• Ada hal yang sangat penting dan yang berbeda dari klaim Palestina di sini. Yaitu bahwa Israel sama sekali tidak melarang umat Muslim memasuki Temple Mount. Karena. untuk pertama kalinya sejak 1967, warga Palestina menutup akses bebas jemaah Muslim yang mau sholat menuju Masjid Al-Aqsa.

  • Warga Palestina dan otoritas relijius Islam memprotes langkah keamanan yang bermaksud melindungi para jemaah Muslim yang sholat sekaligus mencegah tempat suci mereka dinajiskan oleh teroris dan para perusuh. Mereka memprotes karena Israel berjuang sehingga mempersulit mereka membunuh warga Yahudi.

  • Guna mengklarifikasi yang sebetulnya berlangsung (dapat dikatakan): bukan langkah keamanan yang benar-benar membuat warga Palestina marah. Bagi mereka, krisis ini bukan soal metal detector atau kamera keamanan. Bukanlah soal langkah keamanan yang ingin dibongkar oleh warga Palestina. Israel-lah yang ingin mereka bongkar.

Metal detector yang diandaikan dapat mencegah kaum Muslim menyelundupkan senjata ke dalam kompleks Temple Mount, yang dibongkar oleh pihak berwenang Israel pekan ini punya nama yang jauh akurat: "lie detector," alias pendeteksi kebohongan. Alat-alat itu telah mengungkapkan kebohongan warga Palestina serta alasan yang sebenarnya di balik kemarahan Palestina.

Israel membongkar pemindai logam dari pintu-pintu Temple Mount sebagai bagian dari perjanjian untuk mengakhiri krisis yang tidak terduga sebelumnya dengan Yordania terkait dengan pembunuhan dua pria Yordania oleh seorang petugas keamanan Kedutaan Besar Israel di Amman, Yordania. Petugas keamanan mengatakan, dia bertindak untuk membela diri setelah diserang oleh salah satu warga Yordania dengan obeng.

Krisis meletus setelah pihak berwenang Yordania ngorot supaya sang petugas diinterogasi---suatu permintaan yang ditolak Israel karena sang petugas punya kekebalan diplomatik. Campur tangan AS serta kontak telepon antara PM Israel Benyamin Netanyahu serta Raja Yordania Abdullah, telah membantu mengakhiri krisis secara damai dan cepat. Petugas itu pun beserta stat Kedutaan Besar Israel lainnya diijinkan meninggalkan Yordania untuk pulang kembali ke Israel.

Segera setelah staf kedutaan besar tersebut kembali ke Israel, otoritas Israel mulai membongkar pemindai logam yang dipasang di pintu masuk-pintu masuk menuju Temple Mount setelah teroris membunuh dua polisi 14 Juli lalu. Pembongkaran memantik gelombang rumor dan spekulasi, yang menurut rumor, Yordania mengijinkan staf kedutaan besar kembali pulang ke rumah sebagai pertukaran dengan pembongkaran pemindai logam

Israel dan Jordan menyangkal hubungan antara insiden penembakan di Amman dengan pembongkaran pemindai logam.

Krisis yang meletus antara Israel dan Yordania seputar pembunuhan dua warga Yordania diselesaikan kurang dari 48 jam ----dan ini sangat mengherankan warga Palestina.

Warga Palestina berharap bisa mengeksploitasi krisis sehingga memperburuk ketegangan antara Amman dengan Yerusalem. Tujuan akhir mereka adalah: untuk menyebabkan Yordania membatalkan perjanjian damainya dengan Israel serta kembali kepada suasana perang dengan "musuh Zionis." Warga Palestina juga berharap untuk mengeksploitasi krisis dengan tujuan menghasut warga Yordania melawan Israel serta monarki Hashemit.

Untungnya, pihak berwenang Yordania tidak masuk dalam jebakan Palestina. Mereka sadari bahwa penyelesaian krisis secara cepat dan damai itu merupakan kepentingan mereka sendiri. Raja Abdullah sangat bijak untuk tidak membiarkan warga Palestina menariknya masuk ke dalam konfrontasi dengan Israel.

Sejak pemindai logam dipasang di Temple Mount, warga Palestina melancarkan kampanye rekayasa dan pemutarbalikan (fabrications and distortions) lain melawan Israel. Tuntutan darah ganti darah Palestina itu mengklaim bahwa Israel sedang berusaha "mengubah statusquo" di Temple Mount dengan memperkenalkan langkah-langkah keamanan baru seperti pemindai logam dan kamera pengawas di pintu-pintu menuju tempat suci.

Namun, jika ada yang melanggar status quo, maka itulah warga Palestina sendiri.

Pelanggaran Status Quo Nomor Satu: Karena sejak dua tahun silam, warga Palestina berusaha mencegah kaum Yahudi berjalan-jalan di Temple Mount---sebuah praktek yang diijinkan sejak 1967.

Pelanggaran Status Quo Nomor Dua: Warga Palestina dan para pendukungnya sudah lama mengubah Temple Mount menjadi medan tempur untuk bentrok dengan polisi Israel serta tamu Yahudi. Dalam pengaturan yang terus menerus dilakukan yang seharusnya menarik perhatian komunitas internasional, mereka membayar pria dan wanita Muslim untuk datang ke kompleks suci kemudian merundung polisi serta tamu Yahudi dengan maki-makian dan lemparan bomb minyak (petrol bombs). Orang-orang itu termasuk kelompok penjahat yang dikenal sebagai Murabitun. Itu adalah sekelompok kaum Muslim fanatik yang mendapatkan uang dari Otoritas Palestina, Hamas dan Gerakan Islamiah di Israel untuk benar-benar berusaha menghentikan kaum Yahudi memasuki Temple Mount.

Pelanggaran Status Quo Nomor Tiga: Selama dua dekade silam, Lembaga Wakaf pengelola urusan masjid di Temple Mount serta pihak-pihak lain melakukan penggalian dan pembangunan illegal dalam upaya menciptakan fakta-fakta yang tidak dapat diubah di tempat itu. Lembaga Wakaf dan Otoritas Palestina mengklaim bahwa penggalian dimaksudkan untuk menolak klaim Yahudi atas Temple Mount sekaligus memperlihatkan kepada dunia bahwa kaum Yahudi tidak punya ikatan historis, relijius dan emosional terhadapYerusalem.

Pelanggaran Status Quo Nomor Empat: Warga Palestina serta pendukung mereka telah memanfaatkan kompleks Temple Mount sebagai panggung untuk memuntahkan sikap anti-Semitisme serta seruan untuk membunuh kaum Yahudi dan semua "orang kafir." Penyalahgunaan tempat suci sebagai podium untuk menyebarluaskan racun Palestina itu bukan praktek yang baru. Warga Palestina serta kaum Muslim lainnya sudah melakukan ini di Masjid Al-Aqsa serta masjid lain di seluruh dunia selama beberapa dekade. Ambil saja sebagai contoh ketika imam di Masjid Al-Aqsa meramalkan bahwa "Gedung Putih bakal mengembalikannya dengan bantuan Allah."

Doa yang dihadiri oleh ribuan jemaah Muslim itu, terlaksana hanya satu pekan sebelum serangan terror 11 September (2001). Pekan lalu imam lainnya berdoa kepada Allah agar polisi Israel penjaga Temple Mount menjadi duda serta yatim piatu.

Ini hanyalah beberapa dari tidak terhitungnya contoh bagaimana masjid digunakan untuk mengindoktrinasi hati dan jiwa kaum Muslim dengan kebencian.

Pelanggaran Status Quo Nomor Lima: Pembunuhan terhadap dua polisi 14 Juli menjadi induk semua pelanggaran status quo. Hingga pembunuhan terjadi, kaum Muslim sudah memanfaatkan senjata yang kurang mematikan seperti batu dan bom minyak untuk menyerang kaum Yahudi serta polisi. Tetapi, peristiwa 14 Juli untuk pertama kalinya merepresentasikan bahwa Muslim sudah menggunakan senjata api di Temple Mount. Meski tidak umum menyaksikan kaum Muslim meledakan masjid serta melakukan aksi kejam-keji melawan sesama Muslim di banyak negara Arab dan Islami, serangan penembakan di Temple Mount masih belum pernah terjadi sebelumnya.

Penyelundupan senjata ke dalam kompleks Temple Mount merupakan aksi penajisan terberat terhadap tempat suci. Pembunuhan dua polisi yang ditempatkan di sana untuk mengamankan tempat dan melindungi jemaah Muslim yang sholat, menyebabkan tingkat pelanggaran sekaligus pencemaran mencapai titik terendah baru (new lows). Pantaslah dicatat bahwa kedua polisi tidak terbunuh dalam sebuah konfrontasi atau insiden yang kejam keji. Salah satu dari mereka ditembak di punggung taktala dia sedang berdiri di salah satu pintu masuk menuju Temple Mount.

Pasca-pembunuhan 14 Juli, warga Palestina mulai melancarkan protes harian. Mereka menolak memasuki Temple Mount melewat metal detector yang dipasang pihak berwenang Israel untuk mencegah penyelundupan senjata demi keamanan jemaah Muslim sendiri yang sholat di sana itu.

Bukannya menerima pemasangan alat-alat itu, warga Palestina berkumpul setiap sore di pintu-pintu masuk menuju Temple Mount. Mereka mengakhiri sholat-sholat mereka dengan berondongan batu serta bom Molotov ke arah para polisi.

Ada hal yang sangat penting dan yang berbeda dari klaim Palestina di sini. Yaitu bahwa Israel sama sekali tidak melarang umat Muslim memasuki Temple Mount.

Agaknya, kita tengah menyaksikan tepatnya situasi yang berbeda sama sekali. Ada keputusan dari pihak Palestina yang melarang umat Muslim untuk memasuki Temple Mount hingga Israel mencabut langkah-langkah keamanan apapun, entah pemindai logam (metal detector) atau kamera pengawas. Pelanggaran status quo yang khas sekaligus serius dari warga Palestina serta umat Muslim belum dibahas secara tepat: karena untuk pertama kalinya sejak 1967, warga Palestina menutup akses bebas jemaah Muslim yang mau sholat menuju Masjid Al-Aqsa.

Tidaklah mengejutkan, pembongkaran pemindai logam pekan ini tidak memuaskan nafsu warga Palestina serta Wakaf terhadap darah kaum Yahudi. Justru sebaliknya, pembongkaran itu malah meningkatkan nafsu rakus mereka seperti sekarang agar Israel menyerah lalu mundur. Kini mereka menuntut langkah keamanan yang diterapkan dihentikan semuanya menyusul pembunuhan dua polisi pada14 Juli lalu.

Jadi, di sinilah kita berada. Dalam situasi di mana Israel dikutuk jika melakukannya dan (tetap) dikutuk jika dia tidak melakukannya.

Dengan kata lain, warga Palestina dan otoritas relijius Islam memprotes langkah keamanan yang bermaksud melindungi para jemaah Muslim yang sholat sekaligus mencegah tempat suci mereka dinajiskan oleh teroris dan para perusuh. Mereka memprotes karena Israel berjuang sehingga mempersulit mereka membunuh warga Yahudi. Pesannya adalah: Berani-beraninya kalian mencoba menghentikan kami untuk membunuh orang Yahudi?

Guna mengklarifikasi yang sebetulnya berlangsung (dapat dikatakan): bukan langkah keamanan yang benar-benar membuat warga Palestina marah. Bagi mereka, krisis ini bukan soal metal detector atau kamera keamanan. Agaknya, itu soal kedaulatan atas Temple Mount, Yerusalem serta seluruh Israel. Bagi warga Palestina, perjuangan sebenarnya bukanlah soal Temple Mount tetapi seputar kehadisan kaum Yahudi dalam apa yang mereka anggap "Palestina yang diduduki, mulai dari Sungai (Yordan) hingga laut (Mediterania).

Karena metal detector berhasil dibongkar, warga Palestina menyerukan lebih banyak lagi "hari-hari yang penuh kemarahan." Warga Palestina berharap bisa menarik negara-negara Arab dan Islam untuk terlibat dalam konfrontasi melawan Israel. Ini harapan yang mereka dambakan yang sampai sebegitu jauh gagal dicapai, khususnya ketika krisis berumur pendek dengan Yordania terselesaikan. Warga Palestina kini merasa kecewa karena tidak mampu mendorong baji anrara Israel dan Yordania.

Warga Palestina dekat Kota Lama Yerusalem memprotes pemasangan metal detecror oleh Israel di pintu masuk menuju Temple Mount, 21 Juli, 2017. (Foto oleh Lior Mizrahi/Getty Images).

Jadi. apa lagi yang ada dalam agenda kekerasan Palestina? Mereka bermaksud menghentikan kaum Yahudi berkunjung ke Temple Mount. Mereka juga berharap bisa memperlihatkan kepada Israel serta bagian dunia lainnya bahwa kedaulatan atas Temple Mount berada di tangan kaum Muslim dan hanya kaum Muslim. Ringkasnya, ini soal Israel yang kuat bersenjata yang digambarkannya lemah, berubah-ubah sikap sekaligus menakutkan ---sebuah negara yang sudah siap diintimidasi dan dirobek-robek.

Pertama, warga Palestina menuntut Israel membongkar pemindai logam. Kemudian, mereka menuntut Israel mencabut semua bentuk langkah keamanan di Temple Mount. Tidak sulit memang untuk membayangkan apa tuntutan selanjutnya. Bukan langkah-langkah keamanan yang warga Palestina ingin untuk dibongkar. Israel-lah yang ingin mereka bongkar.

Jadi, dibongkar atau tetap dipertahankan utuh di tempanya, metal detector sudah memainkan peran yang sangat penting. Dia mengungkapkan kebohongan sekaligus tuntutan darah ganti darah dari Palestina dan warga Muslim.

Bassam Tawil adalah Muslim Arab yang berdiam di Timur Tengah.

Topik Terkait:  Israel
Recent Articles by
terima informasi terbaru lewat email: berlangganan secara gratis kepada gatestone institute kiriman daftar.

id