• "Saya tidak akan pindah agama. Saya percaya agama saya dan Yesus Kristus. Dan mengapa harus saya yang pindah agama dan bukan kalian?"--- Asia Bibi.

  • Sikap Barat yang lamban dan penuh nafsu membuat Asia Bibi dihukum mati. Tidak satu orang pun di Eropa memadati jalan-jalan menuntut agar dia dibebaskan atau memprotes undang-undang anti-Kristen yang diberlakukan di Pakistan.

  • Bahkan Paus Fransikus pun diam. Bentuk sikap diamnya tercermin dalam pertemuan tatap muka Paus Fransiskus dengan suami Bibi serta anaknya-anaknya selama 12 detik di Lapangan Santo Petrus. Paus nyaris tidak menyinggung persoalan keduanya. Padahal pendahulunya, Paus Benediktus XVI secara terbuka berkali-kali menyerukan agar dia, Asia Bibi dibebaskan.

  • Berbagai gereja Protestan Amerika pun terlampau sibuk mengecam Israel sebagai setan, juga diam saja. Sementara itu, Kekristenan tengah dihapus dari tanah kelahirannya sendiri.

Hukuman mati atas Asia Bibi itu ibarat kabut nuklir Chernobyl; dia mencemari apa saja di sekitarnya. Setelah penangkapan Asia, suaminya Masih serta anak-anaknya menyembunyikan diri. Sudah 15 kali mereka pindah rumah dalam kurun waktu lima tahun. Bahkan, mereka tidak bisa menghadiri pemeriksaan perkara Asia. Terlalu berbahaya bagi mereka. Suaminya bahkan terpaksa berhenti bekerja.

"Kejahatan" Asia Bibi itu sederhana. Dia minum dari gelas kaca yang sama seperti sesamanya wanita pekerja Muslim. Karena itu, dia dijatuhkan hukuman mati karena beragama Kristen dan karena haus. "Kau cemari air kami" bentak kaum wanita Muslim kepadanya. "Masuklah Islam untuk menebus diri dari agamamu yang kotor-jorok."

Menghadapi bentakan itu, Asia menarik nafas dalam-dalam lalu menjawab: "Saya tidak akan berpindah agama. Saya percaya agama saya dan Yesus Kristus. Dan mengapa harus saya yang berpindah agama dan bukan kalian?"

Pada 8 Nopember 2010, setelah lima menit mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh, Asia Noreen Bibi, berdasarkan Pasal 296 Hukum Pidana Pakistan dijatuhi hukuman mati digantung. Massa pun menyambut gembira tuntutan itu. Sendirian mendengarkan keputusan, dia pun menangis. Berdiri di sampingnya dua polisi. Tampaknya mereka puas. Beberapa hari setelah keputusan pengadilan, 50.000 orang di Karachi dan 40.000 orang lainnya di Lahore memenuhi jalan-jalan. Mereka mengacung-acungkan gambar Asia Bibi dengan tali tambang meliliti lehernya. Mereka mengaku tidak akan beristirahat hingga dia digantung atau ditembak.

Asia Bibi bersama dua dari lima anaknya, diambil fotonya sebelum dimasukan ke dalam penjara menunggu kematiannya pada 2010 karena "menghujat agama lain."

Kaum radikal Pakistan baru-baru ini berkumpul. Mereka menuntut wanita yang sudah dipenjara selama 2.500 hari itu segera dieksekusi mati. Ketakutan terhadap nasib hidup Bibi menguat sejak eksekusi mati Mumtaz Qadri, pembunuh Gubernur Punjab, Salman Taseer. Tazeer adalah tokoh pembaru Muslim yang berani mempertaruhkan nyawanya dengan mengungkapkan dukungannya terhadap Asia Bibi. Bibi dengan demikian, menjadi wanita Kristen pertama yang dijatuhi hukuman gantung di Pakistan karena tuduhan "penghujatan agama" palsu. Persoalannya, para pengacara yang membela orang-orang yang dituduh menghujat agama pun kerapkali turut dibunuh.

Almarhum Menteri untuk Urusan Kaum Minoritas Shahbaz Bhatti mendukung Asia Bibi. Dia pun menjamin supaya dia ditempatkan di sel penjara lain, dengan kamera pengawas agar tidak menderita aksi kekerasan. Ternyata, itu keputusan fatal bagi Bhatti. Seorang teroris menghalangi mobil Bhati tatkala dia meninggalkan rumah ibunya lalu membunuhnya di tengah siang bolong. Semua orang tahu bahwa hukuman mati bakal dijalankan, cepat atau lambat. Dengan demikian, Kolam Air Mancur Trevi di Roma (Rome's Trevi Fountain) disinari lampu berwarna merah sebagai tanda mengenangkan para martir Kristen seperti Bhatti.

Berbagai protes jalanan terhadap Asia Bibi berlanjut sejak Qadri dieksekusi mati, 29 Februari 2016 silam. Seorang pejabat Pemerintah Punjab mengungkapkan bahwa keamanan terhadap Bibi semakin diperketat setelah intelijen menngungkapkan bahwa berbagai kelompok Islam radikal tengah berkonspirasi untuk membunuh dia dalam penjara, sebagai balas dendam terhadap hukuman gantung terhadap Qadri.

Berbagai ancaman ini menjadi penyebab mengapa organisasi hak-hak asasi manusia menuntut agar permohonan banding Asia Bibi yang sampai sebegitu jauh ditunda dilakukan di sel penjara dengan langkah-langkah keamanan yang ketat. Pemindahan Bibi perlu tetap dirahasiakan karena kaum radikal siap memanfaatkan peluang untuk menyasar dia.

Orang harus membaca buku yang dituliskannya bersama wartawati Perancis Anne Isabelle Tollet, berjudul "Blasphemy" (Penghujatan Agama) agar bisa memahami mengapa Asia ditunda untuk menjadi "martir",

Di penjara, Asia Bibi harus memasak sendiri makanannya agar bisa menghindari diri diracun orang. Soalnya, para penjaga penjara pun mengancam dia mati. Tidak pernah dia tinggalkan selnya. Tak seorang pun diijinkan masuk membersihkannya. Dia harus bersihkan sendiri. Pihak penjara pun tidak menyediakan peralatan kebersihan. Ruangannya kecil, berukuran tiga meteran. Bersebelahan dengan tempat tidurnya, ada apa yang disebut "kamar mandi" oleh para penjaga untuk mengolok-oloknya. Padahal, di sana hanya ada pipa air yang mencuat keluar dari tembok dan sebuah lubang kecil menganga di lantainya. Itulah hidupnya selama lima tahun terakhir, sama seperti berada dalam liang kubur.

Sementara itu, kaum radikal Islam baru-baru ini memperbesar hadiah atas kepalanya menjadi 50 juta Rupee (sekitar Rp 9 miliar) . Pengacaranya menjelaskan bahwa banyak kaum Kristen yang dituduh melakukan penghujatan agama dibunuh di dalam sel penjara sebelum mereka bahkan bisa tampil di pengadilan.

Tidak pernah Asia Bibi membunuh orang. Tetapi dalam sistem negaranya yang disebut adil ini, dia justru dinilai melakukan hal yang lebih parah, kejahatan yang mengatasi segala kejahatan, tindakan biadab yang luar biasa: dia---dituduh--- menyerang Nabi kaum Muslim, Muhamad. Para penjahat, pembunuh dan pemerkosa, dengan demikian diperlakukan jauh lebih baik daripada dia.

Sikap Barat yang lamban dan penuh nafsu membuat Asia Bibi dihukum mati. Untuk wanita berani ini, tidak satu orang pun di Eropa memadati jalan-jalan menuntut agar dia dibebaskan atau memprotes undang-undang anti-Kristen yang diberlakukan di Pakistan. Paus Fransikus pun diam. Bentuk sikap diamnya tercermin dalam pertemuan tatap muka Paus Fransiskus dengan suami Bibi serta anaknya-anaknya selama 12 detik di Lapangan Santo Petrus. Paus Fransiskus nyaris tidak menyinggung persoalan keduanya, sementara pendahulunya, Paus Benediktus XVI secara terbuka berkali-kali menyerukan agar dia, Asia Bibi dibebaskan.

Presiden AS, Barack Obama yang senantiasa penuh dengan retorika dan emosi yang biasa, tidak pernah mengucapkan satu kata pun terkait dengan penyiksaan terhadap umat Kristen atau meminta sekutunya Pakistan untuk membebaskan Asia Bibi. Dan mengutip suratkabar Perancis Le Figaro, terlihat bahwa masyarakat Eropa yang biasanya begitu "bersemangat" untuk "melakukan mobilisasi, petisi, berbagai ragam demonstrasi, namun "dalam kasus ini, tidak melakukan apa-apa!"

Sekian lama, pers arus utama Amerika tetap diam soal pembantaian massal umat Kristen yang menjadi martir setiap lima menit. Sikap diam ini dihancurkan oleh pembangkang Islam yang berani, Ayaan Hirsi Ali, yang mendedikasikan diri bagi orang-orang yang bersedia menjadi martir secara massal itu dalam sebuah essaynya yang mengagumkan dan diterbitkan dalam Majalah Newsweek. Berbagai gereja Protestan Amerika pun terlampau sibuk mengecam Israel sebagai setan, juga diam saja. Di Perancis, bahkan mustahil untuk mendanai sebuah kegiatan yang hasilnya bakal diberikan untuk mendukung kalangan Kristen. Pengelola metro, kereta api bawah tanah Paris menolak iklan yang mendukung kaum Kristen lalu mencabut larangan itu setelah terjadi berbagai protes. Semua LSM Eropa yang sekular seperti Oxfam juga diam, lalu meninggalkan umat Kristen dibela oleh organisasi LSM yang heroik seperti Barnabas Fund.

Masyarakat Barat biasa berpikir tentang orang-orang Kristen di tempat terpencil seolah mereka adalah agen-agen kolonialisme yang tersisa, sehingga kita menjadi tuli terhadap permintaan mereka bahkan kisah-kisah tragis mereka. Sementara itu, Kekristenan tengah dihapus dari tanah kelahirannya sendiri. Kebencian terhadap ketakutan moral kita terimbangi oleh penghormatan kita terhadap kalangan Kristen ini seperti Asia Bibi, yang terus memberikan kesaksian iman mereka di tanah yang ingin mengusir mereka keluar dari sejarah. Tetapi, ketakutan Barat bagaimanapun akan dihukum.

Perang terhadap "penghujatan terhadap agama" nyatanya berpengaruh mendalam di Eropa, tempat puluhan jurnalis, kartunis dan penulis terancam mati karena "kejahatan" versi lain yang sama seperti dilakukan oleh Asia Bibi: "Islamofobia" atau fobia terhadap Islam. Penganut Katolik setia seperti Asia Bibi disiksa karena alasan yang sama dan oleh orang-orang yang sama yang membunuh kaum sekularis pengelola Charlie Hebdo yang tidak mau menyesali kesalahannya. Dan ISIS, yang baru-baru ini meledakan gereja berbentuk jam Mosul yang kaya dengan ikon-ikon (yang dihadiahkan oleh isteri dari Napoleon III), bakal dengan senang hati meledakan Cathedral of Chartres (Katedral Chartres) salah satu harta Perancis paling kenamaan.

Pembebasan ibu lima anak Pakistan yang buta huruf ini bukan sekedar mempengaruhi sejumlah komunitas Kristen yang jauh. Ia menjadi keprihatinan kita semua. Apakah berlebihan untuk mengajukan pertanyaan kepada masyarakat Barat agar sejumlah persoalan moral menjadi jelas lalu berpawai membawa slogan, "Je Suis Asia Bibi", "Saya adalah Asia Bibi"?

Giulio Meotti, Editor Budaya Suratkabar "Il Foglio," adalah wartawan dan pengarang Italia.

Topik Terkait:  Pakistan, Persecution of Christians
Recent Articles by
terima informasi terbaru lewat email: berlangganan secara gratis kepada gatestone institute kiriman daftar.

id