Analisa dan Komentar Terbaru

"Benarkah Manusia yang Lakukan Ini?"
Penganiayaan atas Umat Kristen, Januari 2019

oleh Raymond Ibrahim  •  14 April 2019

  • Polisi "bersikap kepada para imam seolah menghadapi para pembunuh," ---pengaca Hak Asasi Manusia, Minya, Mesir.

  • Bagaimanapun, faktor umum di antara semua penutupan gereja, adalah bahwa, tindakan itu dilakukan untuk menyenangkan hati kaum fundamentalis dan ekstremis dengan merugikan umat Koptik. Tampaknya hendak menunjukkan bahwa kaum ekstremis kini lebih kuat sehingga berusaha menyenangkan hati mereka menjadi cara mudah untuk keluar dari persoalan..." ---Uskup Kristen lokal, Minya, Mesir.

  • Ketika sampai kepada pemberian suaka, Inggris "tampaknya membeda-bedakan dan lebih memilih Muslim" daripada kaum minoritas Kristen dari negara-negara Muslim. Berbagai statistik mengkonfirmasi dugaan ini: "dari 4.850 pengungsi Suriah yang diterima untuk dimukimkan kembali oleh Kementerian Dalam Negeri pada 2017, hanya sebelas orang Kristen, mewakili hanya 0,2% dari semua pengungsi Suriah yang diterima oleh Inggris."— Nicholas Hellen, Barnabas Fund, 20 Januari 2019, Inggris.

  • Seorang Jurubicara Pemerintah Selandia Baru mengatakan bahwa pengungsi dipertimbangkan untuk dimukimkan kembali berdasarkan "kebutuhan untuk melindungi mereka bukan afiliasi agama." Namun, bagaimanapun, mengingat Negara Islam biasanya menyasar orang berdasarkan "afiliasi agama" mereka menunjukkan bahwa orang Kristen, Yazidi, dan minoritas lainnya lebih "membutuhkan perlindungan" dibanding kaum Muslim.

Minggu, 27 Januari 2019. Teroris meledakkan dua bom ketika Misa sedang berlangsung di Karedral Katolik Our Lady of Mount Carmel (Bunda Kami dari Gunung Karmel) di Jolo, Filipina. Sedikitnya, 20 orang terbunuh dan 111 orang terluka. Gambar: Presiden Filipina Rodrigo Duterte melakukan inspeksi terhadap katedral yang rusak itu, 28 Januari 2019. (Sumber foto: Albert Alcain/ Kantor Urusan Komunikasi Kepresidenan Filipina /Wikimedia Commons).

Pembantaian Dalam Gereja dan Serangan Atasnya

Filipina: Minggu, 27 Januari 2019. Para militan Islam membom sebuah Katedral Katolik ketika Misa sedang berlangsung. Sedikitnya, 20 orang tewas dan 111 orang terluka. Dua bahan peledak diledakan sekitar satu menit berbeda waktu di seputar Katedral Our Lady of Mount Carmel (Bunda Kami dari Gunung Karmel) di Jolo, sekitar pukul 8.45 pagi. Menurut berita, "Ledakan pertama memporak-porandakan bangku kayu dalam ruang utama karedral dan memecahkan kaca-kaca jendela. Bom kedua melemparkan serpihan jenasah manusia dan reruntuhan ke segala penjuru sebuah alun-alun kota yang berhadapan dengan katedral."

Lanjutkan Baca Artikel

Sosialisme: Hati-Hati dengan Apa yang Kaudambakan

oleh Philip Carl Salzman  •  9 April 2019

  • Obyek sosialisme agaknya hendak meningkatkan ekonomi yang setara dengan menyita kekayaan di antara individu dan keluarga dalam masyarakat. Ini dilakukan dengan mengambil kekayaan mereka yang punya kekayaan lebih banyak di atas rata-rata kemudian mendistribusikannya kembali kepada mereka yang kurang dari rata-rata. Karena kekayaan biasanya tidak akan secara sukarela diserahkan, maka redistribusi harus dipaksakan oleh badan-badan pemerintah, didukung oleh hukum dan peraturan administrasi. Dalam prakteknya, sosialisme, bagaimanapun, biasanya mengakibatkan para anggota pemerintah mendistribusikan kembali kekayaan yang mereka rampok untuk diri sendiri dan rekan mereka. Dalam lingkungan pemerintahan AS, masa kini sekalipun, anggota Kongres tidak terikat untuk mematuhi hukum yang mengikat mereka di negara itu.

  • Hasil yang setara memangkas hubungan antara bisa menikmati imbalan produksi seseorang dan perampasan imbalan untuk didistribusikan kepada orang lain. Terputusnya hubungan antara pekerjaan dan penghargaan merongrong motivasi untuk bekerja dan berinovasi seseorang. Mengapa bekerja atau mengambil risiko ketika keuntungan, jika orang berhasil, malah pergi kepada pihak lain? Jika Anda menarik insentif untuk kerja dan produksi, Anda akhirnya justru meninggalkan produsen.

  • Sosialisme berarti menyerahkan kebebasan Anda kepada pemerintah Anda, yang mengklaim diri tahu cara membelanjakan uang Anda lebih baik daripada Anda sendiri. Sayangnya, sejarah membuktikan ini merupakan spiral kematian ekonomi dan penyediaan jasa, entah terkait dengan rendahnya standar kualitas pendidikan publik di AS, atau terkait dengan pemberian layanan kesehatan kepada para veteran. Sekarang ini, Presiden Donald J. Trump akhirnya mencoba mengatasi krisis itu. Bagaimana? Dengan memprivatisasi.

  • Jika keadilan berarti memberikan apa yang menjadi hak seseorang, maka mengambil kekayaan dari mereka yang sudah mendapatkannya kemudian memberikannya kepada mereka yang belum mendapatkannya, adalah praktik yang sangat meragukan. Memang manusiawi untuk irihati kepada orang yang punya kekayaan lebih dan lebih baik. Bagaimanapun, pantaslah diragukan bahwa sebaiknya kebijakan sosial membasiskan kebijakan politik pada perasaan-perasaan ini: sesuatu yang secara historis Karena bagaimanapun, secara historis orang akan sampai pada situasi dan tempat yang parah atau yang kurang parah.

(Sumber foto: iStock)

Sekian lama, praktes sosialisme tampaknya benar-benar gagal. Pesonanya sebagai suatu ideologi ekonomi hilang. Republik Uni Sosialis Soviet (Uni Soviet) hancur; negara-negara satelit Eropa Timurnya lantas melepaskan diri pada era 1990-an. Cina beralih dari sosialisme menjadi kapitalisme negara yang dimulai dengan reformasi ekonomi pada 1978 dan sejak itu melakukannya dengan penuh semangat. Kuba Komunis merosot menjadi tujuan wisata liburan tepi pantai bagi masyarakat Kanada dan Eropa, dan Venezuela yang sosialis benar-benar runtuh. Dalam sebuah esainya yang terbit pada 1989 berjudul "The End of History?", Francis Fukuyama menjelaskan bahwa, dalam peristiwa-peristiwa yang disebutkan di atas, kita menyaksikan "kemenangan ekonomi dan liberalisme politik yang tanpa malu-malu."

Lanjutkan Baca Artikel

"PBB, Sikap Diammu Makin Parah": Ekstremis Aniaya Umat Kristen, September 2018

oleh Raymond Ibrahim  •  5 April 2019

  • "Dua laki-laki muda bertopeng memasuk apotik menyeret ayah saya keluar. Mereka memaksa dia berlutut di jalan. Dua moncong senapan mereka tekan pada wajah ayah saya lalu menyuruh dia masuk Islam. Tetapi dia menggelengkan kepala. Mereka lalu menembaknya."--- Open Doors, 23 Agustus 2018, Mesir.

  • Ayah kami, Mashir Masih, petugas kebersihan, urai anak laki-laki keluarga itu, Fiaz Masih."Beberapa tahun silam, dia mendirikan rumah ini, ketika dia pensiun dari pekerjaannya. Bagaimanapun, umat Muslim tidak bisa menerima bahwa ada umat Kristen tinggal di rumah bagus, besar dan penuh perlengkapan seperti ini. Kami satu-satunya keluarga Kristen di lingkungan ini. Mereka ingin merebut harta kami. Karena itu, mereka mulai mengancam kami supaya meninggalkan rumah dan jika tidak, mereka akan [menuduh kami] melakukan penghinaan terhadap Islam."---Pakistan.

  • "Indonesia terkenal karena interpretasi Islamnya yang menganut toleransi agama. Tetapi kaum ekstrimis Muslim mendesak supaya hukum Islam diterapkan di seluruh Indonesia, sehingga menciptakan perpecahan agama. "---Suara Amerika, 1 Oktober 2018.

Di Kenya, para teroris Islam menghentikan sebuah bus yang sedang bepergian menuju Garissa lalu membunuh dua umat Kristen karena menolak beralih menganut Islam. Gambar: Jalan di Garissa, Kenya. (Sumber foto: Adam H T Geelle/Wikimedia Commons)

Pembataian Umat Kristen

Republik Afrika Tengah: Sebanyak 42 orang---sebagian besar wanita Kristen ---ditetak dengan parang hingga tewas... setelah terduga pemberontak Islam radikal menyerang sekelompok warga sipil di Bria, Republik Afrika Tengah bagian tengah, antara 4–5 September 2018 lalu. Beberapa korban tewas karena tebasan parang, yang lainnya karena tembakan peluru. Sedikitnya, satu dari wanita yang disembelih itu tengah hamil. "Mereka [para militan Seleka] tidak ingin melihat ada umat Kristen di sini," urai seorang pemimpin gereja. "Umat Kristen tidak pernah pergi ke kota...Jalan-jalan mereka barikade semuanya. Dan jika kau berusaha keluar dari sana, kau hadapi sendiri bahayanya. Kami umat Kristen tidak bisa lakukan apa-apa lagi. Tak ada makanan untuk dimakan. Tak ada tempat menginap. Kami hanya andalkan doa. Tolong doakan kami!"

Lanjutkan Baca Artikel

Kerusuhan Prancis: Akhirnya tidak Terlihat

oleh Guy Millière  •  30 Maret 2019

  • Kelompok ketiga sangat besar: itulah populasi warga Perancis lainnya. Masyarakat kelas atas memperlakukan mereka sebagai beban mematikan yang pantas disesali sehingga tidak mengharapkan apa-apa dari mereka selain sikap diam yang patuh. Para anggotanya sering mengalami masa sulit untuk memenuhi kebutuhan. Mereka membayar pajak tetapi dapat melihat bahwa semakin besar pajak digunakan untuk mensubsidi orang-orang yang mengusir mereka keluar dari rumah-rumah pinggiran kota mereka.

  • Untuk sekarang ini, Macron tampaknya bahkan tidak ingin mengakui masyarakat ini ada.

  • Langkah Macron menurunkan pajak orang-orang terkaya, tetapi sebaliknya meningkatkan pajak "kaum pinggiran" dengan pajak bahan bakar, dipandang sebagai upaya terakhir yang tidak menyenangkan – selain tentu saja sikapnya yang merendah dengan gayanya yang pongah.

  • "Sekarang ini, sebagian besar pemrotes tidak menyerang polisi. Tetapi, alih-alih mengatasi kekerasan, polisi justru mendapat perintah yang mendorong mereka menjadi sangat kejam. Saya tidak mengecam polisi. Saya mengecam orang-orang yang memberi perintah."--- Xavier Lemoine, Walikota Montfermeil, kota satelit di sebelah timur Paris, yang dirusak parah oleh kerusuhan pada tahun 2005.

Polisi bentrok dengan seorang pemrotes berjaket kuning, 18 Desember 2018 di Biarritz, Perancis. (Foto oleh Gari Garaialde/Getty Images).

Sabtu, 26 Januari 2019. "Protes para pemakai jaket kuning" diorganisasikan di kota-kota penting Perancis. Mobilisasi tidak melemah. Dukungan populasi memang sedikit melemah, tetapi masih sangat besar (60%-70%, menurut berbagai polling pendapat umum). Slogan utamanya tetap sama sejak 17 Nopember 2018. "Macron harus mundur." Selama Desember, slogan lain ditambahkan, "Citizens' initiative referendum" (Referendum inisiatif warganegara).

Pemerintah dan Presiden Perancis, Emmanuel Macron melakukan segala upaya yang mampu mereka lakukan untuk menghancurkan gerakan. Mereka mencacimaki dan menghina, Pernah mereka katakan bahwa demonstran adalah "orang-orang durhaka" yang ingin menggulingkan institusi sekaligus adalah ""kaum fasis berkaos coklat." Adanya beberapa orang yang anti-Semit menyebabkan seorang jurubicara pemerintah (secara tidak tepat) melukiskan seluruh gerakan itu sebagai "anti-Semit."

Lanjutkan Baca Artikel

Swedia: Wanita Diperkosa, Otoritas Terlampau Sibuk

oleh Judith Bergman  •  19 Maret 2019

  • Menurut Mikaela Blixt, setelah seorang laki-laki menyerangnya di jalanan dan berusaha memperkosanya, polisi tidak berbuat apa-apa, meskipun ia tahu di mana penyerangnya tinggal dan dapat dengan mudah mengidentifikasi pelakunya.

  • Media arus utama Swedia Expressen, belakangan ingin mewawancarai Blixt. Tetapi menurutnya, hanya dengan syarat bahwa dia tidak menyebutkan penyerangnya adalah migran Afghanistan.

  • Bukan cuma wanita tetapi nyaris satu dari tiga warga Swedia tidak merasa aman di Swedia, demikian menurut sebuah jajakpendapat baru yang menanyakan 6.300 orang Swedia seberapa amankah mereka merasa di rumah dan komunitas mereka.

  • Anehnya, polisi Swedia punya sumberdaya yang cukup untuk menuntut para peserta demonstrasi damai. Juga punya sumberdaya yang waktu untuk menuntut orang-orang yang diduga melakukan kejahatan pikiran.

Bahkan upaya menghubungi polisi untuk melaporkan kasus percobaan perkosaan terhadap seorang wanita, untuk mengatakan sedikitnya, sulit. Ini menjadi tanda bahwa ada yang membusuk dalam Kerajaan "feminis" Swedia. Namun, polisi Swedia bukan saja punya sumberdaya yang cukup untuk menuntut orang yang mengikuti demonstrasi damai, tetapi juga menuntut orang yang diduga melakukan kejahatan pikiran. (Sumber foto: iStock)

"Swedia", ucap pemerintahannya Nopember 2015 silam, "punya pemerintahan yang feminis. Kami menempatkan kesetaraan gender pada inti karya nasional dan international. Kekuasaan yang sama bagi pria dan wanita untuk membentuk masyarakat sekaligus kehidupan mereka sendiri menjadi seluruh tujuan kebijakan kesetaraan gender pemerintah. Karena, pada akhirnya, inilah persoalan demokrasi dan keadilan sosial."

Tunggu sebentar. Seharusnya wanita yang hidup di bawah "pemerintahan yang feminis" bisa---jelas sekurang-kurangnya --- bisa tinggalkan rumah mereka tanpa takut menjadi korban serangan seksual?

Lanjutkan Baca Artikel

Proyek Untuk Mengubah Perancis

oleh Guy Millière  •  10 Maret 2019

  • "Terserah kita untuk memberikan arti politik pada revolusi. Tujuanya bukan sekedar mau menentang semakin meningkatnya pajak, tetapi sistem politik yang menyebabkannya... Siapakah yang lebih sah dibandingkan dengan kaum Mulim politik untuk menjadi pelopor revolusi andaikan berperan menyadarkan massa sekaligus menolak penindasan."--- Elias d'Imzalene, pengkotbah Islam radikal (Islamis) Perancis, 23 November 2018.

  • "Macron membenci pendemo jaket kuning. Ia ingin mereka lenyap. Dia ingin memenangkan Pemilu Eropa dan dia butuh suara kaum Muslim. Dia sangat paham siapakah orang-orang anti-Semitis sekarang ini, tetapi tidak akan serang mereka. Ia butuh mereka. Dia [hanya] menyerang orang-orang yang berbahaya baginya."--- Éric Zemmour, pengarang Perancis, 19 Februari 2019.

  • Kalangan lain mencatat bahwa mengadakan demonstrasi yang mengesampingan partai sayap kanan, Partai Parade Nasional merupakan gebrakan yang bermaksud mengalihkan perhatian dari bahaya anti-Semit yang sebenarnya. Juga mereka katakan bahwa partai-partai politik yang mendukung pembunuhan orang Yahudi persisnya adalah partai yang menyangkal bahwa Islam radikal itu memang berbahaya.

Foto: para pemrotes "berjaket kuning" yang tampil 2 Maret 2019 di Paris, Perancis.(Sumber foto: Getty Images)

Enam belas (Hari) Sabtu sudah demonstrasi "para pemakai jaket kuning" berlangsung. Berawal Nopember lalu dengan memprotes Presiden Perancis Emmanuel Macrons setelah dia menaikkan harga bahan bakar minyak. Kini, kontroversi tampaknya mengarah kepada putaran yang lebih suram.

Tampaknya, persoalannya mulai jelas, 13 Februari lalu. Ketika itu, sekelompok kecil demonstran mulai memaki-maki seorang filsuf Yahudi keturunan Yahudi, Alain Finkielkraut. Sang filsuf dilahirkan dan dibesarkan di Paris. Makian diarahkan kepadanya ketika para demonstran melihat dia berjalan-jalan di pinggir di kaki lima. Seorang laki-laki berteriak, "tutup mulutmu, taik Zionis jorok," "Pulang kau ke Tel Aviv," "Perancis milik kami," "Allah akan hukum kau." Seorang jurukamera memfilmkan insiden itu kemudian membagikan video di jaringan sosial. Skandal pun mengemuka. Gerakan "jaket kuning" secara keseluruhan langsung dituduh oleh Pemerintah Perancis sebagai anti-Semitisme dan "fasisme."

Lanjutkan Baca Artikel

Damainya Pengambilalihan Eropa

oleh Jan Keller  •  4 Maret 2019

  • Konsep bentrokan peradaban mengasumsikan bahwa memang ada konflik antaragama. Pandangan ini kerap benar sejauh ia terkait dengan Islam. Karena, aspek relijius Islamisme tampaknya menjadi motivator yang sangat kuat. Keinginan ini menggambarkan betapa cacatnya teori sosiologis dan politik modernisasi. Menurut teori itu, seluruh dunia akhirnya menjalani proses pencerahan yang sama dengan Eropa.

  • Berbeda dari Marxisme tradisional misalnya yang menolak "perjuangan kelas" dan kapitalisme demi masyarakat tanpa kelas, Neo-Marxis tampaknya berasumsi bahwa kediktatoran yang menguntungkan kaum minoritas akan berdampak pada munculnya suatu masyarakat dengan kebebasan yang mutlak bagi semua orang.

  • Untuk tujuan ini, kaum Neo-Marxis pikir perlu membangun birokrasi anti-diskriminasi yang memecah-belah dominasi mayoritas atas minoritas kemudian memaksa mayoritas supaya berhenti menuntut posisi istimewa mereka sendiri. Mayoritas tidak cukup mentolerir perbedaan; ia juga harus merangkul dan menyukainya.

Mayoritas politisi dan anggota media kini tampaknya diarahkan oleh pemikiran bahwa lebih baik salah soal buku Francis Fukuyama bertajuk The End of History (Berakhirnya Sejarah) dibandingkan dengan benar soal buku Samuel Huntington bertajuk, The Clash of Civilizations (Bentrokan Peradaban). (Sumber foto: Huntington - World Economic Forum/Wikimedia Commons; Fukayama - Fronteiras do Pensamento/Wikimedia Commons)

Mayoritas politisi dan anggota media kini tampaknya diarahkan oleh pemikiran bahwa lebih baik salah soal buku Francis Fukuyama yang bertajuk The End of History (Berakhirnya Sejarah) daripada benar (pemikirannya) soal buku Samuel Huntington bertajuk, The Clash of Civilizations (Bentrokan Peradaban). Tampaknya ini menjadi ekspresi ringkas dari meluasnya sikap tidak rela sekaligus tidak mampu untuk menyebutkan barang dengan nama barang itu sendiri. Mari kita amati kenyataan bahwa begitu sulitnya bagi banyak anggota masyarakat liberal untuk mengakui sehingga menjelaskan mengapa diagnosa Huntington tentang era masa kini itu jauh lebih sesuai dibandingkan dengan diagnose Fukuyama.

Lanjutkan Baca Artikel

"Akan Kami Usir Kalian Keluar..."
Penganiayaan terhadap Umat Kristen, Desember 2018

oleh Raymond Ibrahim  •  3 Maret 2019

  • Arab Saudi, teman dekat sekaligus sekutu Amerika gagal memenuhi janjinya untuk menghilangkan isi buku yang ekstrem dari kurikulum sekolahnya pada tahun ajaran 2018-19. Isi buku itu mempromosikan permusuhan dan kekerasan terhadap, minoritas agama.

  • "Contoh-contoh bahan-bahan ajar itu termasuk upaya merendahkan kaum non-Muslim dan sebaliknya mendorong aksi jihad terhadap mereka. Mengeksekusi mati orang-orang murtad ditulis dan anak-anak didorong untuk tidak bergaul dengan kaum non-Muslim. Arab Saudi bukan saja terus menggunakan buku pelajaran itu di dalam negeri, tetapi juga mengekspornya ke bagian lain Timur Tengah." — Laporan dari International Christian Concern, 1 Desember2018.

  • Pihak berwenang Inggris memutuskan mendeportasi seorang pria Kristen kembali ke Pakistan, tempat dia sebelumnya dipukul dan diancam dibunuh, "kendati Inggris menjadi tuan rumah bagi para pembajak, ekstremis dan pemerkosa [Muslim]," itulah berita yang bisa dikutip dari berita utama sebuah suratkabar negeri itu. Asher Samson, 41, "pertama tiba di Inggris tahun 2004 untuk mengikuti pendidikan teologinya untuk menjadi pendeta. Belakangan dia mengajukan permohonan suaka setelah mendapat ancaman dari para ekstrimis Islam selama dia berlibur ke rumahnya di Pakistan..." Menurut Samson, "Jika mereka kirim saya kembali ke sana, hidup saya akan benar-benar dalam bahaya. Saya sangat takut.... Orang-orang tahu siapa saya. Mereka tahu saya orang Kristen..." ---Suratkabar— The Independent, 24 Desember 2018.

Tanggal 1 Desember 2018. Shabak, milisi Shiah Irak yang dibentuk tahun 2014 untuk merebut kembali Dataran Nineveh Plain dari Negara Islam menembaki Gereja Assyria St. Georgius di Bartella yang sebelumnya adalah kota dengan mayoritas Kristen di Irak. Mereka juga mengancam pastor gereja itu, Pastor Behnam Benoka. Gambar: Gereja Assyria St. Georgius di Bartella. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Pembantaian Umat Kristen

Lanjutkan Baca Artikel

Wartawan Palestina: Kami Tidak Punya Media yang Bebas

oleh Khaled Abu Toameh  •  20 Februari 2019

(Foto oleh iStock)

Para wartawan Palestina hidup dan bekerja di bawah kekuasaan Otoritas Palestina (PA) di Tepi Barat dan Hamas dan Jalur Gaza terus-menerus menghadapi tantangan yang luar biasa besarnya sehingga nyaris mustahil bagi mereka untuk beroperoasi bebas dari tekanan dan intimidasi.

Nyaris tidak ada seminggu pun lewat tanpa ada laporan seputar wartawan Palestina yang mengeluhkan perundungan oleh PA atau Hamas. Perundungan ini mengambil banyak bentuk seperti dipanggil untuk diinterogasi, ditahan serta perlakuan kejam lewat kata-kata.

Lanjutkan Baca Artikel

"Terbakar Hingga Tak Bisa Dikenali:" Ekstremis Aniaya Umat Kristen, Agustus 2018

oleh Raymond Ibrahim  •  17 Februari 2019

  • "Undang-undang yang tidak dijalankan menyebabkan geng orang-orang yang berhaluan keras yang berada di atas hukum mendatangi kami."---Aktivis hak asasi manusia, World Watch Monitor, Mesir.

  • Sekelompak Muslim menghajar Vishal Masih, seorang pemuda Kristen berumur 18 tahun setelah korban berulangkali mengalahkan seorang remaja Muslim dalam pertandingan gulat." — Persecution, International Christian Concern, Pakistan.

  • "Kami tidak bisa saksikan anak-anak kami bergabung dengan 'gereja' kafir," urai seorang sheik lokal."— Morning Star News, Uganda.

  • Komoro: (Agama) Islam Sunni resmi diumumkan sebagai "agama negara." Sebuah kelompok cendekiawan radikal ultra-konservatif ...tengah mendorong negeri itu supaya menjalankan pandangan yang lebih ekstrim tentang hukum Islam (Shariah) di negeri itu dan terhadap umat Kristen."---World Watch Monitor, 3 Agustus 2018.

Pemerintah Turki membiarkan sekolah teologi Gereja Kristen Ortodoks (Halky Seminari) ditutup selama 47 tahun, ketika pihak Gereja Ortodoks menunggu supaya diijinkan untuk dibuka kembali. Namun, baru-baru ini, pihak berwenang Turki justru mengumumkan bahwa sebuah Pusat Pendidikan Islam akan didirikan tepat di sampaing bangunan Kristen yang ditutup itu. (Darwinek/Wikimedia Commons).

Umat Kristen Terbakar Hidup-Hidup dan Gereja Dibakar

Etiopia: Sekitar 15 imam Kristen tewas dibunuh dan 19 gereja dibakar selama aksi kerusuhan oleh umat Muslim meledak di kawasan timur Etiopia. Sedikitnya, empat dari lima belas imam itu dibakar hidup-hidup. Kawasan itu adalah pusat dari sebagian besar populasi Muslim negeri itu. Etiopia punya 33% populasi Muslim. "Ketegangan yang sama mendidih di bawah permukaan di berbagai bagian lain Oromnia," yang diperkirakan 50% populasinya Muslim, urai sebuah sumber lokal. "Kami bahkan pernah dengar tentang tempat-tempat di mana kaum Muslim meminta umat Kristen mengosongkan kawasan. Walau seruan itu diselubungkan sebagai persaingan etnis oleh beberapa media dan pengamat politik, pada dasarnya, aksi itu merupakan persoalan keagamaan."

Lanjutkan Baca Artikel

Perancis Terjun Bebas

oleh Guy Millière  •  16 Februari 2019

  • Jelaslah para pejabat itu memahami bahwa para teroris terlibat dalam perang panjang sehingga sulit menghentikannya. Mereka tampaknya menyerah. Tidak diragukan lagi, mereka sadar bahwa semakin banyak kaum muda Muslim Perancis tengah diradikalisasi. Bagaimanapun, tanggapannya, adalah dengan memperkuat institusi Muslim di Perancis.

  • Bagaimanapun, saat Macron bicara, salah satu utusan khususnya justru berada di Maroko, bertindak atas nama Perancis hendak menandatangani Pakta Global bagi Migrasi yang Aman, Tertib dan Teratur (Global Compact for Safe, Orderly and Regular Migration). Di dalamnya, imigrasi dirumuskan sebagai "menguntungkan" negara-negara penerima. Berdasarkan pakta itu, negara-negara penandatangan, berjanji hendak "memperkuat sistem pelayanan penyerahan migran yang inklusif.

  • Sekelompok pensiunan jenderal menanggapi situasi dengan menerbitkan surat terbuka. Mereka katakan bahwa penandatanganan Global Compact adalah langkah lebih lanjut menuju "diabaikannya kedaulatan nasional" lalu mencatat bahwa "80% populasi Perancis berpikir bahwa imigrasi harus dihentikan atau diatur secara drastis".

  • Pengarang Éric Zemmour melukiskan revolusi itu sebagai lahir dari "rasa putus asa masyarakat yang merasa terhina, terlupakan, terampas dari negara mereka akibat keputusan dari sebuah kasta masyarakat yang suka menghina orang."

Presiden Perancis Emmanuel Macron tampaknya berharap bahwa kelelahan menyebabkan para pemrotes "berjaket kuning" menyerah. Tetapi sayangnya, belum ada tanda-tanda itu. Sebaliknya, para "pemakai jaket kuning" tampak mendedikasikan diri untuk menumbangkan dia dari jabatannya. Foto: para pemrotes "berjaket kuning" yang tampil 15 Desember 2018 lalu di Paris, Perancis. (Foto oleh Veronique de Viguerie/Getty Images).

Strasbourg, Perancis. Pasar Natal. Tanggal 11 Desember 2019. Jam 8 malam. Sambil meneriakkan "Allahu Akbar" seorang laki-laki menembak orang-orang yang lewat, lalu melukai beberapa dari mereka dengan pisau. Dia membunuh tiga orang di tempat kejadian serta melukai puluhan orang lainnya. Beberapa terluka parah. Dua korbannya belakangan meninggal dunia akibat luka-luka mereka. Pembunuhnya berhasil meloloskan diri. Dan, dua hari kemudian, polisi menembaknya mati.

Polisi ternyata sudah tahu pelakunya. Tatkala para anggota Direktorat Jenderal Keamanan Internal beserta beberapa tentara mendatangi rumahnya beberapa jam sebelum penembakan, dia berhasil meloloskan diri. Walau tahu dia penganut Islam radikal bersenjata yang berbahaya dan siap beraksi, tidak ada pengawasan dilakukan di kawasan itu. Padahal, petugas keamanan tahu Pasar Natal sedang diselenggarakan dan agaknya bisa menjadi sasaran pelaku.

Lanjutkan Baca Artikel

Spanyol: Berlanjutnya Persoalan Jihad Catalonia

oleh Soeren Kern  •  6 Februari 2019

  • Polisi mengatakan bahwa para pejihad diketahui akan melakukan sedikitnya 369 perampokan dan pencurian di dalam dan sekitar Barselona. Selain pencurian, para anggota sel itu menunjang kehidupan mereka dengan menjual narkoba serta mendokumentasi kecurangan.

  • "Kecil sekali keraguan bahwa kawasan otonom Catalonia telah menjadi basis utama operasi kegiatan teroris. Pihak berwenang Spanyol memberitahu kami bahwa mereka takut dengan ancaman dari komunitas imigran ini karena rawan dengan radikalisme. Mereka punya sedikit sekali intelijen yang mampu menyusup masuk ke dalam berbagai kelompok itu." --- Surat kawat diplomatic Amerika.

  • "Pusat-pusat keagamaan Salafi yang terdeteksi di Catalonia mendukung pembacaan Al-Qur'an yang paling keras... Dan, pada saat yang sama, mereka juga menuntut umat Islam "disucikan" dari pengaruh asing. Campur tangan relijius ini berdampak. Para perempuan dituntut supaya berpakaian lebih konservatif. Juga melarang, terutama remaja perempuan, untuk tidak memasuki sekolah dengan siswa laki-laki. Ini mengandaikan ada pemisahan yang mendalam dengan nilai-nilai kebebasan individu yang dijamin oleh hukum Eropa."---Laporan intelijen yang bocor kepada suratkabar Catalan, La Vanguardia.

Polisi dai Kawasan Spanyol, Catalonia, baru-baru ini menangkap 18 anggota sebuah sel pejihad yang berencana melakukan penyerangan di Barselona. Insiden ini memunculkan perhatian baru terhadap persoalan berlanjutnya Islam radikal di Catalonia. Gambar: Polisi dan tenaga medis merawat para penyintas serangan teroris yang terluka akibat aksi Younes Abouyaaqoub di Barcelona, 17 Agustus 2017 lalu. Abouyaaqoub membunuh 15 orang sekaligus melukai 130 orang lainnya. (Foto oleh Nicolas Carvalho Ochoa/Getty Images).

Polisi Catalonia, di kawasan timur laut Spanyol, menangkap anggota sebuah sel pejihad. Mereka berencana melakukan serangan teror di Barselona. Ternyata, belakangan polisi membebaskan semuanya, kecuali tiga pejihad.

Penangkapan itu menarik perhatian baru terhadap berlarut-larutnya persoalan Islam radikal di Catalonia. Padahal, kawasan itu punya populasi perkapita Muslim terbesar di Eropa.

Keberadaan sel itu terungkap 15 Januari lalu. Ketika itu, lebih dari seratus polisi menggeledah lima bangunan di Barselona dan Igualada, sebuah kota kecil di Catalan. Sel itu terdiri dari orang-orang Aljazair, Mesir, Irak, Libanon, Libya dan Maroko.

Penangkapan menjadi bagian dari setahun upaya penyelidikan kontra-terorisme. Namanya, "Operasi Alexandra." Peluncurannya dilakukan Mei 2017 silam. Tindakan itu diambil setelah polisi menerima kabar rahasia bahwa para pejihad setempat tengah mempersiapkan serangan.

Lanjutkan Baca Artikel

Jerman: UU Baru yang Larang Perkawinan Anak Dinyatakan Tidak Konstitusional

oleh Soeren Kern  •  3 Februari 2019

  • Keputusan itu menjadi salah satu dari meningkatnya contoh ketika pengadilan Jerman, --- sengaja atau tidak sengaja --- mempromosikan pembentukan sistem hukum Islam yang parallel di negeri itu. Dengan demikian, dia efektif membuka pintu untuk melegalisasi perkawinan anak-anak berbasis Shariah di Jerman.

  • "Pada satu pihak Jerman tidak bisa menentang perkawinan anak-anak pada tingkat internasional dan pada pihak lain, ada perkawinan seperti itu di negeri kita sendiri. Kepentingan terbaik anak-anak tidak bisa dikompromikan dalam kasus ini. (...) Ini soal perlindungan anak-anak dan orang-orang yang belum dewasa (minors) yang ditetapkan secara konstitusional." ---Winfried Bausback, anggota parlemen Bavaria yang membantu membuat rancangan undang-undang menentang perkawinan anak-anak.

  • "Harus kita pertimbangkan satu hal lagi: keputusan dibuat 'atas nama rakyat.' Dan, orang-orang ini sudah jelas menyatakannya melalui para wakilnya di Bundestag bahwa mereka tidak ingin lagi mengakui pernikahan anak."---Pengamat politik Andreas von Delhaes-Guenther.

Pengadilan Federal (Bundesgerichtshof), pengadilan tertinggi Jerman menetapkan bahwa sebuah undang-undang baru yang melarang perkawinan anak tidak konsitusional. Alasannya, karena semua perkawinan, termasuk perkawinan anak-anak berbasis Hukum Shariah dilindungi oleh Hukum Utama Jerman. Foto: Gedung Bundesgerichtshof di Karlsruhe, Jerman. (Sumber foto: Andreas Praefcke/Wikimedia Commons)

Pengadilan Jerman (Bundesgerichtshof, BGH), Pengadilan tertinggi Jerman untuk jurisdiksi sipil kejahatan telah mengeluarkan ketetapan baru. Berdasarkan ketetapan baru itu, undang-undang yang selama ini membatasi perkawinan anak-anak dinyatakan tidak konstitusional karena semua perkawinan, termasuk perkawinan berbasis Hukum Shariah dilindungi oleh Undang-Undang Utama Jerman (Germany's Basic Law/Grundgesetz).

Keputusan itu menjadi salah satu dari meningkatnya contoh ketika pengadilan Jerman, --- sengaja atau tidak sengaja --- mempromosikan pembentukan sistem hukum Islam yang parallel di negeri itu. Dengan demikian, dia bakal efektif membuka pintu untuk melegalisasi perkawinan anak-anak berbasis Shariah di Jerman.

Lanjutkan Baca Artikel

Italia Bangun Poros Anti-Uni Eropa

oleh Soeren Kern  •  24 Januari 2019

  • "Hari ini mengawali perjalanan yang berlanjut selama bulan-bulan mendatang bagi sebuah Eropa yang beragam untuk melakukan perubahan atas Komisi Eropa, kebijakan-kebijakan Eropa yang ditempatkan dalam pusat hak untuk hidup, bekerja, kesehatan, keselamatan, yang disangkal oleh semua kaum elit Eropa, yang didanai oleh [milioner dermawan Hongaria George] Soros yang direpresentasikan oleh Macron..." Matteo Salvini, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Dalam Negeri Italia.

  • "Presiden Macron dan Ny. Merkel sama-sama mengungkapkan frustrasi mereka akibat bangkitnya populisme dan nasionalisme, juga sikap Eropa yang ragu ketika menghadapi masalah seperti perubahan iklim dan massa migrasi ..." The Times.

  • "Hanya ada hal pasti yang saya yakini soal Pemilu Eropa. Yaitu bahwa kaum sosialis dan komunis bakal selalu lebih kurang di Brussels. Soalnya, mereka sudah cukup banyak merusak..." — Matteo Salvini.

Selama kunjungannya ke Warsawa, 9 Januari lalu, Menteri Dalam Negeri Italia, Matteo Salvini mengatakan bahwa kaum populis Italia dan Polandia harus memantik adanya "Musim Semi Eropa" lalu memaksakan terbentuknya "keseimbangan baru" untuk menggantikan pengaruh Jerman dan Perancis dalam Parlemen Eropa. Gambar: Salvini bertemu Menteri Dalam Negeri Polandia Joachim Brudziński di Warsawa, 9 Januari lalu (Sumber foto: halaman Facebook Matteo Salvini).

Menteri Dalam Negeri Italia Matteo Salvini kini memimpin upaya untuk membangun aliansi pan-Eropa yang populis yang menentang pemerintah pro-Eropa demi masa depan Uni Eropa. Tujuannya, supaya bisa merebut kembali kedaulatan negara dari para birokrat Brussels yang tidak dipilih lewat Pemilu kemudian mengembalikan kekuasaan kunci Uni Eropa kepada ibukota negara-negara.

Jerman dan Perancis, yang mengangkat diri sebagai wali integrasi Eropa pun menanggapinya. Rencana tandingan ambisius pun mereka luncurkan. Caranya, dengan membuat Uni Eropa, sebagai sebuah "kekuasaan yang lebih tegas di panggung dunia."

Pertikaian ini mengancam Uni Eropa. Antara kaum nasional yang menentang Eropa untuk maju (Eurosceptic) dan kaum globalis pecinta Eropa (Europhile globalists). Dengan demikian, dia memanaskan suasana pekan dan bulan mendatang, sebelum Pemilu Parlemen Eropa berlangsung penghujung Mei 2019 nanti.

Lanjutkan Baca Artikel

"Erdogate" : Megabintang Jerman Keturunan Turki

oleh Stefan Frank  •  13 Januari 2019

  • Dua pemain sepakbola tim nasional Jerman keturunan Turki berfoto bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Keduanya juga memberikan kaos klub mereka yang sudah ditandatangani sebagai hadiah bagi sang presiden. Salah satu kaos bertuliskan pesan (berbahasa Turki): "Dengan hormat kepada presidenku. Sahabatmu yang setia."

  • Pasca-jajak pendapat (exit poll) pertama, ribuan orang Turki di kota-kota Jerman turun ke jalan-jalan. Mereka membunyikan klakson mobil sambil melambaikan bendera Turki dan AKP, merayakan kemenangan pemilihan Erdogan sampai tengah malam.

  • "Kapankah kalian akhirnya sadar bahwa persyaratan terpenting bagi integrasi bukanlah bahasa dan mobilitas ke atas tetapi ikatan emosional serta upaya untuk mengidentifikasi diri dengan negara tempat seseorang berdiam?"--- Hamed Abdel-Samad, cendekiawan politik Jerman keturunan Mesir.

Ilkay Gündoğan, yang bermain untuk tim sepakbola nasional Jerman selama Piala Dunia tahun ini berfoto bersama dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan beberapa saat menjelang turnamen. Ia pun menghadiahkan kaos yang ditandatanganinya kepada Erdogan, dengan pesan berbahasa Turki: "Dengan penuh hormat kepada presidenku. Sahabatmu yang setia." Padahal, Gündoğan hanya punya kewarganegaraan Jerman. (Foto oleh Dean Mouhtaropoulos/Getty Images).

Musim panas ini, publik Jerman mulai tersadar. Bahwa ada ratusan ribu warga Jerman keturunan Turki menghormati Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai pemimpin mereka, bukan Kanselir Jerman Angela Merkel.

Lanjutkan Baca Artikel