• Selain Islam, agama lain di Turki tidak punya kekuasaan, pengaruh atau mendapatkan dana dari Diyanet --- padahal, anggarannya jauh lebih banyak daripada sebagian besar kementerian negeri itu. Agama-agama lain pun, tidak diakui resmi ( seperti dalam kasus Alevisme dan Yazidisme) atau nyaris di ambang penghapusan sepenuhnya oleh pemerintah --- seperti dalam kasus Judaisme, Ortodoks Yunani dan Kristen Assyria (Suriah) dan Armenia.

  • "Sejak dunia diciptakan, hanya ada satu agama dan itu adalah Islam. Karena itu, ketika Islam tidak ada di sana sebelum Nabi Muhamad datang ke sana, maka itu tempat harus sudah menjadi kawasan Islam. Jadi tempat seperti itu harus dibebaskan, tidak untuk ditaklukan. Dan karena itu, tidak ada pendudukan Islam. Jika orang menduduki kawasan apapun maka selalu ada orang lain, bukan kaum Muslim. Jadi, tidak ada pendudukan Islam. Hanya ada pembebasan Islam."---Moshe Sharon, Profesor Emeritus Kajian Islam dan Timur Tengah, Universitas Hebrew, Yerusalem.

  • Bagaimanapun, supaya efektif, kebijakan-kebijakan ini harus mencakup upaya untuk mendiskusikan secara jujur terbuka sejarah dan doktrin Islam termasuk pernyataan yang berulang-ulang kali diucapkan masa kini, bukan sebagai "agama damai" tapi agama perang dan terror. Karena bagaimanapun, dalam Islam, perdamaian hanya bakal terjadi setelah seluruh dunia menerima Allah serta hukum Islam, Sharia.

Perdebatan seputar apakah Islam itu "dibajak" oleh kaum fundamentalis---atau apakah agama itu mengkotbahkan semacam kebencian yang mengarah kepada terorisme --- berkobar sejak tragedi serangan berdarah atas Menara Pusat Perdagangan Dunia, Amerika Serikat, 11 September 2001. Meski persoalan itu belum diselesaikan, ada satu persoalan yang jelas terlihat mata. Yaitu bahwa menganggap kaum Yahudi serta umat Kristen sebagai jahat itu lumrah terjadi di dunia Muslim.

Ambil Turki sebagai contoh. Di sana, selama beberapa dekade, sikap anti-Semitisme diperlihatkan di depan publik oleh beberapa pejabat pemerintah, lembaga agama serta media kenamaan. Juni tahun ini, kepala Direktorat Urusan Agama Turki (Diyanet) bergabung dalam koor anti-Semitisme.

Dalam sebuah pidato yang disampaikannya di Gaziantep --- transkripnya dipostingkan pada akun Twitter resmi Diyanet, --- Prof. Dr. Mehmet Görmez memaklumkan bahwa Islam dibawa ke dunia oleh Allah untuk mengoreksi "penyimpangan yang dilakukan oleh Yudaisme dan Agama Kristen. Di pusat Yudaisme, katanya, ada persoalan "materi, uang dan kekayaan." Agama Kristen, tegasnya, menggunakan interpretasi yang ilahi benar-benar secara berbeda, walau sama-sama "salah." "Agama Kristen hadir dengan pemahaman yang memperburuk wajah dunia sekaligus menganggap harta milik dan kekayaan nyaris dilarang [haram]."

Mehmet Görmez, Presiden Direktorat Urusan Agama Turki (Diyanet) mengumumkan Juni lalu bahwa Islam dibawa ke bumi oleh Allah untuk mengoreksi "pemutarbalikan" yang dilakukan oleh Agama Yudaisme dan Kristen. (Sumber foto: Tezkiretul/Wikimedia Commons).

Diyanet didirikan pada 1924 oleh pemerintah pendiri Turki di bawah kekuasaan Partai Rakyat Republik setelah Kalifah Ottoman dihapuskan, sebagai pengganti Sheikh ul-Islam, yang berwenang menangani urusan agama sebelumnya. Lembaga itu memiliki banyak departemen, Yang paling penting dari semuanya itu adalah Dewan Tinggi Urusan Agama. Tugas lembaga tersebut mencakup:

"Membuat keputusan, berbagi pandangan dan menjawab pertanyataan seputar persoalan agama dengan mempertimbangkan teks-teks sumber dan metodologi yang fundamental serta pengalaman historis agama Islam sekaligus tuntutan dan kebutuhan masa sekarang."

Selain Islam, agama lain di Turki tidak punya kekuasaan, pengaruh atau mendapatkan dana dari Diyanet --- padahal, anggarannya jauh lebih banyak daripada sebagian besar kementerian negeri itu. Agama-agama lain pun, tidak diakui resmi ( seperti dalam kasus Alevisme dan Yazidisme) atau nyaris di ambang penghapusan sepenuhnya oleh pemerintah --- seperti dalam kasus Judaisme, Ortodoks Yunani dan Kristen Assyria (Suriah) dan Armenia.

Turki memang tidak sendiri dalam praktek ini, yang membawa kita kepada pertanyaan mengapa, "Muslim sangat membenci kaum Yahudi."

Menurut Andrew Bostom, pengarang buku bertajuk The Legacy of Islamic Antisemitism: From Sacred Texts to Solemn History (Warisan Antisemitisme Islam: Dari Teks Suci hingga Sejarah yang Penuh Khidmat), jawabannya terletak dalam Al-Qur'an. Di dalamnya, "motif anti-Yahudi yang utama...ditemukan dalam ayat 2:61, dan kembali berulang pada ayat 3:112."

Mereka direndahkan [oleh Allah], di mana pun mereka dikejar (overtaken), kecuali demi sebuah perjanjian dari Allah dan seutas tali dari kaum Muslim. Mereka timpakan atas diri mereka sendiri kemarahan Allah sehingga dibiarkan miskin papa. Itu terjadi karena mereka tidak percaya kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang bukan menjadi hak mereka. Itu karena mereka menentang dan [terbiasa] melanggar. (3: 112) SAHIH INTERNATIONAL

Dalam sebuah wawancara pada 2008, Bostom mengatakan:

"Inilah tempat Yahudi dituduh membantai para nabi serta melawan keinginan Allah sehingga mereka dikecam dan dikutuk selamanya. Ayat 2.61 mengatakan, 'hal memalukan dan penderitaan' dicapkan atas mereka.' Dan ayat ini dipasangkan dengan ayat-ayat seperti ayat 5:60 dan ayat lain seputar kaum Yahudi yang diubah menjadi kera dan babi, yang merupakan bagian dari kutukan mereka. Ayat 5:78 menjelaskan kutukan atas kaum Yahudi yang diucapkan oleh Daud dan Yerus, Putera Maria. Ada ayat yang terkait ayat 5:64 yang menuduh kaum Yahudi sebagai pelaku penyebarluasan perang dan korupsi, semacam pendahuluan klasik dari Protocols of the Elders of Zion (Protokol Para Penatua Zion). (Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas mengutip ayat ini dalam pidatonya yang penuh kecaman terhadap kaum Yahudi Israel pada 2007.) Yang jauh lebih umum lagi, seluruh diskusi Al-Qur'an seputar kaum Yahudi ditandai oleh litani tentang dosa dan hukuman atas mereka, seolah-oleh dia menjadi bagian dari tuduhan, sikap sekaligus proses untuk menjatuhkan hukuman."

Dengan melihat persoalan ini di luar Al-Qur'an, Moshe Sharon, Professor Emeritus Kajian Islam dan Timur Tengah pada Universitas Hebrew Jerusalem, menjelaskan bahwa;

"sikap dasarnya adalah bahwa semua sejarah,kenyataannya, adalah sejarah Islam...bahwa semua tokoh penting sejarah pada dasarnya adalah Muslim---mulai dari Adam menurun hingga masa kita. Jadi, jika kaum Yahudi atau Kristen menuntut sesuatu hal dan mendasarinya pada fakta bahwa ada seorang raja bernama Salomon atau seorang raja bernama Daud atau seorang nabi bernama Musa atau Yesus, mereka pun mengatakan sesuatu yang tidak benar atau, kenyataannya, mereka tidak tahu bahwa semua tokoh itu pada dasarnya adalah tokoh Muslim."

Sharon melanjutkan penjelasannya:

"Kenyataannya, sejak dunia diciptakan, hanya ada satu agama dan itu adalah Islam. Jadi, jika orang mengatakan, 'Lihat, ada tempat yang terkait dengan Salomo dan bahwa itu adalah tempat Bait Allah Salomo berdiri,' maka seorang Muslim sejati bakal katakan kepadamu, 'Ya, kau memang benar. Tetapi jangan lupa bahwa Salomo itu Muslim dan Daud itu Muslim. Abraham itu Muslim. Isaak itu Muslim dan Yesus itu Muslim.' Inilah yang mereka maksudkan dengan Islamisasi Sejarah."

Sharon mengatakan bahwa lewat "Islamisasi sejarah" ini, maka ada juga "Islamisasi geografi" sedemikian rupa sehingga,

"Tempat manapun yang terhubung dengan orang-orang itu atau dengan para nabi itu yang semuanya Muslim menjadi kawasan Muslim. Karena itu, ketika Islam tidak ada di sana sebelum Nabi Muhamad datang ke sana, maka itu tempat harus sudah menjadi kawasan Islam. Dengan kawasan itu, saya maksudkan Timur Tengah atau bagian lain di luar Timur Tengah yang kini Muslim. Jadi tempat apapun seperti itu harus dibebaskan, tidak untuk ditaklukan. Mereka harus dibebaskan. Dengan demikian, Islam tampak dalam sejarah masa Nabi Muhamad---atau kembali tampil dalam sejarah dari sudut pandang mereka---sebagai pembebas. Dan karena itu, tidak ada pendudukan Islam. Jika orang menduduki kawasan apapun maka selalu ada orang lain, bukan kaum Muslim. Jadi, tidak ada pendudukan Islam. Hanya ada pembebasan Islam."

Seperti disoroti Bostom serta para revisionis sejarah kaum Islam radikal yang diilustrasikan Sharon, perpaduan ayat-ayat Al-Qur'an yang penuh kebencian itu menciptakan monster dalam bentuk ancaman yang nyata terhadap dunia Yudeo-Kristian. Masyarakat Barat perlu menerapkan kebijakan-kebijakan yang tidak apologetik untuk melindung kebebasan beragama baik kaum non-Muslim maupun kaum Muslim yang tidak ekstrim, di manapun mereka berdiam, guna mengatasi persoalan ini,

Bagaimanapun, supaya efektif, kebijakan-kebijakan ini harus mencakup upaya untuk mendiskusikan secara jujur terbuka sejarah dan doktrin Islam termasuk pernyataan yang berulang-ulang kali diucapkan masa kini, bukan sebagai "agama damai" tapi agama perang dan terror. Karena bagaimanapun, dalam Islam, perdamaian hanya bakal terjadi setelah seluruh dunia menerima Allah serta hukum Islam, Sharia.

Uzay Bulut, seorang wartawan yang terlahir dan dibesarkan sebagai Muslim di Turki. Kini, dia berbasis di Washington, DC. Ia mitra yang menulis untuk Middle East Forum (Forum Timur Tengah).

Recent Articles by
terima informasi terbaru lewat email: berlangganan secara gratis kepada gatestone institute kiriman daftar.

id