Analisa dan Komentar Terbaru

Upaya Menutupi Pembantaian Massal atas Warga Armenia

oleh Uzay Bulut  •  8 Februari 2017

  • "Dalam semua operasi ini, anak-anak menjadi bagian dari populasi umum yang disasar untuk dihancurkan secara besar-besaran. Dalam banyak contoh kasus, mereka dipisahkan dan mengalami berbagai bentuk pembantaian massal." — Professor Vahakn Dadrian, dalam bukunya Children as Victims of Genocide: The Armenian Case.

  • Berbagai bentuk pembantaian juga menggunakan cara seperti menenggamkan anak-anak secara massal, membakar mereka massal, melakukan pelecehan seksual dan mutilasi.

  • "Di Propinsi Ankara, dekat Desa Bash Ayash ada dua pemerkosa sekaligus pembunuh; satunya perampok bernama Deli Hasan dan lain, seorang polisi (gendarme), Ibrahim. Keduanya memperkosa 12 remaja laki-laki berusia 12-14 tahun kemudian membunuh mereka. Para korban yang tidak langsung mati disiksa hingga mati ketika mereka menangis memanggil "Mama, Mama." — Professor Vahakn Dadrian, dalam bukunya Children as Victims of Genocide: The Armenian Case.

  • "Seorang wanita penyintas genosida dari Giresun mengenang bagaimana 500 anak yatim piatu Armenia di Agn (Egin), Propinsi Harput dikumpulkan dari semua bagian propinsi. Setelah berhasil dikumpulkan, anak-anak tidak berdosa itu diracun oleh para ahli farmasi dan dokter yang memang sudah disiapkan." — Leslie A Davis, Konsul AS di Harput.

  • Lebih dari 100 tahun pasca-genosida, Turki masih saja menyangkalinya. Buku pelajaran sejarah Turki bahkan mengecam pembantaian massal atas Armenia terjadi karena ulah mereka sendiri.

  • Tatkala para pakar menyangkal adanya genosida atas warga Armenia bahkan berupaya mencegah Pemerintah AS untuk secara resmi mengakui tragedi itu, maka mereka sebetulnya sekali lagi membunuh para korban itu.

  • "Selama genosida tidak diakui, keadilan tak bakal bisa ditegakan. Kutukan genosida tidak bakal meninggalkan negeri ini. Turki tidak bakal melihat cahaya siang. Ini bukan ramalan, tetapi pernyataan atas fakta." — Asosial Hak Asasi Manusia Turki, 2016.

(Sumber foto: American Red Cross/Wikimedia Commons).

PRESIDEN TERPILIH AS---Donald J. Trump baru-baru ini menyerukan untuk "memberikan garansi" kepada Turki bahwa tragedi genosida atau pembantaian massal atas warga Armenia tidak akan diakui oleh Kongres AS sebagaimana mestinya. Garansi itu tertuang dalam seperangkat usulan berkaitan dengan "Kebijakan AS atas Turki."

"Amerika Serikat bisa diam-diam memberikan jaminan kepada Turki bahwa resolusi tentang Pembantaian Warga Armenia di Kongres tidak bakal disahkan. Isu ini senantiasa menjadi persoalan penting dalam hubungan kedua negara dan sebagian besar masyarakat Turki pun sangat peduli dengannya," tulis sebagian makalah yang dikeluarkan oleh The Washington Institute for Near East Policy (WINEP) dan ditulis oleh Mantan Duta Besar AS untuk Ankara James F. Jeffrey serta cendekiawan Turki Dr. Soner Cagaptay.

Lanjutkan Baca Artikel

Warga Palestina di Suriah: Setahun Pembunuhan dan Siksaan

oleh Khaled Abu Toameh  •  30 Januari 2017

  • Menurut berbagai laporan itu, pihak berwenang Suriah kini menahan jenazah lebih dari 456 warga Palestina yang meninggal dunia karena disiksa di penjara. Tidak seorang secara tepat mengetahui di manakah jenazah-jenazah itu disimpan atau mengapa otoritas Suriah menolak menyerahkannya kepada keluarga para korban yang tewas.

  • Saluran media arus utama tampaknya lebih suka mengalihkan pandang dengan mata buta kepada kesengsaraan warga Palestina yang berdiam di negara-negara Arab. Upaya menghindar ini pertama-tama dan yang terpenting merugikan warga Palestina sendiri sehingga membiarkan Pemerintah Arab terus memberlakukan kebijakan untuk menyiksa dan menekan mereka sendiri.

  • Masih kita lihat apakah Dewan Keamanan PBB bakal menetapkan prioritasnya secara tepat kemudian menyelenggarakan pertemuan darurat untuk membahas kampanye kejam terhadap warga Palestina di Suriah. Bagaimanapun, barangkali, persoalan ini bakal menyusul persoalan "pembangunan perumahan" sebagai sebuah topik yang pantas dikecam oleh dunia.

Warga Palestina melarikan diri dari kamp pengungsi Yarmok, dekat Damaskus,setlah perkelahian sengit terjadi September 2015 lalu. (Sumber foto: suntingan video RT).

TAHUN 2016---menjadi tahun yang berat bagi warga Palestina. Tahun yang berat bukan saja bagi warga Palestina yang berdiam di Tepi Barat di bawah rejim Otoritas Palestina (PA) atau Jalur Gaza yang berada di bawah kekuasaan Hamas. Ketika masyarakat Barat mendengar tentang "kesengsaraan" dan "penderitaan" warga Palestina, mereka pun segera mengandaikan bahwa pembicaraan itu tentang orang-orang yang berdiam di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Jarang sekali komunitas internasional mendengar kisah yang sedang terjadi pada warga Palestina di negara-negara Arab. Kesalahan pandangan ini pasti terjadi karena penderitaan warga Palestina di berbagai negara Arab itu sulit ditimpakan kepada Israel.

Lanjutkan Baca Artikel

Warga Palestina Mengagungkan Para Pelaku Pembunuhan Massal

oleh Bassam Tawil  •  27 Januari 2017

  • Warisan serta kepribadian Yahya Ayyash yang kejam, anggota Hamas pelaku pembunuhan massal yang menjadi dalang dari suatu gelombang aksi bom bunuh diri bukan saja diagungkan oleh para pendukung Hamas, tetapi juga Otoritas Palestina (PA) pimpinan Mahmud Abbas yang didanai oleh kaum moderat Barat.

  • Ayyash memperoleh reputasinya karena membunuh serta mencelakai ratusan warga Israel, yang sebagian besar merupakan warga sipil. Jika dia bertempur untuk damai dan eksistensi bersama, maka Ayyash justru bakal dikecam sebagai "pengkhianat" dan dalam sejarah dianggap merosot sebagai "orang kalah" dan "orang yang menyerah."

  • "Masjid yang menghasilkan mujahidin (pejuang) Ayyash terus menghasilkan para pahlawan."--- Sheikh Yusef al-Qaradawi, pemimpin spiritual Persaudaraan Muslim.

  • Dalam masjidlah Ayyash diajarkan bahwa Islam mengijinkan umat seperti dia untuk membuat bom dan mengirimkan para pelaku bom bunuh diri untuk meledakan bus-bus. Dalam masjid-masjid itu pula, dia diajarkan bahwa kaum Muslim taat paling baik terlibat dalam upaya untuk menumpahkan darah kaum Yahudi.

  • Anak-anak dan remaja yang menghadiri sholat di masjid-masjid itu direcoki dengan retorika pidato kebencian yang sama seperti pahlawan mereka Ayyash disodori sejak dia masih anak-anak. Karena itu, tidaklah mengherankan bahwa masjid-masjid di Tepi Barat dan Jaluar Gaza hingga sekarang ini terus saja menggodok para teroris baru. Banyak dari mereka mendambakan diri seperti Ayyash --- menjadi pelaku pembunuhan massal.

  • Suara warga Palestina yang menolak pendidikan untuk pembantai besar-besaran itu tengah dipinggirkan oleh banyak pemimpin Eropa, yang dengan nyaman berbisnis dengan para anggota negara-negara Arab dan para elit Muslim yang masih saja kaya raya yang mendanai para imam masjid serta masjid-masjidnya.

Sebuah gambar baru diterbitkan di Twitter memuja Yahya Ayyash, seorang pembunuh massal dari Faksi Hamas yang menjadi otak serangkaian gelombang bom bunuh diri yang menewaskan dan melukai ratusan warga Israel. Foto memperlihatkan wajah Ayyash ditempatkan di atas sebuah bus Israel yang diledakan oleh seorang pelaku aksi bom bunuh diri Palestina pada era 1990-an.

KAUM MUDA PALESTINA---didorong untuk mengikuti langkah Yahya Ayyash. Ia anggota Faksi Hamas, pelaku pembunuhan massal, yang menjadi dalang serangkaian gelombang bom bunuh diri yang membunuh dan melukai ratusan warga Israel. Keahliannya membuat alat-alat peledak menyebabkannya mendapatkan julukan, "The Engineer" atau "Sang Insinyiur" yang mengubahnya menjadi pahlawan di mata banyak warga Palestina. Pembuat bom sendiri terbunuh oleh pasukan keamanan Israel pada 5 Januari 1996. Dengan tewasnya Ayyash, berakhir pula satu dari bab paling berdarah terorisme Palestina melawan Israel.

Dua dekade kemudian, teroris kenamaan ini masih ditakzimkan sebagai pahlawan dan syuhadah. Warisan serta kepribadiannya yang kejam diagungkan bukan saja oleh para pendukung Hamas, tetapi juga Otoritas Palestina (PA) pimpinan Mahmud Abbas yang didanai oleh kaum moderat Barat.

Lanjutkan Baca Artikel

Pidato Tahun Baru kepada Dunia Muslim

oleh Nonie Darwish  •  15 Januari 2017

  • Berdasarkan standar Barat, kekuasaan militer dihindari karena merupakan bentuk pemerintahan yang menindas. Tetapi di dunia Islam, dia menjadi satu-satunya perlindungan penyangga bagi tirani shariah yang menyeluruh yang harus ditegakan oleh teokrasi Islam sama seperti yang terjadi di Iran dan Arab Saudi.

  • Hari-hari yang mengorbankan keselamatan dan keamanan warga Barat demi kepentingan multikulturalisme, sudah berakhir. Agar multikulturalisme berjalan baik, maka dia harus menjadi Jalan Dua Arah, antara masyarakat yang sama-sama menghayati nilai bersama untuk menghargai budaya masing-masing satu sama lain. Sayangnya, Barat belum mendapatkannya dari Islam.

  • Sungguh tidak ada soal apa itu Islam sejati. Itulah hal yang dunia Muslim perlu bereskan secara internal; tidak diberikan kepada kami di Barat untuk mencoba mengevaluasi apa itu "Islam sejati" dan yang tidak.

  • Para pemimpin agama anda, yang gajinya dibayarkan oleh pemerintah Islam, berdiri di depan kamera media anda menyerukan kaum Muslim untuk menikam, menabrakan truk-truk, membunuh, memperkosa serta merendahkan martabat orang kafir, kaum Yahudi non-Muslim, Kristen serta para penyembah berhala (pagan).

  • Pemerintah Islam dan kelompok teroris adalah dua kacang dalam satu polong, yang bekerja sama menuju tujuan yang sama: menegakan hukum Allah, shariah, di dunia. Bukan rahasia lagi bahwa seorang pemimpin negara Muslim harus memerintah berdasarkan Shariah dan harus menjalankan jihad melawan kaum non-Muslim. Hukum Shariah memerintahkan kaum Muslim untuk menurunkan, dengan melancarkan pemberontakan atau pembunuhan atas pemimpin Muslim yang tidak mematuhi Shariah dan mendukung para jihadi.

  • Terkait dengan saat ini, Barat harus meminta pertanggungjawaban Pemerintah Islam atas aksi jihad teroris warga mereka sendiri. Tidak ada yang terjadi di negara-negara Muslim tanpa sepengetahuan pemerintah mereka. Jika pemerintah Muslim tidak mengendalikan warganya, maka dia seharusnya dianggap sebagai bangsa penjahat.

  • Pintu-pintu rumah kami bakal kembali dibuka bagi warga negara-negara Islam hanya tatkala pemerintah Islam membuktikan kepada dunia bahwa mereka benar-benar berubah, sehingga menghentikan selama-lamanya propaganda jihad serta pendidikan mereka yang penuh kebencian obsesif di seluruh dunia Muslim.

Pidato kepresidenan Obama pertama yang penting pada 4 Juni 2009, adalah bagi dunia Muslim, di Kairo. Pidatonya tidak berurusan dengan kerasnya realitas Islam dan dampaknya terhadap perdamaian dunia. Tidak ada otoritas Muslim yang berjabatan tangan dengan Obama yang menjanjikan perubahan, sebuah hubungan baru dengan Barat berbasiskan saling menghormati satu sama lain atau refleksi dari apa yang salah pada Tragedi 11 September 2001. (Sumber foto: Gedung Putih).

PIDATO PENTING --- pertama Obama setelah terpilih dalam Pemilu 2008 disampaikan kepada dunia Muslim di Kairo, Mesir. Pidatonya tidak menyinggung tentang kerasnya realitas Islam serta dampaknya terhadap perdamaian dunia. Tidak ada penguasa Muslim menjabat tangannya, meski dia menjanjikan perubahan, sebuah hubungan baru dengan Barat berbasiskan sikap saling penghargaan atau cerminan atas apa yang salah pada 11 September 2001 lalu bahkan jika mereka tidak langsung bertanggung jawab atas tragedi itu. Tidak ada pemimpin Arab secara terbuka mengumumkan berakhirnya jihad Islam dan pendidikan yang membenci Barat serta propaganda media Arab. Sebaliknya, dunia Muslim justru mendapatkan permintaan maaf dari Obama.

Lanjutkan Baca Artikel

Palestina: Mimpi Buruk Umat Kristen

oleh Khaled Abu Toameh  •  4 Januari 2017

  • Samir Qumsieh berasal dari keluarga Kristen besar dan sangat terhormat di kota Bet Sahour, dekat Kota Betlehem. Selama empat dekade lalu, dia memperjuangkan hak-hak minoritas umat Kristen di kawasan yang sudah semakin merosot jumlahnya. Dia bahkan berani berbicara menentang penaklukan umat Kristen yang tengah berdiam di bawah kekuasaan Hamas di Jalur Gaza.

  • Kerapkali dia mendapatkan ancaman maut. Dia pun menjadi sasaran serangan bom minyak.

  • "Solusinya berawal dari taman kanak-kanak, dengan sekolah dasar. Dimulai dengan gereja, dengan masjid dan kurikulum sekolah. Kurikulum itu sangat penting ---yang berkaitan dengan kaum Yahudi, Kristen dan Muslim. Seharusnya kurikulum berpusat pada penerimaan terhadap 'yang lain'. Jika ide ini dijalankan maka generasi masa datang bakal menjadi liberal dan berpikiran terbuka." — Samir Qumsieh.

  • "Setiap hari kita dengar dan melihat sejumlah ulama Muslim radikal berbicara keras melawan umat Kristen. Baru saja, salah seorang sheik mengatakan bahwa umat Kristen Koptik seharusnya dibantai seperti domba. Di manakah keamanan Mesir? Jika saya bertanggung jawab terhadap keamanan Mesir, akan saya perintahkan sheik itu langsung ditangkap dan dibiarkan membusuk di sel bawah tanah yang gelap." — Samir Qumsieh.

  • "Guna memahami betapa parahnya situasi ini, mari kita ingat bahwa pada era 1950-an, sekitar 86% populasi kawasan Betlehem adalah Kristen. Kini, kami hanya 12%. Di Israel, sebaliknya, kami punya 133.000 umat Kristen dan angkanya stabil. Tentu saja saya khawatir dengan masa depan umat Kristen di sini."— Samir Qumsieh

  • "Saya takut akan datang harinya ketika gereja-gereja kita menjadi museum. Ini mimpin buruk saya."— Samir Qumsieh.

Samir Qumsieh.

TAK PERLU DIRAGUKAN --- Samir Qumsieh adalah salah satu pemimpin Kristen paling berani di Timur Tengah. Dialah satu dari segelintir orang yang bersedia berisiko bertarung hidup untuk berbicara menentang penyiksaan umat Kristen yang dilakukan oleh kaum Muslim di berbagai kawasan Palestina dan di Timur Tengah umumnya.

Samir Qumsieh berasal dari keluarga Kristen besar dan sangat terhormat di kota Bet Sahour, dekat Kota Betlehem. Selama 4 dekade, dia memperjuangkan hak-hak minoritas umat Kristen yang semakin merosot jumlahnya di kawasan itu. Dia bahkan berani berbicara menentang penaklukan umat Kristen yang tengah berdiam di bawah kekuasaan Hamas di Jalur Gaza.

Lanjutkan Baca Artikel

Revolusi Politik Tengah Berkembang di Eropa

oleh Geert Wilders  •  26 Desember 2016

  • Otoritas Jerman memang sangat berbahaya meremehkan adanya bahaya dari Islam... Mereka sudah mengkhianati warga negara mereka sendiri.

  • Biarlah tidak seorang pun mengatakan kepada anda bahwa hanya para pelaku kejahatan ini yang disalahkan. Para politisi yang menyambut gembira Islam di negeri mereka sebetulnya sama-sama salah. Dan ini bukan saja Frau Merkel di Jerman tetapi seluruh elit politik di Eropa Barat.

  • Demi kebenaran politik (political correctness), mereka sengaja memalingkan diri dengan mata buta dari Islam. Mereka menolak menginformasi diri tentang hakikat sebenarnya dari Islam. Mereka menolak mengakui bahwa semua itu ada dalam Al-Qur'an: seperti ijin untuk membunuh kaum Yahudi dan Kristen (Surah 9:29), untuk menteror kaum non-Muslim (8:12), untuk memperkosa gadis muda (65:4), memaksa orang menjadi budak seks (4:3), untuk berbohong soal tujuan-tujuan orang yang sebenarnya (3: 54) dan perintah untuk melancarkan perang atas kaum kafir (9: 123) serta menaklukan seluruh dunia kepada Allah (9: 33).

  • Kita harus menghapus Islam dari masyarakat kita (de-Islamize)... Tetapi semua itu berawal dengan para politisi yang berani yang menghadapi persoalan dan berani berbicara tentang kebenaran.

  • Semakin banyak warga negara mawas terhadap kenyataan. Ini sebabnya revolusi politik berkembang di Eropa. Di mana-mana, partai-partai yang berani bertumbuh cepat. Merekalah harapan Eropa bagi suatu masa depan yang lebih baik.

Geertz Wilders (Sumber foto: Suntingan video RTL Nieuws).

Negara Islam beberapa hari lalu mengaku melancarkan serangan teror bom di Berlin, Senin petang, 19 Desember 2016 lalu. Dalam tragedi berdarah itu, 12 orang tewas ditabrak sebuah truk di tengah sebuah bazaar (market) Natal.

Pelaku pembunuhan berhasil meloloskan diri dari tempat kejadian. Bagaimanapun, polisi berhasil menemukan kartu identitas milik Anis A di dalam truk. Anis adalah seorang warga Tunisia yang datang ke Jerman sebagai pencari suaka pada tahun 2015 lalu.

Tahun lalu, Kanselir Jerman, Angela Merkel membuka perbatasan Jerman kepada nyaris seluruhnya satu juta pengungsi serta pencari suaka. Upaya itu identik dengan dia mengundang kuda Troya Islam memasuki negerinya. Karena, di antara orang-orang yang disebut pengungsi itu ada banyak kaum muda berlatarbelakang Islam yang penuh pepak dengan rasa benci terhadap Barat dan peradabannya. Salah satu dari mereka adalah Anis A.

Lanjutkan Baca Artikel

Serangan Gereja Paling Mematikan di Mesir

oleh Raymond Ibrahim  •  18 Desember 2016

  • Undang-undang yang para sesepuh Islam wariskan kepada kaum Muslim Mesir meyakini bahwa semua penduduk pribumi yang ditaklukan ---di Mesir, yaitu kaum Kristen kafir ---tidak boleh diijinkan membangun gereja, tidak boleh mengeluh atau meminta hak yang sama dan harus berterimakasih melulu karena dibiarkan hidup.

  • Ringkasnya, bukan saja sama sekali tidak ada yang berubah bagi umat Kristen Mesir. Serangan gereja yang paling mengerikan dalam sejarah modern kini baru saja terjadi. Bukan di bawah pemerintahan Mubarak atau Morsi, tetapi di bawah Presiden al-Sisi. Apakah yang dia usulkan hendak dia lakukan terkait dengan hal itu?

Bagian dalam Katedral St. Petrus di Kairo, setelah pemboman 11 Desember 2016 lalu (Sumber foto: suntingan video AP).

SERANGAN PALING MENGERIKAN--- atas minoritas Mesir selama tahun-tahun terakhir terjadi beberapa hari lalu, Minggu, 11 Desember 2016. Katedral Santo Petrus Kairo yang sedang penuh pepak dipadati pengunjung yang merayakan misa Minggu, dibom. Sedikitnya 27 orang umat pengunjung gereja tewas terbunuh dan 65 orangnya menderita luka parah. Sebagian besar dari mereka wanita. Karena banyak yang terluka berada dalam kondisi kritis, angka kematian diperkirakan bakal meningkat.

Seperti biasa, para saksimata mengatakan keamanan negara tidak hadir. Dan bahwa polisi perlu waktu sangat lama untuk bisa sampai ke lokasi kejadian setelah ledakan terjadi. Investigasi awal menunjuk pada sebuah bom yang dimasukan dalam tas wanita yang tidak diawasi yang diletakan di atas salah satu bangku belakang bagian wanita.

Lanjutkan Baca Artikel

Pemukiman Ilegal yang Sebenarnya

oleh Bassam Tawil  •  13 Desember 2016

  • Pendirian bangunan di pemukiman Yahudi Tepi Barat dan lingkungan sekitar Yerusalem dilaksanakan sesuai hukum dan ijin yang tepat yang dikeluarkan oleh pihak berwenang yang relevan, sedangkan semua aspek pembangunan yang dilakukan oleh Palestina, illegal.

  • Palestina bermaksud membangun berbagai fakta yang tidak bisa diubah. Namun, besarnya proyek itu sendiri memunculkan pertanyaan: Siapa yang mendanai kota besar dalam kota-kota ini? Dan mengapa? Ada alasan bagus untuk percaya bahwa PLO dan sejumlah warga Arab serta Muslim khususnya Uni Eropa berada di balik prakarsa Palestina.

  • Yang kini menjadi pokok kontroversi yang keras di kalangan Israel dan arena internasional adalah kasus Amona, sebuah pemukiman yang menjadi pos terdepan Yahudi di Tepi Barat yang dihuni oleh 42 keluarga Yahudi. Jadi jelas, pemukiman hanya menjadi "hambatan utama perdamaian" jika dibangun oleh kaum yahudi.

  • Uni Eropa dan sejumlah negara Arab dan Muslim membiayai pembangunan pemukiman illegal Palestina. Pada saat yang sama, mereka juga menuntut Israel menghentikan pembangunan rumah-rumah baru bagi keluarga Yahudi di sekitar Yerusalem atau di berbagai pemukiman di Tepi Barat.

  • Kemunafikan dan kedengkian yang liar Uni Eropa dan komunitas internasional lain perlihatkan terhadap isu pemukiman Israel benar-benar sangat jelas. Kita juga masih menyaksikan sikap munafik dalam banyak media arus utama Barat. Puluhan koresponden media itu melihat dengan mata sendiri pemukiman Palestina yang bertumbuh subur di setiap sisi Yerusalem. Meski demikian, mereka memilih untuk hanya melaporkan persoalan pembangunan yang dilakukan oleh kaum Yahudi.

Satu contoh pembangunan ilegal oleh Palestina yang massif di dekat Shufat dan Anata di daerah pinggiran di timur laut Kota Yerusalem.

Berering dengan kecaman yang terus-menerus komunitas internasional lancarkan terhadap Israel karena mendirikan bangunan di komunitas pemukiman Yahudi, Palestina diam-diam terlibat dalam pembangunan perumahan besar-besaran di seluruh lingkungan sekitar di banyak kawasan Tepi Barat dan Yerusalem. Selain itu, supaya bisa mengabaikan proyek pembangunan yang tengah Palestina lakukan, kalangan Barat pun mengabaikan perbedaan krusial antara dua upaya pembangunan itu sendiri. Yaitu bahwa pendirian bangunan di pemukiman Yahudi Tepi Barat dan lingkungan sekitar Yerusalem memang dilaksanakan sesuai dengan hukum dan ijin yang tepat yang dikeluarkan oleh pihak berwenang yang relevan, sedangkan semua aspek pembangunan yang dilakukan oleh Palestina, illegal.

Lanjutkan Baca Artikel

Prancis di Jurang Keruntuhan Sepenuhnya

oleh Guy Millière  •  1 Desember 2016

  • Prancis tetap tidak melihat persoalan kala itu, tetapi justru menempatkan dirinya dalam jebakan. Dan jebakan itu kini sedang menutup.

  • Pada era 1970-an, Palestina mulai memanfaatkan terorisme internasional. Prancis pun memilih untuk menerima terorisme itu, sejauh Prancis tidak terganggu. Pada waktu yang bersamaan, Prancis menyambut gembira imigrasi massal dari dunia Muslim Arab, yang jelas-jelas menjadi bagian dari keinginan Muslim untuk menyerbarluaskan Islam. Penduduk Muslim sejak itu bertambah jumlahnya, namun gagal berasimilasi.

  • Berbagai polling memperlihatkan bahwa sepertiga dari Muslim Prancis menginginkan hukum Shariah Islam ditetapkan penuh. Mereka juga memperlihatkan bahwa sebagian mayoritas umat Muslim Prancis mendukung jihad, khususnya jihad melawan Israel, sebuah negara yang mereka ingin lihat terhapus dari permukaan bumi.

  • "Lebih baik pergi daripada melarikan diri dari Prancis." ---Sammy Ghoslan, Presiden Biro Nasional Kewaspadaan terhadap Anti-Semitisme. Dia sendiri pernah dirampok. Mobilnya dibakar. Dia lalu tinggalkan Prancis.

  • Villiers juga menyebutkan adanya "kawasan tidak bepergian" dengan ribuan senjata perang (senapan serbu AK 47, pistol Tokarev, senjata anti-tank M80 Zolja, dll). Dia menambahkan bahwa senjata-senjata mungkin tidak digunakan----tetapi bagaimanapun, kaum radikal Islam sudah menang.

  • Awalnya, Prancis mendambakan diri mungkin akan menggantikan Amerika sebagai negara adidaya dunia, memperoleh minyak bumi murah, perundingan bisnis dengan negara Islam kaya minyak serta doa tidak bakal ada terorisme dalam negeri.

Dalam buku barunya, "Akankah Lonceng Gereja Kembali Berbunyi Besok?", Philippe de Villiers mencatat hilangnya gereja di Prancis yang berganti dengan masjid. Gambar atas, polisi huru-hara Prancis menyeret seorang imam dan umatnya keluar dari gereja St. Rita di Paris, pada 3 Agustus 2016 lalu, sebelum dihancurkan sesuai jadwalnya. Menghadapi tindakan itu, pemimpin Fron Nasional Marine Le Pen dengan marah mengatakan: "Apakah yang terjadi jika mereka membangun tempat parkir di tempat masjid Kaum Salafi dan bukan di gereja kita? " (Sumber foto: suntingan video RT).

PRANCIS SEDANG DILANDA HURUHARA---Para migran yang berdatangan dari Afrika dan Timur Tengah menyebarluaskan kekacauan serta situasi tidak aman di banyak kota negeri itu. Kawasan mahaluas yang umumnya dikenal sebagai "hutan rimba Calais" memang baru dibingkar. Tetapi, daerah-daerah kumuh lain justru sedang dibangun setiap hari. Di Paris bagian timur, jalanan penuh pepak dengan papan-papan bergelombang berutupkan taplak berminyak. Kekerasan menjadi peristiwa umum. "Zona larangan bepergian" Prancis nomor 572, yang secara resmi dirumuskan sebagai "kawasan perkotaan yang rawan" semakin berkembang. Polisi yang mendekati mereka kerapkali menderita akibatnya. Baru-baru ini, sebuah mobil polisi yang dikendarai menuju tengah-tengah aksi penyerangan dibakar sementara polisinya dilarang keluar. Jika diserang, polisi disuruh oleh atasan mereka untuk lari dari tempat kejadian, daripada melakukan aksi balas dendam. Banyak perwira polisi marah, karena harus bersikap seperti penakut. Mereka lalu mengorganisasi diri melancarkan demonstrasi. Tidak ada serangan terjadi sejak seorang imam Katolik dibantai di Saint-Etienne-du-Rouvray, 26 Juli 2016 lalu, tetapi dinas intelijen melihat bahwa kaum jihadis justru sudah kembali dari Timur Tengah dan siap beraksi dan bahwa kerusuhan mungkin meledak di mana saja, kapan saja dengan dalih apa saja.

Lanjutkan Baca Artikel

Kebohongan Soviet-Palestina

oleh Judith Bergman  •  28 Nopember 2016

  • " PLO itu dambaan KGB karena punya organisasi yang ingin merdeka." ---- Ion Mihai Pacepa, Mantan Ketua Dinas Intelijen Luar Negeri Romania."

  • "Pertama-tama, KGB menghancurkan catatan resmi kelahiran Arafat di Mesir dan menggantikannya dengan dokumen fiktif yangmengatakan bahwa dia dilahirkan di Yerusalem dan karena itu seorang Palestina karena kelahirannya."---- Ion Mihai Pacepa.

  • "Dunia Islam menantikan Petri Dish (semacam piring untuk mengembangbiakan bakteri). Dengan piring itu kita dapat mengembangbiakan ketegangan berbahaya akibat rasa benci terhadap Amerika, yang muncul dari bakteri pemikiran Marxis–Lenins. Islam itu sangat anti-Semitisme...kita hanya perlu untuk terus mengulang-ulang tema kita ---- bahwa Amerika Serikat dan Israel itu "negara fasis, Zionis yang senang berkuasa," yang didanai oleh kaum Yahudi kaya-raya." ---- Yuri Andropov, Mantan Ketua KGB.

  • Sejak 1965, USSR secara resmi mengusulkan sebuah resolusi kepada PBB. Resolusi itu mengecam Zionisme sebagai kolonialisme dan rasisme. Meski upaya pertamanya tidak berhasil, PBB belakangan menjadi penerima yang merasa sangat berterimakasih terhadap sikap munafik sekaligus propaganda Uni Soviet. Pada Nopember 1975, Resolusi 2279 mengecam Zionisme sebagai "bentuk rasisme dan diskriminasi rasial yang akhirnya disahkan."

Yasser Arafat (kiri) bersama Pemimpin Rumania Nicolae Ceausescu selama kunjungannya ke Bukarest pada 1974. (Sumber foto:: Museum Sejarah Nasional Rumania).

Ada temuan baru--- Mahmoud Abbas, Presiden Otoritas Palestina adalah mata-mata KGB. Ia berdinas di Damaskus pada 1983 lalu. Meski demikian, berita temuan itu diabaikan oleh banyak media arus utama yang menganggapnya sebagai "perasaan ingin tahu sejarah" (historical curiosity). Jadi, berita itu hanya dinilai menguat secara tidak menyenangkan ketika Presiden Vladimir Putin, tengah berupaya untuk mengorganisasikan perundingan baru antara Abbas dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dapat diramalkan bahwa Otoritas Palestina langsung mengabaikan berita tersebut. Pejabat Palestina Nabil Shaath menyangkal bahwa Abbas pernah menjadi mata-mata KGB. Karena itu, dia mengatakan klaim itu sebagai "kampanye untuk merusak citra" Abbas.

Lanjutkan Baca Artikel

Teroris Bukan Orang Bodoh dan Butahuruf tetapi Orang Kaya Terpelajar

oleh Giulio Meotti  •  22 Nopember 2016

  • "Semakin baik anak-anak muda itu diintegrasikan, semakin besar peluang mereka untuk diradikalisasi. Hipotesis ini didukung oleh banyak bukti."---Dari sebuah laporan yang dikerjakan oleh para peneliti di Universitas Erasmus, Belanda.

  • "Perbandingan dari para administrator [Negara Islam] dan pejuang pelaku bom bunuh diri meningkat sesuai dengan pendidikannya," menurut laporan Bank Dunia. "Lebih jauh lagi, orang-orang yang ditawarkan untuk menjadi pelaku bom bunuh diri termasuk dalam kelompok orang yang rata-rata lebih terpelajar."

  • Lembaga intelijen Inggris MI5 memperlihatkan bahwa "dua pertiga tersangka pelaku kejahatan berkewarganegaraan Inggeris punya profil kelas menengah sedangkan orang-orang yang ingin menjadi pelaku bom bunuh diri kerapkali adalah orang-orang yang paling terpelajar."

  • Para peneliti menemukan bahwa "semakin makmur negara itu, semakin memungkinkan pula negara itu untuk menyediakan orang-orang asing yang bisa direkrut untuk masuk dalam kelompok teroris [ISIS]."

  • Barat tampak bakal sulit menerima bahwa para teroris tidak digerakan oleh ketidaksamaan derajat tetapi oleh kebencian terhadap peradaban Barat sekaligus nilai-nilai Yudeo-Kristiani Barat.

  • Bagi kaum Nazi, ras "inferior" (Bangsa Yahudi) tidak pantas untuk hidup tetapi harus dikirimkan ke ruang-ruang gas; bagi kaum Stalinis, "musuh rakyat" tidak berhak melanjutkan hidup mereka dan harus mati karena kerja dan dingin di Gulag; bagi kaum Muslim radikal, adalah Barat sendiri yang tidak pantas untuk hidup.

  • Bukan kemiskinan yang membuat Otoritas Palestina memberi nama sebuah sekolah dengan dengan nama Abu Daoud, dalang pembantaian para atlit Israel di Olimpiade Munich, Jerman, tetapi semangat anti-Semitisme.

Para teroris tampaknya menjadi model dari integrasi sosial yang bagus. Mohamad Bouyeri (kiri), teroris keturunan Maroko – Belanda yang menembak mati pembuat film Theo van Gogh (kanan), kemudian menikam serta menggorok lehernya pada tahun 2004 lalu. "[Bouyeri] adalah seorang pria yang sangat terpelajar dengan masa depan yang cerah, urai Job Cohen, Walikota Amsterdam.

"Ada stereotip bahwa para pemuda Eropa yang meninggalkan negerinya pergi ke Suriah adalah korban dari masyarakat yang tidak menerima sekaligus tidak menawarkan kesempatan yang memadai kepada mereka...Stereotip umum lain yang muncul dalam perdebatan di Belgia adalah bahwa radikalisasi masih terlampau kerap disalahpahami sebagai proses yang timbul akibat gagalnya integrasi warga meskipun ada penelitian yang menentangnya, ...Saya karena itu berani mengatakan bahwa semakin baik anak-anak muda itu diintegrasikan, semakin besar peluang mereka diradikalisasi. Hipotesis ini didukung oleh banyak bukti."

Lanjutkan Baca Artikel

Donald Trump Tingkatkan Gerakan Anti-kemapanan di Eropa
"Apa yang bisa Amerika lakukan, bisa juga kami lakukan."

oleh Soeren Kern  •  15 Nopember 2016

  • "Amerika baru saja membebaskan diri dari kebenaran politik. Rakyat Amerika mengungkapkan keinginan mereka untuk tetap menjadi rakyat yang bebas dan demokratis. Kini waktunya bagi Eropa. Kita bisa dan akan lakukan hal yang sama!"---Geert Wilders, Anggota Parlemen Belanda, Ketua Partai Kemerdekaan (PVV) dan kini diajukan ke pengadilan di Belanda karena kebebasan berbicara.

  • "Tahun 2016 itu, dengan mengamatinya, bakal menjadi tahun dari dua revolusi politik yang luar biasa. Saya pikir Brexit adalah revolusi besar, tetapi nak, itu tampaknya seperti bakal ada revolusi yang lebih besar lagi."---Nigel Farage, Anggota Parlemen Eropa dan pemimpin Partai Kemerdekaan Inggris.

  • "Di segala penjuru, kelas politik dicaci maki di sebagian besar negera Barat. Industri polling bangkrut dan pers pun baru tersadar terhadap apa yang sedang terjadi di dunia."---Nigel Farage.

  • "Dalam negara demokrasi, ketika merasa diabaikan dan dihina, maka masyarakat akan menemukan jalan supaya bisa didengar. Pemungutan suara ini adalah dampak dari sebuah revolusi kelas menengah melawan elit yang berkuasa yang ingin menerapkan apa yang seharusnya mereka pikirkan."--- Laurent Wauquiez, pemipim partai oposisi Jerman, The Republikans.

Para politisi anti-kemapanan di Eropa seperti pemimpin Partai Kebebasan Geerrt Wilders (kiri) di Belanda dan Pemimpin Partai Kemerdekaan Inggeris Nigel Farage (kanan) merangkul Donald Trump. Mereka berharap, kenaikannya ke kursi kepresidenan bakal menginspirasi para pemilih Eropa untuk keluar memberikan suara kepada mereka dalam jumlah besar.

Donald Trump memenangkan Pemilu presiden AS. Kemenangannya menjadi kejutan bagi lembaga-lembaga politik dan media Eropa. Mereka takut bahwa lautan perubahan politik yang sedang terjadi di Amerika Serikat bakal membangkitkan semangat partai-partai berbasis massa yang besar di Eropa.

Ada banyak politisi anti-kemapanan di Eropa yang mendapatkan banyak suara dalam berbagai polling pendapat umum. Karena itu, mereka berharap, kenaikan Trump ke kursi kepresidenan AS juga bisa menginspirasi para pemilih Eropa untuk keluar dan memilih mereka dalam jumlah yang besar.

Ketika mengomentari kemenangan Trump, anggota wakil rakyat Belanda, menulis: "Amerika baru saja membebaskan diri dari kebenaran politik. Rakyat Amerika mengungkapkan keinginan mereka untuk tetap menjadi rakyat yang bebas dan demokratis. Kini waktunya bagi Eropa. Kita bisa dan akan lakukan hal yang sama!"

Lanjutkan Baca Artikel

Wawancara dengan Majid Oukacha

oleh Grégoire Canlorbe  •  13 Nopember 2016

  • Yang semakin membuat saya prihatin lebih daripada lainnya adalah kebebasan berpikir. Kebebasan berpikir ini dikriminalisasi oleh Al-Qur'an.

  • Saya bermaksud mengingatkan masyarakat Prancis. Karena itu. Ketika Prancis menjadi sebuah negara Muslim maka ia tidak mungkin lagi mundur... Kapanpun ada Islam, maka bakal ada konflik budaya. Bakal ada wanita yang merasa bersalah karena berpenampilan menarik serta diperlakukan seperti anak kecil dan disalahgunakan. Dan di atas semuanya itu, kreativitas dan imaginasi masyarakat bakal terus lenyap.

  • Mayoritas umat Muslim Prancis sangat tepat memaklumkan diri sebagai orang-orang yang suka damai, tetapi Islam tetap sebutan persamaan budaya bagi semua warga Prancis yang pernah mengatakan kepada saya bahwa kartunis Charlie Hebdo yang terbunuh dalam aksi pembunuhan 7 Januari 2015 itu sebagai "sepantasnya terjadi pada mereka."

  • Saya lebih menyukai adanya individualisme cita-cita intelektual dan nilai moral peradaban Barat modern dibandingkan dengan sistem "saudara tua" Islam yang mengkriminalisasi kebebasan.

  • Jadi, dapat kita katakan, tidak ada soal apakah Muslim Prancis --- terobek-robek antara undang-undang budaya Barat dan Al-Qur'an, mayoritas kaum Muslim merasa lebih dekat dengan kaum Muslim radikal yang ingin terpaku pada huruf-huruf hukum Al-Qur'an dibandingkan dengan mendekatkan diri kepada seorang non-Muslim yang mengabaikan Al-Qur'an.

  • Prancis dan negara-negara lain di Barat semakin menjadi korban plintiran ironi kejam ketika nilai dan prinsip dasar mereka justru diubah melawan mereka.

  • Para politisi Prancis yang kini memerintah kita tidak berminat untuk mengakui atau menyelesaikan keretakan sosial ini.

  • Tidak ada keinginan pada saya untuk membuat kompromi politik dengan para politisi radikal Muslim yang memuja buku yang mendukung perbudakan serta merendahkan martabat wanita yang mengkriminalkan kebebasan beragama.

Majid Oukacha (Sumber foto: Suntingan video dari "The Fred Connection")

Majid Oukacha adalah essayist muda Prancis. Ia lahir dan bertumbuh besar di Prancis, yang setiap tahun semakin kurang diakuinya. "Seorang mantan Muslim tetapi patriot nan abadi," sebagaimana dia kerap senang menjelaskan tentang dirinya. Dia pengarang buku Il était une foi, l'islam...(secara harafiah berarti, "Islam pada suatu masa...", judul sebuah buku berbahasa Prancis yang segera diluncurkan dalam Bahasa Inggeris dengan judul berbeda). Buku itu menjadi sebuah kritik sistematis, tanpa berupaya menilai baik buruknya hukum Al-Qur'an yang paling tidak konsisten dan paling tidak tepat.

Grégoire Canlorbe: Dapatkah anda mulai dengan mengingatkan kami tentang keadaan dan motif anda meninggalkan Islam – serta keputusan anda untuk menggunakan pena anda guna membongkar bekas agama anda bagi masyarakat umum secara luas?

Lanjutkan Baca Artikel

"Musim Semi Dunia Arab" di Amerika

oleh Nonie Darwish  •  8 Nopember 2016

  • Presiden Obama tampaknya diberitahu bahwa jika semua diktator sekular dapat digulingkan, maka Arab Spring atau Musim Semi Dunia Arab yang mengagumkan bakal tumbuh mekar. Tampaknya inilah persisnya tujuan Ikhwanul Muslim. Yaitu untuk meminta Amerika Serikat membantu menggulingkan para diktator --- yang kala itu nyaris semuanya adalah tokoh militer dan sekular --- kemudian menggantikannya dengan mereka sendiri, kaum radikal Islam.

  • Setelah Mesir menggulingkan Ikhwanul Muslim, tujuan untuk membangun Kekalifahan Islam di Mesir sepenuhnya dipindahkan ke Suriah, satu-satunya negara Arab tempat seorang pemimpin Musim yang sekular berhasil bertahan melewati Musim Semi Arab.

  • Upaya untuk mempromosikan Islam tampak menjadi faktor penting bagi Obama untuk melakukan hal yang sama di Amerika. Menteri Luar Negeri Hillary Clinton mengikuti langkahnya. Sejumlah konperensi tertutup di Washington dan London tentang "Pencemaran Agama" pun dia selenggarakan. Tujuannya, adalah untuk menindas kebebasan berbicara sekaligus secara internasional mengkriminalisasi kritik apapun terhadap Islam dengan hukuman denda dan penjara. Dia lebih suka mengecam terorisme atas kebebasan berbicara dibandingkan atas ajaran-ajaran Islam yang kejam.

  • Penyimpangan yang semakin meningkat menggila ini seharusnya sudah menjadi alasan yang cukup bagi semua negara demokrasi Barat untuk seterusnya keluar dari PBB. Sejarah korupsi yang terjadi di lingkungan PBB bukanlah hal baru atau mengejutkan. Atau juga tidak asing bahwa PBB menjalankan sebuah "klub para diktator" anti-demokrasi yang kepentingannya berbeda dari kepentingan kita.

Pidato pertama kepresidenan Obama yang penting pada 4 Juni 2009 diselenggarakan di Kairo, di hadapan sejumlah besar sheik dan para anggota Ikhwanul Muslim. Mereka diberdayakan dan diberikan legitimasi oleh Obama. Presiden Mesir Hosni Mubarak yang dicacimaki tidak menghadiri acara akbar itu. Jadi, dengan berkat dari Amerika Serikat, naiknya Ikhwanul Muslim ke puncak kekuasaan di Mesir pun dimulai. (Sumber foto: Gedung Putih).

Presiden AS Barack Obama bercita-cita hendak mengakhiri kekuasaan sebagian besar pemimpin Arab "sekular" di Timur Tengah. Sedikitnya, pandangannya mungkin saja muncul dari propaganda tentang mengapa masyarakat Muslim diduga kurang bebas di sana. Obama pun tampaknya diberitahu bahwa jika semua diktator sekular itu dapat digulingkan, maka Arab Spring, atau Musim Semi Dunia Arab yang mengagumkan bakal tumbuh mekar.

Tampaknya, inilah persisnya tujuan Ikhwanul Muslim. Yaitu untuk meminta Amerika membantu menggulingkan para diktator --- yang kala itu nyaris semuanya tokoh militer sekular --- kemudian menggantikannya dengan mereka sendiri, kaum radikal Islam.

Lanjutkan Baca Artikel

Apakah AS Tinggalkan Dunia yang Bebas?

oleh Nuhu Othman  •  5 Nopember 2016

  • Ada perasaan khawatir yang luar biasa di antara bangsa Afrika pencinta damai, yang peduli dengan demokrasi dan hak asasi manusia. Mereka khawatir, setelah Pemilu Presiden AS bulan depan, perasaan prihatin terhadap nilai demokrasi serta hak asasi manusia ini mungkin berhenti.

  • Afrika kini sadar bahwa Amerika Serikat memperlihatkan tanda-tanda merasa terbebani dengan perannya yang penting dalam persoalan-persoalan dunia. Tapi upaya untuk melepaskan tanggung jawab ini berimplikasi sangat berbahaya.

  • Amerika tidak lagi terlihat seperti negara yang memperluas kekuatannya dengan persuasi tanpa kekerasan (soft power) hingga Eropa Barat dalam bentuk Marshall Plan segera setelah Perang Dunia Kedua. Apakah ini Amerika Serikat yang sama yang memanfaatkan persuasi dengan kekuatan senjata (hard power) untuk menyelamatkan dunia yang bebas sekaligus menjamin dunia tetap bebas? Peran untuk menstabilkan keamanan dunia jauh lebih dibutuhkan sekarang dibandingkan sebelumnya.

  • Kami membutuhkan kepemimpinan Amerika, Sungguh, tidak ada negara lain yang bebas di Afrika yang mampu menangani masalah kepemimpinan secara memadai untuk menjaga perdamaian di benua tersebut. Siapakah yang datang bagi kami untuk "berbicara secara lembut sekaligus membawa tongkat besar," di mana pun dan kapan pun diperlukan?

Menteri Luar Negeri AS John Kerry tengah berjabat tangan dengan Presiden Nigeria yang baru saja disumpah, Muhammad Buhari di Abuja, Nigeria, 29 Mei 2016 lalu (Sumber fotoL Departemen Luar Negeri AS).

PRESIDEN NIGERIA---yang berkuasa dituduh mengampuni berbagai tindakan korupsi di negerinya beberapa tahun silam. Akibatnya, negara itu kehilangan puluhan miliar dolar. Presiden AS Barack Obama lalu mengatakan bahwa Amerika Serikat tidak bakal menjual senjata kepada Nigeria ketika Boko Hoko Haram menjarah sebuah kawasan seukuran Belgia di timur laut Nigeria. Menurut Obama, ada Leahy Law, sebuah undang-undang yang melarang AS memberi bantuan militer kepada militer asing yang melanggar hak asasi manusia dan tidak mendapatkan hukuman.

Lanjutkan Baca Artikel