• Bagi warga Palestina, kedua utusan khusus itu tampaknya benar-benar mendukung posisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, daripada mewakili kepentingan AS. Mengapa? Karena mereka orang Yahudi, dan dengan demikian, kesetiaan mereka adalah kepada Israel sebelum kepada AS.

  • Pandangan ini barangkali merupakan proyeksi dari apa yang banyak kaum Muslim bakal lakukan jika situasinya sebaliknya.

  • Apa yang tengah kita saksikan sebetulnya merupakan upaya mencari alasan pemaaf yang tanpa akhir dari pihak Otoritas Palestina serta Presidennya, Mahmoud Abbas, untuk tidak terlibat dalam perundingan damai dengan Israel.

Warga Palestina tidak suka dengan utusan khusus Presiden AS Donald Trump ke Timur Tengah. Mengapa? Jawabannya --- yang membuatnya jelas membabi buta---karena para utusan khusus itu orang-orang Yahudi.

Dalam perspektif warga Palestina, semua ketiga utusan khusus, Jared Kushner, Jason Greenblatt dan Duta Besar US untuk Israel, David Friedman, tidak bisa menjadi perantara atau mewakili kepentingan AS yang tulus. Karena, dalam pandangan mereka, sebagai orang Yahudi, loyalitas mereka kepada Israel jauh lebih besar, daripada loyalitas mereka kepada Amerika Serikat.

Bernada seperti anti-Semitisme? Ya, memang demikian. Dan asumsi seperti ini memberi bukti lebih jauh berkaitan dengan prasangka serta kesalahpahaman Palestina. Warga Palestina menerima begitu saja bahwa siapapun orang Yahudi yang bekerja di Pemerintahan AS atau pemerintah lain di seluruh dunia harus diperlakukannya dengan curiga dan tidak bisa dipercaya.

Lebih jauh lagi, mereka Palestina tidak ragu-ragu menyiarkan pandangan (baca: salah) ini.

Ambil contoh, suasana heboh yang terjadi di kalangan warga Palestina baru-baru-baru ini terkait dengan pernyataan-pernyataan Duta Besar Friedman dalam sebuah wawancara dengan harian Israel Jerusalem Post.

Satu anak kalimat yang Friedman ungkapkan dalam wawancara itu mengundang kecaman keras dari warga Palestina serta sejumlah warga Arab lain. Menurut Harian Jerusalem Post: "Kalangan Kiri, jelasnya, digambarkan meyakini bahwa hanya jika "dugaan pendudukan" berakhir maka Israel bakal menjadi sebuah masyarakat yang lebih baik."

Secara rinci, penggunaan istilah "dugaan pendudukan" (alleged occupation) itulah yang mendorong warga Palestina untuk melancarkan kampanye pencemaran terhadap Friedman --- kampanye pencemaran yang mencakup rujukan atas dirinya sebagai orang Yahudi termasuk juga pendukung Israel. Persoalan ini, sejauh menjadi keprihatinan bangsa Palestina, sudah cukup untuk membuatnya dianggap tidak memenuhi syarat untuk bekerja sebagai Duta Besar AS untuk Israel atau memainkan peran apapun sebagai mediator yang jujur dan adil dalam konflik Israel – Palestina.

Seorang analis politik yang berhubungan dekat dengan kepemimpinan Otoritas Palestina (PA) di Ramallah meminta supaya Friedman benar-benar dipecat dari pekerjaan.

Ketika mengomentari wawancara dengan Duta Besar AS, analis politik Palestina Omar Hilmi Al-Ghoul menulis: "David Friedman dikenal di kalangan warga dan pemimpin Palestina sebagai kolonial Zionist yang berbahaya (ugly) yang membangkitkan reaksi yang mendadak." Dia, karena itu meminta Presiden Trump supaya memanggil kembali duta besarnya untuk Israel lalu menginstruksikan Departemen Luar Negeri AS untuk mulai meneliti penggantinya. Dikatakannya bahwa warga Palestina "punya hak" untuk menuntut pemecatan dutabesar atau utusan khusus mana pun yang "menyalahi protocol diplomatik."

Pendapat sang analis politik merefleksikan pandangan dari banyak pejabat senior Otoritas Palestina (PA). Para pejabat ini bagaimanapun, enggan menyampaikan pandangan mereka kepada publik, karena takut pengungkapan pendapat itu bakal menimbulkan krisis dengan Pemerintah AS sekaligus menghentikan aliran uang yang AS pompakan ke PA. Secara pribadi, beberapa pejabat Palestina di Ramallah pernah mengungkapkan keprihatinan dan kemarahan mereka terhadap Presiden Trump yang memilih orang Yahudi sebagai penasehat tertinggi dan utusan khususnya untuk konflik Israel – Palestina.

Kali ini, Otoritas Palestina tak kuasa mengendalikan diri untuk menyuarakan kemarahannya terhadap penggunaan anak kalimat "dugaan pendudukan" oleh Duta Besar AS. Bertumpu pada kebijakan resmi PA supaya tidak melancarkan serangan pribadi kepada Presiden Trump dan para wakilnya, Menteri Urusan Luar Negeri PA lalu mengecam AS karena "menutup-nutupi adanya pendudukan serta pelanggaran dan kejajahatan Israel terhadap bangsa Palestina."

Kementerian tersebut juga mengecam Friedman karena menghadiri acara pernikahan di sebuah pemukiman Yahudi di Tepi Barat, Mei lalu. Juga mengecamnya karena menghadiri perayaan di Israel menandai 50 tahun reunifikasi Yerusalem.

Kewarganegaan Israel pun tampaknya menjadi jalur merah bagi warga Palestina. Sebelumnya, mereka juga mengecam Friedman setelah muncul laporan bahwa putrinya sudah mendapatkan kewarganegaraan (dalam hal ini Israel). Bagi mereka, ini bukti yang lebih jauh dari "bias" Duta Besar AS sebagai dukungannya terhadap Israel, berkat identitas Yahudinya.

Berbagai website dan media sosial Arab juga mengumpulkan berbagai caci maki terhadap Friedman karena posisinya yang pro-Israel sekaligus karena dia orang Yahudi. Di sini, misalnya, Friedman dijuluki sebagai pialang real-estate karena dukungannya terhadap pemukiman Yahudi dan seseorang yang berpengaruh terhadap Presiden Trump.

Teori Konspirasi, saudara-saudara? Berbagai komentar ini, yang umum di antara warga Palestina dan Arab mengingatkan kita kembali kepada Teori Konspirasi. Teori bahwa kaum Yahudi mengendalikan AS dan dunia. Friedman digambarkan sebagai orang Yahudi yang mempengaruhi keputusan-keputusan Presiden Trump. Dengan kata lain, menurut warga Palestina dan Arab, berbagai kebijakan AS itu ditentukan berdasarkan apa yang dibisikkan oleh orang Yahudi berpengaruh ke telinga Presiden AS, daripada berdasarkan kepentingan internasional AS.

Berbagai tuduhan yang sama juga pernah dilancarkan terhadap Pemerintahan AS sebelumnya, baik kepada Pemerintahan Partai Republik maupun Parati Demokrat. Henry Kissinger, Dennis Ross, dan Martin Indyk adalah segelintir orang Yahudi selama beberapa dekade silam yang dituduh oleh warga Palestina serta Arab karena memainkan peran penting dalam proses pembuatan keputusan AS.

Orang-orang Yahudi kerapkali dirujuk sebagai bagian lobi Zionis sekaligus kelompok penekan di AS yang berjuang untuk mempengaruhi kebijakan Washingto guna memastikan bahwa ia pro-Israel.

Tentu saja, tidak pernah disebutkan soal kuatnya lobi minyak Arab.

Tatkala utusan khusus PresidenTrump, Kushner dan Greenblatt, mengunjungi Ramallah bulan silam, warga Palestina melancarkan protes di kota tersebut menentang "bias" AS yang mendukung Israel. Salah seorang pemrotes membawa poster yang menggambarkan Kushner diikat dengan seutas tali oleh seorang wanita berambut pirang (tampaknya isterinya, Ivanka) yang mengenakan pakaian yang terbuat dari bendera Israel. Terjemahannya: Kushner adalah wayang di tangan Lobi Yahudi." Poster lain dibawa para pemrotes menggambarkan foto Presiden Trump bersama seorang remaja laki-laki Palestina yang tengah melemparkan sepatu atas kepalanya. Judul foto itu berbunyi: "Trump yang jorok, para tahanan serta syuhadah kami bukanlah teroris."

Tatkala utusan khusus Presiden Trump berkunjung ke Ramallah bulan silam, warga Palestina melancarkan protes menentang "bias" AS yang mendukung Israel. Gambar: Sebuah poster yang diusung di tempat protes, menggambarkan Jared Kushner diikat dengan seutas tali oleh seorang wanita pirang (tampaknya, isterinya, Ivanka) yang mengenakan pakaian yang terbuat dari bendera Israel. (Sumber foto: Suntingan video Wattan).

Protes di Ramallah diorganisasikan oleh Pasukan Islam dan Nasional (National and Islamic Forces), sebuah aliansi para aktivis akar rumput yang merepresentasikan berbagai faksi Palestina termasuk faksi Fatah pimpinan Mahmoud Abbas yang berkuasa. Protes tidak bisa terlaksana tanpa ada lampu hijau dari pemimpin Otoritas Palestina.

Abbas sama sekali tidak terkenal sebagai penganjur kebebasan berbicara. Orang yang berani mengkritiknya bisa mendapatkan dirinya dijebloskan di balik penjara. Baru saja pekan silam, Abbas memerintahkan penahanan terhadap dua warga Palestina, seorang wartawan dan seorang aktivis yang berani mengkritiknya di depan publik. Siapapun yang ingin melancarkan protes di Ramallah perlu lebih dulu mendapatkan ijin dari Abbas dan para pembantunya (lieutenants) tidak peduli pokok protes

Para pejabat keamanan Abbas tidak buta terhadap poster anti-Semit yang diusung para pemrotes menentang Kushner. Kenyataannya, para perwira intelijen yang disebarkan di tempat kejadian adalah saksi terbaik pameran kebencian terhadap wakil Pemerintah AS karena agamanya. Protes itu, bagaimanapun, baik-baik saja bagi kepemimpinan PA, sejauh tidak diarahkan melawan Abbas atau pembantu seniornya.

Tiap kali Kushner dan Greenblatt bertemu para pejabat Palestina, seseorang di Ramallah memperingatkan kita bahwa itulah kaum Yahudi dan bahwa mereka mungkin tidak bisa menampilkan diri sebagai para perantara yang adil.

Berikut ini apa yang Faisal Abu Khadra, seorang analis politik Palestina lainnya terpaksa katakan dalam sebuah harian semi-resmi Palestina Al-Quds:

"Kemampuan Trump dan pemerintahannya untuk menekan Israel akhir-akhir ini terbatas. Trump dikelilingi oleh sekelompok kaum Zionis ekstrim. Bahkan di dalam lingkungan keluarganya pun, Trump punya orang-orang Yahudi yang ekstrim, yang mempertanyakan kemampuannya untuk memberikan tekanan terhadap Israel. Sulit untuk melihat bagaimana Kushner dan Greenblatt mampu mencapai pemecahan masalah menuju perdamaian."

Di antara berbagai tuduhan lain yang Palestina lancarkan terhadap Kushner dan Greenblatt adalah klaim bahwa ketika para utusan khusus itu datang untuk bertemu dengan para pemimpin Palestina, mereka justru membebek posisi Pemerintah Israel, bukan Pemerintah AS. Menurut mereka, kedua utusan khusus itu tampaknya benar-benar mendukung posisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, daripada mewakili kepentingan AS. Mengapa? Karena mereka orang Yahudi, dan dengan demikian, kesetiaan mereka adalah kepada Israel sebelum kepada AS.

Pandangan ini barangkali merupakan proyeksi dari apa yang banyak kaum Muslim bakal lakukan jika situasinya sebaliknya.

Warga Palestina serta Arab lainnya karena itu melihat dan menilai utusan khusus Presiden Trump menurut agama mereka, bukan posisi mereka sebagai wakil resmi negara mereka sendiri, AS.

Apa yang tengah kita saksikan sebetulnya merupakan upaya mencari alasan pemaaf yang tanpa akhir dari pihak Otoritas Palestina serta Presidennya, Mahmoud Abbas, untuk tidak terlibat dalam perundingan damai dengan Israel.

Bassam Tawiladalah seorang Muslim yang berbasis di Timur Tengah.

Topik Terkait:  Otoritas Palestina
Recent Articles by
terima informasi terbaru lewat email: berlangganan secara gratis kepada gatestone institute kiriman daftar.

id