• Presiden Obama tampaknya diberitahu bahwa jika semua diktator sekular dapat digulingkan, maka Arab Spring atau Musim Semi Dunia Arab yang mengagumkan bakal tumbuh mekar. Tampaknya inilah persisnya tujuan Ikhwanul Muslim. Yaitu untuk meminta Amerika Serikat membantu menggulingkan para diktator --- yang kala itu nyaris semuanya adalah tokoh militer dan sekular --- kemudian menggantikannya dengan mereka sendiri, kaum radikal Islam.

  • Setelah Mesir menggulingkan Ikhwanul Muslim, tujuan untuk membangun Kekalifahan Islam di Mesir sepenuhnya dipindahkan ke Suriah, satu-satunya negara Arab tempat seorang pemimpin Musim yang sekular berhasil bertahan melewati Musim Semi Arab.

  • Upaya untuk mempromosikan Islam tampak menjadi faktor penting bagi Obama untuk melakukan hal yang sama di Amerika. Menteri Luar Negeri Hillary Clinton mengikuti langkahnya. Sejumlah konperensi tertutup di Washington dan London tentang "Pencemaran Agama" pun dia selenggarakan. Tujuannya, adalah untuk menindas kebebasan berbicara sekaligus secara internasional mengkriminalisasi kritik apapun terhadap Islam dengan hukuman denda dan penjara. Dia lebih suka mengecam terorisme atas kebebasan berbicara dibandingkan atas ajaran-ajaran Islam yang kejam.

  • Penyimpangan yang semakin meningkat menggila ini seharusnya sudah menjadi alasan yang cukup bagi semua negara demokrasi Barat untuk seterusnya keluar dari PBB. Sejarah korupsi yang terjadi di lingkungan PBB bukanlah hal baru atau mengejutkan. Atau juga tidak asing bahwa PBB menjalankan sebuah "klub para diktator" anti-demokrasi yang kepentingannya berbeda dari kepentingan kita.

Presiden AS Barack Obama bercita-cita hendak mengakhiri kekuasaan sebagian besar pemimpin Arab "sekular" di Timur Tengah. Sedikitnya, pandangannya mungkin saja muncul dari propaganda tentang mengapa masyarakat Muslim diduga kurang bebas di sana. Obama pun tampaknya diberitahu bahwa jika semua diktator sekular itu dapat digulingkan, maka Arab Spring, atau Musim Semi Dunia Arab yang mengagumkan bakal tumbuh mekar.

Tampaknya, inilah persisnya tujuan Ikhwanul Muslim. Yaitu untuk meminta Amerika membantu menggulingkan para diktator --- yang kala itu nyaris semuanya tokoh militer sekular --- kemudian menggantikannya dengan mereka sendiri, kaum radikal Islam.

Tujuan Ikhwanul Mulslim ternyata selaras dengan tujuan Barack Obama di Timur Tengah. Karena itu, pidato pertama kepresidenan Obama yang penting diselenggarakan di Kairo, di depan sejumlah besar sheik Islam dan para anggota Ikhwanul Muslim. Mereka didorong dan diberi legitimasi oleh Obama. Presiden Mesir, Hosni Mubarak yang ditolak, dicaci maki kala itu tidak hadir. Jadi, dengan berkat dari Amerika Serikat, Ikhwanul Muslim pun mulai naik ke puncak kekuasaan di Mesir.

Pidato pertama kepresidenan Obama yang penting pada 4 Juni 2009 diselenggarakan di Kairo, di hadapan sejumlah besar sheik dan para anggota Ikhwanul Muslim. Mereka diberdayakan dan diberikan legitimasi oleh Obama. Presiden Mesir Hosni Mubarak yang dicacimaki tidak menghadiri acara akbar itu. Jadi, dengan berkat dari Amerika Serikat, naiknya Ikhwanul Muslim ke puncak kekuasaan di Mesir pun dimulai. (Sumber foto: Gedung Putih).

Kini, masyarakat umum Mesir langsung menghubungkan naiknya Ikhwanul Muslim dengan Pemerintahan Obama. Kairo dengan demikian hendak menjadi ibukota Kalifah Islam baru jika rakyat Mesir tidak, setelah setahun, keluar dalam jumlah jutaan untuk menghentikannya.

Pemerintah Obama tidak senang dengan kontra-revolusi, Juga tidak senang dengan naiknya Presiden Mesir sekarang ini, Jenderal Abdel Fattah al-Sisi ke puncak kekuasaan yang kemudian melakukan apa saja yang bisa dilakukannya untuk menggagalkannya.

Mesir dengan demikian, kembali kepada masa lalu. Pada masa diktator militer, yang pernah dialaminya yang meyakinkan Barat menjadi penyebab penindasan.

Petualangan "Arab Spring" atau Musim Semi Dunia Arab ala Amerika ---untuk menggulingkan para diktator sekular guna menghadirkan demokrasi---tidak berlangsung tepat seperti yang direncanakan. Upaya untuk membawa kebebasan dan demokrasi ke Timur Tengah gagal total. Justru sebaliknya, melahirkan tirani Kekalifahan, yang pertama-tama memang menjadi tujuan dari Ikhwanul Muslim, dibangun. Setelah Mesir menggulingkan Ikhwanul Muslim, tujuan untuk membangun Kekalifahan Islam di Mesir sepenuhnya dipindahkan ke Suriah, satu-satunya negara Arab tempat seorang pemimpin Musim yang sekular berhasil bertahan melewati Musim Semi Arab.

Upaya mempromosikan Islam tampak menjadi faktor penting bagi Obama untuk melakukan hal yang sama di Amerika. Sebelum mulai mengimplementasi janjinya untuk "mengubah Amerika seperti kita ketahui", dia pertama-tama harus lebih dulu mengubah Timur Tengah sebagaimana kita ketahui sebelumnya. Banyak perubahan yang dia pimpin selaras dengan tujuan Ikhwanul Muslim. Motonya adalah, "Allah itu tujuan kami; Nabi pemimpin kami; Al-Qur'an itu hukum kami; Jihad itu jalan kami; mati di jalan Allah adalah harapan tertinggi kami."

Karena itu, Pemerintahan Obama masih menolak untuk menyatakan Ikhwanul Muslim sebagai organisasi teroris, ketika organisasi itu dianggap organisasi illegal di Mesir. Di bawah Obama, Islam memang tidak tersentuh, tidak terbuka terhadap kritik. Bahkan dia mengklaim bahwa "Islam sudah terajut menyeluruh dalam jalinan struktur negeri kita sejak baru berdiri."

Menteri Luar Negeri Hillary Clinton mengikuti langkahnya. Sejumlah konperensi tertutup di Washington dan London tentang "Pencemaran Agama" pun dia selenggarakan. Tujuannya, adalah untuk menindas kebebasan berbicara sekaligus secara internasional mengkriminalisasi kritik apapun terhadap Islam dengan hukuman denda dan penjara.

Dalam sebuah debat baru-baru ini, Hillary Clinton bahkan mengatakan, "Islam senantiasa menjadi bagian sejarah Amerika---bahkan sejak Perang Revolusi."

Dia lebih suka mengecam terorisme atas kebebasan berbicara dibandingkan atas ajaran-ajaran Islam yang kejam.

Hanya orang dari Timur Tengah yang bisa memahami betapa besarnya nilai pemberian ini bagi tujuan para jihadi Islam di Amerika Sayangnya banyak warga Amerika tampaknya masih tidak sadari bahwa kaum radikal Islam menuliskan kembali sejarah supaya bisa mengklaim bahwa tanah yang ingin mereka taklukan itu pada dasarnya milik Islam atau didirikan oleh kaum Muslim --- walaupun, secara historis, Islam belum ada hingga abad ketujuh, ratusan tahun setelah Yudaisme dan Kekristenan muncul.

Kini, kaum Muslim menulis buku-buku sejarah mereka, Tujuannya supaya bisa mengklaim bahwa kaum Muslim sebetulnya yang membangun berbagai situs Alkitabiah Yahudi kuno. Dan, Organisasi Pendidikan, Ilmu dan Budaya PBB (UNESCO) pun tunduk kepada keinginan Qatar dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mendukung fiksi ini. OKI adalah sebuah blok yang terdiri dari 56 negara Muslim ditambah dengan "Palestina." Baru-baru ini, UNESCO bahkan mengesahkan resolusi aneh yang mengumumkan bahwa beberapa monumen Alkitabiah Yahudi kuno sebagai situs Islam. Situs-situs itu misalnya Gua Para Bapak Bangsa di Hebron, Makam Rachel di Betlehem dan Bait Bukit Allah Yerusalem, tempat sejumlah Bait Allah kuno Yahudi nan agung berada.

Negara mana yang bakal menjadi sasaran selanjutnya? Penyimpangan yang semakin meningkat menggila ini seharusnya sudah menjadi alasan yang cukup bagi semua negara demokrasi Barat untuk tetap keluar dari PBB. Sejarah korupsi yang terjadi di lingkungan PBB bukanlah hal baru atau mengejutkan. Atau juga tidak asing bahwa PBB menjalankan sebuah atau "klub para diktator" anti-demokrasi yang kepentingannya berbeda dari kepentingan kita.

Para jihadi kini mengatakan bahwa mereka juga berhak atas Italia, Yunani dan Spanyol --- dan kini Amerika. Obama dan Hillary Clinton dengan demikian benar-benar hanya memperkuat klaim seperti itu bagi buku sejarah Muslim masa datang tentang siapa yang sebenarnya mendirikan Amerika.

Masyarakat Amerika punya pilihan. Mereka bisa terus memberdayakan Islam. Atau bisa juga terus membantu kaum Muslim ekstremis supaya menyusup masuk ke dalam sistem Amerika --- bahkan ada resolusi di House of Representatives (DPA-AS) untuk menghentikan semua kritik terhadap Islam. Atau mereka bisa menghentikan permainan dari pemerintahan yang kini berkuasa, yang tampaknya bersikukuh untuk mengubah Amerika selama-lamanya dengan membiarkan seluruh dunia memberdayakan Islam. Mereka bisa melanjutkan revolusi kaum radikal Islam "Arab Spring" guna mengubah "Amerika seperti yang kita ketahui" atau menjaga kebebasan Republik Amerika.

Lewat Wikileaks baru-baru ini semuanya menjadi jelas. Jelas bahwa sistem Amerika memang benar-benar lengkap. Karena sistemnya yang lengkap itu, Washington DC lalu mengubahnya menjadi air payau; atau lebih tepatnya, air payau "Arab Spring"

Pada skala lebih kecil, Mesir terpaksa harus menghadapi pilihan seperti ini pada tahun 2012-2013. Antara hidup di bawah nilai-nilai Ikhwanul Muslim atau hidup dalam irisan harapan terhadap demokrasi, yang berdasarkan hukum-hukum Islam tidak bakal diijinkan berkembang.

Masyarakat Mesir dan Barat benar-benar perlu memahami bahwa hukum Islam, yaitu Hukum Shariah itu tidak mengijinkan apapun selain Pemerintahan Islam di bawah kekuasaan hukum Islam. Akibatnya, hanya kekuatan militer yang mampu menghadapi tirani shariah. Ikhwanul Muslim sekali lagi telah membuktikan bahwa satu-satunya cara untuk keluar dari teokrasi Islam adalah melalui diktator militer.

Benturan antarkepala atas masa depan Amerika sedang terjadi. Banyak warga Amerika yang masih saja tidak pahami betapa besarnya apa yang sedang dipertaruhkan, walau banyak kaum Islam radikal memahaminya. Mereka karena itu, berbaring menunggu, berharap untuk kembali kepada Kalifah mereka yang sedang mekar bertumbuh.

Nonie Darwish, seorang pakar Timur Tengah dan pengarang buku "Wholly Different: Why I Chose Biblical Values over Islamic Values."

Recent Articles by
terima informasi terbaru lewat email: berlangganan secara gratis kepada gatestone institute kiriman daftar.

id