Analisa dan Komentar Terbaru

Ramadhan: "Bulan Penaklukan Besar-Besaran"

oleh Judith Bergman  •  21 Juni 2017

  • "[Sepanjang sejarah] peradaban Islam, Ramadhan bukan sekedar bulan penuh ibadah dan bertumbuh mendekatkan diri pada Allah Yang Mahakuasa. Ramadhan juga bulan aksi dan jihad yang dimaksudkan untuk menyebarkan agama nan agung ini... sepanjang sejarah [Muslim], Ramadhan telah menjadi bulan penaklukan yang besar-besaran..." ---'Ali Gum'a, Mufti Agung Mesir masa itu seperti dituliskan oleh harian, Al-Ahram Juli, 2012.

  • "Menurut tradisi Islam, pengorbanan yang dilakukan selama Ramadhan dapat dianggap lebih bernilai daripada yang dilakukan pada waktu lain, sehingga panggilan untuk mati syahid selama Ramadhan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang." ---Laporan Dewan Penasehat Keamanan Luar Negeri yang dipimpin oleh Departemen Luar Negeri AS yang diterbitkan dalam Harian The Independent, 9 Juni 2016.

  • "Jihad dalam bahasa Arab... artinya: ...perjuangan... dimana penyebab/tujuannya adalah kebajikan dan keadilan...Perang suci bukan [merupakan] ungkapan dalam Al-Quran: Perang TIDAK ADA yang suci." ---Anna Cole, 'pakarpendidikan inklusi' untuk Asosiasi Pemimpin Sekolah dan Perguruan Tinggi (ASCL) yang merepresentasikan lebih dari 18.000 kepala sekolah dan perguruan tinggi.

Asap membumbung dari lokasi kerusuhan di Kota Marawi, Filipina selatan, 30 Mei lalu. Tentara Filipina melawan kelompok teroris Islam Abu Sayyaf di jalanan kota. Abu Sayyaf membunuh 14 umat Kristen dan melukai lebih dari 50 orang dalam serangan bom sejak Ramadhan yang dimulai 26 Mei. (Sumber gambar: Jez Aznar/Getty Images)

"Perjuangan kita adalah Jihad dan ibadah wajib. Setiap ibadah wajib punya pahala 70 kali lebih banyak selama Ramadhan," kata Zabihullah Mujahid, Jurubicara Taliban, ketika menolak seruan yang dipimpin oleh PBB supaya pihaknya menghentikan permusuhan selama Ramadhan.

ISIS juga saja baru menyiarkan pesan melalui Youtube. Dengan mengutip Al-Quran, kelompok teroris itu menghimbau pendukungnya untuk menyerang "orang kafir... di rumah mereka, di pasar mereka, di jalanan dan komunitas mereka.

"lipatgandakanlah usahamu dan perkuatkanlah perjuanganmu...Jangan anggap remeh. Aksimu menyerang orang-orang yang dianggap tidak berdosa dan warga sipil sangat penting bagi kita, sangat efektif dan sangat kita sukai. Majulah dan smoga kalian memperoleh pahala atau mati sebagai syuhada dalam bulan Ramadhan."

Lanjutkan Baca Artikel

Hadiah Mewah dari Arab Saudi untuk Indonesia: Islam Radikal

oleh Mohshin Habib  •  2 Juni 2017

  • Sebelum Arab Saudi berupaya menyebarluaskan Salafisme ke seluruh penjuru dunia Muslim, Indonesia tidak punya organisasi teroris seperti Hamas Indonesia, Laskar Jihad, Hizbut Tahrir, Front Pembela Islam, Jamaah Islamiah, untuk menyebutkan beberapa organisasi tersebut. Sekarang ini, negeri itu dipenuhi dengan banyak kelompok ini.

  • Baru saja tiga pekan setelah Raja Arab Saudi mengakhiri perjalanannya, sedikitnya 15.000 demonstran kaum radikal garis keras memenuhi jalan-jalan Jakarta seusai sholat Jumat, menyerukan agar gubernur ibukota yang Kristen dipenjara, yang kini sedang diadili dengan tuduhan, "menghina Qur'an" (blaspheming the Quran).

  • Dalam sebuah krisis yang terpisah, gerombolan massa itu menuntut agar Basuki Tjahaja Purnama (yang dikenal akrab sebagai Ahok) dipenjara karena mengatakan kepada sebuah kelompok nelayan bahwa, mereka ditipu soal bagaimana Qur'an melarang kaum Muslim supaya tidak diperintah oleh seorang kafir, sehingga dia paham mengapa beberapa dari mereka mungkin tidak memilih dia. Jika dihukum, maka Ahok bisa menjalankan hukuman hingga lima tahun di penjara.

Presiden Joko Wido dari Indonesia (latar depan, kiri) bertemu dengan Raja Salman dari Arab Saudi (latar depan, kanan) di Bandara Halim Perdanakusuma di Indonesia. (Sumber foto: Istana Kepresidenan Indonesia)

RAJA ARAB SAUDI SALMAN BIN ABDUL AZIZ---tiba di Indonesia, 1 Maret 2017 lalu untuk sebuah perjalanan besar-besaran selama sembilan hari. Bersama dia ikuti pula 1500 rombongan yang besar. Dia disambut hangat, bukan saja sebagai monarki dari salah satu negara dunia terkaya, tetapi juga sebagai penjaga dua kota tersuci Islam, Mekkah dan Medina.

Lanjutkan Baca Artikel

"Budaya Damai" ala Pemimpin Palestina Mahmud Abbas

oleh Bassam Tawil  •  30 Mei 2017

  • Berkat kesalahan Abbas, media-medianya hingga sekarang ini terus saja berbicara tidak jujur tentang "para penyerang serta para pemukim Yahudi yang "melempari tempat-tempat suci Islam dan Kristen dengan batu di Yerusalem." Pernyataan itu, dan hanya itulah yang menjadi sumber dari berbagai serangan dengan pisau serta aksi menabrakan kendaraan atas warga Israel.

  • Barangkali dengan "budaya damai," Abbas maksudkan untuk menyebutkan Israel sebagai negara apartheid dan rasis seperti dia dan para pejabat tinggi biasanya lakukan. Atau mungkin saja "budaya damai" berarti mengatakan semua kaum Yahudi adalah "penjarah lahan" (occupiers) dan "penjajah" (colonists) ---atau mengecam sekaligus mengancam anak-anak Palestina yang bermain sepakbola bersama anak-anak Israel. Atau ia justru tengah memberikan nama-nama sekolah serta daftar pemilihan sesuai dengan nama para penjahat yang dihukum penjara?

  • Di bawah pemerintahan Abbas, hasutan serta indoktrinasi anti-Israel menjadi h bisnis yang berkembang luas secara eksponensial. Hasutan dan indoktrinasi nyatanya, berkembang sampai pada titik sehingga generasi muda negeri itu dibesarkan berlandaskan pemujaan terhadap para jihadi, sebuah generasi yang tidak sabar untuk menumpahkan semakin banyak darah kaum Yahudi. Jika inilah "budaya damai" Abbas, maka apakah, orang akan bertanya-tanaya, seperti apakah budaya yang dia anggap sebagai "budaya perang"?

Presiden AS Donald Trump bertemu Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas di Gedung Putih, 3 Mei 2007. (Sumber foto: suntingan video dari Gedung Putih).

Presiden Otoritas Palestina (PA) Mahmoud Abbas mungkin segera terkenal karena selera humornya. Seperti banyak warga Palestina, Abbas yakin masyarakat Barat bakal menelan bulat-bulat seluruh kebohongannya. Abbas, misalnya, mengakhiri pertemuannya 3 Mei lalu dengan Presiden AS Donald Trump dengan kebohongan besar berikut ini. "Kami membesarkan anak-anak muda kami, anak-anak kami, cucu-cucu kami dalam sebuah budaya damai."

Abbas tidak memberikan penjelasan rinci soal "budaya damai' tempat anak-anak Palestina dibesarkan. Tidak satu orang pun yang merasa terganggu sehingga mau bertanya kepada Abbas atau anggota rombongannya untuk memberikan contoh-contoh "budaya damai" dalam masyarakat Palestina. Namun, berbagai media Barat segera menerbitkan tipuan Abbas yang tidak diragukan itu.

Lanjutkan Baca Artikel

Paus Berziarah ke Al-Azhar

oleh Lawrence A. Franklin  •  16 Mei 2017

  • Dalam pertemuan antara bekas Utusan Paus ke Kairo, Uskup Agung Jean-Paul Gobel dengan el-Tayeb, el-Tayeb memperingatkannya bahwa "membicarakan Islam secara negatif adalah 'garis merah' yang tidak boleh dilanggar." Kalau ada kecaman atas tindak kejahatan terhadap umat Kristen Koptik, maka kecaman tersebut mungkin hanya diungkapkan oleh Imam Besar al Azhar dan Presiden Mesir.

  • Akan tetapi, bagaimanapun, sikap Paus yang sangat rendah hati mungkin diartikan oleh Muslim pecinta damai sekalipun sebagai tanda bahwa ia sudah tunduk. Jika Paus diminta oleh Imam Besar untuk berdoa di masjid Al-Azhar, maka ekspresi kesucian itu tidak bakal dilakukan oleh el-Tayeb di sebuah Gereja Koptik di Mesir.

  • Upaya untuk mempermudah pembentukan hubungan Islam-Kristen yang meniadakan Yahudi hanya melayani tujuan kaum Islam radikal untuk mengasingkan orang Yahudi dan Israel. Meskipun hubungan antara Vatikan dan Al-Azhar membaik dalam waktu dekat, namun masa bulan madu tidak terjadi. Imam Besar pasti melindungi landasan kekuatan teologisnya sendiri sambil tetap menjaga jarak dengan Vatikan dan rezim Mesir.

Paus Katolik Fransiskus menyapa Paus Koptik Mesir Tawadros II di Vatikan, pada 10 Mei 2013. (Sumber gambar: News.va Jaringan Resmi Vatikan.)

Ledakan bom kembar pada Minggu Palma di Gereja Kristen Koptik yang dilancarkan oleh teroris Islam radikal Mesir menewaskan 44 jemaat. Insiden itu menarik perhatian karena ia mungkin saja menjadi alasan utama kunjungan Paus Fransiskus ke Kairo, 28-29 April lalu. Paus mungkin akan meminta bantuan hirarki Muslim di Mesir untuk membantu melindungi umat Kristen Koptik Mesir, penduduk asli dari negara tersebut yang kini berjumlah sekitar 9 juta dan merupakan paling tidak 10% dari populasi.

Selama kunjungannya, Paus Fransiskus bertemu dengan Imam Besar Masjid Al-Azhar Kairo, Syeikh Ahmed el-Tayeb. Al-Azhar adalah kampus teologi, tempat universitas Islam tertua berada dan dianggap sebagai pusat Sunni Islam yang paling berpengaruh.

Lanjutkan Baca Artikel

Cara Baru Menanggapi Ekstrimis Islam

oleh Giulio Meotti  •  9 Mei 2017

  • "Berdasarkan perkiraan, 10−15 persen Muslim di dunia adalah Islamis. Angka tersebut lebih dari 1.6 miliar, atau 23 persen populasi dunia, yang berarti lebih dari 160 juta orang."---Ayaan Hirsi Ali dalam buku barunya, The Challenge of Dawa.

  • Itulah pencapaian penting Ronald Reagan dalam perang panjangnya melawan Uni Soviet: menampilkan Komunisme sebagai lelucon – menyingkap kebohongan rezim Soviet, menyingkap kesengsaraan hidup rakyatnya dan menjelaskan mengapa nilai-nilai Barat lebih baik daripada nilai-nilai negara Komunis. Hirsi Ali menjelaskan bahwa hal inilah yang seharusnya dilakukan terhadap Islam radikal.

  • Peradaban barat adalah pandangan humanis / kemanusiaan yang di dalamnya ajaran Kristen berpadu dengan kebijaksanaan Yahudi serta filsafat Yunani dan hukum Romawi sehingga memberikan karakter khusus pada budaya Barat: kebebasan berbicara dan kebebasan pers, keadilan yang setara dalam hukum, pengakuan atas keunggulan nilai individu, pemisahan agama dan negara, kebebasan beragama dan bebas dari agama, hak untuk memiliki kekayaan, perlakuan yang setara bagi setiap jenis kelamin, pengadilan yang independen, dan diantara semua nilai, pendidikan yang independen. Inilah yang ingin dihancurkan oleh radikal Islam. Inilah yang ingin digancurkan oleh Islam radikal. Itulah mengapa teroris menyerang gereja-gereja kita dan Negara Israel. Inilah mengapa mereka menumbangkan demokrasi untuk mengubahnya dengan hukum Islam, Sariah.

Jihadi tengah menyebarkan kekerasan -- dan berhasil. "Dalam enam belas tahun terakhir," tulis Ayaan Hirsi Ali dalam buku terbarunya, The Challenge of Dawa, "tahun terparah terjadinya terorisme adalah 2014, dengan sembilan puluh tiga negara mengalami serangan teror dan 32,765 orang terbunuh."

"Tahun kedua ter parah adalah 2015, dengan 29,376 orang tewas. Tahun lalu, empat kelompok radikal Islam bertanggung jawab atas 74 persen dari semua kematian yang disebabkan oleh serangan teror. Mereka adalah Negara Islam (yang dikenal juga dengan ISIS), Boko Haram, Taliban, dan al-Qaeda. Meskipun negara Muslim sendiri menanggung beban terberat dari aksi kejahatan jihadi, serangan terhadap Barat semakin meningkat."

Penelitian yang Hirsi Ali lakukan dengan dukungan Hoover Institution, merupakan ringkasan terhadap perang atas teror sejak kaum ekstrimis Muslim menyerang Amerika Serikat pada 2001:

Lanjutkan Baca Artikel

Rakyat Palestina: Kami Berhak Meracuni Pikiran Anak-Anak Kami

oleh Bassam Tawil  •  17 April 2017

Sekolah khusus perempuan yang dikelola oleh Badan PBB untuk Urusan Pemulihan dan Pekerjaan bagi Pengungsi Palestina. (Sumber Gambar: UNRWA).

ADA PERUBAHAN IRONIS---- kini terjadi. Badan PBB untuk Pemulihan dan Pekerjaan bagi Pengungsi Palestina (UNRWA) kini menjadi sasaran intimidasi dan ancaman rakyat Palestina.

Itu terjadi setelah UNRWA kabarnya berencana memperkenalkan beberapa perubahan pada kurikulum yang berlaku di sekolah yang mereka dirikan di wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza. Rakyat Palestina rupanya tidak terlalu senang dengan kabar ini. Menurut mereka UNRWA "tunduk" pada tekanan Israel untuk membuat perubahan tersebut.

Perubahan yang diusulkan berasal dari informasi bocor yang diterima rakyat Palestina tetapi belum dikonfirmasi oleh UNRWA. Rakyat Palestina menyaku mengetahui rencana untuk memperkenalkan perubahan tersebut dalam pertemuan dengan petugas senior UNRWA.

Menurut mereka, perubahan tersebut bermaksud "menghapus identitas nasional" dan "sejarah" mereka serta mengubah "perjuangan" mereka melawan Israel.

Lanjutkan Baca Artikel

Sebagai Muslim, Saya "Shock" oleh Pola Kaum Liberal dan Kaum Kiri

oleh Majid Rafizadeh  •  6 April 2017

  • Rasa takut terhadap kekerasan, siksaan, kematian ini yang dimanfaatkan oleh kaum Muslim ekstremis yang membuat semua orang merasa putus asa untuk mematuhinya.

  • Jika kaum liberal mendukung kebebasan berbicara, mengapa mereka berpura-pura tidak tahu terhadap pemerintah kaum radikal Islam seperti Iran, yang berbasiskan hukum teokratis pemerintahan yang radikal mengeksekusi mati orang yang mengungkapkan pendapat mereka? Dan mengapa, mereka tidak membiarkan orang di Barat mengungkapkan pendapat tanpa menyerang mereka sebelumnya bahkan menghormatinya dengan mendengarkan apa yang harus mereka katakan? Tampaknya, mereka, nyata-nyata, seperti orang-orang otokratis yang saya tinggalkan, yang juga tidak membiarkan cara berpikir kembar sederhana mereka terancam oleh logika atau fakta.

  • Dalam Islam, orang tidak diijinkan menyerang kecuali untuk membela Nabi Muhamad atau Islam, sehingga kaum Muslim esktremis perlu untuk terus menemukan atau menciptakan dugaan serangan yang membuat mereka tampak sebagai korban.

  • Akhirnya, pesan pendek kepada kaum liberal bisa saja berbunyi: "Sang liberal terkasih, jika anda benar-benar membela nilai-nilai seperti perdamaian, keadilan sosial, kebebasan dan kemerdekaan, maka pandangan apologetik anda tentang Islam radikal benar-benar sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai tersebut. Pandangan anda bahkan menghalangi usaha banyak kaum Muslim untuk menciptakan sebuah reformasi damai dalam Islam tepatnya untuk memajukan nilai-nilai tersebut.

Anjem Choudary, seorang ulama radikal Muslim Inggris, dijatuhi hukuman penjara tahun silam oleh seorang hakim Inggris hingga lima setengah tahun di penjara karena mendorong orang untuk bergabung dengan Negara Islam (ISIS). (Sumber foto: Dan H/Flickr)

JIKA ANDA TUMBUH BESAR--- seperti yang saya alami, antara dua pemerintahan otoriter---Republik Islam Iran dan Suriah, di bawah kepemimpinan orang-orang seperti Hafez al Assad, Ayatollah Ali Khamenei dan Mahmoud Ahmadinejad, maka anda bakal saksikan masa muda anda dipengaruhi oleh dua denominasi Islam penting di dunia: Shiah dan Sunni. Dan saya pelajari kedua-duanya. Bahkan saya Muslim saleh, pada titik ini. Orangtua saya, yang masih berdiam di Iran dan Suriah berasal dari dua kelompok suku Muslim yang berbeda: Arab dan Persia.

Anda pun bakal menyaksikan betapa agama Islam berjalin rumit dengan politik dan betapa Islam radikal memerintah sebuah masyarakat melalui hukum agamanya, Hukum Shariah. Bakal Anda saksikan betapa Islam radikal mendominasi dan teliti mengawasi pilihan (perilaku) orang sehari-hari: dalam cara makan, berpakaian, bersosialisasi, hiburan dan apa saja.

Lanjutkan Baca Artikel

Jihadi Hidup dari Tunjangan Sosial Eropa yang Mereka Ikrarkan Hendak Mereka Hancurkan

oleh Giulio Meotti  •  4 April 2017

  • Kisah al Harith memperlihatkan dalamnya salah satu skandal terbesar Eropa. Skandal para jihadi memanfaatkan hak-hak Eropa sepanjang hidup mereka untuk mendanai "perang suci" mereka.

  • Eropa memberikan segala-galanya bagi mereka: pekerjaan, rumah, dukungan publik, tunjangan sosial sebagai penganggur, tunjangan biaya pemulihan kesehatan, tunjangan anak, tunjangan cacat dan dukungan dana. Bagaimanapun, para ekstremis itu tidak melihat "Orang-orang yang Bergantung" ini ketika Mark Steyn menyebutkan bahwa negara makmur sebagai tanda murah hati, tetapi tanda kelemahan. Mereka memahami bahwa Eropa siap dihancurkan.

  • Otak mereka penuh pepak dengan ketentuan-ketentuan agama serta kebencian ideologis terhadap masyarakat Barat. Karena tidak dipersyaratkan untuk berasimilasi dengan nilai dan norma Eropa, banyak Muslim Eropa tampaknya merasa seolah-olah ditakdirkan untuk meluluhlantakan sebuah peradaban yang sudah tidak mampu lagi bertahan.

  • Sasaran kebijakan publik sebaliknya perlu ada guna mendorong kemakmuran masyarakat --- pada dasarnya terlihat tidak mendorong orang untuk mencari kerja --- kecuali dalam kasus-kasus luar biasa yang mengarah kepada tanggung jawab pribadi seseorang. Perlu ada batasan hukum penggunaannya sejauh mana dana kesejahteraan dipergunakan---misalnya dana kesejahteraan seharusnya tidak digunakan untuk membeli narkoba illegal, judi, terorisme atau karena tidak ada kebebasan berbicara di Eropa, dana itu pun tidak boleh dimanfaatkan untuk mempromosikan terorisme. Orang bisa saja membuat lalu menyelaraskan daftar itu. Dengan mengabaikannya, orang bisa kehilangan tunjangannya. Langkah-langkah seperti itu bakal membantu memerangi perjuangan melawan "ghetoisasi" dan serta Islamisasi kaum Muslim Eropa. Siapakah yang menang di sini? Demokrasi atau ekstremisme Islam radikal? Lingkaran kesejahteraan dan jihad perlu dihentikan.

Muhammad Shamsuddin, seorang Islam radikal berbasis London berusia 39 tahun, digambarkan dalam sebuah video dokumentasi bertajuk "Para Jihadi di Daerah Tetangga." Shamsuddin, duda bercerai beranak lima anak yang hidup atas bantuan negara dan mengaku tidak bisa bekerja karena mengalami "sindroma kelelahan fisik yang akut" difilmkan tengah mengkotbahkan kebencian terhadap kaum non-Muslim di jalanan Inggeris (sumber foto: suntingan video dari Televisi Channel 4).

EMPAT TAHUN SILAM suratkabar liberal Inggeris, The Guardian, menerbitkan sebuah berita tentang "para penyintas Guantanamo", "para korban ikon pelanggaran hukum Amerika", "para penyintas penjara Inggeris yang disebut sebagai "gulag masa kita." Melengkapi artikel tersebut ditampilkan juga sebuah foto Jamal al Harith.

Lanjutkan Baca Artikel

Yang Harus Diingat Dalam Memerangi Islam Radikal

oleh Saied Shoaaib  •  3 April 2017

  • Dalam semua negara mayoritas Islam, khususnya di Timur Tengah, jin teroris Islam muncul dari bawah debu, membangun negara Islam sembari mengancam Barat –menggunakan operasi teroris dan aksi dari dalam yang dilakukan secara sembunyi–sembunyi, seolah–olah penuh damai seperti yang dilakukan Ikhwanul Muslim.

  • Penting untuk dipahami bahwa Islam adalah agama dalam strukturnya, kekuatan politiklah yang memerintah dan mengendalikan serta menyebarkan kekuatan pasukan bersenjata.

Banyak politikus Barat bekerja sama dengan kaum Islamis dan organisasi Islami. (Sumber gambar: suntingan video RT).

PRESIDEN AMERIKA DONALD TRUMP J.--- telah berhasil menetapkan persoalan jihad sebagai persoalan Islam politis. Akan tetapi, sulit menyingkirkan produk cacat sebuah pabrik tanpa menutup pabriknya jika tidak ingin produk cacat tersebut muncul lagi.

Ini tidak berarti apa yang ingin Trump lakukan itu tidak penting. Sebaliknya, kita membutuhkan dia, setelah sebagian besar politikus Barat tidak tegas berhadapan dengan terorisme Islam, kalau memang berusaha menghadapinya. Terkadang mereka bahkan bekerja sama dengan organisasi teroris ini, mengundang anggota mereka ke Gedung Putih; buka puasa bersama selama Ramadan dan merangkul apa yang keliru mereka sebut sebagai "Islam moderat" – khususnya Ikhwan Muslim, inkubator yang menghasilkan sebagian besar organisasi teroris. Bukan merangkul "Islam moderat" yang sesungguhnya berjuang untuk didengar di atas benturan "pengaruh," infiltrasi dan petro-dollar.

Lanjutkan Baca Artikel

Pemilu Prancis: Revolusi Kaum Populis atau Status Quo

oleh Soeren Kern  •  31 Maret 2017

  • "Jika gelembung Macron tidak muncul, maka ini mungkin saja meramalkan pembenahan kembali, bukan sekedar pembenahan kembali politik Prancis, terapi politik Barat secara umum, jauh dari pembagian kalangan kiri dan kanan yang sejak Revolusi Prancis mendefenisikan politik Barat, menuju pembagian antara masyarakat umum dari para elitnya." --- Pascal-Emmanuel Gobry, pengamat politik Prancis.

  • " Pemilahan ini tidak lama lagi terjadi antara kaum kiri dan kanan, tetapi antara para patriot dan para globalis."---Marine Le Pen, kandidat Presiden Prancis.

Dalam kampanye Pemilu Presiden Prancis baru-baru ini, Marin Le Pen (kanan) menjadi calon yang anti-perubahan yang mapan dan Emmanuel Macron (kiri) adalah calon pro-lembaga status-quo. ( Sumber foto: Suntingan video LCI).

PEMILU PRESIDEN--- Prancis resmi berlangsung 18 Maret bersamaan dengan pengumuman dari Dewan Konstitusi bahwa seluruhnya ada 11 calon presiden bakal menghadapi pekerjaan politik paling penting negeri itu.

Pemilu memang diikuti dari dekat di Prancis dan di manapun di dunia sebagai indikator perasaan tidak puas masyarakat terhadap partai-partai tradisional serta Uni Eropa. Termasuk juga perasaan tidak puas terhadap multikulturalisme dan migrasi massal yang terus berlangsung dari dunia Muslim.

Putaran pertama Pemilu diadakan 23 April. Jika tidak satu pun kandidat presiden memenangkan mayoritas suara mutlak, maka dua pemenang tertinggi putaran pertama bakal bersaing habis-habisan pada 7 Mei nanti.

Jika Pemilu diadakan hari ini, menurut beberapa polling, kandidat "progresif" independen Emmanuel Macron, yang belum pernah menduduki pekerjaan berdasarkan Pemilu bakal menjadi presiden Prancis selanjutnya.

Lanjutkan Baca Artikel

Jalan Satu Arah Kaum Muslim Ekstrim

oleh Burak Bekdil  •  22 Maret 2017

  • Ternyata, pemahaman kaum Muslim ekstremis tentang kemerdekaan itu satu arah: artinya, kemerdekaan seperti hak asasi untuk menganut agama (religious rights) itu "baik" dan harus dibela jika dimaksudkan bagi kaum Muslim---kerapkali terjadi di tempat kaum Muslimnya minoritas. Tetapi hak-hak itu bisa diabaikan begitu saja jika dimaksudkan untuk kalangan non-Muslim---kerapkali di negara-negara mayoritas Muslim.

  • Padahal, banyak negara Muslim sudah menetapkan larangan bepergian terhadap kaum Muslim lainnya, di samping larangan atas warga Israel.

  • Coba lihat di Arab Saudi. Deportasi dan larangan seumur hidup menjadi hukuman minimal terhadap non-Muslim yang mencoba memasuki kota-kota suci, Mekah dan Medinah.

  • Melihat persoalan agama dan hak asasi manusia kaum non-Muslim serta sangat kurangnya pluralism agama di banyak negara Muslim maka muncul pertanyaan, mengapa negara-negara Muslim mendadak menjadi pejuang hak asasi manusia ketika berhadapan dengan larangan bepergian ke Amerika Serikat?

  • Kaum Muslim bakal terus mencintai "orang-orang kafir" yang mendukung hak asasi manusia mereka di negara-negara non-Muslim, namun pada pihak lain mereka terus melakukan intimidasi terhadap "orang-orang kafir" yang sama di negara mereka sendiri.

PRESIDEN DONALD TRUMP---mengeluarkan perintah eksekutif 27 Januari 2017. Berdasarkan perintah ini, AS untuk sementara waktu, selama 90 hari, melarang para imigran dari tujuh negara mayoritas Muslim seperti Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah dan Yaman memasuki negerinya hingga prosedur pemeriksaan ketat dapat dijalankan sebagaimana mestinya. Larangan itu menimbulkan kontroversi, memantik protes di dunia Barat dan Islam, termasuk di Turki yang kini meningkat jumlah kaum radikal Muslimnya.

Lanjutkan Baca Artikel

Tawaran yang bakal Mengubah Jalur Gaza Menjadi Seperti Singapura

oleh Bassam Tawil  •  15 Maret 2017

  • Pekan silam, Hamas mendapat tawaran yang tidak bakal ditolak oleh orang waras. Pantas dicatat bahwa tawaran itu tidak datang dari para sahabat dan sekutu Hamas di Iran, Arab dan dunia Islam. Tawaran itu dari Israel. Yaitu untuk mengubah Jalur Gaza yang miskin, menjadi "Singapore-nya Timur Tengah."

  • "Warga Gaza seharusnya sadar bahwa Israel yang menarik diri mundur Jalur Gaza hingga milimeter tanah terakhir, bukanlah sumber penderitaan mereka. Justru kepemimpinan Hamas yang tidak memperhitungkan kebutuhan-kebutuhan mereka," urai Lieberman dalam sebuah pesan kepada para pemukim Jalur Gaza yang disiarkan lewat televisi. "Saat Hamas memberitahukan terowongan serta roket-roketnya, maka kami akan menjadi yang pertama berinvestasi di sana."--- Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman.

  • Hamas tidak menginginkan sebuah "Singapura" baru di Timur Tengah. Hamas inginkan Israel lenyap dari Timur Tengah. Kesejahteraan warga Palestina yang hidup di bawah kekuasaan, dengan demikian, merupakan hal terakhir yang ada dalam benak Hamas. Jika berkaitan dengan Hamas, maka perselisihan bukan soal upaya untuk memperbaiki kondisi warga Palestina. Sebaliknya, itu soal keberadaan dasar Israel itu sendiri.

  • Hamas pantas dipuji untuk satu hal. Kejujurannya terkait dengan niatnya untuk menghancurkan Israel serta membunuh sebanyak-banyanya kaum Yahudi. Hamas tidak menginginkan 40 ribu pekerjaan baru bagi warga Palestina penganggur yang miskin di Jalur Gaza. Organisasi itu lebih suka melihat warga Palestina penganggur itu bergabung menjadi tentara jihad untuk menggantikan Israel dengan sebuah kekaisaran Islam.

Kemanakah masa depan Gaza: untuk menjadi Singapura-nya Timur Tengah" atau untuk semakin banyak lagi melakukan aksi terorisme dan perang? Yang menyedihkan, Hamas tidak menginginkan sebuah "Singapura" baru di Timur Tengah. Ia justru menginginkan Israel lenyap dari muka bumi. Kesejahteraan warga Palestina yang berdiam di bawah kekuasaannya adalah hal terakhir yang ada dalam benak Hamas.

GERAKAN ISLAM PALESTINA HAMAS---sekali lagi memperlihatkan prioritas kerjanya: membunuh kaum Yahudi. Prioritas itu lebih diutamakan dibandingkan dengan upaya untuk menghapus penderitaan dua juta warga Palestina yang berdiam di bawah kekuasaannya di Jalur Gaza.

Sejak Hamas secara kejam merebut kekuasaan atas Jalur Gaza pada musim panas 2007 lalu, kondisi masyarakat Palestina yang berdiam di sana berubah. Dari situasi buruk menjadi mengerikan. Krisis demi krisis menimpa; ada persoalan listrik. Persoalan air. Juga persoalan kurangnya obat-obatan serta perawatan medis yang memadai serta kurangnya pasokannya yang membahayakan kondisi negeri itu.

Lanjutkan Baca Artikel

Apa itu Persaudaraan Muslim?

oleh Thomas Quiggin  •  2 Maret 2017

  • Ada banyak kelompok dianggap lahir dari tujuan kaum radikal yang berniat menerapkan keyakinan politik mereka atas orang-orang lain. Termasuk di dalamnya adalah ISIS, Al-Qaeda dan Hizbut Tahrir. Bagaimanapun, kelompok terbesar dan paling terorganisasi adalah Persaudaraan Muslim. Merekalah sumber mata airnya. Dari sanalah ideologi kaum Muslim radikal mengalir keluar.

  • Pendiri Persaudaraan Muslim, Hassan al-Banna pernah mengatakan bahwa, "Pada dasarnya Islam itu mendominasi. Bukan untuk didominasi. Untuk menerapkan hukumnya atas semua bangsa dan memperluaskan kekuasaannya ke seluruh penjuru bumi."

  • RUU yang digulirkan Senator Ted Cruz itu meminta agar Persaudaraan Muslim (MB) ditunjuk sebagai kelompok teroris. RUU itu bisa berdampak sangat jauh dan bakal menjadi satu-satunya pukulan paling telak terhadap ekstremisme kaum radikal Muslim di Amerika Serikat.

  • Persaudaraan Muslim yang beroperasi di Amerika Serikat sudah menjelaskan bahwa; "pekerjaan mereka di Amerika itu semacam jihad akbar untuk menghancurkan serta merusak peradaban Barat dari dalam. Ia pun sekaligus 'mensabotase' rumahnya yang tidak karuan dengan tangan mereka dan tangan kaum beriman sehingga negeri itu hancur dan agama Allah menjadi pemenang atas semua agama lainnya."

  • Perserikatan Islam Atlantik Utara (NAIT) menurut mantan agen FBI Robert Stauffer "berperan sebagai holding company atau perusahaan induk keuangan bagi berbagai kelompok yang bertali-temali dengan Persaudaraan Muslim." Uang itu dikirimkan ke AS dari berbagai negara seperti Arab Saudi, Kuwait, Afghanistan, Mesir, Malaysia dan Libya.

Lencana Persaudaraan Muslim dan gambar pendirinya, Hassan al-Banna.

KAUM MUSLIM--- yang berdiam di Amerika Serikat agaknya tak perlu terlalu takut terhadap Pemerintahan Trump serta Kongres AS yang ke-115. Sebaliknya, kaum Muslim radikal punya alasan untuk khawatir.

Kekhawatiran itu pantas mengemuka seiring dengan diajukannya Rancangan Undang-Undang (RUU) No. S.68. RUU yang digulirkan Senator Ted Cruz itu meminta agar Persaudaraan Muslim (MB) ditunjuk sebagai kelompok teroris. Meskipun banyak dampaknya tak banyak mendapatkan perhatian publik, RUU itu bisa berdampak sangat jauh. Rancangan itu, jika dijalankan, bakal menjadi satu-satunya pukulan paling telak terhadap ekstremisme kaum radikal Muslim di Amerika Serikat. Juga berdampak jauh di Kanada dan tempat lainnya.

Lanjutkan Baca Artikel

Gadis Yazidi Dijual Sebagai Budak Seks Sementara Wanita Berpawai Menentang Trump

oleh Uzay Bulut  •  26 Februari 2017

  • Beberapa gadis Yazidi dijual untuk beberapa pak rokok.

  • "Beberapa wanita dan Beberapa wanita dan gadis itu harus menyaksikan anak berusia 7, 8 dan 9 tahun menderita pendarahan hingga meninggal dunia di depan mata mereka, setelah diperkosa oleh milisi ISIS berkali-kali dalam sehari. Milisi ISIS membakar hidup-hidup banyak gadis Yazidi karena menolak berpindah agama serta menikahi para pria ISIS. Mengapa? Karena kami bukan Muslim. Dan karena jalan kami adalah jalan damai. UNtuk ini, kami dibakar hidup-hidup: karena hidup sebagai pria dan wanita penuh damai." — Mirza Ismail, Ketua Organisasi Hak Asasi Masyarakat Yazidi Internasional.

  • "Ini genosida atau pembantaian massal terhadap kaum wanita." — Zeynep Kaya Cavus, aktivis agama minoritas Alevi yang kenamaan.

  • Sayangnya, banyak koordinator dan partisipan demonstrasi di Washington memilih untuk tetap pada pendiriannya sekaligus mengabaikan kenyataan adanya wanita yang disiksa dan dimusnahkan oleh teroris Islam. Sementara di wilayah lain di dunia, para perempuan tidak dapat menyenyam pendidikan atau bahkan meninggalkan rumah tanpa seijin laki–laki.

  • Andaikata para wanita itu juga tergerak hati mereka untuk memprotes perbudakan, pemerkosaan dan penyiksaan terhadap wanita dan anak–anak Yazidi seperti mereka memprotes harga tampon.

Aktris Ashley Judd mengeluh bahwa, "tampon dikenakan pajak sementara Viagra dan Rogaine tidak" dalam sebuah "Pawai Para Wanita" di Washington D.C. Kala yang sama, ribuan anak dan wanita Yazidi tengah dipaksa menjalani perbudakan seks di Irak dan Suriah di tangan-tangan Negara Islam (ISIS).

DUA PULUH SATU JANUARI --- Sejumlah kelompok hak asasi manusia mengorganisasikan "Pawai Para Wanita" di banyak kota di seluruh penjuru Amerika Serikat dan dunia. Pawai itu menyasar Presiden AS Donald Trump yang baru saja dilantik.

Ada banyak pembicara dan peserta. Pertama, aktris Ashley Judd. Dia membacakan puisi di Washington DC. Isinya, mengajukan pertanyaan mengapa, "tampon dikenakan pajak sementara Viagra dan Rogaine tidak."

Tatkala Judd berbicara tentang tragedy dirinya yang hancur-hancuran, ribuan anak dan wanita Yazidi tengah dipaksa menjalani perbudakan seks di Irak dan Suriah di tangan-tangan Negara Islam (ISIS) dan dapat dibeli di berbagai pasar budak seks kedua negeri itu.

ISIS menyerang kampung halaman etnis Yazidi, Shingal di Irak, 3 Agustus 2014. Lebih dari 9000 warga Yazidi dibunuh, disandera atau diperbudak secara seksual. Warga Yazidi adalah minoritas agama yang kerapkali disiksa dalam rentang panjang sejarah di Timur Tengah.

Lanjutkan Baca Artikel

Upaya Menutupi Pembantaian Massal atas Warga Armenia

oleh Uzay Bulut  •  8 Februari 2017

  • "Dalam semua operasi ini, anak-anak menjadi bagian dari populasi umum yang disasar untuk dihancurkan secara besar-besaran. Dalam banyak contoh kasus, mereka dipisahkan dan mengalami berbagai bentuk pembantaian massal." — Professor Vahakn Dadrian, dalam bukunya Children as Victims of Genocide: The Armenian Case.

  • Berbagai bentuk pembantaian juga menggunakan cara seperti menenggamkan anak-anak secara massal, membakar mereka massal, melakukan pelecehan seksual dan mutilasi.

  • "Di Propinsi Ankara, dekat Desa Bash Ayash ada dua pemerkosa sekaligus pembunuh; satunya perampok bernama Deli Hasan dan lain, seorang polisi (gendarme), Ibrahim. Keduanya memperkosa 12 remaja laki-laki berusia 12-14 tahun kemudian membunuh mereka. Para korban yang tidak langsung mati disiksa hingga mati ketika mereka menangis memanggil "Mama, Mama." — Professor Vahakn Dadrian, dalam bukunya Children as Victims of Genocide: The Armenian Case.

  • "Seorang wanita penyintas genosida dari Giresun mengenang bagaimana 500 anak yatim piatu Armenia di Agn (Egin), Propinsi Harput dikumpulkan dari semua bagian propinsi. Setelah berhasil dikumpulkan, anak-anak tidak berdosa itu diracun oleh para ahli farmasi dan dokter yang memang sudah disiapkan." — Leslie A Davis, Konsul AS di Harput.

  • Lebih dari 100 tahun pasca-genosida, Turki masih saja menyangkalinya. Buku pelajaran sejarah Turki bahkan mengecam pembantaian massal atas Armenia terjadi karena ulah mereka sendiri.

  • Tatkala para pakar menyangkal adanya genosida atas warga Armenia bahkan berupaya mencegah Pemerintah AS untuk secara resmi mengakui tragedi itu, maka mereka sebetulnya sekali lagi membunuh para korban itu.

  • "Selama genosida tidak diakui, keadilan tak bakal bisa ditegakan. Kutukan genosida tidak bakal meninggalkan negeri ini. Turki tidak bakal melihat cahaya siang. Ini bukan ramalan, tetapi pernyataan atas fakta." — Asosial Hak Asasi Manusia Turki, 2016.

(Sumber foto: American Red Cross/Wikimedia Commons).

PRESIDEN TERPILIH AS---Donald J. Trump baru-baru ini menyerukan untuk "memberikan garansi" kepada Turki bahwa tragedi genosida atau pembantaian massal atas warga Armenia tidak akan diakui oleh Kongres AS sebagaimana mestinya. Garansi itu tertuang dalam seperangkat usulan berkaitan dengan "Kebijakan AS atas Turki."

"Amerika Serikat bisa diam-diam memberikan jaminan kepada Turki bahwa resolusi tentang Pembantaian Warga Armenia di Kongres tidak bakal disahkan. Isu ini senantiasa menjadi persoalan penting dalam hubungan kedua negara dan sebagian besar masyarakat Turki pun sangat peduli dengannya," tulis sebagian makalah yang dikeluarkan oleh The Washington Institute for Near East Policy (WINEP) dan ditulis oleh Mantan Duta Besar AS untuk Ankara James F. Jeffrey serta cendekiawan Turki Dr. Soner Cagaptay.

Lanjutkan Baca Artikel