Analisa dan Komentar Terbaru

Prancis: "Kolonisasi yang Terbalik"

oleh Guy Millière  •  20 Januari 2020

  • Segera setelah itu, organisasi Muslim yang meminta siswa untuk memiliki hak mengenakan jilbab di sekolah juga meminta kurikulum sekolah diubah. Dalam hal ini, kurikulum sejarah, sehingga peradaban Muslim disajikan dengan cara yang lebih "tepat" dan "positif".

  • "Jika cara saya berpakaian menganggumu, tinggalkan negeriku" ---Tanda tangan pada sebuah sebuah demonstrasi, 27 Oktober 2019 lalu.

  • "Setiap kritik terhadap Islam sekarang dianggap penistaan agama."--- Ivan Rioufol, kolomnis, Le Figaro, 4 Nopember 2019.

  • Rincian berbagai aksi itu membuat orang melihat bahwa aksi anti-Kristen sebagian besar adalah tindakan vandalisme atas gereja. Aksi anti-Semit seringkali terdiri dari penodaan kuburan dan serangan kekerasan terhadap masyarakat Yahudi. Juga bahwa aksi anti-Muslim nyaris hanya melibatkan grafiti anti-Muslim atau menaruh irisan daging babi di pintu masuk masjid atau di kotak surat organisasi Muslim. Tidak ada Muslim yang diserang secara fisik.

  • "Kita tidak sedang ada dalam proyek asimilasi." — Yassine Belattar, mantan penasehat Presiden Prancis, Emmanuel Macron, 27 Oktober 2019.

  • Éric Zemmour pernah mengatakan bahwa Prancis terancam bukan oleh risiko "pemisahan wilayah", tetapi oleh "kolonisasi" yang terbalik.

(Sumber gambar: iStock)

Tanggal 12 Oktober 2019. Pertemuan Dewan Regional Bourgogne-Franche-Comté diselenggarakan di Dijon, sebuah kota yang tenang di Prancis tengah. Seorang wanita berkerudung hitam panjang berada di antara hadirin. Tampaknya tengah menemani sekelompok siswa. Tiba-tiba, Ketua Kelompok Partai National Rally di Dewan Regional, Julien Odoul, bangkit. Dia lalu mengatakan bahwa kehadiran seorang wanita berkerudung di gedung publik tidak sesuai dengan nilai-nilai Republik Prancis:

"Kita sedang berada dalam gedung publik. Kita berada di kandang demokratis. Setiap waktu, nyonya itu bisa berkerudung di rumah, di jalanan. Tapi tidak di sini. Tidak hari ini. Ini Republik. Ini sekularisme. Ini hukum negara Republik. Tidak ada tanda-tanda yang mencolok. "

Lanjutkan Baca Artikel

Kejahatan Iran terhadap Kemanusia tahun 2019

oleh Denis MacEoin  •  14 Januari 2020

  • "Seperti Iran, para wanita Arab Saudi dan wanita Muslim lain di seluruh dunia berjuang supaya bebas dari jilbab. Soalnya, mereka menganggapnya sebagai simbol politik yang tidak ada hubungannya dengan kesalehan. Reaksi kaum liberal di Barat pun membingungkan. Namun, di sini terlihat semakin banyak feminis, kalangan kiri dan media liberal yang memuja jilbab sebagai simbol eksotis pembebasan perempuan yang harus dipeluk."--- Tarek Fatah, The Toronto Sun, 29 Agustus 2019

  • "Para pengawal sedang berkumpul hendak menyingkirkan reformis dari kekuasaan."--- Najmeh Bozorgmehr, wartawan Iran, Financial Times, 13 Oktober 2019.

  • Kampanye anti-korupsi dipimpin tidak lain oleh ulama garis keras Ebrahim Raisi. Ia sendiri luas dianggap sebagai ulama yang paling mungkin untuk menggantikan peran Pemimpin Tertinggi ketika Khamanei pensiun atau meninggal dunia. Tetapi dia punya reputasi yang mengganggu karena kekerasan yudisial.

Salah satu sandera Barat yang Iran tahan adalah seorang ibu Inggris yang lugu, Nazanin Zaghari-Ratcliffe. Putrinya yang berusia lima tahun, Gabriella, juga disandera di Iran sampai rezim membebaskannya bulan lalu. Gambar: Nazanin Zaghari-Ratcliffe dan suaminya Richard Ratcliffe pada 2011. (Sumber foto: Wikimedia Commons).

Tanggal 10 Oktober tahun ini. Ketika sebuah pesawat terbang dari Teheran dan tiba larut malam di London. Kala itu, di antara para penumpangnya, ada seorang gadis kecil berusia lima tahun. Namanya Gabriella. Terlepas dari namanya yang mirip, Gabriela bukan orang Spanyol, Portugis atau Italia. Ayahnya, Richard, orang Inggris. Ibunya Nazanin, orang Inggris berkewarganegaraan Inggris.

Nazanin Zaghari-Ratcliffe termasuk di antara orang-orang paling terkenal di antara lautan orang yang terkurung dalam penjara-penjara Iran. Statusnya dwi-kewarganegaraan. Dia dipenjara lima tahun karena tuduhan spionase tanpa sepotong bukti pun. Berkat kampanye pembebasannya oleh suaminya dan Kantor Urusan Luar Negeri Inggris, kasusnya berkali-kali terungkap ke publik dalam pers dan media Inggris lainnya.

Lanjutkan Baca Artikel

Ancaman Keamanan Nasional? Haruskah AS juga Berbisnis dengan Cina?

oleh Benjamin Weingarten  •  12 Januari 2020

  • Bagaimana bisa AS bertransaksi dengan Cina dalam bidang strategis apa pun mengingat tujuan rezim komunis serta kekuatannya atas setiap lembaga di Cina? Apakah AS akhirnya memperjual-belikan kebebasannya?

  • "Yang benar-benar ingin saya ketahui adalah soal kekayaan intelektual [Intelectual Property --IP] yang menjadi bagian perjanjian ini...bukankah benar bahwa mereka [Cina] baru melembagakan aturan keamanan cyber baru sendiri yang sudah siap bekerja sehingga katakan saja tidak ada perusahaan asing dapat mengenkripsi data. Dengan demikian, data tidak dapat dibaca pemerintah pusat dan Partai Komunis Cina? Dengan kata lain, dunia usaha diharuskan menyerahkan kunci enkripsi. Apakah aturan baru yang Cina berlakukan itu pada dasarnya meniadakan peluang apapun bagi AS untuk melindungi IP-nya?--- Maria Bartiromo, dalam Program Sunday Morning Futures, Televisi Fox News Channel, Real Clear Politics, 15 Desember 2019.

  • Undang-Undang (UU) Keamanan Nasional Cina 2015... mengatakan bahwa semua warga negara, perusahaan dan organisasi "bertanggung jawab dan berkewajiban menjaga keamanan negara." UU Intelijen Nasional Cina 2017 juga mewajibkan orang dan lembaga tersebut untuk "mendukung, membantu dan bekerja sama dalam pekerjaan intelijen nasional..." Tidaklah sulit untuk melihat bagaimana Cina menerapkan aturan bahkan sampai jauh melebih UU Enkripsi untuk membenarkan pelanggaran atas perjanjiannya dengan AS dengan kedok "prihatin terhadap keamanan nasional" (national security concerns) dan "aturan hukum" (rule of law).

Menurut Jaksa Agung A.S. William Bar, "perusahaan pemasok yang tidak bisa dipercaya bisa memfasilitasi adanya spionase (termasuk spionase ekonomi) serta gangguan terhadap infrastruktur penting kita karena tingkah kekuatan asing. Ringkasnya, rekam jejak mereka sendiri, termasuk praktek Pemerintah Cina memperlihatkan bahwa Huawei dan ZTE tidak bisa dipercaya." (Foto oleh Ed Zurga/Getty Images).

Dunia kini tengah menantikan informasi rinci "fase pertama" perjanjian dagang Cina – AS dari Pemerintahan Trump dilaporkan. Para pejabat AS berharap perjanjian dijalankan Januari 2020. Namun di tengah penantian itu, muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar: Haruskah Amerika berbisnis dengan Cina dalam bidang-bidang yang secara strategis penting atau bahkan di luar bidang-bidang itu?

Lanjutkan Baca Artikel

Dimulainya Gerakan Kapal Bersenjata Turki di Laut Mediterania

oleh Burak Bekdil  •  11 Januari 2020

  • Erdoğan tampaknya berpikir bahwa pertahanan terbaiknya dalam permainan kekuasaan di Kawasan Mediterania adalah dengan menyerang.

  • Namun, satu kekuatan yang sedang berkembang di Libya bukanlah aktor negara Barat. Rusiaberpeotensi untuk memasuki teater Libya dengan antek yang lebih besar dan kekuatan langsung, untuk membangun kehadiran militernya yang permanen kedua kalinya di Mediterania.

  • Juga seperti di Suriah, agenda kaum Islam radikal Turki mungkin gagal di Libya. Tetapi pada saat memahaminya, Erdogan mungkin sudah terlambat untuk keluar dari orbit Moskow.

SEJAK 2011, Turki menginvestasikan miliaran dolar uangnya dalam teknologi kelautannya, dalam upaya yang jelas untuk membangun perangkat keras yang bakal suatu hari dibutuhkannya. Gambar: Fregat Angkatan Laut Turki, TGG Fatih. (Departemen Pertahanan Amerika Serikat).

Sejak 2011, Turki, melancarkan perang proksi pro-Sunni di Suriah dengan harapan suatu saat, Turki bisa membangun rezim Islam radikal yang pro-Turki di Damaskus. Ambisi ini gagal. Ia malah menyebabkan Presiden Recep Tayyip Erdogan mengalami kerugian karena kedua sisi perbatasan Turki-Suriah sepanjang 911 km bergolak. Selain itu, miliaran dolar uang dihabiskan untuk lebih dari 4 juta pengungsi Suriah yang tersebar di seluruh tanah Turki.

Di Mesir, selama 2011-2012, Erdogan agresif mendukung Pemerintahan Ikhwanul Muslim yang gagal di Mesir pada 2011-2012. Akibatnya, dia pun sangat memusuhi jenderal yang berkuasa yang kini presiden, Abdel Fattah al-Sisi. Sejak upayanya gagal di Suriah dan Mesir, ambisi Islam Sunni Erdogan menemukan teater perang proksi baru: Libya.

Lanjutkan Baca Artikel

Pagar Batas Negara Spanyol yang "Bersahabat dengan Migran"

oleh Soeren Kern  •  5 Januari 2020

  • Para pengkritik mengatakan kawat berduri itu penting untuk mencegah imigrasi illegal. Dengan demikian, pembongkarannya bukan saja menyebabkan Pemerintah Spanyol berisiko melepaskan gelombang baru migrasi massal dari Afrika, tetapi juga memberikan kontrol yang efektif terhadap perbatasan Spanyol kepada Maroko. Padahal, hubungan Spanyol dengan Maroko sedang tegang.

  • Pagar perbatasan yang dipersoalkan itu mencakup pagar berduri di enklaf Ceuta dan Melilla milik Spanyol di Afrika Utara. Dua kawasan itu menjadi magnet bagi orang Afrika yang mencari kehidupan yang lebih baik di Eropa.

  • Pembongkaran pagar kawat berduri ini sejalan dengan sikap pemerintah sosialis negeri itu yang berkuasa yang pro-imigrasi.

  • "Kami tidak menentang imigrasi. Kami bahkan tidak menentang imigran ilegal. Bukan salah mereka bahwa pemerintah yang tidak bertanggung jawab memanggil mereka untuk datang ke sini secara ilegal." — Iván Espinosa de los Monteros, Jurubicara parlemen untuk Partai Konservatif Vox.

Pihak berwenang Spanyol mulai membongkar kawat berduri berbentuk silet dari pagar perbatasan sepanjang garis perbatasan Spanyol dengan Maroko. Pemerintahan Sosialis negeri itu memerintahkan pembongkarannya setelah para migran yang berupaya melompati pagar supaya bisa memasuki Eropa secara illegal menderita luka-luka. Foto: pagar ganda Spanyol yang memisahkan enklaf Ceuta milik Spanyol dari Maroko. Foto diambil 23 Agustus 2018. (Foto oleh Alexander Koerner/Getty Images).

Pemerintah Spanyol sudah mulai membongkar kawat berdurinya yang berbentuk silet sepanjang perbatasan Spanyol dengan Maroko. Orang mengenal kawat berduri itu sebagai kawat berduri concertina. Pemerintahan sosialis negeri itu memerintahkan pembongkaran pagar setelah migran yang mencoba melompati pagar untuk memasuki Eropa secara ilegal menderita luka-luka karena memegangnya

Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska membenarkan pembongkarannya. Dikatakannya, Maroko baru-baru ini memasang kawat berduri pada pagar sisi perbatasannya. Oleh karena itu, pagar tidak diperlukan lagi di pihak Spanyol.

Lanjutkan Baca Artikel

"Nikmatnya Menghancurkan Umar Kristen": Penganiayaan Umat Kristen September 2019

oleh Raymond Ibrahim  •  28 Desember 2019

  • "Peraturan ini [dari tahun 2006] menetapkan bahwa semua tempat ibadah non-Muslim harus mendapatkan ijin. Namun, pemerintah belum mengeluarkan ijin pembangunan gereja [sic] berdasarkan peraturan ini dan mengabaikan permohonan ijin dari gereja untuk mengatur status mereka sesuai dengan peraturan."---Organisasi International Christian Response, 25 September 2019, Aljazair.

  • Dewan Imigrasi dan Pengungsi Kanada berusaha mendeportasi keluarga pengungsi. Terdiri dari seorang ibu dan tiga anak. Mereka sudah melarikan diri dari negara asalnya Nigeria setelah diserang dan diancam mati karena meninggalkan Islam dan pindah masuk Kristen. "Mereka menghadapi satu fatwa melawan mereka. Karena berpindah dari Islam dan masuk Islam. Mereka yakin pasti mati jika kembali ke Nigeria. Karena itu, mereka sangat takut."Para pendukung keluarga mengatakan pemerintah tidak meluangkan waktu untuk menetapkan status kemanusiaan keluarga atau melakukan penilaian risiko yang tepat. "Mereka berupaya mengusir [mereka] dari negara ini sebelum itu." Status keluarga saat ini tidak jelas.

Sekitar pertengahan September 2019. Polisi Inggris di Preston, Lancashire, mengumumkan bahwa mereka tidak akan mengambil tinfakan atas seorang laki-laki yang sebelumnya mengancam hendak mensodomi siapa saja yang berani beralih masuk Kristen. Gambar: Pusat Kota Preston. (Sumber gambar: Andrew Gritt/geograph.ork.uk/Wikimedia Commons)

Pembantaian Umat Krisen

Lanjutkan Baca Artikel

Nasib Umat Kristen dalam Dunia Masa Kini

oleh Denis MacEoin  •  25 Desember 2019

  • Mengapa harus dianggap anti-Muslim atau "Islamofobia" untuk menulis tentang efek jihad atau perlakuan Muslim konservatif terhadap kaum kafir? Faktanya diketahui sangat baik oleh badan-badan internasional, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), komisi nasional serta laporan jurnalistik yang dapat diverifikasi. Para reformis Muslim sendiri sangat kritis terhadap hukum dan perilaku diskriminatif di negara-negara tempat mereka atau leluhur mereka berasal.

  • Memang, justru Muslim reformis dan liberal yang paling vokal berbicara tentang pembatasan yang sangat radikal terhadap nilai-nilai yang diklaim Muslim lain sebagai universal.

  • Mari kita perjelas. Tidak diragukan lagi, mungkin selalu ada orang yang menyebut diri sungguh-sungguh "fobia terhadap Islam", yang menggunakan masalah di negara-negara atau komunitas Muslim untuk mencoba menjerat Islam atau Muslim secara keseluruhan. Namun masalah ini dan masalah lainnya masih harus dihadapi sebagai masalah hak asasi manusia yang otentik.

  • Persoalan yang sangat tersebar luas di kalangan umat Kristen di berbagai negara Muslim adalah larangan atas umat Kristen untuk mengajak orang supaya masuk agamanya. Sementara negara-negara Kristen dan sekular membiarkan Muslim bebas berdakwa, mengajak orang pindah agama dan mengajar non-Muslim 25 negara Muslim melarang orang berpindah agama. Mereka juga menetapkan undang-undang yang mengatakan bahwa kaum Muslim yang beralih masuk agama lain bisa dihukum mati sebagai murtad.

Belum pernah terjadi sebelumnya, di Timur Tengah, umat Kristen diserang dan diusir keluar dari kawasan itu. Gambar: Sebuah gereja yang dibakar dan dirusak oleh ISIS di Kota Qaraqosh, Irak. Foto diambil 27 Desember 2016. (Foto oleh Chris McGrath/Getty Images)

Negara-negara sekuler yang tidak menindas (non-coersive states) yang mengakui kebebasan beragama seharusnya menjadi persoalan yang sangat penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Ia menjadi kritik serius terhadap praktik Islam. Baik secara historis maupun pada era modern. Kritik bahwa banyak negara Muslim tampaknya tetap saja sangat tidak toleran terhadap pengikut agama lain atau pengikut berbagai cabang agama mereka sendiri. Sangat tidak toleran terhadap orang yang mereka anggap meninggalkan Islam. Atau kepada orang yang mereka anggap "menyinggung" pengikutnya. Entah dengan tidak sengaja ataupun sengaja. Penganiyaan terhadap kaum minoritas agama dan Muslim lainnya tampaknya umum di banyak negara Muslim. Mulai dari Arab Saudi yang sangat ketat hingga Indonesia yang lebih liberal, terutama di negara-negara tempat agama terkait erat dengan negara.

Lanjutkan Baca Artikel

Pengadilan Eropa Berstandar Ganda terhadap Produk Israel

oleh Soeren Kern  •  14 Desember 2019

  • Keputusan Mahkamah efektif mendorong persyaratan pelabelan yang ketat di Prancis untuk diterapkan di seluruh Uni Eropa. Berbagai pihak pun menyambutnya dengan kecaman keras. Mereka mengecam putusan itu sebagai merefleksikan sikap bias anti-Israel. Banyak pengamat politik mencatat bahwa ada banyak kawasan konflik di dunia. Mulai dari Krimea sampai Siprus Utara ke Tibet ke Sahara Barat. Namun, Uni Eropa memilih Israel sebagai satu-satunya negara yang dikenai persyaratan pelabelan khusus.

  • " Ada lebih dari 200 perdebatan seputar kawasan yang sedang berlangsung di seluruh dunia, namun ECJ tidak memberikan satu putusan tunggal terkait dengan pelabelan produk yang berasal dari wilayah ini. Putusan hari ini karena itu bersifat politis dan mendiskriminasi Israel."---Menteri Luar Negeri Israel.

  • "Keputusan itu juga bertentangan dengan standar internasional perdagangan yang ditetapkan oleh Organisasi Perdagangan Dunia...Ia menjadi sejenis tipuan paling yang mengerikan ketika Roma terbakar. Tindakan Mahkamah Eropa yang menjatuhkan hukuman (quoting) Israel karena 'melanggar aturan hukum kemanusiaan internasional' ketika Hamas dan anteknya membom populasi sipil tak berdosa di Israel menjadi salah satu ironi terburuk yang pernah saya saksikan sekian lama." — Menachem Margolin, Ketua Asosiasi Yahudi EropaBrussels.

Mahkamah Eropa memerintahkan supaya produk-produk makanan yang dibuat di apa yang disebut sebagai Pemukiman Yahudi di Yerusalem Timur, Tepi Barat dan Dataran Tinggi Golan, harus secara khusus diberi label sedemikian rupa. Tidak boleh diberi label umum "Buatan Israel." Keputusan ini bersumberkan pada tuntutan hukum yang dibuat oleh Pabrik Anggur Psagot Winery (gambar) dan Organisasi Yahudi Eropa. Pabrik Anggur Psagot Winery selama ini mengelola kebun anggur di kawasan yang disebut kawasan pendudukan Palestina. (Sumber foto: iStock)

Mahkamah Uni Eropa, pengadilan tertinggi Uni Eropa memutuskan bahwa produk makanan yang dibuat di pemukiman Yahudi di Yerusalem Timur, Tepi Barat dan Dataran Tinggi Golan harus diberi label khusus. Tidak boleh ditempeli label umum "Buatan Israel."

Putusan untuk mengkhususkan Israel mungkin tidak termotivasi oleh kekhawatiran atas keamanan pangan atau perlindungan konsumen. Tetapi lebih pada preferensi kebijakan luar negeri Uni Eropa yang anti-Israel. Karena itu, keputusan itu pun banyak dikritik sebagai bias, diskriminatif dan anti-Semit.

Kasus pemberian label itu berawal dari pertanyaan mengenai interpretasi terhadap Regulasi UE No. 1169/2011, tanggal 25 Oktober 2011 berkaitan dengan informasi konsumen tentang produk makanan. Peraturan itu sendiri, tidak jelas membahas soal masalah pelabelan produk makanan dari Israel.

Lanjutkan Baca Artikel

Pantaskah Angela Merkel Mendapatkan Penghargaan untuk Zionisme?

oleh Soeren Kern  •  28 Nopember 2019

  • Statistik Kementerian Dalam Negeri Jerman, mengklaim bahwa 90% kejahatan karena kebencian anti-Semit yang dilaporkan di Jerman pada 2018 dilakukan oleh orang-orang berhaluan "esktrim kanan". Bagaimanapun, Badan Hak Asasi Fundamental Uni Eropa (FRA) menemukan bahwa hanya 13% serangan yang bisa dikaitkan dengan mereka yang "berpandangan politik sayap kanan."

  • Jerman menyediakan dana jutaan euro setiap tahun bagi organisasi yang mempromosikan BDS anti-Israel (Boikot, Divestasi dan Sanksi) serta melakukan kampanye "perang melalui sistem hukum untuk melawan Israel" (lawfare), anti-Zionisme, antisemitisme dan kekerasan, menurut LSM Monitor.

  • "Mengapa Merkel diberi Theodor Herzl Award? Karena wakilnya di PBB abstain ketika hendak menjatuhkan resolusi anti-Israel dan dengan demikian secara de facto mendukung resolusi? Karena pejabat yang sama ini menyamakan serangan roket Hamas terhadap warga sipil Israel dengan pembongkaran rumah para teroris Palestina oleh Israel? Karena tidak memindahkan Kedutaan Jerman dari Tel Aviv ke Yerusalem, seperti yang dilakukan Amerika Serikat sehingga memperingatkan negara-negara lain agar tidak mengambil langkah seperti itu? Untuk semua ini, ia mendapatkan Theodor Herzl Award?" --- Henryk Broder, German Political Commentator, Die Achse des Guten.

  • "Dan itu baru permulaan. Ada kemungkinan besar bahwa berkat politik hari ini Jerman akan menjadi Judenrein [bebas dari orang Yahudi]. Wir schaffen das (Kita bisa melakukannya)."

Kongres Yahudi Dunia baru-baru ini memutuskan hendak menghormati Kanselir Jerman Angela Merkel dengan Penghargaan Theodor Herzl-nya yang bergengsi. Keputusan itu memantik kemarahan sekaligus kebingungan di antara para pemimpin Yahudi di Amerika Serikat dan Eropa (Foto oleh Thomas Lohnes/Getty Images).

Kongres Yahudi Dunia (World Jewish Congress ---WJC) baru saja membuat keputusan untuk menghormati Kanselir Jerman Angela Merkel dengan menganugerakan Hadiah Theodor Herzl yang bergengsi. Namun, keputusan itu memicu kemarahan dan kejengkelan di kalangan para pemimpin Yahudi di Amerika Serikat dan Eropa.

WJC didirikan Agustus 1936. Di Jenewa, Swiss. Pendiriannya bertujuan untuk melawan bangkitnya Adolf Hitler dan penganiayan atas masyarakat Yahudi di Eropa. Penganugerahan hadiah tahunan diberikan kepada orang-orang yang beraksi mempromosikan tujuan-tujuan dari almarhum Theodor Herzl, pendiri gerakan Zionis modern, "bagi terciptanya dunia yang lebih aman dan lebih toleran bagi masyarakat Yahudi."

Menutut para pengkritiknya, Merkel tidak pantas memperoleh penganugerahan ini, Karena, menurut mereka, kebijakan domestik dan luar negerinya selama beberapa tahun terakhir membuat dunia justru menjadi kurang aman bagi masyarakat Yahudi. Kebijakan-kebijakan itu termasuk;

Lanjutkan Baca Artikel

Turki Banjiri Eropa dengan Migran

oleh Soeren Kern  •  24 Nopember 2019

  • Pemerintah Yunani pernah mengatakan bahwa Erdogan secara pribadi mengendalikan arus migrasi ke Yunani. Tetapi kadangkala dia membiarkannya supaya bisa menguras lebih banyak uang dan konsesi politik lain dari Uni Eropa. Selama beberapa bulan terakhir, Pemerintah Turki berulangkali mengancam akan membuka pintu-pintu banjir migrasi massal ke Yunani, dan, selanjutnya, ke seluruh Eropa lainnya.

  • "Jika mereka [Uni Eropa] tidak memberikan kepada kita dukungan yang perlu untuk perjuangan ini, maka kami tidak akan mampu menghentikan 3,5 juta pengungsi dari Suriah dan dua juta orang lainnya yang bakal mencapai perbatasan negara kita dari Idlib," urai Erdogan kepada massa yang berunjukrasa di Malatya, kawasan Timur Anatolia, Turki.

  • "Jika kami buka pintu air (migrasi), maka tidak ada Pemerintah Eropa yang mampu bertahan selama lebih dari enam bulan. Kami nasehati mereka untuk jangan main-main dengan kesabaran kami."---Menteri Dalam Negeri Turki Süleyman Soylu.

  • Lebih dari enam juta migran diyakini tengah menunggu di negara-negara di sekitar Mediterania. Siap menyeberang ke Eropa, menurut laporan rahasia Pemerintah Jerman yang bocor ke Surat Kabar Bild.... Lebih dari tiga juta migran lainnya sedang menunggu di Turki.

Presiden Turki President Recep Tayyip Erdoğan dan para anggota pemerintahannya lainnya sudah berulangkali mengancam hendak membanjiri Eropa dengan migran. Pada 5 September, dia mengatakan bahwa Turki berencana merepatriasi satu juta migran Suriah di sebuah "zona aman" di Suriah utara dan karena itu dia mengancam hendak membuka kembali rute para migran menuju Eropa jika tidak memperoleh dukungan internasional yang memadai untuk rencananya itu. "Ini akan terjadi. Atau sebaliknya, kami akan terpaksa membuka pintu-pintu banjir migran." Gambar: Erdoğan berbicaa di PBB, 24 September 2019. (Foto oleh Stephanie Keith/Getty Images).

Yunani sekali lagi menjadi "ground zero," titik awal krisis migrasi Eropa. Lebih dari 40.000 migran tiba di Yunani selama sembilan bulan pertama tahun 2019. Selain itu, lebih dari separuh migran tiba tepat selama tiga bulan sebelumnya, demikian menurut data baru yang dikumpulkan oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi (International Organization for Migration -- IOM).

Kedatangan migran di Yunani meningkat tajam selama tiga kwartal pertama 2019. Sebanyak 5.903 migran tiba selama Juli, 9.341 selama Agustus dan 10.294 orang tiba selama September. Peningkatan kedatangan ini bertepatan dengan berulangnya ancaman dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan beserta anggota pemerintahannya lainnya untuk membanjiri Eropa dengan migran Muslim.

Lanjutkan Baca Artikel

Jadi Pro-Muslim dalam Dunia yang Rumit

oleh Denis MacEoin  •  4 Nopember 2019

  • Tidak diragukan lagi, orang-orang yang mengabaikan atau menutup-nutupi perlakuan kejam seperti pemukulan, sunat perempuan atau penindasan umumnya melakukannya karena kepekaan mereka terhadap budaya (Islam). Juga karena mereka menghormati pemimpin tradisional serta wakil dari berbagai komunitas yang mengangkat diri sebagai pemimpin, termasuk juga lembaga-lembaga Muslim. Bagaimanapun, kepekaan mereka bisa berakhir mengerikan karena membahayakan kehidupan dari kasarnya ratusan juta wanita Muslim karena membiarkan praktek-praktek yang merugikan itu tetap abadi.

  • Bagaimanapun, keprihatinan manusiawi yang murni tentang ketidakadilan terhadap Muslim, bercampur-baur dengan perilaku politik dan agama. Akibatnya, siapapun yang mengajukan pertanyaan paling lembut sekalipun tentang Islam dikecam. Campur baur itu terjadi sebegitu rupa sehingga, nyatanya, banyak politisi, penganjur hak asasi manusia, pemimpin gereja dan wartawan Barat yang berniat baik justru malah mengubah Islam menjadi satu-satunya ideologi yang tidak boleh pernah dikritik dan menjuluki siapapun yang mengomentasi begitu banyak hal atas sejumlah ajaran Islam sebagai "rasis."

  • Pandangan ini, bahwa Islam tidak boleh dipertanyakan, tampaknya menyebabkan tidak adanya timbal-balik: orang Islam radikal dan lembaga-lembaganya kerapkali diijinkan untuk mengkotbahkan rasa benci mereka terhadap Barat di berbagai masjid, pusat Islam, kampus namun sebaliknya, komentar kaum non-Muslim seputar hal-hal yang benar-benar memprihatinkan kerap jadi sasaran kekerasan publik bahkan tuntutan pidana.

  • Yang diperlukan adalah lebih banyak lagi organisasi yang bertahan sebagai pro-Muslim yang mendukung kehidupan kaum Muslim yang lebih baik, yang kerapkali terlampau takut berbicara bebas karena takut dengan balasannya.

Dr. M. Zuhdi Jasser, Presiden Lembaga Kajian American Islamic Forum for Democracy (Forum Kajian Islam demi Demokrasi ---AIFD), merupakan contoh dari seorang pemimpin Muslim Amerika yang kritis terhadap Islam radikal, berbicara keras tentang kesetaraan gender dan kebebasan berbicara sekaligus mendukung Muslim yang meyakini toleransi beragama (Sumber gambar: Gage Skidmore/Wikimedia Commons)

Bagaimana dunia berubah. Penghujung 1978. Koresponden anda yang hina ini menyajikan terjemahan pertama dalam Bahasa Inggris, kisah buku Ayatollah Khomeini, Velayat-e Faqih (Pemerintahan Ahli Fikih), yang penulis beli di Teheran tahun 1977. Kala itu, saya sadari para ekstremis relijius bakal menantang kekuasaan Shah Iran. Tetapi, saya yakin, mereka tidak punya peluang untuk menentang pasukannya, polisi dan dinas keamanannya.

Saya salah. Januari 1979, Revolusi Islam meledak pecah. Sesudah April 1979, Khomeini bahkan mendeklarasikan pendirian Republik Islam pimpinannya sendiri dengan dukungan rejim ulama di bawahnya.

Lanjutkan Baca Artikel

Impian Eropa vs Migrasi Massal

oleh Giulio Meotti  •  16 Oktober 2019

  • Sayangnya, cara berpikir Eropa menolak menghadapi kenyataan. Seolah-olah tantangannya terlalu parah untuk diselesaikan.

  • "Konferensi berlangsung dengan tema ' Penser l'Europe ' ['Berpikir tentang Eropa ']. Namun diberi tajuk ' Islam dan Eropa '. Di sana, saya terganggu mendengar Tariq Ramadan berbicara tentang Eropa sebagai dar Al-shahada, yaitu rumah bagi iman Islam. Para penonton yang hadir khawatir, tetapi tidak mendapatkan pesan tentang persepsi Eropa dalam pola pikir seorang anggota Islam radikal sebagai bagian dari rumah Islam. Jika Eropa tidak lagi dianggap sebagai dar Al-Harb atau rumah perang, tetapi sebagai bagian rumah damai Islam, maka ini bukan lagi isyarat moderasi. Karena memang ada beberapa asumsi salah di sana: itu adalah pola pikir dari sebuah Islamisasi Eropa... "

  • Ini gagasan Marxis yang salah yang berkembang di kalangan anak muda di Eropa. Bahwa jika Anda sukses atau nyaman, maka hal itu hanya terjadi karena anda mengorbankan kemanusiaan. Atau "jika saya menang, orang lain harus kalah. " Tampaknya tidak ada konsep "Win-Win", sama-sama menang sama sekali. Artinya, "jika saya menang, kalian semua bisa menang juga: semua orang bisa menang!" Gagasan itu yang mendasari ekonomi pasar bebas dan telah berhasil mengangkat begitu banyak dunia secara mengagumkan keluar dari kemiskinan.

  • Karena itu penting untuk ... menolak cara untuk merendahkan diri yang kini terjadi. Eropa tampaknya menderita skeptisismenya sendiri tentang masa depan. Seolah-olah kemerosotan Barat sebenarnya sebuah hukuman yang bisa dibenarkan sekaligus menjadi pembebasan dari kesalahan masa lalu.

  • "Bagi saya, sekarang ini," tulis Finkielkraut, "hal paling mendasar adalah peradaban Eropa ".

Harga relativisme budaya menjadi menyakitkan dilihat di Eropa. Disintegrasi negara-negara bangsa Barat kini menjadi kemungkinan yang nyata. Multikulturalisme--- yang dibangun berdasarkan kemerosotan demografis yang menolak sendiri de-Kristenisasi dan budaya --- tidak lebih dari fase sementara yang berisiko mengarah kepada terpecah belahnya dunia Barat. (Sumber gambar: iStock).

Eropa menampilkan diri sebagai pelopor penyatuan umat manusia. Akibatnya, akar budayanya sendiri malah berisiko. Menurut Pierre Manent, seorang ilmuwan politik Prancis kenamaan sekaligus seorang profesor pada School for Advanced Studies di Ilmu Sosial di Paris:

"Kebanggaan atau kesadaran diri Eropa bergantung pada penolakan sejarah dan peradaban Eropa! Kita ingin tidak sejarah dan peradaban kita itu punya hubungan dengan akar Kristennya. Dan kita benar-benar ingin secara sempurna menyambut kedatangan Islam".

Pernyataan itu Manent sampaikan kepada Majalah Bulanan Prancis, Causeur. Dia mengutip, sebagai contoh, Turki:

Lanjutkan Baca Artikel

Prancis: Macron Memihak Para Mullah Iran

oleh Guy Millière  •  15 Oktober 2019

  • Pada 14 September, beberapa hari setelah Mantan Penasehat Keamanan Nasional, Duta Besar John R. Bolton secara nyaman menghilang dari pemerintahan, Iran membuat kerusakan yang massif atas fasilitas pemrosesan minyak di Arab Saudi.

  • Macron, ringkasnya, telah melakukan banyak hal atau lebih dari negara Eropa lainnya untuk menyenangkan hati Rezim Iran. Lebih daripada Jerman. Bahkan lebih dari Uni Eropa sendiri. Dia bisa saja bertindak sebagai sekutu Amerika Serikat yang dapat diandalkan. Tetapi, pilihan yang dibuatnya berbeda.

  • Para pejabat Prancis bertindak dan berbicara seolah-olah rezim Iran benar-benar terhormat. Juga seolah-olah mereka tidak bisa melihat yang jelas. Bahwa rezim Iran memiliki tujuan-tujuan yang merusak. Kesepakatan nuklir tidak mengalihkan rezim dari tujuannya untuk membangun senjata nuklir. Kesepakatan itu, kenyataannya, mengapungkan rezim tersebut ke tujuan yang tepat. Strategi Amerika untuk menerapkan tekanan maksimum melalui sanksi ekonomi tampaknya menjadi satu-satunya cara non-militer untuk menekan rezim ini untuk mengubah arah.

Selama berkunjung ke Washington April 2018 lalu, tujuan utama Presiden Prancis Emmanuel Macron, tampaknya hendak membujuk Presiden AS Donald Trump supaya tidak menarik diri mundur dari Perjanjian Nuklir Iran. Dia berupaya membujuk, dengan terus-menerus merangkul Trump, sebelum berubah sombong. Dalam pidatonya di depan Kongres, dia lantas mengatakan, "Prancis tidak akan meninggalkan Perjanjian Nuklir Iran. Karena kami sudah tanda tanganinya. Presiden dan negara kalian bakal terpaksa menghadapi tanggung jawab mereka." (Foto oleh Alex Wong/ Getty Images).

Tanggal 25 Agustus 2019. Di Biarritz, Prancis. Para pemimpin Kelompok Tujuh Negara Maju (G7) kembali bertemu. Untuk membahas masalah-masalah dunia. Situasi di Timur Tengah tidak ada dalam agenda. Tetapi, Presiden Prancis Emmanuel Macron, penyelenggara Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) tahun ini berniat hendak memaksa persoalan itu masuk agenda.

Dia memutuskan mengundang Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif untuk turut hadir. Para tamunya tidak dia peringatkan soal kehadiran Zarif sampai menit terakhir sebelum kedatangannya. Tujuannya, tampaknya, adalah untuk mengadakan pertemuan antara Menteri Iran itu dan Presiden AS Donald J. Trump. Namun Presiden Trump menolak. Zarif mengadakan pembicaraan tidak resmi dengan Macron dan beberapa menteri Prancis, sebelum terbang kembali ke Teheran. Tapi Macron tidak menyerah. Pada konferensi pers keesokan harinya, dia secara terbuka meminta Presiden Trump untuk bertemu dengan pemimpin Iran sesegera mungkin.

Lanjutkan Baca Artikel

Rouhani Ungkapkan Sia-Sianya Diplomasi Eropa

oleh Con Coughlin  •  14 Oktober 2019

Presiden Iran Hassan Rouhani baru saja memberikan pidato di depan Majelis Umum PBB (MU-PBB), Rabu, 25 September 2019 lalu. Secara gamblang, ia pun memperlihatkan betapa sia-sianya upaya Eropa yang tetap percaya dengan perjanjian nuklir Iran yang cacat. (Sumber foto: Spencer Platt/Getty Images)

Presiden Iran Hassan Rouhani baru saja memberikan pidato di depan Majelis Umum PBB (MU-PBB), Rabu, 25 September 2019 lalu. Secara gamblang, ia pun memperlihatkan betapa sia-sianya upaya Eropa yang tetap percaya dengan perjanjian nuklir Iran yang cacat.

Padahal, ada banyak spekulasi berkembang di tengah jamboree tahunan jaringan global PBB itu. Forum tersebut tampaknya mungkin saja memberikan kesempatan untuk membangun kembali dialog dengan para ayatollah Iran. Situasi itu tentu saja berbeda dengan banyaknya ketegangan di Teluk akibat perilaku agresif Iran.

Untuk tujuan ini Presiden Prancis Emmanuel Macron, khususnya, aktif berusaha menengahi pemulihan hubungan diplomatik antara Teheran dan Washington. Sampai-sampai ia bahkan menyarankan bahwa pertemuan bilateral mungkin dilakukan antara Presiden AS Donald Trump dan Rouhani.

Lanjutkan Baca Artikel

"Akan Kami Usir Kalian"
Penyiksaan Umat Kristen oleh Ekstremis, Juli 2018

oleh Raymond Ibrahim  •  15 September 2019

  • Ada 128 insiden vandalism terhadap gereja serta serangan anti-Kristen lainnya di Prancis dalam lima bulan pertama tahun 2018, demikian menurut sebuah LSM milik Gereja Katolik Roma yang berbasis di Paris yang berusaha melacak serangan terhadap umat Kristen.

  • Zanzibar "telah menyembunyikan berita penyiksaan umat Kristen selama beberapa dekade. Isu-isu ini sangat sedikit diketahui atau bahkan sama sekali tidak tahu oleh masyarakat internasional. Lembaga Kristen sudah dianiaya begitu lama." ---Pastor, pastor sebuah gereja, seperti dikutip oleh LSM International Christian Concern.

Tanggal 25 Juli 2018. Para penjahat tidak dikenal membakar Gereja Saint-Pierre du Matroi, di Orleans, Prancis. Mereka juga menuliskan "Allah ou Akbar" dengan cat semprotan pada gereja itu. (Sumber foto: Peter Potrowl/Wikimedia Commons).

Ekstremis Muslim Menyerang Gereja Kristen

Mesir: Polisi yang hanya duduk berpangku tangan mendorong massa Muslim menyerang gereja. Setelah Muslim lokal di Desa Ezbet Sultan Pasha tahu bahwa umat Kristen yang membentuk sekitar 20% populasi desa itu, berupaya melegalisasi pembangunan gerejanya, massa Muslim mengepungnya. Aksi itu dilancarkan 6 Juli, setelah Sholat Jumat. "Pemrotes meneriakkan slogan menentang kami [umat Kristen] seperti 'Kami tidak ingin ada gereja di desa kami," urai seorang pemukim. "Kami mengunci diri dalam rumah-rumah selama demonstrasi berlangsung. Kami takut mereka menyerang kami. Polisi tidak bertindak apa-apa untuk membubarkan demonstran. Juga tidak menangkap satu pun dari mereka." Demonstrasi berlanjut keesokan harinya tanpa ada campur tangan polisi.

Lanjutkan Baca Artikel