Analisa dan Komentar Terbaru

"Pembantaian terhadap Umat Kristen"
Penganiayaan Umat Kristen oleh Ekstremis, April 2018

oleh Raymond Ibrahim  •  24 Juni 2019

  • Dua hari kemudian, rumah-rumah umat Kristen kawasan itu pun kembali diserang. "Beberapa warga Muslim desa mengadakan pertemuan di salah satu masjid. Mereka menghasut orang untuk menghantam kami. Usai pertemuan, mereka membakar sebuah toko kayu milik saudara saya beserta empat rumah lainnya, " urai pemukim Kristen lainnya. Polisi pun menanggapinya dengan menangkap lima warga Kristen ketika mereka berusaha memadamkan api."----Mesir.

  • Pada 27 April, pemerintah negeri itu menjadikan hukuman mati sebagai "perintah" (mandatory) bagi siapa saja yang menghina Agama Islam... Dan dalam kasus pernyataan-pernyataan yang menghina agama atau tindakan-tindakan yang melanggar kesucian atau susila, menurut hukum itu, hukuman mati kini jadi perintah."--- Suara Para Syuhadah (Voice of Martyrs), Mission Network News, Mauritania.

  • Seorang suster Katolik yang diusir keluar dari Irak oleh Negara Islam ditolak untuk mendapatkan visa dari negara yang memberikan status pengungsi kepada puluhan ribu laki-laki Muslim.---Kerajaan Inggris.

Seorang migran Muslim dari Pakistan merusak dua gereja di Jerman, termasuk Gereja Santo Petrus di Chemnitz, pada 23 April 2018. (Foto oleh: Zaufatsch/Wikimedia Commons)

Umat Muslim Membantai Umat Kristen

Pakistan: laki-laki Muslim membakar seorang wanita Kristen. Penyebabnya, karena wanita itu menolak masuk Islam serta menikahnya. Asma Yaqoob, 25 tahun, dengan tubuh nyaris 90 persen terbakar pun meninggal 5 hari kemudian. Menurut ayahnya, anak laki-lakinya dan dia sendiri tengah menunggu Asma, seorang pembantu rumah tangga di rumah majikannya, ketika dia menjawab ketokan di pintu rumahnya. Setelah beberapa saat, dia mendengar anak gadisnya berteriak kesakitan, " urainya. "Mereka pun berlarian keluar mau melihat apa yang terjadi."

Lanjutkan Baca Artikel

Melogiskan Pemilu Eropa

oleh Soeren Kern  •  23 Juni 2019

  • Hasil Pemilu mencerminkan pergeseran generasi sekaligus memperlihatkan bahwa politik Eropa semakin didominasi oleh benturan ideologis atas dua masalah raksasa yang saling bersaing. Yaitu, antara perjuangan memerangi perubahan iklim yang diperjuangkan oleh para globalis pro-UE dan oposisi terhadap migrasi massal dan multikulturalisme yang dipimpin oleh kaum populis nasional anti-UE.

  • "Dari lima partai politik individual (individual party) dengan jumlah suara terbesar dalam Parlemen Eropa yang baru, empat partai itu adalah partai anti-Uni Eropa." — Ivan Krastev, analis politik Bulgaria, Harian The New York Times.

  • "Lembaga sosial sudah lama didominasi oleh simpatisan Kelompok Hijau ---khususnya kalangan media dan pendidikan juga gereja. Bahwa 37% pemilih pertama kini memilih Kelompok Hijau juga merupakan dampak dari kenyataan bahwa di sekolah-sekolah, kredo hijau dipropagandakan sebagai kepastian pendidikan modern...Dengan demikian, pengetahuan tentang apa itu ekonomi pasar/kapitalisme harus benar-benar nyaris hilang di Jerman." --- Rainer Zitelmann, sejarahwan Jerman dalam The European.

Partai moderat kiri dan moderat kanan arus utama, khususnya di Inggris, Prancis dan Jerman, tidak berkinerja baik dalam Pemilu Parlemen Eropa yang diselenggarakan antara 23-26 Mei 2019 lalu. Dua partai moderat tradisional malah kehilangan suara mayoritas dalam Parlemen Eropa selanjutnya. (Foto oleh Sean Gallup/Getty Images).

Partai-partai moderat kiri dan ekstrim kanan arus utama, khususnya di Inggris, Prancis dan Jerman berkinerja buruk dalam Pemilu Parlemen Eropa, 23-26 Mei lalu. Dua partai (duopoly) moderat tradisional kehilangan mayoritas suara dalam Parlemen Eropa mendatang. Anggota parlemen baru mulai menduduki jabatannya 2 Juli nanti dan berada di sana selama lima tahun, sampai 2024.

Banyak kevakuman politik peninggalkan apa yang disebut sebagai partai-partai warisan (legacy parties) diisi oleh Kaum Hijau (Greens) dan kaum liberal pro-Uni Eropa. Akibatnya, partai-partai pro-Uni Eropa itu bakal mengendalikan sekitar 75% kursi dalam 750 kursi Parlemen Eropa.

Lanjutkan Baca Artikel

Sebulan Multikulturalisme di Jerman: Januari 2019

oleh Soeren Kern  •  16 Juni 2019

  • Kantor Federal Urusan Migrasi dan Pengungsi melaporkan bahwa hanya 35% migran yang tiba di Jerman sejak tahun 2015 lalu yang sudah mendapatkan pekerjaan.

  • Dua warga Jerman yang berusia 16 tahun yang terdorong keluar kereta itu tewas diterjang kereta api yang sedang melaju ke arah mereka. Media Jerman bukan saja meremehkan latar belakang imigrasi para terduga dengan melukiskan mereka sebagai pribumi Jerman, tetapi juga melaporkan bahwa kedua remaja yang tewas itu memang "terjatuh ke atas rel api."

  • "Istilah kawasan atau nasional seperti 'Islam Jerman,' Islam Perancis,' 'Islam Belgia' atau 'Islam Eropa' itu bertentangan dengan universalitas Islam, yang menerangi semua masa dan tempat pada masa lalu."--- Dari pernyataan penutup "Pertemuan Kedua Kaum Muslim Eropa" yang diselenggarakan di Masjid Pusat Cologne.

Seorqang migran Afghanistan berusia 25 tahun dibebaskan dari tuduhan memperkosa seorang wanita cacat berusia 50 tahun di Nuremberg, Jerman. Sang wanita adalah penampung pengungsi. Dia mengaku tidak bisa membela diri karena dia menderita kekejangan otot pada salah satu sisi tubuhnya. Pengacara warga Afghanistan menuntut terdakwa dibebaskan. Menurut dia, hubungan seks itu terjadi karena suka sama seuka. Pengadilan Distrik Nuremberg-Fürth juga memihak terdakwa, yang dilepaskan dan kini bebas. (Sumber fot: Manfred Braun/Wikimedia Commons)

1 Januari. Empat remaja migran — tiga remaja Afghanistan dan satu remaja Iran— menyerang lebih dari sepuluh pelintas yang lewat di Amberg. Sebanyak 12 orang berusia antara 13 dan 42 tahun terluka dalam serangan itu. Seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun dirawat di rumah sakit karena terluka kepalanya. Menteri Dalam Negeri Bavaria Joachim Herrmann mengatakan keempat remaja pelaku itu tidak bisa dideportasi karena alasan hukum:

"Siapa saja yang secara diskriminatif memukul pelintas jalan yang tidak terlibat memperlihatkan bahwa dia tidak mencari perlindungan dalam masyarakat kita. Para pelaku mabuk itu tidak bisa mengharapkan kita memahami mereka di negeri kita, kecuali hanya penerapan kekuasaan hukum yang keras. Akhir-akhir ini, deportasi secara legal tidak bisa dilakukan dalam kasus apapun. Kita sedang bekerja keras untuk mengubahnya."

Lanjutkan Baca Artikel

"Qur'an-lah Yang Harus Dibaca"
Penganiayaan Umat Kristen oleh Kaum Ekstremis, Mei 2018

oleh Raymond Ibrahim  •  26 Mei 2019

  • "Gereja dan umat Kristen secara pribadi menghadapi semakin meningkatnya larangan-larangan beragama selama bulan-bulan terakhir ini, sehingga muncul keprihatinan bahwa tekanan-tekanan itu mensinyalkan meningkatnya kampane aksi yang terkoordinasi melawan gereja dari pihak yang berwenang yang memerintah."--- Middle East Concern, Aljazair.

  • Seorang laki-laki Muslim memasuki katedral lalu mengancam akan meledakkannya karena mengkotbahkan Injil dan bukan Al-Qur'an.---Prancis.

  • "Pemerintah Indonesia harus merevisi UU Penodaan Agama negeri itu...Untuk menghormati kebebasan beragama seperti yang diabadikan dalam Konstitusi Indonesia, pemerintah harus menghormati semua agama dan menghentikan kriminalisasi umat Kristen ketika mereka hanya sekedar menjalankan hak mereka demi kebebasan berbicara."---- International Christian Concern, Indonesia.

Tanggal 19 Mei 2018. Empat laki-laki bersenjata memberondongi Gereja Katolik Santo Michael Malaekat Agung di Grozny, Ibukota Republik Chechnya Rusia yang mayoritas Muslim. Insiden itu menewaskan tiga orang, yaitu, seorang pengunjung gereja serta dua polisi. Para penyerang juga tewas dalam bentrokan senjata dengan pasukan keamanan. (Sumber foto: Alexxx1979/Wikimedia Commons)

Kaum Ekstremis Bantai Umat Kristen dalam Gereja

Indonesia: Enam bom bunuh diri yang dilancarkan oleh satu keluarga Muslim menyerang tiga gereja, 13 Mei 2018 lalu selama Ibadat Minggu pagi. Sedikitnya 11 jemaat meninggal dunia dalam serangan itu. Para pelaku bom bunuh diri terdiri dari seorang ayah, ibu bersama empat anaknya, dua anak laki-laki dan dua anak perempuan, berusia 9, 12, 16 dan 18. Menurut berita:

"Lebih dari 40 orang terluka dalam berbagai ledakan itu. Serangan pertama yang menewaskan empat orang, termasuk satu atau lebih pelaku bom bunuh diri terjadi di Gereja Katolik Roma, Santa Perawan Maria...Ayah keluarga itu yang diduga membawa bom bunuh diri meledakan bom mobil selama melakukan serangan. Insiden itu diikuti oleh ledakan kedua di sebuah Gereja Kristen di Jalan Diponegoro (Surabaya) sehingga menewaskan dua orang. Dalam serangan ketiga, di Gereja Pentekosta, dua orang lagi tewas, urai polisi."

Lanjutkan Baca Artikel

Doktrin Monroe untuk Venezuela

oleh Jiri Valenta  •  25 Mei 2019

  • "Mustahil bahwa kekuatan-kekuatan sekutu harus memperluas system politik mereka kepada bagian manapun dari kedua benua ini tanpa membahayakan perdamaian dan kebahagiaan kita. Atau tidak ada yang percaya bahwa para saudara selatan kita, jika dibiarkan kepada mereka sendiri, bakal mengadopsinya selaras dengan kemauan mereka sendiri."---Presiden James Monroe, 1823.

  • "Nasib negara-negara kita tidak akan didikte oleh kekuatan-kekuatan asing; tetapi akan dibentuk oleh masyarakat yang menyebut bagian dunia ini sebagai rumah mereka. Sekarang ini, dengan bangga kita proklamasikan agar didengar semua orang: Doktrin Monroe itu hidup dan segar bugar."--- Penasehat Keamanan Nasional John R. Bolton, Miami, Florida, 17 April 2019.

  • "Gerakan bagi kemerdekaan di Venezuela mengungkapkan bahwa masa senjakala sosialisme memang sudah tiba di bagian bumi kita."---Presiden Donald Trump, 19 Februari 2019, di Florida Internasional University.

  • Pada saat yang bersamaan, mungkin ide bagus untuk mengawasi Ukraina. Di negeri itu, Putin tengah menawarkan pasport jalur cepat Rusia, seperti yang dilakukannya sebelum menginvasi Ossetia Selatan di Georgia serta Abkhazia pada 2008 dan Krimea pada 2014. Mungkin bisa dinasehatkan bagi AS supaya membantu Ukraina memperkuat pertahanan mereka di sana, khususnya seputar Kota Mariupol.

  • Mungkin juga membantu untuk menjelaskan kepada masyarakat Amerika, apa yang dipertaruhkan bagi Bagian Dunia Barat di Venezuela...

Dalam keadaan apa pun, Rusia tidak boleh membawa lebih banyak lagi pasukan, pesawat, atau perlengkapan perang ke Venezuela melalui udara atau laut. Foto: Presiden Rusia Vladimir Putin menyambut Nicolás Maduro di Moskow, 2 Juli 2013. (Sumber gambar: kremlin.ru).

Dalam pidatonya kepada para veteran perang Teluk Babi di Miami, Florida, 17 April lalu, Penasehat Keamanan Nasional AS John Bolton menjelaskan langkah-langkah Pemerintah Trump terhadap Venezuela. Dikatakannya, bahwa langkah-langkah itu menjadi peringatan kepada Rusia dan pihak-pihak lain yang menawarkan bantuan militer kepada rejim diktator Nicolás Maduro:

"Kawasan yang luar biasa ini [Amerika Latin] harus tetap bebas dari despotisme internal dan dominasi eksternal...Nasib negara-negara kita tidak akan didikte oleh kekuatan-kekuatan asing, tetapi akan dibentuk oleh masyarakat yang menyebut bagian dunia ini sebagai rumah mereka. Sekarang ini, dengan bangga kita proklamasikan agar didengar semua orang: Doktrin Monroe itu hidup dan segar bugar.

Inti Doktrin Monroe dapat digambarkan dengan pernyataan Presiden James Monroe pada 1823:

Lanjutkan Baca Artikel

Pemilu Eropa: Pertempuran untuk Eropa telah Dimulai

oleh Soeren Kern  •  23 Mei 2019

  • "Kita sedang berjuang agar Eropa tetap Eropa, dengan nilai-nilai Eropa..." ---Tomio Okamura, Presiden, Partai Kemerdekaan dan Demokrasi Langsung Ceko (SPD) sekaligus Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat.

  • "Para sahabatku, kita berkumpul di sini hari ini untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan kita. Dua hal terpenting yang kita punyai. Karena tanpa negara bangsa yang kuat, tidak ada demokrasi. Tanpa demokrasi, tidak ada kebebasan... Para sahabatku, negara-negara kita adalah bangsa-bangsa yang kuat. Berbasiskan Kristen–Yahudi serta peradaban yang manusiawi. Seharusnya tidak boleh pernah berubah. Jadi, kita ingin mengendalikan perbatasan negara-negara kita lagi. Kita tidak meninginkan imigrasi massal. Kita tidak ingin diserang oleh sebuah ideologi tirani."---Geert Wilders, Pemimpin Partai Kemerdekaan Belanda (PVV).

  • "Bagaimanapun, para sahabatku, tidak mudah meninggalkan UE, seperti yang dialami Inggris. Terlepas dari mayoritas orang memilih Brexit, lembaga mapan dan UE telah berkolusi hendak menghentikan kita." --- Janice Atkinson, anggota parlemen Eropa dari Inggris yang juga Wakil Ketua Bangsa dan Kemerdekaan Eropa (ENF), sebuah kelompok politik dalam Parlemen Eropa.

  • "Imigrasi harus dihentikan. Dan ideology kaum Islam radikal harus dibasmi...Islamisasi dan globalisme adalah totalitarianism baru yang mengancam negara-negara Eropa."---Marine Le Pen, saat Konperensi Pers di Praha.

Para pemimpin partai-partai nasionalis beberapa Negara Eropa mengadakan kampanye di Praha, 25 April lalu, menjelang Pemilu Parlemen Eropa yang dijadwalkan diselenggarakan 23-26 Mei nanti. Foto: Tomio Okamura (kiri) Presiden Partai Kemerdekaan dan Demokrasi Langsung Cheko, Marine Le Pen (tengah), pemimpin Partai Parade Nasional Prancis dan Geert Wilders (kanan), pemimpin Partai Kemerdekaan Belanda. (Foto oleh Gabriel Kuchta/Getty Images).

Para pemimpin beberapa partai nasionalis Eropa melakukan kampanye di Praha, 25 April lalu. Sebuah aksi yang dilakukan menjelang Pemilu Parlemen Eropa yang dijadwalkan untuk 23 – 26 Mei 2019 nanti.

Pawai disponsori oleh Gerakan bagi Bangsa dan Kemerdekaan Eropa (Movement of Europe of Nations and Freedom---MENF), sebuah aliansi pan-Eropa. Mereka terdiri dari sembilan partai nasionalis yang mencurahkan perhatian penuh pada upaya untuk menghentikan migrasi massal sekaligus berupaya memulihkan kembali kedaulatan bangsa Uni Eropa.

Lanjutkan Baca Artikel

AS Harus Hentikan Iran Mengambilalih Yaman

oleh Majid Rafizadeh  •  14 Mei 2019

  • Presiden Donald J. Trump melakukan lawatan ke kawasan itu, negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Pasca-kunjungannya negara-negara Teluk pun meningkatkan usaha mereka untuk memerangi terorisme. Semua negara itu pun tengah berpartisipasi dengan Amerika Serikat dalam sebuah misi banyak negara.

  • Republik Islam Iran juga telah mengepung Arab Saudi dengan tujuannya yang jelas-jelas untuk mengambil-alih ladang minyak Saudi dan situs-situs suci serta jalur pelayaran kapan internasional penting di kedua sisi Semenanjung Arab; Bab al Mandeb dan Selat Hormuz. Iran juga telah menduduki Suriah and Irak; memerintah Libanon melalui kelompok teroris anteknya, Hizballah, kemudian masih mendanai kelompok teroris lainnya, Hamas, di Jalur Gaza, mungkin dengan harapan bisa menghancurkan Israel.

  • Sampai sebegitu jauh, yang lebih mengkhawatirkan lagi, adalah bahwa Iran sudah berada di ambang batas untuk memperoleh senjata nuklir dan rudal balistik yang siap dikirimkannya. Iran, singkatnya, telah mengadopsi ideologi ekspansionis berbahaya yang perlu ditanggapi dengan serius.

  • Amerika pharus menghentikan Iran mengambil alih Yaman.

Selama beberapa tahun terakhir, Suku Houthi, boneka sekaligus antek Iran, berperang melawan kaum Sunni Arab. Mereka tampaknya hendak memastikan bahwa konflik berlanjut di Yaman, sampai mereka, orang Houthi merebut kekuasaan atas negeri itu sekaligus memajukan kepenetingan Pemerintah Iran. Gambar: Para milisi yang bersekutu dengan koalisi Yaman pimpinan Saudi dengan dukungan pemerintah negeri itu di garis depan tengah menghadapi para pemberontak Houthi yang mendapat dukungan Iran, 20 September 2018 lalu di Hodeidah, Yaman. (Foto oleh Andrew Renneisen/Getty Images).

Salah satu cita-cita revolusioner penting yang diperjuangkan untuk ditegakkan oleh para ulama Republik Islam Iran adalah agar hukum Islam versinya tidak hanya dilaksanakan untuk Iran saja. Para ulama penguasa itu juga berkomitmen hendak mengekspor prinsip-prinsip revolusi Iran keluar negeri sekaligus memperluas misi kaum fundamentalisnya kepada negara-negara lain.

Bagaimana mereka lakukan ini? Dengan secara efektif mengambil alih negara-negara lain. Mengambil Libanon lewat anteknya, Hizbullah menjadi gebrakan pertama. Kemudian, muncul Suriah dan akhirnya Irak – dengan Jalur Gaza yang dikuasai Hamas tengah menanti di sayap-sayapnya.

Para mullah penguasa Iran dengan demikian tumbuh menjadi semakin mematikan. Juga semakin berani. Seiring dengan setiap kemenangan yang diraihnya. Saat ini, dan selama beberapa tahun, Iran mengarahkan matanya pada Yaman.

Lanjutkan Baca Artikel

Pemerintah Jerman: Anti-Israel Tetapi Pro-Iran

oleh Stefan Frank  •  12 Mei 2019

  • Mendukung resolusi sepihak terhadap Israel bukanlah satu-satunya tindakan Jerman yang tidak bersahabat terhadap Negara Yahudi. Dalam penelitiannya, jurnalis Benjamin Weinthal mengungkapkan bahwa Kanselir Angela Merkel pun pernah menekan negara-negara Uni Eropa lainnya sehingga tidak memindahkan kedutaan besar mereka ke Ibukota Israel. Upaya untuk menghentikan pembunuhan atas warga Israel juga tidak ada dalam agenda Pemerintah Jerman.

  • Tahun lalu PA mengalokasikan $ 330 juta (sekitar Rp 4, 686 Triliun) untuk membayar teroris, dan Jerman membayar $ 100 juta (sekitar Rp 1,42 Triliun) untuk PA. Jadi wajar untuk mengatakan bahwa Jerman membayar PA untuk menghargai pembunuhan warga Yahudi.

  • Jadi, sementara Kanselir Angela Merkel berbicara tentang "tanggung jawab khusus historis Jerman atas keamanan Israel", pemerintahannya justru menyalurkan uang pembayar pajak Jerman kepada para pembunuh orang-orang Yahudi, Presiden Steinmeier mengirim telegram ucapan selamat kepada mereka yang merencanakan penghancuran Negara Yahudi.

Bijan Djir-Sarai, Jurubicara Urusan Luar Negeri Partai Free Damokrat (FDP) kelahiran Iran mengkritik keras sikap Pemerintah Jerman yang menjadi kaki tangan para Ayatollah Iran. "Anda tidak bisa bangun pagi lalu mengatakan bahwa anda berada di pihak Israel kemudian pada petang hari minum the dengan orang Iran membanggakan-banggakan partai-partai revolusi. (Foto oleh Sean Gallup/Getty Images).

Kanselir Jerman, Angela Merkel senang berpikir tentang dirinya sebegai sahabat Israel. Dalam sebuah pidatonya di Knesset (baca: Parlemen Israel), di Yerusalem, Maret 2008, dia mengatakan:

"Di sini, dari semua tempat yang secara eksplisit ingin saya tekankan adalah bahwa setiap Pemerintah Jerman serta setiap Kanselir Jerman sebelum saya memikul tanggung khusus histros bagi keamanan Israel. Tanggung jawab historis ini menjadi bagian raison d'être Negara saya. Karena itu, bagi saya sebagai Kanselir Jerman, soal keamanan Israel tidak bakal pernah dibuka untuk dinegosiasi. Dan karena demikian kasusnya, maka kita harus melakukannya lebih banyak daripada sekedar bermanis mulut terhadap komitmen ini..."

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jerman Heiko mengaku bahwa karena Auschwitz (yang menjadi simbol pembunuhan enam juta orang Yahudi) dia ingin menjadi politisi.

Lanjutkan Baca Artikel

Terbakarnya Katedral Notre Dame dan Hancurnya Agama Kristen Eropa

oleh Guy Millière  •  28 April 2019

  • Kemungkinan bahwa kebakaran terjadi akibat pembakaran tidak bisa diabaikan. Baru saja satu jam setelah api mulai muncul di atas Katedral Notre Dame --- saat tidak ada penjelasan dapat diberikan oleh siapapun---otoritas Prancis malah tergesa-gesa mengatakan bahwa kebakaran itu "adalah sebuah kecelakaan." Dan bahwa "kobaran api sudah berhasil teratasi." Pernyataan-pernyataan itu terdengar seperti semua pernyataan resmi yang pernah dibuat oleh Pemerintah Prancis setelah berbagai serangan di Prancis selama dekade terakhir

  • Kebakaran Notre Dame juga terjadi ketika berbagai serangan terhadap gereja di Prancis dan Eropa berlipat-lipat terjadi. Lebih dari 800 gereja diserang di Prancis selama tahun 2018 saja.

  • Gereja-gereja di Prancis kosong. Jumlah imam semakin merosot. Para imam yang aktif di Prancis sudah sangat tua atau berasal dari Afrika atau Amerika Latin. Agama dominan di Perancis sekarang itu Islam. Setiap tahun, gereja dihancurkan untuk tempat parkir atau pusat perbelanjaan. Masjid sedang dibangun di mana-mana, dan penuh.

Api yang menghancurkan sebagian besar Katedral Notre Dame di jantung Kota Paris adalah tragedi yang tidak bisa diperbaiki. Jika sudah dibangun kembali sekalipun, katedral itu tetap tidak bakal seperti sebelumnya. (Foto oleh Veronique de Viguerie/Getty Images).

Api yang menghancurkan sebagian besar Katedral Notre Dame di jantung Kota Paris adalah tragedi yang tidak bisa diperbaiki. Jika berhasil dibangun kembali sekalipun, katedral tetap tidak bakal seperti sebelumnya. Jendela-jendela kaca berukir serta unsur arsitektur pentingnya sudah rusak parah. Kusen-kusen kayu oak rusak total. Puncak menara yang naik menjulang dari katedral merupakan sebuah karya seni unik. Bagian bangunan itu dibuat oleh arsitek yang memperbaiki kembali bangunan raksasa itu pada abad kesembilanbelas, Eugène Viollet-le-Duc, yang membasiskan karyanya pada berbagai dokumen abad keduabelas.

Lanjutkan Baca Artikel

Kapankah Rejim Iran Akhirnya Runtuh?

oleh Giulio Meotti  •  21 April 2019

  • "Ya, orang yang dituduh melarikan diri meninggalkan sebuah negara di mana para penggertak benar-benar menolak ilmu, pengetahuan dan keahlian lalu menggunakan teori konspirasi supaya bisa mendapatkan kambing hitam atas semua persoalan. Soalnya, mereka sangat tahu bahwa mendapatkan musuh, mata-mata atau orang yang bisa dikecam itu jauh lebih mudah dibanding dengan menerima tanggung jawab kemudian melibatkan diri dalam persoalan itu."---Kaveh Madani, satu dari pakar lingkungan hidup Iran kenamaan, yang baru-baru ini melarikan diri ke London.

  • Meski dilanda krisis ekonomi, Iran tetap saja memberikan ratusan juta dolar setiap tahun kepada berbagai teroris di seluruh dunia." Ketika kau kirimkan uang yang disediakan bagi para teroris lain, maka jumlah seluruhnya mendekati satu miliar dolar. Kita sejenak pertimbangkan itu karena memang perlu diulang. Rejim Iran menghabiskan hampir satu miliar dolar (sekitar Rp 14 Triliun) setahun hanya untuk mendukung terorisme."--- Nathan A. Sales, Duta Besar –at-large Departemen Luar Negeri AS sekaligus Koordinator untuk Kontraterorisme.

  • Mesorotnya Rejim Iran yang mengesankan ini terjadi bersamaan dengan diberlakukannya undang-undang picik, aneh, dan represif. Iran baru-baru ini menjatuhkan hukuman 33 tahun penjara dan 148 cambukan kepada seorang pengacara terkemuka Iran, Nasrin Sotoudeh, yang berani membela gadis-gadis yang memprotes hukum berjilbab Iran. Dalam insiden lain baru-baru ini, pasangan Iran ditangkap setelah acara lamaran pernikahan mereka di depan umum menjadi viral di media sosial.

Iran baru saja menjatuhkan hukuman penjara selama 33 tahun dan 148 cambukan terhadap pengacara kenamaan Iran, Nasrin Sotoudeh yang berani membela para gadis yang memprotes undang-undang pemakaian jilbab secara paksa. Foto: Nasrin Sotoudeh. (Sumber foto: Hosseinronaghi/Wikimedia Commons).

Republik Islam Iran kini, lewat para antek pelaku terror dan rejim-rejim wayangnya memperluas hegemoninya atas banyak ibukota negara di Timur Tengah. Dari Teheran, Bagdad, Damaskus, Beirut dan Sanaa. Iran terus saja mengancam Timur Tengah dan kawasan lembah Mediterania. Dan, mungkin juga Eropa. Empat puluh tahun sesudah revolusi teokratiknya pada 1979, para mullah pun berbicara (dengan penuh harapan tentu, orang andaikan), tentang "merosotnya" Amerika.

"Amerika tidak bisa mengurus diri sendiri sekarang," urai Ayatollah Ahmad Jannati, Sekretaris Dewan Pengawal yang berkuasa, di televisi negara itu. "Jutaan orang kelaparan di sana. Kekuatan Amerika sedang merosot." Pernyataan semacam itu mungkin saja bermaksud hendak menyembunyikan kemunduran Iran yang mengerikan atau melarikan diri dari kenyataan karena sedang pelahan remuk dari dalam.

Lanjutkan Baca Artikel

"Benarkah Manusia yang Lakukan Ini?"
Penganiayaan atas Umat Kristen, Januari 2019

oleh Raymond Ibrahim  •  14 April 2019

  • Polisi "bersikap kepada para imam seolah menghadapi para pembunuh," ---pengaca Hak Asasi Manusia, Minya, Mesir.

  • Bagaimanapun, faktor umum di antara semua penutupan gereja, adalah bahwa, tindakan itu dilakukan untuk menyenangkan hati kaum fundamentalis dan ekstremis dengan merugikan umat Koptik. Tampaknya hendak menunjukkan bahwa kaum ekstremis kini lebih kuat sehingga berusaha menyenangkan hati mereka menjadi cara mudah untuk keluar dari persoalan..." ---Uskup Kristen lokal, Minya, Mesir.

  • Ketika sampai kepada pemberian suaka, Inggris "tampaknya membeda-bedakan dan lebih memilih Muslim" daripada kaum minoritas Kristen dari negara-negara Muslim. Berbagai statistik mengkonfirmasi dugaan ini: "dari 4.850 pengungsi Suriah yang diterima untuk dimukimkan kembali oleh Kementerian Dalam Negeri pada 2017, hanya sebelas orang Kristen, mewakili hanya 0,2% dari semua pengungsi Suriah yang diterima oleh Inggris."— Nicholas Hellen, Barnabas Fund, 20 Januari 2019, Inggris.

  • Seorang Jurubicara Pemerintah Selandia Baru mengatakan bahwa pengungsi dipertimbangkan untuk dimukimkan kembali berdasarkan "kebutuhan untuk melindungi mereka bukan afiliasi agama." Namun, bagaimanapun, mengingat Negara Islam biasanya menyasar orang berdasarkan "afiliasi agama" mereka menunjukkan bahwa orang Kristen, Yazidi, dan minoritas lainnya lebih "membutuhkan perlindungan" dibanding kaum Muslim.

Minggu, 27 Januari 2019. Teroris meledakkan dua bom ketika Misa sedang berlangsung di Karedral Katolik Our Lady of Mount Carmel (Bunda Kami dari Gunung Karmel) di Jolo, Filipina. Sedikitnya, 20 orang terbunuh dan 111 orang terluka. Gambar: Presiden Filipina Rodrigo Duterte melakukan inspeksi terhadap katedral yang rusak itu, 28 Januari 2019. (Sumber foto: Albert Alcain/ Kantor Urusan Komunikasi Kepresidenan Filipina /Wikimedia Commons).

Pembantaian Dalam Gereja dan Serangan Atasnya

Filipina: Minggu, 27 Januari 2019. Para militan Islam membom sebuah Katedral Katolik ketika Misa sedang berlangsung. Sedikitnya, 20 orang tewas dan 111 orang terluka. Dua bahan peledak diledakan sekitar satu menit berbeda waktu di seputar Katedral Our Lady of Mount Carmel (Bunda Kami dari Gunung Karmel) di Jolo, sekitar pukul 8.45 pagi. Menurut berita, "Ledakan pertama memporak-porandakan bangku kayu dalam ruang utama karedral dan memecahkan kaca-kaca jendela. Bom kedua melemparkan serpihan jenasah manusia dan reruntuhan ke segala penjuru sebuah alun-alun kota yang berhadapan dengan katedral."

Lanjutkan Baca Artikel

Sosialisme: Hati-Hati dengan Apa yang Kaudambakan

oleh Philip Carl Salzman  •  9 April 2019

  • Obyek sosialisme agaknya hendak meningkatkan ekonomi yang setara dengan menyita kekayaan di antara individu dan keluarga dalam masyarakat. Ini dilakukan dengan mengambil kekayaan mereka yang punya kekayaan lebih banyak di atas rata-rata kemudian mendistribusikannya kembali kepada mereka yang kurang dari rata-rata. Karena kekayaan biasanya tidak akan secara sukarela diserahkan, maka redistribusi harus dipaksakan oleh badan-badan pemerintah, didukung oleh hukum dan peraturan administrasi. Dalam prakteknya, sosialisme, bagaimanapun, biasanya mengakibatkan para anggota pemerintah mendistribusikan kembali kekayaan yang mereka rampok untuk diri sendiri dan rekan mereka. Dalam lingkungan pemerintahan AS, masa kini sekalipun, anggota Kongres tidak terikat untuk mematuhi hukum yang mengikat mereka di negara itu.

  • Hasil yang setara memangkas hubungan antara bisa menikmati imbalan produksi seseorang dan perampasan imbalan untuk didistribusikan kepada orang lain. Terputusnya hubungan antara pekerjaan dan penghargaan merongrong motivasi untuk bekerja dan berinovasi seseorang. Mengapa bekerja atau mengambil risiko ketika keuntungan, jika orang berhasil, malah pergi kepada pihak lain? Jika Anda menarik insentif untuk kerja dan produksi, Anda akhirnya justru meninggalkan produsen.

  • Sosialisme berarti menyerahkan kebebasan Anda kepada pemerintah Anda, yang mengklaim diri tahu cara membelanjakan uang Anda lebih baik daripada Anda sendiri. Sayangnya, sejarah membuktikan ini merupakan spiral kematian ekonomi dan penyediaan jasa, entah terkait dengan rendahnya standar kualitas pendidikan publik di AS, atau terkait dengan pemberian layanan kesehatan kepada para veteran. Sekarang ini, Presiden Donald J. Trump akhirnya mencoba mengatasi krisis itu. Bagaimana? Dengan memprivatisasi.

  • Jika keadilan berarti memberikan apa yang menjadi hak seseorang, maka mengambil kekayaan dari mereka yang sudah mendapatkannya kemudian memberikannya kepada mereka yang belum mendapatkannya, adalah praktik yang sangat meragukan. Memang manusiawi untuk irihati kepada orang yang punya kekayaan lebih dan lebih baik. Bagaimanapun, pantaslah diragukan bahwa sebaiknya kebijakan sosial membasiskan kebijakan politik pada perasaan-perasaan ini: sesuatu yang secara historis Karena bagaimanapun, secara historis orang akan sampai pada situasi dan tempat yang parah atau yang kurang parah.

(Sumber foto: iStock)

Sekian lama, praktes sosialisme tampaknya benar-benar gagal. Pesonanya sebagai suatu ideologi ekonomi hilang. Republik Uni Sosialis Soviet (Uni Soviet) hancur; negara-negara satelit Eropa Timurnya lantas melepaskan diri pada era 1990-an. Cina beralih dari sosialisme menjadi kapitalisme negara yang dimulai dengan reformasi ekonomi pada 1978 dan sejak itu melakukannya dengan penuh semangat. Kuba Komunis merosot menjadi tujuan wisata liburan tepi pantai bagi masyarakat Kanada dan Eropa, dan Venezuela yang sosialis benar-benar runtuh. Dalam sebuah esainya yang terbit pada 1989 berjudul "The End of History?", Francis Fukuyama menjelaskan bahwa, dalam peristiwa-peristiwa yang disebutkan di atas, kita menyaksikan "kemenangan ekonomi dan liberalisme politik yang tanpa malu-malu."

Lanjutkan Baca Artikel

"PBB, Sikap Diammu Makin Parah": Ekstremis Aniaya Umat Kristen, September 2018

oleh Raymond Ibrahim  •  5 April 2019

  • "Dua laki-laki muda bertopeng memasuk apotik menyeret ayah saya keluar. Mereka memaksa dia berlutut di jalan. Dua moncong senapan mereka tekan pada wajah ayah saya lalu menyuruh dia masuk Islam. Tetapi dia menggelengkan kepala. Mereka lalu menembaknya."--- Open Doors, 23 Agustus 2018, Mesir.

  • Ayah kami, Mashir Masih, petugas kebersihan, urai anak laki-laki keluarga itu, Fiaz Masih."Beberapa tahun silam, dia mendirikan rumah ini, ketika dia pensiun dari pekerjaannya. Bagaimanapun, umat Muslim tidak bisa menerima bahwa ada umat Kristen tinggal di rumah bagus, besar dan penuh perlengkapan seperti ini. Kami satu-satunya keluarga Kristen di lingkungan ini. Mereka ingin merebut harta kami. Karena itu, mereka mulai mengancam kami supaya meninggalkan rumah dan jika tidak, mereka akan [menuduh kami] melakukan penghinaan terhadap Islam."---Pakistan.

  • "Indonesia terkenal karena interpretasi Islamnya yang menganut toleransi agama. Tetapi kaum ekstrimis Muslim mendesak supaya hukum Islam diterapkan di seluruh Indonesia, sehingga menciptakan perpecahan agama. "---Suara Amerika, 1 Oktober 2018.

Di Kenya, para teroris Islam menghentikan sebuah bus yang sedang bepergian menuju Garissa lalu membunuh dua umat Kristen karena menolak beralih menganut Islam. Gambar: Jalan di Garissa, Kenya. (Sumber foto: Adam H T Geelle/Wikimedia Commons)

Pembataian Umat Kristen

Republik Afrika Tengah: Sebanyak 42 orang---sebagian besar wanita Kristen ---ditetak dengan parang hingga tewas... setelah terduga pemberontak Islam radikal menyerang sekelompok warga sipil di Bria, Republik Afrika Tengah bagian tengah, antara 4–5 September 2018 lalu. Beberapa korban tewas karena tebasan parang, yang lainnya karena tembakan peluru. Sedikitnya, satu dari wanita yang disembelih itu tengah hamil. "Mereka [para militan Seleka] tidak ingin melihat ada umat Kristen di sini," urai seorang pemimpin gereja. "Umat Kristen tidak pernah pergi ke kota...Jalan-jalan mereka barikade semuanya. Dan jika kau berusaha keluar dari sana, kau hadapi sendiri bahayanya. Kami umat Kristen tidak bisa lakukan apa-apa lagi. Tak ada makanan untuk dimakan. Tak ada tempat menginap. Kami hanya andalkan doa. Tolong doakan kami!"

Lanjutkan Baca Artikel

Kerusuhan Prancis: Akhirnya tidak Terlihat

oleh Guy Millière  •  30 Maret 2019

  • Kelompok ketiga sangat besar: itulah populasi warga Perancis lainnya. Masyarakat kelas atas memperlakukan mereka sebagai beban mematikan yang pantas disesali sehingga tidak mengharapkan apa-apa dari mereka selain sikap diam yang patuh. Para anggotanya sering mengalami masa sulit untuk memenuhi kebutuhan. Mereka membayar pajak tetapi dapat melihat bahwa semakin besar pajak digunakan untuk mensubsidi orang-orang yang mengusir mereka keluar dari rumah-rumah pinggiran kota mereka.

  • Untuk sekarang ini, Macron tampaknya bahkan tidak ingin mengakui masyarakat ini ada.

  • Langkah Macron menurunkan pajak orang-orang terkaya, tetapi sebaliknya meningkatkan pajak "kaum pinggiran" dengan pajak bahan bakar, dipandang sebagai upaya terakhir yang tidak menyenangkan – selain tentu saja sikapnya yang merendah dengan gayanya yang pongah.

  • "Sekarang ini, sebagian besar pemrotes tidak menyerang polisi. Tetapi, alih-alih mengatasi kekerasan, polisi justru mendapat perintah yang mendorong mereka menjadi sangat kejam. Saya tidak mengecam polisi. Saya mengecam orang-orang yang memberi perintah."--- Xavier Lemoine, Walikota Montfermeil, kota satelit di sebelah timur Paris, yang dirusak parah oleh kerusuhan pada tahun 2005.

Polisi bentrok dengan seorang pemrotes berjaket kuning, 18 Desember 2018 di Biarritz, Perancis. (Foto oleh Gari Garaialde/Getty Images).

Sabtu, 26 Januari 2019. "Protes para pemakai jaket kuning" diorganisasikan di kota-kota penting Perancis. Mobilisasi tidak melemah. Dukungan populasi memang sedikit melemah, tetapi masih sangat besar (60%-70%, menurut berbagai polling pendapat umum). Slogan utamanya tetap sama sejak 17 Nopember 2018. "Macron harus mundur." Selama Desember, slogan lain ditambahkan, "Citizens' initiative referendum" (Referendum inisiatif warganegara).

Pemerintah dan Presiden Perancis, Emmanuel Macron melakukan segala upaya yang mampu mereka lakukan untuk menghancurkan gerakan. Mereka mencacimaki dan menghina, Pernah mereka katakan bahwa demonstran adalah "orang-orang durhaka" yang ingin menggulingkan institusi sekaligus adalah ""kaum fasis berkaos coklat." Adanya beberapa orang yang anti-Semit menyebabkan seorang jurubicara pemerintah (secara tidak tepat) melukiskan seluruh gerakan itu sebagai "anti-Semit."

Lanjutkan Baca Artikel

Swedia: Wanita Diperkosa, Otoritas Terlampau Sibuk

oleh Judith Bergman  •  19 Maret 2019

  • Menurut Mikaela Blixt, setelah seorang laki-laki menyerangnya di jalanan dan berusaha memperkosanya, polisi tidak berbuat apa-apa, meskipun ia tahu di mana penyerangnya tinggal dan dapat dengan mudah mengidentifikasi pelakunya.

  • Media arus utama Swedia Expressen, belakangan ingin mewawancarai Blixt. Tetapi menurutnya, hanya dengan syarat bahwa dia tidak menyebutkan penyerangnya adalah migran Afghanistan.

  • Bukan cuma wanita tetapi nyaris satu dari tiga warga Swedia tidak merasa aman di Swedia, demikian menurut sebuah jajakpendapat baru yang menanyakan 6.300 orang Swedia seberapa amankah mereka merasa di rumah dan komunitas mereka.

  • Anehnya, polisi Swedia punya sumberdaya yang cukup untuk menuntut para peserta demonstrasi damai. Juga punya sumberdaya yang waktu untuk menuntut orang-orang yang diduga melakukan kejahatan pikiran.

Bahkan upaya menghubungi polisi untuk melaporkan kasus percobaan perkosaan terhadap seorang wanita, untuk mengatakan sedikitnya, sulit. Ini menjadi tanda bahwa ada yang membusuk dalam Kerajaan "feminis" Swedia. Namun, polisi Swedia bukan saja punya sumberdaya yang cukup untuk menuntut orang yang mengikuti demonstrasi damai, tetapi juga menuntut orang yang diduga melakukan kejahatan pikiran. (Sumber foto: iStock)

"Swedia", ucap pemerintahannya Nopember 2015 silam, "punya pemerintahan yang feminis. Kami menempatkan kesetaraan gender pada inti karya nasional dan international. Kekuasaan yang sama bagi pria dan wanita untuk membentuk masyarakat sekaligus kehidupan mereka sendiri menjadi seluruh tujuan kebijakan kesetaraan gender pemerintah. Karena, pada akhirnya, inilah persoalan demokrasi dan keadilan sosial."

Tunggu sebentar. Seharusnya wanita yang hidup di bawah "pemerintahan yang feminis" bisa---jelas sekurang-kurangnya --- bisa tinggalkan rumah mereka tanpa takut menjadi korban serangan seksual?

Lanjutkan Baca Artikel