Analisa dan Komentar Terbaru

Warga Palestina: "Mafia yang Menghancurkan"

oleh Khaled Abu Toameh  •  29 September 2016

  • Para pejabat Hamas dan Otoritas Palestina (PA) mengubah pelayanan kesehatan menjadi bisnis yang memberi ratusan ribu dolar per tahun kepada mereka. Praktek ini memungkinkan pejabat tinggi di Tepi Barat dan Jalur Gaza menggelapkan jutaan shekel dari anggaran PA.

  • Pada 2013 misalnya, PA menghabiskan lebih dari setengan triliun shekel untuk melunasi tagihan perawatan medis rakyat Palestina yang dirujuk ke rumah sakit di luar Palestina. Meski demikian, tampaknya tidak seorang pun tahu bagaimana persisnya uang dialokasikan dan apakah para penerima rujukan benar–benar membutuhkan perawatan medis. Sebagai contoh, pada satu kasus, kelihatannya sekitar 113 pasien Palestina dirawat di rumah sakit di Israel dengan biaya 3 juta shekel, namun tidak ada dokumentasi apapun dari kasus ini. Identitas pasien pun bahkan tetap tidak diketahui.

  • Hajer Harb, seorang jurnalis Palestina pemberani dari Jalur Gaza, baru-baru ini membuat laporan investigasi mengenai korupsi pejabat kesehatan di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Tindakannya itu menyebabkan dia berulang kali diinterogasi oleh Hamas. Rejim PA, untuk bagiannya, tidak terlalu senang dengan terungkapnya skandal tersebut.

  • Rumah sakit di Gaza akan punya peralatan lebih baik jika saja Hamas menggunakan dana yang ada untuk membangun pusat medis bukan terowongan untuk menyelundupkan senjata dari Mesir agas bisa menyerang Israel.

Seorang laki–laki Palestina dipindahkan menuju mobil ambulans Israel di Penyeberangan Erez yang berada di antara Jalur Gaza dan Israel, dalam perjalanannya menuju rumah sakit di Israel, 29 Juli 2014. (Sumber foto: Israel Foreign Ministry)

Pertanyaan: Bagaimana pasien Palestina memperoleh ijin untuk mendapatkan perawatan medis di Israel dan rumah sakit lain di seluruh dunia? Jawabannya: dengan menyuap pejabat senior Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Mereka yang tidak mampu menyuap dibiarkan mati di rumah sakit yang kekurangan peralatan dan petugas terutama di wilayah Jalur Gaza.

Namun tampaknya beberapa warga Palestina punya derajat lebih tinggi dibandingkan yang lain. Maksudnya, mereka yang hidupnya tidak dalam bahaya namun berpura–pura sedang dalam bahaya. Kalangan ini mencakup para pengusaha, pedagang, mahasiswa serta kerabat para pejabat tinggi pemerintah Palestina dan Hamas yang mendapat ijin bepergian ke Israel dan negara lain dengan dalih memerlukan penanganan darurat medis.

Lanjutkan Baca Artikel

Perubahan Taktik Presiden Iran Rouhani di PBB

oleh Majid Rafizadeh  •  29 September 2016

  • Dengan mengkritik dan mengecam AS karena tidak menghormati persyaratan perjanjian, Rouhani sebetulnya berniat mengeksploitasi titik lemah Presiden Obama, sebagaimana sudah dilakukan oleh tim negosiasinya selama ini yaitu dengan membangkitkan perasaan takut dalam diri Obama bahwa Teheran mungkin saja keluar dari perjanjian nuklir---sebuah langkah yang memperlihatkan bahwa perjanjian itu gagal. Seperti biasa, taktik ini akan berhasil menekan pemerintah AS untuk memberikan lebih banyak "wortel" geopolitik dan ekonomis kepada Teheran termasuk mengikuti kebijakan dengan Iran untuk menyetujui konsesi yang bahkan jauh lebih banyak lagi.

  • Perubahan taktis Rouhani bermaksud memperkuat cita-cita revolusiner anti-Amerikanisme Iran yang sudah kuat berurat akar, menyenangkan hati Khamanei dan IRGC serta memastikan masa kepresidenannya yang kedua.

Presiden Iran Hassan Rouhani berbicara di Sidang Umum PBB, 26 September 2013. (Sumber foto: president.ir)

PRESIDEN HASSAN ROUHANI ---beserta Menteri Luar Negeri Iran Mohamad Javad Zarif menghadiri sesi ke-71 Dewan Umum PBB di New York pekan ini.

Berdasarkan berbagai perkembangan terakhir, semua tanda mengarah kepada upaya Rouhani untuk melakukan perubahan taktik dengan pesan dan nada yang sangat berbeda tahun ini.

Dalam berbagai sesi Dewan Umum PBB sebelumnya, Rouhani beserta tim memanfaatkan cara diplomatik supaya bisa meminta Dewan Keamanan PBB mencabut sanskinya atas Iran. Dia memuji keberhasilan perjanjian nuklir, sumbangannya bagi perdamaian serta kemampuannya untuk mencegah potensi ketegangan dan ledakan yang lebih besar di kawasan. Tujuan Iran, dengan demikian, tercapai. Beberapa bulan kemudian, ketika semua empat putaran sanksi Dewan Keamanan dicabut, miliaran dolar serta kisah untuk menutup-nutupinya pun bermunculan. Semua itu pemberian tanpa biaya dari Amerika Serikat.

Lanjutkan Baca Artikel

Tunisia: Warisan Budaya Benci

oleh Tharwa Boulifi  •  22 September 2016

  • "Saya benci orang Kristen dan Yahudi. Tidak tahu karena apa. Saya tidak punya alasan yang jelas untuk membenci mereka, tetapi selalu saya dengar mama membicarakan hal buruk tentang mereka. Dia juga benci mereka dan ini sebabnya mengapa saya benci mereka, saya kira. Mama selalu beri tahu saja bahwa Muslim adalah umat kesukaan Allah. "---F., seorang gadis 15 tahun.

  • "Mereka katakan bahwa kaum non-Muslim pantas mati; kita seharusnya tidak boleh kasihan kepada mereka. Bagaimanapun, mereka akan terbakar di neraka." --- urai M., seorang anak berusia 16 tahun.

  • Orang-orang yang tidak membaca itu cenderung takut terhadap hal-hal yang tidak mereka ketahui dan ketakutan ini bisa berubah menjadi kecurigaan, agresi dan benci. Orang-orang itu perlu mengisi ruang kosong itu untuk menghapuskan perasaan tidak nyaman, sehingga beralih kepada terorisme supaya bisa menciptakan tujuan dalam hidup mereka: membela Islam.

  • Karena Karena sebagian besar warga Tunisia tidak membaca, mereka banyak menghabiskan waktu menonton televisi. "Setelah menonton 'Hareem Al Sultan,' (Harem sang Sultan) saya ingin menjadi salah seorang gundiknya. Saya ingin hidup pada masa Kekaisaran Ottoman. Ingin saya seperti mereka,"urai S., seorang gadis berusia 14 tahun.

"Hareem Al Sultan" (Harem Milik Sultan), sebuah serial TV Turki sangat popular di Tunisia. Serial TV itu memperlihatkan betapa gundik cantik berupaya menggoda Sultan dengan berdansa, menyanyi serta patuh dan berhikmat --- semua ini bisa mendorong para gadis untuk bergabung dalam jihad al-nikah ("jihad seks"), di mana para gadis menyediakan pelayanan seks bagi para jihadis.

Pew Research Center, menerbitkan sebuah laporan 2013 lalu berjudul, "The World's Muslims, Religion, Politics and Society" (Dunia Muslim, Agama dan Politik serta Masyarakatnya). Kajian tersebut menyoroti perilaku dan pendapat masyarakat Muslim di seluruh dunia berkaitan dengan agama serta dampaknya terhadap politik, etika dan ilmu pengetahuan.

Lanjutkan Baca Artikel

"Spiral Kematian" Venezuela

oleh Susan Warner  •  20 September 2016

  • Pertanyaan mengenai mampu tidaknya paham Sosialisme diterapkan menjadi sistem ekonomi yang efektif telah luas dibahas ketika Margaret Thatcher mengungkapkan persoalan itu kepada Partai Buruh Inggris: "Saya kira, sudah lama mereka membuat kekacauan finansial terbesar yang pernah dibuat oleh pemerintahan manapun di negara ini. Dan pemerintahan Sosialis umumnya memang membuat kekacauan. Mereka selalu menghabiskan dana milik orang lain. Itu karateristik utama mereka. Kemudian mereka mulai menasionalisasikan semuanya, dan masyarakat yang tidak suka dengan nasionalisasi semakin banyak, sehingga kini mencoba mengendalikannya segala-galanya dengan sarana-sarana lain."

  • Ada banyak laporan menghawatirkan tentang masyarakat yang mengantri sepanjang hari di pusat perbelanjaan, hanya untuk menemukan bahwa pasokan makanan yang ditunggu – tunggu tidak pernah tiba dan semua rak toko kosong.

  • Ada berbagai cerita mengerikan tentang orang – orang yang putus asa membantai binatang di kebun binatang supaya bisa mendapatkan satu – satunya makanan yang mereka perlukan dalam sehari. Binatang peliharaan pun dianggap sumber makan yang sangat dibutuhkan.

  • Sayangnya, ketika kondisi semakin parah Presiden Maduro justru bersikeras untuk terus menjalankan kebijakan dan filosofi "Sosialisme Bolivarian" yang telah terbukti gagal. Pada saat yang sama, ia mengalihkan pembahasan tentang krisis dengan menuding pihak-pihak yang dianggapnya sebagai "musuh" Venezuela seperti Amerika Serikat, Arab Saudi dan sebagainya.

  • Satu lusin telur terakhir kali dilaporkan dijual dengan harga $150 (atau sekitar Rp 1,9 juta). Dana Moneter Internasional memprediksi inflasi di Venezuela akan mencapai 720% tahun ini.

Kelaparan, hiperinflasi, pedagang pasar gelap, teroris sekaligus penjual narkoba serta pelaku pencucian uang di Venezuela merupakan tanda buruknya peninggalan pemerintahan Presiden Chavez (kiri) dan Maduro (kanan).

Bagi banyak masyarakat Venezuela, ekonomi, sosial dan politik negara mereka sedang hancur tercerai berai sangat cepat.

Negara peserta OPEC yang hampir hancur ini dahulu pernah diklaim negara termakmur di Amerika Latin. Namun kekurangan makanan, air bersih, listrik, obat dan suplai kebutuhan rumah sakit yang sangat parah menegaskan perlunya skenario langsung penanganan maraknya penjahat jalanan di lingkungan miskin negara itu.

Kini, kepala keluarga masyarakat kelas menengah Venezuela yang dulu hidup nyaman putus asa berjuang untuk memberi makan keluarganya – terkadang mengorek sampah untuk mencari makanan yang masih layak dimakan. Sebanyak 75% mayoritas masyarakat Venezuela yang kurang beruntung menderita kemiskinan ekstrim dan dilaporkan hampir kelaparan.

Kegelapan tengah melanda "revolusi Bolivarian" ala Hugo Chavez yang dulu begitu terkenal. Padahal, sampai beberapa waktu lalu sejumlah pakar kebijakan berpikir kemakmuran akan terus berlangsung di negeri ini.

Lanjutkan Baca Artikel

Eropa Perdebatkan Burkini

oleh Soeren Kern  •  17 September 2016

  • "Kami akan menjajah kalian dengan hukum demokrasi kalian." --- Yusuf al-Qaradawi, ulaman Islam Mesir dan Ketua Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional.

  • "Pantai-pantai, seperti tempat publik apapun, harus dilindungi dari klaim-klaim keagamaan. Burkini adalah proyek anti-sosial politik yang diarahkan secara khusus untuk menaklukan wanita... Ini tidak sesuai dengan nilai-nilai Prancis dan Republik. Berhadapan dengan provokasi semacam ini, Republik harus membela diri." ---Perdana Menteri Prancis Manuel Valls.

  • Menurut Walikota Villeneuve-Loubet, keputusan pengadilan yang menentang larangan atas burkini, "jauh daripada upaya untuk menyenangkan hati [kalangan Muslim], malah sebaliknya meningkatkan semangat dan ketegangan masyarakat.'

  • "Pantai disamakan dengan jalan, di mana mengenakan simbol-simbol keagamaan yang sok pamer juga ditolak oleh dua pertiga masyarakat Prancis."--- Jérôme Fourquet, Direktur Institut Opini Publik Prancis (Ifop).

Perdana Menteri Prancis, Manuel Valls baru-baru ini menyatakan bahwa "Burkini merupakan sebuah proyek anti-sosial politik yang diarahkan secara khusus untuk menaklukan wanita. Di balik burkini ada pemikiran bahwa wanita, karena hakikatnya adalah wanita sundal, tidak murni dan bahwa mereka seharusnya benar-benar tertutupi. Ini tidak sesuai dengan nilai-nilai Prancis dan Republik. Berhadapan dengan provokasi semacam ini, Republik harus membela diri." Gambar atas: Empat polisi di Nice, Prancis, digambarkan memaksa seorang wanita untuk melepaskan bagian pakaiannya karena pakaiannya melanggar larangan memakai burkini yang diterapkan kota itu, pada 23 Agustus. Mereka juga memberikan denda kepada karena pelanggaran itu. (Sumber fotoL suntingan video NBC News).

Kota Nice, Prancis mencabut larangan kontroversial atas burkini kaum Muslimah setelah sebuah pengadilan memutuskan larangan itu sebagai melawan hukum. Larangan atas pakaian renang yang menutup seluruh tubuh tersebut juga sudah dibatalkan di Kota Cannes, Fréjus, Roquebrune dan Villeneuve-Loubet,tetapi tetap dijalankan di sedikinya 25 kota pantai Prancis lainnya.

Perdebatan seputar burkini--- kata baru yang memadukan kata burka dan burkini---- memantik perdebatan panjang seputar kode berpakaian yang Islami di Prancis dan negara-negara Eropa sekular lainnya (lihat appendiks di bawah) ini.

Lanjutkan Baca Artikel

(Wanita) Palestina Siluman

oleh Khaled Abu Toameh  •  12 September 2016

  • Bukannya menunjuk para kandidat perempuan dengan nama serta memasang foto mereka, daftar Pemilu Palestina hanya menggunakan istilah-istilah "isteri dari" atau " saudari."

  • "Memalukan jika ada daftar Islami, nasional atau independen yang menghapuskan nama para wanita. Jika tidak ingin mengakui nama, bagaimana mereka bisa menerima peran serta wanita setelah mereka terpilih? --- Nadia Abu Nahleh, aktivis perempuan Palestina.

  • Dr. Walid Al-Qatati, seorang penulis dan analis politik yang mengkhususkan diri dalam persoalan Arab dan Islam mengatakan bahwa langkah itu mengingatkannya pada undangan pernikahan yang dikirimkan tanpa menuliskan nama pengantin wanita.

  • Tatkala para wanita Palestina melancarkan serangan melawan Bangsa Israel, masyarakat Palestina memuja-puja mereka sebagai pahlawan. Nama dan foto para wanita itu pun dipasang di seluruh papan pengumuman agar semua bisa melihat dan menghargainya, Namun tampak ketika para wanita ingin bekerja untuk hidup mereka sendiri dan bukannya untuk mati, identitas mereka malah dianggap tidak cocok untuk konsumsi publik.

Tatkala para wanita Palestina melancarkan srangan melawan Bangsa Israel, masyarakat Palestina memuja-puja mereka sebagai pahlawan. Kemudian nama dan foto para wanita itu dipasang di seluruh papan pengumuman agar semua bisa melihat dan menghargainya, Namun ketika para wanita ingin bekerja untuk hidup mereka sendiri dan bukannya untuk mati, identitas mereka malah dianggap tidak cocok untuk konsumsi publik.

Pemilu lokal Palestina dijadwalkan diselenggarakan 8 Oktober mendatang. Namun, ada upaya yang membuat kaum wanita dan berbagai faksi Palestina marah. Yaitu ketika sejumlah kalangan yang mendaftarkan nama-nama orang yang bersaing memutuskan untuk menghapuskan nama dan foto para kandidat wanita dari dalam daftar.

Bukannya menunjuk para kandidat perempuan dengan nama serta memasang foto mereka, daftar Pemilu Palestina hanya menggunakan istilah-istilah "isteri dari" atau " saudari."

Para pengkritik mengecam. Mereka menganggapnya sebagai "tanda-tanda kemunduran dan sikap ekstrim serta fanatik." Warga Palestina lain bergerak lebih jauh lagi. Mereka membandingkan penghapusan nama dan foto kandidat wanita dari daftar itu dengan praktek pembunuhan bayi pada masa pra-Islam (wa'd)

Lanjutkan Baca Artikel

Iran: Kembalinya Ahmadinajad dkk.

oleh Majid Rafizadeh  •  11 September 2016

  • Pemimpin tertinggi dan kader senior Korp Pengawas Republik Iran pun berbicara sangat kritis dan lantang mengenai masalah itu. Mereka takut ada upaya diplomatik dan politik untuk saling mendekat yang lebih jauh antara AS dan Iran kini, sehingga mereka bisa mendapatkan sasaran mereka untuk mencabut empat putaran penting sanksi Dewan Keamanan PBB.

  • Setelah perjanjian nuklir dijalankan, polling-polling memperlihatkan bahwa 63% rakyat Iran berharap bisa melihat peningkatan ekonomi serta standar hidup mereka dalam kurun waktu satu tahun. Tetapi, akhir-akhir ini, dalam sebuah polling baru, 74% rakyat Iran mengatakan tidak ada perbaikan ekonomi selama tahun silam.

Ahmadinejad (kiri) bisa benar-benar menjadi pesaing keras Presiden Hassan Rouhani yang sedang berkuasa (kanan) dalam Pemilu Presiden 2017. Dia, Ahmadinejad agaknya lebih memungkinkan untuk dipilih oleh Pemimpin Tertinggi beserta kalangan garis keras.

Mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad mengatakan, dia ingin "merumuskan kembali cita-cita revolusioner" yang dibangun oleh pemimpin revolusi Islam Iran pada 1979, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Karena itu, dia bakal meluncurkan kampanyenya untuk turut berlomba dalam Pemilu Presiden Iran mendatang, Februari 2017.

Ahmadinejad pernah sangat terkenal. Pidato-pidatonya membakar semangat sekaligus provokatif, termasuk di dalam upayanya untuk menyangkal adanya Holocaust, atau pembantaian atas jutaan kaum Yahudi selama Hitler dan Nazi berkuasa di Jerman. Meski demikian, pada akhir masa kepresidenannya dari 2005 hingga 2013, angka dukungan rakyat atasnya sangat rendah. Dia dengan demikian, dengan cepat mengusir sebagian besar konstituennya di seluruh penjuru spektrum politik, termasuk para pemimpin garis keras kenamaan. Dia juga menjadi Presiden Iran pertama sejak 1979 yang diminta parlemen (Majelis) untuk menjawab sejumlah pertanyaan berkaitan dengan aktivitas dan kebijakannya.

Lanjutkan Baca Artikel

Palestina: Tatkala Gunung Api Meletus

oleh Khaled Abu Toameh  •  9 September 2016

  • Otoritas Palestina dengan demikian membayar harga karena pernah berjuang, mendanai serta menghasut anggota gang dan milisi yang hingga akhir-akhir ini dipuja-puji oleh banyak warga Palestina sebagai "pahlawan" serta "pejuang perlawanan."

  • Mimpi Hamas untuk memperluaskan kendali kekuasaannya di Tepi Barat kita tampak jauh lebih realistis dibanding sebelumnya --- kecuali jika Mahmud Abbas bangkit dari tidurnya lalu menyadari bahwa dia sudah melakukan kesalahan besar dengan memerintahkan Pemilu lokal dan kotamadya.

  • Darah yang tertumpah di Nablus dan kota-kota Palestina dan desa lainnya adalah bukti positif bahwa Abbas sedang kehilangan kendali atas Tepi Barat, sama seperti kehilangan Jalur Gaza yang direbut oleh Hamas pada 2007 lalu. Dalam sebuah pertemuan darutat yang diselenggapakan pada 25 Agustus di Nablus, semua faksi dan tokoh Palestina sepakat bahwa tidak mungkin untuk menyelenggarakan pemungutan suara dalam situasi yang kini berkembang.

Pada 18 Agustus dua polisi Otoritas Palestina tewas terbunuh dalam sebuah bentrokan senjata dengan sekelompok orang bersenjata di Nablus (kiri). Pada Bulan April tahun ini, sebuah bentrokan bersenjata meledak antara polisi Otoritas Palestina dan anggota klan Jaradat di kamp pengungsi Jenin (kanan). Bentrokan dimulai ketika polisi berupaya menangkap seorang anggota klan.

Beberapa jam setelah petugas keamanannya membantai seorang tahanan tanpa proses hukum, Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas mendorong para pengusaha Palestina yang tinggal di luar negeri untuk mendukung ekonomi Palestina dengan melakukan investasi di Palestina. Otoritas Palestina (PA), tegasnya, "berjuang untuk memberikan perasaan aman dan keselamatan kepada penduduk supaya bisa mendorong iklim investasi."

Menurut Abbas, "kawasan Palestina kini aman dan stabil. Kami berjuang untuk memberikan rasa aman dan situasi yang stabil kepada penduduk dan investor dengan menegakan supremasi hukum serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas,"

Pasti sangatlah menyenangkan untuk membangun realitas anda sendiri, khususnya jika realitas anda yang sebenarnya itu sama seperti realitasnya Abbas yang berusia 81tahun.

Lanjutkan Baca Artikel

Warga Palestina yang "Lain"

oleh Khaled Abu Toameh  •  7 September 2016

  • Nyaris sudah ada 3,500 warga Palestina terbunuh di Suriah semenjak perang saudara meletus pada 2011. Tetapi karena warga Palestina itu dibunuh oleh Bangsa-bangsa Arab dan bukan oleh Israel maka fakta ini bukanlah berita dalam media-media arus utama atau perhatian forum-forum "hak-hak asasi manusia."

  • Tetapi berapa banyak wartawan Barat yang peduli sehingga berniat menyelidiki persoalan warga Palestina di kamp pengungsi Yarmuk di Suriah yang menderita kehausan? Apakah ada orang di komunitas internasional tahu bahwa kamp itu tidak mendapat pasokan air minum selama lebih dari 720 hari? Atau bahwa kamp pengungsi itu tidak dialiri listrik selama tiga tahun terakhir? Pada Juni 2002, ada 112.000 pengungsi Palestina berdiam di Yarmouk. Pada akhir 2014, populasi kamp pun merosot menjadi kurang dari 20 ribu penghuni.

  • Juga bukan dentang lonceng tanda bahaya bagi lebih dari 12.000 warga Palestina yang tengah tidak berdaya di berbagai penjara Suriah, termasuk 765 anak dan 543 wanita. Menurut berbagai sumber Palestina, sekitar 503 narapidana Palestina telah meninggal dunia akibat penyiksaan selama beberapa tahun terakhir dan beberapa tahanan wanita diperkosa oleh para penyidik dan sipir penjara.

  • Namun, tatkala para wartawan Barat mencurahkan waktunya bagi warga Palestina tertahan keberangkatannya (delayed) di pos-pos pemeriksaan Israel di Tepi Barat mengabaikan tong-tong bahan peledak yang dijatuhkan oleh militer Suriah atas kawasan tempat tinggal di kamp-kamp pengungsi di Suriah, orang mungkin mulai bertanya-tanya untuk apakah para wartawan itu sebenarnya.

Warga Palestina meninggalkan kamp pengungsi Yarmouk dekat Damaskus setela terjadi pertempuran sengit pada September 2015 (Sumber foro: suntingan video RT)

Tampaknya komunitas internasional seolah lupa bahwa warga Palestina bisa ditemukan jauh di luar batas-batas wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza. Warga Palestina yang "lain" ini hidup di negara-negara Arab seperti Suriah, Yordania dan Libanon dan banyak penderitaan mereka yang mengerikan jelas-jelas tidak menarik bagi komunitas internasional. Hanya warga Palestina yang berdiam di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang memperoleh perhatian masyarakat internasional. Mengapa? Karena tepatnya orang-orang inilah yang masyarakat internasional manfaatkan sebagai senjata melawan Israel.

Lanjutkan Baca Artikel

Umat Kristen sebagai "Sasaran Praktek"
Penganiayaan umat Kristen oleh Kaum Muslim: Mei 2016

oleh Raymond Ibrahim  •  3 September 2016

  • "Kami akan tunjukan kepada orang Armenia dan Kristen siapa kami...Kami sudah diperintahkan untuk tidak meninggalkan satu pun orang Armenia tersisa di kawasan ini."---para pemberontak Muslim, Allepo, Suriah

  • Ribuan umat Kristen melarikan diri dari negeri itu seiring dengan penganiayaan mengerikan yang melanda negeri itu, demikian bunyi laporan yang mendeskripsikan Eritrea sebagai "salah satu negara dunia yang paling cepat kosong" sekaligus menjadi "Korea Utaranya Afrika." Mayoritas dari 40 ribu orang yang melarikan diri ke Italia tahun silam adalah umat Kristen.

  • "Pemerintah Iran terus terlibat dalam berbagai pelanggaran kebebasan beragama yang dilakukan secara sistematis, terus menerus dan sangat luar biasa, termasuk perpanjangan masa tahanan serta eksekusi mati, pertama-tama atau sepenuhnya berdasarkan agama tertuduh."---Laporan Komisi Amerika Serikat urusan Kebebasan Beragama Internasional.

  • Sebuah laporan baru mengklaim bahwa sebanyak 40,000 umat Kristen–termasuk Muslims ingin beralih menganut Kristen – diserang dan diganggu oleh kaum Muslim di rumah-rumah kaum migran. Menurut laporan, "kini di rumah-rumah suaka Eropa, mereka justru temukan jauh lebih banyak ancaman sehingga mereka berada dalam situasi yang sama-sama bahayanya dari kaum Muslim radikal di Eropa seperti ketika mereka berada di negara-negara asal mereka."

Kiri: rumah milik Imran Masih di Desa Chak-44, Pakistan. Masih terakhir kalinya dilaporkan melarikan diri setelah kaum Muslim menuduhnya menonton sebuah video anti-Islam dalam handphone-nya dan ada hadiah $10,000 (sekitar Rp 131 juta) ditetapkan atas kepalanya. Kanan: Gereja Katolik desa itu (Sumber foto: World Watch Monitor)

Makin banyak laporan perlakuan kejam yang umat Kristen serta minoritas lain alami di tangan Negara Islam muncul selama Mei lalu. Ada kisah tentang sepasang suami-isteri setelah anak-anak mereka disandera penjahat ISIS. Pada suatu saat mereka membuka pintu setelah mendengar ketukan di sana. Dan yang mereka temukan di sana adalah sebuah onggokan kantong plastik. Bungkusan itu berisi bagian tubuh-bagian tubuh para puteri mereka berikut video siksaan dan perkosaan yang kejam atas mereka.

Lanjutkan Baca Artikel

Hamas dan PA Sasar Wartawan Jelang Pemilu

oleh Khaled Abu Toameh  •  1 September 2016

  • Kedua wartawan melakukan kesalahan karena melaporkan penderitaan warga Palestina yang berdiam di bawah kekuasaan Hamas. Itu bukanlah kisah yang Hamas dambakan untuk dilihat sebelum Pemilu lokal dan Pemilu kotamadya. Agaknya, Hamas ingin melihat cetakan berbagai kebohongan tentang kemakmuran masyarakat.

  • Mnjadi teka-teki soal mengapa para wartawan asing memilih untuk tidak memberitakan kampanye intimidasi yang tengah dihadapi para wartawan kolega Palestina mereka.

  • Orang mungkin bertanya-tanya jika berbagai kelompok hak asasi mengabaikan perlakuan kejam ini karena mereka masih terus saja berobsesi untuk menghancurkan Israel.

Ahmed Said (kiri) dan Mahmoud Abu Awwad (kanan) adalah dua wartawan yang berdiam di Jalur Gaza yang baru-baru ini ditangkap pasukan keamanan Hamas. Kedua wartawan membuat kesalahan karena melaporkan penderitaan warga Palestina yang berdiam di bawah kekuasaan Hamas.

Wartawan Palestina berada pada daftar tertinggi orang-orang yang paling dicari oleh Otoritas Palestina dan Hamas untuk ditindak selama Pemilu lokal serta kotamadya Palestina dipersiapkan dan dijadwalkan berlangsung 8 Oktober mendatang.

Tindak kekerasan menjadi bagian kampanye yang terus-menerus dilakukan kedua pihak yang bersaing guna membungkam para pengkritik di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Hamas dan PA tidak bertoleransi terhadap media bebas dan independen --- terlebih pada masa Pemilu yang sangat penting yang berdampak sangat jauh terhadap politik dalam arena Palestina.

Kemenangan Hamas dalam Pemilu mendatang menjadi bencana bagi Presiden Mahmoud Abbas dan Otoritas Palestina-nya. Karena bagaimanapun, hasil Pemilu sama dengan memperlihatkan bahwa masyoritas masyarakat tidak mendukung (vote of no-confidence) politik dan kinerja mereka.

Lanjutkan Baca Artikel

Apakah Xenophobia dan Rasisme Menjadi Arus Utama di Turki?

oleh Robert Jones  •  28 Agustus 2016

  • Setiap aksi historis yang dilakukan Bangsa Turki dipuji dan diidolakan. Buku pelajaran sejarah tidak menyebutkan satu katapun kejahatan yang dilakukan oleh Turki terhadap kaum minoritas negeri itu.

  • Teori Turki sentries, yang berpusat pada Turki itu diajarkan di sekolah dan universitas Turki era 1930-an pada masa Ataturk berkuasa. Berdasarkan mitos-mitos ini, pandangan bernada rasisme dan irasional dicekokan ke dalam publik negeri itu.

  • Jelaslah, anti-Amerikanisme tengah mencapai titik puncak baru di Turki dan banyak warga Turki tidak butuh fakta dan bukti yang kuat untuk menentukan siapa di balik kudeta. Kecaman ini muncul dari pemerintah sebuah negara yang sudah membantai jutaan warga negaranya sendiri --- karena tidak menjadi orang Turki atau karena non-Muslim --- dan yang tidak pernah sekalipun meminta maaf atas kejahatan yang dilakukannya.

Sebuah poster propaganda dari masa kekuasaan Mustafa Kemal Ataturk tengah membantai para penentang reformasinya. (Pedangnya menampilkan kata "reformasi").

Xenophobia, perasaan bencian terhadap orang asing sudah terdokumentasi sangat baik di Turki. Berbagai survei Pew tentang Perilaku Global (Pew Global Attitudes), misalnya memperlihatkan bahwa pandangan negatif terhadap Amerika Serikat "tersebar luas dan bertumbuh subur" di Turki, sebuah negara anggota NATO dan pelamar yang mau bergabung dengan Uni Eropa. Menurut Pew Research Centre:

"Dari 10 publik Muslim yang disurvei pada 2016, polling Pew Global Attitudes, memperlihatkan masyarakat Turki punya pandangan yang paling negatif, berdasarkan perhitungan rata-rata, terhadap masyarakat Barat.

"Pada skala itu, rata-rata Turki adalah 5,2. Tingkat perasaan negatif itu lebih tinggi dibandingkan dengan yang ditemukan pada 4 negara mayoritas Muslim yang disurvei ((Mesir, Indonesia, Yordania dan Pakistan) termasuk juga di antara warga Muslim di Nigeria, Inggeris, Jerman, Prancis dan Spanyol.

Lanjutkan Baca Artikel

Pemberontak Dukungan Iran Manfaatkan Rumah Sakit sebagai Tameng Manusia

oleh Con Coughlin  •  26 Agustus 2016

  • Para penyelidik justru menemukan bahwa pada saat serangan terjadi, para pemberontak menduduki rumah sakit, sehingga membuatnya menjadi sasaran yang sah.

  • "Ketika kita mendesak koalisi Arab Saudi memanfaatkan semua sarana yang mungkin ada supaya bisa menghindari kematian warga sipil, kita juga harus sadari taktik-taktik yang digunakan oleh para pemberontak dukungan Iran sebagai bagian dari kebijakan yang disengaja untuk mendiskreditkan usaha perang pihak koalisi." — Pejabat senior Barat.

Sebuah pabrik di Sana'a Yaman, terbakar menyusul serangan udara, 9 Agustus 2016 lalu. (Sumber foto: suntingan video Al Jazeera)

Para pemberontak Houthi dukungan Iran telah memanfaatkan rumah sakit sebagai pos komando militer. Dengan demikian, mereka sengaja menempatkan nyawa warga sipil yang tidak bersalah berisiko mati. Demikian diungkapkan sebuah laporan yang melaporkan perang saudara Yaman yang sudah sekian lama berlangsung.

Permusuhan dalam konflik Yaman kembali meledak akhir pekan lalu menyusul gagalnya perundingan damai di Kuwait. Berbagai perundingan itu diselenggarakan setelah para pejuang Houthi dukungan Korps Pengawal Revolusioner Islam Iran (IRGC) menolak rencana damai yang disponsori PBB. Karena itu, mereka kemudian mengumumkan pembentukan sebuah badan pemerintah yang terdiri dari 10 anggota untuk menjalankan roda pemerintahan negeri itu.

Lanjutkan Baca Artikel

Peran Penting Mesir di Timur Tengah

oleh Bassam Tawil  •  24 Agustus 2016

  • Pada tingkat strategi regional, Mesir berperan sentral dalam koalisi anti-Iran yang dilansir negara-negara Arab Sunni yang mencakup Arab Saudi, Kuwait, Bahrain serta Uni Emirat Arab (UEA). Aksi kejam Musim Semi Arab tak terhindarkan lagi memunculkan konfrontasi antara Iran Shia yang revisionis dan agresif melawan berbagai negara Arab di pihak lain yang disebarkan untuk membela diri sendiri melawan agresi Iran, terutama di Yaman, Suriah, Iran dan Afrika.

  • Bagaimanapun, mungkin saja bakal muncul konfrontasi--- sayangnya konfrontasi justru terjadi dengan Amerika Serikat. Bahkan ketika Iran mélangkah maju mengembangkan senjata nuklir dan peluru kendali balistik pengangkutnya dan ketika dia memanfaatkan aksi penghasutan, senjata, uang serta kelompok kaki tangan di negara lain guna mendestabilitasi negara-negara Arab dan Muslim, sikap Amerika justru semakin dingin terhadap Israel dan Pemerintahan Jenderal Al-Sisi di Mesir. Pemerintahan Amerika Serikat yang kini berkuasa dikenal di seluruh Timur Tengah karena memberdayakan musuhnya sekaligus licik terhadap para sahabatnya.

  • Sikap tradisional Arab, yang digunakan oleh para pemimpin otokratis yang memperdaya masyarakat mereka yang tidak puas dengan memperlihatkan musuh dari luar kepada mereka, bukan kepada para pemimpin kami sendiri, jelas-jelas mulai bakal berubah. Dan Israel sebagai musuh terbesar secara tepat, tengah digantikan oleh Iran.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu dengan Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry yang sedang berkunjung di Yerusalem, 10 Juli 2016 lalu. (Sumber foro: Kantor Urusan Pers Pemerintah Israel)

Hadirnya Menteri Luar Negeri Mesir di Israel, bulan silam mengejutkan banyak kalangan. Opini publik Mesir yang kritis serta medianya mengindikasikan bahwa bertahun-tahun semenjak perdamaian Israel–Mesir ditandatangani, perjanjian resmi masih belum meresap masuk ke dalam kesadaran publik kedua negara dan bahwa masih ada perasaan curiga yang besar yang berkembang di dua sisi perbatasan kedua negera. Hal yang sama juga benar berkaitan dengan soal perdamaian antara Israel dan Yordania.

Di bawah kekuasaan Mohamed Mursi sang tokoh Ikhwanul Muslim, hubungan kedua negara mencapai titik rendah yang baru. Kala itu, Mesir secara tersembunyi membantu kelompok kaki tangan Iran, Hamas melawan Israel.

Menteri Luar Negeri Mesir, Sameh Shoukry mengadakan kunjungan ke Israel, awal Juli 2016 lalu. Kunjungan ini bisa menjadi indikasi bahwa perdamaian yang mandeg beku antara Israel dan Mesir, yang ditandatangi oleh Begin dan Sadat pada 1979 lalu, mungkin kembali mencair. [1]

Lanjutkan Baca Artikel

Iran Menipu Soal Perjanjian Nuklir, Kini Apa?

oleh Majid Rafizadeh  •  19 Agustus 2016

  • Satu tahun menjelang perjanjian nuklir, dua laporan intelijen yang andal dan tepat waktu memperlihatkan bahwa Iran tidak berniat untuk menghargai syarat-syarat perjanjian, yang bagaimanapun, tidak pernah ditandatanganinya

  • Badan intelijen dalam negeri Jerman memperlihatkan bahwa Pemerintah Iran melakukan upaya "bawah tanah" umtuk memperoleh teknologi dan peralatan nuklir haram dari berbagai perusahaan Jerman. "Berdasarkan standar internasional pun, teknologi dan peralatan itu, memang secara kwantitatif termasuk tingkat tinggi."

  • Perjanjian rahasia yang didapatkan oleh Associated Press mengungkapkan bahwa perjanjian nuklir Iran tidak saja mencabut hambatan atas program nuklir Iran menyusul perjanjian nuklir tetapi juga bakal berlangsung terus demikian hingga perjanjian berakhir -- termasuk pemasangan ribuan mesin pemisahnya (centrifuge) lima kali lebih banyak daripada yang kini dimilikinya juga pengayaan uranium dengan kecepatan yang lebih tinggi.

  • Dengan demikian, semakin banyak Gedung Putih mengabaikan pelanggaran yang Iran lakukan terhadap perjanjian nuklir, semakin berani pula Iran melanggar hukum internasional serta syarat-syarat perjanjian nuklir.

Reaktor air berat (heavy water) di Iran, mampu menghasilkan plutonium. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Tanggal 14 Juli 2015. Iran beserta enam negara yang berkuasa yang terkenal dengan sebutan negara-negara P5+1 (Cina, Prancis, Jerman, Rusia, Inggeris dan Amerika Serikat) mencapai kesepakatan atas program nuklir Iran. Perjanjian dimaksudkan untuk menghentikan ambisi nuklir Iran serta menahan laju pengembangan nuklir Teheran.

Presiden Obama pun memberi janjinya. Katanya, perjanjian itu tidak didasarkan pada kepercayaan tetapi pada pembuktian lapangan. Meski demikian, dokumen-dokumen rahasia yang belakangan mengemuka termasuk pelanggaran-pelanggaran perjanjian nuklir oleh Iran, memperlihatkan hal sebaliknya.

Lanjutkan Baca Artikel