• Seberapa sulitkah memahami mengapa para jihadi Islam radikal memaklumkan perang kepada Barat? Dalam Bahasa Inggeris yang sederhana maka ini berarti: mereka akan mencari dan membunuhmu di manapun dan kapanpun mereka mampu.

  • Berkali-kali, banyak dari kita kaum Muslim yang prihatin dengan persoalan ini menyoroti bahaya dari Islam/Islamisme politik yang muncul dari tiga sumber: Persaudaraan Muslim, Wahabi/Salafisme atau Khomeinisme.

  • Barat justru tidak peduli dan tidak tegas menyelesaikan persoalan "dengan perasaan yang penuh" (sensitivity) Menyerukan kebenaran, tidak boleh pernah membuat orang kalah terhadap kebenaran politik.

  • Dunia perlu mengajak OKI untuk menegur serta menantangnya terkait dengan apa yang pernah dilakukan atau tengah dilakukannya sehingga memunculkan gelombang kekejaman yang muncul dari dunia Muslim. Dunia perlu pahami bahwa ISIS tidak sedang mencoba mendirikan sebuah Kekalifahan. OKI adalah Kekalifahan.

Serangan teroris di Bandara dan stasiun kereta bawah tanah di Brussels hingga kini sudah memakan sedikitnya 31 orang tewas dan melukai 300 orang.

Mengejutkan, memuakan dan menggemparkan. Tetapi mengejutkan? Tidak.

Seberapa sulitkah memahami mengapa para jihadi Islam radikal memaklumkan perang kepada Barat? Dalam Bahasa Inggeris yang sederhana maka ini berarti: mereka akan mencari dan membunuhmu di manapun dan kapanpun mereka mampu.

Mengapa? Karena kaum Islamis jelas menunjukkan bahwa Barat bakal menjadi "Dar al Harb" (kawasan perang). Konsep ini, memungkinkan mereka membenarkan pembunuhan terhadap siapapun di tanah ini. Anda, saya dan siapa saja di kawasan manapun ---mulai dari AS, hingga Kanada, Kerajaan Inggeris dan Eropa.

Baru saja tahun ini, terjadi berbagai serangan teroris di seluruh planet bumi, termasuk Paris, Turki, San Bernardino, Israel, Toronto, Pantai Gading dan kemarin di Belgia. Terlepas dari apakah aksi itu dilancarkan oleh berbagai kelompok atau oleh apa yang namanya "serigala kesepian" (lone wolves), berbagai serangan itu tidaklah terpisah tetapi punya satu kesamaan.

Semua serangan itu merupakan akibat dari ideologi yang berbahaya, kejam dan memuakan.

Berkali-kali, banyak dari kita kaum Muslim yang prihatin dengan persoalan ini menyoroti bahaya dari Islam/Islamisme politik yang muncul dari tiga sumber: Persaudaraan Muslim, Wahabi/Salafisme atau Khomeinisme. Ideologi ini sudah bangkit selama 35 tahun ketika Barat justru tidak peduli dan tidak tegas menyelesaikan persoalan "dengan perasaan penuh" (sensitivity) Menyerukan kebenaran, tidak boleh pernah membuat orang kalah terhadap kebenaran politik (political correctness).

Bagaimanakah kita kaum Muslim menangani terror yang terus berlangsung ini atas nama iman kita? Media sosial memberitahu kita banyak hal. Ada orang-orang yang biasanya menyangkal dan berusaha membela kebenaran iman (apologist). Malah ada yang membuat perbandingan bahwa "ketika kita memperlihatkan solidaritas kepada masyarakat Brussels, kita harus serentak mengingat semua negara lain di dunia ini," sehingga dengan demikian mematikan'dampak dari situasi mengerikan serta pembunuhan yang baru terjadi di Belgia sekaligus memperlihatkan wajah tengik kemanusiaan berbarengan dengan upaya untuk menghindari diri dari isu yang sebenarnya.

Kemudian, ideologi yang menjadi korban mendobraknya. Dan semua itu terkait dengan rasa takut terhadap kemunduran. Saya katakan, marilah kita bicara, bertanggungjawablah dan tangani kemunduran itu --- bakal semakin parah jika kita tetap berdiam diri.

Selain itu, ada orang-orang menjijikan seperti politisi Inggeris, George Galloway, yang mengatakan Eropa pantas dikecam terkait dengan apa yang terjadi. Tidak ada orang yang ingin membicarakan persoalan yang sebenarnya ini.

Persoalan sebenarnya adalah bahwa aksi kejam bakal terus berlanjut dan semakin memburuk, kecuali jika kita semua menghadapinya dengan berani serta mengakui virus jahat di dalam diri kita lalu mengatakan tidak kepada jihad bersenjata. Dengan satu suara, kita semua perlu mengecam dan mengutuk jihad bersenjata seperti konstruksi abad ketujuh, karena tidak bisa diterapkan pada masa dan era sekarang ini.

Bagaimanakah media membahas persoalan ini? Mereka langsung membawa "para pakar" guna menganalisa motif pada penyerang yang hendak menghancurluluhkannya. Padahal, tidak ada yang tersisa yang bisa dianalisa. Sederhana: itulah perang melawan kita. Mari kita hentikan para pengamat politik atau wartawan yang mengambil gambari kita lalu lakukan sejumlah tindakan.

Kebenaran politik tidak boleh menghambat kebenaran.

Untuk membahas persoalan ini: setelah serangan atas dua petugas militer Kanada di Toronto, 14 Maret 2016 lalu, saya diundang keesokan harinya oleh sebuah televisi lokal untuk memberikan komentar. Pertama-tama, media tidak ingin mempublikasikan kata-kata yang penyerangnya ucapkan yaitu: "Allah perintahkan saya untuk lakukan." Tetapi keesokan harinya, berita media melaporkan bahwa penyerang itu "mempunyai masalah kesehatan mental." Sekali lagi, tidak ada yang mengejutkan di sini. Persoalan kesehatan mental merupakan "alasan" yang baik. Tetapi saya katakan dalam berita itu bahwa jika orang punya alat untuk menemukan lokasi militer tertentu dan menyerang dua petugas, maka dia mampu menjadi seorang teroris.

Sekali lagi, kita gagal menghubungkan titik –titik. Kepingan wawancara dengan yang dilakukan oleh Televisi CTV News tidak pernah dipublikasikan di Internet. Apakah mereka tidak mampu menangani hal yang benar?

Setelah serangan teroris terhadap dua petugas militer Kanada di Toronto, pekan silam (kiri), media awalnya tidak ingin mempublikasikan kata-kata yang diungkapkan penyerangnya, "Allah perintahkan saya lakukan." Tetapi setelah ada pemboman lagi di Brussels, media langsung membawa "para pakar" supaya menganalisa motif para penyerang. Padahal, tidak ada yang tersisa yang perlu untuk dianalisa. Sederhana: itulah perang melawan kita.

Sementara itu, kepemimpinan kita mengembangkan filosofi "merangkul seorang teroris" serta membelokan percakapan menjadi model Kumbaya yang secara politik benar.

Pada 22 Oktober 2014, saya menulis surat terbuka kepada masyarakat Kanada dalam blog saya. Dalam surat itu, saya menjelaskan sejumlah saran seputar bahaya yang kita hadapi dan solusi-solusinya. Kemunduran terjadi begitu cepat dan kejam, bukan saja dari kaum Muslim tetapi juga kaum liberal putih yang hatinya berdarah, yaitu orang-orang yang tidak membantu tujuan kita dengan cara mempromosikan ideology korban.

Jadi, sekali lagi, kita berdiri di tempat yang bertahun-tahun silam kita pernah berada, namun kondisinya sangat mengerikan karena ratusan lebih warga sipil dibantai dalam perang kaum Islam radikal melawan Barat.

Melawan jihad bersenjata merupakan tanggungjawab kita karena persoalan itu muncul dari rumah Islam dan hidup generasi masa datang dipertaruhkan di sini.

Memang ada beberapa solusi. Solusi itu ada di tangan Organisasi Kerjasama Islam (OKI). OKI punya 57 negara Muslim yang membentang lebih dari empat benua merupakan organisasi antarpemerintahan kedua terbesar setelah PBB. Dengan demikian, dunia perlu mengajak OKI untuk menegur serta menantangnya terkait dengan apa yang pernah dilakukan atau tengah dilakukannya sehingga memunculkan gelombang kekejaman yang muncul dari dunia Muslim. Dunia perlu pahami bahwa ISIS tidak sedang mencoba mendirikan sebuah Kekalifahan. OKI adalah Kekalifahan. Dengan perasaan nyaman para anggotanya mengalihkan pandangan dari terorisme terbuka karena perhatian mereka adalah hendak membongkar Israel secara tuntas serta mengecam Barat.

Tidak bisa kita biarkan OKI berbicara atas nama kita. Kita jalani pilihan mudah. Kita bisa saja berbicara kepada diri sendiri atau menunggu agar Donald Trump dipilih dan dia akan lakukan bagi kita.

Raheel Raza adalah Presiden dari Council for Muslims Facing Tomorrow (Dewan bagi Kaum Muslim Menghadapi Masa Depan) serta pendiri Gerakan Pembaruan Muslim.

Recent Articles by
terima informasi terbaru lewat email: berlangganan secara gratis kepada gatestone institute kiriman daftar.

id