• Mohammed Shafiq dikutip dalam Harian Sun mengatakan tentang Smith "Saya pikir dia seharusnya segera meminta maaf. Agama kami tidak untuk diolok-olok. Agama kami itu untuk dirayakan dan saya pikir orang merasa terganggu."

  • Shafiq tidak menjelaskan mengapa agamanya tidak boleh diolok-olok. Tampaknya, ia tidak mau tahu dengan hak masyarakat bebas di di negara bebas untuk melakukan atau mengatakan apapun yang kita suka tentang Islam atau agama lain kapan pun kita suka.

  • Tidak ada yang khusus dengan Islam sehingga ditakdirkan untuk tidak boleh diolok-olok. Kenyataannya, sangatlah bagus (baik bagi Muslim atau siapa saja) jika agamanya diolok-olok lebih banyak.

  • Tetapi di sana dalam kalimat itu ada ancaman implisit lagi. Semua orang ngotot agama mereka "tak boleh dicemooh." Dan bagi siapapun yang mengatakan diri moderat dan ditampilkan sedemikian oleh pers, tampaknya bakal sangat bermanfaat bila mereka tidak harus lebih terbuka dibandingkan dengan persoalan ini.

  • Tetapi dalam intimidasi yang tidak terlampau kentara ini, kita tidak secara tepat melihat bahwa itulah yang paling mengkhawatirkan publik? Bahwa terlepas dari apa yang dikatakan oleh para politisi kita, jurang yang kata orang sangat dalam memisahkan kaum ekstremis dan "kaum moderat" tampaknya pada waktu-waktu tertentu nyaris setipis kertas.

Jika ada satu pertanyaan yang paling memprihatinkan masyarakat seputar Islam radikal, maka itu adalah, "Apakah ada hubungan antara kaum ekstremis dan moderat?" Para politisi ternama di seluruh penjuru dunia Barat tak banyak membantu menjawab pertanyaan ini, ngotot. Dan, seperti yang mereka lakukan, ngotot bahwa Islam radikal tidak ada hubungan sama sekali dengan Islam dan bahwa kaum ekstremis itu mungkin saja sama jauhnya dari kaum moderat. Namun, publik merasakan bahwa bukan ini kasusnya.

Memang tak ada perdebatan publik menarik seputar peta diskusi yang sesungguhnya. Meski demikian, masyarakat umum tahu ada sesuatu yang tidak benar dengan analisis yang disajikan oleh para politisi Liberal dan kalangan lainnya. Publik perhatikan bukan saja ada sejumlah kaitan antara keduanya (suatu hal, yang satu di antaranya kaum Demokrasi di AS tolak), tetapi bahwa kaitannya bisa saja lebih dekat dibandingkan dengan apa yang orang inginkan. Contoh bagusnya diperlihatkan di Kerajaan Inggris pekan ini, dalam kurun waktu hanya 24 jam.

Pada hari Jumad, Harian London Evening Standard menerbitkan sebuah kisah tentang polisi yang melancarkan investigasi terhadap kemungkinan adanya "kejahatan karena benci" (hate crime) dalam bacaan (literature) yang harian itu temukan tengah dibagi-bagikan di sebuah masjid di London. Potensi "kejahatan karena benci" bukanlah ragam yang sudah sangat baik kita kenal, seperti twit yang punya maksud tertentu atau komentar jorok.Tetapi lebih sebagai hal yang biasa kita sebut "penghasutan." Bacaan yang dibagi-bagikan di sebuah masjid di Walthamstow terdiri dari sebuah brosur (booklet) yang ngotot mengatakan "Muslim seharusnya membunuh siapapun yang menghina Nabi Islam. Orang yang menghina laki-laki utama "harus dibunuh," bacaan itu mengulang.

Pamflet itu mendukung pandangan ini dengan merujuk hukum Islam klasik. Juga dijelaskan bahwa dalam kasus orang-orang yang "menghina" Nabi Muhamad, seperti orang-orang yang meninggalkan Islam (apostate) yang "pantas dibunuh", maka orang tidak perlu menunggu pengadilan atau keputusan pengadilan memerintahkannya. Intinya, lebih baik segera laksanakan sendiri tanpa bantuan orang lain.

Brosur itu merujuk kepada sebuah kasus yang mungkin bakal berkembang pada masa depan. Yaitu kasus Mumtaz Qadri, pria Pakistan yang pada tahun 2011 lalu membunuh Salman Taseer, Gubernur Propinsi Punjab Pakistan. Kasus itu sudah banyak diketahui oleh masyarakat Inggris pribumi juga masyarakat Pakistan di Inggris. Qadri membunuh Taseer karena yang kemudian itu mendukung reformasi undang-undang Pakistan tenang penghinaan terhadap Islam yang kaku. Booklet itu menjelaskan bahwa "semua Muslim harus mendukung" aksi pembunuhan Qadri dan bawa apa yang media sebut sebagai "tokoh besar" seperti Taseer sekalipun tidak boleh melindungi seseorang untuk dibunuh oleh Muslim manapun yang merasa menginginkannya.

Salman Taseer, gambar dalam poster peringatannya di sebelah kita, adalah Gubernur Propinsi Punjab, Pakistan, ketika dibunuh pada 2011 lalu oleh seorang Muslim radikal, karena Tasser mendukung reformasi Undang-Undang Pencemaran Agama Islam yang Kaku di Pakistan. Kanan: Polisi London mungkin tengah melancarkan penyidikan "kejahatan karena benci atas sebuah brosur yang dibagi-bagikan di sebuah masjid di London. Brosur itu menjelaskan bahwa "semua Muslim harus mendukung " pembunuhan Taseer.

Polisi juga baru-baru ini menyelidiki Masjid Dar-ul-Uloom Qadria Jilania di Walthamstow, tempat brosur dibagikan. Mereka kemudian berusaha memeriksa imam masjid, Syed Abdul Qadir Jilani, orang yang nama dan fotonya dipasangkan di halaman depan brosur bermasalah itu. Tentu kelompok politik di Inggeris menanggapinya dengan berusaha mengabaikan apa saja bahkan semunya ini. "Telur busuk" atau "sebuah apel busuk" mungkin saja yang paling bisa publik harapkan dari politisi manapun, jika orang dipaksa untuk memberi pandangan soal Jilani, pamfletnya atau masjidnya. Namun, publik pembaca kisah seperti ini sudah pada tempatnya bertanya-tanya di mana gerangan orang seperti Jilani mendapatkan ide mereka serta seberapa luas pemikiran itu mungkin saja disebarluaskan.

Keesokan harinya, (Sabtu), para pembaca Harian The Sun bisa tahu kisah seorang selebriti senam Inggeris, Louis Smith yang mabuk-mabukan dengan teman-temannya di sebuah pesta pernikahan lalu membuat video yang tampaknya berbalik mengganggunya. Seperti ditulis dalam berita utama Harian Sun, "Has he got a screw Louis? Olympic ace Louis Smith accused of mocking Islam after yelling 'Allahu Akbar' and pretending to pray in boozy video." Video gonggongan mabuk itu mencakup aksi Smith dan seorang temannya menarik karpet dari dinding kemudian berteriak ""Allahu Akbar" sementara sang teman berpura-pura sholat dengan gaya Islam yang tersamar. Harian itu menggiring kisah itu sebagai berikut;

"Bintang Olimpiade dan mantan pemenang Strictly Come Dancing Louis Smith dituduh mengolok-olok Islam menyusul penampilan mereka dalam sebuah video dengan seorang rekan yang dengan gaya mabuk berpura-pura menjalankan sholat. Video memperlihatkan dia dan rekannya pesenam Luke Carson menyerukan 'Allahu Akbar', sebuah frasa Islam yang berarti, Allah Yang Mahaagung."

Nyaris bukanlah berita terpenting tahun ini. Nyaris juga tidak melibatkan sebagian besar tokoh penting masa kita. Tetapi kisahnya bakal dibaca oleh jutaan pembaca. Dan, akan mereka lihat reaksinya. Pertama, bahwa dari sebuah "sumber keamanan" yang memberi tahu pihak suratkabar bahwa "Mengolok-olok agama itu merupakan tindakan yang cukup bodoh. Dalam kasus Islam, dia juga bisa sangat berisiko untuk dilakukan." Kemudian, suratkabar itu menerbitkan kutipan wajib dari seorang yang dinyatakan "Muslim moderat," yang dalam kesempatan ini, adalah Mohammed Shafiq dari sebuah organisasi dengan satu anggota bernama "Yayasan Ramadan." Shafiq sebelumnya dipuja-puji di Inggeris karena keteguhan hati dan keberanian moralnya yang jelas luar biasa ketika tampil menentang perkosaan massal yang dilakukan geng penjahat terhadap anak-anak. Pada tahun 2013, dia diadili dengan tuduhan menghasut segerombolan massa menghukum mati orang tanpa proses pengadilan ketika reformis Muslim Maajid Nawaz men-twit sebuah gambaran tidak berbahaya yang justru Shafiq ngotot sebagai menyakitkan hati semua dunia Muslim.

Bagaimanapun, Mohammed Shafiq yang sama dikutip di Harian Sun ketika menanggapi video mabuk Louis Smith, mengatakan: "Saya pikir dia seharusnya segera meminta maaf. Agama kami tidak untuk diolok-olok. Agama kami itu untuk dirayakan dan saya pikir orang merasa terganggu." Shafiq tidak menjelaskan mengapa agamanya tidak boleh diolok-olok. Tampaknya, ia tidak mau tahu dengan hak masyarakat bebas di di negara bebas untuk melakukan atau mengatakan apapun yang kita suka tentang Islam atau agama lain kapan pun kita menyukainya. Tidak ada yang khusus dengan Islam sehingga ditakdirkan untuk tidak boleh diolok-olok. Kenyataannya, sangatlah bagus (baik bagi Muslim atau siapa saja) jika agamanya lebih sering diolok-olok. Tetapi di sana dalam kalimat itu ada ancaman implisit lagi. Memang, tidak menyolok dibanding dengan ancaman melawan Maajid Nawaz, tetapi benar-benar sangat dekat dengan garis yang digunakan oleh imam masjid Walthamstow serta kaum ekstremis yang membela Mumtaz Qadri.

Semua orang ngotot agama mereka "tak boleh dicemooh." Dan bagi siapapun yang mengatakan diri moderat dan ditampilkan demikian oleh pers, tampaknya bakal sangat bermanfaat bila tidak harus lebih terbuka dibandingkan dengan persoalan ini. Untungnya bagi mereka, ada orang-orang lain yang bersedia melakukan aksi pembunuhan di negara-negara seperti Pakistan dan kerapkali di Barat. Sebagian dari kita---entah pesenam pada sebuah malam santai atau siapa saja ---benar-benar diharapkan untuk belajar soal ini sekarang juga. Tetapi dalam intimidasi yang tidak terlampau kentara ini, kita tidak tepat melihat bahwa itulah yang paling mengkhawatirkan publik? Bahwa terlepas dari apa yang dikatakan oleh para politisi kita, jurang yang kata orang sangat dalam memisahkan kaum ekstremis dan "kaum moderat" tampaknya pada waktu-waktu tertentu nyaris setipis kertas.

Douglas Murray, pengarang, pengamat politik sertaanalis masalah publik Inggeris dan berdiam di London, Inggris.

Topik Terkait:  Threats to Free Speech
Recent Articles by
terima informasi terbaru lewat email: berlangganan secara gratis kepada gatestone institute kiriman daftar.

id