Pemimpin HIzbulah, Hassan Nasrallah, anak didik sekaligus mitra Iran di Timur Tengah, tampaknya sedang memimpin rakyat Libanon menuju malapetaka lain.

Pada 2006, Nasrallah memulai perang dengan Israel.Libanon pun mengalami kerusakan besar-besaran. Perang itu meletus menyusul aksi penyergapan oleh para gerilyawan Hizbulah di kawasan Israel yang menewaskan tiga tentara Israel dan menyandera dua tentara lainnya.

Kini, rakyat Libanon bakal membayar harga mahal lainnya. Kali ini, karena Nasrallah terlibat dalam perang saudara di Suriah dan kecamannya yang keras terhadap Saudi Arabia beserta negara-negara Arab lainnya atas konflik di Yaman.

Dalam sebuah sambutan di Beirut, Jumad lalu, Nasrallah mengecam "agresi" pimpinan Saudi atas Yaman. " Itulah tugas agama, manusiawi, dan jihad kita untuk mengambil sikap. Dan semua anak laki-laki negara itu harus menilai kembali tanggung jawab mereka dan menentukan sikap yang tepat," urainya. "Intimidasi atau ancaman tak bakal mencegah kita untuk terus menyatakan kecaman kita atas agresi melawan Yaman. Sasaran nyata perang adalah untuk memperbaiki hegemoni Saudi – Amerika atas Yaman."

Pimpinan Hizbulah, Hassan Nasrallah mengecam intervensi militer Saudi Arabia di Yaman, dalam sebuah sambutan yang diberikan di Beirut , 17 April 2015 lalu. (Sumber foto: nukilan video Press TV)

Ada alasan jelas mengapa Nasrallah menyerang serangan udara pimpinan Saudi di Yaman. Dia sebetulnya mengkhawatirkan nasib masyarakat Houthi yang didukung Iran. Padahal, kelompok masyarakat itu sedang berupaya untuk menguasai negara Arab. Memang, Nasrallah punya alasan yang tepat untuk khawatir. Kekalahan Houthis akan dilihat sebagai kekalahan Hizbulah sekaligus Iran. Sebagai boneka utama Iran di Timur Tengah (bersama Suriah, pimpinan Presiden Bashar Assad), Nasrallah ingin melihat Iran menguasai hampir semua negara-negara Arab.

Nasrallah tampaknya bertekad untuk mencapai tujuan dengan korban apapun. Dia tidak peduli jika rakyat Libanon membayar harga sangat besar akibat aliansinya dengan Iran.

Serangannya terhadap Saudi Arabia dan sekutunya telah memicu rasa takut bahwa warga negara Libanon yang sedang berdiam di Teluk akan menjadi yang pertama yang harus membayar harga yang sangat mahal itu.

Situasi ini tepat seperti terjadi pada warga Palestina, ketika mendukung invasi Saddam Hussein ke Kuwait pada 1990. Setelah Kuwait dibebaskan, Emirat Kuwait dan negara-negara Teluk lain mengusir ratusan ribu warga Palestina yang berdiam dan bekerja di sana.

Kini, terima kasih kepada kebijakan dan pernyataan publik Nasrallah, karena warga Libanon yang berada di Teluk bakal mengalami nasib yang sama.

"Ke manakah Nasrallah ingin bawa Libanon dan warganya dengan sambutannya yang pedas menentang Saudi Arabia?" Tanya pemimpin Druz di Libanon, Walid Jumblatt. "Sudahkah dia perhitungkan akibat kata-katanya atas jiwa sekitar 50.000 warga Libanon yang sedang berdiam di Saudi Arabia? Suara bodoh Nasrallah sama sekali tidak menguntungkan."

Jumblatt bukan satu-satunya politisi Libanon yang mengungkapkan perasaan prihatinnya atas sambutan Nasrallah yang pedas terhadap Saudi Arabia dan sekutunya.

Menteri Kehakiman Libanon, Ashraf Rifi mengatakan Nasrallah seharusnya "malu" dengan berbagai serangan atas Saudi Arabia. Dalam pandangan Rifi, Arab "mendukung berbagai institusi negara Libanon dan tidak membayar pihak atau sekte manapun serta tidak menciptakan milisi." Rifi melukiskan Hizbullah sebagai "sekedar alat" Iran yang "mengorbankan diri dan rakyatnya demi sebuah proyek (Iran) yang gagal…Hizbulah tengah mengubah Libanon menjadi ruang operasi untuk menyebarluaskan hegemoni Iran."

Menteri Luar Negeri Libanon Gebran Bassil mengingatkan bahwa negaranya bisa terjebak dalam kekacauan jika kekuatan-kekuatan politik di Libanon bertaruh untuk bersaing dengan kekuatan asing sekaligus membawa konflik kawasan ke dalam negeri tersebut.

"Kita tidak berhak untuk mempertaruhkan kekuatan asing dan menarik konflik yang jauh lebih besar daripada Libanon dan Libanon sendiri tidak mampu menanganinya," urai Bassil. Merujuk kepada Hizbulah, dia menambahkan, "Jika satu kelompok, partai atan sekte masih ingin coba ini setelah semua pengalamannya masa lalu yang gagal, kita sebetulnya mempertaruhkan (subjecting) rakyat dan negara kita pada ancaman yang eksistensial."

Ketika Menteri Luar Negeri Libanon berbicara tentang "pengalaman masa lalu yang gagal".dia jelas-jelas merujuk kepada perang yang ditimbulkan Hizbulah atas Libanon.

Mantan Perdana Menteri Libanon, Saad Hariri mengatakan bahwa pidato Nasrallah menentang koalisi pimpinan Saudi di Yaman merupakan "jerit tangis." Dikatakannya bahwa Nasrallah sebetulnya mengikuti jejak langkah pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamanei, dengan mengadopsi "kreativitasnya dalam membuat kesalahan, membuat interpretasi salah, melakukan penipuan, unjuk kekuatan dan mobilisasi yang sektarian." Ditambahkannya lagi bahwa Hizbulah "giat untuk mengamankan rejim [Suriah] Bashar al-Assad dan peran Iran dalam menginfiltrasi Yaman dan campur tangan dalam urusan Arab."

Produser berita TV Libanon, Hanadi Zaidan menuduh Nasrallah bekerja demi kepentingan Iran sekaligus menentang negara asalnya, Lebanon.

"Hizbulah dan Sekretaris Jenderalnya [Nasrallah) hanya satu-satuya pihak yang berenang melawan gelombang arus Arab dan Libanon, dengan mengumumkan sikap setia buta mereka kepada burung Iran yang gelap," urai Zaidan. " Dia [Nasrallah) berkerja untuk wujudkan agenda Iran melawan Negara Libanon." Ditambahkannya bahwa Nasrallah dan "para tuan Iran"-nya sudah dikejutkan oleh koalisi negara-negara Arab di Yaman

Ketika mempertimbangkan reaksi para komentator politik di Teluk, jelas bahwa Nasrallah memang berusaha agar relasi Libanon dengan dunia Arab Muslim yang didominasi oleh kaum Sunni benar-benar hancur dan tidak bisa diperbaiki.

Para komentator ini, yang pandangan-pandangannya merefleksikan pemikiran pemerintahan negaranya menggunakan kata-kata yang sangat keras mencela Nasrallah. Beberapa dari mereka malah menjulukinya sebagai orang yang "menyakitkan" dan "tidak tahu berterima kasih."

Letnan Jenderal Dahi Khalfan Tamim, Wakil Kepala Polisi dan Keamanan Umum di Dubai menilai Nasrallah sebagai orang bodoh.

"Seorang teman memberi tahu saya bahwa Nasarallat [nama samaran yang Tamim berikan kepada Nasrallah] mengatakan bahwa Iran campur tangan di Yaman sebagai sebuah yayasan amal … Betapa bodohnya dia!" urai Tamim.

Tariq al-Hamid, seorang editor dan analis politik kenamaan Saudi mengatakan bahwa Iran dan Hizbulah "menjadi gila" akibat serangan udara koalisi pimpinan Saudi melawan milisi Houthi dukungan Iran.

Al-Hamid menunjukkan bahwa Iran dan Hizbulah kini frustrasi karena pukulan mematikan yang ditimbulkan oleh para sekutu mereka di Yaman. "Mereka berharap bahwa dengan menguasai Yaman, Houthi bisa meningkatkan semangat para pengikutnya, yang sudah frustrasi karena apa yang terjadi pada mereka di Suriah," urainya. Semua kelompok masyarakat yang gila di kawasan ini kini menjadikan Saudi Arabia sebagai target serangan. Apakah perbedaan antara Hizbulah dan Al-Qaeda. Apakah perbedaan antara Iran dan Negara Islam? Jawabannya sederhana. Mereka sedang bersaha untuk membangun sebuah kubu pertahanan tempat berpijak di perbatasan dengan Saudi Arabia."

Ditujukan kepada pemimpin Hizbulah,seorang blogger Saudi menulis: "Engkau akan membayar tindak kejahatan yang kaulakukan atas Libanon pada 2006, ketika kau hancurkan Libanon dengan tindakan-tindakan anda yang gampangan. Semua yang kau cari kala itu adalah melakukan demonstrasi karena banyak warga Arab dan Muslim berdiri di belakang anda berkat tipuan kotormu." Blogger lain juga menulis; "Sudah waktunya bagi negara-negara Arab untuk menangkap teroris Nasrallah dan membawa di pengadilan karena ikut campur tangan dalam urusan Yaman dan kejahatannya melwan Suriah serta pengkhianatanya atas negaranya sendiri, Libanon."

Nasrallah dan kelompok teroris Hibulah kini semakin terisolasi dibandingkan sebelumnya di dunia Arab. Padahal, hingga beberapa tahun silam, Nasrallah dipandang sebagai "pahlawan" dunia Arab karena perjuangannya melawan Israel.

Kini, bagaimanapun, banyak masyarakat Arab tampaknya sudah sadar terhadap kenyataan bahwa Nasrallah itu tidak ada apa-apanya, selain wayang, boneka Iran yang tujuan satu-satunya adalah untuk melayani para tuannya di Teheran. Ini, tentu saja merupakan khabar baik bagi para warga Arab moderat dan Muslim di kawan itu. Tetapi masih tetap perlu dilihat apakah Pemerintah AS dan kekuatan-kekuatan Barat lain juga terbangun dari tidur mereka dan menyadari bahwa Iran beserta negara-negara pendukungnya memangmerupakan ancaman nyata bukan saja bagi Israel tetapi juga bagi banyak negara Arab danMuslim.

Topik Terkait:  Libanon, Arab Saudi
Recent Articles by
terima informasi terbaru lewat email: berlangganan secara gratis kepada gatestone institute kiriman daftar.

id