• Ribuan umat Kristen di berbagai tempat penampungan pengungsi Jerman dianiaya oleh umat Muslim. Kadangkala, pelakunya malah para petugas keamanan tempat penampungan, demikian sebuah laporan yang baru saja dilansir oleh LSM Open Doors.

  • "Hambatan terbesar survei adalah bahwa banyak korban takut untuk terlibat dalam survei...Mereka prihatin bukan saja pada kemungkinan dampak yang terjadi pada mereka secara pribadi atau keluarga mereka di Jerman tetapi juga sanak keluarga mereka yang bertahan hidup di negara-negara asal mereka." --- Laporan dari Open Doors.

  • "Saya datang ke Jerman setelah berhasil melarikan diri dari negeri saya dengan harapan hidup saya bakal lebih aman di tengah bahaya yang semakin meningkat." --- Tetapi di Jerman, saya malah lebih terancam.

  • "Walau makin banyak laporan seputar persoalan ini dilansir oleh media, lembaga amal, organisasi hak asasi manusia, para pemimpin gereja dan organisasi Kristen, pihak berwenang dan politisi Jerman nyaris tidak pernah melakukan investigasi. Sebaliknya, kami yakin insiden-insiden itu sengaja diremehkan atau bahkan ditutup-tutupi...Bahkan di kantor polisi sekalipun, serangan bermotivasi agama atas pengungsi Kristen tidak didokumentasikan." --- Laporan Open Doors.

Ribuan umat Kristen di berbagai tempat penampungan pengungsi Jerman dianiaya oleh umat Muslim. Kadangkala, pelakunya malah para petugas keamanan tempat penampungan, demikian dikatakan sebuah laporan. Laporan yang sama juga menegaskan bahwa dalam sebagian besar kasus, pihak berwenang Jerman tidak bertindak apa-apa guna melindungi para korban penganiayaan.

Kajian itu menuding pihak berwenang Jerman serta polisi sengaja meremehkan kasus bahkan menutup-nutupi "isu tabu" serangan umat Muslim terhadap pengungsi Kristen. Tampaknya upaya itu dimaksudkan untuk menghindari diri dari memperbesar sentimen anti-imigrasi.

Kajian itu mendokumentasikan lebih dari 300 insiden di mana para pengungsi Kristen di Jerman diserang secara fisik dan seksual bahkan diancam mati karena iman mereka. Dengan demikian, kajian itu mengukuhkan analisis dari Gatestone Institute seputar aksi kekerasan umat Muslim atas umat Kristen di berbagai penampungan pengungsi Jerman.

Laporan itu berbasiskan wawancara atas 231 pengungsi Kristen yang dijalankan antara Februari dan April 2016. Lebih dari 80% dari mereka adalah wanita dan lebih dari separuhnya berusia di bawah 30 tahun. Sebagian besar korban berasal dari Iran, Afghanistan dan Suriah. Sembilan dari 10 orang yang terlibat dalam survei adalah umat Kristen berlatar belakang Muslim. Mayoritas dari mereka sudah beralih menganut Kristen di negara asal mereka.

Dari para korban yang diwawancarai, sebanyak 86 orang mengaku diserang secara fisik oleh para pengungsi Muslim dan staf keamanan tempat penampungan, yang banyak dari mereka juga Muslim. Lebih dari 70 orang mengaku menerima ancaman mati, 92 dihina karena iman Kristen dan 62 orang lain dipaksa mendengarkan "suara musik atau doa yang sangat keras," agaknya dari berbagai kalangan Islam. Yang lainnya lagi mengaku diserang secara fisik berupa tinju, diludahi, didorong dan dilecehkan secara seksual. Sebesar 75% korban yang diwawancarai mengakui bahwa pelecehan dari umat Muslim memang menjadi persoalan yang "seringkali" terjadi.

Para wakil LSM Open Doors bersama rekan-rekannya dari LSM lain mengadakan konperensi pers guna menyampaikan laporan dari Open Doors yang berjudul, "Religiously Motivated Attacks on Christian Refugees in Germany" (Serangan Bermotif Agama atas Pengungsi Kristen di Jerman), Mei 2016.

Menurut Open Doors, laporan itu "hanya memperlihatkan puncak gunung es" karena "ada banyak sekali pengungsi Kristen yang takut bakal menghadapi lebih banyak kesulitan lagi andai melaporkan insiden-insiden itu." Yang lain lagi takut bahwa "informasi bisa saja diterima oleh tangan yang salah sehingga menimbulkan bahaya bagi para sanak saudara yang masih hidup di negara asal mereka." Laporan itu mengatakan:

"Hambatan terbesar survei adalah bahwa banyak korban takut terlibat dalam survei. Mereka takut akan konsekwensi negatif dalam peristiwa itu sehingga informasi pribadi mereka jatuh di tangan yang salah. Mereka prihatin bukan saja pada kemungkinan dampak yang terjadi pada mereka secara pribadi atau keluarga mereka di Jerman tetapi juga sanak keluarga mereka yang bertahan hidup di negara-negara asal mereka.

"Hambatan besar lain adalah bahwa banyak wanita enggan melaporkan serangan seksual yang mereka alami karena merasa malu yang kerapkali jauh lebih terasa di kalangan wanita Timur Tengah dibandingkan para wanita di Barat.

"Parahnya lagi, banyak pengungsi sudah punya pengalaman negatif berhadapan dengan pihak berwenang dan polisi di negara asal karena iman Kristen mereka. Mereka biasa diperlakukan sebagai warga kelas dua. Kini mereka melihat masalahnya tidak berbeda di banyak tempat penampungan pengungsi di Jerman --- sebuah negara yang memberlakukan kebebasan beragama --- dan mereka bahkan tidak mendapatkan bantuan."

Laporan itu juga memasukan berbagai kesaksian dari para pengungsi Kristen yang menjelaskan adanya "suasana takut dan panik yang terus-menerus" yang melanda berbagai tempat penampungan Jerman.

  • "Saya datang ke Jerman setelah berhasil melarikan diri dari negeri saya dengan harapan hidup saya bakal lebih aman di tengah bahaya yang semakin meningkat. Tetapi di Jerman, saya malah lebih terancam."

  • "Pada titik ini, harus saya katakan bahwa saya benar-benar tidak tahu bahwa dengan datang ke Jerman, dan hanya karena iman saya, saya dilecehkan di sini sama banyaknya seperti di Iran."

  • "Kaum Muslim mengotori salib dengan cat kemudian jelas-jelas menandainya dengan tanda X untuk menghina kami. Mereka buang sampah di depan pintu kami. Mereka mendengarkan Adzan serta membaca Al-Qur'an keras-keras. Kami terpaksa meninggalkan tempat pengungsian kami terakhir karena diancam akan dibunuh mati."

  • "Tenaga keamanan tidak menegakan aturan di tempat pengungsian kami. Tiap pagi, pada pukul 5 kami terbangun karena suara Adzan. Situasinya semakin memburuk. Ketika kami mengeluhkan adanya adzan, mereka katakan ini hak kaum Muslim. Juga, mereka menghina kami tanpa mendapatkan hukuman sama sekali. Di tempat perlindungan kami, dua sahabatku pernah mendapatkan ancaman mati. Ada oknum umat Muslim merenggut untaian salib dari lehernya. Tidak satupun dari kami yang berani memakai salib lagi."

  • "Ketika mengambil duit jaminan kesejahteraan, kami didorong keluar ke belakang antrian. Di dapur pun, kami yang paling sedikit mendapatkan jatah makan. Lewat tengah malam, saat kami tertidur, mereka mengetuk jendela sehingga kami tidak bisa tidur lagi karena takut. Dan keesokan harinya, selama pelajaran bahasa berlangsung, kami tidak bisa belajar dengan baik. Mengatakan kami murtad dan mencuri makanan dari dapur. Padahal, mereka mencuri begitu banyak makanan kami dari dalam setiap ruangan yang kini punya kulkas."

  • "Beberapa kali saya dihina dan diserang secara fisik oleh orang Muslim di penampungan. Tiap kali terjadi, polisi terpaksa harus campur tangan. Kenangan terhadap berbagai insiden itu masih begitu kuat membeban sehingga saya mengalami persoalan psikologis serius. Pernah saya coba bunuh diri. Petugas keamanan menghina agama kami serta menyerang kami. Saya memberi kesaksian sebagai saksi mata kepada polisi. Setelah mendapatkan ancaman mati, kami bersama pastor kami melaporkan peristiwa kepada polisi."

Laporan juga memasukan sebuah kisah dari Gottfried Marten, seorang pastor di Berlin. Dalam kisahnya, sang pastor mendeskripsikan berbagai insiden pelecehan seksual yang dilakukan kaum Muslim awal Mei lalu --- berbagai insiden yang masih belum membuat polisi berani selidiki:

"Sepasang suami-isteri Kristen dari Iran sangat sering dibentak-bentak dan dihina oleh seorang warga Afghanistan, pemimpin sebuah penampungan suaka di Berlin. Sebagai "orang kafir" mereka tidak diberikan tempat tidurdan sebaliknya dipaksa tidur di lantai selama berbulan-bulan. Akhirnya tiba pada titik ketika orang Afghanistan itu menghancurkan ruangan tempat mereka tidur lalu secara khusus menghancurkan benda-benar rohani Kristen (lilin Paskah, Alkitab dan selebaran dari paroki).

"Seorang warga Kristen lain dilecehkan oleh para pengungsi Muslim yang mendaraskan Al-Qur'an sepanjang hari karena dia beralih menganut agama Kristen. Sore kemarin, dia mencoba bunuh diri dengan silet. Beruntunglah, dia berhasil diselamatkan tepat pada waktunya.

"Dua pekan silam, kami terpaksa menampung delapan pengungsi dari penampungan lain. Mereka diancam dibunuh karena menolak bergabung untuk sholat di sebuah gymnasium. Tatkala meminta tolong kepada petugas keamanan, mereka justru turut sholat bersama orang-orang yang mengancam umat Kristen. Tatkala umat Kristen melarikan diri meninggalkan ruangan itu karena kaum Muslim meneriakan Allahu Akbar, para petugas keamanan malah melarang mereka memasuki penampungan dengan alasan umat Kristen sudah menyerang kaum Muslim."

Menurut pihak Open Doors:

"Ini mengkhawatirkan karena pengungsi Kristen dan minoritas agama lain semakin banyak menghadapi penganiayaan dan diskriminasi yang sama seperti di negara-negara Muslim asal mereka. Bahkan di Jerman sekalipun mereka tidak mendapatkan perlindungan yang mereka harapkan.

"Walau semakin banyak laporan seputar persoalan ini dilansir oleh media, lembaga amal, organisasi hak asasi manusia, para pemimpin gereja dan organisasi Kristen, pihak berwenang dan politisi Jerman nyaris tidak pernah melakukan investigasi. Sebaliknya, kami yakin insiden-insiden itu sengaja diremehkan atau bahkan ditutup-tutupi. Selama berbagai diskusi rahasia dilaksanakan dengan para peneliti Open Doors, kami tahu bahwa bahkan di kantor polisi sekalipun, serangan bermotivasi agama atas pengungsi Kristen tidak didokumentasikan.

"Akibatnya, banyak kasus kekerasan sektarian tidak diakui secara statistik dan tidak diklasifikasi secara tepat tingkat keparahan dan frekwensi kasusnya. Ini berarti sejumlah besar pelanggaran hak asasi manusia berkaitan dengan agama terhadap umat Kristen dan kaum minoritas lainnya diperlakukan sebagai tidak relevan."

Laporan itu menyimpulkannya dengan sejumlah rekomendasi bagi Pemerintah Jerman supaya membantu mempermudah beban para pengungsi Kristen:

  • Afiliasi agama semua migran seharusnya didaftarkan paling awal dari seluruh proses pendaftaran pengungsi dan bahwa data itu harus diteruskan sepanjang proses penentuan pengungsi untuk mendapatkan akomodasi.
  • Kaum minoritas agama seharusnya disatukan sehingga persentase umat Kristen dan minoritas agama lain yang bergabung dengan kaum Muslim di tempat penampungan pengungsi kira-kira sama jumlahnya.
  • Minoritas Kristen dan agama-agama lain yang menjadi korban penganiayaan dan diskrimasi seharusnya diakomodasi secara terpisah.
  • Petugas keamanan dari unsur non-Muslim harus ditambah.
  • Karyawan dan petugas keamanan tempat penampungan pengungsi seharusnya mendapat pelatihan untuk mengasah kepekaan pribadi secara teratut yang berkaitan dengan penyebab konflik agama dan perlindungan terhadap kaum minoritas agama.
  • Umat Kristen yang teraniaya seharusnya diberi daftar nama orang-orang Kristen lain yang bisa mereka mintai bantuan.

Sejumlah lembaga yang dekat dengan Pemerintah Jerman secara terbuka memperdebatkan pernyataan Open Doors. Bahkan mereka memberikan selubung politik bagi pihak berwenang untuk tidak bertindak apa-apa untuk membantu umat Kristen yang teraniaya.

Maret 2016, Konrad Adenauer Stiftung (KAS), sebuah lembaga kajian yang berhaluan tengah kanan bebas, yang erat terkait dengan Partai Kristen Demokrat pimpinan Kanselir Jerman Angela Merkel menerbitkan analisis-nya sendiri. Judulnya, "Christians under Pressure?" (Christen unter Druck?) atau Umat Kristen Ditekan? Laporan itu berargumentasi bahwa penganiayaan umat Kristen oleh umat Muslim di Jerman dan di tempat lain di dunia itu terlampau digembar-gemborkan dan kasusnya tidak terbukti:

"Dalam konteks dunia, seperti di Jerman, informasi andal soal serangan terhadap umat Kristen sulit diperoleh. Sebagian besar laporan itu subyektif dan secara empiris tidak bisa benar-benar terbukti....

"Mungkin ada sejumlah alasan yang berbeda yang menyebabkan kekerasan di tempat penampungan pengungsi: Karena sejumlah besar orang hidup bersama sekian lama dalam sebuah tempat terbatas tanpa privasi dan dalam keadaan stress. Psikologi bisa saja menjadi faktor yang berkontribusi dalam kasus ini: perasaan khawatir terhadap masa depan, bahasa, hambatan budaya dan proses untuk mengenangkan kembali pelarian mereka baru-baru ini dari negara asal. Seolah-olah kondisi ini belum benar-benar membuat mereka stress, ada juga situasi di mana para penganiaya dan orang yang teraniaya di negara-negara asal mereka bertemu lagi di tempat penampungan pengungsi di Jerman.

"Sudah berulang kali terjadi bentrokan antara pengungsi Afghanistan dan Irak yang bernuansa sektarian, situasi konflik yang termotivasi oleh etnis misalnya. Yang juga mengejutkan, sejumlah besar konflik melibatkan para pengungsi yang beralih menganut agama Kristen. Hanya sedikit yang diketahui soal perasaan permusuhan terhadap umat Kristen Arab yang memang sudah beragama Kristen di negara asal mereka."

Laporan KAS memberikan nasehat yang menentang upaya untuk memisahkan para pengungsi berdasarkan afiliasi agama karena bakal "mengirim sinyal yang salah" kepada para pendatang baru soal komitmen Jerman terhadap kebebasan beragama: "Di Jerman tidak ada pengecualian budaya dan agama pada pemahaman kita tentang kemerdekaan masyarakat sipil...Jerman menjamin kebebasan beragama...Di Jerman tidak ada alasan bagi seseorang untuk merasa perlu menyembunyikan afiliasi agama mereka atau bahwa mereka tidak mampu untuk berpindah ke agama lain."

Laporan KAS pun tidak menawarkan rekomendasi apapun untuk membasmi kekerasan sektarian di berbagai penampungan pengungsi di Jerman.

Pada sebuah konperensi pers yang menandai peluncuran laporan garapan Open Doors, Volke Baumann, direktur sebuah kelompok yang juga diberi nama Action for Persecuted Christians and the Needy (Aksi bagi Umat Kristen Teraniaya dan Berkekurangan---AVC), mengaku bahwa lebih dari 40.000 pengungsi di berbagai tempat penampungan Jerman dianiaya karena keyakinan agama mereka.

Menurut Gottfried Martens, seorang pastor di Berlin, Pemerintah Jerman sudah tidak mampu lagi mengendalikan situasi. Dalam sebuah wawancara dengan Frankfurter Allgemeine Zeitung, dia mengatakan bahwa sebagian besar kaum Kristen yang dianiaya di berbagai penampungan di Jerman tidak berani mengajukan aduan resmi karena takut dengan keselamatan mereka sendiri. Dalam kasus-kasus itu, ketika aduan diajukan, kaum Muslim pun mengajukan aduan balik. Lebih jauh lagi, nyaris tidak mungkin membuktikan insiden pelecehan seksual. Jadi, sebagian besar pengungsi memutuskan untuk tidak mengajukan aduan agar tidak memperparah situasi mereka.

Thomas Müller, seorang analis politik yang bergabung dengan Open Doors Deutschland, menyimpulkan:

"Para pengungsi Kristen dari berbagai negara berjuang namun gagal memperoleh keselamatan di Eropa. Dan tampaknya laporan itu hanya memperlihatkan puncak gunung es. Jelas bahwa banyak pengungsi Kristen ---- khususnya pengungsi yang beralih menganut agama Kristen---hidup karena takut dianiaya oleh para pengungsi Muslim yang menjadi mayoritas pemukim tempat-tempat penampungan pengungsi yang dibangun diseluruh penjuru Eropa. Karena itu wajar untuk mendengarkan umat Kristen yang teraniaya memberi tahu kepada sebuah negara Barat bahwa mereka melihat pola penganiayaan yang sama yang sedang berlangsung sama seperti di negara-negara asal mereka."

Soeren Kern adalah Mitra Senior Gatestone Institute yang berbasis di New York. Dia juga Mitra Senior European Politics pada Grupo de Estudio Estratégicos/Kelompok Studi Strategis yang berbasis di Madrid. Ikuti dia di Facebook dan di Twitter.Buku pertamanya, Global Fire (Bencana Global) akan diluncurkan pada 2016.

Topik Terkait:  Europe's Migrant Crisis, Jerman, Persecution of Christians
Recent Articles by
terima informasi terbaru lewat email: berlangganan secara gratis kepada gatestone institute kiriman daftar.

id