Analisa dan Komentar Terbaru

Geng Grooming Inggris: Bagian 1

oleh Denis MacEoin  •  11 Agustus 2019

  • Sejak tahun 2013, Jaksa Agung Inggris, Lord Morris dari Aberavon, pernah mengatakan di Majelis Tinggi bahwa 27 pasukan polisi kala itu tengah menyelidiki tidak kurang dari 54 terduga geng yang terlibat dalam grooming seksual terhadap anak-anak.

  • Tahun lalu, Shahid Javed Burki, mantan Menteri Keuangan Pakistan serta Wakil Presiden Bank Dunia berbicara lantang tentang perlakuan terhadap wanita di negaranya. Dikatakannya bahwa rendahnya status yang diberikan kepada wanita benar-benar sangat berdampak pada kehidupan sosial, demografis, pendidikan dan keuangan.

  • Persoalan ini, dalam sejumlah langkah, yang terefleksi di Inggris, para wanita Muslim (terutama keturunan Pakistan) dibatasi untuk berpartisipasi di lapangan kerja, dalam dunia pendidikan tinggi, bahkan untuk tahu Bahasa Inggris. ---persoalan yang diamati oleh Dame Louise Casey dalam tulisannya, "tinjauan pemerintah seputar peluang integrasi" yang diluncurkannya pada tahun 2016.

  • Membawa masuk perilaku ala Pakistan di Inggris, yang kerapkali ada dalam komunitas yang terpisah-pisah, hanya mengekalkan keyakinan bahwa wanita secara instrinsik lebih rendah daripada laki-laki dalam seluruh aspeknya.

Rotherham, Inggris, adalah kota pertama dengan geng-geng grooming seks berskala besar. Ia juga menjadi tempat terjadinya skandal kejahatan seksual terbesar terhadap anak di Inngris yang pernah terjadi. (Foto oleh Anthony Devlin/Getty Images)

Tanggal 24 Juli 2018. Menteri Dalam Negeri Inggris yang juga anggota parlemen yang konservatif, Sajid Javid menggemparkan Inggris umumnya dan masyarakat Pakistan di Inggris khususnya. Ia mengeluarkan perintah untuk melakukan penelitian tentang asal-usul etnis banyak gang grooming seks negeri itu yang melibatkan banyak "Orang Asia." Ditengarai, bertahun-tahun, sudah orang-orang itu menyandera gadis Inggris kulit putih untuk dimanfaatkan atau digilir demi tujuan seksual. Sebagian besar laki-laki itu, urai Javid, keturunan Pakistan. Karena itu, campur tangan sang menteri dalam negeri jadi signifikan.

Lanjutkan Baca Artikel

Sebulan Multikulturalisme di Inggris: Januari 2019

oleh Soeren Kern  •  10 Agustus 2019

  • Lebih dari 5.000 orang menandatangani petisi memboikot tisu toilet Marks and Spencer. Mereka menuduh tisu itu bertuliskan kata-kata berhuruf timbul dalam Bahasa Arab untuk Allah. Marks and Spencer, dalam sebuah pernyataan di Twitter pun membantah klaim itu: "Motif tisu toilet lidah buaya, yang sudah kami jual selama lebih dari lima tahun, dikategorikan sebagai daun lidah buaya. Dan kami juga sudah selidiki dan konfirmasi hal ini dengan kami pemasok."

  • Majelis Parlemen Dewan Eropa mendesak Inggris supaya mengesahkan persyaratan hukum bagi pasangan Muslim untuk mendaftarkan perkawinan sipil mereka sebelum atau pada saat yang sama dengan upacara keagamaan mereka, karena pernikahan Syariah saja "jelas mendiskriminasi perempuan dalam perceraian dan kasus warisan."

  • Harian The Guardian melaporkan bahwa ada ratusan, mungkin ribuan gadis muda di Inggris dipaksa menjalani apa yang disebut sebagai menyeterika payudara (breast ironing), sebuah praktek di Afrika ketika ibu dan nenek sang gadis menggunakan besi panas untuk berulang-ulang memijat seluruh payudara sang gadis. Tujuannya, untuk "merusak lapisan payudara" sehingga memperlambat pertumbuhan payudara itu sendiri. Sasarannya untuk menghentikan perhatian yang tidak diinginkan dari laki-laki.

Atas permintaan Menteri Dalam Negeri Inggris Sajid Javid, Angkatan Laut Kerajaan mengerahkan kapal patroli, Januari lalu menuju Terowongan Inggris (English Channel) untuk menghambat migran menyeberang. Foto: Javid (tengah) bertemu dengan staf Pasukan Perbatasan Inggris di atas kapal HMC Searcher, 2 Januari 2018 lalu di Dover, Inggris. (Foto oleh Gareth Fuller – WPA Pool/Getty Images).

1 Januari. Seorang laki-laki Somalia berusia 25 tahun menikam tiga orang --- termasuk seorang polisi–di Stasiun Kereta Api (KA) Manchester. Produser berita BBC Sam Clark yang tengah menunggu trem ketika serangan itu terjadi melaporkan: "Kata-kata persis dari laki-laki itu mengatakan, 'Selama kalian masih terus membom negara-negara lain, maka "taik" semacam ini akan terus terjadi.' Tersangka juga meneriakkan "Allahu Akbar!" ketika dia diborgol masuk ke dalam mobil polisi. Wakil Kepala Polisi Russ Jackson bagaimanapun mengatakan polisi "tetap memperlihatkan pikiran terbuka terkait dengan motivasi serangan ini." Tersangka akhirnya ditahan berdasarkan Undang-Undang Kesehatan Mental.

Lanjutkan Baca Artikel

"Saya Tidak Tahu Mengapa Mereka Serang Desa Kami": Penganiayaan atas Umat Kristen, Februari 2019

oleh Raymond Ibrahim  •  6 Agustus 2019

  • Hanya dalam dua pekan pertama Februari, "sedikitnya 10 insiden vandalisme serta upaya menajiskan Gereja-gereja Katolik dilaporkan terjadi di Prancis,"---Catholicherald.co.uk, 15 Februari 2019; Prancis.

  • "Serangannya begitu mengerikan sehingga ginjal Haroon terobek menjadi dua bagian" akibat tikaman tambah seorang aktivis setempat.... Setelah tergesa-gesa dilarikan ke rumah sakit, "para dokter dipaksa untuk membuang ginjalnya." Seperti biasa terjadi dalam kasus-kasus seperti itu, polisi beserta otoritas setempat malah berupaya menekan keluarga itu agar tidak menggugat para pemuda Muslim itu.... – Persecution.org; Internasional Christian Concern; 21 Februari 2019, Pakistan.

  • "Sekelompok penculik bertemu di masjid guna mendikusikan para korban potensial. Dari dekat mereka mengamati rumah-rumah Kristen, mengawasi apa saja yang sedang terjadi sana. Berdasarkan pengamatan itu, mereka menebarkan jaringan laba-laba sekitar [para gadis]...Saya ingat seorang gadis Kristen Koptik dari keluarga kaya kenamaan di Minya. Dia disandera oleh lima lelaki Muslim....Mereka menahannya di sebuah rumah, menelanjanginya kemudian memfilmkannya dalam keadaan telanjang. Dalam video, salah seorang penyandera juga telanjang. Mereka mengancam hendak mengedarkan video itu kepada masyarakat jika sang gadis tidak mau menikahnya....Para penyandera menerima banyak uang. Polisi bisa membantu mereka dalam berbagai cara yang berbeda. Ketika dilakukan, mereka mungkin juga menerima sebagian upah finansial yang dibayarkan kepada para penyandera oleh organisasi-organisasi yang melakukan Islamisasi."---Kesaksian "G", Persecution.org, 19 Februari 2019, Mesir.

Bulan Februari menyaksikan peningkatan yang sangat signifikan terhadap penganiayaan umat Kristen yang disetujui negara di Iran. Di Kota Rasht (lihat gambar),Sembilan umat Kristen ditangkap. Salah seorang dari mereka adalah seorang pastor yang menggantikan pendahulunya yang ditangkap, namun ternyata dia sendiri juga tertangkap 10 Feruari lalu ketika sedang memimpin ibadat di gereja. (Sumber foto:Ahmadrizo/Wikimedia Common).

Pembantaian Umat Kristen

Nigeria: Sejumlah serangan teror Islam yang fatal menyasar umat Kristen terjadi sepanjang Februari:

Lanjutkan Baca Artikel

UU Penodaan Agama Belakang Layar Inggris

oleh Soeren Kern  •  4 Agustus 2019

  • Perdebatan panjang berporoskan pada ---yang paling akhir--- seputar upaya Kelompok Parlemen Semua Partai (APPG) soal Muslim Inggris. Kelompok itu adalah sebuah badan lintas partai. Terdiri dari sekitar dua puluhan anggota parlemen dalam Parlemen Inggris, mereka ingin melembagakan defenisi Islamofobia secara rasial dibandingkan dengan istilah-istilah keagamaan.

  • Defenisi yang diusulkan tentu saja ditentang oleh banyak warga Inggris. Termasuk oleh kalangan Muslim Inggris. Mereka memperingatkan bahwa defenisi akan efektif membuat Islam tidak boleh diteliti dengan cermat dan dikritik secara sahih.

  • "Di sini kita melihat ada pertentangan antara dua cara melihat masyarakat yang sangat berbeda: antara individualisme dan kolektivisme yang sangat luas. Masyarakat kolektivis bertujuan agar penguasa menetapkan bagaimana individu harus berperilaku... Jadi orang-orang yang berkuasa memberikan aturan perilaku yang terperinci (detailed code) sehingga mengancam menjatuhkan hukuman kepada orang yang tidak patuh. Jadi, mereka tidak menerima kritik sebagai alat untuk saling belajar apalagi untuk meminta kekuasaan untuk bertanggung jawab."--- David Green, The Spectator.

Dalam satu perdebatan parlementer, 16 Mei 2019, Menteri Urusan Komunitas Inggris James Brokenshire (gambar) menolak defenisi resmi Islamofobia dari Kelompok Semua Partai Parlemen. Defenisi itu dilukiskan sebagai "Undang-Undang Penodaan Agama Pintu Belakang." Alasannya, defenisi itu terlalu kabut dan "berpotensi berdampak terhadap kebebasan berbicara." Dikatakannya bahwa defenisi itu tidak sesuatu dengan UU Kesamaan Derajat pada 2010 lalu. (Foto oleh Chris J. Ratchlife/Getty Images).

Beberapa hari pasca-Pemerintah Inggris menolak defenisi resmi tentang fobia terhadap Islam (Islamofobia) yang lebih disukai olehnya, Dewan Muslim Inggris (BMC), sebuah organisasi Islam terbesar di Inggris meminta Partai Konservatif yang berkuasa untuk secara resmi menyelidiki persoalan fobia terhadap Islam (Islamofobia).

Perdebatan pannjang berporoskan pada upaya Kelompok Parlemen dari Semua Partai (APPG) soal Muslim Inggris. Kelompok itu adalah sebuah badan (formation) lintas partai. Mereka terdiri dari sekitar dua puluhan anggota parlemen dalam Parlemen Inggris yang ingin melembagakan defenisi Islamofobia secara istilah rasial dibandingkan dengan istilah-istilah keagamaan.

Nopember 2018 silam, APPG mengeluarkan laporan. Judulnya "Islamophobia Defined," (Fobia Terhadap Islam Dirumuskan). Laporan itu mengusulkan defenisi satu kalimat Islamofobia sebagai berikut;

Lanjutkan Baca Artikel

Jerman: Sarang Mata-Mata Timur Tengah

oleh Soeren Kern  •  3 Agustus 2019

  • Dengan mempertimbangkan indikator penting keamanan dalam negeri di Jerman, laporan itu memberikan suatu gambaran yang suram. Sekaligus memunculkan pertanyaan tentang sikap pasif pemerintah yang jelas ketika berhadapan dengan meningkatnya ancaman... Sementara itu masih ada Millî Görüş, sebuah gerakan kaum Islam radikal yang terkait dengan Erdoğan. Dalam Bahasa Turki, organisasi itu berarti "Visi Nasional." Punya sekitar 10.000 anggota di Jerman. Ia menjadi kelompok Islam radikal terbesar kedua negeri itu. Gerakan Salafi menjadi kelompok Islam radikal terbesar Jerman. Millî Görüş sangat menentang integrasi umat Muslim dalam masyarakat Eropa:

  • "BfV menemukan bahwa semua organisasi Islam yang aktif di Jerman mempunyai ide anti-Semit dan menyebarluaskannya dengan berbagai cara. Gagasan-gagasan ini menjadi tantangan besar bagi koeksistensi damai yang toleran di Jerman."--- Laporan Tahunan Kantor Federal untuk Perlindungan Konstitusi (Bundesamt für Verfassungsschutz, BfV), 2019.

  • "Tujuan HAMAS adalah mendirikan sebuah negara Islam radikal di seluruh kawasan Palestina---juga melalui perjuangan senjata. Sebuah makalah tentang strategi yang ditulis pada 2017 mengatakan: 'Perlawanan terhadap pendudukan dengan segala cara merupakan hak sah yang dijamin oleh hukum ilahi. Pada intinya terletak perlawanan bersenjata.' Hamas memahami 'Palestina' sebagai kawasan antara Laut Mediterania dan Yordania, juga mencakup kawasan Negara Israel. Negara-negara Barat seperti Jerman dilihat oleh Hamas sebagai tempat pelarian yang aman tempat organisasi itu memusatkan perhatian untuk mengumpulkan sumbangan, merekrut para pendukung baru serta menyebarluaskan propagandanya."---Laporan Tahunan Kantor Federal untuk Perlindungan Konstitusi (Bundesamt für Verfassungsschutz, BfV), 2019.

Dinas-dinas intelijen luar negeri, khususnya dari Turki, Suriah dan Iran telah meningkatkan aktivitas mereka di Jerman selama 12 bulan silam, demikian dikatakan sebuah laporan yang disampaikan 27 Juni lalu oleh Menteri Dalam Negeri Jerman Horst Seehofer dan Thomas Haldenwang, Kepala Badan Intelijen domestic Jerman BfV. Gambar: Seehofer (kiri) dan Haldenwang (kanan) dalam sebuah konperensi pers, 18 Juni 2019 dengan Kepala Kantor Kejahatan Federal Holger Muench. (Foto oleh Michele Tantussi/Getty Images).

Dinas-dinas intelijen luar negeri, khususnya dari Turki, Suriah dan Iran meningkatkan aktivitas mereka di Jerman selama 12 bulan silam, demikian dikatakan badan intelijen domestik Jerman, Kantor Federal untuk Perlindungan Konstitusi (Bundesamt für Verfassungsschutz---BfV). Tidak saja berusaha mengejar para penentang negeri mereka di antara berbagai masyarakat diaspora mereka yang besar di Jerman, berbagai dinas intelijen luar negeri itu menyasar kepentingan Yahudi dan Israel di negeri itu.

Pada saat yang sama, Hizbullah, Hamas dan Ikhwanul Muslim tampaknya beroperasi bebas tanpa takut dihukum di Jerman. Sementara itu, menurut BfV, jumlah kaum Salafi di negeri itu sudah berkembang tiga kali lipat selama beberapa tahun terakhir dan kini mempunyai lebih dari 11.000 anggota. Secara keseluruhan BfV memperkirakan bahwa Jerman menjadi rumah bagi lebih dari 26.000 kaum Islam radikal, suatu angka yang tidak diketahui soal siapa yang menjadi ancaman serangan langsung.

Lanjutkan Baca Artikel

"Jarang Dilaporkan Media Lagi"
Penganiayaan Umat Kristen, Maret 2019

oleh Raymond Ibrahim  •  31 Juli 2019

  • Pada pada 2018 saja, terjadi 1.063 serangan atas gereja atau simbol Kristen (seperti salib, ikon dan patung) yang terdaftar di Prancis.

  • "Saya pergi melapor kepada polisi dengan 8 halaman kertas penuh ancaman...Polisi menasehati saya untuk menghapus foto-foto saya dari website saya...Aneh kan? Saya tidak salah. Mengapa saya perlu menyembunyikannya. Saya hidup di negara yang bebas." — cruxnow.com. 14 Maret, 2019; Belanda.

  • Seorang perempuan Iran pencari suaka secara sarkastik diberitahu dalam surat penolakannya. Katanya, "anda tegaskan dalam Catatan Wawancara Pengajuan Suaka (AIR) Anda bahwa Yesus itu penyelamatmu. Tetapi, kemudian anda katakan bahwa Dia tidak dapat menyelamatkan anda dari Rezim Iran. Oleh karena itu dianggap bahwa anda tidak yakin dengan iman anda dan keyakinan anda pada Yesus itu setengah hati. " --- Harian Daily Mail, 24 Maret 2019; Kerajaan Inggris

Minggu, 17 Maret 2019. Beberapa orang membakar Gereja St. Sulpice di Paris, segera setelah misa Minggu siang usai. Insiden-insiden seperti ini sudah luas terjadi di Prancis. Rata-rata dua gereja dinajiskan setiap hari. Gambar: Gereja St. Sulpice. (Foto oleh Pascal Le Segretain/Getty Images).

Tatkala persoalan sampai pada aksi kekerasan antarkaum Muslim dan non-Muslim, berita-berita Bulan Maret didominasi oleh pembantaian di Christchurch di Selandia Baru. Di sana, pada Jumad, 15 Maret 2019, seorang lelaki Australia membunuh 51 umat Muslim di dua masjid.

Lanjutkan Baca Artikel

Uni Eropa: Menuju Eropa yang Adidaya
"Uni Eropa itu Demokrasi Semu"

oleh Soeren Kern  •  27 Juli 2019

  • Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen dicalonkan menjadi Presiden Komisi Eropa selanjutnya. Ia pun sudah meminta dibentuknya sebuah Negara Eropa Adidaya. "Tujuan saya adalah ada Amerika Serikat-nya Eropa --- berdasarkan model negara federal seperti Swiss, Jerman atau A.S.," urainya dalam sebuah wawancara dengan Harian Der Spiegel. Dia juga menyerukan terbentuknya sebuah bersama Pasukan Eropa.

  • Perdana Menteri Belgia Charles Michel dicalonkan untuk menjadi Presiden Dewan Eropa selanjutnya. Ia pernah mengatakan bahwa negara-negara Eropa Timur yang menentang pembagian beban dalam persoalan migrasi harus bersedia kehilangan sebagian hak mereka sebagai anggota UE. Ia juga pendukung kuat dari perjanjian nuklir Iran.

  • Menteri Luar Negeri Spanyol Josep Borrell dinominasikan untuk menggantikan Federica Mogherini sebagai Perwakilan Tinggi Uni untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan. Ia pendukung kenamaan para mullah di Iran. Borrell juga pernah mengatakan bahwa ia berharap Inggris meninggalkan Uni Eropa karena ia menjadi halangan untuk menciptakan sebuah Negara Eropa Adidaya.

  • Direktur Utama Dana Moneter Inrernasional (IMF) Christine Lagarde dicalonkan untuk menjadi Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) selanjutnya. Ia mendukung perang dagangan Presiden AS Donald J. Trump dengan Cina. "Presiden Trump punya pemikiran dalam soal property intelektual. Memang benar bahwa tidak seorangpun harus mencuri kekayaan intelektual supaya bisa bergerak maju...Pada titik-titik ini jelas, permainan harus berubah, aturan harus dihormati. "

Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen, dinominasikan menjadi Presiden Komisi Eropa, menyerukan pembentukan sebuah Eropa Adidaya (Superstate). "Tujuan saya, adalah ada Amerika Serikat ala Eropa," katanya dalam sebuah wawancara dengan Harian Der Spiegel. Dia juga menyerukan pembentukan Pasukan Eropa. Gambar: Von der Leyen (kiri) disambut oleh Presiden Komisi Eropa yang akan meninggalkan jabatanya, Jean-Claude Juncker, di markas pusat Komisi, 4 Juli 2019 in Brussels, Belgia. (Foto oleh Thierry Monasse/Getty Images).

Setelah berminggu-minggu ribut beradu pemikiran di ruang belakang, pada 2 Juli 2019 lalu, para pemimpin Eropa mencalonkan empat tokoh federalis untuk mengisi pekerjaan puncak Uni Eropa. Pencalonan itu harus disetujui oleh Parlemen Eropa. Nominasi ini jelas mengirimsinyal bahwa pendirian pro-Uni Eropa tidak bakal memperlambat pawainya yang tanpa henti menuju sebuah Negara Eropa Adidaya. Sebuah "Amerika Serikat" ala Eropa," meskipun sentiment anti-Uni Eropa menyeruak kuat di seluruh benua tersebut.

Berikut ini profil singkat para calon untuk empat posisi teratas Komisi Eropa berikutnya. Jabatan itu akan mulai diduduki sejak 1 November 2019 untuk jangka waktu lima tahun.

Ursula von der Leyen, Presiden Komisi Eropa

Lanjutkan Baca Artikel

Prancis: Emmanuel Macron yang Sebenarnya

oleh Guy Millière  •  21 Juli 2019

  • De Gaulle menolak berbicara tentang banyak warga Prancis yang berkolaborasi dengan pihak berwenang pendudukan Jerman. Dia menolak merayakan Hari H. Dia bahkan melanjutkan dengan mengklaim bahwa pendaratan Normandia "bukanlah awal dari pembebasan Prancis." Tetapi, "titik awal upaya Amerika untuk menjajah Prancis."

  • Macron melangkah lebih jauh. Pada 8 November 2018, ia mengatakan bahwa Prancis dan Jerman harus membentuk sebuah pasukan Eropa untuk "melindungi diri sendiri terhadap Rusia, Cina dan bahkan Amerika Serikat sekalipun".

  • Prancis juga mendukung Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pada saat organisasi itu jelas-jelas merupakan sebuah gerakan teroris, yang jelas-jelas mendedikasikan diri mau menghancurkan Israel dan membunuh orang Yahudi.... Macron melanjutkan kebijakan yang sama dengan para pendahulunya. Tak pernah ia melewatkan kesempatan untuk mengundang Pemimpin Palestina saat ini Mahmoud Abbas ke Istana Elysee. Tidak pernah lupa pula dia menciumnya.

  • Presiden Donald Trump kini tahu Macron. Ia pasti ingat bahwa selama kunjungannya ke Washington, 14 bulan silam, Macron tampaknya sangat bersahabat dengannya, tetapi kemudian, ketika di Kongres, Presiden Prancis itu justru menghabiskan seluruh pidatonya memperguncingkan keputusan mendasar yang dibuat oleh Pemerintahan Trump.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan, pada 8 Nopember 2018 lalu, bahwa Prancis dan Jerman seharusnya membangun sebuah pasukan Eroga guna "melindungi diri mereka sendiri dari Rusia, Cina bahkan Amerika Serikat." Foto: Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel dalam sebuah konperensi pers, 18 Nopember 2018 di Berlin, Jerman. (Foto oleh Michele Tantussi/Getty Images).

TANGGAL 6 JUNI 2019. Normandia, Prancis. Jenazah 9,387 militer Amerika yang tewas dikuburkan di Pemakaman dan Tugu Peringatan Amerika di Normandia. Sebanyak 9.238 salib Latin bagi umat Kristen serta 149 Bendera Bintang Daud bagi warga Yahudi disejajarkan di tebing jurang yang menghadap ke Pantai Omaha. Daerah pemakaman itu menjadi satu dari lima sektor di pantai Normandia tempat 132.000 tentara sekutu Barat mendarat 6 Juni 1944. Presiden AS Donald J. Trump menyampaikan sebuah pidato yang memuji semangat kepahlawanan, tugas, kehormatan dan kemerdekaan. Usai pidato, dia memberikan penghormatan kepada para pemuda Amerika yang mengorbankan nyawa mereka. Dia juga berbicara tentang prajurit lain yang bertempur ketika pendaratan Normandia berlangsung: para pemuda Kanada, Inggris, Prancis. Donald J. Trump dengan demikian, berperilaku sebagai seorang negarawan besar.

Lanjutkan Baca Artikel

"Eropa Bakal Tak Jadi Eropa Lagi"

oleh Guy Millière  •  7 Juli 2019

  • Di Kerajaan Inggris, kemenangan Partai Brexit – dengan 31,6% suara---menjadi prestasi mengagumkan. Ia dengan demikian, mensinyalkan bahwa jutaan masyarakat Inggris tetap rela meninggalkan Uni Eropa. Di sana, posisi partai "populis" mendapatkan pijakan kuat. Mereka mencanangkan perlunya membela kedaulatan nasional serta peradaban Eropa, sehingga menolak migrasi yang tidak terkendali serta berbagai petuah (diktats) dari para teknokrat Brussels.

  • Partai-partai yang memerintah Eropa selama beberapa dekade tidak memperoleh hasil yang memuaskan, tetapi dengan pengecualian yang jarang terjadi. Mereka tidak runtuh. Malah akan terus mendominasi Uni Eropa.

  • Kaum Hijau mungkin saja masih meraih lebih banyak pengaruh--- sekalian dengan konsekwensi-konsekwensinya. Bagi siapa saja yang membaca program-program kaum Hijau, jelas bahwa mereka pada dasarnya adalah kaum kiri bertopeng hijau lingkungan. Mereka mendukung imigrasi tanpa batas beserta multikulturalisme. Tampaknya mereka buta terhadap bahaya yang lahir dari Islamisasi Eropa sehingga tegas memusuhi upaya untuk membela peradaban Barat. Sampai pada soal perusahaan bebas dan pasar bebas. Kerapkali mereka lebih suka tidak ada pertumbuhan (zero growth). Banyak dari mereka mendukung visi perubahan iklim berbasis wahyu (apocalyptic) kemudian mengatakan bahwa kelangsungan umat manusia bakal segera dipertaruhkan jika Eropa tidak mengambil langkah-langkah drastis untuk "menyelamatkan planet." Mereka semuanya mendukung keputusan otoriter yang ditetapkan dari Brussels terhadap seluruh Eropa.

  • Besarnya pengaruh Partai Hijau terhadap Parlemen Eropa tentu berdampak; ia mempercepat kemundurannya sendiri. Itu terjadi karena ia pun semakin terdorong untuk menyerahkan lebih banyak kekuasaan kepada para anggota Komisi Eropa yang tidak dipilih publik sehingga secara bertahap menghapus energi nuklir dan minyak fosil. Apalagi, kebijakan yang masih lebih banyak mendukung imigrasi ke negeri itu sudah dipersiapkan.

(Sumber gambar: iStock)

Minggu sore, 26 Mei 2019. Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Dalam Negeri Italia, Matteo Salvini mengomentari hasil Pemilu Eropa. "Eropa baru sudah lahir." Partai pimpinannya, Partai Liga, memang baru saja menang dengan 34,3 persen suara pemilih. Partai-partai lain di Eropa yang didefenisikan sebagai partai "populist" pun menang. Di Hongaria, aliansi Partai Fidesz-KDNP (Aliansi Kewarganegaraan Hongaria dan Partai Rakyat Demokrasi Kristen) meraih 52,3% suara. Di Polandia, PiS (Partai Hukum dan Keadilan) memenangkan 45,4% suara.

Lanjutkan Baca Artikel

Afrika: Peningkatan Mengkhawatirkan Penganiayaan Umat Kristen

oleh Uzay Bulut  •  30 Juni 2019

  • "Di beberapa kawasan, tingkat dan sifat penganiayaan tidak diragukan lagi sudah mendekati terpenuhinya defenisi internasional tentang pembantaian massal (genosida) yang diadopsi PBB."---Tinjauan Independen atas dukungan FCO terhadap Penganiayaan Umat Kristen.

  • "Para penyerang memaksa umat Kristen masuk Islam. Tetapi pastor dan jemaat lain menolak. Mereka lalu perintahkan orang-orang itu berkumpul di bawah sebatang pohon kemudian menyita Alkitab dan telepon genggam mereka. Kemudian mereka memanggil para korban satu demi satu ke belakang bangunan gereka dan di sanalah mereka menembak mati orang-orang itu." --- World Watch Monitor, 2 Mei 2019.

  • Seperti laporan (dari Inggris) perlihatkan, penganiayaan terhadap umat Kristen dan non-Muslim lainnya bukan soal etnis, ras atau warna kulit dari para pelaku atau korbannya. Ini soal agama mereka.

  • Jika kejahatan ini tidak dihentikan, sangat mungkin bahwa nasib Benua Afrika akan seperti Timur Tengah. Dulunya kawasan itu mayoritas Kristen; kini justru umat Kristen menjadi minoritas kecil, sekarat, tak berdaya.

Menurut Lindy Lowry, ketika menulis untuk Yayasan Open Doors, "Di Propinsi North Kivu, di kawasan timur Republik Demokratik Kongo, para pemimpin Gereja menjadi sasaran pembunuhan. Dilaporkan, setidaknya 15 kelompok ekstremis bersenjata diketahui beroperasi di daerah itu." Gambar: Kota Beni, di North Kivu, tempat puluhan umat Kristen dibunuh dalam sebuah serangan 22 September 2018 lalu. (Sumber foto: Razdagger/Wikimedia Commons)

Menurut sebuah laporan sementara yang diterbitkan di Inggris "diperkirakan sepertiga populasi dunia menderita akibat penganiayaan agama dalam beberapa bentuk. Dan umat Kristen menjadi kelompok yang paling dianiaya."

Laporan itu dipesan oleh Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt dan dijalankan oleh Uskup Truro. Dijadwalkan akan diumumkan Paskah tahun ini. Meski demikian, menurut Uskup Philip Mounstephen, "skala dan hakikat dari gejala [penganiayaan umat Kristen] itu benar-benar menuntut waktu yang lebih lama," demikian menurut sebuah berita. Akibatnya, urai Uskup Mounstephen, temuan "sementara" yang dikeluarkan April itu tidak sempurna. Laporan akhir akan diterbitkan akhir Juni nanti.

Menurut bagian "tinjauan" dari "Tinjauan Independen atas dukungan FCO terhadap Penganiayaan Umat Kristen" yang sementara tertulis:

Lanjutkan Baca Artikel

"Pembantaian terhadap Umat Kristen"
Penganiayaan Umat Kristen oleh Ekstremis, April 2018

oleh Raymond Ibrahim  •  24 Juni 2019

  • Dua hari kemudian, rumah-rumah umat Kristen kawasan itu pun kembali diserang. "Beberapa warga Muslim desa mengadakan pertemuan di salah satu masjid. Mereka menghasut orang untuk menghantam kami. Usai pertemuan, mereka membakar sebuah toko kayu milik saudara saya beserta empat rumah lainnya, " urai pemukim Kristen lainnya. Polisi pun menanggapinya dengan menangkap lima warga Kristen ketika mereka berusaha memadamkan api."----Mesir.

  • Pada 27 April, pemerintah negeri itu menjadikan hukuman mati sebagai "perintah" (mandatory) bagi siapa saja yang menghina Agama Islam... Dan dalam kasus pernyataan-pernyataan yang menghina agama atau tindakan-tindakan yang melanggar kesucian atau susila, menurut hukum itu, hukuman mati kini jadi perintah."--- Suara Para Syuhadah (Voice of Martyrs), Mission Network News, Mauritania.

  • Seorang suster Katolik yang diusir keluar dari Irak oleh Negara Islam ditolak untuk mendapatkan visa dari negara yang memberikan status pengungsi kepada puluhan ribu laki-laki Muslim.---Kerajaan Inggris.

Seorang migran Muslim dari Pakistan merusak dua gereja di Jerman, termasuk Gereja Santo Petrus di Chemnitz, pada 23 April 2018. (Foto oleh: Zaufatsch/Wikimedia Commons)

Umat Muslim Membantai Umat Kristen

Pakistan: laki-laki Muslim membakar seorang wanita Kristen. Penyebabnya, karena wanita itu menolak masuk Islam serta menikahnya. Asma Yaqoob, 25 tahun, dengan tubuh nyaris 90 persen terbakar pun meninggal 5 hari kemudian. Menurut ayahnya, anak laki-lakinya dan dia sendiri tengah menunggu Asma, seorang pembantu rumah tangga di rumah majikannya, ketika dia menjawab ketokan di pintu rumahnya. Setelah beberapa saat, dia mendengar anak gadisnya berteriak kesakitan, " urainya. "Mereka pun berlarian keluar mau melihat apa yang terjadi."

Lanjutkan Baca Artikel

Melogiskan Pemilu Eropa

oleh Soeren Kern  •  23 Juni 2019

  • Hasil Pemilu mencerminkan pergeseran generasi sekaligus memperlihatkan bahwa politik Eropa semakin didominasi oleh benturan ideologis atas dua masalah raksasa yang saling bersaing. Yaitu, antara perjuangan memerangi perubahan iklim yang diperjuangkan oleh para globalis pro-UE dan oposisi terhadap migrasi massal dan multikulturalisme yang dipimpin oleh kaum populis nasional anti-UE.

  • "Dari lima partai politik individual (individual party) dengan jumlah suara terbesar dalam Parlemen Eropa yang baru, empat partai itu adalah partai anti-Uni Eropa." — Ivan Krastev, analis politik Bulgaria, Harian The New York Times.

  • "Lembaga sosial sudah lama didominasi oleh simpatisan Kelompok Hijau ---khususnya kalangan media dan pendidikan juga gereja. Bahwa 37% pemilih pertama kini memilih Kelompok Hijau juga merupakan dampak dari kenyataan bahwa di sekolah-sekolah, kredo hijau dipropagandakan sebagai kepastian pendidikan modern...Dengan demikian, pengetahuan tentang apa itu ekonomi pasar/kapitalisme harus benar-benar nyaris hilang di Jerman." --- Rainer Zitelmann, sejarahwan Jerman dalam The European.

Partai moderat kiri dan moderat kanan arus utama, khususnya di Inggris, Prancis dan Jerman, tidak berkinerja baik dalam Pemilu Parlemen Eropa yang diselenggarakan antara 23-26 Mei 2019 lalu. Dua partai moderat tradisional malah kehilangan suara mayoritas dalam Parlemen Eropa selanjutnya. (Foto oleh Sean Gallup/Getty Images).

Partai-partai moderat kiri dan ekstrim kanan arus utama, khususnya di Inggris, Prancis dan Jerman berkinerja buruk dalam Pemilu Parlemen Eropa, 23-26 Mei lalu. Dua partai (duopoly) moderat tradisional kehilangan mayoritas suara dalam Parlemen Eropa mendatang. Anggota parlemen baru mulai menduduki jabatannya 2 Juli nanti dan berada di sana selama lima tahun, sampai 2024.

Banyak kevakuman politik peninggalkan apa yang disebut sebagai partai-partai warisan (legacy parties) diisi oleh Kaum Hijau (Greens) dan kaum liberal pro-Uni Eropa. Akibatnya, partai-partai pro-Uni Eropa itu bakal mengendalikan sekitar 75% kursi dalam 750 kursi Parlemen Eropa.

Lanjutkan Baca Artikel

Sebulan Multikulturalisme di Jerman: Januari 2019

oleh Soeren Kern  •  16 Juni 2019

  • Kantor Federal Urusan Migrasi dan Pengungsi melaporkan bahwa hanya 35% migran yang tiba di Jerman sejak tahun 2015 lalu yang sudah mendapatkan pekerjaan.

  • Dua warga Jerman yang berusia 16 tahun yang terdorong keluar kereta itu tewas diterjang kereta api yang sedang melaju ke arah mereka. Media Jerman bukan saja meremehkan latar belakang imigrasi para terduga dengan melukiskan mereka sebagai pribumi Jerman, tetapi juga melaporkan bahwa kedua remaja yang tewas itu memang "terjatuh ke atas rel api."

  • "Istilah kawasan atau nasional seperti 'Islam Jerman,' Islam Perancis,' 'Islam Belgia' atau 'Islam Eropa' itu bertentangan dengan universalitas Islam, yang menerangi semua masa dan tempat pada masa lalu."--- Dari pernyataan penutup "Pertemuan Kedua Kaum Muslim Eropa" yang diselenggarakan di Masjid Pusat Cologne.

Seorqang migran Afghanistan berusia 25 tahun dibebaskan dari tuduhan memperkosa seorang wanita cacat berusia 50 tahun di Nuremberg, Jerman. Sang wanita adalah penampung pengungsi. Dia mengaku tidak bisa membela diri karena dia menderita kekejangan otot pada salah satu sisi tubuhnya. Pengacara warga Afghanistan menuntut terdakwa dibebaskan. Menurut dia, hubungan seks itu terjadi karena suka sama seuka. Pengadilan Distrik Nuremberg-Fürth juga memihak terdakwa, yang dilepaskan dan kini bebas. (Sumber fot: Manfred Braun/Wikimedia Commons)

1 Januari. Empat remaja migran — tiga remaja Afghanistan dan satu remaja Iran— menyerang lebih dari sepuluh pelintas yang lewat di Amberg. Sebanyak 12 orang berusia antara 13 dan 42 tahun terluka dalam serangan itu. Seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun dirawat di rumah sakit karena terluka kepalanya. Menteri Dalam Negeri Bavaria Joachim Herrmann mengatakan keempat remaja pelaku itu tidak bisa dideportasi karena alasan hukum:

"Siapa saja yang secara diskriminatif memukul pelintas jalan yang tidak terlibat memperlihatkan bahwa dia tidak mencari perlindungan dalam masyarakat kita. Para pelaku mabuk itu tidak bisa mengharapkan kita memahami mereka di negeri kita, kecuali hanya penerapan kekuasaan hukum yang keras. Akhir-akhir ini, deportasi secara legal tidak bisa dilakukan dalam kasus apapun. Kita sedang bekerja keras untuk mengubahnya."

Lanjutkan Baca Artikel

"Qur'an-lah Yang Harus Dibaca"
Penganiayaan Umat Kristen oleh Kaum Ekstremis, Mei 2018

oleh Raymond Ibrahim  •  26 Mei 2019

  • "Gereja dan umat Kristen secara pribadi menghadapi semakin meningkatnya larangan-larangan beragama selama bulan-bulan terakhir ini, sehingga muncul keprihatinan bahwa tekanan-tekanan itu mensinyalkan meningkatnya kampane aksi yang terkoordinasi melawan gereja dari pihak yang berwenang yang memerintah."--- Middle East Concern, Aljazair.

  • Seorang laki-laki Muslim memasuki katedral lalu mengancam akan meledakkannya karena mengkotbahkan Injil dan bukan Al-Qur'an.---Prancis.

  • "Pemerintah Indonesia harus merevisi UU Penodaan Agama negeri itu...Untuk menghormati kebebasan beragama seperti yang diabadikan dalam Konstitusi Indonesia, pemerintah harus menghormati semua agama dan menghentikan kriminalisasi umat Kristen ketika mereka hanya sekedar menjalankan hak mereka demi kebebasan berbicara."---- International Christian Concern, Indonesia.

Tanggal 19 Mei 2018. Empat laki-laki bersenjata memberondongi Gereja Katolik Santo Michael Malaekat Agung di Grozny, Ibukota Republik Chechnya Rusia yang mayoritas Muslim. Insiden itu menewaskan tiga orang, yaitu, seorang pengunjung gereja serta dua polisi. Para penyerang juga tewas dalam bentrokan senjata dengan pasukan keamanan. (Sumber foto: Alexxx1979/Wikimedia Commons)

Kaum Ekstremis Bantai Umat Kristen dalam Gereja

Indonesia: Enam bom bunuh diri yang dilancarkan oleh satu keluarga Muslim menyerang tiga gereja, 13 Mei 2018 lalu selama Ibadat Minggu pagi. Sedikitnya 11 jemaat meninggal dunia dalam serangan itu. Para pelaku bom bunuh diri terdiri dari seorang ayah, ibu bersama empat anaknya, dua anak laki-laki dan dua anak perempuan, berusia 9, 12, 16 dan 18. Menurut berita:

"Lebih dari 40 orang terluka dalam berbagai ledakan itu. Serangan pertama yang menewaskan empat orang, termasuk satu atau lebih pelaku bom bunuh diri terjadi di Gereja Katolik Roma, Santa Perawan Maria...Ayah keluarga itu yang diduga membawa bom bunuh diri meledakan bom mobil selama melakukan serangan. Insiden itu diikuti oleh ledakan kedua di sebuah Gereja Kristen di Jalan Diponegoro (Surabaya) sehingga menewaskan dua orang. Dalam serangan ketiga, di Gereja Pentekosta, dua orang lagi tewas, urai polisi."

Lanjutkan Baca Artikel

Doktrin Monroe untuk Venezuela

oleh Jiri Valenta  •  25 Mei 2019

  • "Mustahil bahwa kekuatan-kekuatan sekutu harus memperluas system politik mereka kepada bagian manapun dari kedua benua ini tanpa membahayakan perdamaian dan kebahagiaan kita. Atau tidak ada yang percaya bahwa para saudara selatan kita, jika dibiarkan kepada mereka sendiri, bakal mengadopsinya selaras dengan kemauan mereka sendiri."---Presiden James Monroe, 1823.

  • "Nasib negara-negara kita tidak akan didikte oleh kekuatan-kekuatan asing; tetapi akan dibentuk oleh masyarakat yang menyebut bagian dunia ini sebagai rumah mereka. Sekarang ini, dengan bangga kita proklamasikan agar didengar semua orang: Doktrin Monroe itu hidup dan segar bugar."--- Penasehat Keamanan Nasional John R. Bolton, Miami, Florida, 17 April 2019.

  • "Gerakan bagi kemerdekaan di Venezuela mengungkapkan bahwa masa senjakala sosialisme memang sudah tiba di bagian bumi kita."---Presiden Donald Trump, 19 Februari 2019, di Florida Internasional University.

  • Pada saat yang bersamaan, mungkin ide bagus untuk mengawasi Ukraina. Di negeri itu, Putin tengah menawarkan pasport jalur cepat Rusia, seperti yang dilakukannya sebelum menginvasi Ossetia Selatan di Georgia serta Abkhazia pada 2008 dan Krimea pada 2014. Mungkin bisa dinasehatkan bagi AS supaya membantu Ukraina memperkuat pertahanan mereka di sana, khususnya seputar Kota Mariupol.

  • Mungkin juga membantu untuk menjelaskan kepada masyarakat Amerika, apa yang dipertaruhkan bagi Bagian Dunia Barat di Venezuela...

Dalam keadaan apa pun, Rusia tidak boleh membawa lebih banyak lagi pasukan, pesawat, atau perlengkapan perang ke Venezuela melalui udara atau laut. Foto: Presiden Rusia Vladimir Putin menyambut Nicolás Maduro di Moskow, 2 Juli 2013. (Sumber gambar: kremlin.ru).

Dalam pidatonya kepada para veteran perang Teluk Babi di Miami, Florida, 17 April lalu, Penasehat Keamanan Nasional AS John Bolton menjelaskan langkah-langkah Pemerintah Trump terhadap Venezuela. Dikatakannya, bahwa langkah-langkah itu menjadi peringatan kepada Rusia dan pihak-pihak lain yang menawarkan bantuan militer kepada rejim diktator Nicolás Maduro:

"Kawasan yang luar biasa ini [Amerika Latin] harus tetap bebas dari despotisme internal dan dominasi eksternal...Nasib negara-negara kita tidak akan didikte oleh kekuatan-kekuatan asing, tetapi akan dibentuk oleh masyarakat yang menyebut bagian dunia ini sebagai rumah mereka. Sekarang ini, dengan bangga kita proklamasikan agar didengar semua orang: Doktrin Monroe itu hidup dan segar bugar.

Inti Doktrin Monroe dapat digambarkan dengan pernyataan Presiden James Monroe pada 1823:

Lanjutkan Baca Artikel