Analisa dan Komentar Terbaru

Warga Palestina: Sikap Tak Logis Abbas

oleh Bassam Tawil  •  16 Agustus 2017

  • Jadi, siapakah yang memanfaatkan ancaman Abbas secara serius untuk menghentikan kerja sama keamanan dengan Israel? Bukan Israel. Bukan Amerika. Dan tentu bukan banyak warga Palestina. Abbas terjebak antara dua tempat yang mengerikan (bad) ---kedua-duanya akibat perbuatannya sendiri. Satu pihak dia tahu bahwa kerja sama keamanan dengan Israel adalah satu-satunya kebijakan yang menjamin dirinya untuk tetap berada di puncak kekuasaan sekaligus tetap hidup. Pada pihak lain, Abbas sangat mawas terhadap statusnya di antara banyak warga Palestina yang lebih senang menggantikan dia dengan orang lain...sesuai selera mereka.

  • Pesan Faraj ditujukan kepada masyarakat Israel. Tujuannya, untuk menekan Pemerintahan Israel dan Perdana Menteri Binyamin Netanyahu supaya tunduk kepada tuntutan masyarakat Palestina dan bersedia membongkar pemindai logam. Ini sebabnya Faraj menggunakan seorang wartawan Israel yang terkenal bersimpati terhadap Abbas dan pemimpin PA. Faraj dan bossnya ----Abbas---ingin menakut-nakuti publik Isreal kemudian memaksa mereka berbalik menentang Netanyahu. Caranya, dengan memberi tahu mereka bahwa Palestina akan menghentikan kerja sama keamanan dengan Israel kecuali jika pemindai logam dibongkar.

Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas. (Sumber foto: kremlin.ru)

Laporan-laporan yang saling bertentangan satu sama lain muncul dari Ramallah. Laporan itu terkait dengan koordinasi keamanan dengan Israel yang masih menjadi peringatan lain dari "sikap munafik yang sangat luar biasa" dari para pemimpin Otoritas Palestina (PA) "

Di bagian Israel, berbagai laporan seputar berhentinya koordinasi keamanan dengan Otoritas Palestina diremehkan, sama seperti tipu muslihat Abbas yang lainnya.

Mahmoud Abbas dan PA-nya pun jauh dari kalah. Karena bagaimanapun, koordinasi keamanan hanya sebuah persoalan yang berada antara Hamas yang sangat lapar (kekuasaan) dan sajian Abbas untuk "toast" sarapan pagi.

Pada masa lalu, Abbas secara tepat dan masuk akal menjelaskan koordinasi keamanan dengan Israel sebagai sesuatu "yang suci." Dikatakannya, dia tak bakal tunduk terhadap tekanan Hamas dan banyak warga Palestina untuk berhenti bekerja sama dengan Israel di Tepi Barat.

Lanjutkan Baca Artikel

"Perjuangan Memperebutkan Yerusalem Baru Saja Dimulai"

oleh Bassam Tawil  •  15 Agustus 2017

  • Warga Palestina, yang kini merasa menang karena Israel mematuhi tuntutan mereka untuk membongkar pemindai logam serta kamera pengawas, sudah memberikan klarifikasi. Bahwa itu hanyalah langkah awal perjuangan mereka untuk membasmi keberadaan warga Israel di mana pun di Kota Tua Yerusalem dan Temple Mount.

  • Mereka akui, inilah perjuangan untuk merebut kedaulatan atas Temple Mount dan Yerusalem. Bagi masyarakat Palestina, pertempuran yang sebenarnya adalah soal siapa yang menguasai Yerusalem dan tempat-tempat sucinya. Perjuangan sebenarnya, dalam pandangan mereka, ialah berkaitan dengan hak kaum Yahudi untuk berdiam di negara mereka sendiri di Timur Tengah. Banyak warga Palestina masih belum bisa menerima hak Israel untuk ada dan bahwa itulah perjuangan yang sebenarnya.

  • Warga Palestina memang sangat tepat memahaminya. Dalam kata-kata mereka sendiri, mereka maksudkan agar ada peningkatan aksi kekerasan karena yakin apa yang Israel lakukan pertama-tama adalah maju lebih jauh dalam soal konsesi bahkan mengundurkan diri lebih jauh lagi.

Menteri Luar Negeri otoritas Palestina, Riad Malki, (di ambil gambarnya di atas pada tahun 2009) yang mengatakan pekan lalu dalam sebuah pidatonya bahwa; "Masalahnya bukan soal pemindai logam atau kamera, tetapi siapa yang berdaulat atas Masjid Al-Aqsa...Pertarungan atas Yerusalem, dengan demikian baru saja dimulai... (Gambar foto: Mario Tama/Getty Images)

Perayaan kemenangan Palestina yang diselenggarakan menyusul pembongkaran alat pemindai logam (metal detectors) dan kamera pengawas dari jalan masuk menuju Temple Mount oleh Israel, di Yerusalemen menjadi tanda yang sangat buruk bagi kestabilan dan perdamaian di Timur Tengah pada masa datang.

Bagi warga Palestina dan banyak warga Arab dan Muslim, langkah Israel mengisyaratkan kelemahan diri. Di mata mereka, pembongkaran kamera pengawas dan alat pemindai logam merupakan sikap menyerah yang murni dan mudah.

Bagaimana kita mengetahui hal ini? Mudah saya: perhatikan saja tanggapan Palestina. Bukannya mengakui ciri keputusan Pemerintah Israel yang mendamaikan yang bermaksud meredakan ketegangan dan mencegah pertumpahan darah serta aksi kekerasan, warga Palestina justru malah menuntut lebih banyak lagi.

Lanjutkan Baca Artikel

Sebulan Islam dan Multikulturalisme di Prancis; Juni 2017

oleh Soeren Kern  •  14 Agustus 2017

  • "Saya benar-bena sangat berbeda pendapat dengan orang-orang sayap kiri ini yang melakukan segala-galanya untuk memisahkan fundamentalisme dari Islam. Islam sudah diradikalisasi selama 50 tahun. Pada pihak kaum Shiah, ada Imam Khomeini dan revolusi Islamnya. Di kalangan dunia Sunni, ada Arab Saudi yang menggunakan sumberdayanya yang sangat besar untuk mendanai penyebarluasan fanatisme Wahabi ini. Tetapi evolusi historis ini terjadi di dalam Islam, bukan di luar Islam. Tatkala orang-orang dari Negara Islam itu menyerang, mereka melakukannya sambil meneriakan 'Allahu Akbar.' Jadi bagaimana bisa kita kemudian mengatakan bahwa hal ini tidak ada sama sekali dengan Islam? Harus dihentikan."--- Salman Rushdie, pengarang Novel The Satanic Verses, yang sudah dikejar-kejar untuk dibunuh oleh kaum Muslim ekstremis selama 30 tahun.

  • Penduduk Kota Satelit Mée-sur-Seine, Paris mengeluh bahwa suara sholat dari sebuah masjid sangat keras terpancar lewat pengeras suara luar ruangan tepat setelah tengah malam, tiap malam selama Ramadan. "Pengeras suara digunakan bagi banyak kaum beriman yang sholat di tepi jalan karena masjidnya terlampau kecil," tulis Le Parisien. Mourad Salah, seorang pemimpin lokal mengatakan dewan kota yang pantas dikecam akibat suara bising itu karena tidak memberikan masjid yang lebih besar bagi kaum Muslim: "Bola ada di tangan di tangan walikota. Sampai kami mendapatkan tempat sholat yang pantas namanya, dengan daya tamping yang lebih besar, maka persoalannya bakal sulit."

  • Sebuah petisi daring bertajuk---"Wanita: Spesies yang terancam di Jantung Paris" diluncurkan. Petisi tersebut menuduh Walikota Paris, Anne Hidalgo membiarkan sebagian besar kota menjadi kawasan larangan bepergian bagi kaum wanita. Setiap malam, ratusan migran Afrika dan Timur Tengah berbaris sepanjang trotoar sehingga menjadi menakutkan bagi para wanita yang berjalan dari Stasiun Kereta Api Gare du Nord dan Gare de l'Est menuju rumah mereka, urai petisi tersebut. Teriakan, "perempuan jalang" dan "pelacur jorok" umum terdengar di sana.

(Foto oleh Pascal Le Segretain/Getty Images)

1 Juni: Saber Lahmar, 48 tahun, seorang warga Aljazair yang sudah menetap di Bordeaux sejak dibebaskan dari Penjara Guantanamo 2009 lalu didakwa "terkait dengan teroris" serta ditahan sebelum perkaranya disidangkan. Dia diduga menyediakan bantuan keuangan, logistik dan doktrin bagi para jihadi Prancis yang berencana bepergian ke Irak dan Suriah. Lahmar ditangkap di Bosnia pada 2001 lalu karena tuduhan berkomplot hendak membom Kedutaan Besar Amerika di Sarajevo. Nopember 2008, Hakim Distrik AS Richard J. Leon memerintahkan agar Lahmar dibebaskan dari Guantanamo karena tidak ada alasan memadai untuk menahannya. Desember 2009, Robert C. Kirsch, seorang pengacara Perusahaan Hukum WilmerHale, yang mewakili Lahmar di Pengadilan Federal mengatakan" "Kami berterimakasih atas keberanian dan kemurahan hati masyrakat dan Pemerintah Prancis dan untuk upaya yang terus berlangsung dari Presiden Obama...yang bakal memberikan kepada Lahmar kesempatan untuk membangun kembali hidupnya di Prancis."

Lanjutkan Baca Artikel

Eropa Tunduk Kepada Islam Radikal

oleh Guy Millière  •  5 Agustus 2017

  • Terlepas dari tiga serangan selama tiga bulan ini, Inggris tampaknya tidak memilih jalan untuk waspada dan nekad. Bulan Juni bahkan belum usai, tetapi media sudah terang-terangan lebih banyak lagi berbicara soal terorisme.

  • Kemudian, dini hari 19 Juni, seorang pria bertindak sendirian. Dengan mengendarai mobil van ia menerobos kerumunan massa Muslim meninggalkan Masjid Finsbury Park di London. "Ancaman" utama atas Inggris kini pun segera tersaji dalam sejumlah sejumlah suratkabar sebagai "Islamophobia", fobia terhadap Islam.

  • Dekolonisasi pun menambahkan ide bahwa masyarakat Eropa telah menindas bangsa-bangsa lain sehingga merasa bersalah atas kejahatan yang kini harus ditebusnya. Sayangnya, sepanjang sejarah, tidak disebutkan orang-orang yang direkrut untuk masuk Islam justru telah menjajah Kekaisaran Kristen yang agung, Kekaisaran Byzantium, Yunani, Sisilia, Korsika, Afrika Utara serta Timur Tengah, sebagian besar Jazirah Balkan serta Eropa Timur, Hongaia, Siprus utara serta Spanyol.

Khatib Islam radikal Inggris kenamaan. Anjem Chodary (terlihat sedang memegang mikropon) baru-baru ini dijatuhi hukuman penjara 5,5 tahun karena dukungannya yang terbuka terhadap ISIS. Meski demikian, ratusan imam di seluruh penjuru negeri itu terus melanjutkan pekerjaan yang sama. (Foto oleh Oli Scarff/Getty Images)

London, 5 Juni 2017. Satu menit waktu mengheningkan cipta diadakan di Potters Field Park. Letaknya berdekatan dengan Balaikota London. Acara diselenggarakan untuk memberikan penghormatan kepada para korban serangan jihadi di London Bridge, Jembatan London, tiga hari sebelumnya. Orang-orang datang membawa bunga, lilin dan penanda bertuliskan kata-kata yang umum: "persatuan" "perdamaian" serta "cinta" Wajah mereka sedih tetapi tidak membekaskan rasa takut di sana. Walikota London, Sadiq Khan, seorang Muslim menyampaikan pidato. Dia menegaskan hal yang berbeda dari semua bukti. Bahwa pemikiran para pembunuh itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam.

Lanjutkan Baca Artikel

Warga Palestina: Pemindai Logam atau Pendeteksi Kebohongan - Siapa Melanggar Apa?

oleh Bassam Tawil  •  3 Agustus 2017

  • Ada hal yang sangat penting dan yang berbeda dari klaim Palestina di sini. Yaitu bahwa Israel sama sekali tidak melarang umat Muslim memasuki Temple Mount. Karena. untuk pertama kalinya sejak 1967, warga Palestina menutup akses bebas jemaah Muslim yang mau sholat menuju Masjid Al-Aqsa.

  • Warga Palestina dan otoritas relijius Islam memprotes langkah keamanan yang bermaksud melindungi para jemaah Muslim yang sholat sekaligus mencegah tempat suci mereka dinajiskan oleh teroris dan para perusuh. Mereka memprotes karena Israel berjuang sehingga mempersulit mereka membunuh warga Yahudi.

  • Guna mengklarifikasi yang sebetulnya berlangsung (dapat dikatakan): bukan langkah keamanan yang benar-benar membuat warga Palestina marah. Bagi mereka, krisis ini bukan soal metal detector atau kamera keamanan. Bukanlah soal langkah keamanan yang ingin dibongkar oleh warga Palestina. Israel-lah yang ingin mereka bongkar.

Warga Palestina dekat Kota Lama Yerusalem memprotes pemasangan metal detecror oleh Israel di pintu masuk menuju Temple Mount, 21 Juli, 2017. (Foto oleh Lior Mizrahi/Getty Images).

Metal detector yang diandaikan dapat mencegah kaum Muslim menyelundupkan senjata ke dalam kompleks Temple Mount, yang dibongkar oleh pihak berwenang Israel pekan ini punya nama yang jauh akurat: "lie detector," alias pendeteksi kebohongan. Alat-alat itu telah mengungkapkan kebohongan warga Palestina serta alasan yang sebenarnya di balik kemarahan Palestina.

Israel membongkar pemindai logam dari pintu-pintu Temple Mount sebagai bagian dari perjanjian untuk mengakhiri krisis yang tidak terduga sebelumnya dengan Yordania terkait dengan pembunuhan dua pria Yordania oleh seorang petugas keamanan Kedutaan Besar Israel di Amman, Yordania. Petugas keamanan mengatakan, dia bertindak untuk membela diri setelah diserang oleh salah satu warga Yordania dengan obeng.

Lanjutkan Baca Artikel

Pemindai Logam dan Kebohongan Palestina

oleh Bassam Tawil  •  27 Juli 2017

Sekitar 4.000 Muslim Palestina mengadakan sholat di depan Kota Tua Yerusalem, 17 Juli 2017. Aksi itu dilakukan sebagai protes terhadap pemasangan "metal detector" (pemindai logam) yang dipasang di jalan-jalan masuk Bait Bukit. (Foto oleh Ilia Yefimovich/Getty Images).

Kontroversi seputar keputusan pihak berwenang Israel untuk menempatkan metal detector, pemindai logam di depan gerbang Temple Mount (Bukit Bait Sulaymam) memunculkan dalam benak pepatah Arab kenamaan, "dia menggebuk saya dan menjerit-jerit kemudian datang kepada saya untuk berkeluh." Pembalikan realitas ini memang biasa terjadi di antara para pelaku yang berpura-pura menjadi korban.

Keputusan untuk memasang pemindai logam muncul setelah para teroris Arab membunuh dua perwira polisi Israel di Temple Mount, 14 Juli lalu. Tiga teroris --- warga Arab Israel dari Kota Umm al-Fahm --- menggunakan senapan mitraliur ringan dan pisau untuk melancarkan serangan. Senjata memang mudah diselundupkan ke dalam Temple Mount karena para jemaah Muslim memang tidak dipersyaratkan untuk melewati pemindai logam atau menjalani pemeriksaan badan oleh polisi yang ditempatkan di pintu gerbang.

Lanjutkan Baca Artikel

Adakah Kaum Radikal Lancarkan Jihad Baru Melawan Barat?

oleh William DiPuccio  •  20 Juli 2017

  • "Tetapi terkait dengan pahala dan ganjaran, ada satu kebajikan yang sangat luhur dibandingkan dengan semua ibadah serta kebajikan-kebajikan yang baik. Dan tindakan itu adalah Jihad!"---kata pengantar penerbit Arab Saudi atas Jihad in the Qu'ran and Sunnah oleh Sheikh 'Abdullah bin Muhammad bin Humaid.

  • Ganjaran atas Surga juga dijanjikan kepada kaum Muslim taat, namun, tingkat tertinggi Surga, yang berjumlah 100 buah, dicadangkan hanya bagi orang-orang yang melancarkan jihad.

  • Dari penampilannya, jihad, dengan demikian, pertama-tama dan terpenting adalah tindak penyerahan diri relijius, sedangkan perlawanan ekonomi dan politik hanya menjadi persoalan kedua.

Dengan sejumlah pengecualian khusus, kaum Muslim justru tidak menderita secara ekonomi di bawah pengaruh Barat; malah sebaliknya justru berkembang, khususnya kaum Muslim yang berdiam di negara-negara Teluk kaya minyak.. Foto atas: Gedung pencakar langit Dubai. (Foto oleh Francois Nel/Getty Images untuk XCAT)

Nyaris empat dekade sudah berlalu sejak Sheikh 'Abdullah bin Muhammad bin Humaid (1908-1981, mantan Hakim Utama Arab Saudi menerbitkan essaynya yang panjang lebar serta berapi-api tentang jihad[1]. Essay ini masih bisa didapatkan di Intenet. Inilah satu-satunya essay yang para cendekiawan Saudi pilih untuk disertakan dalam Noble Quran (Qur'an yang Mulia)--- sebuah terjemahan Al-Qur'an modern setebal 9 jilid yang juga memasukan berbagai komentar zaman purbakala. [2]

Sekilas membaca essay Sheikh bin Humaid ini seharusnya bisa selamanya menghentikan orang dari fantasi-fantasi yang berkaitan dengan disposisi penuh damai dari Islam terhadap dunia non-Muslim. [3] Seperti dikatakan oleh penerbit essay itu dalam catatan pengantarnya;

"Tetapi terkait dengan pahala dan ganjaran, ada satu kebajikan yang sangat luhur dibandingkan dengan semua ibadah serta kebajikan-kebajikan yang baik. Tindakan itu adalah Jihad!"

Lanjutkan Baca Artikel

Tragedi Nyata Palestina: Kemimpinan yang Gagal

oleh Khaled Abu Toameh  •  13 Juli 2017

  • Di bawah rejim PA dan Hamas, warga Palestina bebas mengkritik Israel sekaligus menghasut melawannya. Tetapi ketika sampai kepada kritik terhadap para pemimpin PA dan Hamas, aturan permainan pun berbeda. Kritik seperti itu dianggap "kejahatan" dan pihak yang bertanggung jawab kerapkali mendapati diri mereka beradi di balik terali besi penjara atau mengalami bentuk penyiksaan lainnya.

  • Ini, tentu saja, bukan apa yang mayoritas warga Palestina harapkan dari para pemimpin mereka. Pascapenandatanganan Perjanjian Oslo (Oslo Accord) serta pembentukan PA lebih dari 20 tahun silam, warga Palestina berharap bakal menyaksikan demokrasi serta kebebasan berbicara. Bagaimanapun, PA, pertama-tama di bawah Yasser Arafat dan belakangan di bawah Mahmoud Abbas terbukti tidak banyak berbeda dari sebagian besar diktator Arab di mana demokrasi dan kebebasan berpendapat serta media tidak ada.

  • Melihat keadaan warga Palestina sekarang ini, sulit untuk melihat bagaimana mereka bisa maju menuju pembentukan negara yang berhasil dengan hukum, tatatertib serta penghormatan terhadap kebebasan publik serta demokrasi.

Otoritas Palestina, pertama-tama di bawah kekuasaan Yasser Arafat dan belakangan di bawah Mahmoud Abbas, telah membuktikan tidak banyak berbeda daripada sebagian besar dictator Arab. Di sana, demokrasi dan kebebasan berpendapat serta media tidak ada. (Photo by Abid Katib/Getty Images)

Otoritas Palestina (PA) di Tepi Barat dan Hamas di Jalur Gaza mungkin saja tengah bertikai. Tetapi kedua kelompok bersaing itu tampaknya sepakat seputar satu isu. "Membungkam sekaligus mengintimidasi para pengkritik mereka." Tentu saja, tidak mengejutkan pihak-pihak yang sudah akrab dengan ciri tidak demokratis dari PA dan Hamas.

Di bawah rejim PA dan Hamas, warga Palestina bebas mengkritik Israel sekaligus menghasut melawannya. Tetapi ketika sampai kepada kritik terhadap para pemimpin PA dan Hamas, aturan permainan pun berbeda. Kritik seperti itu dianggap "kejahatan" dan pihak yang bertanggung jawab kerapkali mendapati diri mereka beradi di balik terali besi penjara atau mengalami bentuk penyiksaan lainnya.

Lanjutkan Baca Artikel

Dihukum Mati Karena "Menghina Islam"

oleh Majid Rafizadeh  •  26 Juni 2017

  • Dapatkah anda bayangkan membuat lelucon dan menghadapi kematian sebagai hasilnya?

  • "Selama diinterogasi, Sina diberi tahu bahwa jika ia menandatangani surat pengakuan dan menyesali kesalahannya, ia akan diampuni dan dilepaskan," kata narasumber dalam wawancara dengan CHRI pada 21 Maret 2017. "Sayangnya, ia membuat keputusan yang kekanakan dan menerima tuntutan tersebut. Kemudian mereka menjatuhkan hukuman mati kepadanya." "Tidak lama kemudian ia mengaku menandatangani surat pengakuan tersebut dan berharap untuk dibebaskan," kata narasumber. "Rupanya penegak hukum juga membuatnya mengaku di depan kamera."---Pusat Hak Asasi Manusia di Iran (CHRI)

  • Ketika kaum ekstrimis Muslim memperoleh kekuasaan, mereka segera membuat "sistem peradilan" guna "mengesahkan" pelaksanaan Hukum Syariah mereka. Sistem peradilan ini, kenyataannya, tidak banyak digunakan sebagai alat untuk memperlakukan orang secara adil, tetapi lebih sebagai alat untuk menekan kebebasan berpendapat dan kebebasan pers.

Sina Dehghan. (Sumber foto: Pusat Hak Asasi Manusia di Iran)

Bagi kaum Islam radikal, Islam bukanlah agama yang dapat dianut secara bebas oleh siapa saja; Islam adalah senjata. Islam adalah alat terkuat yang dapat dimanfaatkan dengan menggunakan keterampilan manipulatif untuk mengendalikan seluruh masyarakat. Setiap aspek hidup sehari-hari didikte berdasarkan aturan mereka yang ketat kejam. Apa yang dikenakan, apa yang dimakan, apa yang anda ucapkan dan apa yang anda tulis, semuanya diawasi dengan teliti. Pelanggaran atas hukum yang keras ini diganjar hukuman yang sangat berat. Dapatkah anda bayangkan membuat lelucon dan menghadapi kematian sebagai hasilnya? Dapatkah anda bayangkan perasaan takut yang terus menerus melanda ketika anda melakukan kesalahan, mengatakan hal yang salah, ketika melihat orang-orang dipukul, dilempari batu, atau dibunuh di jalan tidak lain karena pelanggaran ringan?

Lanjutkan Baca Artikel

Ramadhan: "Bulan Penaklukan Besar-Besaran"

oleh Judith Bergman  •  21 Juni 2017

  • "[Sepanjang sejarah] peradaban Islam, Ramadhan bukan sekedar bulan penuh ibadah dan bertumbuh mendekatkan diri pada Allah Yang Mahakuasa. Ramadhan juga bulan aksi dan jihad yang dimaksudkan untuk menyebarkan agama nan agung ini... sepanjang sejarah [Muslim], Ramadhan telah menjadi bulan penaklukan yang besar-besaran..." ---'Ali Gum'a, Mufti Agung Mesir masa itu seperti dituliskan oleh harian, Al-Ahram Juli, 2012.

  • "Menurut tradisi Islam, pengorbanan yang dilakukan selama Ramadhan dapat dianggap lebih bernilai daripada yang dilakukan pada waktu lain, sehingga panggilan untuk mati syahid selama Ramadhan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang." ---Laporan Dewan Penasehat Keamanan Luar Negeri yang dipimpin oleh Departemen Luar Negeri AS yang diterbitkan dalam Harian The Independent, 9 Juni 2016.

  • "Jihad dalam bahasa Arab... artinya: ...perjuangan... dimana penyebab/tujuannya adalah kebajikan dan keadilan...Perang suci bukan [merupakan] ungkapan dalam Al-Quran: Perang TIDAK ADA yang suci." ---Anna Cole, 'pakarpendidikan inklusi' untuk Asosiasi Pemimpin Sekolah dan Perguruan Tinggi (ASCL) yang merepresentasikan lebih dari 18.000 kepala sekolah dan perguruan tinggi.

Asap membumbung dari lokasi kerusuhan di Kota Marawi, Filipina selatan, 30 Mei lalu. Tentara Filipina melawan kelompok teroris Islam Abu Sayyaf di jalanan kota. Abu Sayyaf membunuh 14 umat Kristen dan melukai lebih dari 50 orang dalam serangan bom sejak Ramadhan yang dimulai 26 Mei. (Sumber gambar: Jez Aznar/Getty Images)

"Perjuangan kita adalah Jihad dan ibadah wajib. Setiap ibadah wajib punya pahala 70 kali lebih banyak selama Ramadhan," kata Zabihullah Mujahid, Jurubicara Taliban, ketika menolak seruan yang dipimpin oleh PBB supaya pihaknya menghentikan permusuhan selama Ramadhan.

ISIS juga saja baru menyiarkan pesan melalui Youtube. Dengan mengutip Al-Quran, kelompok teroris itu menghimbau pendukungnya untuk menyerang "orang kafir... di rumah mereka, di pasar mereka, di jalanan dan komunitas mereka.

"lipatgandakanlah usahamu dan perkuatkanlah perjuanganmu...Jangan anggap remeh. Aksimu menyerang orang-orang yang dianggap tidak berdosa dan warga sipil sangat penting bagi kita, sangat efektif dan sangat kita sukai. Majulah dan smoga kalian memperoleh pahala atau mati sebagai syuhada dalam bulan Ramadhan."

Lanjutkan Baca Artikel

Hadiah Mewah dari Arab Saudi untuk Indonesia: Islam Radikal

oleh Mohshin Habib  •  2 Juni 2017

  • Sebelum Arab Saudi berupaya menyebarluaskan Salafisme ke seluruh penjuru dunia Muslim, Indonesia tidak punya organisasi teroris seperti Hamas Indonesia, Laskar Jihad, Hizbut Tahrir, Front Pembela Islam, Jamaah Islamiah, untuk menyebutkan beberapa organisasi tersebut. Sekarang ini, negeri itu dipenuhi dengan banyak kelompok ini.

  • Baru saja tiga pekan setelah Raja Arab Saudi mengakhiri perjalanannya, sedikitnya 15.000 demonstran kaum radikal garis keras memenuhi jalan-jalan Jakarta seusai sholat Jumat, menyerukan agar gubernur ibukota yang Kristen dipenjara, yang kini sedang diadili dengan tuduhan, "menghina Qur'an" (blaspheming the Quran).

  • Dalam sebuah krisis yang terpisah, gerombolan massa itu menuntut agar Basuki Tjahaja Purnama (yang dikenal akrab sebagai Ahok) dipenjara karena mengatakan kepada sebuah kelompok nelayan bahwa, mereka ditipu soal bagaimana Qur'an melarang kaum Muslim supaya tidak diperintah oleh seorang kafir, sehingga dia paham mengapa beberapa dari mereka mungkin tidak memilih dia. Jika dihukum, maka Ahok bisa menjalankan hukuman hingga lima tahun di penjara.

Presiden Joko Wido dari Indonesia (latar depan, kiri) bertemu dengan Raja Salman dari Arab Saudi (latar depan, kanan) di Bandara Halim Perdanakusuma di Indonesia. (Sumber foto: Istana Kepresidenan Indonesia)

RAJA ARAB SAUDI SALMAN BIN ABDUL AZIZ---tiba di Indonesia, 1 Maret 2017 lalu untuk sebuah perjalanan besar-besaran selama sembilan hari. Bersama dia ikuti pula 1500 rombongan yang besar. Dia disambut hangat, bukan saja sebagai monarki dari salah satu negara dunia terkaya, tetapi juga sebagai penjaga dua kota tersuci Islam, Mekkah dan Medina.

Lanjutkan Baca Artikel

"Budaya Damai" ala Pemimpin Palestina Mahmud Abbas

oleh Bassam Tawil  •  30 Mei 2017

  • Berkat kesalahan Abbas, media-medianya hingga sekarang ini terus saja berbicara tidak jujur tentang "para penyerang serta para pemukim Yahudi yang "melempari tempat-tempat suci Islam dan Kristen dengan batu di Yerusalem." Pernyataan itu, dan hanya itulah yang menjadi sumber dari berbagai serangan dengan pisau serta aksi menabrakan kendaraan atas warga Israel.

  • Barangkali dengan "budaya damai," Abbas maksudkan untuk menyebutkan Israel sebagai negara apartheid dan rasis seperti dia dan para pejabat tinggi biasanya lakukan. Atau mungkin saja "budaya damai" berarti mengatakan semua kaum Yahudi adalah "penjarah lahan" (occupiers) dan "penjajah" (colonists) ---atau mengecam sekaligus mengancam anak-anak Palestina yang bermain sepakbola bersama anak-anak Israel. Atau ia justru tengah memberikan nama-nama sekolah serta daftar pemilihan sesuai dengan nama para penjahat yang dihukum penjara?

  • Di bawah pemerintahan Abbas, hasutan serta indoktrinasi anti-Israel menjadi h bisnis yang berkembang luas secara eksponensial. Hasutan dan indoktrinasi nyatanya, berkembang sampai pada titik sehingga generasi muda negeri itu dibesarkan berlandaskan pemujaan terhadap para jihadi, sebuah generasi yang tidak sabar untuk menumpahkan semakin banyak darah kaum Yahudi. Jika inilah "budaya damai" Abbas, maka apakah, orang akan bertanya-tanaya, seperti apakah budaya yang dia anggap sebagai "budaya perang"?

Presiden AS Donald Trump bertemu Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas di Gedung Putih, 3 Mei 2007. (Sumber foto: suntingan video dari Gedung Putih).

Presiden Otoritas Palestina (PA) Mahmoud Abbas mungkin segera terkenal karena selera humornya. Seperti banyak warga Palestina, Abbas yakin masyarakat Barat bakal menelan bulat-bulat seluruh kebohongannya. Abbas, misalnya, mengakhiri pertemuannya 3 Mei lalu dengan Presiden AS Donald Trump dengan kebohongan besar berikut ini. "Kami membesarkan anak-anak muda kami, anak-anak kami, cucu-cucu kami dalam sebuah budaya damai."

Abbas tidak memberikan penjelasan rinci soal "budaya damai' tempat anak-anak Palestina dibesarkan. Tidak satu orang pun yang merasa terganggu sehingga mau bertanya kepada Abbas atau anggota rombongannya untuk memberikan contoh-contoh "budaya damai" dalam masyarakat Palestina. Namun, berbagai media Barat segera menerbitkan tipuan Abbas yang tidak diragukan itu.

Lanjutkan Baca Artikel

Paus Berziarah ke Al-Azhar

oleh Lawrence A. Franklin  •  16 Mei 2017

  • Dalam pertemuan antara bekas Utusan Paus ke Kairo, Uskup Agung Jean-Paul Gobel dengan el-Tayeb, el-Tayeb memperingatkannya bahwa "membicarakan Islam secara negatif adalah 'garis merah' yang tidak boleh dilanggar." Kalau ada kecaman atas tindak kejahatan terhadap umat Kristen Koptik, maka kecaman tersebut mungkin hanya diungkapkan oleh Imam Besar al Azhar dan Presiden Mesir.

  • Akan tetapi, bagaimanapun, sikap Paus yang sangat rendah hati mungkin diartikan oleh Muslim pecinta damai sekalipun sebagai tanda bahwa ia sudah tunduk. Jika Paus diminta oleh Imam Besar untuk berdoa di masjid Al-Azhar, maka ekspresi kesucian itu tidak bakal dilakukan oleh el-Tayeb di sebuah Gereja Koptik di Mesir.

  • Upaya untuk mempermudah pembentukan hubungan Islam-Kristen yang meniadakan Yahudi hanya melayani tujuan kaum Islam radikal untuk mengasingkan orang Yahudi dan Israel. Meskipun hubungan antara Vatikan dan Al-Azhar membaik dalam waktu dekat, namun masa bulan madu tidak terjadi. Imam Besar pasti melindungi landasan kekuatan teologisnya sendiri sambil tetap menjaga jarak dengan Vatikan dan rezim Mesir.

Paus Katolik Fransiskus menyapa Paus Koptik Mesir Tawadros II di Vatikan, pada 10 Mei 2013. (Sumber gambar: News.va Jaringan Resmi Vatikan.)

Ledakan bom kembar pada Minggu Palma di Gereja Kristen Koptik yang dilancarkan oleh teroris Islam radikal Mesir menewaskan 44 jemaat. Insiden itu menarik perhatian karena ia mungkin saja menjadi alasan utama kunjungan Paus Fransiskus ke Kairo, 28-29 April lalu. Paus mungkin akan meminta bantuan hirarki Muslim di Mesir untuk membantu melindungi umat Kristen Koptik Mesir, penduduk asli dari negara tersebut yang kini berjumlah sekitar 9 juta dan merupakan paling tidak 10% dari populasi.

Selama kunjungannya, Paus Fransiskus bertemu dengan Imam Besar Masjid Al-Azhar Kairo, Syeikh Ahmed el-Tayeb. Al-Azhar adalah kampus teologi, tempat universitas Islam tertua berada dan dianggap sebagai pusat Sunni Islam yang paling berpengaruh.

Lanjutkan Baca Artikel

Cara Baru Menanggapi Ekstrimis Islam

oleh Giulio Meotti  •  9 Mei 2017

  • "Berdasarkan perkiraan, 10−15 persen Muslim di dunia adalah Islamis. Angka tersebut lebih dari 1.6 miliar, atau 23 persen populasi dunia, yang berarti lebih dari 160 juta orang."---Ayaan Hirsi Ali dalam buku barunya, The Challenge of Dawa.

  • Itulah pencapaian penting Ronald Reagan dalam perang panjangnya melawan Uni Soviet: menampilkan Komunisme sebagai lelucon – menyingkap kebohongan rezim Soviet, menyingkap kesengsaraan hidup rakyatnya dan menjelaskan mengapa nilai-nilai Barat lebih baik daripada nilai-nilai negara Komunis. Hirsi Ali menjelaskan bahwa hal inilah yang seharusnya dilakukan terhadap Islam radikal.

  • Peradaban barat adalah pandangan humanis / kemanusiaan yang di dalamnya ajaran Kristen berpadu dengan kebijaksanaan Yahudi serta filsafat Yunani dan hukum Romawi sehingga memberikan karakter khusus pada budaya Barat: kebebasan berbicara dan kebebasan pers, keadilan yang setara dalam hukum, pengakuan atas keunggulan nilai individu, pemisahan agama dan negara, kebebasan beragama dan bebas dari agama, hak untuk memiliki kekayaan, perlakuan yang setara bagi setiap jenis kelamin, pengadilan yang independen, dan diantara semua nilai, pendidikan yang independen. Inilah yang ingin dihancurkan oleh radikal Islam. Inilah yang ingin digancurkan oleh Islam radikal. Itulah mengapa teroris menyerang gereja-gereja kita dan Negara Israel. Inilah mengapa mereka menumbangkan demokrasi untuk mengubahnya dengan hukum Islam, Sariah.

Jihadi tengah menyebarkan kekerasan -- dan berhasil. "Dalam enam belas tahun terakhir," tulis Ayaan Hirsi Ali dalam buku terbarunya, The Challenge of Dawa, "tahun terparah terjadinya terorisme adalah 2014, dengan sembilan puluh tiga negara mengalami serangan teror dan 32,765 orang terbunuh."

"Tahun kedua ter parah adalah 2015, dengan 29,376 orang tewas. Tahun lalu, empat kelompok radikal Islam bertanggung jawab atas 74 persen dari semua kematian yang disebabkan oleh serangan teror. Mereka adalah Negara Islam (yang dikenal juga dengan ISIS), Boko Haram, Taliban, dan al-Qaeda. Meskipun negara Muslim sendiri menanggung beban terberat dari aksi kejahatan jihadi, serangan terhadap Barat semakin meningkat."

Penelitian yang Hirsi Ali lakukan dengan dukungan Hoover Institution, merupakan ringkasan terhadap perang atas teror sejak kaum ekstrimis Muslim menyerang Amerika Serikat pada 2001:

Lanjutkan Baca Artikel

Rakyat Palestina: Kami Berhak Meracuni Pikiran Anak-Anak Kami

oleh Bassam Tawil  •  17 April 2017

Sekolah khusus perempuan yang dikelola oleh Badan PBB untuk Urusan Pemulihan dan Pekerjaan bagi Pengungsi Palestina. (Sumber Gambar: UNRWA).

ADA PERUBAHAN IRONIS---- kini terjadi. Badan PBB untuk Pemulihan dan Pekerjaan bagi Pengungsi Palestina (UNRWA) kini menjadi sasaran intimidasi dan ancaman rakyat Palestina.

Itu terjadi setelah UNRWA kabarnya berencana memperkenalkan beberapa perubahan pada kurikulum yang berlaku di sekolah yang mereka dirikan di wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza. Rakyat Palestina rupanya tidak terlalu senang dengan kabar ini. Menurut mereka UNRWA "tunduk" pada tekanan Israel untuk membuat perubahan tersebut.

Perubahan yang diusulkan berasal dari informasi bocor yang diterima rakyat Palestina tetapi belum dikonfirmasi oleh UNRWA. Rakyat Palestina menyaku mengetahui rencana untuk memperkenalkan perubahan tersebut dalam pertemuan dengan petugas senior UNRWA.

Menurut mereka, perubahan tersebut bermaksud "menghapus identitas nasional" dan "sejarah" mereka serta mengubah "perjuangan" mereka melawan Israel.

Lanjutkan Baca Artikel