Analisa dan Komentar Terbaru

Eropa: Pejihad Eksploitasi Tunjangan Kesejahteraan

oleh Soeren Kern  •  16 Oktober 2017

  • Ketika berbicara tentang upaya untuk mengambil uang dari pembayar pajak Swiss, Ramadan, seorang anggota Salafi kenamaan, menyerukan supaya hukum Shariah diterapkan di Swiss. Ia mendesak kaum Muslim supaya menghindari diri untuk tidak berintegrasi dalam masyarakat Swiss. Juga dikatakannya bahwa umat Muslim yang melakukan kejahatan di negeri itu tidak boleh tunduk kepada hukum Swiss.

  • "Skandal ini begitu luar biasa sehingga sulit dipercaya. Para imam yang mengkotbahkan kebencian terhadap umat Kristen dan Yahudi, yang mengecam kemerosotan Barat, malah diberi suaka dan hidup nyaman sebagai pengungsi dengan uang tunjangan sosial. Semua ini akibat sikap pengecut sekaligus tidak kompeten otoritas yang memberikan carte blanche atau kekuasaan penuh kepada para asisten suaka serta sistem kesejahteraan sosial yang suka berpuas diri dan naïf."---- Adrian Amstutz, anggota parlemen Swiss.

  • Para pejabat kota Lund, meski demikian, masih tak terbendung: Mereka meluncurkan sebuah pilot project yang bermaksud memberikan perumahan, pekerjaan, pendidikan serta dukungan finansial lainnya kepada para pejihad yang kembali dari Suriah---dan semuanya itu berkat para pembayar pajak Swedia.

Anjem Choudary, seorang Islam radikal Inggris yang tengah menjalani hukuman karena mendorong masyarakat untuk mendukung ISIS yakin bahwa kaum Muslim berhak memperoleh tunjangan kesejahteraan. Karena tunjangan itu, menurut dia, merupakan sebentuk jizya atau pajak yang ditetapkan bagi kaum non-Muslim sebagai peringatan bahwa mereka tetap lebih rendah, inferior dan karena itu tunduk patuh kepada kaum Muslim. Dia, karena itu mendapatkan hampir £500,000 ($640,000 atau sekitar Rp 8,6 miliar) dalam bentuk tunjangan, yang diartikannya sebagai "uang saku bagi pencari pejihad." (Photo by Oli Scarff/Getty Images)

Seorang imam Libya yang memohon kepada Allah supaya "menghancurkan" semua kaum non-Muslim justru menerima tunjangan kesejahteraan bernilai lebih dari $600.000 dari Pemerintah Swiss, demikian laporan lembaga penyiar Swiss SRF.

Abu Ramadan tiba di Swiss pada 1998. Kepadanya diberikan suaka pada 2004 menyusul pengakuannya bahwa Pemerintah Libya menganiayanya karena afiliasinya dengan Ikhwanul Muslimin. Semenjak itulah, menurut SRF, Ramadan memperoleh tunjangan kesejahteraan sosial 600.000 Franc Swiss atau sekitar Rp. 8,3 miliar.

Walau berdiam di Swiss nyaris selama 20 tahun, Ramadan sedikitpun tidak bisa berbahasa Prancis atau Jerman. Tidak pernah pula dia mendapatkan satu pekerjaan tetap. Pria berusia 64 tahun itu, dengan demikian, akan segera berhak mendapatkan pensiun dari negara.

Lanjutkan Baca Artikel

Musuh Palestina yang Sebenarnya

oleh Bassam Tawil  •  12 Oktober 2017

  • Kesepakatan tidak merujuk kepada pengendalian keamanan yang Hamas lakukan atas Jalur Gaza. Ini berarti Hamas dan sayap bersenjatanya, Ezaddin Al-Qassam, tetap menjadi "penegak hukum" utama di Jalur Gaza. Ide bahwa Hamas bakal mengijinkan pasukan keamanan Abbas untuk kembali ke Jalur Gaza, dengan demikian, murni ilusi.

  • Kesepakatan tidak menyebutkan agenda politik dan ideologi Hamas. Kesepakatan juga tidak mempersyarakatkan Hamas meninggalkan piagam pendirian organisasinya yang menyerukan supaya Israel dibasmi. Juga tidak mempersyaratkan Hamas untuk meletakan senjatanya sekaligus menerima hak Israel untuk hidup.

  • Kesepakatan justru membebaskan Hamas dari tanggung jawab keuangannya terhadap konstituennya di Jalur Gaza. Dengan PA kembali memberikan dana kepada warga Palestina di Jalur Gaza, Hamas dimungkinkan untuk mengarahkan kembali sumberdaya dan energinya untuk membangun kemampuan militernya untuk mempersiapkan perang melawan Israel. Hamas tidak lagi harus mengkhawatirkan soal gaji dan pasokan listrik serta obat-obatan bagi warga Palestina di Jalur Gaza karena Abbas akan menanganinya.

  • Kesepakatan memudahkan upaya Hamas memperhitungkan diri sebagai pemain sah dalam arena Palestina sekaligus meraih pengakuan dan simpati internasional. Hamas kini sudah bisa memasarkan diri sebagai mitra sah dalam Pemerintahan PA pimpinan Abbas yang didanai oleh Barat.

Foto: Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas sedang berbincang-bincang dengan Pemimpin Hamas kala itu, Ismail Haniyeh, 5 April 2007 di Jalur Gaza. Sejak 2007, Hamas dan Otoritas Palestina mengumumkan sedikitnya empat perjanjian "rekonsiliasi" guna mengakhiri persaingan antarmereka. (Foto oleh Mohamad Alostaz/PPM via Getty Images).

Sejak 2007, Hamas dan Otoritas Palestina (PA) mengumumkan sedikitnya empat "kesepakatan rekonsiliasi" guna mengakhir persaingan antarmereka. Kesepakatan itu dimulai satu tahun lebih awal ketika Hamas memenangkan Pemilu legislatif Palestina. Pekan ini, di bawah perlindungan pihak berwenang Mesir, kedua partai Palestina yang saling bersaing itu kembali mengumumkan kesepakatan lain guna menyatukan perbedaan antarmereka guna mencapai "persatuan nasional."

Lanjutkan Baca Artikel

Kaum Islam Radikal Bertanggung Jawab dalam Krisis Pengungsi Rohingya

oleh Mohshin Habib  •  9 Oktober 2017

  • Krisis terakhir ini tengah digambarkan---secara salah---sebagai "pembersihan etnis" terhadap minoritas Muslim lugu yang tidak berdosa oleh pasukan keamanan Burma. Juga digambarkan sebagai "sikap apatis" terhadap penderitaan warga Rohingya oleh Aung San Suu Kyi, Menteri Luar Negeri Burma dan defakto kepala negaranya.

  • Taktik mereka [Bangsa Rohingya] adalah terorisme. Tidak ada soal tentang itu. [Kyi] tidak mengatakan seluruh populasi Rohingya teroris. Dia merujuk sebuah kelompok orang yang berkeliaran dengan senapan, pedang serta bom rakitan sederhana (IED) serta membunuh bangsa mereka sendiri di samping membunuh para penganut Budha, Hindu serta orang lain yang menghalangi jalan mereka. Sudah banyak pasukan keamanan mereka bunuh. Mereka pun menyebabkan kerusakan di kawasan tersebut. Orang-orang yang berlarian melarikan diri ke Bangladesh ...melarikan diri dari kelompok-kelompok radikal mereka sendiri. [Komunitas] internasional dengan demikian, harus memilah-milah masalah sebelum menuduh." — Patricia Clapp, Ketua Misi AS- to Myanmar dari 1999-2002.

  • Asal muasal jihad kaum Muslim Bengali di Barat Myanmar pada penghujung abad ke-19 selama masa Perang Dunia II, menggambarkan bahwa hal itu "berakar dalam institusi jihad orang-orang yang berambisi memperluas kawasan Islam yang sama dan abadi, yang menghancurkan peradaban Budha di India utara." — Dr. Andrew Bostom, pengarang dan cendekiawan Islam.

Para pengungsi Rohingya dari Burma tiba di Bangladesh, 17 September 2017. Krisis baru-baru ini digambarkan---secara salah---sebagai "pembersihan etnis" terhadap minoritas Muslim yang lugu, tetapi penjahatnya yang sebenarnya adalah kaum Islam radikal yang berada di antara warga Rohingya sendiri, yang dengan senapan, pedang dan bom rakitan sederhana membunuh orang-orang mereka sendiri, di samping membunuh umat Budha, Hindu dan lain-lain yang menghambat jalan mereka. (Foto oleh Allison Joyce/Getty Images).

Gelombang bentrokan antara para teroris radikal Islam melawan Pemerintah Burma (Myannmar) menjadi akar dari krisis pengungsi di Asia Tenggara. Akibat krisis ini PBB serta media internasional memberikan perhatian terhadap persoalan warga Rohingya di Rakhine utara, sebuah propinsi terbelakang di barat negeri mayoritas Budha itu.

Lanjutkan Baca Artikel

Apakah Mengecam Pejihad ISIS itu Menyampaikan "Ujaran Kebencian?"

oleh Denis MacEoin  •  5 Oktober 2017

  • Menjadi mahasiswa biasanya menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan. Selama ini, fantasi masa muda berhadapan dengan argumen rasional, yang terinformasi baik dan berbasis bukti. Tetapi kultus kebenaran politik, defenisi gender yang longgar (unbounded), obsesi kepada fobia terhadap Islam serta anti-Semitisme di antara gangguan-gangguan lainnya, telah merusak proses pendidikan di Amerika Serikat serta Eropa.

  • Jika Travers mengidentifikasi adanya sikap anti-Semitisme serta tanda-tanda radikalisasi di kampus, maka dia dapat, tidak sekedar berhak, tetapi juga wajib untuk mengungkapkannya ke hadapan publik.

  • Bukan Robbie Travers yang pantas didisiplinkan oleh pihak berwenang universitas; justru Allman, karena dia berjuang untuk menghancurkan reputasi Travers dengan tuduhan dan tidak bisa memperkuatnya dengan bukti. Jika saya diminta bertindak sebagai hakim, akan saya rekomendasikan dia tetap dikeluarkan dari lembaga pendidikan karena dia jelas-jelas tidak cocok. Fitnah dan pembunuhan kharakter tidak punya tempat di universitas manapun.

Kekejaman ISIS: Travers seharusnya dipuji, bukan didiskreditkan karena menuding mereka demikian. (Sumber foto: YouTube/Suntingan video)

Travers, mahasiswa fakultas hukum tahun ketiga berusia 21 tahun, melambungkan namanya sendiri di Skotlandia, di Universitas Edinburg yang kenamaan. Terlepas dari banyaknya aktivitas, Travers menerbitkan berbagai artikelnya di Gatestone Institute yang bisa dibaca di sini, di samping juga menulis untuk saluran media lain. Juga dituliskannya persoalan seperti anti-Semitisme di Eropa, industri sensor "berita-berita bohong," Partai Buruh Inggris sebagai tempat berlindung nan aman bagi orang-orang rasis, dewan Shariah, serangan terhadap kebebasan berbicara dan masih banyak lagi. Sebagai anak muda yang lantang, dia menjadi satu dari para tokoh terbaik di universitas. Meski jelas mengaku gay dan pendukung aliran tengah (centrist), yang menjadi posisi Tony Blair dalam politik, dia kerapkali terperangkap dalam konflik dengan sesama mahasiswa dari kalangan kiri radikal, dengan para mahasiswa Muslim dan dengan siapa saja yang bingung dengan apa saja yang melemparkan tantangan terhadap kepekaan politik yang benar dan suka berpuas diri (complacent politically correct sensitivities). Dia pun tidak takut berseru kepada kaum radikal serta mengkritik mereka dengan informasi faktual sehingga banyak mahasiswa modern (serta dosen) muak mendengarkannya.

Lanjutkan Baca Artikel

Apakah Deparlu AS Beli Propaganda Arab?

oleh Nonie Darwish  •  26 September 2017

  • Setelah berabad-abad disiksa, Kekristenan di Timur Tengah menjadi kecil kerdil, jika tidak bisa dikatakan efektif dihancurkan. Mereka memberikan nama Arab bagi anak-anak mereka, ketimbang nama-nama Alkitabiah supaya bisa menghindari diskriminasi di tempat kerja. Perayaan-perayaan keagamaan mereka diselenggarakan di dalam rumah, karena takut jangan sampai perayaan-perayaan Kristen mengganggu perasaan kaum Muslim. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai Sindrom Stockholm (Stockholm Syndrome). Yaitu suatu kondisi, dalam hal ini, ketika umat Kristen Timur Tengah kerapkali akhirnya membela bahkan memuji Islam, meskipun harus mengorbankan hak-hak agama mereka sendiri,

  • Menarik melihat betapa pada satu pihak Departemen Luar Negeri dan media AS mengecilkan pembasmian etnis yang kini sedang berlangsung atas umat Kristen di Timur Tengah, tetapi pada pihak lain langsung mempercayai kaum Muslim, ketika satu dari pemimpin mereka memberi tahu sebuah delegasi Amerika bahwa dia tidak takut kepada warga Arab tetapi kepada kaum Yahudi.

  • Dengan banyaknya cabang Pemerintah AS yang bertekad untuk mengubah-ubah kenyataan maka tampaknya bakal ada satu rangkaian keputusan yang hendak diabaikan --- juga untuk mencegah publik Amerika tahu---- apa yang sebenarnya tengah berlangsung.

  • Bahasa "politically incorrect" atau secara politik tidak benar disensor oleh Departemen Luar Negeri, Departmen Kehakiman, FBI, Departmen Keamanan Dalam Negeri, cabang eksekutif sebelumnya, dan yang paling akhir, Dewan Keamanan Nasional, yang baru-baru ini tampaknya sudah berhasil memberikan seluruh departmen.

Sangat disayangkan bahwa Lawrence Wilkerson, seorang mantan pejabat tinggi Departemen Luar Negeri memutuskan untuk mengecam Israel selama krisis baru-baru ini di mana kaum Yahudi menjadi korban. (Sumber foto: Suntingan video MSNBC).

Berbahaya bagi Barat untuk menerima propaganda anti-Semit Arab yang disuarakan sejumlah pemimpin Kristen di Timur Tengah. Mereka, bagaimanapun, adalah tawanan mayoritas Muslim di sekitar mereka. Sejak masa internet, banyak warga Arab pun sudah berhenti membeli propaganda Arab.

Lanjutkan Baca Artikel

Mengenali Musuh Nyata Masa Kini: Islam Radikal Bukan Rusia

oleh Alexandre del Valle  •  26 September 2017

  • Dalam arti kata militer dan strategis, musuh adalah sebuah entitas yang benar-benar mengancam kelangsungan hidup dan kepentingan-kepentingan vital jangka pendek dan jangka panjang kita --- bukan sekedar yang tidak memiliki konsep demokrasi dan hak-hak asasi yang sama dengan kita.

  • Kesalahan geopolitik berbahaya lainnya yang dilakukan oleh masyarakat Barat adalah hanya melihat kelompok-kelompok teroris Islam sebagai musuh kemudian menyasar mereka di tempat kosong. Demikian juga, jika tidak lebih, penting untuk menaklukan berbagai gerakan kaum Islam radikal yang mengecam terorisme tetapi justru menyebarluaskan ideologi "penuh damai" mereka di negara-negara kita.

  • Sebelum melancarkan kampanye militer atas nama hak asasi manusia, kita di Barat pertama-tama harus melakukan investasi dengan memperkuat nilai-nilai kita sendiri di dalam negeri kemudian mendorong kaum minoritas Muslim kita juga menggunakannya, bukan membiarkan mereka jatuh ke dalam tanagn berbagai organisasi kaum radikal Islam. Barat harus berhenti menganggap identitas Yudeo-Kristennya sebagi jahat lalu membersihkan diri lepas dari ekstremisme multikulturalis.

Menetapkan Rusia pasca-Uni Soviet sebagai musuh utama Barat, sambil menganggap monarki Islam Sunni Timur Tengah serta kaum radikal Islam (Islamist) neo-Ottoman Turki sebagai sekutu atau sahabat merupakan kesalahan geopolitik yang berbahaya. (Sumber foto: kremlin.ru)

Menetapkan Rusia pasca-Uni Soviet sebagai musuh utama Barat, sambil menganggap monarki Islam Sunni Timur Tengah serta kaum radikal Islam neo-Ottoman Turki sebagai sekutu atau sahabat merupakan kesalahan geopolitik yang berbahaya. Menganggap jahat rejim-rejim yang tidak disukainya seperti kleptokrasi otoriter Putin serta negara-negara tidak demokratis lain yang tidak memperlihatkan ancaman militer langsung rupanya menjadi kepentingan Barat sekaligus misi utama NATO. Agaknya, itu dilakukan untuk menjaga tanah, laut, udara serta penduduk kita.

Bagaimanapun, sudah kita tetapkan "musuh" kita supaya bisa menyelesaikan persoalan ini. Dalam arti kata militer dan strategis, musuh adalah sebuah entitas yang benar-benar mengancam kelangsungan hidup dan kepentingan-kepentingan vital jangka pendek dan jangka panjang kita --- bukan sekedar yang tidak memiliki konsep demokrasi dan hak-hak asasi yang sama dengan kita.

Lanjutkan Baca Artikel

Penyiksaan Massal oleh Turki atas Umat Kristen dan Kurdi

oleh Uzay Bulut  •  25 September 2017

  • Bangsa Yazidis, Alevi dan wanita di kawasan tersebut juga diperlakukan secara kejam oleh pihak berwenang Turki. Puluhan wartawan Kurdi yang mempublikasikan kisah-kisah ini pun dijebloskan dalam penjara.

  • Kebencian terhadap umat Kristen dan Kurdi di Turki ini tidak terbatas pada pejabat pemerintah. Kebencian pun tersebar luas di kalangan publik dan diungkapkan luas di media sosial.

  • Situasi kaum minoritas di Turki serta penganiyaan atas mereka oleh Turki --- sebuah negara anggota NATO dan calon abadi untuk menjadi anggota Uni Eropa --- harus kerapkali dikisahkan senyaring mungkin.

Gereja Armenia Surp Giragos di Diyarbakir, Turki pada 2008, sebelum pembangunan kembali gereja. (Sumber foto: Nevit Dilmen/Wikimedia Commons).

Sejak 2015, Pemerintah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melancarkan serangan terhadap kawasan mayoritas Kurdi di negeri itu.

Sebuah laporan dari World Heritage Watch yang dikeluarkan pada 2017 merinci kerusakan satu kota seperti Suriçi (Sur), sebagai berikut;

"[Jam] malam diumumkan enam kali masing-masing selama beberapa hari mulai September 2015. Jam malam merupakan blokade 24 jam sehari yang mengarah kepada bentrokan antara pasukan Turki melawan kelompok pemberontak Kurdi sehingga ratusan orang meninggal dunia dan kawasan yang terdampak mengalami kerusakan serius. Jam malam terakhir yang terus saja berlangsung sejak 11 Desember 2015, yang diikuti dengan penggunaan senjata-senjata militer berat seperti tank, mortat dan artileri oleh pasukan pemerintah benar-rbenar menghancurkan. Berbagai bangunan dan monumen bersejarah----termasuk keutuhan dan ciri Kota Suriçi yang asli ---mengalami kerusakan dan hancur."

Lanjutkan Baca Artikel

Warga Palestina itu "Persoalan bagi Yahudi"

oleh Bassam Tawil  •  19 September 2017

  • Bagi warga Palestina, kedua utusan khusus itu tampaknya benar-benar mendukung posisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, daripada mewakili kepentingan AS. Mengapa? Karena mereka orang Yahudi, dan dengan demikian, kesetiaan mereka adalah kepada Israel sebelum kepada AS.

  • Pandangan ini barangkali merupakan proyeksi dari apa yang banyak kaum Muslim bakal lakukan jika situasinya sebaliknya.

  • Apa yang tengah kita saksikan sebetulnya merupakan upaya mencari alasan pemaaf yang tanpa akhir dari pihak Otoritas Palestina serta Presidennya, Mahmoud Abbas, untuk tidak terlibat dalam perundingan damai dengan Israel.

Tatkala utusan khusus Presiden Trump berkunjung ke Ramallah bulan silam, warga Palestina melancarkan protes menentang "bias" AS yang mendukung Israel. Gambar: Sebuah poster yang diusung di tempat protes, menggambarkan Jared Kushner diikat dengan seutas tali oleh seorang wanita pirang (tampaknya, isterinya, Ivanka) yang mengenakan pakaian yang terbuat dari bendera Israel. (Sumber foto: Suntingan video Wattan).

Warga Palestina tidak suka dengan utusan khusus Presiden AS Donald Trump ke Timur Tengah. Mengapa? Jawabannya --- yang membuatnya jelas membabi buta---karena para utusan khusus itu orang-orang Yahudi.

Dalam perspektif warga Palestina, semua ketiga utusan khusus, Jared Kushner, Jason Greenblatt dan Duta Besar US untuk Israel, David Friedman, tidak bisa menjadi perantara atau mewakili kepentingan AS yang tulus. Karena, dalam pandangan mereka, sebagai orang Yahudi, loyalitas mereka kepada Israel jauh lebih besar, daripada loyalitas mereka kepada Amerika Serikat.

Bernada seperti anti-Semitisme? Ya, memang demikian. Dan asumsi seperti ini memberi bukti lebih jauh berkaitan dengan prasangka serta kesalahpahaman Palestina. Warga Palestina menerima begitu saja bahwa siapapun orang Yahudi yang bekerja di Pemerintahan AS atau pemerintah lain di seluruh dunia harus diperlakukannya dengan curiga dan tidak bisa dipercaya.

Lanjutkan Baca Artikel

Apakah Budaya Toleransi Tergantikan oleh Budaya yang tidak Toleran?

oleh Saher Fares  •  14 September 2017

  • Tidak perlu orang meninjau kembali berabad-abad penaklukan yang kaum Muslim lancarkan atas bekas dunia Kristen kuno supaya bisa memahami bahwa aksi kejam ini jelas menandai era awal kolonial Eropa dan terbentuknya negara modern Israel serta isu perubahan iklim. Pada abad pertengahan sudah ada razia bajak laut Barbary, penindasan oleh Kekaisaran Ottoman terhadap masyarakat jajahannya di Eropa Tengah dan Timur serta pasar perbudakan Kaffa di Tatar, Krimea yang dikuasai kaum Muslim.

  • Negara-negara seperti Cina, Nigeria atau Kenya yang bukan Barat, bukan "imperialis", tidak ada ada alasan maaf apapun yang bisa dibuat oleh kaum radikal Muslim, masih saja diserang secara mengerikan dengan aksi penikaman yang sama. Bulan demi bulan, tampaknya, nyaris tidak ada tempat di dunia yang tidak dilanda terror ala Islam.

  • Lebih dari itu, berjilid-jilid teks Islam yang dipuja-puji menjabarkan secara rinci landasan untuk melakukan aksi kejam keji serta penindasan terhadap orang-orang tak beriman serta orang-orang yang dianggap bidaah. Landasan agama yang diandaikan benar itu --- dihidupkan setiap hari di berbagai madrasah serta masjid di seluruh penjuru dunia menunggu para teroris terlatih yang taat sesuai ajaran agama melakukan aksinya --- dan secara kekanak-kanakan diabaikan oleh masyarakat Barat yang liberal sebagai sesuatu yang tidak penting.

Pada 4 Juni 2017 lalu, Perdana Menteri Inggris, Theresa May mengatakan, "Ini waktunya untuk mengatakan cukup itu cukup." Dia lalu berjanji melakukan tinjauan menyeluruh terhadap strategi kontraterorisme negerinya. Bagaimanapun, akibat tidak adanya tinjauan yang jujur terhadap akar penyebab terorisme ini serta pencarian jiwa yang menyakitkan oleh kaum Muslim terhadap landasan agama mereka yang memunculkan aksi kejam keji itu, maka tidak bakal bisa "cukup." (Foto oleh Leon Neal/Getty Images).

Seberapa tipiskah permintaan maaf dapat digunakan setiap kali aksi kejam keji dilakukan atas nama Islam?

Ada 13 orang tewas dan lebih banyak lagi orang terluka dalam sebuah serangan terhadap sebuah kendaraan di Barselona, Spanyol, pekan ini. Selain itu, Juni lalu, para pria pelaku penikaman meneriakan, "Ini demi Allah!" di London Brigde serta di Pasar Borough. Dalam dua tragedi berdarah ini, persoalan yang sedikit sekali para korban pikirkan adalah wejangan para elit Barat. Yaitu bahwa aksi kekejaman yang paling akhir itu, "tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam."

Perdana Menteri Inggris, Theresa May pernah mengatakan, "Inilah waktunya untuk mengatakan cukup itu cukup." Karena itu dia berjanji untuk mempelajari kembali strategi kontra-terorisme negeri yang dipimpinnya.

Lanjutkan Baca Artikel

Apakah Islam Radikal Menakut Barat Hingga Melumpuhkannya?

oleh Giulio Meotti  •  13 September 2017

  • Kebijakan pengungsi Merkel bukanlah karya agung politik kemanusiaan; ia didikte oleh rasa takut terhadap citra televisi yang tersebar luas di seluruh dunia.

  • Dalam budaya Barat yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, penderitaan musuh-musuh kita sekalipun bisa mengganggu kita. Kita, karena itu, semakin bersedia menerima berbagai kebijakan untuk menyenangkan hati pihak lain, menyensor serta mundur supaya tidak terpaksa menghadapi situasi yang mungkin mengerikan itu dan benar-benar terpaksa memeranginya. Itulah sebabnya Islam radikal menakut-nakuti Barat supaya takluk kepadanya. Dan kita memang sudah melumpuhkan diri sendiri. Kita sensor kartun-kartun kita, foto-foto grafis para korban teroris bahkan tampang dan nama para jihadi. Teroris Islam, pada pihak lain, bukanlah pencari publisitas. Mereka adalah tentara yang siap mati dan membunuh demi nama apa yang mereka pedulikan.

Kebijakan pengungsi Merkel bukanlah masterpiece atau karya agung politik kemanusiaan. Ia didikte oleh rasa takut terhadap citra televisi yang tersebar luas di seluruh dunia. Dalam begitu banyak masa-masa yang menentukan, foto atau gambar mendikte perilaku kita: citra yang mempermalukan kita, membuat kita merasa ngeri dalam ketakutan (Photo by Adam Berry/Getty Images)

September 2015. Ribuan migran Suriah tengah menyeberangi rute Balkan menuju Jerman. Kanselir Angela Merkel berbicara lewat telepon dengan Menteri Dalam Negeri Thomas de Maizière. Keduanya berbicara tentang sejumlah langkah untuk melindungi batas negara, tempat ribuan polisi secara rahasia ditempatkan bersama bus dan helikopter. De Maizière meminta nasehat Dieter Romann, kepala polisi kala itu. "Apakah kita bisa hidup bersama dengan berbagai citra yang bakal muncul," tanya de Mazière. "Apakah yang terjadi jika 500 pengungsi dengan anak-anak dalam pelukan berlari menuju penjaga perbatasan negara?"

De Maiziére diberitahu bahwa langkah-langkah tepat dapat digunakan dan semua itu diambil dan diputuskan oleh polisi di lapangan. Tatkala de Maizière menyampaikan tanggapan Romann kepada Kanselor, Merkel mengubah komitmen awalnya. Dan perbatasan pun kemudian dibuka selama 180 hari.

Lanjutkan Baca Artikel

"Ini Perang terhadap Umat Kristen"
Penyiksaan Kaum Muslim terhadap Umat Kristen, April 2017

oleh Raymond Ibrahim  •  7 September 2017

  • "Para pemilik toko itu kembali, menjebaknya di rumahnya sendiri, membakar kamar rumahnya kemudian menguncinya," urai sebuah laporan. Mereka menunggu di luar kamar dan tidak mengijinkan anggota keluarga atau pemukim setempat untuk membuka kamar itu guna menyelamatkan nyawa Ameen." Laki-laki itu terbakar hidup-hidup.— Pakistan Christian Post.

  • Mike mengatakan ada lima petugas kereta api tidak berseragam berdiri dekat mereka, diam-diam menonton serangan itu tanpa bertindak apa-apa. Menurut seorang imam Ortodoks setempat, "ini bukanlah insiden terpisah. Ada geng-geng anak muda berlatarbelakang Muslim yang merundungi orang-orang yang mereka identifikasi sebagai Kristen...Anda tidak dengar soal itu karena tidak orang melaporkannya." ---Sidney, Australia.

  • Menurut sebuah studi terbaru, 59% masyarakat Indonesia yang menanggapi sebuah survei, pernah melakukan aksi-aksi intoleran terhadap kaum minoritas non-Muslim serta radikalisasi keagamaan semakin meningkat. Hanya 11% warga Indonesia yang benar-benar menentang negara Islam yang memerintah berdasarkan hukum Islam, Shariah yang ketat. Sekitar 11,5 juta masyarakatnya, "secara spiritual" siap untuk mengadakan perubahan fundamental yang radikal dalam masyarakat Indonesia. "Mereka ingin menerapkan hukum yang terinspirasi oleh Shariah dan tuntutan mereka bakal semakin radikal," urai seorang jurubicara untuk kajian statistik survei tersebut.---Indonesia.

Di enklaf Muslim Sidney baratdaya, umat Kristen secara teratur diperingatkan supaya tidak secara terbuka memakai simbol-simbol Kristen seperti salib. Seorang pria Ortodoks Yunani yang memakai kalung salib baru-baru ini diserang secara kejam oleh empat pria Muslim yang meneriakan "Fuck Jesus" ketika dia bepergian dengan kereta api dari Stasiun KA Belmore, Sidney. Foto: Gereja Ortodoks Yunani All Saints, Belmore, Sidney, Australia. (Sumber foto: Sardaka/Wikimedia Commons).

Seperti tahun-tahun silam, Perayaan Paskah diserang di berbagai negara Muslim. Yang paling mengerikan terjadi di Mesir. Pada 9 April, dua Gereja Orthodoks Kristen Koptik penuh pepak dengan umat yang mengikuti ibASDadah Misa Minggu Palma, yang mengawali pekan suci diserang oleh para pelaku bom bunuh diri Islam. Dua belas orang---sebagian besar anak-anak--- tewas terbunuh di Gereja St. Georgius di Tanta, di Mesir utara. "Di manakah pemerintah?" seorang warga Kristen yang marah di sana bertanya kepada wartawan Kantor Berita AP. "Tidak ada pemerintah! Tidak ada perubahan nyata dalam bidang keamanan, yang harus diperketat sejak sekarang guna menyelamatkan nyawa manusia." Kurang dari dua jam kemudian, 17 orang tewas terbunuh di Katedral St. Markus, di Aleksandria. Sejak bangunan aslinya didirikan oleh penginjil Markus pada abad pertama dan dibakar hingga rata tanah selama masa invasi Muslim pada abad ke tujuh ke Mesir, gereja tersebut menjadi tempat tinggal bersejarah (historic seat) agama Kristen Koptik. Pope Tawadros, yang hadir di tempat kejadian---dan agaknya menjadi sasaran--- muncul tidak kurang suatu apapun. Sekitar 50 umat Kristen tewas terbunuh dalam dua aksi pemboman tersebut, 126 lainnya terluka dan banyak lagi yang terluka dengan kepingan tubuh yang tercerai berai. (Grafis dan foto/video setelah tragedi bisa disaksikan di sini).

Lanjutkan Baca Artikel

PA, Organisasi Teroris Pelaku Genosida yang Seharusnya Diperlakukan Demikian

oleh Guy Millière  •  6 September 2017

  • PLO menjadi organisasi teroris pertama yang mendapatkan kursi di PBB sekaligus wakil diplomatik di negara Barat.

  • Daniel Pipes mengusulkan langkah-langkah untuk mengalihkan konflik dengan cara konstruktif tanpa menyebabkan persoalan besar yang mengganggu. Yang diperlukan adalah agar Otoritas Palestina membayar semua kerugian yang ditimbulkan oleh para teroris, termasuk harga yang sangat tinggi untuk korban jiwa yang melayang, memakamkan jenazah para teroris tanpa mengembalikan mereka kepada pihak keluarga; tegas membatasi akses menuju kawasan Tepi Barat yang dikuasai PA, melarang para pemimpin PA memasuki Bandara Israel setiap kali ada kekerasan anti-Israel, jika mereka membuat pernyataan-pernyataan penuh hasutan dan meminta mereka menggunakan Bandara Yordania mulai sekarang ini dan seterusnya.

  • Mengapa tidak memberitahu para pemimpin Eropa bahwa Otoritas Palestina masih merupakan organisasi teroris pelaku genosida? Mengapa tidak bertanya kepada mereka mengapa setuju memberikan dana ke Timur Tengah apa yang mereka klaim akan mereka tolak mati-matian di Eropa?

Presiden Donald Trump memberitahu Mahmoud Abbas hal yang tidak berani dikatakan oleh pemimpin Barat lainnya. Dia sadar bahwa tidak ada yang bisa diharapkan dari Otoritas Palestina dan bahwa misi Greenblatt ditakdirkan untuk gagal. Foto: Trump dan Abbas memberikan pernyataan bersama, 3 Mei 2017 di Washington, DC. (Sumber foto: Olivier Douliery-Pool/Getty Images)

Pembantaian terakhir di tanah Israel terjadi di Halamish, Samaria, 21 Juli 2017 lalu. Kala itu, seorang warga Palestina menikam seorang kakek Yahudi dan dua anaknya hingga tewas. Sang nenek terluka parah. Tidak terhitung sudah jumlah serangan sejenis terjadi di Israel akhir-akhir ini. Termasuk beberapa waktu yang belum lama ini lewat.

Sekali lagi, ribuan warga Arab Palestina merayakan dengan penuh kegembiraan aksi pembunuhan tersebut. Beberapa dari mereka membagi-bagikan manisan.

Sang pembunuh dipuja-puji oleh Otoritas Palestina (PA) dan Hamas. Jika tewas tertembak, dia segera menjadi syuhadah Islam. Sebuah jalan di Ramallah bakal diberi nama sesuai namanya. Fotonya segera dipasangkan di depan toko-toko di kawasan yang diduduki Otoritas Palestina dan Hamas. Keluarganya pun bakal diganjari dengan "gaji" seumur hidup.

Lanjutkan Baca Artikel

Islamisasi Sejarah

oleh Uzay Bulut  •  21 Agustus 2017

  • Selain Islam, agama lain di Turki tidak punya kekuasaan, pengaruh atau mendapatkan dana dari Diyanet --- padahal, anggarannya jauh lebih banyak daripada sebagian besar kementerian negeri itu. Agama-agama lain pun, tidak diakui resmi ( seperti dalam kasus Alevisme dan Yazidisme) atau nyaris di ambang penghapusan sepenuhnya oleh pemerintah --- seperti dalam kasus Judaisme, Ortodoks Yunani dan Kristen Assyria (Suriah) dan Armenia.

  • "Sejak dunia diciptakan, hanya ada satu agama dan itu adalah Islam. Karena itu, ketika Islam tidak ada di sana sebelum Nabi Muhamad datang ke sana, maka itu tempat harus sudah menjadi kawasan Islam. Jadi tempat seperti itu harus dibebaskan, tidak untuk ditaklukan. Dan karena itu, tidak ada pendudukan Islam. Jika orang menduduki kawasan apapun maka selalu ada orang lain, bukan kaum Muslim. Jadi, tidak ada pendudukan Islam. Hanya ada pembebasan Islam."---Moshe Sharon, Profesor Emeritus Kajian Islam dan Timur Tengah, Universitas Hebrew, Yerusalem.

  • Bagaimanapun, supaya efektif, kebijakan-kebijakan ini harus mencakup upaya untuk mendiskusikan secara jujur terbuka sejarah dan doktrin Islam termasuk pernyataan yang berulang-ulang kali diucapkan masa kini, bukan sebagai "agama damai" tapi agama perang dan terror. Karena bagaimanapun, dalam Islam, perdamaian hanya bakal terjadi setelah seluruh dunia menerima Allah serta hukum Islam, Sharia.

Mehmet Görmez, Presiden Direktorat Urusan Agama Turki (Diyanet) mengumumkan Juni lalu bahwa Islam dibawa ke bumi oleh Allah untuk mengoreksi "pemutarbalikan" yang dilakukan oleh Agama Yudaisme dan Kristen. (Sumber foto: Tezkiretul/Wikimedia Commons).

Perdebatan seputar apakah Islam itu "dibajak" oleh kaum fundamentalis---atau apakah agama itu mengkotbahkan semacam kebencian yang mengarah kepada terorisme --- berkobar sejak tragedi serangan berdarah atas Menara Pusat Perdagangan Dunia, Amerika Serikat, 11 September 2001. Meski persoalan itu belum diselesaikan, ada satu persoalan yang jelas terlihat mata. Yaitu bahwa menganggap kaum Yahudi serta umat Kristen sebagai jahat itu lumrah terjadi di dunia Muslim.

Ambil Turki sebagai contoh. Di sana, selama beberapa dekade, sikap anti-Semitisme diperlihatkan di depan publik oleh beberapa pejabat pemerintah, lembaga agama serta media kenamaan. Juni tahun ini, kepala Direktorat Urusan Agama Turki (Diyanet) bergabung dalam koor anti-Semitisme.

Lanjutkan Baca Artikel

Usai Timur Tengah, Akankah Kaum Radikal Islam Menumpas Umat Kristen di Eropa?

oleh Giulio Meotti  •  18 Agustus 2017

  • Soal terorisme dan aksi kejam yang dilancarkan oleh kaum radikal Islam (Islamis), para pemimpin Kristen hanya menawarkan kata-kata yang mengambang serta prinsip moral yang sama. Apakah mungkin, setelah dua pembantaian besar-besaran atas umat Kristen, pemimpin Katolik tidak punya satu kata tunggal tentang keberanian dan kehormatan, dan hanya menawarkan yang sama dari pipi yang lain?

  • Elite sekular kita mengecam aksi pemurtadan jemaah hanya ketika itu dilakukan oleh umat Kristen, tetapi tidak pernah mengecamnya jika dijalankan oleh kaum Muslim.

  • Di Suriah dan Irak, ada puluhan, jika bukan ratusan, tempat ibadat Kristen dihancurkan oleh kaum fundamentalis Islam selama tiga tahun terakhir. Citra ini, berjalan iring dengan aksi pemenggalan kepala serta pemerkorsaan massal terhadap kaum minoritas, mengguncang masyarakat umum, tampaknya, untuk satu hari saja.

Kardinal Bechara Boutros Rai, Patriark Maronit dari Antiokia pernah mengatakan; "Kerapkali saya dengar dari kalangan Muslim bahwa tujuan mereka adalah untuk menaklukan Eropa dengan dua senjata; dengan agama dan angka kelahiran mereka...Karena itu, ketika mereka datang ke Eropa dan melihat gereja-gereja kosong serta menemukan masyarakat Eropa tidak beragama (unbelief), mereka langsung berpikir bahwa mereka akan mengisi kekosongan itu." (Photo by Franco Origlia/Getty Images)

Belum banyak yang kita ketahui tentang tiga teroris yang mengatakan, "Ini untuk Allah!" lalu membunuh serta melukai begitu banyak orang di London, 4 Juni lalu. Tetapi pertimbangkan dua adegan berikut baru-baru ini;

Adegan pertama: Manchester, Kerajaan Inggeris, sebuah "Dunia Bebas." Seorang teroris Muslim kelahiran Inggeris berdoa di bekas gereja. Semua yang ada di sekitarnya adalah situs atau bangunan Kristen. Umat gereja pun sudah menerima situs-situs Kristen itu diubah menjadi situs Islam. Sehari sesudah itu, teroris ini terus mengamuk dan membunuh 22 orang yang mengikuti konser.

Lanjutkan Baca Artikel

Warga Palestina: Sikap Tak Logis Abbas

oleh Bassam Tawil  •  16 Agustus 2017

  • Jadi, siapakah yang memanfaatkan ancaman Abbas secara serius untuk menghentikan kerja sama keamanan dengan Israel? Bukan Israel. Bukan Amerika. Dan tentu bukan banyak warga Palestina. Abbas terjebak antara dua tempat yang mengerikan (bad) ---kedua-duanya akibat perbuatannya sendiri. Satu pihak dia tahu bahwa kerja sama keamanan dengan Israel adalah satu-satunya kebijakan yang menjamin dirinya untuk tetap berada di puncak kekuasaan sekaligus tetap hidup. Pada pihak lain, Abbas sangat mawas terhadap statusnya di antara banyak warga Palestina yang lebih senang menggantikan dia dengan orang lain...sesuai selera mereka.

  • Pesan Faraj ditujukan kepada masyarakat Israel. Tujuannya, untuk menekan Pemerintahan Israel dan Perdana Menteri Binyamin Netanyahu supaya tunduk kepada tuntutan masyarakat Palestina dan bersedia membongkar pemindai logam. Ini sebabnya Faraj menggunakan seorang wartawan Israel yang terkenal bersimpati terhadap Abbas dan pemimpin PA. Faraj dan bossnya ----Abbas---ingin menakut-nakuti publik Isreal kemudian memaksa mereka berbalik menentang Netanyahu. Caranya, dengan memberi tahu mereka bahwa Palestina akan menghentikan kerja sama keamanan dengan Israel kecuali jika pemindai logam dibongkar.

Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas. (Sumber foto: kremlin.ru)

Laporan-laporan yang saling bertentangan satu sama lain muncul dari Ramallah. Laporan itu terkait dengan koordinasi keamanan dengan Israel yang masih menjadi peringatan lain dari "sikap munafik yang sangat luar biasa" dari para pemimpin Otoritas Palestina (PA) "

Di bagian Israel, berbagai laporan seputar berhentinya koordinasi keamanan dengan Otoritas Palestina diremehkan, sama seperti tipu muslihat Abbas yang lainnya.

Mahmoud Abbas dan PA-nya pun jauh dari kalah. Karena bagaimanapun, koordinasi keamanan hanya sebuah persoalan yang berada antara Hamas yang sangat lapar (kekuasaan) dan sajian Abbas untuk "toast" sarapan pagi.

Pada masa lalu, Abbas secara tepat dan masuk akal menjelaskan koordinasi keamanan dengan Israel sebagai sesuatu "yang suci." Dikatakannya, dia tak bakal tunduk terhadap tekanan Hamas dan banyak warga Palestina untuk berhenti bekerja sama dengan Israel di Tepi Barat.

Lanjutkan Baca Artikel