• Setelah berabad-abad disiksa, Kekristenan di Timur Tengah menjadi kecil kerdil, jika tidak bisa dikatakan efektif dihancurkan. Mereka memberikan nama Arab bagi anak-anak mereka, ketimbang nama-nama Alkitabiah supaya bisa menghindari diskriminasi di tempat kerja. Perayaan-perayaan keagamaan mereka diselenggarakan di dalam rumah, karena takut jangan sampai perayaan-perayaan Kristen mengganggu perasaan kaum Muslim. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai Sindrom Stockholm (Stockholm Syndrome). Yaitu suatu kondisi, dalam hal ini, ketika umat Kristen Timur Tengah kerapkali akhirnya membela bahkan memuji Islam, meskipun harus mengorbankan hak-hak agama mereka sendiri,

  • Menarik melihat betapa pada satu pihak Departemen Luar Negeri dan media AS mengecilkan pembasmian etnis yang kini sedang berlangsung atas umat Kristen di Timur Tengah, tetapi pada pihak lain langsung mempercayai kaum Muslim, ketika satu dari pemimpin mereka memberi tahu sebuah delegasi Amerika bahwa dia tidak takut kepada warga Arab tetapi kepada kaum Yahudi.

  • Dengan banyaknya cabang Pemerintah AS yang bertekad untuk mengubah-ubah kenyataan maka tampaknya bakal ada satu rangkaian keputusan yang hendak diabaikan --- juga untuk mencegah publik Amerika tahu---- apa yang sebenarnya tengah berlangsung.

  • Bahasa "politically incorrect" atau secara politik tidak benar disensor oleh Departemen Luar Negeri, Departmen Kehakiman, FBI, Departmen Keamanan Dalam Negeri, cabang eksekutif sebelumnya, dan yang paling akhir, Dewan Keamanan Nasional, yang baru-baru ini tampaknya sudah berhasil memberikan seluruh departmen.

Berbahaya bagi Barat untuk menerima propaganda anti-Semit Arab yang disuarakan sejumlah pemimpin Kristen di Timur Tengah. Mereka, bagaimanapun, adalah tawanan mayoritas Muslim di sekitar mereka. Sejak masa internet, banyak warga Arab pun sudah berhenti membeli propaganda Arab.

Pernyataan terakhir diungkapkan oleh seorang pensiunan, Kolonel Lawrence Wilkerson. Dia mantan kepala staf dari Colin Powell ketika dia masih menjadi Menteri Luar Negeri AS. Baru-baru ini, di tengah krisis Temple Mount, Wilkerson mengatakan kepada Televisi MSNBC, bahwa kaum Yahudi menjadi ancaman terbesar bagi umat Kristen di Timur Tengah. Dia tahu ini, katanya, dari seorang Uskup Katolik, Timur Tengah pada tahun 2002-2003 di Ramallah, dalam suatu perjalanan bisnisnya untuk menemui Yasser Arafat. Sang uskup, katanya, memberi tahu bahwa musuh terbesar umat Kristen di kawasan itu bukanlah warga Arab tetapi kaum Yahudi. Jadi, bukannya mengecam serangan teror tanpa alasan yang tak terhitung jumlahya melawan warga Israel, Wilkerson malah mengkritik Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Benar-benar patut disayangkan bahwa mantan pejabat tinggi Departemen Luar Negeri AS memutuskan mengecam Israel selama krisis baru-baru ini, ketika kaum Yahudi jelas-jelas menjadi korban. Lebih disayangkan lagi bahwa Wilkerson, seperti dikatakanya, menggunakan pernyataan uskup, dan bukannya mengakui rumitnya persoalan Timur Tengah, di mana, kata "tidak" dan "ya" jarang berarti "tidak" dan "ya".

Sangat disayangkan bahwa Lawrence Wilkerson, seorang mantan pejabat tinggi Departemen Luar Negeri memutuskan untuk mengecam Israel selama krisis baru-baru ini di mana kaum Yahudi menjadi korban. (Sumber foto: Suntingan video MSNBC).

Terlepas dari kebenaran mencolok seputar penindasan umat Kristen di Timur Tengah, Wilkerson jelas-jelas tidak tahu persoalan Timur Tengah. Dia tidak tahu bahwa umat Uskup Ramallah yang berdiam di kota Arab berbicara dan berdoa dalam bahasa Arab dan berada dalam era nasionalisme Arab dan banyak orang meyakini bahwa mereka pertama-tama orang Arab dan kedua sebagai orang Kristen.

Mantan Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasser, pernah mengubah nama negeri itu menjadi "Republik Persatuan Arab," kemudian di bawah Presiden Anwar al-Sadat, kembali menjadi "Republik Arab Mesir"---sebuah nama yang diinstruksikan oleh setiap umat Kristen Koptik di Mesir, bahwa mereka pertama-tama adalah warga Arab. Libanon, yang kala itu negara mayoritas Kristen Maronit, bergabung dalam Liga Arab sebagai Negara Arab. Jika menolaknya, dampaknya bakal mengerikan. Karena itu, bagi sang uskup, musuh terbesar di kawasan itu, mungkin saja bukan lagi warga Arab (umatnya) tetapi warga Yahudi.

Banyak warga Kristen Arab pasti anti-Semit. Ini mungkin disebabkan oleh banyak faktor. Tetapi ada satu faktor yang pasti yaitu bahwa di seluruh Timur Tengah, umat Kristen tunduk kepada propaganda anti-Yahudi yang sama seperti kaum Muslim dan ini berdampak terhadap berkembang anti-Semitisme. Anak-anak Kristen dijejali dengan pendidikan yang sama, penuh dengan kebencian terhadap orang Yahudi di sekolah-sekolah Arab. Mereka mengajarkan kebohongan seperti, "Yesus itu orang Palestina," Yerusalem adalah Kota Arab yang ditaklukan oleh orang Yahudi", "Orang Yahudi berada di balik masyarakat Arab yang sakit", "Yasser Arafat diracuni oleh orang Yahudi", "Orang-orang Yahudi membunuh Yesus dan semua nabi", "Nabi Muhamad diracuni oleh seorang wanita Yahudi," "Obat-obatan Israel membuat para pria Arab menjadi steril", dan sebagainya. Banyak sekali ragam penipuannya.

Nyatanya, propaganda Arab bisa ditemukan di mana saja, lewat penulisan ulang sejarah. Cukup periksa terjemahan tulisan media Arab yang dilakukan tiap hari dari berbagai sumber terpercaya seperti MEMRI atau Palestinian Media Watch. Media Barat tidak tertarik mengungkapkan kenyataan ini, walau tuduhan-tuduhan dalam media Arab terhadap Israel itu salah.

Sayangnya, umat Kristen Timur Tengah sama banyaknya diserang seperti kaum Yahudi. Berabad-abad sudah hidup mereka dihancurkan sehingga tahu siapa sahabat mereka sebenarnya dan pantas untuk takut mengatakan apa saja yang mungkin membuat mereka menderita lebih jauh. Umat Kristen di Mesir telah menghapuskan akar Ibrani (Hebrew) Kekristenan mereka di sana.

Yang menyedihkan, bukannya mengakui bahwa kaum Yahudi mungkin saja adalah sekutu sejati mereka, umat Kristen di kawasan itu justru masuk dalam jebakan Timur Tengah karena mencoba menyenangkan hati mayoritas Muslim sekitar mereka dan meyakini anti-Semitismenya yang luas melanda.

Lebih jauh lagi, kaum ekstremis Muslim sangat tertarik untuk memisahkan kaum Yahudi dan Kristen dengan menanamkan kebencian dan sikap tidak percaya. Umat Kristen yang bersimpati kepada kaum Yahudi biasanya dianggap "kolaborator" yang melawan kaum Muslim. Akibatnya, "pengkhianatan" kerap dianggap pelanggaran terhadap status terlindungi yang diberikan kepada umat Kristen sebagai "dhimmi" ---yaitu kelompok non-Muslim yang nyaris tidak ditoleransi, penduduk kelas dua, yang diturunkan status sosialnya berdasarkan hukum apartheid dan pajak yang lebih tinggi guna "melindung kehidupan dan harta milik mereka.

Setelah berabad-abad disiksa, Kekristenan di Timur Tengah menjadi kecil kerdil, jika tidak bisa dikatakan efektif dihancurkan. Kerapkali mereka mengalami pembantaian etnis atau status dhimmi yang lebih rendah berdasarkan Hukum Sharia. Mereka memberikan nama Arab bagi anak-anak mereka, ketimbang nama-nama Alkitabiah supaya bisa menghindari diskriminasi di tempat kerja. Perayaan-perayaan keagamaan mereka diselenggarakan di dalam rumah, karena takut jangan sampai perayaan-perayaan Kristen mengganggu perasaan kaum Muslim. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai Sindrom Stockholm (Stockholm Syndrome). Yaitu suatu kondisi, dalam hal ini, ketika umat Kristen Timur Tengah kerapkali akhirnya membela bahkan memuji Islam, meskipun kerapkali dengan mengorbankan hak-hak agama mereka sendiri,

Bahkan di sini pun, di Amerika Serikat, banyak imigran Kristen Koptik menghindari diri untuk berbicara tentang Islam. Kadangkala, karena takut keluarga mereka masih kembali ke Mesir, mereka berjuang keras membela Islam. Walau kini berdiam di sini di Amerika yang memberikan kemerdekaan, benak mereka masih kembali ke sana.

Beberapa tahun silam, saya kebetulan bertemu dengan Paus Koptik Mesir di sebuah Bandara AS. Saya pun mengisahkan pertobatan saya memeluk agama Kristen dan mendukung hak-hak umat Kristen di Timur Tengah dan Israel. Bukannya menjawab, Paus justru menatap sekeliling dengan perasaan takut, seolah-olah memeriksa jika ada orang mendengar atau barangkali merekam percakapan kami. Padahal, orang seharusnya tidak merasa terganggu; ia hanya pengingat sedih dari ketakutan diri umat Kristen Mesir yang masih memiliki telinga mata-mata polisi rahasia Mesir, bernama Mukhabarat. Dan ini bahkan masih terjadi di Bandara AS.

Menarik melihat betapa pada satu pihak Departemen Luar Negeri dan media AS mengecilkan pembasmian etnis yang kini sedang berlangsung atas umat Kristen di Timur Tengah, tetapi pada pihak lain langsung mempercayai kaum Muslim, ketika satu dari pemimpin mereka memberi tahu sebuah delegasi Amerika bahwa dia tidak takut kepada warga Arab tetapi kepada kaum Yahudi.

Yang seharusnya dilakukan serius oleh Departemen Luar Negeri untuk memahaminya adalah bahwa ketika terkait dengan bangsa Arab, Kristen atau Muslim, di Timur Tengah, maka apa saja yang mereka katakan seharusnya selalu diterima dengan hati-hati dan dengan sikap skeptis. Jika perjalanan bisnis Wilkerson membawanya ke Kairo, Bagdad atau Arab Saudia, bukannya ke Ramallah, maka dia sangat mungkin mendengarkan hal yang sama, tetapi sayangnya, itu tidak membuatnya menjadi benar. Kaum Muslim sudah berjuang untuk menaklukan Barat sejak abad ketujuh. Mereka memang berhasil menyebar di seluruh Persia, Kerajaan Kristen Byzantium yang agung di Turki, Afrika Utara, Timur Tengah, Balkan, Spanyol Selatan--- dan akhir-akhir ini Siprus Utara dan banyak kawasan Amerika Selatan.

Kisah di atas bahkan tidak memperhitungkan penaklukan Islam di kawasan yang jauh ke timur, di tempat-tempat seperti Pakistan, Bangladesh, Kashmir, Indonesia, Malaysia, dan kini Filipina.

Dengan banyaknya cabang Pemerintah AS yang bertekad untuk mengubah-ubah kenyataan maka tampaknya bakal ada satu rangkaian keputusan yang hendak diabaikan --- juga untuk mencegah publik Amerika tahu---- apa yang sebenarnya tengah berlangsung.

Bahasa "politically incorrect" atau secara politik tidak benar disensor oleh Departemen Luar Negeri, Departmen Kehakiman, FBI, Departmen Keamanan Dalam Negeri, cabang eksekutif sebelumnya, dan yang paling akhir, Dewan Keamanan Nasional, yang baru-baru ini tampaknya sudah berhasil memberikan seluruh departmen.

Bagaimanapun, penghapusan bagian buruk dari kenyataan (bowdlerizations) ala kaum Orwellian ini hanya berupaya untuk tidak menyakiti hati pihak keamanan nasional serta hubungannya di Timur Tengah dan di seluruh penjuru dunia.

Nonie Darwish, lahir dan besar di Mesir, adalah pengarang buku "Wholly Different; Why I Chose Biblical Values Over Islamic Values."

Topik Terkait:  Persecution of Christians
Recent Articles by
terima informasi terbaru lewat email: berlangganan secara gratis kepada gatestone institute kiriman daftar.

id