• Soal terorisme dan aksi kejam yang dilancarkan oleh kaum radikal Islam (Islamis), para pemimpin Kristen hanya menawarkan kata-kata yang mengambang serta prinsip moral yang sama. Apakah mungkin, setelah dua pembantaian besar-besaran atas umat Kristen, pemimpin Katolik tidak punya satu kata tunggal tentang keberanian dan kehormatan, dan hanya menawarkan yang sama dari pipi yang lain?

  • Elite sekular kita mengecam aksi pemurtadan jemaah hanya ketika itu dilakukan oleh umat Kristen, tetapi tidak pernah mengecamnya jika dijalankan oleh kaum Muslim.

  • Di Suriah dan Irak, ada puluhan, jika bukan ratusan, tempat ibadat Kristen dihancurkan oleh kaum fundamentalis Islam selama tiga tahun terakhir. Citra ini, berjalan iring dengan aksi pemenggalan kepala serta pemerkorsaan massal terhadap kaum minoritas, mengguncang masyarakat umum, tampaknya, untuk satu hari saja.

Belum banyak yang kita ketahui tentang tiga teroris yang mengatakan, "Ini untuk Allah!" lalu membunuh serta melukai begitu banyak orang di London, 4 Juni lalu. Tetapi pertimbangkan dua adegan berikut baru-baru ini;

Adegan pertama: Manchester, Kerajaan Inggeris, sebuah "Dunia Bebas." Seorang teroris Muslim kelahiran Inggeris berdoa di bekas gereja. Semua yang ada di sekitarnya adalah situs atau bangunan Kristen. Umat gereja pun sudah menerima situs-situs Kristen itu diubah menjadi situs Islam. Sehari sesudah itu, teroris ini terus mengamuk dan membunuh 22 orang yang mengikuti konser.

Adegan kedua: Minya, Mesir, sebuah dunia "yang tidak bebas." Sebuah kelompok kaum radikal Muslim (Islamis) pelaku teror, menghentikan sebuah bus yang penuh pepak dengan peziarah Kristen. Para teroris menuntut agar para korban mereka melafaskan kredo Islam, Syahadat. Umat Kristen menolak meninggalkan agama Kristen dan menjadi Muslim. Menghadapi penolakan itu, kaum Islamis kemudian membunuh mereka, satu demi satu.

Apakah yang disampaikan oleh adegan-adegan itu kepada kita? Umat Kristen Timur Tengah lebih keras menolak Islam di Timur Tengah dibandingkan dengan di Eropa.

Salman Abedi, teroris Inggeris yang membunuh 22 pria, wanita serta anak-anak lugu di Arena Manchester bisa, setiap hari memasuki bangunan yang dulunya sebuah Gereja Kristen yang indah, yang diberkati pada tahun 1883. Namun, gereja itu dinajiskan pada era 1960-an, ketika gelombang sekularisasi besar-besaran terjadi. Orang masih ingat bahwa masjid itu sebelumnya adalah Gereja Methodis hingga dibeli oleh komunitas Muslim Suriah setempat yang kemudian menjadikannya tempat ibadah Islam dan berganti nama menjadi Masjid Didsbury. Orang pun masih melihat arsitektur khas gereja, mulai dari menara lonceng hingga jendela-jendelanya. Tetapi di dalamnya, tidak ada lagi altar. Abedi bisa langsung menuju mihrab, ceruk kecil masjid yang mengindikasikan arah kiblat ke Mekah. Mimbarnya tetap ada di sana, tetapi tidak lagi digunakan oleh pastor Kristen. Ia digunakan oleh imam untuk kotbah dan shahadat Islam.

Di luar Masjid Didsbury, sebuah papan petunjuk terentang mengumumkan: "Apakah anda ingin tahu lebih banyak tentang Islam? Datang dan bersosialisasilah." Papan petunjuk seperti itu tidak bisa dibayangkan bagi agama Kristen di kota-kota Eropa manapun. Elite sekular kita mengecam aksi pemurtadan jemaah hanya ketika itu dilakukan oleh umat Kristen, tetapi tidak pernah mengecamnya jika dijalankan oleh kaum Muslim. Di Youtube, sebuah organisasi Islam merayakan peristiwa "perubahan gereja menjadi masjid." Bukannya ada jadwal waktu untuk misa, di sana malah ada papan bertuliskan, "Ruang Sholat Pria."

Beberapa hari setelah serangan Manchester, kaum radikal Islam (Islamis) menyerang umat Kristen. Kali ini, para peziarah di Mesir. Serangan terjadi setelah Paus Fransiskus berkunjung ke Mesir, di mana Paus mempersembahkan penderitaan umat Kristen setempat hanya dengan secara tersamar mengecam "setiap bentuk kebencian atas nama agama". Pimpinan Gereja Katolik jelas tidak berani mengajukan pertanyaan seputar fundamentalisme Islam, seperti yang pernah dilakukan pendahulunya, Paus Benediktus XVI, di Regensburg.

"Agama tidak menyebabkan aksi kekerasan dan terorisme," ujar pimpinan para uskup Italia, Cardinal Gualtiero Bassetti secara meyakinkan setelah pembantaian di Manchester. Dia pun kemudian menambahkan: "Kaum Muslim, Yahudi serta Kristen percaya kepada satu pencipta yang tunggal." Sayangnya, kaum teroris membunuh umat Kristen di Minya karena mereka menyakini Allah lebih unggul daripada agama Yudeo-Kristen serta memberikan kepada mereka hak untuk mencabut nyama "orang-orang tidak beriman."

Soal terorisme dan aksi kejam yang dilancarkan oleh kaum radikal Islam (Islamis), para pemimpin Kristen hanya menawarkan kata-kata yang mengambang serta prinsip moral yang sama. Apakah mungkin, setelah dua pembantaian besar-besaran atas umat Kristen, pemimpin Katolik tidak punya satu kata tunggal tentang keberanian dan kehormatan, dan hanya menawarkan yang sama dari pipi yang lain.

Prelat Katolik yang paling rendah hati, Uskup Agung Ferrara, Luigi Negri mengatakan;

"Saya berharap beberapa dari "guru" ini ---guru budaya, politik serta agama---dalam situasi ini menahan kembali kata-kata mereka serta tidak menyampaikan pidato-pidato yang biasa untuk mengatakan bahwa 'ini bukan perang agama.' Saya berharap ada saat untuk saling menghargai secara diam."

Celakanya, para "guru" itu tidak menahan kata-kata mereka. Mereka mengungkapkan kata-kata yang melemahkan sekaligus membingungkan.

Para pejuang Islam itu, seperti mereka-mereka yang menyerang Manchester dan Minya tidak "diradikalisasi." Mereka mengikuti agama Islam yang didiktekan sesuai bacaan Al-Qur'an. Mereka menyerang Eropa karena meyakini Islam lebih unggul serta lebih kuat dibanding Eropa. Mereka merasa Allah dan sejarah berada di pihak mereka. Mereka ingin melihat bendera Islam berkibar megah di di seluruh penjuru ibukota negara-negara Barat.

Para jihadi mungkin berpikir bisa lakukan atas Eropa apa yang mereka lakukan atas umat Kristen di Niniveh, Irak. Satu-satunya cara kita untuk dapat menang adakah dengan mengalahkannya. Tidak ada kompromis. Tetapi sayangnya, Eropa justru berbicara tentang "inklusi" dan "integrasi." Tidak pernah berbicara tentang kemenangakn

Ketika umat Muslim menjalankan sholat di bekas bangunan-bangunan Kristen, umat Kristen di Timur Tengah justru dibunuh karena menolak meninggalkan agama Kristen dan beralih masuk Islam. Rm. Antonio Gabriel dari Paroki San Mina dari Gereja Koptik di Roma, dalam sebuah wawancara dengan Stasiun Televisi Tg2000 memperlihatkan dinamika agresi kaum Islam radikal (Islamis) yang baru terhadap komunitas umat Koptik di Mesir. Para teroris itu, sebelum membunuh para penumpang dua bus yang bepergian menuju Biara San Samuele, "meminta mereka meninggalkan Kristus dan beralih menjadi Muslim." Tetapi umat Kristen Koptik menanggapi secara negative tuntutan untuk murtad itu. Penolakan untuk beralih memeluk Islam mendorong para teroris yang marah itu, "mengarahkan senapan atas kepala dan leher" para peziarah "supaya bisa langsung membunuh mereka."

"Jika menerima, " Romo Gabriel tunjukan, "para teroris itu membiarkan mereka hidup."

Penggunaan senjata keras yang sama terjadi di Irak. Para militant ISIS memberikan pilihan kepada empat anak Irak. Pilihan itu adalah beralih menganut Islam atau mati dengan kepala dipenggal. Ternyata anak-anak itu memilih untuk mengikuti Yesus. Dan mereka pun dibunuh.

Tetapi kisah-kisah mengagumkan ini tidak pernah berhasil mencapai suratkabar-suratkabar dan televisi arus utama Eropa. Seolah-olah informasi ini mengganggu kepastian-kepastian mutlak untuk membenarkan diri. "Selama beberapa dekade, komunitas-komunitas Kristen Timur Tengah yang semakin dikepung menderita akibat masyarakat Barat yang benar-benar tidak mampu melihat persoalan ini," tulis Ross Douhat dalam Harian New York Times. Apakah ketidakmampuan melihat itu merupakan akibat dari upaya Barat untuk melepaskan identitas dirinya sendiri sebagaimana terjadi dengan gereja di Manchester?

Di Suriah dan Irak, ada puluhan, jika bukan ratusan, tempat ibadat Kristen dihancurkan oleh kaum fundamentalis Islam selama tiga tahun terakhir. Citra ini mengguncang pendapat umum dan tampaknya, pada suatu ketika ---- berjalan iring dengan aksi pemenggalan kepala serta pemerkorsaan massal terhadap kaum minoritas. Gereja, makam serta situs-situs arkeologis --- setiap bangunan yang bersematkan simbol agama Kristen (seperti salib, patung Santa Perawan Maria, ikon para santo-santa bahkan kuburan) ---dijarah hingga rata tanah. Tetapi, apakah kematian agama Kristen di jantung Eropa karena gereja-gerejanya diubah menjadi masjid itu kurang parah keadaannya? Dan mengapakah Paus Fransiskus tidak mengecam situs atau tempat suci Kristen ditinggalkan serta diambil alih oleh Islam?

Imam Agung Dmitri Smirnov, pimpinan Komisi Urusan Keluarga Gereja Orthodok Rusia, baru-baru ini mengumumkan:

"Sedikit waktu yang tersisa hingga seluruh Peradaban Kristen musnah. Selama beberapa dekade, barangkali 30 tahun, baiklah, mungkin di Rusia ia akan berakhir dalam 50 tahun. Tidak lebih."

Mustahil bagi pengamat politik manapun untuk menyangkal bahwa agama Kristen sedang mengalami kemerosotan hingga titik krisis terakhir di Eropa. Para pemimpin Katolik di Belanda memperkirakan dua pertiga dari 1.600 gereja mereka bakal tidak digunakan selama satu dekade dan bahwa 700 gereja Protestan Belanda bakal ditutup dalam empat tahun mendatang. Gereja Inggris menutup sekitar 20 bangunan gerejanya setahun. Gereja Katolik di Jeman sudah menutup 515 gereja selama 10 tahun terakhir. Anda pun menemukan scenario yang sama di manapun di Eropa.

"Kerapkali saya dengar dari kalangan Muslim bahwa mereka bermaksud menaklukan Eropa dengan dua senjata; dengan agama dan angka kelahiran mereka," urai Patriark Maronit dari Antiokia, Cardinal Bechara Boutros Rai.. "Karena itu, ketika mereka datang ke Eropa dan melihat gereja-gereja kosong serta menemukan masyarakat Eropa tidak beragama (unbelief), mereka langsung berpikir bahwa mereka akan mengisi kekosongan itu."

Inilah salah satu ironi paling tragis masa kita kini: bahwa umat Kristen di Eropa, termasuk Paus Fransiskus harus belajar banyak dari umat Kristen di Mesir, Suriah dan Irak.

Kardinal Bechara Boutros Rai, Patriark Maronit dari Antiokia pernah mengatakan; "Kerapkali saya dengar dari kalangan Muslim bahwa tujuan mereka adalah untuk menaklukan Eropa dengan dua senjata; dengan agama dan angka kelahiran mereka...Karena itu, ketika mereka datang ke Eropa dan melihat gereja-gereja kosong serta menemukan masyarakat Eropa tidak beragama (unbelief), mereka langsung berpikir bahwa mereka akan mengisi kekosongan itu." (Photo by Franco Origlia/Getty Images)

Setelah jihadi ISIS lain menggorok leher seorang iman tua berusia 85 tahun, Rm. Jacques Hamel, dalam misa Katolik di Prancis, tidak ada pawai yang diserukan untuk memrotes aksi pembunuhan sang imam. Tidak ada tokoh sekular atau suratkabar yang mengatakan, "Kami semua Umat Kristen." Seluruh lembaga Kristen malah menolak menuliskan kata "Islam."

Jangan buat kesalahan; kaum radikal Islam itu sangat jelas tujuannya: membasmi umat Kristen. Pembasmian itu bukan saja dari Mosul sebagaimana mereka lakukan pada tahun 2014 tetapi juga mencabut umat Kristen hingga akar-akarnya di Manchester, tempat gereja sudah diubah menjadi milik Islam. Kekuatan yang dipompakan untuk mengusir umat Kristen keluar dari tanah-tanah nenek moyang mereka sudah pada tempatnya berpikir: Mengapa tidak melanjutkannya di Bart pekerja yang sudah sangat bagus dimulai di Timur?

Giulio Meotti, Editor Budaya Il Foglio, adalah wartawan sekaligus pengarang Italia.

Topik Terkait:  Persecution of Christians
Recent Articles by
terima informasi terbaru lewat email: berlangganan secara gratis kepada gatestone institute kiriman daftar.

id