Analisa dan Komentar Terbaru

Apakah Xenophobia dan Rasisme Menjadi Arus Utama di Turki?

oleh Robert Jones  •  28 Agustus 2016

  • Setiap aksi historis yang dilakukan Bangsa Turki dipuji dan diidolakan. Buku pelajaran sejarah tidak menyebutkan satu katapun kejahatan yang dilakukan oleh Turki terhadap kaum minoritas negeri itu.

  • Teori Turki sentries, yang berpusat pada Turki itu diajarkan di sekolah dan universitas Turki era 1930-an pada masa Ataturk berkuasa. Berdasarkan mitos-mitos ini, pandangan bernada rasisme dan irasional dicekokan ke dalam publik negeri itu.

  • Jelaslah, anti-Amerikanisme tengah mencapai titik puncak baru di Turki dan banyak warga Turki tidak butuh fakta dan bukti yang kuat untuk menentukan siapa di balik kudeta. Kecaman ini muncul dari pemerintah sebuah negara yang sudah membantai jutaan warga negaranya sendiri --- karena tidak menjadi orang Turki atau karena non-Muslim --- dan yang tidak pernah sekalipun meminta maaf atas kejahatan yang dilakukannya.

Sebuah poster propaganda dari masa kekuasaan Mustafa Kemal Ataturk tengah membantai para penentang reformasinya. (Pedangnya menampilkan kata "reformasi").

Xenophobia, perasaan bencian terhadap orang asing sudah terdokumentasi sangat baik di Turki. Berbagai survei Pew tentang Perilaku Global (Pew Global Attitudes), misalnya memperlihatkan bahwa pandangan negatif terhadap Amerika Serikat "tersebar luas dan bertumbuh subur" di Turki, sebuah negara anggota NATO dan pelamar yang mau bergabung dengan Uni Eropa. Menurut Pew Research Centre:

"Dari 10 publik Muslim yang disurvei pada 2016, polling Pew Global Attitudes, memperlihatkan masyarakat Turki punya pandangan yang paling negatif, berdasarkan perhitungan rata-rata, terhadap masyarakat Barat.

"Pada skala itu, rata-rata Turki adalah 5,2. Tingkat perasaan negatif itu lebih tinggi dibandingkan dengan yang ditemukan pada 4 negara mayoritas Muslim yang disurvei ((Mesir, Indonesia, Yordania dan Pakistan) termasuk juga di antara warga Muslim di Nigeria, Inggeris, Jerman, Prancis dan Spanyol.

Lanjutkan Baca Artikel

Pemberontak Dukungan Iran Manfaatkan Rumah Sakit sebagai Tameng Manusia

oleh Con Coughlin  •  26 Agustus 2016

  • Para penyelidik justru menemukan bahwa pada saat serangan terjadi, para pemberontak menduduki rumah sakit, sehingga membuatnya menjadi sasaran yang sah.

  • "Ketika kita mendesak koalisi Arab Saudi memanfaatkan semua sarana yang mungkin ada supaya bisa menghindari kematian warga sipil, kita juga harus sadari taktik-taktik yang digunakan oleh para pemberontak dukungan Iran sebagai bagian dari kebijakan yang disengaja untuk mendiskreditkan usaha perang pihak koalisi." — Pejabat senior Barat.

Sebuah pabrik di Sana'a Yaman, terbakar menyusul serangan udara, 9 Agustus 2016 lalu. (Sumber foto: suntingan video Al Jazeera)

Para pemberontak Houthi dukungan Iran telah memanfaatkan rumah sakit sebagai pos komando militer. Dengan demikian, mereka sengaja menempatkan nyawa warga sipil yang tidak bersalah berisiko mati. Demikian diungkapkan sebuah laporan yang melaporkan perang saudara Yaman yang sudah sekian lama berlangsung.

Permusuhan dalam konflik Yaman kembali meledak akhir pekan lalu menyusul gagalnya perundingan damai di Kuwait. Berbagai perundingan itu diselenggarakan setelah para pejuang Houthi dukungan Korps Pengawal Revolusioner Islam Iran (IRGC) menolak rencana damai yang disponsori PBB. Karena itu, mereka kemudian mengumumkan pembentukan sebuah badan pemerintah yang terdiri dari 10 anggota untuk menjalankan roda pemerintahan negeri itu.

Lanjutkan Baca Artikel

Peran Penting Mesir di Timur Tengah

oleh Bassam Tawil  •  24 Agustus 2016

  • Pada tingkat strategi regional, Mesir berperan sentral dalam koalisi anti-Iran yang dilansir negara-negara Arab Sunni yang mencakup Arab Saudi, Kuwait, Bahrain serta Uni Emirat Arab (UEA). Aksi kejam Musim Semi Arab tak terhindarkan lagi memunculkan konfrontasi antara Iran Shia yang revisionis dan agresif melawan berbagai negara Arab di pihak lain yang disebarkan untuk membela diri sendiri melawan agresi Iran, terutama di Yaman, Suriah, Iran dan Afrika.

  • Bagaimanapun, mungkin saja bakal muncul konfrontasi--- sayangnya konfrontasi justru terjadi dengan Amerika Serikat. Bahkan ketika Iran mélangkah maju mengembangkan senjata nuklir dan peluru kendali balistik pengangkutnya dan ketika dia memanfaatkan aksi penghasutan, senjata, uang serta kelompok kaki tangan di negara lain guna mendestabilitasi negara-negara Arab dan Muslim, sikap Amerika justru semakin dingin terhadap Israel dan Pemerintahan Jenderal Al-Sisi di Mesir. Pemerintahan Amerika Serikat yang kini berkuasa dikenal di seluruh Timur Tengah karena memberdayakan musuhnya sekaligus licik terhadap para sahabatnya.

  • Sikap tradisional Arab, yang digunakan oleh para pemimpin otokratis yang memperdaya masyarakat mereka yang tidak puas dengan memperlihatkan musuh dari luar kepada mereka, bukan kepada para pemimpin kami sendiri, jelas-jelas mulai bakal berubah. Dan Israel sebagai musuh terbesar secara tepat, tengah digantikan oleh Iran.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu dengan Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry yang sedang berkunjung di Yerusalem, 10 Juli 2016 lalu. (Sumber foro: Kantor Urusan Pers Pemerintah Israel)

Hadirnya Menteri Luar Negeri Mesir di Israel, bulan silam mengejutkan banyak kalangan. Opini publik Mesir yang kritis serta medianya mengindikasikan bahwa bertahun-tahun semenjak perdamaian Israel–Mesir ditandatangani, perjanjian resmi masih belum meresap masuk ke dalam kesadaran publik kedua negara dan bahwa masih ada perasaan curiga yang besar yang berkembang di dua sisi perbatasan kedua negera. Hal yang sama juga benar berkaitan dengan soal perdamaian antara Israel dan Yordania.

Di bawah kekuasaan Mohamed Mursi sang tokoh Ikhwanul Muslim, hubungan kedua negara mencapai titik rendah yang baru. Kala itu, Mesir secara tersembunyi membantu kelompok kaki tangan Iran, Hamas melawan Israel.

Menteri Luar Negeri Mesir, Sameh Shoukry mengadakan kunjungan ke Israel, awal Juli 2016 lalu. Kunjungan ini bisa menjadi indikasi bahwa perdamaian yang mandeg beku antara Israel dan Mesir, yang ditandatangi oleh Begin dan Sadat pada 1979 lalu, mungkin kembali mencair. [1]

Lanjutkan Baca Artikel

Iran Menipu Soal Perjanjian Nuklir, Kini Apa?

oleh Majid Rafizadeh  •  19 Agustus 2016

  • Satu tahun menjelang perjanjian nuklir, dua laporan intelijen yang andal dan tepat waktu memperlihatkan bahwa Iran tidak berniat untuk menghargai syarat-syarat perjanjian, yang bagaimanapun, tidak pernah ditandatanganinya

  • Badan intelijen dalam negeri Jerman memperlihatkan bahwa Pemerintah Iran melakukan upaya "bawah tanah" umtuk memperoleh teknologi dan peralatan nuklir haram dari berbagai perusahaan Jerman. "Berdasarkan standar internasional pun, teknologi dan peralatan itu, memang secara kwantitatif termasuk tingkat tinggi."

  • Perjanjian rahasia yang didapatkan oleh Associated Press mengungkapkan bahwa perjanjian nuklir Iran tidak saja mencabut hambatan atas program nuklir Iran menyusul perjanjian nuklir tetapi juga bakal berlangsung terus demikian hingga perjanjian berakhir -- termasuk pemasangan ribuan mesin pemisahnya (centrifuge) lima kali lebih banyak daripada yang kini dimilikinya juga pengayaan uranium dengan kecepatan yang lebih tinggi.

  • Dengan demikian, semakin banyak Gedung Putih mengabaikan pelanggaran yang Iran lakukan terhadap perjanjian nuklir, semakin berani pula Iran melanggar hukum internasional serta syarat-syarat perjanjian nuklir.

Reaktor air berat (heavy water) di Iran, mampu menghasilkan plutonium. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Tanggal 14 Juli 2015. Iran beserta enam negara yang berkuasa yang terkenal dengan sebutan negara-negara P5+1 (Cina, Prancis, Jerman, Rusia, Inggeris dan Amerika Serikat) mencapai kesepakatan atas program nuklir Iran. Perjanjian dimaksudkan untuk menghentikan ambisi nuklir Iran serta menahan laju pengembangan nuklir Teheran.

Presiden Obama pun memberi janjinya. Katanya, perjanjian itu tidak didasarkan pada kepercayaan tetapi pada pembuktian lapangan. Meski demikian, dokumen-dokumen rahasia yang belakangan mengemuka termasuk pelanggaran-pelanggaran perjanjian nuklir oleh Iran, memperlihatkan hal sebaliknya.

Lanjutkan Baca Artikel

Perbudakan Moderen

oleh Josephine Bacon  •  14 Agustus 2016

  • Pantaslah menyelidiki berbagai praktek perburuhan negara penyelenggara kegiatan akbar itu, Qatar yang tentu saja menyuap legislasi Eropa sebelumnya, apalagi Undang-Undang Perbudakan Modern Kerajaan Inggeris dan Undang-undang Negara-Negara Eropa.

  • Qatar menawar suap kepada FIFA supaya berhak menyelenggarapan acara akbar itu menurut Greg Dyke, mantan Ketua Asosiasi Sepakbola Inggeris (BFA) dan para pejabat BFA lainnya.

  • Harian Guardian, melaporkan satu pekerja migran Nepal mati sekarat setiap dua hari.

  • Para pengunjung yang baru-baru ini berkunjung ke Qatar mengambil foto suasana melarat yang mengerikan, tempat para pekerja bangunan berdiam. Mereka dipaksa tidur dalam sel-sel kecil sempit mirip kamar, tempat mereka sepenuhnya hanya bisa membaringkan badan. Tidak ada sanitasi dan fasilitas dapur yang memadai.

  • Di Qatar, undang-undang baru hanya diterapkan --- jika benar-benar diterapkan--- kepada orang-orang asing yang bekerja setelah undang-undang itu disahkan.

Keluarga seorang pekerja migran Nepal yang meninggal dunia di Qatar mempersiapkan pemakaman anggota keluarga mereka. Para pekerjaan Nepal di Qatar dipaksa bekerja dalam kondisi berbahaya sehingga tewas dengan angka satu korban jiwa setiap dua hari. (Sumber foro: suntingan video Guardian).

Ketika menulis sebuah artikel dalam Harian Sunday Telegraph, 31 Juli lalu, Perdana Menteri Inggeris yang baru, Theresa May mengatakan; "Tahun lalu, saya memperkenalkan Undang-Undang Perbudakan Moderen yang kenamaan di dunia. Saya ingin mengirim sinyal yang mungkin paling kuat bahwa para korban tidak sendirian menghadapi masalah mereka dan bahwa semua pihak yang bertanggung jawab terhadap eksploitasi mengerikan ini, akan menghadapi keadilan." Meskipun demikian, kampanye untuk secara hati-hati menangani perbudakan moderen mengabaikan negara-negara di dunia Arab di mana memiliki budak memang diijinkan oleh undang-undang.

Lanjutkan Baca Artikel

Warga Palestina: Kamp Pengungsi atau Basis Teroris?

oleh Khaled Abu Toameh  •  28 Juli 2016

Kamp pengungsi Wafel bagi warga Palestina, dekat Baalbek di Lebanon, yang dikelola oleh UNRWA. (Sumber foto: European Commission DG ECHO)

ISIS sudah mencengkram benak para pemimpin Otoritas Palestina (PA). Mereka prihatin bahwa kelompok-kelompok jihadi, termasuk ISIS, berusaha menyusup masuk ke dalam berbagai kamp pengungsi Palestina di Libanon.

Pihak berwenang Libanon pun khawatir --- begitu khawatir sehingga mereka memberikan peringatan keras kepada warga Palestina: Hentikan para teroris atau kalau tidak, kami akan mengambil alih persoalan keamanan.

Menurut berbagai sumber dari pihak keamanan Libanon, semakin banyak warga Palestina di Libanon bergabung dengan ISIS dan Fron Al-Nusra yang berafiliasi dengan Al-Qaeda, milisi kaum radikal Sunni yang berperang melawan pasukan Pemerintah Suriah. Pasukan keamanan Libanon menanggapinya dengan mengambil serangkaian langkah guna menangani persoalan serta mencegah dua kelompok teror Muslim radikal itu mendirikan basis pertahanan di berbagai kamp pengungsi Palestina di Libanon.

Lanjutkan Baca Artikel

Prancis: Pasca-Serangan Jihadi Ketiga

oleh Guy Millière  •  27 Juli 2016

  • Pemerintah berturut-turut membangun jebakan. Rakyat Prancis, yang berada di dalamnya, hanya berpikir tentang bagaimana cara melarikan diri. Situasinya jauh lebih serius dibandingkan yang banyak orang bayangkan. Seluruh kawasan Prancis berada di bawah kendali geng dan para imam radikal.

  • Perdana Menteri Manuel Valls mengulang kembali apa yang pernah dikatakannya 18 bulan silam. "Prancis sedang berada di ambang perang." Ia menyebutkan satu musuh., "Islamisme radikal." Dia lalu mengulang lagi apa yang sudah dia tekankan berkali-kali: Perancis terpaksa membiasakan diri untuk hidup dengan "kekerasan dan serangan."

  • Warga Prancis semakin lelah berupaya untuk membuktikan bahwa Islam tidak bersalah. Mereka sungguh-sungguh tahu bahwa semua Muslim tidak bersalah. Mereka juga tahu bahwa bagaimanapun, semua yang melakukan serangan di Prancis akhir-akhir ini adalah Muslim. Mereka sama sekali tidak ingin untuk terbiasa hidup dengan "kekarasan dan serangan." Tidak ingin mereka berada di pihak yang kalah dan merasa sedang kalah.

Pasukan Prancis sudah berada pada batas kemampuannya untuk bertindak: ia sudah berpatroli di jalan-jalan Prancis dan disebarkan di Afrika dan Timur Tengah. Gambar atas: Tentara Prancis tengah menjaga sebuah sekolah Yahudi di Strasbourg, Februari 2015. (Sumber foto: Claude Truong-Ngoc/Wikimedia Commons)

NICE 14 JULI 2016---: Perayaan Hari Bastille. Menjelang pesta pora berakhir. Tatkala massa yang menyaksikan kembang api hendak berpencar pergi, sopir sebuah truk seberat 19 ton memacu kendaraannya berlari berliku-liku, menabrak jatuh semua orang yang berada di jalannya. Tragedi itu berlangsung selama 10 menit. Dan 84 orang tewas. Belakangan, sopir itu tertembak mati. Puluhan orang terluka. Banyak yang menderita lumpuh selama sisa hidupnya. Para penyintas tragedi yang kebingungan berkeliling jalanan kota selama berjam-jam.

Lanjutkan Baca Artikel

Kesalahan Historis Bangsa Arab Kala Berinteraksi dengan Israel

oleh Fred Maroun  •  26 Juli 2016

  • Dengan kasar kita Bangsa Arab mengelola hubungan dengan Israel. Tapi yang paling parah dari semuanya adalah situasi yang sedang berlangsung di Palestina. Kesalahan kedua kita yang paling mengerikan adalah ketika tidak menerima rencana pemisahan kawasan yang dilakukan PBB pada 1947.

  • Barangkali, orang seharusnya tidak melancarkan perang jika tidak siap dengan kemungkinan untuk kalah.

  • Bangsa Yahudi tidak mengurung warga Arab di kamp-kamp pengungsi. Kita malah yang mengurung mereka.

  • Yordania memang berhasil menyatukan sejumlah pengungsi tetapi tidak semua. Kita bisa saja membuktikan bahwa kita Bangsa Arab adalah bangsa yang agung mulia. Tetapi sebaliknya, kita justru perlihatkan kepada dunia, sebagaimana terus kita lakukan, bahwa rasa benci kita satu sama lain dan terhadap kaum Yahudi itu jauh lebih besar daripada konsep pokok solidaritas Arab.

Pada Mei 1948, Azzam Pasha (kanan), Sekjen Liga Arab mengumumkan soal bagian Kaum Yahudi dari pembagian kawasan yang baru saja diusulkan, bahwa, ""Ini bakal jadi perang pembasmian, pembantaian massal penting, yang bakal dibicarakan seperti pembantaian yang dilakukan oleh Bangsa Mongolia dan Pasukan Salib."

Bagian pertama dari dua seri tulisan. Bagian kedua menyelidiki apa yang kita Bangsa Arab lakukan secara berbeda masa kini.

Kita saksikan jalinan tambal-sulam yang rumit dalam hubungan antara dunia Arab dan Israel akhir-akhir ini. Dari permusuhan, situasi damai namun mencekam, kerja sama terbatas, suasana tenang sekaligus kejam. Dengan kasar kita Bangsa Arab mengelola hubungan dengan Israel. Tapi yang paling parah dari semuanya adalah situasi yang sedang berlangsung di Palestina.

Kesalahan Awal

Kesalahan pertama kita sudah berlangsung berabad-abad lamanya. Bahkan hingga tepat sebelum Israel memproklamasikan kemerdekaan, Mei 1948. Kesalahan itu termasuk tidak mengakui warga Yahudi itu sederajat dengan kita.

Lanjutkan Baca Artikel

Pecahnya Perang Saudara di Prancis

oleh Yves Mamou  •  20 Juli 2016

  • Bagi Presiden Prancis François Hollande, musuh itu sebuah abstraksi: "terorisme" atau "kaum fanatik."

  • Sebaliknya, Presiden Prancis itu menegaskan lagi tekadnya untuk melakukan tindakan militer di luar negeri: "Kita akan memperkuat tindakan kita di Suriah dan Irak," kata presiden setelah serangan Nice.

  • Jadi, tatkala berhadapan dengan para elit kita yang gagal, betapa mencengangkan jika kelompok-kelompok paramiliter justru mengorganisasikan diri untuk melakukan aksi balas dendam? Padahal, para elit itu dipilih untuk mengarahkan negara melewati bahaya nasional dan internasional.

  • Di Prancis, elit global memberi pilihan. Mereka putuskan bahwa pemilih yang "buruk" negeri itu adalah orang-orang yang sangat bodoh, sangat rasis untuk melihat keindahan sebuah masyarakat yang terbuka bagi orang-orang yang kerapkali tidak ingin berasimilasi, yang menginginkan anda berasimilasi dengan mereka, dan yang mengancam membunuh anda jika tidak. Para elit itu memilih melawan masyarakat mereka sendiri yang tua dan miskin. Penyebabnya, karena orang-orang itu tak ingin memilih mereka lagi. Elit global juga memilih untuk tidak memerangi fundamentalisme Islam, karena kaum Muslim memilih para elit global secara global.

Polisi Prancis menembak mati seorang teroris fundamentalis Islam kelahiran Tunisia yang membunuh 84 orang di Nice, Prancis, 14 Juli 2016. (Sumber foto: Suntingan video Sky News).

"KITA-- sedang berada di tepi jurang perang saudara." Pernyataan itu tidak muncul dari seorang fanatik atau gila. Tidak, ia keluar dari kepala keamanan dalam negeri Perancis, DGSI (Direction générale de la sécurité intérieure), Patrick Calvar. Dia, nyatanya, berkali-kali berbicara tentang risiko adanya perang saudara. Pada 12 Juli lalu, dia peringatkan adanya masalah itu ketika berbicara kepada sebuah komisi para anggota parlemen yang bertanggung jawab terhadap survei tentang serangan teroris pada 2015 lalu.

Pada Mei 2016 lalu, dia menyampaikan nyaris pesan yang sama kepada anggota komisi lain parlemen. Kali ini kepada komisi yang bertanggung jawab atas persoalan pertahanan nasional. "Eropa," katanya, "berada dalam bahaya." Ekstremisme meningkat di mana-mana. Dan kita kini arahkan perhatian kita kepada sejumlah gerakan ekstrim kanan yang sedang bersiap melakukan konfrontasi."

Lanjutkan Baca Artikel

Terorisme Jihadi: Kau Pikir Itu Hanya Kaum Yahudi? Pikirkan Lagi

oleh Giulio Meotti  •  17 Juli 2016

  • Kamis malam pekan lalu, sedikitnya 84 orang tewas dibunuh di samping puluhan korban terluka lainnya di Kota Nice, Prancis.

  • Terlepas dari apakah kalian suka damai atau penghasut perang, homoseks atau heteroseks, ateis atau Kristen, pencemar agama atau taat beragama, warga Perancis atau warga Irak, terorisme Jihadi tidak beda-bedakan. Kita semua adalah sasaran: terorisme kaum radikal Islam merupakan pembantaian massal.

  • Jelas mereka tidak peduli dengan nasib "para saudari" mereka Bangsa Yazidi dan Kurdi. Para korban itu jauh tersembunyi di tempat asri nan eksotik di Timur, sama seperti para blogger sekular Muslim yang terbunuh di Bangladesh.

  • Tatkala para teroris radikal Islam menyasar para blogger Muslim penentang, para wanita Yazidi dan gadis-gadis Israel nun jauh di sana, seharusnya menjadi keprihatinan kita di Barat. Para radikal Islam justru tengah mengasah meruncing pisau atas mereka sebelum mendatangi kita.

  • Jika tidak bicara bebas sekarang, kita akan dihukum karena sikap lamban kita pada masa datang.

Truk yang diterjang peluru digunakan oleh teroris Islam radikal kelahiran Tunisia guna membunuh 84 orang di Nice, Perancis, 14 Juli 2016 lalu. (Sumber foto: suntungan video dari Stasiun Televisi France24).

Kamis malam pekan lalu, sedikitnya 84 orang tewas dibunuh di samping puluhan korban terluka lainnya di Kota Nice, Prancis. Pelakunya adalah seorang teroris radikal kelahiran Tunisia. Dengan menggunakan truk seberat 19 ton, pengendara melarikan kendaraannya ke tengah-tengah massa ramai yang dengan penuh sukaria merayakan Perayaan Bastille Day, hari libur nasional Perancis. Dia menggilas para pria, wanita dan anak-anak di kawasan sejauh lebih dari dua kilometer bentangan jalan dan trotoar.

Lanjutkan Baca Artikel

Mampukah Palestina Selenggarakan Pemilu yang Jujur dan Adil?

oleh Khaled Abu Toameh  •  14 Juli 2016

  • Bahkan jika Hamas terus saja menolak tuntutan Fatah untuk melepaskan kendali atas Jalur Gaza, para wakil Hamas bisa saja menang mudah di sejumlah kota dan desa Tepi Barat, khususnya di kawasan Hebron. Di sana, gerakan kaum radikal (Islamist) dianggap lebih popular dibandingkan dengan Faksi Fatah. Mahmoud Abbas dan Fatah masih belum pulih karena kalah dari Hamas baru-baru ini dalam Pemilu dewan mahasiswa di Universitas Bir Zeit di Tepi Barat, April tahun ini.

  • Keputusan untuk menyelenggarakan Pemilu tingkat kotamadya diumumkan tatkala Tepi Barat tengah menyaksikan semakin banyaknya pelanggaran hukum di antara warganya dan pasukan keamanan Otoritas Palestina tampaknya sedang kehilangan kendali.

  • Penyelenggaraan Pemilu tanpa keterlibatan Hamas menyebabkan Otoritas Palestina semakin berisiko untuk berkonsolidasi soal pemisahan Tepi Barat dan Jalur Gaza. Karena bagaimanapun, dia sekaligus menegaskan kenyataan bahwa Palestina memang sudah memiliki dua negara kecil.

Satu orang, satu suara, satu waktu? Pemimpin Hamas Ismaiel Haniyeh (kiri) dan Pemimpin Fatag Mahmoud Abbas (yang juga Presiden Otoritas Palestina) diambil gambarnya sedang mengikuti Pemilu dalam Pemilu terakhir bagi Dewan Legislatif Palestina yang terjadi pada 2006 lalu.

Otoritas Palestina (PA) baru saja memutuskan untuk menyelenggarakan Pemilu tingkat kotamadya, 8 Oktober nanti. Keputusan itu tampaknya bakal memantik perasaan takut di kalangan warga Palestina bahwa langkah itu menyebabkan keamanan semakin kacau dan aksi anarki lebih banyak lagi terjadi, khususnya di Tepi Barat. Berbagai pernyataan yang ditampilkan di jalan-jalan Palestina memperlihatkan bahwa Pemilu akan diselenggarakan dalam suasana yang sama sekali tidak adil dan bebas.

Keputusan untuk melaksanakan Pemilu diambil dalam sebuah pertemuan Pemerintah Otoritas Palestina (PA) yang dipimpin oleh Perdana Menteri Rami Hamdallah, 21 Juni lalu di Ramallah. Pemilu dijadwalkan diselenggarakan di 407 kotamadya --- 382 di Tepi Barat dan 25 di Jalur Gaza.

Lanjutkan Baca Artikel

Swedia: Apakah Islam Cocok dengan Demokrasi?
Bagian I dari satu seri tulisan: Islamisasi Swedia

oleh Ingrid Carlqvist  •  12 Juli 2016

  • Bukan rahasia lagi bahwa demokrasi dapat dimanfaatkan untuk menghancurkan demokrasi itu sendiri

  • Mungkin saja pada akhirnya mereka tersadar bahwa warga asli Swedia bakal segera kalah selamanya dan di banyak tempat tergantikan oleh situasi Timur Tengah, di mana berbagai kelompok imigran (terutama kaum Muslim) melancarkan perang satu sama lain termasuk kepada bangsa Swedia.

  • Menurut DR. Peter Hammond dalam bukunya, Slavery, Terrorism and Islam: The Historical Roots and Contemporary Threat (Perbudakan, Terorisme dan Islam: Akar Historis dan Ancaman Kontemporernya), tujuan Islam bukanlah agar semua orang masuk Islam, tetapi lebih dari itu, menetapkan hukum shariah berlaku di seluruh dunia.

  • Tidak ada negara dengan Islam dominan dapat dianggap negara demokrasi dengan kebebasan berbicara dan keadilan setara berdasarkan hukum.

Tatkala penguasa menutup mata terhadap persoalan yang mengemuka seiring dengan meningkatkanya populasi kaum Muslim di Swedia, masyarakat biasa Swedia tampak semakin bertambah bingung. Bagaimanapun, Perdana Menteri Stefan Löfven (kanan) tampaknya benar-benar tidak tahu apa-apa soal mengapa ini terjadi. Gambar samping; akibat dari aksi kerusuhan di sebuah kota satelit Stockholm, Desember 2014.

Tahun 1930 di Swedia. Dalam sensus terakhirnya, warga ditanya soal keyakinan agama mereka. Ternyata, ada lima belas orang mengaku Muslim. Semenjak 1975, ketika Swedia mulai berubah dari negara homogen menjadi negara multi-kulltur dan multi-agama, jumlah kaum Muslim meledak. Kini, kira-kira satu juta warga Muslim berdiam di sini– ada kaum Sunni, Shia dan Ahmadiyah dari semua sudut dunia--- akibatnya masjid-masjid pun dibangun dan direncanakan pembangunannya di segala penjuru negeri.

Bagaimanapun, tak seorang pun tampak mengajukan pertanyaan penting yang menggantungkan masa depan Swedia. Pertanyaannya, adalah apakah Islam cocok dengan demokrasi?

Penguasa Swedia tidak sadari bahwa Islam itu lebih daripada sekedar agama privat yang bersifat pribadi. Akibatnya, mereka mengabaikan semua pertanyaan tentang Islam dengan argumentasi bahwa ada kebebasan beragama di Swedia.

Lanjutkan Baca Artikel

Di Manakah Komunitas Internasional dalam Kasus Warga Biafra

oleh Judith Bergman  •  10 Juli 2016

  • Generasi baru Biafra kini secara damai mendesak agar Biafra kembali merdeka. Namun, Muhammadu Buhari, Presiden Nigeria yang kebetulan Muslim memerangi gerakan kemerdekaan yang baru lahir itu dengan kekuatan militer.

  • "Saya lihat seorang remaja mencoba menjawab pertanyaan. Dia pun cepat-cepat mengangkat tangan, tetapi para tentara justru menembaknya...." — urai seorang saksimata soal penembakan kepada Amnesty International.

  • Pemimpin IPOB, Nnamdi Kanu, adalah direktur Radio Biafra yang berbasis di London. Dia ditangkap pada Oktober 2015 lalu dan sejak itu dia ditahan secara melawan hukum, meski sudah memenuhi persyaratan membayar uang jaminan.

  • Patut diperhatikan bahwa situasi damai, seperti diperlihatkan oleh gerakan pro-Biafra, jelas-jelas menuntut adanya "langkah militer." Sebaliknya, kelompok teroris yang mematikan seperti kaum Muslim Fulani yang membantai para warga sipil yang lugu justru tidak memperhitungkan situasi damai. Taktik itu makin pantas dipertanyakan, apakah upaya Buhari untuk menghentikan Boko Haram di negeri itu memang murni atau sekedar drama setengah hati yang dijalankan oleh Presiden Nigeria itu demi kepentingan komunitas internasional.

Para pendukung "Masyarakat Pribumi Biafra" (IPOB) melancarkan protes di London menentang pembunuhan warga sipil oleh pihak militer Nigeria di Biafra. Mereka, kala itu, menyerukan pembebasan pemimpin IPOB, Nnamdi Kanu, 13 Nopember 2015 lalu. (Sumber foto: David Holt/Flickr).

Di atas kertas, penderitaan masyarakat Biafra, sebetulnya sangat mudah diselesaikan oleh komunitas internasional, karena faktanya jelas. Negara yang kini termasuk dalam apa yang disebut kawasan timur daya Nigeria itu pernah hidup hanya selama tiga tahun. Yaitu sejak 1967 – 1870, sebelum pihak berwenang Nigeria mengakhiri keberadaannya dengan melancarkan genosida atau pembantaian massal atas mereka.

Para wartawan, aktivis hak-hak asasi manusia, para pejuang keadilan sosial berbagai kampus di seluruh penjuru negara-negara Barat serta organisasi-organisasi seperti PBB serta Uni Eropa, semuanya mengklaim diri seolah-olah sangat mempedulikan hak-hak asasi manusia, khususnya atas orang-orang yang pernah dijajah oleh bangsa-bangsa Eropa.

Lanjutkan Baca Artikel

Dukacita Bangsa Arab yang Sebenanya atas Bangsa Yahudi

oleh Fred Maroun  •  7 Juli 2016

Pada Mei 1948, Pasukan Arab Yordania mengusir semua sekitar 2.000 warga Yahudi yang berdiam di Kota Tua Yerusalem lalu mengubah kawasan Yahudi itu menjadi reruntuhan.

Sebagai orang Arab, kita sangat mahir menuntut agar hak asasi kita dihormati, sedikitnya tatkala kita berdiam di negara-negara demokrasi liberal seperti Amerika Utara, Eropa dan Israel. Tetapi bagaimana dengan tatkala kita sampai pada soalmenghormati hak asasi pihak lain, khususnya kaum Yahudi?

Tatkala mengamati sikap kita terhadap Bangsa Yahudi, secara historis dan masa kini, kita sadari bahwa ia terpusat pada upaya kita untuk menolak hak asasi paling mendasar Bangsa Yahudi. Sebuah hak yang tanpanya, tidak ada lagi hak asasi manusia yang relevan: yaitu hak untuk hidup.

Hak untuk berada di Timur Tengah sebelum 1948

Kaum anti-Zionis kerapkali mengulang-ulangi klaim bahwa sebelum Israel modern ada, Bangsa Yahudi mampu hidup damai di Timur Tengah dan bahwa justru pembangunan Negara Israel menyebabkan bangsa Arab memusuhi kaum Yahudi. Itu bohong .

Lanjutkan Baca Artikel

Israel, Gaza dan Prinsip "Proporsionalitas"

oleh Louis René Beres  •  6 Juli 2016

  • Tampaknya, sejumlah kelompok terror penting Palestina sudah mulai menyiapkan diri untuk melancarkan serangan teror besar-besaran atas Israel.

  • Lebih jauh lagi, hukum yang berwenang dalam perang tidak menyamakan "proporsionalitas" dengan berapa banyak orang tewas di masing-masing pihak dalam konflik. Dalam perang, tidak ada pihak yang pernah dituntut untuk menanggapi agresi hanya dengan langkah kekuatan yang sama. Sebaliknya, kewajiban proporsionalitas mempersyaratkan bahwa tidak ada pihak menerapkan tingkat kekuatan yang lebih besar daripada yang diperlukan untuk mencapai sasaran politik dan operasi yang sah.

  • Berdasarkan hukum internasional terkait, penggunaan masyarakatnya sendiri sebagai "tameng manusia" merupakan kejahatan perang, --- karena bagaimanapun, penembakan roket dari kawasan padat penduduk itu dimaksukan untuk mengurangi perlawanan Israel atau untuk memperbesar korban di pihak warga sipil Palestina. Lebih khusus lagi, kejahatan ini dikenal sebagai "pengkhianatan" (perfidy).

  • Jelaslah ini merupakan upaya untuk membuat IDF terlihat sebagai pembunuh ketika terdesak untuk melakukan perlawanan namun sebetulnya menjadi upaya murni Palestina untuk memanipulasi tanggung jawab hukum yang sebenarnya. Berdasarkan hukum, para pemukim Arab yang menderita akibat aksi pembalasan Israel sebetulnya menimpakan dampak kejahatan perang atas pemerintahan mereka sendiri.

  • Hukum internasional bukanlah pakta bunuh diri. Sebaliknya, dia menawarkan perangkat hukum dan prosedur yang mengikat secara universal yang memungkinkan semua negara untuk bertindak atas nama "hak dasar mereka untuk mempertahankan diri."

Dalam berbagai operasi pertahanan dirinya baru-baru ini, Israel berhasil secara mengesankan mencegat roket-roket yang ditembakan dari Gaza. Meski demikian, tetap saja bisa salah jika hendak meramalkan berdasarkan keberhasilan yang relatif terbatas itu bahaya-bahaya strategis rumit dari Iran. (Sumber foto: IDF)

Kini---mulai muncul seruan dari berbagai arah. Mereka mengecam Israel yang baru-baru ini melancarkan serangan balasan sebagai langkah bela diri ke kawasan Gaza.[1] Pengulangan-pengulangan kecaman yang dilakukan secara sangat hati-hati ini pun sudah sangat umum. Para teroris Gaza menembakan roket dan mortar ke Israel, lalu dunia meminta agar Angkatan Udara Israel (IAF) tidak menanggapinya.

Walau Israel jelas-jelas menjadi korban dari lingkaran teror dari pihak Arab yang ritualistis ini dan seharusnya memaksa Israel melakukan balas dendam, "dunia beradab" biasanya muncul membela para korbannya. Yang tidak dapat dipahami adalah bahwa respon otomatis Israel yang tidak terpikirkan itu dilukiskan sebagai "berlebihan" atau "tidak proporsional" di Eropa bahkan oleh Presiden AS sekarang ini.

Lanjutkan Baca Artikel