• Ada hal mengerikan yang tengah Facebook lakukan. Dia menghapus pembicaraan yang agaknya hampir semua orang mungkin menganggapnya rasis. Termasuk juga menghapus pembicaraan yang hanya dianggap "rasis" oleh satu orang di Facebook.

  • Seluruh penjuru Eropa mulai melihat realitas penuh ancaman dalam masyarakat, tatkala ungkapan pendapat mereka diubah menjadi kejahatan. Baru saja pekan silam, berbagai laporan dari Belanda mengisahkan tentang warga negara Belanda yang didatangi polisi serta diingatkan tentang tulisan anti-imigrasi massal media sosial lain.

  • Terkait kekerasan, bagaimanapun, pembicaraan merupakan salah cara terbaik bagi orang untuk menyalurkan frustrasi mereka. Mengabaikan hak untuk berbicara tentang frustrasi anda, maka yang tersisa pada anda hanyalah kekejaman.

  • Tutupnya sudah dipasangkan tepat pada waktunya pada panci masak, ketika panasnya muncul. Karena itu, "inisiatif agar masyarakat sipil berani" akan menjelaskan kepada Merkel dan Zuckerberg bahwa kebijakan mereka hanya punya satu akibat.

Baru saja beberapa pekan silam Facebook dipaksa mencabut ketika ketahuan membiarkan ada postingan anti-Israel, tetapi mensensor postingan sepadan yang anti-Palestina.

Sekarang, ada satu kisah paling mengerikan tahun silam yang bahkan nyaris tidak diberitakan kepada publik. Peristiwa itu terjadi September lalu, tatkala Kanselir Jerman Angela Merkel menemui Mark Zuckerberg dari Facebook di tengah KTT Pembangunan PBB di New York. Saat keduanya duduk bersama, mikrofon Kanselir Merkel, masih menyala, merekam pertanyaan Merkel kepada Zuckerberg. Pertanyaan orang nomor satu Jerman itu adalah apakah yang dapat dilakukan untuk menghentikan postingan-postingan anti-imigrasi yang ditulis di Facebook. Dia tanyakan, jika itulah persoalan yang sedang ditangani, Mark Zuckerberg memastikan bahwa dia memang sedang menangani persoalan itu.

Barangkali, pada waktu itu, aspek paling menonjol dari permbicaraan ini adalah Kanselir Jerman berusaha menghabiskan waktu mencemaskan bagaimana menghentikan sikap publik yang tidak sukai dengan kebijakannya dan menggembar-gemborkan di sosial media. Padahal, waktu itu, negerinya sedang melewati salah satu peristiwa paling berarti dalam sejarah pascaperang negerinya. Tetapi kini tampaknya diskusi itu menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan dampaknya.

Pekan silam, Facebook meluncurkan apa yang disebutnya "Initiative for civil courage online" (Inisiatif bagi masyarakat untuk berani ungkapkan pikiran secara online). Tujuannya, Facebook mengklaim, adalah untuk menghapus "pembicaraan bernada benci" (hate speech) dari Facebook --- khususnya menghapus berbagai komentar yang "mempromosikan Xenophobia atau kebencian terhadap orang asing." Untuk itu, Facebook bekerja sama dengan sebuah unit dari Penerbit Bertelsmann, yang bermaksud mengidentifikasi kemudian menghapus tulisan-tulisan bernada "rasis" dari situsnya. Upaya itu secara khusus hendak difokuskan pada para pemakai Facebook di Jerman. Ketika inisiatif baru itu diluncurkan, pejabat utama pengelola Facebook, Sheryl Sandberg menjelaskan bahwa, "Pembicaraan bernada benci tidak punya tempat dalam masyarakat kita --- bahkan di Internet." Dia melanjutkan mengatakan bahwa. "Facebook bukan tempat untuk penyebarluasan pembicaraan- pembicaraan bernada benci atau yang menghasut orang untuk melakukan kekerasan." Tentu saja, Facebook dapat melakukan apa yang disukainya di website-nya sendiri. Yang menganggu adalah apakah yang organisasi itu perjuangkan dan pemikirannya yang kacau justru memperlihatkan apa yang sedang terjadi di Eropa.

Gerakan massa jutaan orang --- dari segala penjuruAfrika, Timur Tengah dan tempat-tempat yang lebih jauh lagi--- memasuki Eropa dalam rekor waktu yang pantas dicatat. Dan itu peristiwa luar biasa besar dalam sejarah Eropa. Seperti diperlihatkan oleh berbagai peristiwa di Paris, Cologne dan Swedia, peristiwa itu tentu bukanlah rangkaian peristiwa yang hanya berkonotasi positif.

Banyak warga Eropa sangat takut dengan implikasi keamaan yang terjadi menyusul dibiarkannya jutaan orang yang tidak diketahui identitas, keyakinan dan niatnya memasuki negeri mereka---- apalagi dalam jumlah besar. Selain itu, mereka sangat prihatin bahwa gerakan massa ini meneriakan adanya perubahan yang tidak bisa diubah lagi dalam jalinan sosial masyarakat mereka. Banyak warga Eropa tidak ingin menjadi "melting pot," atau tempat masyarakat Timur Tengah dan Afrika melebur menjadi satu. Justru sebaliknya, mereka ingin mempertahankan sesuatu dari identitas dan tradisi mereka sendiri. Jelaslah bahwa ini bukan sekedar persoalan kelompok minoritas yang merasa prihatin. Satu demi satu polling memperlihatkan mayoritas yang signifikan publik dalam setiap negara Eropa yang menentang kebijakan imigrasi dengan angka pengungsian seperti akhir-akhir ini.

Ada hal mengerikan yang tengah Facebook lakukan. Dia menghapus pembicaraan yang agaknya hampir semua orang mungkin menganggapnya rasis. Termasuk juga menghapus pembicaraan yang hanya dianggap "rasis" oleh satu orang di Facebook.

Dan kebijakan itu kebetulan terbukti. Dan, seperti sudah diramalkan, ide tentang pembicaraan bernada "rasis" ini tampaknya hendak memasukan ide apa saja yang kritis terhadap kebijakan imigrasi yang menjadi bencana bagi masyarakat Uni Eropa akhir-akhir ini.

Dengan memutuskan bahwa komentar-komentar bernada benci terhadap orang asing yang merupakan reaksi terhadap krisis itu berberbau "rasis," Facebook juga membangun kesan seolah pandangan mayoritas masyarakat Eropa menjadi rasis (padahal, dia seharusnya menekankan bahwa pandangan masyarakat Eropa itu menentang kebijakan Kanselir Merkel). Dengan demikian, Facebook sebetulnya mengecam mayoritas masyarakat Eropa sebagai "rasis." Kebijakan seperti ini yang akan berperan mendorong Eropa menuju masa depan yang penuh marah bahaya.

Karena walau sejumlah bentuk pembicaraan yang begitu dikhawatirkan oleh Facebook, bersifat "Xenophobia," tetap saja ada sejumlah pertanyaan serius yang perlu dimunculkan. Yaitu, pertanyaan yang terkait dengan mengapa pembicaraan semacam ini seharusnya dilarang. Terkait kekerasan, bagaimanapun, pembicaraan merupakan salah cara terbaik bagi orang untuk menyalurkan frustrasi mereka. Mengabaikan hak untuk berbicara tentang frustrasi anda, maka yang tersisa pada anda hanyalah kekejaman. Negara Weimar Germany di Jerman (Negara Jerman yang pernah berdiri pada 1919 – 1933 menggantikan Kekaisaran Jerman, JEL) --- untuk berikan satu contoh--- penuh dengan undang-undang berkaitan dengan pembicaraan tentang kebencian yang bertujuan membatasi pembicaraan yang tidak negara sukai. Undang-undang itu tidak melakukan apa-apa untuk membatasi bangkitnya ekstremisme; dia hanya melahirkan para syuhadah dari kalangan orang yang mengejarnya dan pada pihak lain meyakinkan lebih banyak orang lagi bahwa waktu mereka untuk berbincang-bincang memang sudah selesai.

Seluruh penjuru Eropa mulai melihat realitas penuh ancaman dalam masyarakat, tatkala ungkapan pendapat mereka diubah menjadi kejahatan. Baru saja pekan silam, berbagai laporan dari Belanda mengisahkan tentang warga negara Belanda yang didatangi polisi serta diingatkan tentang tulisan anti-imigrasi massal di Twitter dan media sosial lainnya.

Dalam paduan berbahaya ini, Facebook kini----sadar atau tidak sadar----sudah memerankan tugasnya. Tutupnya sudah dipasangkan tepat pada waktunya pada panci masak, ketika panasnya muncul. Karena itu, "inisiatif agar masyarakat sipil berani" akan menjelaskan kepada Merkel dan Zuckerberg bahwa kebijakan mereka hanya punya satu akibat.

Douglas Murray adalah penulis, wartawan dan pengamat politik Inggeris yang berbasis di London, Inggeris.

Recent Articles by
terima informasi terbaru lewat email: berlangganan secara gratis kepada gatestone institute kiriman daftar.

id