• Dalam pertemuan antara bekas Utusan Paus ke Kairo, Uskup Agung Jean-Paul Gobel dengan el-Tayeb, el-Tayeb memperingatkannya bahwa "membicarakan Islam secara negatif adalah 'garis merah' yang tidak boleh dilanggar." Kalau ada kecaman atas tindak kejahatan terhadap umat Kristen Koptik, maka kecaman tersebut mungkin hanya diungkapkan oleh Imam Besar al Azhar dan Presiden Mesir.

  • Akan tetapi, bagaimanapun, sikap Paus yang sangat rendah hati mungkin diartikan oleh Muslim pecinta damai sekalipun sebagai tanda bahwa ia sudah tunduk. Jika Paus diminta oleh Imam Besar untuk berdoa di masjid Al-Azhar, maka ekspresi kesucian itu tidak bakal dilakukan oleh el-Tayeb di sebuah Gereja Koptik di Mesir.

  • Upaya untuk mempermudah pembentukan hubungan Islam-Kristen yang meniadakan Yahudi hanya melayani tujuan kaum Islam radikal untuk mengasingkan orang Yahudi dan Israel. Meskipun hubungan antara Vatikan dan Al-Azhar membaik dalam waktu dekat, namun masa bulan madu tidak terjadi. Imam Besar pasti melindungi landasan kekuatan teologisnya sendiri sambil tetap menjaga jarak dengan Vatikan dan rezim Mesir.

Ledakan bom kembar pada Minggu Palma di Gereja Kristen Koptik yang dilancarkan oleh teroris Islam radikal Mesir menewaskan 44 jemaat. Insiden itu menarik perhatian karena ia mungkin saja menjadi alasan utama kunjungan Paus Fransiskus ke Kairo, 28-29 April lalu. Paus mungkin akan meminta bantuan hirarki Muslim di Mesir untuk membantu melindungi umat Kristen Koptik Mesir, penduduk asli dari negara tersebut yang kini berjumlah sekitar 9 juta dan merupakan paling tidak 10% dari populasi.

Selama kunjungannya, Paus Fransiskus bertemu dengan Imam Besar Masjid Al-Azhar Kairo, Syeikh Ahmed el-Tayeb. Al-Azhar adalah kampus teologi, tempat universitas Islam tertua berada dan dianggap sebagai pusat Sunni Islam yang paling berpengaruh.

Paus mungkin berharap pertemuan dengan el-Tayeb benar-benar memperbaiki hubungan antara Vatikan dan Al-Azhar. Hubungan baik terpulihkan menyusul surat Paus Fransiskus kepada Sang Imam Besar tahun lalu. Surat Paus kemudian diikuti dengan kunjungan ke Vatikan oleh el-Tayeb, Mei 2016. Hubungan antara Vatikan dan al-Azhar memang pernah mengalami krisis ketika el-Tayeb tersinggung dengan komentar Paus terdahulu, Benediktus XVI, tentang penganiayaan umat Kristen di negara-negara Muslim.

Imam Besar el-Tayib tampaknya kini lebih suka menormalkan hubungan dengan Vatikan, terutama sejak kunjungan yang penuh persahabatan ke Vatikan, Mei 2016. Imam Besar Al-Azhar mungkin bisa menyamakan pendapat dengan Paus Fransiskus daripada dengan Paus Benediktus. Sikap luwes el-Tayib mungkin juga merupakan upayanya untuk mengikuti seruan reformasi dari Presiden Mesir Abdel Fatah al-Sisi. Bagaimanapun, sebagai tanggapan terhadap pernyataan Presiden Sisi, Al-Azhar bersikeras mempertahankan kewenangannya atas urusan teologis, sehingga tidak mengajukan reformasi doktrin yang mendasar. Al-Azhar malah berbalik melawan upaya beberapa reformis Muslim yang menyarankan kebijakan yang lebih bebas mengenai hak wanita, termasuk hak (ability) mereka untuk menceraikan suami.

El-Tayeb mungkin saja tidak akan mampu mencegah kelompok teroris menyasar masyarakat Kristen minoritas Mesir meskipun menerima tanggung jawab untuk melindungi umat Kristen Koptik. Dugaan tentang kerjasama antara Islamic State dan Ikhwanul Muslim sangat menyulitkan Kairo mencegah aksi teroris. Sel-sel teroris Islam di Alexandria dan Semenanjung Sinai, tempat banyak serangan atas umat Kristen Koptik terjadi, bertindak sama sekali lepas dari pemimpin politik dan agama di Mesir. Penyerangan umat Kristen oleh kelompok ini mungkin juga merupakan bagian dari tujuan yang lebih besar untuk mengganggu kestabilan rezim al-Sisi, yang telah berjanji memberikan perlindungan pada rakyat Mesir, terutama masyarakat Kristen Koptik. Kaum Islam radikal seperti Ikhwanul Muslim dan ISIS memandang umat Kristen Koptik sebagai musuh; karena banyak jemaat sekte Kristen ini mendukung pemerintahan Sisi.

Bagaimanapun juga, dalam peristiwa apapun, al-Sisi yang mengundang Paus Fransiskus untuk mengunjungi Mesir pada saat Presiden Mesir itu berkunjung ke Vatikan, November 2014. Unsur-unsur anti-rezim mungkin saja sangat berusaha untuk melancarkan aksi teroris yang luar biasa saat kunjungan Paus berlangsung, terutama menargetkan Paus Fransiskus sendiri.

Kunjungan Paus diatur oleh Kardinal Perancis Jean-Louis Tauron, Ketua Dewan Kepausan untuk Dialog Antar-Agama. Kardinal Tauron, tidak diragukan lagi, sadar akan adanya "garis merah" yang ditetapkan oleh Imam Besar Al Azhar jika Vatikan ingin memiliki hubungan yang baik dengan pemimpin Muslim. Dalam pertemuan antara bekas Utusan Paus ke Kairo, Uskup Agung Jean-Paul Gobel dengan el-Tayeb, el-Tayeb memperingatkannya bahwa "membicarakan Islam secara negatif adalah 'garis merah' yang tidak boleh dilanggar." Akan tetapi, mengingat sikap Paus yang enggan mengecam konsep Islam radikal, maka tidak mungkin pula jika selama kunjungannya ke Mesir, ia tidak bersikap hati-hati di depan publik. Kalau Paus berkomentar mengenai tindak kekerasan Muslim terhadap umat Kristen, maka tidak diragukan lagi, ia akan bersifat diplomatis dan samar. Kalau ada kecaman atas tindak kejahatan terhadap umat Kristen Koptik, maka kecaman tersebut mungkin hanya diungkapkan oleh Imam Besar al Azhar dan Presiden Mesir.

Meski demikian, kelihatannya Paus akan secara terbuka menunjukkan sikap solidernya dengan sesama umat Kristen di depan umum dengan mendukung cita-cita Paus Koptik Tawadros II selama misa peringatan untuk para martir Kristen Koptik yang baru meninggal. Paus Fransiskus yang dikenal suka pada Tawadros itu, mungkin menyampaikan perhatian pribadinya yang mendalam bagi keselamatan Paus Koptik -- yang sedang menyelenggarakan Misa dalam Katedral Santo Markus ketika pengebom meledakkan bom di luar katedral.

Paus rupanya ingin sekali untuk semakin mendekatkan umat Kristen Koptik dan Katolik, dengan harapan suatu saat Gereja Mesir akhirnya resmi bersatu dengan Tahta Suci. Gereja Koptik pertama kali memisahkan diri dari Roma pada 451 SM. Akan tetapi, Vatikan tetap memberikan penghormatan yang mendalam bagi Gereja Mesir, yang dibentuk oleh salah satu dari empat penulis Injil, Santo Markus, di Alexandria pada awal tahun 42 SM[1]

Paus Katolik Fransiskus menyapa Paus Koptik Mesir Tawadros II di Vatikan, pada 10 Mei 2013. (Sumber gambar: News.va Jaringan Resmi Vatikan.)

Akan tetapi, bagaimanapun, sikap Paus yang sangat rendah hati mungkin diartikan oleh Muslim pecinta damai sekalipun sebagai tanda bahwa ia sudah tunduk. Jika Paus diminta oleh Imam Besar untuk berdoa di masjid Al-Azhar, maka ekspresi kesucian itu tidak bakal dilakukan oleh el-Tayeb di sebuah Gereja Koptik di Mesir.

Sikap masyarakat terhadap Vatikan terkait dengan Islam pun sudah sangat berhati-hati. Contoh terbaru dari kritik tidak langsung Paus tentang kejahatan Islam radikal adalah pernyataannya pada 22 April dalam misa untuk menghormati Para Martir Kristen Abad 21 di Roma:

Fransikus mengatakan bahwa warisan martir di jaman modern "mengajarkan kita bahwa dengan kekuatan cinta kasih dan kelembutan, seseorang dapat melawan kesombongan, kejahatan, perang, dan dengan kesabaran, mencapai kedamaian."

Dosen Kajian Islam di Institut Kepausan di Roma, Pastur Samir Khalil Samir, yang juga warga Mesir menggambarkan pendekatan diplomatis Paus terhadap Muslim, "yang merupakan kelompok terpenting kedua di dunia supaya bisa diajak berdialog dan saling memahami." Khalil menambahkan:

"Saya rasa penting untuk mengatakan sesuatu dengan murah hati, dengan semangat penuh persahabatan. Namun untuk mengatakan sesuatu sebagaimana adanya: maka dia tidak bisa terus seperti ini; kita harus berpikir ulang tentang Islam. Ini pandangan saya. Mereka tidak dapat menafsirkan teks dari abad ketujuh secara harafiah seperti yang tertulis di Qur'an. Dia [Paus] tidak berani mengatakan hal seperti ini karena ia tidak cukup paham tentang Qur'an, dan lain-lain. Jadi saya paham posisinya, namun akan lebih baik jika diadakan diskusi yang jelas dan lebih jujur – dengan terbuka, namun juga secara realistis.

Sikap yang jelas-jelas diatur ini tampak dalam sebuah pertemuan Dialog dan Pengembangan Hak Asasi Manusia di Jenewa. Temanya adalah "Islam dan Kristen: Pertemuan Nan Agung." Konferensi 15 Maret, yang dihadiri oleh delegasi Islam dan Kristen, dengan hati-hati menghindari masalah-masalah pokok perbedaan doktrinal dan sebaliknya menekankan bagian-bagian yang diduga menjadi kepentingan bersama. Sponsor utama konferensi adalah Algeria, Pakistan, dan Libanon, yang semuanya merupakan negara mayoritas Muslim. Satu-satunya negara sponsor non-Muslim adalah Malta. Salah satu tema yang sering diulang pada sidang di Geneva adalah konsep 'perasaan-baik' atas 'akar Abrahamik yang sama' dari Islam, Kristen dan Yahudi---meski tidak ada perwakilan agama Yahudi diundang dalam konferensi. Pernyataan-pernyataan para perwakilan gereja Kristen tentang peluang untuk mengembangkan hubungan yang positif dengan masyarakat Islam kelihatannya terlalu optimistik.

Kegagalan panitia konferensi untuk mengundang perwakilan Yahudi atau Israel mungkin tidak bisa dilihat sebagai kesalahan. Kelalaian ini sesuai dengan tujuan blok Arab di PBB untuk mengasingkan Israel sehingga bisa menghancurkan dan menggantikan negeri itu. Kampanye tersebut mencakup upaya negara-negara Arab untuk mengumpulkan dukungan di PBB sehingga bisa mencekik Israel dengan cara merusak hubungan diplomatis Israel dengan negara lain dan mempersulit kondisi ekonomi mereka. Upaya untuk mempermudah pembentukan hubungan Islam-Kristen yang meniadakan Yahudi hanya berperan melayani tujuan kaum Islam radikal untuk mengasingkan orang Yahudi dan Israel.

Pembunuhan masal terhadap umat Kristen Koptik mungkin saja tetap berlanjut pascakunjungan Paus Fransiskus ke Mesir. Meskipun hubungan antara Vatikan dan Al-Azhar membaik dalam waktu dekat, namun masa bulan madu tidak terjadi. Imam Besar pasti melindungi landasan kekuatan teologisnya sendiri sambil tetap menjaga jarak dengan Vatikan dan rezim Mesir.

Dr. Lawrence A. Franklin, Perwira Desk Iran untuk Menteri Pertahanan Rumsfeld. Dia juga pernah aktif bertugas aktif dalam Angkatan Darat AS dan sebagai Kolonel Pasukan Cadangan Angkatan Udara, tempat dia menjadi Atase Militer Kedutaan Besar AS di Israel.


[1] Menurut tradisi / sejarah, Markus mendirikan Gereja di Alexandria pada awal tahun 42 namun beberapa dokumen Koptik menyatakan bahwa Markus datang pertama kali ke Alexandria pada tahun 61 SM setelah beberapa kali melakukan perjalanan misionaris dengan Santo Paulus dan Santo Barnabas.

Topik Terkait:  Mesir
Recent Articles by
terima informasi terbaru lewat email: berlangganan secara gratis kepada gatestone institute kiriman daftar.

id