya justru berada di Maroko, bertindak atas nama Perancis hendak menandatangani Pakta Global bagi Migrasi yang Aman, Tertib dan Teratur (Global Compact for Safe, Orderly and Regular Migration). Di dalamnya, imigrasi dirumuskan sebagai "menguntungkan" negara-negara penerima. Berdasarkan pakta itu, negara-negara penandatangan, berjanji hendak "memperkuat sistem pelayanan penyerahan migran yang inklusif.

  • Sekelompok pensiunan jenderal menanggapi situasi dengan menerbitkan surat terbuka. Mereka katakan bahwa penandatanganan Global Compact adalah langkah lebih lanjut menuju "diabaikannya kedaulatan nasional" lalu mencatat bahwa "80% populasi Perancis berpikir bahwa imigrasi harus dihentikan atau diatur secara drastis".

  • Pengarang Éric Zemmour melukiskan revolusi itu sebagai lahir dari "rasa putus asa masyarakat yang merasa terhina, terlupakan, terampas dari negara mereka akibat keputusan dari sebuah kasta masyarakat yang suka menghina orang."

Presiden Perancis Emmanuel Macron tampaknya berharap bahwa kelelahan menyebabkan para pemrotes "berjaket kuning" menyerah. Tetapi sayangnya, belum ada tanda-tanda itu. Sebaliknya, para "pemakai jaket kuning" tampak mendedikasikan diri untuk menumbangkan dia dari jabatannya. Foto: para pemrotes "berjaket kuning" yang tampil 15 Desember 2018 lalu di Paris, Perancis. (Foto oleh Veronique de Viguerie/Getty Images).

Strasbourg, Perancis. Pasar Natal. Tanggal 11 Desember 2019. Jam 8 malam. Sambil meneriakkan "Allahu Akbar" seorang laki-laki menembak orang-orang yang lewat, lalu melukai beberapa dari mereka dengan pisau. Dia membunuh tiga orang di tempat kejadian serta melukai puluhan orang lainnya. Beberapa terluka parah. Dua korbannya belakangan meninggal dunia akibat luka-luka mereka. Pembunuhnya berhasil meloloskan diri. Dan, dua hari kemudian, polisi menembaknya mati.

Polisi ternyata sudah tahu pelakunya. Tatkala para anggota Direktorat Jenderal Keamanan Internal beserta beberapa tentara mendatangi rumahnya beberapa jam sebelum penembakan, dia berhasil meloloskan diri. Walau tahu dia penganut Islam radikal bersenjata yang berbahaya dan siap beraksi, tidak ada pengawasan dilakukan di kawasan itu. Padahal, petugas keamanan tahu Pasar Natal sedang diselenggarakan dan agaknya bisa menjadi sasaran pelaku.

Lanjutkan Baca Artikel

Spanyol: Berlanjutnya Persoalan Jihad Catalonia

oleh Soeren Kern  •  6 Februari 2019

  • Polisi mengatakan bahwa para pejihad diketahui akan melakukan sedikitnya 369 perampokan dan pencurian di dalam dan sekitar Barselona. Selain pencurian, para anggota sel itu menunjang kehidupan mereka dengan menjual narkoba serta mendokumentasi kecurangan.

  • "Kecil sekali keraguan bahwa kawasan otonom Catalonia telah menjadi basis utama operasi kegiatan teroris. Pihak berwenang Spanyol memberitahu kami bahwa mereka takut dengan ancaman dari komunitas imigran ini karena rawan dengan radikalisme. Mereka punya sedikit sekali intelijen yang mampu menyusup masuk ke dalam berbagai kelompok itu." --- Surat kawat diplomatic Amerika.

  • "Pusat-pusat keagamaan Salafi yang terdeteksi di Catalonia mendukung pembacaan Al-Qur'an yang paling keras... Dan, pada saat yang sama, mereka juga menuntut umat Islam "disucikan" dari pengaruh asing. Campur tangan relijius ini berdampak. Para perempuan dituntut supaya berpakaian lebih konservatif. Juga melarang, terutama remaja perempuan, untuk tidak memasuki sekolah dengan siswa laki-laki. Ini mengandaikan ada pemisahan yang mendalam dengan nilai-nilai kebebasan individu yang dijamin oleh hukum Eropa."---Laporan intelijen yang bocor kepada suratkabar Catalan, La Vanguardia.

Polisi dai Kawasan Spanyol, Catalonia, baru-baru ini menangkap 18 anggota sebuah sel pejihad yang berencana melakukan penyerangan di Barselona. Insiden ini memunculkan perhatian baru terhadap persoalan berlanjutnya Islam radikal di Catalonia. Gambar: Polisi dan tenaga medis merawat para penyintas serangan teroris yang terluka akibat aksi Younes Abouyaaqoub di Barcelona, 17 Agustus 2017 lalu. Abouyaaqoub membunuh 15 orang sekaligus melukai 130 orang lainnya. (Foto oleh Nicolas Carvalho Ochoa/Getty Images).

Polisi Catalonia, di kawasan timur laut Spanyol, menangkap anggota sebuah sel pejihad. Mereka berencana melakukan serangan teror di Barselona. Ternyata, belakangan polisi membebaskan semuanya, kecuali tiga pejihad.

Penangkapan itu menarik perhatian baru terhadap berlarut-larutnya persoalan Islam radikal di Catalonia. Padahal, kawasan itu punya populasi perkapita Muslim terbesar di Eropa.

Keberadaan sel itu terungkap 15 Januari lalu. Ketika itu, lebih dari seratus polisi menggeledah lima bangunan di Barselona dan Igualada, sebuah kota kecil di Catalan. Sel itu terdiri dari orang-orang Aljazair, Mesir, Irak, Libanon, Libya dan Maroko.

Penangkapan menjadi bagian dari setahun upaya penyelidikan kontra-terorisme. Namanya, "Operasi Alexandra." Peluncurannya dilakukan Mei 2017 silam. Tindakan itu diambil setelah polisi menerima kabar rahasia bahwa para pejihad setempat tengah mempersiapkan serangan.

Lanjutkan Baca Artikel

Jerman: UU Baru yang Larang Perkawinan Anak Dinyatakan Tidak Konstitusional

oleh Soeren Kern  •  3 Februari 2019

  • Keputusan itu menjadi salah satu dari meningkatnya contoh ketika pengadilan Jerman, --- sengaja atau tidak sengaja --- mempromosikan pembentukan sistem hukum Islam yang parallel di negeri itu. Dengan demikian, dia efektif membuka pintu untuk melegalisasi perkawinan anak-anak berbasis Shariah di Jerman.

  • "Pada satu pihak Jerman tidak bisa menentang perkawinan anak-anak pada tingkat internasional dan pada pihak lain, ada perkawinan seperti itu di negeri kita sendiri. Kepentingan terbaik anak-anak tidak bisa dikompromikan dalam kasus ini. (...) Ini soal perlindungan anak-anak dan orang-orang yang belum dewasa (minors) yang ditetapkan secara konstitusional." ---Winfried Bausback, anggota parlemen Bavaria yang membantu membuat rancangan undang-undang menentang perkawinan anak-anak.

  • "Harus kita pertimbangkan satu hal lagi: keputusan dibuat 'atas nama rakyat.' Dan, orang-orang ini sudah jelas menyatakannya melalui para wakilnya di Bundestag bahwa mereka tidak ingin lagi mengakui pernikahan anak."---Pengamat politik Andreas von Delhaes-Guenther.

Pengadilan Federal (Bundesgerichtshof), pengadilan tertinggi Jerman menetapkan bahwa sebuah undang-undang baru yang melarang perkawinan anak tidak konsitusional. Alasannya, karena semua perkawinan, termasuk perkawinan anak-anak berbasis Hukum Shariah dilindungi oleh Hukum Utama Jerman. Foto: Gedung Bundesgerichtshof di Karlsruhe, Jerman. (Sumber foto: Andreas Praefcke/Wikimedia Commons)

Pengadilan Jerman (Bundesgerichtshof, BGH), Pengadilan tertinggi Jerman untuk jurisdiksi sipil kejahatan telah mengeluarkan ketetapan baru. Berdasarkan ketetapan baru itu, undang-undang yang selama ini membatasi perkawinan anak-anak dinyatakan tidak konstitusional karena semua perkawinan, termasuk perkawinan berbasis Hukum Shariah dilindungi oleh Undang-Undang Utama Jerman (Germany's Basic Law/Grundgesetz).

Keputusan itu menjadi salah satu dari meningkatnya contoh ketika pengadilan Jerman, --- sengaja atau tidak sengaja --- mempromosikan pembentukan sistem hukum Islam yang parallel di negeri itu. Dengan demikian, dia bakal efektif membuka pintu untuk melegalisasi perkawinan anak-anak berbasis Shariah di Jerman.

Lanjutkan Baca Artikel

Italia Bangun Poros Anti-Uni Eropa

oleh Soeren Kern  •  24 Januari 2019

  • "Hari ini mengawali perjalanan yang berlanjut selama bulan-bulan mendatang bagi sebuah Eropa yang beragam untuk melakukan perubahan atas Komisi Eropa, kebijakan-kebijakan Eropa yang ditempatkan dalam pusat hak untuk hidup, bekerja, kesehatan, keselamatan, yang disangkal oleh semua kaum elit Eropa, yang didanai oleh [milioner dermawan Hongaria George] Soros yang direpresentasikan oleh Macron..." Matteo Salvini, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Dalam Negeri Italia.

  • "Presiden Macron dan Ny. Merkel sama-sama mengungkapkan frustrasi mereka akibat bangkitnya populisme dan nasionalisme, juga sikap Eropa yang ragu ketika menghadapi masalah seperti perubahan iklim dan massa migrasi ..." The Times.

  • "Hanya ada hal pasti yang saya yakini soal Pemilu Eropa. Yaitu bahwa kaum sosialis dan komunis bakal selalu lebih kurang di Brussels. Soalnya, mereka sudah cukup banyak merusak..." — Matteo Salvini.

Selama kunjungannya ke Warsawa, 9 Januari lalu, Menteri Dalam Negeri Italia, Matteo Salvini mengatakan bahwa kaum populis Italia dan Polandia harus memantik adanya "Musim Semi Eropa" lalu memaksakan terbentuknya "keseimbangan baru" untuk menggantikan pengaruh Jerman dan Perancis dalam Parlemen Eropa. Gambar: Salvini bertemu Menteri Dalam Negeri Polandia Joachim Brudziński di Warsawa, 9 Januari lalu (Sumber foto: halaman Facebook Matteo Salvini).

Menteri Dalam Negeri Italia Matteo Salvini kini memimpin upaya untuk membangun aliansi pan-Eropa yang populis yang menentang pemerintah pro-Eropa demi masa depan Uni Eropa. Tujuannya, supaya bisa merebut kembali kedaulatan negara dari para birokrat Brussels yang tidak dipilih lewat Pemilu kemudian mengembalikan kekuasaan kunci Uni Eropa kepada ibukota negara-negara.

Jerman dan Perancis, yang mengangkat diri sebagai wali integrasi Eropa pun menanggapinya. Rencana tandingan ambisius pun mereka luncurkan. Caranya, dengan membuat Uni Eropa, sebagai sebuah "kekuasaan yang lebih tegas di panggung dunia."

Pertikaian ini mengancam Uni Eropa. Antara kaum nasional yang menentang Eropa untuk maju (Eurosceptic) dan kaum globalis pecinta Eropa (Europhile globalists). Dengan demikian, dia memanaskan suasana pekan dan bulan mendatang, sebelum Pemilu Parlemen Eropa berlangsung penghujung Mei 2019 nanti.

Lanjutkan Baca Artikel

"Erdogate" : Megabintang Jerman Keturunan Turki

oleh Stefan Frank  •  13 Januari 2019

  • Dua pemain sepakbola tim nasional Jerman keturunan Turki berfoto bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Keduanya juga memberikan kaos klub mereka yang sudah ditandatangani sebagai hadiah bagi sang presiden. Salah satu kaos bertuliskan pesan (berbahasa Turki): "Dengan hormat kepada presidenku. Sahabatmu yang setia."

  • Pasca-jajak pendapat (exit poll) pertama, ribuan orang Turki di kota-kota Jerman turun ke jalan-jalan. Mereka membunyikan klakson mobil sambil melambaikan bendera Turki dan AKP, merayakan kemenangan pemilihan Erdogan sampai tengah malam.

  • "Kapankah kalian akhirnya sadar bahwa persyaratan terpenting bagi integrasi bukanlah bahasa dan mobilitas ke atas tetapi ikatan emosional serta upaya untuk mengidentifikasi diri dengan negara tempat seseorang berdiam?"--- Hamed Abdel-Samad, cendekiawan politik Jerman keturunan Mesir.

Ilkay Gündoğan, yang bermain untuk tim sepakbola nasional Jerman selama Piala Dunia tahun ini berfoto bersama dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan beberapa saat menjelang turnamen. Ia pun menghadiahkan kaos yang ditandatanganinya kepada Erdogan, dengan pesan berbahasa Turki: "Dengan penuh hormat kepada presidenku. Sahabatmu yang setia." Padahal, Gündoğan hanya punya kewarganegaraan Jerman. (Foto oleh Dean Mouhtaropoulos/Getty Images).

Musim panas ini, publik Jerman mulai tersadar. Bahwa ada ratusan ribu warga Jerman keturunan Turki menghormati Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai pemimpin mereka, bukan Kanselir Jerman Angela Merkel.

Lanjutkan Baca Artikel

Sebulan Multikulturalisme di Inggris: Oktober 2018

oleh Soeren Kern  •  8 Januari 2019

  • Ada 140 kasus baru sunat perempuan (female genital mutilation---FGM) di Birmingham antara April - Juni 2018.

  • "Masih ada persoalan besar dengan para professional yang melihat perkawinan paksa sebagai isu budaya ketimbang sebagai suatu kejahatan. Banyak pihak bahkan tidak sadar bahwa ada undang-undang tentang masalah itu."--- Jasvinder Sanghera ketika menyerang kegagalan pemerintah menangani persoalan kawin paksa.

  • Menteri Kehakiman memblokir rencana untuk melakukan kajian akademis atas persoalan mengapa para narapidana beralih menganut Islam dan bagaimana ia bisa mengarah kepada radikalisasi. "Mereka memang peduli dengan soal apakah yang akan ditemukan oleh proyek usalan ini," urai sebuah sumber.

Sebuah surat yang bocor memperlihatkan bahwa Menteri Dalam Negeri Inggris, Sajid Javid sepakat menyerahkan bukti seputar dua pejihad Inggris kepada pihak berwenang Amerika untuk diadili di pengadilan federal, tetapi tidak ada jaminan bahwa hukuman mati tidak digunakan dalam kasus ini. (Foto oleh Jack Taylor/Getty Images)

1 Oktober. Orang-orang yang disebut sebagai dukun sunat (cutters) diterbangkan ke Inggris untuk menyunat para gadis muda (female-genital mutilation---FGM), demikian dikatakan Harian The Independent. Komunitas yang mempraktekkan sunat perempuan sudah membahas bersama persoalan itu. Dikatakan, "Anak gadisku perlu disunat' sehingga membayar dukun sunat untuk datang ke Inggris supaya bisa menyunat para gadis di sini," urai Hoda Ali, seorang aktivis FGM yang bekerja di West London. Ditambahkannya: "Kenyataannya, kita perlu buka mata. Tidak perlu kita berpikir hanya soal negara-negara yang jauh, karena sekarang, kita punya gadis-gadis yang berusia akhir atau bahkan awal 20-an tahun yang disunat di negeri ini. Mereka gadis Inggris, yang terlahir di sini dan disunat di sini."

Lanjutkan Baca Artikel

Prancis Hancur, Tidak Pantasnya Macron

oleh Guy Millière  •  23 Desember 2018

  • "Orang Prancis katakan, 'Tuan Presiden, kami tidak dapat memenuhi kebutuhan kami.' Dan, presiden lalu menjawab, 'kita akan membentuk Dewan Tinggi [untuk iklim ] 'Bisakah Anda bayangkan tidak nyambung jawabannya "---Laurence Saillet, jurubicara parai moderat kanan, Partai Republicans, 27 Nopember 2018.

  • "Kaum jaket kuning" [para pemrotes] kini meraih dukungan 77% populasi Perancis. Mereka menuntut Macron mengundurkan diri serta dilakukan perubahan pemerintahan segera.

  • Gerakan itu kini menjadi revolusi yang dilancarkan oleh jutaan orang yang merasa sesak napasnya karena pajak "jarahan" ("confiscatory" taxation) yang tidak ingin "terus membayar bagi sebuah pemerintahan yang tampaknya "tidak mampu membatasi pengeluarannya." Jean-Yves Camus, cendekiawan politik.

Mei lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengingatkan bahwa di banyak pinggiran kota, Prancis, "sudah kalah bertarung melawan perdagangan narkoba." (Getty Images)

Pemilu di berbagai negara Eropa direncanakan bakal diselenggarakan museim semi 2019 ini. Berbagai polling memperlihatkan bahwa Partai Rali Nasional pimpinan Le Pen bakal memimpin, jauh di depan partai La République En Marche! [Republik sedang Bergerak!] bentukan Macron.

Tanggal 11 Nopember 2018. Presiden Prancis Emmanuel Macron merayakan 100 tahun berakhirnya Perang Dunia I. Dia mengundang 70 kepala negara guna mempersiapkan ""Forum Perdamaian" yang mahal, tetapi tidak berguna serta bombastis tidak mengarah ke mana-mana. Presiden AS Donald Trump juga dia undang, kemudian memilih memaki-makinya. Dalam pidatonya yang bombastis, Macron, menyerukan soal "patriotisme", lalu anehnya mengartikannya, sebagai "lawan yang tepat bagi nasionalisme. Kemudian ia mengatakan komitmen Trump sebagai "pengkhianatan". Pernyataan itu rupanya karena, dia tahu bahwa beberapa hari sebelumnya Trump menyebut dirinya sebagai nationalis yang berkomitmen membela Amerika.

Lanjutkan Baca Artikel

"Kami Lebih Besar dari Yesusmu!"
Penyiksaan Umat Kristen oleh Ekstremis, Maret 2018

oleh Raymond Ibrahim  •  12 Nopember 2018

  • Supaya upaya perdamaian antara warga Muslim dan Kristen berhasil, maka tidak boleh ada gereja di desa itu, urai seorang warga Muslim setempat. "Satu-satunya rumah ibadat yang bisa senantiasa dibangun di desa ini adalah rumah ibadat Muslim untuk Allah."---Watan International, Mesir.

  • "Al-Shabaab kini memburu anak-anak di Mogadishu. Pusat perawatan pun sudah kami pindahkan ke tempat yang sedikit lebih aman...Anak-anak terlihat sangat menderita dan kurang gizi. Karena itu, sebagai gereja rahasia, kami memohon kepada saudara dan saudari kami di dunia bebas untuk mempertimbangkan mengulurkan tangan kepada anak-anak yang dianiaya ini."---Pastor gereja bawah tanah, Somalia.

  • "Tampaknya warga Muslim itu berniat mau berantam dengan kami."---Pastor Gereja Kristus Raja, Pakistan.

Tanggal 26 Maret 2018. Staf medis dan petugas keamanan Services Hospital, Lahore, Pakistan memukul sampai mati seorang ayah Kristen dengan empat anak dan melukai lima anggota keluarganya, termasuk seorang saudari mereka yang sedang hamil yang ditemaninya karena dia kesakitan. Gambar: Kondisi Bagian Operasi Services Hospital, pada tahun 2014 lalu.(Sumber foto: (Image Source: Baitaal/Wikimedia Commons)

Muslim Membantai Umat Kristen

Pakistan: Di sebuah rumah sakit di Lahore. Segerombolan dokter, petugas keamanan, staf medis yang kebetulan Muslim menghajar para anggota sebuah keluarga Kristen sehingga satu anggota keluarga itu tewas. Insiden maut itu terjadi karena para korban berusaha mencegah dokter lain memukul saudari mereka yang hamil. Menurut Anil Saleem, saudara laki-laki sang ibu hamil, suatu ketika, mereka membawanya ke bangsal sakit darurat Services Hospital:

"Kiran [wanita hamil itu] pergi mau memeriksakan diri pada dokter jaga, Dr. Saira, yang kala itu tengah bermain telepon genggamnya sambil minum teh. Dr. Saira meminta Kiran menunggu di luar bangsal sampai dia selesai minum teh. Kami menunggu beberapa saat. Tetapi karena sangat kesakitan, Kiran pun kembali masuk bangsa meminta supaya segera ditangani."

Lanjutkan Baca Artikel

Penyiksaan atas Umat Kristen Mesir

oleh Salim Mansur  •  5 Nopember 2018

  • Aksi kekerasan dan hasutan untuk melakukan kekerasan di bawah pimpinan umat Muslim Mesir atas umat Koptik ---khususnya berbagai kampanye sektarian yang diorganisasikan oleh Persaudaraan Muslim dan berbagai kelompok terkait --- merupakan kejahatan atas kemanusiaan dan seharusnya diperlakukan sedemikian rupa oleh komunitas internasional.

  • Kita sadari bahwa beberapa tetes jeruk lemon akan membekukan seluruh mangkuk susu. Umat Muslim Mesir, seperti banyak umat Muslim di manapun telah menumpahkan racun ke dalam seluruh Sungai Nil---karena sikap fanatik dan kekerasan mereka ---dalam tradisi iman mereka. Kita umat Muslim telah menjatuhkan martabat budaya kita dengan sikap otoriter dan kecenderungan yang keras kepala untuk mengecam pihak lain karena kegagalan kita sendiri. Kita dengan demikian, menyesatkan Islam yang sebenarnya yang kita yakini merupakan wahyu yang terakhir.

  • Berdasarkan pengalaman, umat Muslim Mesir dan di manapun di dunia ini sadari sejauh mana kekuasaan Barat praktis sudah mengkhianati apa yang mereka tegaskan dalam teori ketika sampai pada persoalan mau mendukung bangsa-bangsa yang menderita di bawah rejim-rejim otoriter.

  • Kebijakan tegas pasti yang diharapkan dari Barat untuk membela serta mengamankan hak asasi manusia bagi setiap orang, khususnya kaum minoritas, di negara-negara mayoritas Muslim, begitu terlambat...[seperti dalam] Perjanjian Helsinki tahun 1975.

Presiden Mesir, Abdel Fattah el-Sisi, menyampaikan pidato bersejarah kepada para cendekiawan dan ulama Islam kenamaan di Universitas Al-Azhar di Kairo, 28 Desember, 2014. (Sumber foto: MEMRI)

Sudah kita saksikan dengan penuh kesedihan berbagai film pemenggalan kepala umat Kristen Koptik oleh ISIS tahun 2015 di Libya mengerikan. Juga kita saksikan dengan sedih, pemboman berulang-ulang selama lebih dari dua dekade silam atas berbagai gereja Koptik di Mesir. Kita baca juga kisah Pembantaian Maspero tahun 2011. Kala itu, tank militer Mesir disebarluaskan guna melindungi demonstrasi damai yang dilancarkan umat Kristen, justru berbalik melindas mereka, meremukan banyak demonstran hingga tewas. Dan kita pun masih saja terus menerima berbagai laporan seputar penculikan para gadis Koptik, yang dipaksa beralih menganut Islam serta dipaksa menikah dengan orang Muslim.

Lanjutkan Baca Artikel

Cara Palestina Menipu Masyarakat Eropa

oleh Bassam Tawil  •  3 Nopember 2018

(Sumber foto: UN/Cia Pak)

Otoritas Palestina (PA) mengaku pihaknya menginginkan komunitas internasional menekan Israel supaya "menghentikan pelanggaran yang dilakukannya terhadap masyarakat Palestina serta hukum internasional." Tuntuan ini disampaikan kepada para anggota delegasi Parlemen Eropa yang bertemu 8 Oktober lalu di Ramallah bersama Perdana Menteri PA Rami Hamdallah. Pada pertemuan itu, Hamdallah juga menegaskan kembali permintaan PA untuk memberikan "perlindungan internasional" bagi masyarakat Palestina.

Permohonan Hamdallah kepada para wakil Parlemen Eropa harus dilihat dalam konteks kampanye penuh kebohongan beserta aksi penghasutan yang terus pemimpin PA lakukan atas Israel. Dengan demikian, seruan itu bernada munafik sekaligus menipu.

Lanjutkan Baca Artikel

Biaya Maut "Perang Oslo"

oleh Guy Millière  •  23 Oktober 2018

  • (Perjanjian) Oslo sudah 25 tahun lewat. Dan sekarang ini, seperti sejarahwan Efraim Karsh pernah katakan pada tahun 2003, neracanya lebih sebagai dimulainya "Perang Oslo." Dalam perang ini, dia menulis, Israel sejak awal sudah menyerahkan kemenangannya yang besar atas musuh-musuh terburuknya dengan memberi mereka kehormatan yang tidak pantas mereka terima. Dengan demikian, Israel menempatkan diri pada posisi kalah yang tidak pernah sepenuhnya pulih.

  • "Berbeda dari slogan Rabin (baca: almarhum mantan Perdana Menteri Israel), orang tidak membangun [perdamaian] dengan para musuh yang punya reputasi sangat buruk, tetapi lebih suka dengan bekas-bekas musuh yang punya reputasi yang sangat buruk. Yaitu, para musuh yang sudah dikalahkan...Catatan sejarah memperlihatkan, perang berakhir, bukan lewat niat baik tetapi lewat kekalahan. Dia yang tidak menang, kalah. Perang senantiasa berakhir ketika kegagalan menyebabkan satu pihak putus asa, ketika pihak itu meninggalkan perangnya kemudian menerima kekalahan. Juga ketika kekalahan mengurasi tuntas keinginannya untuk berperang. Sebaliknya, selama dua pihak yang bertempur masih berharap untuk mencapai sasaran perang mereka, maka perang bisa saja terus berlangsung atau berpotensi kembali mulai."---Daniel Pipes, Commentary, Januari 2017

  • "Bangsa Palestina itu tidak ada. Penciptaan negara Palestina hanya sebagai sarana untuk melanjutkan perjuangan kami melawan negara Israel demi persatuan Arab kami. Kenyataannya, saat ini tidak ada perbedaan antara rakyat Yordania, Palestina, Suriah dan Libanon. Hanya untuk alasan politik dan taktis kami sekarang berbicara tentang Bangsa Palestina. Soalnya, kepentingan nasional Bangsa Arab menuntut kami membuatnya sebagai fakta (posit) keberadaan Bangsa Palestina yang berbeda dan nyata supaya bisa menentang Zionisme."---Pemimpin PLO Zuheir Mohsen, dalam wawancara dengan Harian Trouw (Belanda), Maret 1977.

Tanggal 13 September 1993: P.M. Israel Yitzhak Rabin berjabatan tangan dengan Ketua PLO Yasser Arafat, disaksikan oleh President AS Bill Clinton, saat penandatanganan Perjanjian Oslo. (Sumber foto: Vince Musi / The White House)

Tanggal 13 September 1993. Yitzhak Rabin dan Yasser Arafat berjabat tangan di halaman berumput Gedung Putih. Mereka baru saja resmi menandatangani dokumen yang dianggap bakal memulai Perdamaian: Perjanjian Oslo. Dan, roda penggerak mesin ini pun mulai bekerja.

Hanya dalam semalam, Yasser Arafat tidak lagi pemimpin sebuah organisasi teroris yang kalah. Mendadak dia menjadi Presiden sebuah kwasi-negara; Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pimpinannya sudah berubah menjadi "Otoritas Palestina."

Serangan teror atas warga Israel selama "perdamaian" ini pun menjadi lebih berdarah-darah, besar-besaran serta segera menjadi gebrakan yang gila-gilaan. Beberapa aksi sengaja menyasar anak-anak beserta kaum muda, Seperti pembantaian di Diskotik Dolphinarium dan aksi bunuh diri di Restoran Sbarro misalnya. Menariknya, Arafat, tidak mengecam satu pun dari kedua tragedi itu.

Lanjutkan Baca Artikel

Pengungsi Palestina: Trump Periksa Kenyataannya

oleh Ruthie Blum  •  8 Oktober 2018

  • "Mereka tidak perlu lakukan hal-hal yang bakal menimbulkan damai...itu sangat politis..."--- Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley.

  • "Alih-alih menyelesaikan persoalan, UNRWA melakukan apa saja sesuai dengan kekuasaannya untuk membuatnya menjadi abadi. Alih-alih menciptakan perdamaian dan eksistensi bersama, ia mengajarkan kebencian dan penghasutan. Alih-alih memerangi organisasi-organisasi teroris, ia bekerja sama dengan mereka..." --- Ron Prosor, Mantan Duta Besar Israel untuk PBB.

  • "Tanggung jawab terhadap warga Palestina serta anggaran UNRWA bisa diserahkan kepada Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), lembaga yang mengurus para pengungsi dunia lainnya. Dan, tidak seperti UNRWA, UNDP bekerja menuju penyelesaian persoalan pengungsi, bukannya membuatnya menjadi abadi."---Ron Prosor.

Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley. (Foto oleh Kena Betancur/Getty Images)

Rencana Pemerintahan Trump yang dilaporkan berniat mengubah kebijakan AS seputar isu pengungsi Palestina, sudah sangat terlambat. Awalnya, menurut laporan berbagai media, kebijakan baru---yang direncanakan akan diungkap awal September ini berbasiskan informasi rahasia bermeterai dari Departemen Luar Negeri AS, --- akan mengurangi jumlah warga Palestina yang ditetapkan sebagai pengungsi oleh PBB. Dari lima juta pengungsi menjadi 500,000 pengungsi. Dengan demikian, Pemerintahan Trump menolak angka-angka yang diklaim oleh Badan Pemulihan dan Karya PBB di Timur Dekat (UNRWA). Angka-angka dari PBB memasukkan para keturunan (bukan hanya anak-anak tetapi cucu dan cicit) para pengungsi dari seluruh dunia yang sudah tidak pernah menginjakkan kaki di Israel, Jalur Gaza atau Otoritas Palestina. Rencana baru bakal juga mencakup penolakan terhadap apa yang disebut sebagai "hak untuk kembali (right of return) ke Israel dari para pengungsi beserta para keturunan mereka.

Lanjutkan Baca Artikel

Alasan Rahasia Warga Arab Tolak UU Negara-Bangsa Yahudi

oleh Bassam Tawil  •  22 September 2018

  • Beberapa pemimpin Arab Israel berbicara meremehkan Israel demi publisitas. Mereka tahu tidak ada suratkabar bakal pernah menyebutkan nama mereka jika mereka berurusan dengan isu-isu seperti soal saluran pembuangan air atau tentang kurangnya ruang kelas di berbagai sekolah Arab. Bagaimanapun, jika mereka katakan sesuatu yang jelek tentang Israel atau memprovokasi orang-orang Yahudi, mereka pasti akan dijadikan headline, berita utama di pers.

  • Para pemimpin Arab Israel bisa saja menghasut menentang Israel sebanyak-banyaknya yang mereka dambakan. Umpatan mereka tidak bakal mengubah kenyataan bahwa Israel adalah satu-satu negara demokrasi yang sedang bertumbuh subur di Timur Tengah yang memperlakukan kaum minoritasnya secara terhormat. Ketika kaum minoritas dianiaya dan dibunuh di Suriah, Libanon, Mesir, Irak, Libya dan negara-negara Arab Islam lain, warga Arab Israel berintegrasi dalam negara. Mereka menikmati posisi tinggi dalam Mahkamah Agung, Menteri Luar Negeri, sektor kesehatan bahkan Kepolisian Israel.

  • Mayoritas warga Arab di Irael terus saja terjadi pagi hari dan melanjutkan hidup mereka. Mereka bisa saja bekerja di mana saja yang mereka inginkan, bisa bepergian ke manapun di negeri itu dan akan terus menikmati semua privilese, keuntungan serta kebebasan yang diperoleh warga Yahudi.

  • Beberapa pemimpin warga Arab Israel Israel melepaskan dambaannya untuk menjadi tanah tumpah darah Yahudi. Mereka berharap bahwa satu hari orang-orang Yahudi bakal menjadi minoritas di negeri mereka sendiri. Karena sudah begitu lama, para pemimpin itu menghasut konstituen mereka menentang Israel serta warga Israel. Jika para pemimpin ini begitu tidak bahagia di Israel, barangkali mereka seharusnya mempertimbangkan untuk berpindah ke Ramallah atau Jalur Gaza atau negara Arab manapun. Barangkali, mereka bakal senang mengundurkan diri dari Knesset. Mengapa mereka menahan diri untuk melakukan demikian? Karena di tanah tumpah darah Yahudilah yang diandaikan begitu merugikan mereka, mereka dan anak-anak mereka bisa hidup dan berkembang maju.

Zouheir Bahloul, seorang warga Arab anggota Knesset, adalah warga Arab Israel yang berhak mengeluh soal diskriminasi. Selama beberapa dekade, dia adalah satu dari wartawan olahraga Israel paling populer yang dipuja-puji oleh warga Arab dan Yahudi. Dia senantiasa menikmati kehidupan nyaman menyenangkan di Israel, sebuah kehidupan yang tidak diimpikan untuk dialami di negara Arab manapun. (Foto: Knesset Spokesperson)

Sikap munafik para pemimpin warga Arab Israel mencapai puncak baru. Itu terlihat ketika mereka memprotes keras UU Negara-Bangsa Yahudi (Jewish Nation-State Law), selama beberapa hari lewat.

Inilah para pemimpin yang sama yang kata dan tindakan selama dua dekade silam telah menyebabkan hubungan antarwarga Yahudi dan Arab di Israel rusak serius. Juga merusak serius kepentingan konstituen mereka sendiri, yaitu warga Arab Israel.

Para pemimpin Arab Israel, khususnya para anggota Knesset mengaku marah bukan karena undang-undang tersebut menetapkan Israel sebagai tanah tumpah darah Bangsa Yahudi tetapi juga karena legislasi baru tidak memasukan kata-kata tentang persamaan hak yang sama bagi seluruh warga negara.

Lanjutkan Baca Artikel

Martabat Luhur Palestina

oleh Denis MacEoin  •  16 Agustus 2018

  • Mengingat bahwa semua pemimpin Palestina menyerukan adanya Negara Palestina yang bakal mencakup sekaligus melenyapkan Negara Israel, maka tidaklah mengherankan bahwa mereka tidak bisa menerima usulan yang hanya memberi mereka, satu negara kecil (atau dua negara kecil) di wilayah itu yang dialokasikan kepada mereka oleh PBBtahun 1947.

  • Penerapan kembali hukum wakaf Islami tidak bakal memulihkan kembali Spanyol, Portugal, Sisila, India, Yunani dan semua negara-negara lain dari kekaisaran kekalifahan yang ditinggalkan supaya bisa dikuasai Muslim. Sia-sia juga memikirkan apapun yang lebih sebagai sebuah khayalan.

  • Laporan AS baru-baru ini mengungkapkan, tampaknya ada hanya sekitar 20,000 pengungsi Palestina di seluruh dunia.

  • Akhirnya, aktivis- aktivis yang disebut pro-Palestina seperti Robert Fisk atau para penulis harian seperti The Independent, The Guardian, atau New York Times yang mati-matian membujuk dunia untuk mendukung sikap keras kepala Palestina untuk menolak tawaran untuk meningkatkan hidup mereka sekaligus hukum internasional

Foto: Presiden Mesir Anwar Sadar (kiri) bersama PM Israel Me Menachem Begin (kanan) menyambut gembira tepuk tangan dan sorakan selama Sesi Bersama Kongres ketika Presiden A.S Jimmy Carter mengumumkan hasil Perjanjian Camp David, 18 September 1978. (Sumber foro: Warren K. Leffler/Library of Congress)

Siapapun yang peduli terhadap Israel, yang mendambakan perdamaian, yang punya pemahaman bagus seputar fakta historis, etis, politik dan hukum yang melatarbelakangi hak Bangsa Yahudi atas sebuah negara, tempat mereka berasal, bakal kenal baik dengan nama Robert Fisk. Tetapi bukan dalam bentuk yang baik.

Selama beberapa dekade, Fisk menjadi salah satu dari banyak pembenci Israel yang sama sekali tidak berbelas kasihan. Ia juga salah satu pendukung yang paling tidak kritis terhadap hak warga Palestina dengan seruan dan aksi mereka yang tak berakhir yang benar-benar mau hancurkan Israel juga hendak mengusir atau membantai Bangsa Yahudi yang tengah berdiam di sana.[1]

Lanjutkan Baca Artikel