• Jadi, siapakah yang memanfaatkan ancaman Abbas secara serius untuk menghentikan kerja sama keamanan dengan Israel? Bukan Israel. Bukan Amerika. Dan tentu bukan banyak warga Palestina. Abbas terjebak antara dua tempat yang mengerikan (bad) ---kedua-duanya akibat perbuatannya sendiri. Satu pihak dia tahu bahwa kerja sama keamanan dengan Israel adalah satu-satunya kebijakan yang menjamin dirinya untuk tetap berada di puncak kekuasaan sekaligus tetap hidup. Pada pihak lain, Abbas sangat mawas terhadap statusnya di antara banyak warga Palestina yang lebih senang menggantikan dia dengan orang lain...sesuai selera mereka.

  • Pesan Faraj ditujukan kepada masyarakat Israel. Tujuannya, untuk menekan Pemerintahan Israel dan Perdana Menteri Binyamin Netanyahu supaya tunduk kepada tuntutan masyarakat Palestina dan bersedia membongkar pemindai logam. Ini sebabnya Faraj menggunakan seorang wartawan Israel yang terkenal bersimpati terhadap Abbas dan pemimpin PA. Faraj dan bossnya ----Abbas---ingin menakut-nakuti publik Isreal kemudian memaksa mereka berbalik menentang Netanyahu. Caranya, dengan memberi tahu mereka bahwa Palestina akan menghentikan kerja sama keamanan dengan Israel kecuali jika pemindai logam dibongkar.

Laporan-laporan yang saling bertentangan satu sama lain muncul dari Ramallah. Laporan itu terkait dengan koordinasi keamanan dengan Israel yang masih menjadi peringatan lain dari "sikap munafik yang sangat luar biasa" dari para pemimpin Otoritas Palestina (PA) "

Di bagian Israel, berbagai laporan seputar berhentinya koordinasi keamanan dengan Otoritas Palestina diremehkan, sama seperti tipu muslihat Abbas yang lainnya.

Mahmoud Abbas dan PA-nya pun jauh dari kalah. Karena bagaimanapun, koordinasi keamanan hanya sebuah persoalan yang berada antara Hamas yang sangat lapar (kekuasaan) dan sajian Abbas untuk "toast" sarapan pagi.

Pada masa lalu, Abbas secara tepat dan masuk akal menjelaskan koordinasi keamanan dengan Israel sebagai sesuatu "yang suci." Dikatakannya, dia tak bakal tunduk terhadap tekanan Hamas dan banyak warga Palestina untuk berhenti bekerja sama dengan Israel di Tepi Barat.

"Ingin saya katakan secara terbuka ---koordinasi keamanan (dengan Israel) adalah sesuatu yang suci dan akan terus berlanjut terlepas dari perbedaan-perbedaan politik kita," urai Abbas memaklumkan pada 2014.

Pernyataan Abbas muncul di tengah berbagai laporan bahwa pihak intelijen Israel telah berhasil menggagalkan komplotan pembunuh Hamas yang hendak membunuh dirinya pada 2014.

Koordinasi keamanan memang suci bagi Presiden Otoritas Palestina --- untuk tidak mengatakan, para anggota keluarga dan para pejabat seniornya, yang tanpa kerja sama itu juga bakal mati, dipenjara atau dipaksa hidup di pengasingan. Abbas masih belum pulih dari mimpi buruknya pada 2007. Kala itu, Hamas membuat Otoritas Palestina pimpinannya gagal dan kemudian secara kejam merebut kendali atas Jalur Gaza. Hal terakhir yang Abbas inginkan adalah kembalinya skenario yang mengerikan: yaitu ketika ribuan polisi dan loyalis Fatah benar-benar dipermalukan dan banyak orang dibantai di depan umum, dilemparkan dari lantai tinggi berbagai gedung, dipenjara atau dipaksa menyerah atau melarikan diri ke Israel dan Mesir.

Kegagalan terakhir berkaitan dengan isu koordinasi keamanan dengan Israel berawal 21 Juli. Kala itu, Abbas mengumumkan keputusannya untuk "membekukan hubungan dengan negara pelaku pendudukan (Israel) pada semua tingkat." Pengumuman Abbas ini mengemuka dalam pertemuan dengan para pemimpin Palestina di Ramallah yang mendiskusikan krisis yang melingkupi keputusan Israel untuk memasang pemindai logam di pintu masuk menuju Temple Mount di Yerusalem. Keputusan ini muncul sebagai tanggapan terhadap serangan tembakan pada 14 Juli lalu yang dilancarkan oleh tiga warga Arab Israel yang berdampak terhadap terbunuhnya dua perwira polisi Israel,

Pengumuman Abbas tidak khusus merujuk kepada koordinasi keamanan dengan Israel. Para pejabat Palestina di Ramallah belakangan menjelaskan bahwa keputusan "pembekuan hubungan dengan Israel pada semua tingkat" tidak termasuk koordinasi keamanan antara kedua pihak, yang mereka katakan berlanjut seperti biasa dan perlu serta sangat penting.

Kemudian muncul serangan balik menyusul aksi warga Palestina yang memanas-manasi Abbas karena mempertahankan koordinasi keamanan dengan Israel. Warga Palestina yang resah dengan pemindai logam di pintu masuk menuju Temple Mount juga menyanyikan berbagai slogan melawan Abbas dan menuduhnya "berkolusi" dengan Israel sehingga tidak mendukung kampanye mereka yang mendesak agak pemindai logam dibongkar.

Media sosial pun tidak bisa diam. Banyak warga Palestina serta Arab mengecam Abbas sebagai bidak di tangan Israel serta AS sehingga menuntut dia menghentikan kerja sama keamanan dan semua bentuk kerja sama dengan Israel.

Berusaha membatasi perasaan tidak puas yang melanda jalanan Palestina, para pembantu Abbas memberikan klarifikasi. Menurut mereka, Abbas sudah menginstruksikan komandan keamanannya untuk berhenti berbicara dengan para mitra Israel mereka sebagai protes terhadap pemasangan pemindai logam. Juga ditegaskan bahwa terlepas dari instruksi yang diberikan, koordinasi keamanan pada tingkat rendah bakal terus berlanjut antarkedua pihak karena keputusan hanya merujuk kepada kontak pada tingkat yang tinggi.

Bagaimanapun, banyak warga Palestina mengatakan Abbas gertak sambal.

Ketika tekanan atasnya meningkat, Abbas pun mengirimkan pimpinan intelijennya Majed Faraj untuk memberitahu wartawan Israel yang erat berhubungan dengan Otoritas Palestina. Kepada wartawan tersebut, Faraj menyampaikan bahwa Abbas menginstruksikan dia beserta pimpinan keamanan lain untuk berhenti berbicara kepada mitra Israel mereka.

Pesan Faraj ditujukan kepada masyarakat Israel. Tujuannya, untuk menekan Pemerintahan Israel dan Perdana Menteri Binyamin Netanyahu supaya tunduk kepada tuntutan masyarakat Palestina dan bersedia membongkar pemindai logam. Ini sebabnya Faraj menggunakan seorang wartawan Israel yang terkenal bersimpati terhadap Abbas dan pemimpin PA. Faraj dan bossnya ----Abbas---ingin menakut-nakuti publik Isreal kemudian memaksa mereka berbalik menentang Netanyahu. Caranya, dengan memberi tahu mereka bahwa Palestina akan menghentikan kerja sama keamanan dengan Israel kecuali jika pemindai logam dibongkar---yang memang disetujui oleh Pemerintah Israel untuk dilaksanakan pada malam 24 Juli lalu.

Orang pun bertanya-tanya, ketika Otoritas Palestina memperbarui taktiknya yang menakutkan: mereka menggunakan cara ini selama beberapa dekade untuk menakut-nakuti publik Israel.

Bukti terbaik bahwa Abbbas masih terus menggerak setiap orang berkaitan dengan kerja sama keamanan dengan Israel adalah apa yang terjadi pada Maret 2015, Kala itu, Komite Sentral PLO, sebuah lembaga utama pembuat keputusan pimpinan Abbas, memberikan suara mendukung penghentian koordinasi keamanan dengan pihak Israel. Bukan saja tidak pernah dijalankan, kenyataannya koordinasi keamanan antara Palestina dan Israel sejak itu justu semakin kuat karena kedua belah pihak menghadapi musuh bersama di Tepi Barat bernama Hamas.

Abbas masih memainkan permainan lamanya: karena takut dengan kemarahan yang melanda jalanan-jalanan Palestina, dia mengeluarkan pernyataan pendek dan padat 23 Juli lalu. Pernyataannya mengklaim bahwa keputusan untuk menghentikan kontak dengan Israel benar-benar mencakup koordinasi keamanan. Bagaimanapun, pernyataan terakhir tidak ada gunanya karena para pejabat Israel dan Palestina bersikap tegas sehingga memperlihatkan hal yang persis sebaliknya. Para pejabat keamanan Israel mengejek keputusan Abbas dan mengatakan tindakan Abbas itu sebagai simbol kemudian mengatakan bahwa koordinasi keamanan berlanjut lewat lewat telepon.

Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas. (Sumber foto: kremlin.ru)

Jadi, siapakah yang memanfaatkan ancaman Abbas secara serius untuk menghentikan kerja sama keamanan dengan Israel? Bukan Israel. Bukan Amerika. Dan tentu bukan banyak warga Palestina. Abbas terjebak antara dua tempat yang mengerikan (bad) ---kedua-duanya akibat perbuatannya sendiri. Satu pihak dia tahu bahwa kerja sama keamanan dengan Israel adalah satu-satunya kebijakan yang menjamin dirinya untuk tetap berada di puncak kekuasaan sekaligus tetap hidup. Pada pihak lain, Abbas sangat mawas terhadap statusnya di antara banyak warga Palestina yang lebih senang menggantikan dia dengan orang lain...sesuai selera mereka.

Abbas hidup dalam Negeri Ajaib yang kejam. Dari satu sisi mulutnya dia mengklaim ingin mencari solusi damai terhadap krisis pemindai logam dan dari sisi lainnya dia menghasut rakyatnya untuk membunuh semakin banyak warga Israel. Seperti terlihat, apakah koordinasi keamaan itu "suci" atau "dihentikan," Abbas yang berada di dalamnya bertindak demi satu satu orang saja. Untuk dirinya sendiri.

Bassam Tawil adalah Muslim Arab yang berdiam di Timur Tengah.

Topik Terkait:  Otoritas Palestina
Recent Articles by
terima informasi terbaru lewat email: berlangganan secara gratis kepada gatestone institute kiriman daftar.

id